"Relationshi(t)(p)"
A BoBoiBoy Fanfiction byFanladyand FureeneAnderson
Disclaimer: BoBoiBoyMonsta.Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning(s) : Highscool!AU, no super power, typo, dll
TauYa/TauYi/HaliYi/KaiYa/HaliTauGem/TauFanGop/
.
Fanfiksi ini adalah hasil kegabutan Fanladydan FureeneAnderson. Dipersembahkan untuk kamu yang sedang mencari bacaan, hiburan, asupan, drama remaja dan yang sedang mengalami konflik tentang hubungan. Baik keluarga, persahabatan, platonic maupun romansa yang dipenuhi bunga. Semoga kita selalu berada dalam hubungan yang baik.
.
Selamat membaca!
.
.
.
Taufan terdiam di kelas, mengetuk-ngetuk mejanya dengan kuku. Hari ini Yaya tidak menyapa Taufan, Yaya juga tidak berangkat bareng Kaizo. Sebenernya ada apa dengan Yaya, ya?"
"Hei, Taufan!" Ying baru datang langsung menaruh tas di samping meja Taufan. "Ngapain? Pagi-pagi udah bengong. Nanti kesambet, lho!"
Melihat Ying yang ceria, mata Taufan menyipit. "Kemarin kamu jadi pendiem tapi sekarang senang lagi. Kemarin Yaya juga jadi pendiem tapi hari ini masih pendiem, kenapa ya?"
"Oh, ya? Kamu belum ngomong sama Yaya?" Ying mendudukkan diri di sebelah Taufan.
"Udah. Tapi dianya nggak mau diajak ngomong," gumam Taufan.
"Iya, sih. Semalem aku chat juga nggak dibales. Kenapa, ya?"
"Kamu sendiri, kenapa kemarin jadi pendiem?" tanya Taufan.
"Aku?" Ying menaikkan alisnya. "Aku kemarin lagi ... Oh kayaknya aku tau deh kenapa Yaya pendiem. Pasti ada hubungannya sama Kaizo, kan? Siapa lagi coba?"
"Iya, kan? Aku juga mikirnya gitu." Taufan merengut masam. "Nyebelin banget. Dia apain Yaya sih sampai segitunya? Apa aku harus samperin dia aja sekalian?"
"Samperin siapa?" tanya Ying.
"Samperin Kaizo, lah." Taufan memutar mata. "Kalau dia beneran ngapa-ngapain Yaya, aku nggak bakal tinggal diam, deh. Mau takut juga bakal kulawan."
"Sok banget. Baru ngeliat Kak Kaizo doang paling kamu udah gemeteran," cibir Ying.
"Cih, padahal dia sendiri yang bilang sayang banget sama Yaya dan nggak rela kalau cowok lain sayang sama Yaya," Taufan masih mengomel, mengabaikan ucapan Ying. "Ternyata dia malah nyakitin Yaya. Dasar asshole!"
"Heh, kapan dia bilang gitu?"
"Waktu hari Minggu.," jawab Taufan.
"Kamu ketemu Kaizo? Hari Minggu?" Ying tampak terkejut.
"Nggak. Kaizo main ke rumah waktu Yaya juga ada di rumahku," jawab Taufan lesu. "Karena Yaya sibuk, jadinya aku ditinggal berdua sama Kaizo. Terus dia bilang gitu deh."
Ying terdiam. Keningnya berkerut, namun setelah itu dia tersenyum jahil.
"Oh jadi itu yang bikin kamu ngambek sampe bolos hari seninnya?"
"Nggak, kok," kilah Taufan. "Siapa juga yang ngambek?"
"Alah, bohong banget. Keliatan jelas kamu ngambek gara-gara kesel dikalahin Kaizo, 'kan? Kasian, deh." Ying tergelak.
"Iya, iya. Ketawain aja aku terus. Gapapa," Taufan mencibir sewot.
"Yaelah, gitu aja ngambek. Dasar baperan." Ying tertawa.
"Kamu tuh yang baperan."
"Kok aku?"
"Ya iyalah, ditinggal Kak Hali sebentar aja kamu sampe ngambek."
Mata Ying membeliak. "Kok kamu—"
"Iya, semalem waktu Kak Hali pulang, Gempa langsung nanya Kak Hali berantem nggak sama Ying. Terus malah aku yang diomelin sama dia!"
"Ya kamu emang pantesnya diomelin, kan," kekeh Ying.
"Kok gitu, sih? Kan bagus aku udah ngasih tau kamu soal kak Hali pergi. Kalau nggak kamu ngga bakal tau apa-apa. Iya kan? Nggak nyesel kalau nggak tau?" cecar Taufan.
"Ya mungkin nyesel sih." Ying menghela napas. "Makasih ya Taufan, udah ngasih tau aku. Kalau aku nggak tau, mungkin kita masih salah paham sampe sekarang."
"Ya ya biasa aja kali." Taufan nyengir. "Tapi traktir boleh dong. Aku lagi pengen donat di toko yang baru buka itu tuh. Kayaknya enak deh."
Ying mencibir. "Beli aja sendiri."
"Cih, ga asik," sungut Taufan. Ia kemudian bangkit dan merenggangkan badan. "Ya udah, deh. Aku mau mampir ke kelas Yaya bentar sebelum bel masuk."
"Ngapain? Bel palingan cuma lima menit lagi. Nggak bakal sempat kalau mau ngobrol," kata Ying.
"Bukan mau ngobrol, kok. Cuma mau liat Yaya aja. Ehehe."
Taufan berjalan ke luar kelas di saat yang lain justru berlari masuk. Bahunya menabrak orang sekali, dan Taufan membalasnya dengan menggerutu.
"Fan!"
Taufan menoleh. Gopal tengah berlari dengan napas tersengal-sengal. "Ugh, untung belum telat." Arloji dilirik. "Masih lima menit lagi."
"Kamu ngapain?" tanya Taufan. "Kok tumben enggak bareng Fang? Fang mana?"
Taufan celingukan mencari ke mana entitas ungu itu berada, namun Gopal menyentuh bahu Taufan.
"Fang izin."
"Hah?" Taufan terkejut. "Ke mana?"
"Dia pulang kampung sebentar. Di suruh abangnya buat ambil arsip di China."
"Hah? Arsip apa?"
"Lho, kamu nggak tau?" Gopal tampak tak terkejut. "Kaizo kan mau ikut olimpiade matematika. Tapi berkasnya ada yang ketinggalan di China. Karena orang tua Fang sibuk, jadi Fang yang disuruh ke sana buat ambil berkas."
"Terus ... Kaizo?"
"Kaizo di sinilah. Dia kan harus ikut pendalaman materi mau UAS."
"Ooh..." Taufan manggut-manggut. "Enak banget Fang bisa liburan."
"Enak apaan? Fang ngomel terus disuruh pulang kampung," cerita Gopal. "Tapi ya dia mana bisa nolak abangnya. Jadi mau nggak mau harus pergi, deh."
"Kasian deh, Fang," Taufan terkekeh. "Eh, tapi masa' buat ngambil berkas doang harus ke China? Berkas apaan emang?"
"Ya mana kutau. Tanya aja ke Kaizo," Gopal mengangkat bahu. "Lagian bukan cuma buat ngambil berkas aja. Tapi buat ngurus surat-surat buat Kaizo mau ngambil beasiswa di luar juga."
"Kaizo ngambil beasiswa? Di luar negeri maksudnya?"
"Kalau kata Fang sih, setelah lulus dari sini, Kaizo pengennya kuliah di luar negeri." Gopal kembali mengedikkan bahu. "Makannya dia bersikeras banget buat menangin olimpiade itu."
Taufan berpikir sejenak. Apa ini yang buat Yaya sedih sampai bete kayak kemarin?
"Emang kenapa dia nggak kuliah di sini?"
Gopal mengangkat bahu lagi, "Mana kutau."
Saat itu bel masuk berdering nyaring di atas kepala mereka.
"Yah, udah bel," keluh Taufan. Gagal sudah rencananya untuk menemui Yaya sejenak sebelum masuk kelas. "Nanti aja kita ngobrol lagi di kantin, ya."
"Sip." Gopal mengangguk dan berlari kembali menuju kelasnya sembari melambai pada Taufan.
Taufan balas melambai sejenak, lalu menghela napas. Ia berpikir untuk tetap menjenguk Yaya ke kelasnya barang sejenak, tapi saat itu guru pelajaran pertamanya muncul di ujung tangga. Taufan bergegas membalikkan badan dan berlari kembali ke kelasnya.
.
.
.
Kaizo tiba di kelas Yaya ketika gadis itu tengah memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Ia langsung menghampiri meja Yaya, mengabaikan bisik-bisik yang terdengar seiring tiap langkahnya.
"Yaya."
"Kak Kaizo?" Yaya tampak terkejut. "Tumben masuk ke kelasku."
"Makan bareng, yuk."
Sebelum Yaya sempat menjawab, Kaizo sudah lebih dulu menariknya pergi. Mereka berjalan meninggalkan kelas diiringi tatapan teman-teman sekelas Yaya.
"Oh, Yaya—"
Kaizo dan Yaya berpapasan dengan Taufan di koridor, yang tampaknya juga hendak menemui gadis merah jambu itu di kelasnya.
"Eh, Taufan?" Yaya menegur saat langkah kakinya dan Kaizo berhenti. Kaizo melirik Taufan sebentar tanpa minat menegur. "Kamu ngapain?"
Taufan menatap Kaizo lalu pandangannya menurun pada tangan Kaizo dan Yaya yang saling menggenggam.
"Eh nggak ada apa-apa," jawab Taufan, setengah gugup. Ia sedikit terlonjak dengan suara yang tiba-tiba meneriakinya dari arah belakang.
"Kamu ngapain sih keluar kelas duluan ninggalin aku." Ying tiba setelah berlari menyusul Taufan. "Tungguin napa!"
"Lho, kamu bukannya mau makan sama kak Hali?" tanya Taufan.
"Nggak. Aku hari ini nggak mau ganggu Hali." Ying tersenyum. "Dia juga butuh waktu sama teman-temannya, kan?"
Ying mengalihkan pandang dan sedikit terkejut karena baru menyadari kehadiran Kaizo dan Yaya di depan mereka.
"Lho, Yaya? Kak Kaizo?" Ying melirik tangan mereka yang saling menggenggam. "Mau ke mana?"
"Kantin," jawab Kaizo singkat. "Maaf, ya. Kami duluan."
Mereka kemudian berlalu pergi begitu saja. Taufan mengawasi keduanya menghilang di balik tangga dengan mata menyipit.
"Ada yang nggak beres, nih," katanya. "Ekspresi Yaya keliatan nggak seneng. Apa dia dipaksa pergi sama Kaizo?"
"Hm, mungkin." Ying ikut menatap tangga di mana Yaya dan Kaizo sudah menghilang. "Tapi ya udahlah, kita ga usah ikut campur dulu. Siapa tau mereka ada sesuatu yang baru diomongin, kan?"
"Nah itu dia!" Taufan berdecak. "Gimana kalau kita ikutin mereka aja?"
Ying membeliak. "Ngapain? Ih, mereka juga butuh privasi kali," sungut Ying. "Kalau mau tau, ya mending tanya langsung aja. Daripada ngikutin diem-diem terus kepergok gimana? Emang kamu mau ribut sama Kaizo? Atau sama Yaya?"
"Kalau emang harus ribut sama Kaizo ya nggak masalah. Dia udah bikin Yaya sedih, gimana aku bisa diam aja coba?" ujar Taufan. "Pokoknya ayo kita ikutin mereka."
Taufan langsung menyeret Ying pergi bersamanya meski gadis itu memprotes. Mereka berlari menuruni tangga dan mencari-cari sosok Kaizo dan Yaya, tapi tak terlihat di mana pun.
Taufan berlari di koridor lantai satu dan mereka tak sengaja berpapasan dengan Halilintar yang sedang berjalan bergerombol dengan teman-temannya.
"Ying?" Halilintar menatap mereka dengan alis berkerut. Lalu ia menyadari Taufan yang tengah menggandeng tangan Ying. "Kalian ngapain?"
Ying tampak ingin menjawab, namun Taufan langsung kembali menyeret Ying seraya berseru. "Aku pinjam Yingnya sebentar ya, Kak Hali!"
Sebelum Halilintar sempat membalas, mereka sudah lebih dulu menghilang di koridor yang terhubung dengan jalan ke kantin.
Kantin penuh sesak dengan siswa yang berebutan untuk duduk dan membeli makanan. Taufan celingukan ke sana-kemari berusaha menemukan sosok Yaya di tengah lautan manusia di sana. Harusnya gadis itu cukup mencolok dengan hijab merah jambunya, tapi tak terlihat tanda-tanda Yaya maupun Kaizo di mana pun.
"Sialan. Kemana sih mereka?" Taufan menggerutu kesal.
"Udahlah, nggak usah ngikutin mereka, Fan," saran Ying. "Nanti kita bisa tanyain langsung ke Yaya. Aku temenin deh, mau?"
"Nggak, nggak. Aku harus nyari tau sekarang," tegas Taufan. "Aku harus tau ke mana Kaizo ngebawa Yaya!"
"Woi!"
Keduanya menoleh dan melihat Gopal menghampiri mereka.
"Tega, ya, ke kantin nggak ngajak-ngajak. Udah mana aku ditinggal pulang kampung sama Fang," gerutu Gopal.
"Eh ini kalian ngapain berduaan? Pakai pegangan tangan?" Alis Gopal naik sebelah. "Wah, kacau! Mau nikung abangmu sendiri ya, Fan?"
"Ngaco!" Taufan langsung melepaskan pegangannya pada Ying. "Aku lagi ada misi penting sama Ying. Kalau mau ganggu, mending ga usah gabung deh!"
"Gitu, ya. Temen sendiri ga dianggap. Oke, fine, gapapa. Aku mau ke kantin aja."
Gopal kemudian melengos pergi dengan jengkel.
"Hei, kasian Gopal. Dia ngambek sama kamu tuh," Ying berkomentar, tapi Taufan masih sibuk menoleh ke sana-kemari mencari sosok Yaya. Ia hanya bisa menghela napas sebelum kembali berujar, "Terus sekarang kita mau cari Yaya ke mana?"
"Coba cari di warung dekat TU, deh. Siapa tau mereka mojok di sana juga kayak kamu sama kak Hali."
"Aku sama Hali nggak mojok," gerutu Ying. "Tapi aku laper, nih. Makan dulu di kantin, ya?"
"Ngapain makan di kantin?" tanya Taufan. "Mending ke warung TU dulu aja. Sekalian makan di sana."
"Eh tapi itu kan—"
Ying ingin membantah karena itu adalah tempat spesialnya dengan Halilintar. Namun Taufan keburu menarik tangan Ying lagi dan menyeretnya ke taman belakang sekolah. Mereka kembali berpapasan dengan Halilintar di sana, yang sepertinya baru selesai makan.
"Kalian ngapain dari tadi berduaan?" Halilintar memicingkan mata curiga.
"Ck, kak Hali ga usah ganggu dulu, deh," decak Taufan. "Liat Yaya sama Kaizo di dalam nggak?"
Halilintar mengerutkan kening. "Kaizo enggak pernah ke sini. Anak kelas tiga bukan di sini tempatnya."
"Terus ke mana?"
"Ya mana kutau."
"Ah kak Hali nggak guna." Taufan kembali menarik Ying, hendak keluar, tapi Halilintar menarik tangan Ying yang satunya.
"Kak Hali apa-apaan sih? Aku sama Ying lagi buru-buru," sungut Taufan kesal.
"Kamu yang apa-apaan." Halilintar melepaskan pegangan Taufan dan Ying. "Kamu keluyuran sambil pegangan tangan sama pacar orang. Ying, aku mau ketemu kamu pulang sekolah."
"Hah, ngapain?" Ying bertanya bingung.
"Memangnya aku nggak boleh ketemu pacarku sendiri?"
"Yaa boleh, sih. Tapi—"
"Ck, kalian kelamaan," Taufan berdecak kesal. "Udah. Pacaran aja sana. Aku mau cari Yaya sendiri."
Taufan pergi meninggalkan Ying bersama Halilintar di warung kecil itu. Ia berdecak kesal lantaran sejak tadi selalu ada pengganggu yang menghambat rencana. Sekarang Taufan harus cari Yaya dan Kaizo kemana?
Mendadak, perutnya bunyi. Taufan lupa ia cuma makan roti tadi pagi.
"Yah elah ini perut nggak bisa diajak kompromi amat," gerutunya. "Apa makan bentar di kantin, ya? Tapi nanti keburu bel..."
Taufan menimbang. Perutnya semakin lama semakin terasa kosong. Ia kemudian memutuskan untuk berbelok ke kantin. Di sana ia melihat Gopal duduk sendirian di kantin seraya melahap burger.
"Bu, nasi gorengnya satu piring ya." Taufan segera duduk di hadapan Gopal. "Biasa, nggak pakai acar."
"Ngapain kamu di sini?" tanya Gopal sewot." Katanya ada misi penting."
"Ga jadi," sahut Taufan pendek. "Aku kelaperan."
Gopal memilih untuk tidak menyahut lagi. Lebih enak makan burgernya. Kemudian Taufan menghela napas kasar, mengeluh.
"Ah sekarang gimana caranya aku harus cari Yaya!"
Gopal tersentak. Kunyahannya berhenti. "Yaya? Tadi kalau ga salah aku liat Kaizo bawa Yaya ke lantai atas deh."
"Hah? Ngapain?"
"Ya mana aku tau." Gopal mengangkat bahu acuh. "Kau ini masih belum nyerah juga ya? Udahlah, ikhlasin aja Yaya. Dia udah bahagia sama abangnya Fang."
"Enak aja!" sembur Taufan. "Justru aku nggak bisa ikhlas karena Yaya nggak bahagia sama Kaizo. Yaya tuh emang harusnya sama aku. Pasti dia bakal bahagia dunia akhirat."
"Halah, darimana kamu tau Yaya nggak bahagia?"
"Kemarin Yaya murung," cerita Taufan, tepat saat nasi gorengnya datang. "Terus jadi pendiem, abis itu tadi aku liat mukanya sedih pas dijemput Kaizo. Pasti mereka abis berantem, dan Yaya jadi sedih! Benar-benar sialan emang itu Kaizo!"
Gopal kembali mengunyah burgernya. "Ya wajarlah kalau pasangan itu ada berantemnya. Malah yang nggak wajar itu kalau pasangan adem ayem aja."
"Darimana kamu tau kalau pasangan wajar itu yang berantem? Pacar aja nggak pernah punya!"
Gopal mendelik. "Heh, gini-gini aku juga lucu, banyak yang minat!" sungut Gopal. "Lagian ya, pacaran tanpa berantem itu kayak sayur ... tanpa kuah."
"Tanpa garam kali," cibir Taufan. "Peribahasa aja masih salah."
"Nggak. Ini di atas garam. Yang pasti kalau pacaran nggak ada berantemnya .. uh, itu kurang greget!"
Taufan memutar mata dan mulai menyuap nasi goreng.
"Nggak percaya? Coba deh tanya Ying. Atau enggak Halilintar. Pasti mereka gitu juga."
Taufan mengunyah nasi gorengnya sambil berpikir. "Hm, iya sih. Kak Hali sama Ying mah berantem mulu kerjaannya."
"Nah,bener kan!" Gopal mengangguk cepat. "Pacaran itu harus sering berantem biar greget.
"Geble. Yang ada kebanyakan berantem malah jadi putus lah," cibir Taufan. "Eh, tapi gapapa sih kalau Yaya sama Kaizo putus. Kan aku jadi punya kesempatan buat nembak Yaya."
"Dasar uler," Gopal balas mencibir. "Enggak bisa liat peluang sebentar aja. Eh Fan, kukasih tau ya, kalau kamu beneran suka Yaya, mending kamu juga dukung kebahagian Yaya."
"Eh aku selalu dukung, kok!" kata Taufan. "Cuma aku ga terima aja kalau Kaizo yang udah dipilih Yaya malah bikin Yaya sedih."
"Jangan asal nyimpulin seenak udelmu," kata Gopal. "Mungkin aja Yaya sedihnya bukan karena Kaizo, 'kan? Justru sekarang dia mungkin lagi berusaha ngehibur Yaya, makanya disembunyiin jauh-jauh darimu."
"Enak aja. Aku yakin banget dia mau macem-macemin Yaya. Awas aja kalau ketemu nanti. Langsung kukasih pelajaran pokoknya." Taufan mengunyah nasinya dengan geram.
"Emang berani?"
"Ya beranilah." Taufan menyendok nasinya dengan cepat. "Kalau urusannya sama Yaya apapun bakal kulakuin!"
"Banyak amat gayamu. Ntar waktu berhadapan langsung sama orangnya malah gemeteran," cibir Gopal.
"Sembarangan. Laki-laki itu pantang mundur! Aku bakal menghadapi apapun demi Yaya pokoknya. Liat aja!"
"Iya, iya. Serah, deh," komentar Gopal acuh. "Eh, btw kalau Kaizo beneran ngambil beasiswa di luar, nanti Yaya bakal ditinggal sendiri dong? Jangan-jangan kamu mau ngambil kesempatan itu, ya?"
Taufan berhenti mengunyah dan berpikir sejenak. Tak beberapa lama kemudian senyumnya melebar. "Ah, iya! Bener juga kamu, Gopal! Kadang otakmu yang pas-pasan itu bisa mikir encer juga ya hehe."
"Sembarangan," sungut Gopal. "Kalau otakku pas-pasan, otakmu pasti udah sekarat, Fan!"
"Otakku ini brilian, tau. Enak aja dikatain sekarat," Taufan mencibir. "Btw aku udahan nih makannya. Aku mau lanjut cari Kaizo sama Yaya lagi, ya!"
Taufan meletakkan piring kosong di meja dan langsung menghambur pergi meninggalkan Gopal begitu saja.
"Oi! Ini udah bayar belom? Aku nggak mau bayarin ya kalau belom!"
"Sekali-sekalilah kau yang bayarin!" Taufan berteriak dari jauh. Sementara Gopal balas berteriak dengan bersungut-sungut.
'Kata Gopal, Yaya ada di lantai atas. Lantai atas itu lorongnya kelas 3. Apa jangan-jangan Yaya dibawa Kaizo ke kelasnya? Tapi untuk apa? Jam-jam istirahat begini lagi', Taufan membatin sementara ia menyusuri tangga menuju lantai atas.
"Awas aja kalau dia beneran macem-macemin Yaya," gerutu Taufan.
Ia mempercepat langkah menaiki tangga, sempat berpapasan dengan Halilintar dan Ying yang sedang mojok di koridor lantai satu. Ia berpura-pura tidak melihat mereka meski Ying sempat memanggil namanya. Saat akhirnya tiba di lantai tiga, napas Taufan sudah ngos-ngosan.
"Ugh, kelas Kaizo tuh dimana, Ya?" tanya Taufan entah pada siapa. Ia merlirik arloji dan terkejut melihat waktu istirahat hanya tersisa tujuh menit. "Aku harus tanya siapa, udah mana enggak kenal lagi sama anak kelas tiga."
Seseorang dengan hijab hijau datang seraya membawa buku. Ia tampak heran melihat seorang anak kelas satu ada di lorong kelas tiga.
"Hei dek, cari siapa?"
Taufan menoleh. Sedikit terpana karena ternyata cewek yang menegurnya cantik juga.
"Eum .. itu kak, mau cari kelas Kak Kaizo."
"Oh, Kaizo? Itu kelasnya paling ujung." Gadis itu menunjuk. "Kebetulan aku sekelas. Mau kuanterin?"
"Mau banget!" Taufan mengangguk antusias. "Makasih, kak!"
Mereka berjalan beriringan menuju kelas paling ujung. Sebenarnya agak asing saat Taufan menginjakkan lantai di koridor ini. Begitu juga dengan lantai 1. Tapi karena lantai 1 sering dia lewati, jadi tak begitu asing.
"Kamu dari kelas mana, dek?"
Taufan tersentak dan langsung buru-buru menjawab. "Kelas 1-2, kak."
"Oh." Gadis itu mengangguk. "Mukamu familiar. Kayaknya aku pernah liat kamu di jajaran OSIS deh."
Taufan nyengir. "Ah pasti yang kakak maksud Halilintar, ya? Dia abangku. Kelas 2-1."
Gadis itu mengangguk lagi. "Ada keperluan apa mau ke kelas Kaizo?"
"E-eh, nggak ada perlu apa-apa, sih," jawab Taufan gugup. "Cuma... er, mau ngobrol sebentar."
"Kamu kenal dekat sama Kaizo? Kupikir anak kelas satu yang berani bicara sama dia cuma adiknya, Fang."
"Nggak dekat sih," tawa Taufan. "Cuma kenal biasa. Karena ada sesuatu sih..."
"Oh ..."
Mereka sampai di kelas Kaizo, dan gadis itu mengisyaratkan Taufan untuk masuk.
"Kak, aku masa masuk sendirian."
"Emangnya mau ditemenin juga?" Kening gadis itu berkerut.
"Iyalah, ini kan bukan kelas aku."
Gadis itu menghela napas. Ia berjalan lebih dulu masuk ke kelas dan membiarkan Taufan mengikutinya dari belakang.
Taufan langsung menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan, mengabsen satu-persatu siswa yang ada di kelas. Ekspresinya langsung berubah kecewa saat tidak mendapati kehadiran Kaizo maupun Yaya.
"Kak Kaizonya nggak ada, ya?" tanyanya.
"Iya deh, ga ada. Padahal tadi kayaknya kuliat dia ke sini," sang kakak kelas itu mengerutkan alis. "Sai! Kau lihat Kaizo?"
Siswa laki-laki yang sedang menulis langsung menoleh untuk menjawab. "Tadi keluar sih."
"Iya, tau keluar." Gadis itu berkata. "Keluarnya kemana?"
"Enggak tau sih." Sai mengangkat bahu. "Ngapel sama pacarnya kali."
"Nah." Gadis itu kembali menoleh pada Taufan. "Kau dengar, kan? Mungkin Kaizo di lantai bawah, di kelas pacarnya. Aku nggak tau dia di kelas apa, tapi kalau nggak salah namanya Yaya."
"Iya. Aku kenal Yaya, kok." Taufan tersenyum kecut. "Makasih ya kak udah dianterin ke sini."
"Oh, iya, sama-sama." Gadis itu mengangguk. "Kalau kamu masih mau nyari Kaizo mending sepulang sekolah nanti aja deh. Sekarang udah mau bel soalnya."
"Oh iya deh kak. Kalau begitu aku balik dulu, ya."
Taufan baru saja bermaksud berbalik, sebelum ia dipanggil lagi dan terbalas menunda langkahnya.
"Nama kamu siapa? Nanti biar aku sampein ke Kaizo kalau kamu nyariin dia."
Taufan tampak berpikir sejenak. Lalu dia menggeleng . "Bilang aja aku dari kelas 1-2."
"Gitu." Gadis itu mengangguk. "Aku Shielda."
"Oh, iya. Makasih ya, kak Shielda. Nanti kapan-kapan aku traktir di kantin deh buat balasan," Taufan nyengir.
"Bener, ya? Nanti kutagih, lho." Shielda tertawa.
"Liat dulu kalau lagi nggak bokek sih, kak." Taufan kembali cengengesan. "Kalau gitu aku balik dulu, ya. Dah."
Taufan berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Shielda yang mengamatinya dari pintu. Ia menuruni tangga cepat, bermaksud ke kelasnya. Namun ujung matanya tak sengaja melihat sosok yang dia cari selama jam istirahat.
Taufan berbalik. Hatinya mencelos melihat Yaya dan Kaizo ternyata sudah berada tepat di depan kelas Yaya. Kaizo tengah mengusap wajah Yaya, yang mengulas senyum dengan mata yang tampak sembab. Apa Yaya habis menangis?
Tangan Taufan terkepal di samping celana. Keinginannya adalah melangkah maju, menghampiri Yaya. Namun entah, ia juga tidak tahu kenapa kakinya tidak bisa bergerak.
Taufan terus mengawasi keduanya dari jauh. Kaizo tampak berbicara sesuatu dan Yaya tertawa kecil sebagai balasan. Sampai akhirnya bel masuk berbunyi, barulah Kaizo beranjak pergi dan melambai meninggalkan kelas Yaya.
Taufan masih berdiri di tempatnya saat Kaizo melintas hendak naik tangga. Ia menatap Taufan sekilas dan mengangguk kecil, lalu meneruskan langkah. Namun Taufan segera menahannya.
"Tunggu, Kak Kaizo."
Kaizo berhenti. Ia tidak berbalik, hanya menoleh sedikit untuk menatap Taufan dengan ujung matanya.
"Ada apa?"
"Kakak habis bikin Yaya nangis?" tanya Taufan tanpa basa-basi.
Kaizo terdiam sebentar sebelum menjawab. "Kenapa kalau iya? Bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku!" geram Taufan. "Yaya temanku."
"Dan dia pacarku," Kaizo menyahut tenang. "Berhentilah merecoki hubungan kami."
"Aku enggak akan merecoki kakak kalau Kakak bisa jaga Yaya," kata Taufan tegas. "Aku udah pernah bilang kan aku sayang sama Yaya? Jadi aku enggak bakal biarin siapapun nyakitin Yaya, termasuk Kak Kaizo."
Kaizo berbalik. Sebelah alisnya terangkat melihat ekspresi Taufan mengeras. "Kamu sayang sama Yaya?" tanya Kaizo datar. "Atau kamu suka sama Yaya?"
"A-aku ..." Taufan tergagap dan merutuki diri dalam hati. "Aku jelas sayang Yaya, lah! Dia itu udah kuanggap saudaraku sendiri. Kami udah—"
"Berteman dari kecil, kan? Aku tau," potong Kaizo. "Tapi menurutku lebih bagus kalau kau berhenti menggunakan alasan teman kecil untuk menutupi perhatian berlebihanmu pada Yaya."
Taufan terdiam. Entah kenapa seluruh kosakatanya sama sekali tidak bisa keluar. Padahal Kaizo hanya memasang wajah datar, tapi tekanannya benar-benar memberi efek yang luar biasa pada Taufan. Taufan seakan melihat raksasa yang siap menginjaknya kapan saja.
"Kamu pikir aku enggak sadar? Sebagai sesama laki-laki, aku udah tau perasaan kamu yang sebenernya ke Yaya tanpa kamu bilang. Kamu enggak bisa bohongin aku walau kamu mengelak pakai berbagai alasan." Kaizo menghela napas. "Jadi, kusaranin kamu nggak usah terlalu ikut campur sama hubungan kami. Atau kamu bakal dicap sebagai perusak hubungan orang kalau kamu masih bersikap berlebihan."
"A-a-aku ..."
Taufan benar-benar tak bisa berkutik. Ia berpikir keras, mencoba mencari alasan bagus untuk dilemparkan membalas argumen Kaizo. Namun percuma, apapun yang akan diucapkannya sekarang tak akan bisa menutupi kenyataan yang sudah jelas bisa dilihat Kaizo.
"Aku nggak bakal ngelarang kamu buat dekat terus sama Yaya," sambung Kaizo saat Taufan tak kunjung bicara. "Tapi kuharap kamu ngerti buat jaga jarak. Yaya pacarku. Aku nggak suka dia dekat dengan laki-laki lain, terutama yang juga menaruh perasaan lebih buat dia."
Taufan masih bergeming. Otaknya macet, berusaha memproses kata-kata Kaizo sekaligus memikirkan balasan. Namun detik terus berlalu, dan mulutnya masih membisu.
"Sudah, ya. Aku duluan."
Kaizo memilih meninggalkan Taufan dan segera menjejak tangga tanpa menoleh bagaimana ekspresi Taufan setelahnya.
Taufan tercengang. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa ia bisa begitu tertekan di hadapan Kaizo. Kenapa ia bisa sampai tak berkutik? Kaizo begitu kuat. Ia bahkan tidak perlu repot bertanya tentang kenapa Taufan selalu menaruh perhatian pada Yaya. Langkahnya sudah terbaca dari awal.
"Lho, kok nggak masuk, Fan?" Ying yang baru naik, menyentuh bahu Taufan yang masih tercengang.
Taufan tidak menjawab. Ying berlari mengitari Taufan, bermaksud mencari tahu bagaimana ekspresi teman sebangkunya itu.
"Fan?"
"Ying..." Taufan akhirnya membuka suara setelah Ying terus mengawasi bergeming dalam diam.
"Ya?"
"Menurutmu... aku bisa menang dari Kaizo?" tanya Taufan dengan ekspresi melamun.
"Hah?" Ying hanya mengernyit bingung. "Menang apa? Yaya?"
"Kok kayaknya aku ngerasa nggak bisa menang, ya? Aku kurang apa sih, Ying, buat Yaya?"
"Hah?" Ying masih tidak mengerti. "Kamu kenapa sih, Fan? Masuk kelas aja Yuk."
Taufan menggeleng. Ia menarik tangan Ying yang sudah lebih dulu melangkah. "Bolos aja yuk," ajak Taufan. "Aku ... aku butuh temen cerita."
.
.
.
to be continued
