Pertanyaan Baekhyun menghantam telak pendiriannya. Semua rencana yang tersusun rapi di otaknya terasa berlarian tak tentu arah seakan enggan menunggu lebih lama. Chanyeol yakin usapan yang dia beri pada si mungil ini tak berefek apapun. Saat Chanyeol memegang bahu Baekhyun dan mendorongnya pelan untuk melihat wajahnya, Chanyeol hanya mendapati satu hal.
Pandangan kosong.
Jika yang Baekhyun dapatkan adalah sebuah pandangan kosong, maka yang Chanyeol dapatkan saat ini adalah jiwanya yang terasa kosong.
Mungkin apapun yang dia jelaskan saat ini akan terasa percuma di mata Baekhyun.
Chanyeol jelas tahu, Baekhyun tidak dalam keadaan baik. Dia ingin tahu penyebabnya tapi tidak mungkin untuk bertanya. Setidaknya tidak untuk sekarang.
Mencoba mengalihkan suasana tegang yang entah mengapa tercipta, Chanyeol mencoba tersenyum.
"Kita lebih dari apa yang kau pikirkan sekarang,"
Chanyeol memandang Baekhyun yang semula menatap sepatunya kemudian beralih menatap telak mata bulat Chanyeol.
"Aku yakin kita bukan kekasih,"
Bibir si mungil masih mengerucut, jelas kesal. Chanyeol rasa dia ingin berbalik dan berteriak gemas. Tapi itu tidak mungkin mengingat mereka sedang berada di pelataran mall besar. Jadi yang bisa dia lakukan hanya mengenggam tangan Baekhyun seraya berbisik ringan.
"Aku juga tak suka kata itu. Karna kau tahu? Sesungguhnya kau pemilik mutlak jiwa dan raga ini,"
Reaksi Baekhyun?
Dalam detik pertama setelahnya, pipinya merona. Lalu detik kelima dia berhambur ke pelukan Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya pada leher si jangkung.
Terasa bagai musim semi. Awalnya. Sampai terasa seperti musim panas saat tiba-tiba sebuah gerakan kecil dari Baekhyun yang sedang tersipu malu berhasil membuat Chanyeol menjerit dengan tidak tahu malu.
"Arrgghh, Baek! Kenapa kau suka sekali menggigit bahuku?"
Yang hanya dijawab dengan punggung Baekhyun yang menjauh dari tempat Chanyeol berdiri.
Bukan, bukannya Chanyeol tak mau memberi sebuah kepastian. Namun semua yang dia katakan benar adanya. Yang jelas, mau bagaimana pun keadaan saat ini, yang bisa keduanya lakukan hanya menunggu saat yang tepat untuk mengurai benang rumit ini.
.
.
Menurut Chanyeol, tidak ada hal yang lebih menyenangkan ketimbang melihat raut serius Baekhyun saat sedang membaca buku. Melihat sampul, lalu melirik judul, dan membalik sisi buku untuk membaca ringkasannya.
Sesekali dia akan mengerutkan keningnya, mengerucut bibir, dan sedikit berjengit karena tertarik. Chanyeol hanya bisa menatap dengan senyum yang menyejukkan. Di tangannya sudah ada dua buku literature, dua novel fantasi, dan satu novel romansa. Sudah lima buku dan Baekhyun bahkan belum berhenti mencari buku yang menarik minatnya. Si mungil itu justru mulai menjelajah rak biografi, menelusuri tiap baris buku yang masih berselimut plastik segel.
"Permisi, Tuan. Mau berapa buku lagi yang akan kau beli?"
Baekhyun menatap Chanyeol dan berkedip dua kali, "Apa kau keberatan membayar itu semua, Pak?"
Chanyeol menggeleng, "Tapi apa kau benar-benar mau menguras dompetku hanya untuk buku?"
"Tidak, aku punya beberapa list lain untuk ku beli. Jadi, Paman.. Siapkan uangmu,"
Chanyeol bisa apa selain mengangguk pasrah?
Setelah mengantongi enam buku di kantung belanja yang tentu saja Chanyeol bawakan, keduanya keluar dari toko buku tersebut. Baekhyun memimpin dnegan langkah pelan sedangkan Chanyeol mengikuti dengan mendekap setia kantong belanja. Tampak seperti suami setia, atau justru pembantu yang tersiksa?
Baekhyun menatap sekitar, menimbang harus memasuki toko mana lagi untuk menguras dompet si jangkung. Pilihannya jatuh pada sebuah toko sepatu. Lalu tanpa ragu dia masuk lebih dulu, mengabaikan Chanyeol yang bahkan masih tertinggal lima langkah darinya.
Mereka keluar setelah menghabiskan tiga puluh menit di dalamnya. Memilih satu dari lima pasang yang berhasil menarik perhatian Baekhyun. Dan tentu selesai dengan Chanyeol yang mengangsurkan kartu kreditnya untuk membayar sepatu tersebut.
"Kita makan?"
"Nanti, aku mau kesana dulu,"
Jari Baekhyun menunjuk sebuah toko yang menjual kamera dan jam tangan. Tampilan mewah langsung dipamerkan saat Chanyeol menatap toko tersebut. Chanyeol tersenyum, akhirnya dia akan masuk toko yang tepat.
"Baiklah, aku juga ingin jam tangan,"
Kali ini Chanyeol masuk dengan sukarela. Bahkan mendahului Baekhyun. Langsung berpisah begitu badan melewati pintu masuk. Chanyeol yang langsung ke etalase jam tangan dan Baekhyun yang langsung ke rak tempat kamera berbagai jenis dipamerkan.
Sebenarnya Baekhyun ingin membeli lensa kamera yang baru di rilis beberapa minggu lalu, tapi ternyata belum tersedia di toko tersebut. Baekhyun akhirnya menghampiri Chanyeol yang tampak sedang meneliti sebuah jam tangan. Dihadapannya berjajar tiga jam tangan dengan desain berbeda.
Chanyeol merasakan kedatangan Baekhyun dan langsung mengalihkan pandangan beberapa detik dari jam yang tengah dia pegang.
"Lensa yang mana?"
"Belum ada," Chanyeol mengangguk.
"Menurutmu bagus yang mana?"
Baekhyun menatap empat jam tangan dihadapan Chanyeol. Meneliti satu persatu sambil sesekali melirik pergelangan tangan Chanyeol.
"Menurutku ini tepat untukmu,"
Sebuah jam tangan berwarna hitam legam menjadi pilihan Baekhyun. Karena menurutnya Chanyeol akan tampak gentle dengan jam tangan hitam dan kaos hitam berlengan pendek.
"Baiklah,"
"Dan aku mau yang itu,"
Baekhyun langsung berkata sambil tangan menunjuk sebuah jam tangan putih yang tampak mewah dan elegan.
Chanyeol mengangguk dan mengangsurkan kartu kreditnya untuk menyelesaikan transaksi. Baekhyun menatap setiap gerak yang Chanyeol lakukan. Tersenyum kecil alan sebuah hal.
"Sepertinya aku mulai menyukai kartu itu,"
Chanyeol beralih menatap Baekhyun, "Bagaimana dengan aku?"
"Kau berada satu level di bawah kartu itu,"
Chanyeol merengut namun hanya satu detik karena setelahnya dia memainkan pipi Baekhyun dan berkata, "Jadilah anak baik dan akan kakak belikan apapun dengan kartu ini,"
.
.
.
.
Hah! Naomi siapa ha siapa!? Cuma dapet roti sekotak, Baekhyun dong. Dapet buku, sepatu, jam tangan mahal dalam sekali gesek. Wkwk
Udah jangan pada ngiri kepengen punya pacar kaya ceye.
Aku menepati janji kan, upload cepet nih. Meski bullshit ngomongnya mau 500 kata tapi nyatanya jadi hampir 900 kata. Hehew
Bonus juga tuh ada one shoot yang baru aku upload buat nemenin malam minggu kalian.
Iya terimakasih kembali, aku tau kalian jomblo makanya nyari hiburan ke ffn wkwk.
Gak selesai-selesai aku bilang terimakasih buat kalian yang mau mampir baca ke ff ini, makasih juga buat yang mau komen, review, favorite dan follow ff-ku.
Terimakasih sayangku, phay-phay.
