copyright and disclaimer on chapter 1
...
A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak-sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon dimaklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)
"Kaito sudah mati, Aoki. Dia adalah penipu." Bisikan semu tersebut bermain di bawah alam sadar adik perempuan semata wayang Kaito. Kondisi kokpit yang gelap dan remang serta hening akan suara, memanifestasikan sebuah sosok tak kasat mata yang kini melingkarkan kedua tangan padanya, mendekap dari balik punggungnya. Menempatkan bibir sedekat mungkin dengan daun telinga gadis itu, seraya mengulum senyuman licik yang kentara.
"Dia tak lebih hanya perangkap agar mereka juga bisa membunuhmu." Sosok itu kembali berkata. Tangan-tangan hampa bergerak membelai paras ayu Aoki, seolah dia benar-benar bisa bersinggungan secara fisik dengannya. Tentu saja hal itu mustahil. Dia tahu itu, dan dia pun tertawa dalam sandiwara untuk menjerumuskan gadis itu lebih jauh dalam permainannya.
"Mereka menginginkan agar kau lengah, sehingga sebuah pelatuk dari balik moncong senjata yang ditodongkan di belakang kepalamu lebih dari cukup untuk mengirimmu ke alam sana." Lanjutnya dengan nada mengasihani. Membuat gadis itu memicing merapatkan gigi. Tubuh kecil itu kembali bergeming dalam balutan seragam yang dibuat khusus untuk bersinkronisasi dengan Echidna. Menunjukkan bahwa amarah telah mendaki mencapai puncak ubun-ubunnya.
"Bukankah mereka harus diberi ganjaran setimpal karena telah membuatmu kehilangan satu-satunya orang yang tersisa untuk kau sayangi, Aoki?" sosok itu mengangkat kepala ─di mana hanya ada bulatan berwarna biru legam berpendar dari balik helaian anak rambut yang menjuntai menutupinya. Garis tawa tak manusiawi menampakkan diri, meski demikian, bagi gadis itu, dialah perwujudan dari sang kakak yang dia rindukan.
"Pem… bo… hong…" Aoki mengulang apa yang diucapkan sosok tersebut dengan napas tertahan. Memberikan penekanan seolah merapal sebuah kutukan terlarang yang mampu mencabut nyawa seseorang yang dialamatkan. Jemari mengepal erat. Kelopak mata terbuka lebar. Dia ingin meremuk orang tersebut. Dia ingin menghancurkan siapa pun dia yang mengaku sebagai kakaknya hingga luruh menjadi abu.
"Benar. Dia pembohong. Dia hanya penipu. Berikanlah hukuman yang layak pada orang yang tak tahu di mana dirinya sekarang tengah berpijak, Aoki." Hasutan tersebut terdengar semanis madu. Mempengaruhi kondisi psikologisnya sedemikian rupa. Echidna yang sebelumnya sempat lunglai kehilangan tenaga, merespon segenap gejolak informasi yang turut terbawa oleh sensor yang didapat dari sang pilot yang mengendarainya. "Juga, mereka yang telah membuatmu menderita seperti ini."
Sistem-sistem yang disetel agar mesin itu bisa memberikan performa secara imbang, satu per satu lepas kendali. Terdengar suara decit besi dan loncatan listrik statis di beberapa bagian tubuh Echidna sebelum merembet dan menjalar ke seluruh bagian yang ada. Lalu, dengan kelebihan yang berdampak pisau bermata dua, mesin itu pun bangkit dan kembali melayang di atas langit.
Menebar amarah membabi buta ─meski dia harus binasa karenanya─ bagi sang pilot, hal itu cukup setimpal. Dia akan menyeret segenap jiwa yang ada di tanah Limbum ke dasar liang lahat bersamanya.
x-0-x
"Nii san! Ada sedikit keanehan dengan mesin Aoki nee!" di sela-sela pertempuran yang semakin kacau balau, Oliver mencoba berkomunikasi dengan Yohio mengenai keadaan Echidna. Bantuan yang direncanakan masih belum tampak batang hidungnya sementara dia beserta pilot Ignis serta anggota pasukan elit Alexandria lainnya, Aoki Shion, berusaha mengulur waktu selama mungkin.
Tidak biasanya para petinggi militer Alexandria membutuhkan waktu begitu lama untuk segera menuntaskan sebuah pertempuran menggunakan perhitungan mereka yang matang. Namun kali ini, terdapat keganjilan yang juga turut membuat lelaki bermata nyala arang di kokpit Ignis merasa sangat tidak nyaman. Pasukan tempur di bawah kuasa Alexandros dikenal agresif dan brutal, sedangkan hal yang tengah terjadi saat ini sangat berketerbalikan.
Tiga unit maju melawan ribuan lebih mobile suit, sangat tidak masuk akal, bukan? Apakah mereka berniat untuk menyingkirkan pasukan elit mereka sendiri? Tidak. Naluri bertarung pilot unit berwarna merah padam tersebut berkata bahwa itu bukan alasan sesungguhnya. Yohio segera mengalihkan perhatian kepada Echidna, mencermati mesin itu lebih seksama.
Echidna yang sekarang dipiloti oleh Aoki, sejak awal adalah unit khusus untuk menembus pertahanan tempurung energy shield berkonsentrasi tinggi seperti pertahanan kota Limbum. Desain tubuh sengaja dibentuk jauh lebih besar dari unit rata-rata menggunakan logam khusus serta diperkuat lagi dengan nanomachines dan medan phase shift. Tujuannya adalah agar mampu bertahan dari serangan berbentuk particle beam atau misil selama proses infiltrasi. Dan semua itu bekerja sesuai harapan.
Mesin bertubuh besar semacam itu jelas membutuhkan suplai daya beberapa kali lipat dari ukuran mobile suit lain. Tak tanggung-tanggung, model terbaru sumber energi yang digunakan adalah Quantum Wave Black Hole Motion Engine. Hasil pengembangan termutakhir dari sumber energi terdahulu yang dalam pengaplikasiannya pernah mengakibatkan sebuah insiden besar dalam sejarah penelitian dan eksperimen senjata militer Alexandria. Semua itu demi memaksimalkan segenap potensi Echidna.
Namun, bagai sebuah pusaran air mengalir dan berporos pusat di kepalanya, saat itu juga Yohio diterpa berbagai informasi dari segenap peristiwa yang pernah dialaminya. Surat perintah penyerangan Alexandria secara langsung kepada Limbum dari sang raja. Penggunaan unit khusus tersebut. Kondisi psikis Aoki yang semakin memburuk. Gambar detail perangkat tempur Echidna beserta bagian lain. Sebuah rangkaian komponen asing yang terselip cukup lihai untuk menipu mata, namun berhasil dia temukan.
Ingatan lelaki itu berhenti beroperasi. Pupil matanya mengecil diikuti jemari yang segera bergerak dengan sendirinya untuk mengoreksi komponen internal Echidna. Menggunakan layar display Hologram di samping kanannya, Dia tampilkan cetak biru mesin mengerikan tersebut seraya memarkahi jalur-jalur yang saling berhubungan sesuai dengan apa yang tergambar di kepalanya. Garis-garis berwarna merah perlahan terbentuk membentuk jaring-jaring rumit. Begitu semua selesai, hal paling mencengangkan pun membuat segala keganjilan misi ini terkuak.
"Mungkinkah ini… taktik… Kamikaze…"
-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-
GE Echidna further scanning : [complete]
- Unregistered Device [001] Detected.
- Unregistered Device [002] Detected.
- Unregistered Device [003] Detected.
-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-
x-0-0-x
Kelebatan berwarna putih berkelip bagai komet bergerak gesit di antara ledakan dan desing amunisi yang ditabur di medan laga. Menggunakan kedua lengan bersenjatakan cakar emas, Death Liger dalam wujud King menunjukkan kemampuan maneuver tingkat tinggi yang dia miliki saat berada di tangan pilot lihai yang dulu namanya cukup ditakuti bagi setiap lawan yang telah tumbang di hadapannya.
Ya, dulu. Seorang pembunuh berdarah dingin yang tak akan pandang bulu siapa pun lawannya. Mesin tempur berwujud manusia kebanggaan negeri penjajah, Alexandria. Tetapi masa lalu bukan lah sesuatu yang harus diratapi dan disesali jika masih ada hari esok untuk memperbaiki diri. Berkat dorongan tulus dari seseorang yang menerima dia apa adanya, jiwa yang sempat terjerat dalam belenggu beban yang dipikulkan oleh sisi gelapnya di masa lampau pun terbebas seutuhnya.
Beberapa pilot tempur Limbum yang termakan praduga bahwa Kaito datang sebagai taktik untuk menusuk dari belakang, berusaha menjadi penghalang bagi pemuda bersurai biru tersebut. Mereka membuang amunisi, bahkan nekat beradu dalam jarak dekat. Namun, bagaimana cara lelaki itu meliuk-liukkan mesin yang dia kendarai menyamai tingkatan para jenderal dan petinggi militer Limbum lain, membuat mereka tak berkutik. Alih-alih, musuh mereka yang tampak jelas di depan mata, para unit Alexandria, menggunakan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan dan mengurangi jumlah mereka.
Sebuah ledakan hebat sejenak mengalihkan segenap perhatian beberapa peserta pertempuran yang berada dalam radius tiga ratus meter dari mesin berbentuk humanoid berwarna putih belang tersebut. Beberapa saksi berkata bahwa lima unit lawan mengepungnya sesaat setelah dia memisahkan rahang salah satu tengkorak mesin menjadi dua untuk melindungi salah seorang teman mereka. Tetapi sekarang yang tampak justru hanya remah-remah metal beraneka bentuk dan rupa berserakan di sekitar pijakan kaki yang menghunjam tanah kuat-kuat hingga meninggalkan bekas cekungan dalam.
Berbeda dari sebelumnya, sebuah tongkat rantai kini tergenggam di ujung telapak tangan mesin yang terulur ke depan seraya merentangkan kedua kaki membentuk kuda-kuda. Tongkat tersebut berwarna putih bersih dengan ornament kepala harimau di setiap ujung yang tak terhubung oleh rantai. Kaito sempat terkejut setelah kejadian kilat yang hampir menyudutkannya, namun setelah Miku memanggil namanya, dia menyadari bahwa sebuah senjata yang sebelumnya tak terdapat di dalam daftar perlengkapan tempur Death Liger, kini muncul secara tiba-tiba.
"Celestial Weapon." Ucap Miku selanjutnya. Pemuda bersurai biru itu menatap sepasang biji berwarna keemasan yang tampak berkaca-kaca dari balik punggungnya, mempertanyakan ada apa gerangan sehingga dia bertingkah demikian. Seolah paham arti tatapan yang dia dapat, Miku pun melanjutkan, "Itu adalah salah satu dari sekian wujud kekuatan Elemental Beast yang dititipkan kepada mu, Kaito." Kaito termenung. "Liger bisa merasakan kesungguhan niat dalam hati mu."
"Dia berkata, meski pun terdapat kemungkinan bagi pilot lain untuk dia ijinkan mengendarainya, belum tentu dia diperkenankan untuk menggunakannya."
Kehangatan yang melingkupi Dada Kaito semakin bertambah, Death Liger adalah mesin dari peradaban masa lalu dengan kemampuan yang sukar diterjemahkan oleh ilmu pengetahuan, legenda yang berhasil dihidupkan. Yang mana itu berarti, tidak sembarang orang bisa menyentuh dan menundukkannya. Namun, untuk seseorang yang dipenuhi noda, diberikan sebuah kesempatan semacam itu, bukan kah berarti bahwa jalan baru yang dia tempuh telah disambut gembira?
Bayangan ceria Aoki secara tiba-tiba terlintas di dalam benaknya, entah pada kesempatan semacam apa adik perempuannya itu memberikan senyuman yang begitu menentramkan bagai siluet panorama musim semi, ia tak bisa mengingatnya dengan pasti. Melirik bayangan hitam yang melayang tinggi di atas bumi limbum, Kaito segera menyulut mesin pendorong Liger. Melesatkan kucing besi yang dia kendarai untuk mendaki langit. Untuk menggapai gadis malang tersebut. Serta membisikkan di telinganya, bahwa dia telah kembali menjadi kakak yang dia kenal sebelum Alexandria datang menghancurkan kehidupan damai mereka.
x-0-0-0-x
Saling bersandar punggung dengan Jade Artemis setelah berhasil menumbangkan beberapa unit lawan, perhatian Megurine Luka bergulir ke sudut tampilan monitor kokpit yang menunjukkan bahwa unit asing yang sebelumnya masuk ke dalam medan tempur kini tengah meniti jarak menuju mesin berwujud monster yang mengendalikan hampir sekoloni mesin otomatis yang menyerang pasukan limbum. Sebenarnya, dia berniat untuk meladeninya setelah Alberto Daisuke berhasil dia lumpuhkan. Jika bukan karena kepungan mereka yang tidak ada habisnya, dan hanya Celestial Weapon milik Soul Phoenix serta beberapa senjata khusus yang mampu mengatasi tengkorak-tengkorak tersebut.
Sungguh sangat konyol dan tak masuk akal, hanya tiga unit dan semua pasukan Limbum dibuat kewalahan. Luka sedikit demi sedikit merasa geram, dua tengkorak yang melaju ke arah mereka berdua pun saat itu juga menjadi korban amukan lidah api dari Soul Phoenix yang dia kendarai.
"Benarkah dia Jack Frost dari Alexandria?! Apa yang ingin orang licik dan kejam itu lakukan?!," gerutu adik dari pewaris tahta kerajaan Limbum tersebut. Sebuah kobaran api nampak mencambuk udara, menghempaskan beberapa lawan sekaligus mencincang mereka dalam prosesnya. "dia datang seenaknya, juga turut campur dalam masalah ini," lima unit lagi hangus terpanggang menjadi leburan besi setelah gadis berambut merah jambu itu memindahkan posisi Soul Phoenix ke belakang mereka dengan kemampuan kendali yang tak lagi diragukan, "sekarang, dia mengacuhkan kita begitu saja dan mengalihkan perhatian kepada unit berbentuk absurd tersebut, apakah itu adalah bagian dari strategi mereka?"
Terdengar suara tawa kecil Gumi dari sambungan komunikasi antar pilot Limbum, "Jika anda mau memperhatikan lebih seksama, bukan kah unit misterius yang dikendarainya memiliki kesamaan dengan informasi yang sebelumnya kita terima dari tim pengintai beberapa hari yang lalu?"
"Maksudmu, Kucing hitam besar yang mengusir satu kapal induk Alexandria seorang diri di daerah perbatasan?" sahutnya. Kali ini balasan Gumi adalah sebuah layar display hologram dua dimensi yang muncul di dalam kokpit Soul Phoenix. Maid tersebut mengangguk yakin.
"Tetapi, pilot unit lawan menyebut Jack Frost sebagai kakaknya," jeda ledakan beruntun dari seberang, Jade Artemis kembali sukses menyumbangkan rongsokan dari pihak lawan. "sedangkan orang asing ini mengaku bernama Kaito Shion, yang mana membuatnya mengamuk seperti sekarang ini." sambung Luka sembari memutar tubuh mesinnya dalam gerakan pivot begitu alarm berbunyi memberi tanda datangnya sebuah serangan dari belakang, ─sekaligus membalas balik menggunakan sebuah tebasan vertikal dari bawah ke atas. "Dengan kata lain, pilot bernama Kaito Shion tersebut adalah Jack Frost, bukan?"
"Apakah benar demikian? Apa yang membuat anda begitu yakin, ojou sama?" jika bukan dalam kondisi seperti sekarang, Megurine Luka bersumpah akan menghadiahi sepasang daging empuk di wajah maid kesayangannya itu dengan sepasang capit kepiting. Gadis berambut sewarna gulali itu hanya bisa mengerucut bibir yang mana membuat tampangnya menjadi terkesan gelap berkali-kali lipat. Salahkan tengkorak-tengkorak besi yang beralih fokus mengincarnya.
"URYAAA! ! !"
"Sudah menjadi rahasia umum jika tak seorang pun berhasil menguak identitas asli Jack Frost." Tutur Gumi kembali. "tidak menutup kemungkinan, mereka menyadari kedatangan sang pilot tidak dikenal tersebut beserta unit asingnya, dan mencoba membuat kita menjadi kebingungan. Dengan demikian, pasukan kita akan lebih mudah untuk dijatuhkan."
"Tidak." sebuah sambungan komunikasi lain menginterupsi keduanya. "Dia memang Jack Frost." Kalimat selanjutnya seketika membuat sang putri mengerutkan dahi, sementara si maid membungkam mulut tak percaya. Suara tersebut tak lain adalah Alberto Daisuke, kondisi SoulSilver tidak memungkinkan dia untuk berpartisipasi sehingga mesin itu hanya tergeletak jauh dari zona aktif.
"Ojii san! Apa yang kau lakukan sekarang?! di mana SoulSilver?!" seruan jengkel terlontar dari saluran komunikasi tuan putri Megurine yang terhubung ke kokpit mesin Alberto. Akibat intensifnya pertempuran, dia kehilangan jejak sang jendral yang ditugaskan untuk memimpin pasukan Limbum saat ini. Lelaki itu menampilkan gambaran visual dirinya beserta cetak biru kondisi mecha yang dia kendarai sebagai jawaban. Model tiga dimensi mesin tangguh itu berkedip merah menyala di bagian kedua lengannya, serta beberapa bagian kecil di tubuhnya.
"Seperti yang anda lihat. Bocah besar ini tak bisa menggunakan kedua lengannya lagi." Alberto tertawa hambar. "Jika dia adalah orang yang sama yang meluluh-lantakkan Alvaros, mungkin aku sudah lenyap sejak beberapa menit yang lalu."
"Apa maksudnya? Bukan kah dia adalah…"
"Jack Frost membiarkan ku hidup." Potong lelaki itu seketika. Terdapat hening yang terisi oleh hiruk pikuk medan laga dari seberang alat transmisi dari kedua pilot yang terhubung dengan Soul Silver. "Jika kalian tidak percaya dengan ucapanku…" lelaki itu menekan sebuah tombol. Memutar kembali rekaman komunikasi antara dia dan pemilik King Liger sebelum pilot mesin itu membawanya menjauh dari bahaya.
Rekaman itu berbentuk sebuah video langsung antar kokpit seperti yang dia lakukan sekarang ini dengan Tuan putri Limbum dan sang maid. Di sana terdapat tampilan langsung wajah seorang Jack Frost yang bisa dikenali berdasarkan secuil informasi yang pernah beredar di kalangan para petinggi beberapa tahun silam. Meski kebenaran foto itu awalnya diragukan, namun melihat orang yang sama tengah mengendarai unit tidak dikenal, hal itu bisa menjadi bukti bahwa dia memang Jack Frost yang namanya cukup tersohor.
Rekaman video itu tersekat menjadi dua yang menandakan bahwa kokpit berisi lebih dari satu pilot. Di samping wajah seorang bajingan medan perang tersebut, terdapat pula seorang gadis muda berwajah rupawan. Dia memiliki rambut berwarna hijau aqua dengan sepasang iris memendarkan warna keemasan. Hal yang sedikit janggal jika orang lain memperhatikannya untuk seksama.
"Seperti yang ku bilang sebelumnya kepadamu. Aku adalah Jack Frost. Sersan pangkat satu dari kesatuan militer Alexandria. Pemimpin pasukan elit gugus ketiga sekaligus pelaksana misi pembumi hangusan kota Alvaros serta beberapa basis militer lain di berbagai wilayah musuh Alexandria."
Seperti dugaan Alberto, dia bisa mencermati perubahan ekspresi kedua pilot lain di ujung alat komunikasi mereka setelah mereka mendengarnya.
"Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas nyawa ribuan pria yang berjuang mempertahankan Negara, keluarga dan kekasih mereka. Aku pula yang memisahkan ribuan ibu dari anaknya. Ribuan anak-anak dari kedua orang tuanya. Manusia berhati iblis yang meluluh lantakkan kampung halaman mereka."
"Alberto, apa maksud semua ini?! bagaimana kau bisa membiarkan dia berkeliaran di antara pasukan kita!" geram Megurine Luka tak tertahan lagi, dia sempat menyulut pendorong Soul Phoenix setelah memutar perhatian mesinnya ke arah siluet putih yang mengecil ditelan jarak. Namun, seruan lelaki itu segera menghentikan tindakannya.
"Mohon anda perhatikan lebih seksama, tuan putri!"
x-0-0-0-0-x
"Aku tahu kalian tidak akan mengampuniku begitu saja. Torehan dosa dan segala penderitaan yang kuberikan kepada kalian sudah terlampau banyak. Aku sadar betul bahwa konsekuensi yang berat telah menantiku di tanah ini." wajah lelaki di video itu sedikit merunduk, sepasang permata berwarna safir tidak lagi terfokus ke arah di mana seharusnya dia beradu muka dengan lawan bicaranya. Begitu juga dengan gadis itu, dia hanya menelungkupkan kedua tangan dimulutnya. Air mata turut menggenang turun hingga terpercik dari ujung wajahnya.
Bagi Miku, pengakuan Kaito tersebut membuatnya sangat terkejut. Di antara sekian rahasia di balik punggung pemegang kendali utama Liger, catatan kelam itulah yang menarik seluruh benang kusut tak kasat mata yang melilit figurnya. Dia mengingat mengapa pemuda ramah dan menyenangkan ini selalu menghindari topik berketerkaitan dengan masa lalunya dengan alasan amnesia. Bahkan termasuk masa kecilnya.
"Namun, aku tidak akan pernah menyerahkan diri. Tidak untuk saat ini. Aku tidak ingin mati saat semua orang yang hadir ke liang kuburku hanya untuk mencaci dan mengutuki. Yah, itu masih lebih baik jika aku memang memiliki kubur ku sendiri di kemudian hari."
Tidak memiliki pengalaman semasa kecil tentu aneh untuk gadis seperti Miku yang selalu dikelilingi orang-orang yang menyanyanginya, bukan? namun, jika dalam usia yang tidak berpaut jauh saja, Kaito sudah harus menyandang julukan manusia terkeji, bagaimana dengan masa kecilnya? Manusia terlahir dalam keadaan suci dari dosa, orang yang mendidiklah yang menentukan akan menjadi apa dia kelak di kemudian hari. Melihat bagaimana pemuda itu bertingkah layaknya kawan berusia sebaya di tengah keluarga serta orang-orang di kota kecil tempat kelahirannya, Miku yakin, bahwa Kaito pada dasarnya adalah orang yang baik.
Yang bertanggung jawab atas segala kesalahan yang disanggulkan kepadanya seharusnya orang-orang yang membuatnya menjadi demikian. Orang-orang tidak berhati yang begitu tega melucuti nurani seorang anak laki-laki polos yang tak tahu menahu apa-apa.
"Terlepas dari semua itu, Aku pula tidak ingin mengkhianati seseorang yang begitu percaya kepadaku saat ini." sekilas, gadis itu bisa merasakan perhatian lebih dari pemuda tersebut, dan dia bisa menatap sebuah biji berwarna safir yang berbalik ke arahnya, tampak menggantungkan harapan penuh kepadanya. "Oleh karena itu, biarkan aku membayar hutang yang tak kan pernah lunas, walau selembar nyawa ini menjadi taruhannya."
x-0-0-0-0-0-0-x
Langit Limbum bermandi cahaya menyilaukan, suara auman sang raja rimba belantara sekali lagi terdengar berbising di telinga. Selusin lebih mesin meledak-ledak di sekeliling King Liger, menghujani tanah Limbum dengan rongsokan besi dan percikan bunga api akibat hantaman tongkat besi Celestial Weapon Byakko. Tidak sedikit pun harimau putih dari barat itu menahan langkah atau mundur dari langit di bawah pijakan cakar-cakarnya. Begitu pula dengan pemuda dalam balutan nuansa biru lautan di dalam ruang kendalinya.
Dia akan menyelamatkan Limbum. Menyelematkan rekan-rekan seperjuangan yang pernah menjalani hari-hari kelam di masa lalu dari jalan menyimpang yang masih mereka lalui. Dan juga, membuka kembali mata Aoki dari belenggu kesedihan yang membutakannya.
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
Armament Select :
-Charged Diffuse Particle Liger Cannon-
Condition : / / / / / / / / / / / / / / / / / 100%
[Ready]
Target : / / / / / / / / / / / / / / / / / 100%
[Locked]
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
"LIGER CANNON, RELEASE! ! !"
"GROOOAAAR! ! ! !"
.
.
.
Thanks for read. n_n
mind to review?
A/N : Terima kasih atas kesediaan pembaca sekalian. Maaf jika chapter ini begitu lama untuk publish, bahkan hasilnya terkesan dipaksakan. "orz. Penulis butuh mood booster berupa BGM epic atau lagu opening setara SnK season pertama! /nangis gelundungan/ /ditendang/
Semua chapter telah mengalami perbaikan dari typo dan kesalahan tulis lain. Penulisan imbuhan '-nya' dan overdosis pengunaan kata 'yang' juga sudah diminimalkan. yah, sekedar informasi bagi pembaca fic ini sejak awal kali di-publish, juga pembaca baru yang tidak sengaja membaca cerita ini.
Untuk kelanjutannya, penulis tidak bisa memberikan janji pasti, doa kan saja semoga tetap sehat dan otaknya lekas kembali ke jalan yang lurus. /wut?/
n_na
