AKATSUKI KELILING DUINA

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Chapter 10. India(2)

Summary : Akatsuki mendapat hadiah untuk keliling dunia secara gratis! Bersama Naruto si tour guide ceroboh dan Sasuke si pilot dadakan. /"KAU MEMBUATKU MENGANTRI DUA KALI, SIALAAN!"/"Kenapa kau menyalahkanku? Semua ini 'kan salah Kakuzu!"/"Eh? Benar juga ya!"/"Tu-tunggu dulu! Ini salah mereka yang telah menangkapku!" /"KENAPA KAU MENANGKAP ANAK BUAHKU?!"/"CEPAT JAWAB!"/"Mereka tidak mengerti bahasa Jepang, Pein,"/DOEEENGGG!

Humor/Adventure

.

.

.

Kakuzu saat ini tengah berada dalam kantor security, ia diinterogasi oleh 3 security sekaligus. Mereka meminta Kakuzu menunjukkan ID card dan memanggil Tour guide yang bertanggung jawab atas dirinya. Namun apapun yang mereka katakan, Kakuzu tidak mengerti. Dia tidak mengerti bahasa inggris, apa lagi bahasa india!

"Bagaimana, apa kita bawa saja dia ke kantor polisi?" tanya salah satu security disana.

"Kita geledah dulu saja tasnya, siapa tahu dia menyembunyikan ID card-nya!" saran security yang lain. Mereka pun setuju dan segera menggeledah tubuh Kakuzu.

"Hei, apa-apaan ini! Kalian mau berlaku tidak senonoh, hah?! Minggir!" Kakuzu berontak dan berlarian di ruangan yang sempit itu.


Sementara di tempat lain, Akatsuki cs baru saja menghabiskan es krim mereka.

"Baiklah! Mari kita mencari Kakuzu!" ucap Pein dengan semangat.

"Yosh!" jawab Tobi tak kalah semangat. "Tapi, senpai, bagaimana dengan es krim Kakuzu-senpai?" tanya Tobi sambil menunjuk es krim milik Kakuzu yang sudah setengah mencair.

"Hmm, kita apakan ya es krim ini?" gumam Pein sambil berfikir dengan pose meletakkan tangannya di dagu. Mereka semua menatap Pein dengan seksama, penasaran dengan hasil pemikiran Pein.

"AHA! KITA HOMPIMPAH SAJA! YANG MENANG BOLEH MAKAN ES KRIM INI!" teriak Pein sambil berdiri dari kusrinya.

"SETUJUUU!" seru Akatsuki yang lainnya.

"Sudah ku duga, mereka bodoh!" gumam Sasuke. Sakura hanya sweatdrop. Sedangkan Naruto hilang kesabaran.

"HENTIKAN ACARA BODOH KALIAN! APA ES KRIM INI LEBIH PENTING DARI TEMAN KALIAN, HAH? BAGAIMANA KALAU SAAT INI KAKUZU SEDANG DI CULIK ?!" teriak Naruto frustasi. Masalahnya adalah dia yang harus bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Akatsuki.

"Kau benar, Naruto! Apa yang kalian lakukan, hah? Kalian malah enak-enakan makan es krim sementara Kakuzu dalam bahaya! Cepat sekarang berpencar dan cari Kakuzu!" teriak Pein sambil menunjuk pintu keluar seakan mengusir anak buahnya. Mereka pun menurut dan segera berpencar mencari Kakuzu.

"Apa-apaan si bodoh itu, dia yang menyuruh kita makan es krim, dia juga yang menyalahkan kita," gerutu Sasori.

Sekarang Sakura benar-benar terjungkal dari kusrinya begitu melihat tingkah Pein yang absurd itu.

"Kalau saja tidak ada Sasuke, mungkin aku sudah gila bersama terus dengan mereka," gerutu Sakura.


"KAKUZUU!"

"KAKUZU-SENPAI!"

"KAKUZU, UN! DIMANA KAU?" teriak Sasori, Tobi dan Deidara berurutan. Mereka berempat bersama Naruto kini sedang mencari di sepanjang jalan di depan Taj Mahal. Untunglah hari sudah mulai sore, jadi matahari tidak terlalu menyengat kulit mereka.

"KAKUZU SENPAI! KELUARLAH!" teriak Tobi lagi.

"Coba lihat ini! Kakuzu sebelumnya ada bersama kita saat berfoto di taman, tapi begitu kita berfoto di depan Taj Mahal, dia tidak ada!" ucap Naruto sambil menunjukan kameranya pada Sasori dan Deidara.

"Benar juga ya, apa kita cari ke dalam Taj Mahal saja?" tanya Sasori.

"Sini pinjam Hp-mu, aku akan suruh yang lainnya mencari dia di Taj Mahal, kita coba cari disini saja," ucap Naruto. Sasori pun menyerahkan Hp nya pada Naruto. kemudian mengirimkan SMS pada Pein untuk mencari Kakuzu di dalam Taj Mahal.


Sai, Pein, Konan, Itachi dan Hidan kini tengah mengantri untuk masuk ke Taj Mahal. Meskipun hari mulai sore, namun antrian di Taj Mahal masih saja panjang. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang ingin menikmati keindahan Taj Mahal dengan latar matahari tenggelam.

"Sai, bilang saja pada penjaganya kalau kita hanya ingin mencari teman kita!" ucap Itachi.

"Tidak bisa, peraturannya harus mengantri," jelas Sai.

Setelah mengantri cukup lama, tibalah giliran mereka yang masuk.

"Akhirnya, kita masuk juga," gumam Pein yang berada di depan antrian.

"Maaf, ransel harus di simpan di loker," ucap Penjaga pintu tersebut sambil menghadang Pein.

"Hei minggir! Aku buru-buru, tahu!" omel Pein.

"Emm, Pein! Sepertinya kita lupa menaruh tas di loker," ucap Sai dengan senyum tanpa dosa. Muncul perempatan di dahi Pein. Rasanya dia seperti keledai yang jatuh pada lubang sama!

"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI SIALAAANNN!" Pein misuh-misuh di depan pintu gerbang. Itachi dan Hidan segera menyeret Pein sebelum dia diamankan oleh security. Mereka pun berjalan menuju loker.


"KAKUZU-SENPAI! KELUARLAH! TOBI TIDAK SUKA MAIN PENTAK UMPET!" teriak Tobi.

"Hentikan, Tobi, un! Yang kau lakuakan dari tadi malah curhat! Bukan mencari Kakuzu, un!" bentak Deidara yang sudah muak dengan teriakkan gaje dari Tobi.

"Tobi kan hanya ingin memancing Kakuzu-senpai supaya dia keluar," lirih Tobi dengan nada kecewa.

"Memancinglah di laut! Jangan disini, un!" omel Deidara tak mau kalah.

"Tidak apa-apa, Tobi! Berteriaklah! Siapa tahu Kakuzu ada disekitar sini," ucap Sasori bijak. Tobi mengangguk senang.

"KAKUZU-SENPAI KELUARLAH! SEBENTAR LAGI MALAM LOH! KALAU SEMBUNYI TERUS NANTI DI GONDOL WEWE GOMBEL!" teriak Tobi makin gaje.

"Lihat 'kan, Danna? Dia semakin tidak jelas karena kau selalu membelanya, un!" bentak Deidara yang sudah habis kesabaran.

"Memangnya kenapa? Tobi kan hanya ingin membantu!" bantah Sasori.

"Dia malah memancing perhatian orang-orang, un!" balas Deidara.

"Memangnya kenapa kalau dia memancing perhatian orang-orang? Kita kan bukan buronan!" Sasori tak mau kalah. Naruto kebingungan melihat adegan suami-istri yang beda pendapat tentang cara mengurus anak ini.

"Hentikan, Senpai, jangan bertengkar!" lerai Tobi sambil menarik baju Deidara dan Sasori. Layaknya seorang anak yang menghentikan pertengkaran ibu dan ayahnya. Naruto jadi terharu melihatnya.

"Huh! Selama ini aku selalu ada di pihakmu! Tapi kau malah terus membela Tobi! Aku sudah muak, un! Aku juga punya batas kesabaran, un!"

"Memangnya siapa yang menyuruhmu ada dipihakku? Aku membela Tobi karena dia tidak salah!"

"Apaaa? Tega sekali kau berkata begitu padaku, un! Setelah semua yang aku lakukan untukmu, un!"

Oke, sekarang mereka seperti sepasang kekasih yang salah satunya kepergok selingkuh, Naruto jadi mual melihat drama dadakan ini.

"HENTIKAN OMONG KOSONG KALIAN! CEPAT CARI KAKUZU KARNA KITA HARUS SEGERA KEMBALI KE BANDARAA!" teriak Naruto. Deidara dan Sasori buang muka sambil melipat tangan di dada. Sepertinya mereka benar-benar musuhan sekarang. Dasar kekanak-kanakan!

"Bagaimana cara mencari Kakuzu-senpai? Tobi sudah lelah!" ujar Tobi sambil berjongkok di depan kantor security.

"Kita tunggu saja disini, siapa tahu yang lainnya sudah menemukan Kakuzu," ucap Naruto sambil ikutan berjongkok di samping Tobi. Deidara dan Sasori masih berdiri dengan wajah saling berpaling. Mereka masih marahan rupanya.

"KAKUZU SENPAI KELUARLAH! KALAU KAU KELUAR AKAN TOBI BERI UANG YANG BANYAAKK!" teriak Tobi yang masih belum menyerah.

"Sudah ku bilang berhenti berteriak seperti itu, un!" omel Deidara.


Sementara itu didalam kantor security tersebut terdapat Kakuzu yang kini sudah di tangkap dan akan di geledah oleh security.

"Berhenti! Kalian mau apa, hah? Aku akan laporkan kalian ke polisi!" jerit Kakuzu yang kini tubuhnya di raba-raba oleh security yang mencari dompet ataupun barang-barang lain milik Kakuzu.

"Berisik kau!" omel salah satu security tersebut.

"KAKUZU-SENPAI KELUARLAH! KALAU KAU KELUAR AKAN TOBI BERI UANG YANG BANYAAKK!" teriakan Tobi terdengar oleh Kakuzu yang kini sedang berusaha berontak, mendengar apa yang di ucapkan Tobi, ia pun segera menjawabnya.

"TOBI AKU DISINI! KELUARKAN AKU!" teriak Kakuzu.

Tobi, Naruto, Sasori dan Deidara mendengar teriakan Kakuzu. Mereka saling pandang dan segera menerobos masuk ke dalam kantor security.

Begitu mereka sampai didalam, terlihat Kakuzu yang sedang di pegang kuat oleh dua orang security dan satu security meraba-raba celana Kakuzu.

"KYAAAAA! APA YANG KALIAN LAKUKAN, UN!" pekik Deidara sambil menututp matanya dengan tangan.

"Lepaskan akuu!" teriak Kakuzu.

"Hei, hei, apa-apaan ini? Lepaskan temanku!" ucap Naruto pada ketiga security tersebut. Lagi-lagi mereka tidak mengerti dengan apa yg Naruto ucapkan.

"Sasori, cepat telepon Pein dan suruh mereka kemari bersama Sai dan yang lainnya," pinta Naruto. Sasori pun mengangguk dan segera mengeluarkan Hp-nya.


Sementara itu, Pein, Sai, Itachi, Konan dan Hidan kembali mengantri untuk masuk. Untung saja antriannya tidak begitu panjang. Setelah menunggu beberapa menit tibalah giliran mereka.

Kring...kring...kring...

Terdengar suara panggilan masuk dari Hp Pein, ia pun segera mengangkatnya.

"Pein! Cepat ke kantor security bersama yang lainnya, Kakuzu ada disini!" ucap Sasori di sebrang telepon.

"APA KAU BILANG, HAH? AKU SUDAH MENGANTRI DUA KALI DISINI DAN KAU MENYURUHKU KEMBALI?!" teriak Pein di depan teleponnya.

"Yah begitulah, pokoknya cepat ke sini, jaa!" Sasori segera menutup teleponnya sebelum kena sembur dua kali oleh ketuanya itu. Dengan emosi meledak-ledak, Pein dan yang lainnya pun segera menuju kantor security.


Braaakkk!

Pein membuka pintu kantor security dengan kasar. Semua orang yang ada di dalam tersentak dibuatnya. Mereka menatap Pein dengan tatapan horror.

"KAU!" Pein menunjuk hidung Sasori.

"Aku?" Sasori menunjuk hidungnya sendiri.

"Beraninya kau mempermainkan aku, hah!" Pein berjalan mendekati Sasori.

"Apa yang kau lakukan padanya, Danna?" bisik Deidara.

"Aku tidak melakukan apa-apa!" bantah Sasori.

"KAU MEMBUATKU MENGANTRI DUA KALI, SIALAAN!" teriak Pein sambil mencengkeram krah baju Sasori.

"Kenapa kau menyalahkanku? Semua ini 'kan salah Kakuzu!" tuduh Sasori.

"Eh? Benar juga ya!" Wajah horor Pein mendadak jadi idiot. Kemudian ia menatap Kakuzu dengan horror.

"Tu-tunggu dulu! Ini salah mereka yang telah menangkapku!" adu Kakuzu sambil menunjuk tiga security. Pein menatap ketiga security dengan tatapan garang.

"KENAPA KAU MENANGKAP ANAK BUAHKU?!" bentak Pein.

Krik...krik...krik...

Hening, tidak ada yang menjawab.

"CEPAT JAWAB!" lanjut Pein.

"Mereka tidak mengerti bahasa Jepang, Pein," celetuk Itachi dari belakang.

DOEEENGGG!

Oke, sekarang Pein merasa jadi orang paling idiot di seluruh dunia. Dan lebih buruknya lagi, Konan ada disini! Hancur sudah reputasinya! Dan lagi-lagi ini gara-gara si Itachi! Oh, Pein bersumpah akan membalasnya nanti. Namun untuk sekarang ia memilih untuk pura-pura sakit perut dan izin ke kamar mandi. Mereka semua mengiringi kepergian Pein dengan tatapan sewatdrop.

"Ketua baka!" gumam Akatsuki cs.

Setelah beberapa menit meluruskan masalah Kakuzu bersama ke tiga security tersebut, akhirnya mereka bersedia melepaskan Kakuzu dengan syarat membayar denda.

"Mereka minta bayaran denda 200 ribu rupee," jelas Sai pada Akatsuki cs.

"Kakuzu, cepat bayar!" desak Hidan.

"Kenapa aku yang bayar?" bantah Kakuzu.

"Ini 'kan salahmu! Tentu saja kau yang bayar!" ucap Sasori.

"TIDAAAK! AKU LEBIH BAIK MENDEKAM DI KANTOR SECURITY DARI PADA MENYERAHKAN UANGKU!" jerit Kakuzu sambil mendekap erat dompetnya.

"Kalau kau tidak mau bayar, kau akan di serahkan ke kantor polisi dan harus memakai baju tahanan, semua barangmu akan di sita dan tentu saja kau akan berpisah dengan dompetmu," ucap Itachi santai. Kakuzu mulai berpikir serius.

"Baiklah, aku akan membayar, tapi hanya 50 rupee," ucap Kakuzu akhirnya.

"TIDAK ADA TAWAR MENAWAR! KAU PIKIR INI PASAR, HAH?!" Hidan benar-benar kesal dengan si kikir ini.

"Baiklah, 55 rupee!" tawar Kakuzu lagi. Hidan benar-benar habis kesabaran. Ia pun menyuruh Sasori, Naruto dan Sai untuk memegangi Kakuzu sedangkan Hidan akan merebut dompetnya.

"Hei! Apa-apaan ini! Ini namanya pencurian!" teriak Kakuzu.

"Diam kau! Kita harus segera ke bandara!" omel Naruto.

Setelah Hidan merebut dompet Kakuzu, ia pun menyerahkan dompet itu pada Sai, kemudian mengambil uang Kakuzu senilai 200 ribu rupee.

"Maaf, kami tidak punya mata uang rupee, bisa kau terima ini? Ini setara dengan 200 ribu rupee," ucap Sai sambil menyodorkan uang Kakuzu. Setelah mengecek keaslian mata uang jepang tersebut mereka pun menyuruh Sai untuk tanda tangan dan memperbolehkan mereka pergi.


Sasuke, Sakura, Zetsu dan Kisame tengah berbaring di dalam bus, menunggu rombongan yang lain menemukan Kakuzu. Mereka lebih memilih bersantai disini daripada harus repot-repot mencari Kakuzu. Dasar tidak setia kawan!

"Apa mereka tidak akan kebingungan mencari kita?" tanya Kisame.

"Tenang saja, aku sudah kirimkan pesan kalau kita sudah menunggu di bis. Lagi pula Kakuzu sudah ketemu," ucap Sasuke santai.

"Benarkah? Jadi dia tidak diculik?" tanya Zetsu.

"Tidak, dia hanya di tangkap security," jelas Sasuke yang mendapat informasi dari kakaknya, Itachi.

Tak lama kemudian, rombongan Akatsuki pun datang dan mulai menempati kursi masing-masing. Setelah di rasa siap, mereka pun melaju menuju bandara.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mereka pun tiba di bandara dan berpamitan pada Sai.

"Yosh! Terimakasih ya, Sai," ucap Naruto sambil menjabat tangan Sai.

"Sama-sama, lain kali tolong bawa tourist yang normal saja ya, semoga perusahaan tour keliling dunia ayahmu lancar!" ucap Sai dengan senyum polosnya.

"Apa maksudmu kami ini tidak normal, hah?" Kisame masih sensi dengan omongan Sai.

"Aku tidak bilang begitu, kau yang menyadarinya sendiri," ucap Sai santai.

"APA KAU BILANG?" Lagi-lagi Hiu tempramen ini darah tinggi. Mereka segera menyeret Kisame menuju pesawat sebelum dia ngamuk-ngamuk.


Keesokan harinya, Akatsuki sedang bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya. Seperti biasa, Sasuke dan Sakura sudah standby di ruang kokpit. Naruto berada di depan kabin dengan buku agendanya. Sedangkan yang lain sedang melakukan kegiatan rutinan yang absurd, seperti... ah kalian tahu lah, Sasori memandikan boneka, Hidan sedang ritual, Kakuzu menghitung uang dan Tobi yang sedang membongkar dompet. Tunggu dulu, dompet dengan bentuk kodok yang sedang Tobi bongkar itu bukan miliknya. Dompet Tobi kan gambarnya D*ra The Explorer!

Zetsu yang sedang membersihkan Venus Fly Trap miliknya pun heran.

"Itu dompet siapa?" tanya Zetsu penasaran.

"Entahlah, Tobi menemukannya terselip di pintu beberapa hari kemarin. Dompet ini lucu! Tobi suka!" ucap Tobi riang.

"Ada apa saja isinya? Hah, paling hanya koin," gumam Zetsu.

"Isinya hanya kartu-kartu jelek," ucap Tobi sambil melempar kartu-kartu yang Tobi bilang jelek.

PLETAKK!

Salah satu kartu yang Tobi lempar mengenai kepala Naruto.

"Wadaaw! Woi! Siapa yang lempar kartu ini!" bentak Naruto. "Eh? I-ini kan..." Omelan Naruto terhenti begitu ia menyadarai sesuatu. Kartu itu adalah kartu debit miliknya.

"Huaaa! Terimakasih Kami-Sama! Engkau telah menurunkan kartu ATM-ku!" ucap Naruto sambil sujud-sujud. Akatsuki menatap Naruto heran.

"Naruto-senpai suka kartu itu? Nih Tobi masih punya yang lain," ucap Tobi sambil memperlihatkan kartu kredit.

"Itukan milikku! Bagaimana bisa kau menemukannya?!" tanya Naruto heran.

"Tobi menemukannya didalam dompet kodok ini," ucap Tobi sambil memperlihatkan dompet kodok yang kini telah kosong.

"Kenapa bisa ada didalam sana? Ini bukan dompetku, tapi kartu-kartu ini milikku," Naruto memutar otaknya. Apakah ini kodok ajaib yang bisa mengantarkan barang pada pemiliknya? Dilihat dari warnanya, ini senada dengan baju hijau ketat milik Guy dan Lee. "Kapan kau menemukannya?" tanya Naruto.

"Hmm, beberapa hari yang lalu, Tobi menemukannya saat turun dari pesawat. Kalau tidak salah saat di Thailand!"

"Kenapa kau tidak memberi tahuku dari dulu?!" Teriak Naruto frustasi.

"Tobi pikir ini boneka, ternyata bisa di buka! Dan di dalamnya hanya ada kartu!"

"Tunggu, lalu uang cash ku kemana ya?" pikir Naruto lagi.

"Apa gunanya kartu-kartu itu, un! Yang kita butuhkan adalah uang dan makanan, un! Pagi ini kita tidak sarapan karena kehabisan makanan!" gerutu Deidara.

"Kartu ini adalah uang, bodoh! Semua uangku ada di kartu ini!" jelas Naruto sambil menciumi kartu ATM nya. Mata Kakuzu berbinar-binar.

"Jadi uangmu ada disana? Itu artinya kau bisa membayar hutangmu? Cepat bayar! Plus bunganya dua kali lipat!" Tagih Kakuzu.

"Akan aku bayar 3x lipat begitu aku menemukan mesin ATM!" ucap Naruto. Mata Kakuzu tiba-tiba saja berbentuk dollar.

"Setuju!"


Perjalanan menuju negara selanjutnya cukup jauh, sehingga penerbangan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya.

Kruyuuukk~

Terdengar suara perut Pein meminta makanan.

"Aku lapaaarr!" keluh Pein yang kini terbaring tak berdaya di kursinya.

"Sabarlah kawan! Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Naruto yang posisinya tak jauh beda dengan Pein.

"Untung saja Tobi masih punya permen lolipop," ucap Tobi sambil mengeluarkan sebuah lolipop berwarna oranye.

Set!

Set!

Set!

Semua mata tertuju pada Tobi dengan tatapan memburu. Maklum saja, ini sudah jam 11 siang dan mereka belum makan apapun. Mereka butuh sesuatu untuk dimakan, apapun itu, meski hanya sebuah lolipop sekalipun.

Zetsu mengendap-endap untuk merebut lolipop Tobi. Di belakangnya, Naruto dan Pein juga mengendap-endap mengincar lolipop oranye tersebut.

Set!

"Eh?" Lolipop Tobi menghilang. Zetsu, Naruto dan Pein kalah cepat. Ternyata Itachi yang duduk di depan yang mengambilnya.

"Khekhekhe, Lolipop ini milikku!" gumam Itachi penuh kemenangan sambil mengangkat lolipop itu tinggi-tinggi.

"Tidaaakk!" jerit Zetsu, Pein dan Naruto.

Set!

Lolipop itu menghilang dari tangan Itachi.

"Huahahaha! Sayangnya, lolipop ini sekarang miliku, Itachi-sama!" ucap Konan sambil menjulurkan lidahnya.

"Tidaaaak!" teriak Itachi.

"Yosh! Konan-chan menang hebat!" ucap Pein memberi semangat.

Set!

Lagi-lagi lolipop itu pindah tangan. Sasori yang merebutnya.

Sret!

Sasori langsung menbukanya dan memakannya.

"TIDAAAAKKK!" jerit Pein, Naruto, Zetsu, Konan, Itachi, Deidara serta Hidan dan Kakuzu. Kalo Kisame? Dia sedang sekarat karena kelaparan dan kehausan.

"Emm, lumayan!" ucap Sasori sambil mengemut lolipop milik Tobi.

"KAWAN-KAWAN! AYO SERANG!" perintah Pein.

"HYAAAAATTTT!" Naruto memasang kuda-kuda dan sejurus kemudian Sasori dikerumuni oleh Akatsuki cs.

"EEEHHH?!" Sasori Kaget.

"SERAHKAN LOLIPOP ITU!" teriak Naruto.

"TIDAAAAKKK!" Sasori merapatkan mulutnya. Dan dengan sekuat tenaga, ia menggigit lolipop itu hingga pecah dan mengunyahnya hingga hancur kemudian menelannya. Ia pun mengeluarkan gagang lolipop dan menyerahkannya pada Naruto.

"Nih, ambil!" ucap Sasori santai.

"SIALAAAN KAU! AKAN KU BUNUUHH!" teriak Pein yang bersiap mencekik Sasori.

"Tobi tidak tahu kalau Senpai semua suka lolipop juga, kalau Senpai mau, ambil saja, Tobi punya banyak kok di tas," ucap Tobi dari kursinya. Akatsuki yang siap menghajar Sasori terdiam. Mereka mencerna ucapan Tobi. 'TOBI PUNYA BANYAK KOK DI TAS,'

"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI, SIALAAANNN!" kali ini Zetsu yang berteriak frustasi mewakili Akatsuki yang lain. Setelah menghujat, mengumpat dan menyumpahi Tobi, mereka pun mengambil lolipop Tobi, masing-masing satu.


Perjalanan panjang menuju benua Afrika pun berakhir. Mereka mendarat di Zambia, sebuah negara yang terkenal karena memiliki air terjun terbesar di dunia.

Akatsuki turun dari pesawat. Mereka segera menunggu di ruang tunggu bandara.

"SELAMAT DATAAAANGGG!" teriak Seorang gadis pirang yang di ikat ponytail.

"Oh, Halo! Kau pasti Ino, kan?" tanya Naruto.

"Tepat sekali! Kalian dari Konoha Tour World kan? Ini dia, silakan di nikmati!" Ino membagikan minuman kaleng kepada Akatsuki cs.

"Huaaah! Terimakasih, kau baik sekali!" ucap Kisame, kebetulan sekali dia sedang sekarat karena kehausan dan kelaparan.

"Kerja bagus, Naruto! Sepertinya tour guide kali ini normal," ucap Sakura.

"Hehe, tentu saja! Dia cantik, baik dan sexy," ucap Pein yang tiba-tiba nimbrung.

"Oh, ya ampun! Kau seorang pilot?" tanya Ino begitu melihat Sasuke yang masih menggunakan baju pilot. Ia pun memberikan minuman kaleng tersebut pada Sasuke.

"Hn," jawab Sasuke simpel sambil menerima minuman tersebut kemudian membuka tutupnya lalu menenggaknya hingga habis.

"Kau benar-benar cocok sekali jadi pilot! Tampan, tinggi dan mapan. Sangat cocok untuk jadi pacarku, hehehe," goda Ino. Mata Sakura melotot mendengarnya.

"APA KAU BILANG? TIDAK BISA! DIA TIDAK BOLEH PACARAN DENGANMU!" balas Sakura yang tiba-tiba ada di samping Sasuke.

"Hee? Kenapa? Apa kau pacarnya?" tanya Ino sengit.

"Bu-bukan sih,"

"HA! Kalau begitu menyingkirlah dari sana!" Ino menarik Sakura yang ada di samping Sasuke.

"Hei! Apa-apaan ini?! Meskipun aku bukan pacarnya tapi aku ini pramugarinya!" jelas Sakura.

"Kau pramugarinya, tapi itu hanya berlaku di atas pesawat! AYO SEMUANYA, KITA PERGI KE AIR TERJUN VICTORIAA! TAPI SEBELUM ITU MARI KITA MAKAN SIANG DULU!" teriak Ino sambil menggandeng tangan Sasuke.

"AAARRGGHG! NA-RU-TOO!" teriak Sakura. Naruto yang sedang bersembunyi di punggung Pein di dorong oleh Zetsu.

"I-itu 'kan bukan salahku, Sakura," ucap Naruto takut.

"SUDAH KU BILANG CARI TOUR GUIDE YANG BENAAARR! SHANAAROOOO!"

"WAAAAA!"

.

.

.

TBC


Omake

Flashback :

"BUKA PINTUNYA TEMAN-TEMAN!" teriak Lee sambil menggedor pintu pesawat.

"CEPAT PERGI DARI SINI! TERBANGKAN PESAWATNYAAA!"

Terdengar suara teriakan Naruto dari dalam pesawat.

"HOIII TUNGGU SEBENTAR! AKU HANYA INGIN MENGEMBALIKAN DOMPET NARUTO YANG KETINGGALAN!" teriak Lee yang melihat pesawat sudah mulai naik ke udara.

"Lee, cepat berikan barang-barang yang ada di dalam dompet itu," perintah Guy.

"Baik! Umm, tapi untuk apa?" tanya Lee sambil menyerahkan semua kartu yang ada di dalam dompet Naruto pada Guy.

"Perhatikan saja yang aku lakukan!" ucap Guy sambil memasukan kartu-kartu milik Naruto pada sebuah dompet kodok. Setelah menutup resletingnya, ia pun menyelipkan kaki dompet kodok pada sela pintu. Guy pun melompat turun dari pegangannya sebelum ia terbawa lebih tinggi.

Wossshh~

Pesawat melaju semakin tinggi ke atas awan. Terlihat dompet kecil berbentuk kodok yang Guy selipkan sedikit berkibar terbawa angin.

"Woaaah! Kau memang hebat, Sensei!" Puji Lee dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.

"Hohoho, tentu saja! Sekarang kita hanya tinggal berdoa semoga saja dompet itu tidak jatuh."

Flashback Off.


...

Yosh! Akhirnya nyampe juga ke chapter 10!

Sebelumnya Author ingin minta maaf pada readers semuanya karena cerita ini makin garing.

Mohon pengertiannya karena Author baru menetas jadi penulis fanfict XD

Sebenarnya author masih bingung dengan cara penulisan, cara mendepkripsikan keadaan, cara mengembangkan cerita, pokoknya masih bodo banget deh..

Maka dari itu Author sangat berterimakasih pada para reviewers yang sudah memberikan masukan, kritik, saran dan pendapatnya. Itu sangat membantu sekali 🙏

Semoga chapter selanjutnya bisa lebih baik dan tidak mengecewakan lagi!

Oke, sudah cukup curcolnya XD

Mari kita mengobrol di review ⬇⬇


...

Balas Review :

Dobe : Untunglah kalau masih bisa menghibur.. hehe

Betelgeuse Bellatrix : Bang kuju emang lagi jadi sasaran empuk buat dinistakan XD Ya ampun dapet ketjup basyah XD wkwkwk

AlvinSuprayogo : Iya, benar sekali -_- Di chapter kmaren memang banyak adegan yang di cut gara-gara bingung nge-cut nya dimana karena takut kepanjangan dan malah jadi ngaco nantinya X(

Mungkin karena aku terlalu maksa buat bikin 1 chapter 1 negara. Semoga chapter depan ada perubahan..

Hyudate'8576 : lebih tepatnya sih lagi sibuk menghadapi ujian hidup #Eaaa #plak

Heheh enggk deh bercanda. Sebenernya otakku lagi kebagi dua sama fanfict lain yang tiba2 aja terngiang-ngiang di otakku. Padahal misiku pengen beresin ff ini dulu

Yosh! Request di terima, kebetulan Belanda memang ada di daftar buku agenda Naruto XD

Silahkan reviewnyaa ⬇⬇⬇⬇