NOIR (Daejae ver.)
.
Chapter 10 END
Note : ff ini aku remake dari mv B.A.P Skydive sesuai alur yang aku buat.
1 bulan kemudian
Daun daun berguguran dari pohonnya, angin yang berhembus di siang hari membawanya terbang jauh. Membuat cuaca yang cukup hangat di siang hari musim gugur.
Youngjae berdiri di depan pintu kamarnya, memperhatikan Daehyun yang tengah bercermin sambil mengenakan jaket kulit hitamnya. Menerima perawatan intensif selama lebih dari satu bulan membuat Daehyun sudah sembuh total.
"kau benar akan pergi hari ini ?." tanya Youngjae. Dia sedikit tidak rela jika Daehyun pergi.
"kau bilang aku sudah sembuh kan ? banyak hal yang harus aku lakukan setelah aku menundanya selama lebih dari satu bulan."
"kemudian kau akan datang padaku dengan luka lagi ?."
Daehyun tersenyum, kemudian menghampiri Youngjae. Dia mengusap lembut rambut Youngjae.
"tidak akan. Aku akan sering kesini dengan keadaan baik baik saja."
Youngjae menunduk, memainkan ujung jaket Daehyun.
"tolong jangan terluka lagi. Aku mohon." Lirih Youngjae.
Daehyun mengangkat dagu Youngjae agar dia bisa menatap tepat pada manik indahnya.
"aku tidak akan terluka lagi. Terima kasih untuk semuanya." Daehyun berucap tulus.
Sekali lagi dia mengusap lembut rambut Youngjae sebelum dia pergi.
Setelah Daehyun meninggalkannya sendiri, dia masuk ke dalam kamarnya. Membuka laci meja nakasnya dan mengambil amplop putih yang sudah berisi satu lembar kertas.
Dia menatap amplop yang bertuliskan 'surat pengunduran diri' itu dengan pandangan kosong. Beberapa menit dia terdiam kemudian memasukan amplop tersebut ke dalam tas kerjanya.
Dia memakai blazernya dan bergegas keluar rumah. Dia berjalan sendirian menyusuri komplek perumahannya hingga dia sampai di jalan raya.
Dia segera menghentikan sebuah taxi yang akan mengantarnya ke rumah sakit.
Tadi pagi saat Daehyun bertanya apakah hari ini dia akan ke rumah sakit. Dia terpaksa berbohong agar Daehyun bisa memakai mobilnya.
Karena mungkin dalam waktu yang sangat lama dia tidak bisa memakai mobilnya.
Youngjae terus menatap pada jendela. Menikmati pemandangan kota sebelum dia tidak bisa melihatnya lagi dalam waktu yang lama.
Taxi yang di tumpanginya berhenti di depan rumah sakit tempat dia bertugas sebagai dokter selama beberapa tahun ini. Tapi ini adalah hari terakhirnya mengabdi di sini.
Lebih dari satu bulan dia tidak datang ke rumah sakit, tidak ada yang berubah, selalu terlihat sibuk setiap hari.
Youngjae tersenyum dan menyapa beberapa orang yang di kenalnya selama dia berjalan menuju ruangannya.
Dari depan ruangannya terdengar suara para rekan kerjanya yang berbincang kemudian tertawa.
Youngjae membuka pintu begitu saja, membuat ketiga rekan kerjanya itu otomatis berhenti.
"ya ! kemana saja kau ?." teriak Insung dari tempatnya setelah Youngjae menutup pintu.
Youngjae tak menjawab dia meletakan tasnya di atas meja kerjanya.
"Dokter Yoo kemana saja. Kenapa mengambil cuti tidak memberi tahu kami dulu. Kami sangat kesulitan disini." ujar seorang rekan perawatnya.
"maaf, ini sangat mendadak." Jawab Youngjae.
"apa ini ada hubungannya dengan kau yang berlumuran darah waktu itu ?." tanya Insung lagi.
"bisa jadi itu. Im sajangnim, apa dia sudah datang ?."
"pagi tadi Im Sajangnim melakukan operasi denganku." Jawab rekan perawatnya.
Youngjae membuka tasnya kemudian mengeluarkan amplop putihnya.
"apa itu ?." tanya Insung.
Youngjae segera menyembunyikannya di belakang punggung.
"surat cinta ?."
"hmm. Surat cinta. Aku pergi dulu."
Youngjae segera keluar dari ruangannya menuju ruangan Jaebum yang berada di lantai paling atas.
.
.
Jaebum bersandar pada kursinya, menatap Youngjae jengah.
"aku tanya sekali lagi. Kenapa kau ingin mengundurkan diri."
"itu adalah urusan pribadi." Jawab Youngjae formal.
Jaebum menghampiri Youngjae, berdiri tepat di depannya.
"sebagai sahabat. Katakan yang sebenarnya."
Youngjae yang sedari tadi menunduk memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk menatap Jaebum.
"hari ini aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku satu bulan yang lalu. Karena aku tidak ingin mencemari nama rumah sakit ini, untuk itu aku mengundurkan diri."
"apa yang sedang kau katakan sekarang. Kau tahu, aku memberimu cuti selama satu bulan kemudian di hari pertamamu bekerja kau mengundurkan diri ?."
"maaf karena ketidak sopananku. saya akan pergi." Youngjae kembali berbicara formal.
Tanpa menunggu Jaebum mengatakan hal lain lagi dia segera pergi dari sana.
Jaebum menghela nafas dan mengusap rambutnya kasar. Dia benar benar tak mengerti dengan jalan pikiran Youngjae. Bagaimana caranya menghentikan Youngjae.
Satu detik kemudian Jaebum tersadar akan sesuatu. Tanpa membuang buang waktu lagi dia segera berlari menuju ruang pengendali cctv.
Saat Jaebum masuk, tiga staff yang berada di dalam berdiri dan membungkuk hormat padanya.
"mana layar cctv yang berada di depan rumah sakit." tanya Jaebum pada salah satu staff.
Staff yang di tanya langsung menunjukan salah satu layar. Dia bisa melihat Youngjae yang sedang berdiri disana kemudian dia menghentikan sebuah taxi.
"cari berapa nomor taxi itu." Perintah Jaebum.
Dia segera mengambil ponsel yang berada di saku jasnya kemudian mecari kontak Daehyun. Beruntung, dia meminta nomor Daehyun beberapa hari lalu.
"cepat angkat brengsek." Umpat Jaebum karena Daehyun tak kunjung menjawab panggilannya.
"sajangnim, ini nomor taxi nya." Staff yang di perintah Jaebum tadi menunjukan layar yang di zoom.
"yeoboseyo ?." terdengar suara Daehyun di sebrang sana.
"Youngjae akan menyerahkan diri pada polisi. Dia baru saja naik taxi dengan nomor 7522."
"ye ? kenpa ?."
"jangan banyak bertanya, hentikan dia." Jaebum mematikan sambungan telponnya.
Dia sangat berharap Daehyun bisa menghenktikan niat sahabatnya.
.
Di seberang sana setelah Jaebum mematikan sambungan telponnya daehyun segera mengambil laptop yang dulu di gunakan salah satu rekannya. Dia sedang berada di markas sekarang.
Temannya yang satu itu adalah hacker yang sangat hebat, dia pernah diajari melacak seseorang dengan cepat.
Daehyun membuka aplikasi yang biasa di gunakannya untuk melacak seseorang. Mengetikan nomor taxi yang di katakan Jaebum tadi.
Setelahnya muncul titik merah, yang menunjukan dimana lokasi taxi tersebut. Kemudian dia mencari kantor polisi yang terdekat dari jarak taxi itu.
Setelah memastikan kemana kemungkinan tujuan taxi itu, Daehyun segera keluar dan mengendari mobil sport merahnya berlawanan arah dengan taxi itu. Jalan yang dia ambil lebih dekat dari kantor polisi yang kemungkinan akan di datangi Youngjae.
Matanya fokus ke depan sesekali melihat nomor taxi yang lewat berlawanan arah dengannya.
Dia sudah melewati kantor polisi yang kemungkinan di datangi Youngjae. Tapi dia belum menjumpai taxinya.
Setelah melaju sedikit jauh, dia melihat taxi bewarna abu abu dengan nomor sesuai yang dia cari melaju pada jalur yang berlawanan arah dengannya.
Daehyun dengan segera memutar arah mobilnya, masuk ke dalam jalur yang sama dengan taxi. Tanpa peduli jika perbuatannya itu hampir saja membuat kecelakaan.
Daehyun berusaha mensejajarkan mobilnya dengan taxi tersebut. Beberapa kali hampir menempelnya, mengisaratkan agar taxi tersebut menepi.
Tapi sepertinya taxi itu enggan untuk melakukannya. Saat berada di jalan yang cukup sepi Daehyun mempercepat laju mobilnya kemudian membanting setir ke tepian kanan dan berhenti tepat di depan taxi tersebut. dengan terpaksa taxi itu melakukan rem mendadak.
.
Kepala Youngjae hampir saja membentur jok depan saat supir taxi mengerem mobilnya mendadak.
"Ahjussi, kenapa ?." protes Youngjae.
"mobil yang sedari tadi menempel kita, tiba tiba berhenti di depan."
Youngjae mendongak untuk melihat siapa orang yang menghentikan jalannya. Dia tersentak saat Daehyun turun dari mobil dengan short gun di tangannya.
Daehyun segera menuju pintu belakang taxi, mencoba membukanya tapi tak bisa. Youngjae menguncinya dari dalam.
"turun." Daehyun mengetuk kaca mobilnya tapi seseorang yang berada di dalam sama sekali bergeming.
Daehyun tak kehabisan akal, dia berganti mengetuk kaca mobil pintu bagian depan. Menyuruh supir taxi itu untuk keluar sambil menodongkan short gunnya.
Tak lama supir taxi itu membuka pintunya. Dengan ketakutan dia turun dan mengangkat kedua tangannya karena Daehyun masih menodongkan short gunnya.
"Youngjae-ah turun. Atau aku akan membunuhnya disini. Aku hitung sampai tiga." Daehyun mengarahkan ujung short gun nya tepat pada kepala supir taxi itu.
"satu...dua..."
Pintu belakang mobil terbuka, Youngjae turun.
Daehyun menurunkan short gun nya, segera menggapai tangan Youngjae. Dan membawa laki-laki manis itu menuju mobilnya.
Karena Youngjae yang melawan, dengan terpaksa Daehyun mencengkran tangannya dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"lepaskan."
Youngjae masih memberontak, saat sudah berada di dalam mobil dia berusaha untuk keluar. Tapi karena perbedaan tenaga yang cukup besar di antara mereka berdua, tentu perlawanan Youngjae bukan apa apa untuk Daehyun.
Satu tangan Daehyun yang tak mencengkram tangan Youngjae ia gunakan untuk membuka dashboard yang ada di depannya. Mengeluarkan sebuah borgol.
Daehyun memborgol satu tangan Youngjae, dan sisi borgol yang lainnya dia kaitkan pada sela sela dashboard.
"ya ! apa apaan kau !." teriak Youngjae tak terima.
Daehyun tak mempedulikan itu, dia menutup pintu mobilnya meninggalkan Youngjae yang masih berteriak memanggilnya.
Dia mengeluarkan beberapa lembar uang won dan menghampiri supir taxi yang masih berdiri pada tempatnya dengan mengangkat tangan.
"terima kasih sudah mengantar kekasihku." Ujar Daehyun meletakan uangnya pada saku baju supir taxi itu.
.
.
.
Daehyun memarkirkan mobilnya di halaman rumah mewahnya. Selama perjalanan kemari tidak satu pun dari mereka yang membuka suara. Youngjae tidak memberontak lagi, dia tahu itu akan percuma.
Setelah Daehyun melepas sabuk pengaman yang di kenakan Youngjae, dia melepaskan borgolnya.
Youngjae keluar dari mobil begitu saja, membanting pintu mobil dan berjalan menjauhinya. Bergegas Daehyun menyusulnya dan menarik tangan Youngjae agar berhenti dan berhadapan dengannya.
"apa yang kau lakukan ! sudah ku bilang lepaskan aku !." teriak Youngjae.
"aku tidak akan melepaskanmu. Apa kau sudah gila, menyerahkan diri pada polisi ?."
"aku hanya akan melakukan apa yang harus aku lakukan."
"kau tidak harus melakukan itu."
"kenapa ? aku membunuh orang. Dan aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku."
"bagaimana denganku ? aku sudah banyak membunuh orang."
"kita berbeda. Kau tidak tahu setiap hari aku berjuang untuk menyelamatkan nyawa seseorang tapi hari itu aku harus membunuhnya."
"kau menyesal menyelamatkanku ?."
Youngjae menatap Daehyun lekat, entah kenapa dia ingin menangis saat ini. Matanya mulai berkaca kaca dan pandangannya mengabur.
"tidak. Aku tidak pernah menyesal. tapi aku menyesal kenapa aku harus membunuh orang itu. Kau tidak pernah tau setiap hari-" Youngjae menjeda kalimatnya. Tangisnya mulai pecah, satu persatu buliran bening itu berjatuhan membasahi pipinya
"setiap hari aku- selalu mimpi buruk- rasa bersalah itu terus mengejarku. Kau tidak akan pernah mengerti itu." Ucapannya semakin pelan tertutup oleh tangisannya.
Daehyun menarik Youngjae agar lebih mendekat ke arahnya dan memeluknya.
"maaf. Aku tidak bisa mengerti itu. Maaf. Di saat itu aku tidak ada untuk mu. Maafkan aku Youngjae. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku- mencintaimu."
Youngjae terdiam dalam pelukan Daehyun kemudian dengan segera memaksa melepaskan pelukan mereka. Dia menghapus air matanya kasar.
"apa kau mengatakannya karena kekasihmu sudah mati ?."
Daehyun memegang kedua pipi Youngjae, memaksanya untuk menatapnya. Daehyun menatap dalam pada manik matanya.
Sungguh dia mengatakan itu bukan karena kekasihnya, dia tulus. Bahkan sebelum kekasihnya meninggalpun dia sudah mengakui pada dirinya sendiri jika dia sudah jatuh cinta pada dokter di hadapannya ini, yang berkali kali menyelamatkannya.
"tidak. Aku mengatakan ini dari hatiku bukan karena siapa pun. Aku mencintaimu. Dan aku memohon padamu jangan tinggalkan aku."
Youngjae ikut menatap dalam pada manik kelam di hadapannya. Mencoba mencari kebohongan disana tapi dia tidak menemukannya sama sekali. Hanya ada sebuah ketulusan.
Tanpa sadar air matanya kembali turun, Daehyun mengusapnya dengan lembut dan kembali membawanya ke dalam sebuah pelukan.
.
.
.
Angin malam bertiup mengibarkan tirai putih jendela kamar Daehyun. Sang pemilik tengah terduduk di atas ranjang. Memandang sosok indah yang tengah terlelap pada tempat tidurnya. Dia mengusap pelan pipi sosok indahnya dan mengembangkan senyuman terindahnya.
Lingkaran dunia gelapnya dan Youngjae yang kini telah menjadi segala baginya. Dia tidak bisa memiliki keduanya. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan membuat Youngjae berada dalam bahaya lagi. Cukup pada saat itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya.
Meninggalkan sebuah kehidupan yang selama ini dia jalani. pasti akan sangat sulit. Tapi, Daehyun akan melakukan itu. Untuk Youngjae.
Getaran ponsel pada meja nakasnya, mengintrupsi segala pemikirannya. Daehyun meraih ponselnya dan segera menggeser tombol virtual hijau.
"bagaimana ?." suara seorang laki laki di seberang sana.
"apanya ?."
"Youngjae."
Daehyun lagi lagi tersenyum memandang Youngjae yang tengah tertidur.
"dia baik baik saja Jaebum-ssi. Jangan khawatir."
"kalau begitu aku ingin bicara dengannya."
"dia sedang tidur, kau bisa bertemu besok saja. Ah tidak. Lusa saja."
"apa ? memangnya kau siapa berani mengatur kapan aku harus bertemu dengannya." Nada bicara Jaebum di seberang sana naik setengah oktaf.
"aku kekasihnya." Jawab Daehyun enteng.
Terdengar Jaebum berdecih meremehkan.
"jangan bercanda. Awas saja kau jika berani menyakitinya aku akan membawamu ke tiang gantung."
"kau berani mengancam Jung Daehyun ?."
"tidak peduli kau Jung siapa. Im Jaebum tidak takut padamu. Dan terima kasih" Jaebum menekankan namanya. Dengan kalimat terakhir yang terdengar tulus dia memutuskan sambungan telponnya.
Daehyun menaikan alisnya, menatap pada ponselnya. Dia kembali meletakan ponselnya pada nakas.
Sekali lagi dia menatap Youngjae. Mencium keningnya lembut.
"jalja." Ujar Daehyun pelan.
Dia beranjak dari sana menutup jendela kamarnya sebelum meninggalkan Youngjae yang semakin tenggelam dalam mimpinya.
.
.
Kicauan burung burung kecil di pagi hari membuat Youngjae terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia mengerjapkan matanya pelan. Baru saja dia bangun untuk meregangkan tubuhnya, Daehyun masuk ke dalam kamar.
"selamat pagi." Ucap Daehyun.
Youngjae tersenyum dengan mata sayu khas orang bangun tidur.
"selamat pagi."
Daehyun duduk di tepian tempat tidur menghadap Youngjae.
"apa hari ini kau ke rumah sakit ?."
Youngjae berjinggat lalu menepuk dahinya pelan.
"ah. bodoh. Aku sekarang pengangguran." Gumamnya yang masih bisa di dengar Daehyun.
"ne ?."
"kemarin aku mengajukan surat pengunduran diri."
Youngjae menjatuhkan kepalanya ke bantal dengan sedikit merengut.
"sekarang aku harus bagaimana."
Daehyun terkekeh, dia ikut menjatuhkan kepalanya ke tempat tidur. Membuatnya bisa menatap Youngjae lebih dekat. Mereka terdiam sejenak saling pandang.
"kita bicarakan masalahmu setelah ini. Mandilah dulu. Kita makan sebelum aku pergi. Hmm.. juga, nanti sore aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Daehyun membelai lembut pipi Youngjae.
"kemana ?."
"nanti kau akan tau."
Daehyun bangun kemudian menarik pelan kedua tangan Youngjae membuatnya ikut bangun.
"mandilah, aku akan menunggu di bawah."
.
.
.
Youngjae berguling-guling di atas kasur Daehyun. Dia merasa bosan. Di rumah sebesar ini sendirian, membuatnya sangat bosan. Tidak sendirian sebenarnya, ada beberapa orang juga di rumah ini. Tapi, dia tak mengenal mereka.
Youngjae menatap langit-langit kamar. Entah, kemarin malam dia bisa tidur nyenyak, mimpi itu tak datang lagi.
Dia kemudian merutuki kebodohannya kemarin, kenapa dia mengundurkan diri. Sekarang dia pengangguran. Harusnya saat itu dia tidak menyimpan masalahnya sendiri. Harusnya waktu itu dia menceritakannya pada Daehyun atau Jaebum pasti ini tidak akan terjadi.
Youngjae tiba-tiba bangun. Haruskah dia menarik surat pengunduran dirinya ? bolehkah ?.
Youngjae melihat jam dinding, Daehyun juga belum kembali. Tidak masalahkan jika dia mencobanya.
.
.
Di dalam sebuah ruangan yang begitu familiar baginya, Youngjae berdiri di depan sebuah meja. Dia menunduk, menggigit bibirnya dan memainkan jemarinya.
"jadi kau ingin menarik surat pengunduran dirimu ?." angkuh Jaebum.
"ne. Sajangnim." Youngjae berkata dengan pelan.
"wah, menarik sekali. Setelah kau mengundurkan diri kemudian kau menariknya kembali. Apa kau kira ini rumah sakit milik keluargamu."
"ma-maafkan aku sajangnim. Saat itu saya berpikir terburu buru. Setelah di pikir kembali sepertinya rumah sakit ini sudah seperti rumahku sendiri."
"bisa saja sih kau masuk kembali. Tapi mungkin dengan sift di UGD selama beberapa minggu."
"itu tidak menjadi masalah sajangnim. UGD adalah tempat favorite ku."
Jaebum terkekeh pelan. Mengambil amplop putih dari laci meja kerjanya. Dia beranjak dari duduknya dan berdiri di depan Youngjae.
Jaebum menyerahkan amplop bertulisakan 'Surat Pengunduran Diri' itu pada Youngjae.
Dengan cepat Youngjae mengambilnya.
"hish. Kenapa tidak langsung saja." Gumam Youngjae
Jaebum kembali terkekeh.
"secara teknis aku ini atasanmu kan ?."
"iya iya aku tahu. Im- Sajangnim."
Dan mereka sama sama tertawa.
CKLEK.
Suara pintu ruangan Jaebum di buka, Daehyun dengan setelan jas abu abu gelap masuk begitu saja. Kedua orang itu pun otomatis mengalihkan pandangan mereka.
"bukankah aku menyuruhmu menungguku di rumah. Kenapa kau malah berada disini ?." ujar Daehyun.
"apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu, kau kira ini rumahmu." Sahut Jaebum.
"Ayo." Daehyun tak mengindahkan kalimat Jaebum dan menarik tangan Youngjae.
"hari ini Youngjae harus bekerja tuan Jung." Jaebum kembali mengintrupsi.
Daehyun yang hampir membuka pintu berhenti dan Youngjae juga ikut berhenti.
"bukankah kau mengundurkan diri ?." Daehyun bertanya pada Youngjae.
"hmm, tidak jadi. Aku menarik kembali surat pengunduran diriku."
Daehyun beralih melihat Jaebum.
"kalau begitu biarkan dia bekerja besok saja."
"aku tidak mengijinkan."
"Tidak masalah. Jika kau ingin aku meratakan rumah sakitmu dengan tanah." Daehyun berucap enteng sebelum dia keluar membawa Youngjae.
Jaebum hanya bisa menganga.
"wah, seharusnya waktu itu aku membiarkanmu mati." Gumamnya.
.
.
.
Suara deburan ombak yang menyapu batu karang terdengar dominan. Laut biru tak berujung di depannya terlihat memantulkan cahaya matahari yang akan tenggelam.
Youngjae merapatkan jaketnya, angin laut yang berhembus membuatnya dingin.
Daehyun membawanya ke tepian tebing. Tempat yang mereka datangi beberapa waktu lalu.
"ini tempat yang waktu itu kan ?." tanya Youngjae. Matanya berbinar melihat keindahan di depannya.
"hmm." Daehyun mengangguk.
"saat itu malam. Jadi tak begitu jelas."
Hening.
Daehyun ikut menatap ke depan. Melihat matahari yang beberapa detik lagi akan menghilang.
Hingga kini, langit sudah benar-benar gelap.
"Youngjae. Aku ingin keluar dari dunia gelap ini. Untukmu. jadi tolong bantu aku." kata Daehyun tiba-tiba. Matanya masih memandang laut gelap di depannya.
Youngjae menatap Daehyun dengan senyuman lalu mengangguk.
"aku selalu ke tempat ini sendirian. Terasa begitu nyaman." Ujar Daehyun kemudian.
"selalu sendiri ?."
"kau adalah orang pertama yang aku ajak kemari. Dan sepertinya akan menjadi satu satunya."
"kenapa ?."
Daehyun menatap Youngjae lekat.
"Dengarkan. Aku akan mengatakan ini hanya sekali. Jadilah bagian dari hidupku dan habiskan sisa hidupmu denganku."
Youngjae tertegun dengan pernyataan Daehyun yang tiba tiba.
"A-apa ?."
"kubilang aku hanya mengatakannya sekali."
Youngjae terdiam sejenak menatap lautan luas di hadapannya.
"jika aku tidak mau ?."
"aku pikir, aku tidak memberimu pilihan."
Youngjae berdecih sebal. "itu namanya pemaksaan."
"ok. mulai hari ini kita akan tinggal bersama."
"apa ? aku-."
CUP.
Daehyun mengecup kilat bibir Youngjae. Membuat lelaki manis itu terdiam.
"mencintaimu." Ucap Daehyun. Seakan melanjutkan kata-kata Youngjae.
Dengan cepat Youngjae menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Dan memukul pelan lengan Daehyun.
"dasar brengsek. Berani beraninya kau menciumku. kenapa hanya sebentar."
Daehyun tertawa sebentar kemudian kembali menatap Youngjae lekat.
Laki laki itu merengkuh pinggang Youngjae agar lebih dekat dengannya. Perlahan memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Youngjae.
Kedua mata mereka tertutup begitu saja saat bibir mereka saling melumat. Tangan Daehyun perlahan naik ke tengkuk Youngjae untuk memperdalam ciuman mereka.
Dengan sang bulan yang di temani ribuan bintang. menjadi saksi akan cinta mereka berdua.
Daehyun tak akan meminta Youngjae sebagai kekasihnya. Karena baginya, Youngjae lebih dari itu. Dia segalanya.
menikahi Youngjae ? tentu saja. Setelah dia benar benar keluar dari lingkaran dunia gelapnya, dia akan menikahi laki-laki manis itu.
.
.
NOIR (Daejae ver)
.
.
END
Terima kasih banyak untuk yang sudah favorite & follow, juga semua yang sudah baca story ini :)
Dan terima kasih lagi untuk yang sudah review. Maaf gak bisa balas T.T tapi aku baca semuanya. Review dari Readersnim itu jadi semangat buat aku ngetik story ini :) :)
Thanks to Sooya, Jung rae gun, wil dj, babydaejae, Just DaeJae, JokeMato Daejae, Dhyun628.
