Moi je t'offrirai

Des perles du pluie

Venues de pays

Ou il ne pleut pas

Je creuserai la terre

Jusqu'apres ma mort

Pour couvrir ton corps

D'or et de lumiere

Je ferai un domaine

Ou l'amour sera roi

Ou l'amour sera roi

Ou tu seras reine

Ne me quitte pas

Ne Me Quitte Pas (Don't leave me) by Vicky Leandros.

Suara alunan melodi terdengar dari tape recorder di sebuah kamar bernuansa klasik modern. Beberapa bingkai foto terpajang rapi di salah satu wallpaper yang berhadapan langsung dengan Queen size berbalut spray putih yang sudah tidak tertata rapi. Disudut kanannya berdiri sebuah lemari kayu empat pintu yang dipasangkan khusus dengan meja riasnya. Dan di sebelah kanannya lagi terdapat sebuah pintu yang menghubungkan kamar dengan kamar mandi.

Sebuah helaan nafas adalah yang pertama kali Baekhyun lakukan saat memasuki kamar itu. Koper besar dengan isi yang berhamburan dilantai, ditambah sepatu dan kaus kakinya yang terpisah, juga beberapa bra dan dalaman bermotif lucu lainnya berserakan membuat jejak menuju pintu kamar mandi. Oh, bagaimana bisa ia pulang dan memporak porandakan seisi kamarnya seperti ini.

Baekhyun tanpa permisi mendobrak pintu itu dan menemukan rusa pemalasnya yang tengah memejamkan mata sambil berendam di bathub. Benar-benar rusa yang sangat aku rindukan.

Baekhyun melempar sebuah benda yang ada di jangkauannya ke dalam bathub dan berhasil membuat si rusa membuka mata dan terbelalak kaget.

"Yak! Dimana kau letakkan sopan santunmu Byun?!"

"Kenapa kau membiarkan isi kopermu berceceran? Padahal aku menjaganya supaya tetap rapi selama kau pergi."

"Bagus sekali, padahal aku masih bisa mencium sisa orgasmemu dari sini."

"Benarkah?"

Lalu tiba-tiba Luhan menarik tangan Baekhyun dan membuatnya harus ikut tercebur dikubangan air dalam bathub.

"Kau pasti kesepian, dan menginap diapartemen Chanyeol bukan ide yang buruk. Aku merindukanmu."

Mereka berpelukan dengan Luhan yang full naked dan Baekhyun yang masih lengkap dengan pakaian basahnya.

"Jadi, kapan sesuatu tumbuh disini?" Luhan mengusap perut rata Baekhyun dan dihadiahi dengan sibuah toyoran dijidatnya.

.

Mereka duduk berhadapan. Baekhyun hanya memasak kimchi dan telur gulung pagi itu. Semua bahan makanan habis, Baekhyun beberapa hari tidak pulang karena tidak ada Luhan. Dan melihat rusa itu makan dengan lahap dihadapannya membuatnya merasa senang.

Setelah acara mari berendam bersama mereka selesai, Baekhyun memilih membersihkan diri lagi dikamar mandinya. Mandi bersama Luhan bukan ide yang bagus. Mereka hanya bermain air dan busa tanpa membersihkan badan. Luhan, rusa itu memang sangat senang bermain-main dengan air. Dengan segala celotehan tanpa hentinya, mereka sampai menghabiskan hampir 40 menit didalam bathub. Bisa dibayangkan bagaimana keriputnya jari tangan dan kaki mereka.

"Jadi, apa kau berhasil menemukan pangeran impianmu itu?"

Luhan berpikir sejenak, lalu ia teringat akan surat yang ia tinggalkan saat pergi ke pengasingan itu. "Ah, itu.. mungkin?"

"Apa maksudmu mungkin?"

"Ya, sebenarnya kami bertemu bahkan sebelum aku pergi untuk mencarinya di tempat pengasingan itu."

"Jadi kau sudah menemukannya? Kenapa tidak bilang padaku? Sekarang cerirtakan, seperti apa rupanya, apa ia setampan pangeran dalam buku dongengmu itu?"

"Aku juga baru tahu beberapa hari setelahnya. Dia tampan, bermata tajam, bibirnya tipis, rahangnya tegas, dan berhalis tebal. Jika tertawa, matanya akan membentuk bulan sabit. Dan jika ia marah, wajahnya sangat mirip dengan angry bird. Dia begitu baik dan sangat perhatian, sampai-sampai aku dibuat mabuk jika berada didekatnya." Luhan menggantungkan sumpitnya diujung bibir. Membayangkan Sehun benar-benar membuat imajinasinya menjadi liar. Apalagi membayangkan betapa kuatnya Sehun malam itu..

Pluk.

Baekhyun melempar sendok ke hadapan Luhan. "Dasar kampungan. Apa ini kali pertamamu jatuh cinta, huh?"

Tiba-tiba Luhan memberengut, mempoutkan bibirnya. "Seperti kau tidak saja. Sudahlah, aku harus pergi bekerja. Aku harus mendapatkan predikat karyawan teladan tahun ini. Bye."

Dan baru beberapa detik ia pergi, Baekhyun mendengar suara duk yang cukup keras dan sebuah benda pecah. Dengan terburu-buru, Baekhyun keluar dapur dan langsung disuguhkan pemandangan tidak elit khas Luhan.

Luhan jatuh terduduk dengan posisi normal. Tapi yang menjadi pertanyaan dikepala Baekhyun adalah bagaimana bisa meja itu terguling dan vas bunga diatasnya menjadi sepihan keramik rumit yang sulit di identifikasi.

"Astaga Luhan, apa yang kau lakukan?!" Baekhyun berlari setengah berteriak menghampiri Luhan. "Kau tahu aku mendapatkannya jauh dari Jepang dan harus berebut dengan puluhan wanita lain yang menginginkannya. Dan sekarang, kau.."

Baekhyun meraih vas bunga kesayangannya yang hanya tinggal puing-puing kecil. Dulu ia harus rela menutup cafenya beberapa hari hanya untuk mendapatkan vas bunga antik salah satu peninggalan istri seorang kaisar Jepang. Dan sekarang semua perjuangannya hanya tinggal kenangan. Ia hanya bisa bernostalgia dengan vas bunga itu.

"Maafkan aku. Tapi.. kakiku berdarah." Dengan takut Luhan menunjuk kakinya.

Lagi-lagi Baekhyun harus menghela nafas. Demi Tuhan, Luhan baru saja pulang dan sudah mengacaukan seisi apartemen. Bahkan ini masih pagi. Bagaimana jika kau kutinggal sendiri nanti, Luhan? Bisa-bisa gedung apartemen ini roboh karena kau.

"Bangunlah." Baekhyun meraih pundak Luhan dan memindahkannya ke sofa.

"Astaga, bagaimana keramik itu bisa menancap dilututmu. Kau yang melakukannya?"

"Maaf.." Luhan masih menunduk.

"Ini pasti sakit. Jadi diamlah." Lalu tanpa kata ia mengambil kotak P3K dan membalut luka di lutut Luhan dengan alkohol dan betadine setelah mencabut serpihan keramik itu. Kemudian membungkusnya dengan kain kasa yang sengaja ia buat memutar agar rusa itu tidak terlalu lincah dan mengacau lagi.

Baekhyun meraih dagunya. Oh sungguh, bahkan mata dan hidungnya sudah meleleh mengeluarkan cairan.

"Hey, tidak apa-apa. Keselamatan sahabatku labih penting. Lagi pula, akhir tahun nanti akan diadakan pelelangan lagi. Dan sebagai gantinya kau yang harus mendapatkannya untukku."

Bukannya kesal, Luhan malah tertawa. "Kau memang sahabat yang kejam."

"Jadi, apa aku harus menelepon kantormu karena kau sakit?"

"Tidak, tidak. Aku akan tetap pergi ke kantor. Aku harus menjadi karyawan teladan, kau ingat?"

"Dasar keras kepala."

.

.

.

The Perfect Storm

HunHan Indonesia Big Event

HunHan

Sepuluh

.

.

.

Suasana didepan gedung Shinwon Grup terlihat sangat ramai. Selain karena ini hari senin, juga karena kabarnya akan diadakan acara pengangkatan pemimpin baru yang menggantikan Oh Jaewon. Jajaran mobil mewah terparkir rapi di basement gedung itu, bahkan penuh sampai ada yang parkir disisian bahu jalan.

Luhan mengernyit saat turun dari taxi yang ditumpanginya. Apa ada acara penting? Apa itu artinya ia datang terlambat? Luhan mendesah dalam hatinya. Lalu dengan semampunya ia berjalan cepat memasuki gedung itu dan disambut oleh resepsionis muda yang sangat ramah. Luhan mengenakan skirt sebatas lutut dan wedges yang tidak terlalu tinggi. Dan itu cukup memperluas cara berjalannya di banding harus memakai celana dan lukanya akan tergesek.

"Boleh aku bertanya? Diluar banyak sekali mobil, apa ada acara penting? Tapi kenapa keadaan kantor seperti tidak berpenghuni?"

"Kau tahu gengsi para aristokrat sangat tinggi, mereka tidak mungkin berada dalam satu mobil dengan rekannya yang lain meskipun tujuan mereka sama. Acara penobatan pemimpin baru Shinwon Grup sedang berlangsung di gedung aula selatan. Kau tidak tahu? Kalau begitu cepatlah, sebelum acaranya selesai."

Kemudian Luhan pergi meninggalkan resepsionis itu. Ia pikir acara penobatan selalu membosankan dan berjalan lambat melebihi siput di halaman depan. Jadi Luhan memilih untuk meregangkan otot kakinya dan duduk di sembarang kursi. Tentu saja Luhan akan menghadiri acara itu, tapi nanti didetik-detik terakhir.

"Baekhyun benar-benar ingin menyiksaku dengan perban ini." Gumamnya.

Suara khas sepatu beradu dengan kerasnya lantai terdengar dari kejauhan dan semakin dekat, suara beberapa orang terdengar dari arah lorong pintu selatan. Beberapa orang berdatangan memasuki gedung kantor dengan berbagai ekspresi.

"Permisi, apa acaranya sudah selesai?" Luhan menghentikan salah satu diantara mereka.

Orang-orang itu hanya saling bergumam dan berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Luhan. Ada apa sebenarnya? Mengapa semua orang terlihat sinis padaku?

"Luhan!" seseorang dari divisi lain menghampirinya. "Apa kau sudah tahu sejak awal, huh? Dasar licik! Kau pasti mendekatinya agar kau bisa hidup enak, kan?"

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."

Wanita itu menatap Luhan dengan remeh. "Dasar wanita murahan!"

"Jung Soojung, jaga ucapanmu!"

Tiba-tiba Kyungsoo datang dengan rombongan divisinya. Luhan yang tidak mengerti apa-apa pun mulai mempertanyakan pada Kyungsoo. Tapi tidak ada satupun yang terjawab. Kyungsoo malah saling beradu dengan Soojung, seperti bermain 'mata siapa yang paling besar, maka aku tlaktir'.

Mereka menjadi sorotan setiap mata yang lewat, terutama Luhan. Ada yang melihatnya seolah prihatin, ada juga yang memandangnya sama remeh seperti Soojung. Luhan merasa ada yang salah dengan dirinya, tapi apa?

"Pengikut setiamu, Luhan." Soojung menatap Kyungsoo dan yang lainnya. "Apa yang sebenarnya bosmu berikan hingga kalian begitu menurut padanya, huh? Hanbin, apa Luhan memberikan tubuhnya padamu?"

Dan semua orang tercengang saat Kyungsoo mendaratkan tangannya di pipi kanan Soojung. Tidak terkecuali Luhan yang merasa dilecehkan dan terinjak-injak harga dirinya. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak meluncur begitu saja dihadapan semua orang. Luhan tidak mau dipandang lemah.

"Berani-beraninya kau-.."

"Dengar Jung Soojung, tutup mulut busukmu atau aku sendiri yang akan merobeknya." Kyungsoo benar-benar marah, terlihat dari urat-urat matanya yang keluar dan memerah. Lalu membawa Luhan pergi dari kerumunan sialan itu.

Tapi tiba-tiba Luhan jatuh tersungkur dan lututnya berdarah. Bahkan lukanya tadi pagi pun belum sempat mengering, dan sekarang ia harus terjatuh lagi dan melihat darah merembes melewati perban yang dipasang Baekhyun. Meskipun hanya sebuah luka sayat, tapi itu cukup dalam hingga memperlihatkan tulang sendinya. Ditambah kejadian ini, hatinya pun ikut merasa terluka. Luhan sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi. Masa bodoh dengan semua orang. Ia benar-benar terluka sekarang.

"Luhan! / Bos Lu!" ucap mereka bersamaan.

"Ada apa ini?" Suara rendah yang begitu mereka kenal menghampiri setiap telinga yang berada disana. Semua orang meminggirkan diri dan membiarkan sang penguasa baru melihat semuanya.

Sehun datang dengan beberapa staf lain yang mengikutinya dibelakang. Ia baru saja mengantar tamu-tamu penting perusahaan menuju gerbang. Wajahnya terlihat begitu dingin dan sarat akan ancaman. Dengan rambut yang disisir ke atas, menegaskan bahwa ia orang yang keras dan arogan dari segi penampilannya.

Semua orang menunduk dan membungkuk menghormati kedatangan Sehun. Tidak terkecuali Luhan yang masih duduk dilantai. Oh, jadi inikah yang mereka maksud? Oh Sehun, si penguasa baru Shinwon Grup. Jadi karena ini Luhan dihina dan dilecehkan oleh semua orang?

Ya Tuhan, ia bahkan tidak tahu jika Sehun adalah anak pemilik perusahaan terbesar dan paling berpengaruh di Korea Selatan. Ia mengenal Sehun; jauh sebelum mereka semua, ia juga dekat dengan Sehun di beberapa hari terakhir. Dan mengenai status Sehun yang seorang pewaris tahta tertinggi disini, Sehun tidak pernah memberitahunya. Mereka hanya menjalani hari-hari manis dan menyenangkan tanpa membicarakan status dan latar belakang. Semua terjadi begitu saja.

Dan sekarang, apa sebuah kesalahan mengenal dan berhubungan dekat dengan seorang Oh Sehun? Luhan malu, sungguh malu. Dihina dan terinjak-injak hanya karena mengenal Sehun? Jika tahu akan seperti ini kejadiannya, Luhan mungkin akan segera menjauhi Sehun dan menganggapnya sebagai staf biasa saja, tidak lebih. Tapi sekarang sudah berbeda. Sehun adalah pemimpin perusahaan dimana Luhan bekerja. Apa masih pantas ia menyebut-nyebut kedekatannya dengan sang penguasa baru itu?

Luhan merasa sangat sesak hingga rasanya sangat sulit untuk bernafas. Ia menagis dalam diam, menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara. Akankah Sehun menolongnya kali ini?

"Nona Kyungsoo, apa yang terjadi dengan temanmu?" Sehun berucap tanpa terlihat gerakan bibirnya. Rahangnya menegang. Sebuah kekalutan terlihat dari matanya. Sungguh, ia ingin sekali meraih Luhan ke dalam rengkuhannya, menghapus setiap lelehan air matanya, dan mengobati lukanya dengan cinta. Tapi tidak bisa ia lakukan. Ini Seoul, bukan distrik kecil tempat pengasingan mereka. Sehun harus menjaga kehormatannya sebagai Pemimpin perusahaan.

Melihat tidak ada reaksi dari Kyungsoo, ia beralih pada Soojung dan menanyakan hal yang sama dan tetap tidak mendapatkan jawaban. "Nona Tiffany."

"Ya, Tuan?"

"Bisa kau urus mereka?"

"Tentu, Tuan."

Lalu Sehun berlalu begitu saja diikuti stafnya. Bahkan ia tidak bertanya apakah Luhan baik-baik saja. Tidak, bukan seperti ini yang Luhan inginkan. Kenapa Sehun tidak membelanya? Kenapa Sehun tidak melindunginya seperti dimalam-malam hujan? Inikah alasan kenapa Sehun selalu terlihat misterius dan seperti menyembunyikan sesuatu?

Sejak saat itu Luhan sadar, ia telah dibuang. Tentu saja, seorang pemimpin perusahaan yang paling berpengaruh dan selalu menjadi sorotan publik tidak mungkin mau berhubungan dengan staf rendahan seperti Luhan. Itu hanya akan menyakiti reputasinya.

"Kyungsoo, bawalah Luhan ke klinik kantor. Segera obati lukanya. Dan kau Jung Soojung, aku menunggumu di divisi kedisiplinan. Sekarang semua bubar."

.

"Lu, kau baik-baik saja?"

"Ini sedikit sakit, tapi obat itu berhasil meredakannya. Terima kasih sudah membawaku kesini."

Kyungsoo menghela nafas. Bukan itu yang ia maksud. Ia tahu Luhan tidak baik-baik saja. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat mata Luhan sembab dan membengkak, kecuali setelah Luhan bertemu dengan Sehun. Melihat cahaya dimatanya yang redup membuatnya ikut merasakan kesakitan sahabatnya itu.

"Dua belas jahitan. Kyung, kau tidak mau bertanya dari mana aku mendapaatkan ini?"

Kyungsoo berdecih. "Bangga sekali kau. Baekhyun sudah memberitahuku. Dasar rusa keras kepala. Kenapa tidak memanfaatkan tumpangan gratis Baekhyun saja? Lagi pula apa matamu bermasalah? Bagaimana bisa kau tersandung karpet dan menggulingkan meja tamu lalu memecahkan vas bunga kesayangan si Byun itu? Membuat pagiku repot saja. Harusnya kau yang mendengarkan omelannya tadi pagi."

Luhan hanya tertawa mendengar tuturan Kyungsoo. Mereka adalah dua sahabat terbaik yang pernah Luhan miliki. Meskipun seringkali Luhan bertindak ceroboh dan menyusahkan, mereka tetap merangkulnya dan terus berjalan bersama hingga saat ini.

"Aku sudah mendapatkan jatahku sebelum kau." Ucapnya sambil mengangkat bahu.

"Jadi, apa Baekhyun sudah tahu tentang hubunganmu dengan Sehun?"

Luhan mendesah lemah dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau menambah bebannya. Sudah cukup aku merepotkannya dirumah. Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua saja. Aku mohon."

Kyungsoo terlihat berpikir sejenak, lalu mengangguk dan mengajak Luhan mampir ke café Baekhyun untuk sebuah penyegaran pikiran dengan menghirup berbagai macam aroma kopi disana. Luhan bukan orang yang akan memikirkan hal-hal negatif. Jadi Kyungsoo yakin Luhan bisa pulih seperti sebelumnya. Yang Luhan butuhkan hanya kopi dan seorang teman minum.

.

"Sekarang kau menyesal, Oh Sehun?" Wanita itu berjalan mendekat ke meja kebesaran yang sekarang mutlak menjadi milik Sehun. "Bukankah sudah kukatakan untuk tidak bermain-main? Sekarang apa lagi alasanmu?"

Sehun yang termenung di tahtanya mendesah dan mengusap wajahnya kasar. Sehun tahu apa yang akan terjadi tidak akan baik untuk Luhan, tapi bukan yang seperti ini yang ia prediksikan. Lagipula siapa yang berani menyebar kabar itu hingga kesayangannya harus tersakiti sedemikian dalam.

"Aku tidak tahu, Tif. Aku tidak mengerti kenapa mereka menghujat Luhan. Aku pikir dengan dekatnya Luhan denganku akan memudahkannya dalam bekerja. Semua orang akan menghormatinya sama halnya dengan menghormati setiap kepala divisi lain."

Tiffany tertawa. "Naif sekali kau Tuan Oh yang terhormat. Kau baru saja menganggap dirinya tidak ada. Kau pikir spekulasi apa yang semua orang dapatkan?"

"Luhan telah dibuang."

"Sekarang sadar apa yang kau lakukan? Tidak ada waktu, Sehun. Kau harus memulihkan keadaan segera, sebelum ayahmu.. kau tahu maksudku."

.

"Ternyata mereka bergerak cukup cepat." Kris menyesap anggurnya. "Berita apa lagi yang kau bawa?"

"Luhan."

Kris langsung menegakkan tubuhnya mendengar nama itu. "Jelaskan."

"Luhan, gadis yang kau temani selama di Canada. Dia menjalin hubungan dengan Oh Sehun. Luhan tidak tahu menahu jika Sehun adalah seorang pewaris tunggal Shinwon Grup. Dan sepertinya hubungan mereka berjalan tidak baik. Aku mendengar seluruh karyawan kantor itu menggunjingnya."

Kris menyeringai. "Bagus. Ini akan memudahkanku. Cari tahu dimana ia tinggal dan bagaimana kehidupannya. Aku penasaran apa yang akan dilakukan Oh Sehun saat aku mengambil miliknya."

.

Keadaan kantor cukup terkendali. Bahkan belum genap satu hari, kehadiran Oh Sehun sebagai pemimpin baru dianggap sebuah penyegaran atas kepemimpinan yang kolot khas Oh Jaewon. Pada akhirnya peliharaan Oh Jaewon itu bersedia kembali menaruh uangnya dan mencabut semua tuntutan atas perusahaan. Sehun bergerak cepat memulihkan keadaan kantor yang diambang kebangkrutan. Tidak sia-sia ayahnya menghabiskan ratusan juta dolar untuk menyekolahkannya di Canada.

Kyungsoo dan Luhan kembali ke kantor pada jam makan siang dengan membawa beberapa gelas kopi untuk stafnya. Memang pada dasarnya Luhan baik hati, ia juga membawa dua paper bag berukuran cukup besar berisi roti berlapis daging sapi dan sayuran didalamnya. Mereka semua makan siang didalam ruangan. Awalnya memang terasa canggung mengingat kejadian tadi pagi. Tapi semua itu berhasil dipecahkan dengan kekonyolan Jonghyun dan kejahilan Hanbin.

"Makanlah yang banyak. Jangan lupa bereskan dan kembali bekerja." Luhan beranjak dari duduknya, hendak pergi ke ruangannya.

Tapi tiba-tiba Kyungsoo datang dengan raut sedih. Setelah pulang mengantarkan Luhan ke ruangan itu, Kyungsoo dipanggil oleh divisi kedisiplinan. Kasus tindak kekerasan yang ia lakukan pada Soojung membuatnya langsung mendapatkan kartu merah. Kyungsoo dipecat hari itu juga.

"Ada apa Kyung?"

"Maafkan aku, Lu. Aku tidak bisa lagi membantu hari-hari beratmu disini."

"Apa maksudmu? Kau.."

Dan hanya dengan sebuah tatapan saja, Luhan mengerti. Ia kembali meneteskan cairan bening itu. Kyungsoo bahkan harus menanggung hukuman atas perbuatan yang tidak diinginkannya. Dan semua itu karena Luhan, karena Kyungsoo membela Luhan. Tapi kenapa harus sekejam ini?

"Noona, harusnya kita bersenang-senang setelah melewati hari yang berat di tempat pengasingan. Tapi kenapa hari berat itu terjadi lagi disini?"

"Benar. Kenapa tidak kau lawan saja? Itu bukan salahmu. Kau hanya membela bos Lu." Tambah Jonghyun.

Kyungsoo tersenyum. "Tidak semudah itu. Bekas merah dipipi kanan Soojung cukup menjadi bukti bahwa akulah yang bersalah. Sedangkan untuk membela diri, aku tidak punya bukti apapun."

"Kenapa bisa? Harusnya aku saja yang resign. Akulah penyebab masalahnya."

"Tidak, kau harus tetap bertahan. Mereka masih membutuhkanmu." Kyungsoo melirik pada Jonghyun dan Hanbin. "Lagipula, aku memang sudah berencana untuk mengundurkan diri karena Jongin harus segera pindah ke LA."

Dan setelah mengemasi seluruh barang-barang Kyungsoo, Luhan dengan keras kepala memaksa mengantarnya sampai didepan pintu mobil Jongin. Kyungsoo sudah menolaknya, tapi dengan beribu alasan, Luhan tetap berhasil mengantarnya pada Jongin.

"Jaga dirimu baik-baik, Lu. Telepon aku kalau ada masalah."

"Sahabat macam apa kau? Tentu saja aku akan meneleponmu. Aku akan selalu jadi pengganggu hidup kalian. Ingat itu."

.

"Bos Lu, fighting!" Jonghyun memulai.

"Percayalah, kami akan tetap mendukungmu."

"Maafkan kami jika kami kadang kekanakan. Kami senang bekerja denganmu."

Luhan baru saja membuka pintu lalu disambut dengan berbagai kertas berisi dukungan yang dibuat para stafnya. Luhan melihat satu persatu wajah-wajah penyemangatnya itu. Tenpa terasa cairan itu meluncur lolos dari bendungan mata Luhan. Ia tersenyum, tapi matanya basah. Terharu akan perlakuan timnya, keluarganya keduanya.

"Ah, kenapa jadi mellow seperti ini?" Luhan mengipas wajah dengan tangannya. "Aku butuh tisu toilet sekarang. Terima kasih sudah mempercayaiku."

Lalu Luhan berjalan keluar menuju toilet yang diburunya. Luhan sudah menghapus anak sungai di kedua belah pipinya. Tapi melihat tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya membuat matanya kembali memanas. Luhan mencoba menguatkan diri, demi timku.

.

Lalu semua terjadi begitu cepat. Kyungsoo dan Jongin sedang bersiap mengurusi pernikahan mereka yang hanya tinggal satu hari lagi. Baekhyun yang selalu sibuk dengan cafenya, sekarang ditambah dengan Chanyeol yang juga merengek ingin segera menyusul Kyungsoo dan Jongin. Luhan bersyukur dua sahabatnya itu bisa hidup bahagia, meskipun ia sendiri masih mempertanyakan akankah kebahagiaan menghampirinya?

Terhitung tiga minggu sudah setelah kejadiaan itu. Luhan menjalani harinya senormal mungkin. Di minggu pertama dan kedua memang terasa sangat berat dan menyesakkan. Apalagi ketika Luhan harus berpapasan dengan Sehun yang selalu bersisian dengan Tiffany. Dan di minggu ketiga, meskipun gunjingan itu sudah mulai mereda, tapi rasanya Luhan sudah kehilangan selera untuk sekedar berinteraksi dengan orang-orang sekantornya. Ia tidak pernah sekedar mengobrol dengan stafnya seperti dulu, meskipun ia masih senang mentlaktir mereka. Luhan menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja. Bahkan ia mengambil pekerjaan bagian stafnya yang belum rampung dan pulang saat larut malam.

Luhan sudah berbeda. Inilah wujud dari ketegaran hati Luhan, dari ketidakmampuannya menghilangkan sosok Oh Sehun dikepalanya. Ia berubah menjadi seorang maniak pekerjaan. Semua nasihat yang Kyungsoo dan Baekhyun berikan sudah tidak bisa lagi ia cerna. Semua ia abaikan begitu saja.

Dan sebuah keberuntungan bagi Luhan karena minggu ini ia belum bertemu dengan Sehun. Setidaknya ia tidak harus menghindar dan pulang pergi ke toilet untuk menghabiskan tisu disana. Entah karena rasa sakit hati itu masih ada, atau memang Luhan benar-benar mengharapkan Sehun kembali dan mengucapkan penyesalannya.

.

Malam sudah menyelimuti langit Seoul. Jam menunjukkan pukul delapan. Semua pekerjaan sudah selesai. Tapi Luhan masih duduk dihadapan monitor tanpa melakukan apapun, tanpa berniat melanjutkan atau mengakhiri. Sampai ponselnya berbunyi dan suara berisik khas Baekhyun yang bilang bahwa ia sudah menunggu di cafenya dan memaksa Luhan untuk datang tanpa menerima alasan apapun.

Dan dengan malas, Luhan berjalan menyeberangi jalanan yang cukup padat menuju café itu. Disana sudah ada Kyungsoo, Jongin, Chanyeol dan juga sang pemilik café, Baekhyun.

"Kenapa kalian ada disini? Bukankah harusnya kalian beristirahat untuk acara besok? Jongin, kenapa kau membawa calon pengantin wanitamu keluar malam-malam? Jika ia masuk angin dan tidak bisa menikah denganmu bagaimana?" Luhan berucap tanpa jeda.

"Just calm down baby. Duduklah dulu, minum kopimu." Chanyeol mempersilakan.

"Wah, kupikir orang gila mana yang berteriak-teriak di caféku."

"Sudah-sudah. Begini Luhan, aku datang kesini ingin memintamu untuk menjadi pendamping pengantin pria. Dan jangan berani menolak, karena Baekhyun sudah terlebih dahulu melakukannya." Kyungsoo memperlihatkan tatapan mematikannya.

"Ini, kau pakai ini besok. Jam 8 pagi dan jangan terlambat." Kali ini Jongin mengancam dan memerikannya sebuah gaun putih dengan renda yang melingkari bawah dadanya.

"T-tapi-.."

"Maaf aku terlambat, apa aku melewatkan sesuatu?"

Suara itu, bau parfum itu..

Seketika seluruh tubuh Luhan menegang. Kenapa Sehun juga datang? Ini tidak benar. Luhan tidak boleh berdekatan denngannya, ia bisa gila.

"A-ah, perutku sakit. Sepertinya aku harus pulang sekarang."

"Pakai saja toilet diruanganku. Beristirahat saja disana. Kita pulang bersama nanti."

"Tidak usah, aku tidak mau kau repot mengomel saat aku bangun nanti. Selamat malam." Dan dengan cepat Luhan pergi mendorong pintu café, lalu keluar dan segera naik bus.

"Kenapa dengannya?" Tanya Chanyeol yang masih memandang pintu itu.

Semua mengangkat bahu. Hanya satu orang yang tidak menatap kepergian Luhan. Oh Sehun.

.

.

.

TBC

.

.

.

Nahloh? Endingnya gak banget

Jangan timpukin aku plisss. Ini pasti gak sesuai harapan para readersnim. Sorry sorry sorry /joget ala Icing vixx/

Tadinya pengen nyelipin sesuatu di chap ini, tapi berhubung bulan puasa, jadi.. yagitudeh.

Ini ceritanya Luhan emang lebay banget ya. Kelewat lincah malah jadi musibah. Sebenernya gak masuk akal juga sih, masa keramik bisa nancep dilutut wkwkwk tapi sengaja aku bikin gitu biar dramatis. Gapapa kan?

Ohya, karena banyak yang req Kris buat jadi pemeran antagonis/?/ diending chap kemarin, aku dengan senang hati mewujudkan keinginan kalian, hehe

Tapi di Chap ini Kris masih belum beraksi ya, masih sekilas-sekilas aja. Masih belum saatnya dan aku belum nemu jalan yang pas buat munculin dia.

Yang ngerasa degdegan dan ngeri Sehun kenapa2, sabar ya. Pending dulu aja, imajinasiku masih amburadul dan belum bisa lurusin ke adegan semacam itu.

Ohya, yang req Kaisoo juga mungkin di chap depan bisalah. Tunggu aja ndee, tapi gak janji. hehe

Sekian darikuh, mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan dalam penulisan dan gaya bahasa. Karena yang sempurna itu exo ot12 /apasih/

Peninggalan 'NEXT' kalian dikolom review sangat berharga, apalagi ditambah kritik dan sarannya. HAHABILANGAJABIARBANYAKYANGREVIEW.

Oke. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.

Papay.