Chapter Spesial VI
.
.
.
Disclaimer Disclaimer©Masashi Kishimoto
.
.
Warning! OOC
.
.
SasuSaku
.
.
Sakura Pov
Hari ini cuaca begitu cerah tidak secerah perasaanku, kejadian kemarin terasa masih baru semalam terjadi. Aku menapakkan kakiku keluar dari kamar berharap disana Mama sedang menyiapkan makanan dan Papa yang sedang membaca Koran sambil menyeduh teh hangat.
Tak..Tak…Tak…
Aku mendengar suara bising di dapur.
"Mama." Segera aku berlari dengan senyum senang menuju dapur.
Sesampainya didapur senyumanku memudar, harapanku bahwa Mama sedang menyiapkan sarapan sudah sirna. Saat ini Pamanku yang merupkaan adik Mamaku tengah memotong bahan makanan untuk dimasak. Menyadari keberadaanku, dia menoleh kebelakang.
"Kau sudah bangun ternyata." Ujarnya sambil tersenyum.
"Umm." Aku hanya bergumam menanggapinya.
"Paman sedang menyiapkan makanan, Sakura tunggu sebentar ya." Pamanku kembali berujar sambil tersenyum.
Aku hanya berdiri diam menatap Pamanku yang kembali sibuk dengan masakannya. Sudah beberapa hari ini Paman menginap dirumahku dan mengurus semua keperluanku. Sekalipun aku sering mengabaikannya, Paman tidak pernah bosan mengurusku dan juga rumah ini. Aku jadi merasa tidak enak dengan Bibi yang saat ini ada di Konoha. Aku dengar belum lama ini Bibi mengalami keguguran dan sedang dirawat di rumah sakit. Seharusnya Paman menjaga Bibi saat ini, bukan malah mengurusiku.
"Yosh, sudah selesai." Pamanku berujar dengan semangat.
Dua piring nasi goreng telah disediakan Paman diatas meja. Paman tersenyum kearahku kemudian memegang bahuku dan mengarahkan ku kearah meja makan.
"Ayo makan, Sakura. Ini nasi goreng special buatan paman, rasanya pasti sangat enak." Paman tersenyum bangga menyodorkan piring berisi nasi goreng buatannya.
Melihat nasi goreng itu membuatku menelan ludah, perutku sangat lapar karena semalam aku tidak makan. Paman sudah memaksaku makan semalam, tapi aku sama sekali tak berselera. Aku mengambil sendok kemudian menyuapi nasi goreng buatan Paman kedalam mulutku. Paman menatapku penuh harap pada masakannya.
"Asin." Ujar ku singkat.
Pamanku menatapku dengan pandangan shock. Wajahnya yang bersemangat berubah murung dan sedih.
"Aku benar-benar tidak berbakat masak." Gumamnya dengan wajah muram dia kemudian duduk berseberangan denganku, kemudian mencicipi masakannya sendiri.
"Huweek..Puih..puih…rasanya mejijikan." Dia menatap horror masakan buatannya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku menciptakan masakan seperti ini, aku mungkin bisa menghancurkan sebuah Negara dengan masakanku." Dia kembali berujar dengan wajah melongo menatap makanannya.
"Huft…Hahahahhaaa…Paman kau berlebihan." Aku tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Paman, sampai air mataku ikut jatuh sangking tak tahan dengan lelucon tak masuk akal Pamanku atau mungkin karena hal lain. Paman hanya melongo menatapku.
Aku mengusap air mataku kemudian menyuapi masakan Paman kemulutku lagi.
"Makanan seperti ini tidak mungkin menghancurkan Negara…Hiks.." Air mataku kembali jatuh dengan derasnya
"Hiks, tapi memang benar, rasanya sangat menjijikan. Ya ampun, lihat! Saku sampai menangis… Hiks… sangking menjijikannya." Aku kembali menyuapi makanan tersebut dengan lahap.
Paman Kizashi berjalan kearahku dan menduduki kursi disampingku. Tubuhnya dia hadapkan kearahku, kemudian tangannya mengelus kepalaku lembut. Kurasa Paman memahami alasan lain dibalik tangisanku.
"Hiks..hiks…Paman, maafkan aku sudah membuatmu repot." Aku menunduk berusaha menahan isakanku.
"Untuk kali ini menangislah, Paman akan selalu ada untuk Sakura."
"Hiks..Hiks..Huweee.."
Paman Kizashi memelukku dengan hangat, membuat air mataku tumpah dengan derasnya. Semua kenanganku dengan Mama dan Papa terus mengalir dalam otakku. Sebuah melodi yang kuharap terus ada dikehidupanku, aku harap tidak pernah menghilang tapi nyatanya telah pergi. Kepergian mereka yang masih tak bisa kuterima, berlarut dalam air mata.
.
.
.
Aku memeluk Usa-chan, boneka pemberian Papaku, kemudian berjalan kearah taman kota untuk menyegarkan pikiran. Pamanku bersi keras ingin menemaniku ketaman, tapi aku terus menolaknya dengan alasan anak-anak disana akan takut melihat paman yang terlihat seram. Alasan konyol memang, tapi Paman akhirnya menyetujuinya dengan pasrah.
"Ramai seperti biasa." Ujarku sambil tersenyum.
Aku berlari kearah anak-anak seusiaku, bergabung untuk bermain bersama mereka.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya salah satu anak tersebut.
Anak-anak lain yang melihat ekspresi anak tadi kini menatapku dengan pandangan yang sama terkejut.
"Aku"
Bruuk…
"Awww.." Aku meringis menahan sakit karena terjatuh akibat dorongan kasar dari salah seorang anak laki-laki disini.
"Kau, anak perempuan pembawa petaka."
Tuk..Tuk..Tukk…
Beberapa batu kerikil dilempar kearahku, aku hanya bisa meringkuk berusaha melindungi diri dan menutup mata, takut dengan kerikil yang terus dilempari kearahku. Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan hal ini padaku.
"Berhenti!" Teriak seseorang.
Aku memberanikan membuka sedikit mataku untuk melihat siapa orang yang kini tengah memunggungiku. Anak laki-laki berambut mirip pantat ayam yang sangat aku hapal namanya.
"Sasuke?" Gumamku pelan.
Tuk..Tuk..Tuk…
"Kau membelanya?" Kembali anak-anak tersebut melempari kami dengan batu. Sasuke menghalau lemparan mereka dengan punggung tangannya.
"Gara-gara dia, kota kami jadi hancur." Kembali salah satu anak tersebut bersuara.
Hiaaat…Buk..Buk..
Sasuke kembali mengahalau batu-batu tersebut dan memukul wajah anak laki-laki tadi. Melihat hal itu, anak-anak yang berkerumunan tadi menatap ngeri pemandangan tersebut. Mereka berhenti melempar, takut dengan Sasuke yang masih beringas memukul anak tadi.
"Sasuke-kun, sudah berhenti." Aku menatap Sasuke dengan pandangan tak percaya. Anak itu terlihat begitu marah.
Buk..Buk…
"Apa yang kau lakukan pada anakku?!" Seorang wanita berusaha mendorong Sasuke yang masih beringas menghajar anaknya yang terlihat sudah tak sadarkan diri.
Plak…
Sebuah tamparan keras mendarat kepipi Sasuke. Wanita tersebut menampar Sasuke dengan keras dan penuh emosi. Kemudian beralih memeluk anaknya yang tak sadarkan diri dan penuh luka.
"Hiks..Hiks..anakku." Ujar Wanita tersebut.
Gerombolan orang dewasa mulai menghampiri kami. Menatap kasihan pada anak wanita tersebut dan Menatap penuh benci kearahku dan Sasuke.
"Kau tidak seharusnya ada didunia ini, kau hanya akan membawa keburukan bagi kami." Salah seorang pria dewasa menunjuk kearahku penuh dengan tatapan kebencian.
"Menjauh dari kota kami." Sahut warga lainnya.
Mendengar hal itu, aku berdiri kemudian menggandeng tangan Sasuke dan memungut Usa-chan yang jatuh untuk menjauh dari kerumunan. Mereka membiarkan kami pergi, walau masih dengan tatapan benci.
.
.
.
Tap..Tap..Tap..
Masih setia menggenggam tangan Sasuke, aku terus berjalan tanpa tau tujuan. Sasuke hanya diam tak bersuara. Lelah terus berjalan akhirnya aku memutuskan berhenti di tepi sungai yang terdapat pohon sakura yang telah mengering dan hampir mati.
"Kenapa mereka melakukan hal itu padamu?" Sasuke berujar, menatapku dengan pandangan sedih.
Aku hanya diam tak menjawab pertanyaan Sasuke. Aku sendiri tidak mengerti kenapa mereka terlihat begitu membenciku.
"Gara-gara dia, kota kami jadi hancur."
Aku kembali mengingat kalimat salah satu anak tadi. Setelah kupikirkan lagi, kali ini aku paham. Sepertinya Fuyuki menyerang kota setelah melakukan hal kejam pada keluargaku. Aku tidak mengetahuinya, karena terus berada dirumah, disepanjang jalan tadi memang ada beberapa tempat yang terlihat hancur. Pantas saja Paman bersi keras mau menemaniku. Mengetahui hal ini memebuat perasaanku semakin sakit.
"Hikss..hiks..Kenapa semuanya jahat padaku?" Aku balik bertanya pada diriku sendiri, memeluk Usa-chan untuk meredam tangisanku. Aku bahkan mengabaikan pertanyaan Sasuke tadi.
Sasuke menatapku dengan pandangan terkejut karena aku menangis. Dia terlihat gelagapan melihatku yang masih menangis.
"Jangan menangis! Aku tidak peduli dengan apa yang mereka semua katakan padamu. Bagiku, kau adalah peri musim semi yang sangat menawan. Mereka yang salah, kau tidak salah apapun!"
Sasuke menatapku dengan raut sedih, dia berteriak keras hanya untuk mengucapkan hal itu.
"Hiks..hiks..ka..Kau tidak takut padaku?" Aku menatap Sasuke dengan pandangan yang sedikit buram akibat air mata.
"Kenapa harus takut? kau itu temanku, kau adalah seorang peri. Bukankah Manusia sangat menyukai Peri? Jadi tidak mungkin, aku yang manusia ini takut padamu." Sasuke menatapku dengan tegas. Aku terpana dengan tatapan Sasuke yang seolah mengisi hitamnya perasaanku saat ini.
"Lalu..Hiks..hiks.. KENAPA SEMUANYA TAKUT PADAKU DAN BEGITU MEMBENCIKU?!" Aku berteriak keras. Kekesalanku membuat boneka kesayanganku terjatuh ketanah.
Sasuke memungut boneka yang kujatuhkan, sekilas aku melihat wajah Sasuke yang terlihat seperti ingin menangis. Dia kemudian mengulurkan tangannya yang sedang memegang boneka tersebut kearahku yang masih menangis.
"Mereka yang membencimu itu bukan manusia, mereka adalah iblis yang memakai wujud manusia. Mereka tidak menyukai peri. Tapi kau tidak perlu khawatir! Aku akan melindungimu, Sekalipun seluruh dunia ini dipenuhi oleh iblis seperti mereka, Jika mereka semua membenci dan berusaha melukaimu. aku akan melindungimu dan akan tetap ada dipihakmu. Karena itu, tersenyumlah periku!"
Sasuke tersenyum kearahku.
"Hiks..hiks..aku..Aku percaya padamu." sambil berlinang air mata aku membalas senyuman Sasuke dengan tidak kalah tulus. Aku tau Sauke mengatakan semua itu untuk menyemangatiku.
Karena matahari tampak sudah ingin terbenam, aku memutuskan untuk pulang kerumah ditemani Sasuke yang mengatakan ingin mengantarku.
"Paman pasti khawatir jika aku belum pulang." Pikirku dalam hati.
Kami berjalan menelusuri jalanan sepi sambil bergandengan. Tidak ada suara diantara kami, hanya diam menelusuri jalan sambil bergandengan membuat perasaanku nyaman.
.
.
.
Normal pov
"Nee, Sasuke-kun kenapa waktu itu kau tidak datang?" Sakura menanyakan ketidakhadiran Sasuke. Waktu itu Sasuke pernah berjanji akan menemuinya beberapa minggu yang lalu, tapi dia tidak juga datang.
"I..itu, aku..Maaf." Sasuke menghentikan langkahnya menunduk lesu menatap jalanan. Sakura yang merasakan gerakannya terhenti akibat Sasuke, kini menoleh kearah anak tersebut.
"A..pa aku salah bicara?" Kini giliran Sakura menjadi gelagapan melihat Sasuke yang seperti terlihat ingin menangis. Genggaman tangan mereka reflek terlepas.
"Bukan begitu, sebenarnya-" Sasuke menggantungkan kalimatnya, terlihat semburat merah disekitar pipinya.
"Sebenarnya?" Tanya Sakura polos.
"Itu..aku tidak bisa..ba..bangun Pagi." Sasuke berujar dengan pelan, kembali menunduk menatap jalanan, berusaha menyembunyikan semburat merah dipipinya.
"Huft..Hihiiihahaahaaa." Sakura memegang perutnya menahan tawa, mendengar penuturan Sasuke membuatnya geli sendiri.
"Jangan tertawa!" Sasuke menatap Sakura dengan tegas, membuat Sakura agak terperanjat. "Kau tidak tau, aku terus berusaha bangun pagi agar dapat mengikuti Itachi-Nii kesini. Arggh, tapi selalu saja kesiangan dan hari ini saat aku berhasil mengikutinya, aku malah menemukanmu dengan keadaan seperti itu." Sasuke berujar panjang lebar menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku memang payah." Lanjutnya lagi.
Cup…
Mata Sasuke membulat tak percaya, Sakura mengecup singkat bibirnya. Wajahnya kini memanas semerah tomat kesukaannya.
"A..apa..yang..kau..lakukan?" Sasuke tergagap menunjuk kearah Sakura yang wajahnnya kini sama merahnya dengan Sasuke.
Sakura tersenyum lembut menatap Sasuke. Melihat hal itu, membuat wajah Sasuke semakin merah, jantungnya bahkan berdetak sangat kencang seperti ingin keluar.
"Papa dan Mama pernah melakukan hal itu untuk menunjukan perasaan mereka satu sama lain." Sakura berujar masih sambil tersenyum.
"Kau tau, aku sangat senang bisa bertemu denganmu, jadi jangan pernah berkata kalau Sasuke-kun itu payah." Sakura menatap Sasuke dengan tegas masih dengan semburat merah dipipnya walau sekarang sudah agak tipis.
"Saat aku merasa hal ini tidak adil dan mengamuk sampai menangis, Sasuke-kun lah yang menenangkanku. Sasuke-kun selalu membuatku lupa akan rasa sakit, kau membuatku lupa bahwa kemarin aku menangis karena saudaraku yang selalu mengabaikanku. Itu sebabnya, Hari ini maupun besok aku tidak ingin melupakannya, Sasuke-kun adalah pahlawanku."
Sakura mengelus lembut bekas tamparan dipipi Sasuke. "Aku bersyukur bisa mengenal Sasuke-kun." Telapak tangannya beralih kedahi Sasuke, menatap mata onyx tersebut begitu dalam. Sampai Sasuke tak sanggup bergerak untuk mengelak akibat terhipnotis akan keindahan bola mata yang menatapnya lekat. "Karena itu, Sasuke-kun tidak perlu susah payah bangun pagi untuk menemuiku lagi." Gumam Sakura pelan.
Pendar cahaya merah terpancar di telapak tangan Sakura yang saat ini berada di dahi Sasuke.
"Maaf Sasuke-kun, Lupakan aku!" Pandangan Sasuke memburam, ucapan Sakura tidak bisa dia dengar. Bayangan gadis itu semakin menjauh dari penglihatannya.
"Sa..kura." Sasuke bergumam pelan, perlahan kesadarannya menghilang, Sakura menangkap tubuh Sasuke agar tidak terjatuh.
Dhuaar…Pyarr….
Sebuah ledakan cukup besar terdengar berjarak tidak jauh dari Sakura. Lautan api menghanguskan sebuah rumah megah tak jauh dari tempat Sakura berada. Sakura sudah menyadarinya sejak tadi, rumahnya, istana dimana kenangan Sakura berada sedang termakan api disana. Para warga terlihat mengamuk dan melempari obor api, serta menghancurkan pagar rumah tersebut. Terlihat Pamannya berusaha mengusir warga tersebut dibantu Itachi Kakak Sasuke.
.
.
.
Krek…
Terdengar suara Serpihan kayu yang telah hangus oleh api tengah terinjak.
"Maafkan Paman, Sakura." Kizashi menunduk sedih melihat kearah Sakura yang jauh lebih rendah darinya.
"Nee…Paman, bolehkah aku tinggal dirumahmu?" Sakura mendongak menatap Kizashi sambil tersenyum.
Kizashi tertegun menatap senyuman gadis kecil tersebut. Wajah Sakura menunjukan ketegaran tidak seperti seorang anak kecil lainnya.
"Tentu saja Sakura, Paman sangat senang jika Sakura mau ikut bersama Paman." Ujar Kizashi
"Terimakasih Paman. Kurasa sekarang aku tidak perlu mengingat kenangan seperti ini lagi."
Sakura menggerakkan tangan dan jarinya seperti membentuk sebuah kunci jurus. Kizashi mengetahui kunci jurus apa yang sekarang Sakura lakukan, karena jurus itu sudah turun temurun diturunkan untuk pemimpin klan Haruno.
"Sakura, kau?" Kizashi menghentikan ucapannya kemudian membiarkan Sakura melakukan jurus tersebut.
"Jurus memanipulasi ingatan ya? Jika memang ini pilihanmu, kurasa memang ini yang terbaik untukmu Sakura." Gumam Kizashi.
"Papa, Mama, terimakasih sudah menjadi orangtua yang selalu menjaga dan menyayangiku. Itachi-san, aku bahkan belum sempat berterimakasih secara langsung karena sudah menyelamatkan hidupku, tapi percayalah Itachi-san aku benar-benar berterimakasih padamu. Dan untuk Sasuke-kun, terimakasih karena kau ingin selalu melindungiku. Maaf, jika aku seenaknya mengunci ingatanmu, aku tidak ingin menjadi beban bagimu. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja, karena aku Haruno anak Papa dan Mama. Aku akan tetap hidup untuk kalian, Papa dan Mama harus melihatku dari atas sana." Perlahan kesadaran sakura menghilang bersama dengan kenangannya yang menjauh.
TSUZUKU…
Terimakasih masih setia membaca Memory TnT
Chapter ini wordnya sedikit ditambah, hanya sedikit. Anggap aja otak saya lagi gak bisa direm buat ngarang, jarang-jarang ngalir kayak air nulisnya. Tapi gak tau ya, mungkin malah jadi membosankan dichapter ini. Kalau memang iya, saya minta maaf TvT
Chapter ini barengan saya Update di website sebelah^^
