Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai: Story of The Darkness"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: Nippon Ichi Software (Pelisensi anime)
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
Chapter 10: Galileo's Treasure
Opening Song: Back On - Cerulean
Hari ini adalah kali pertamanya Izuna merasa ketakutan seperti ini, bukan padahal sejak keluar dari rumah besar keluarga Uchiha dia pernah merasakan sesuatu yang lebih buruk daripada berbicara langsung kepada CEO, contohnya adalah dicegat oleh sekelompok preman tetapi sensasi yamg ia rasakan kali ini benar-benar berbeda dengan dulu saat dia berhadapan dengan beberapa preman.
Suasana yang sunyi padahal mereka berada di sebuah gedung pencakar langit di tengah kota Kuoh dan suhu dingin yang merambah kulitnya hanyalah sebagian kecil dari banyak faktor yang membuat Izuna seperti ini. Tapi satu faktor yang pasti dan bertanggung jawab atas keadaannua saat ini adalah Minato yang senantiasa memberikan death glare kepadanya. Tatapan matanya terasa sangat mengintimidasi ditambah lagi posturnya yang condong ke depan membuat Izuna mundur beberapa langkah ke belakang untuk menjauh dari Minato yang seperti hendak mengejarnya lalu membunuhnya.
'Di-dia monster!' Tak pelak dengan serangkaian hal-hal yang dirasakan Izuna tadi, ia hanya bisa membuat sebuah kesimpulan yang ia utarakan di hatinya. Peluh tak pernah berhenti keluar dari pori-pori wajahnya dimulai saat Minato melemparkan sebuah bolpoin yang tepat masuk ke senjata apinya hingga membuat pistol yang ia dapat dari almarhum ayahnya kini tergeletak mengenaskan di lantai ruangan CEO yang dingin.
"Pergilah dan jangan kembali lagi di hadapanku." Akhirnya setelah sekian lama (bagi Izuna) mengintimidasi Izuna dengan glare mengerikan miliknya, Minato menyuruh pemegang gelar muda Arostoteles itu pergi dari hadapannya. Meski tahu jika akhirnya Izuna akan tetap menjalankan sebuah rencana dengan dasar obsesi aneh seperti Madara tapi dengan gertakan tadi paling tidak Izuna akan lebih menyembunyikan dirinya sehingga kontak antara Izuna dan Naruto yang seharusnya belum terjadi bisa diminimalisir.
Tanpa bertanya ataupun menjawab apa-apa lagi kepada Minato, Izuna langsung keluar dari ruangan Minato dengam tergesa-gesa dan jangan lupakan keringat yang membasahi wajah, leher dan telapak tangannya. Dengan keadaan seperti itu maka setiap orang yang melihatnya akan menganggap jika dirinya baru saja dikejar oleh SCP, Slenderman, Jeff and Jane The Killer maupun banci taman lawang. Setelah keluar dari ruangan Minato, Izuna langsung berlari kocar kacir menuju lift untuk turun dan segera pergi meninggalkan gedung ini.
Setelah kepergian Izuna, Minato lalu berjalan ke bekas tempat berdirinya anak sulung dari Obito itu untuk kemudian mengambil sebuah senjata yang tergeletak di lantai ruangannya. Membuka tempat peluru senjata itu, Minato melihat sesuatu yang menarik dari peluru yang ada di dalam Desert Eagle itu. Peluru yang ada di dalamnya bukanlah peluru normal melainkan peluru yang telah 'diisi' oleh sebuah cairan berwarna hijau cerah, bagian tengah pelurunya juga telah diganti dengan sesuatu sejenis kaca yang tembus pandang sehingga menampilkan cairan hijau mencurigakan itu.
"Cairan hijau? Sejenis obat atau racun? Mengingat hijau adalah warna yang identik dengan toxin (racun) maka bisa jadi iya tapi... membunuhku dengan racun? Jika dia (Anak dari Obito) mendengarku yang penah mengeluarkan puluhan mili racun dari pembuluh darah hanya dengan air mineral dan sebuah suntikan maka mustahil jika ini racun." Guman Minato sembari menerawang sebuah peluru yang baru saja dia keluarkan.
"Untuk berjaga-jaga, aku bawa pulang saja untuk diteliti." Lanjutnya sembari menutup lembali bagian Desert Eagle yang sempat terbuka karena ulahnya. Tentunya dia juga membawa seluruh peluru yang berisikan cairan hijau tadi untuk diteliti efeknya pada tubuh manusia.
Tapi kemudian laju jalan Minato terhenti saat sadar tanggal berapa dan bulan apa ini. Jika saja dia tidak mengingatnya maka sudah pasti ia akan mengingkari janjinya kepada "orang itu". Lalu tanpa diduga-duga Minato kemudian melepaskan sebuah lensa kontak berwarna saphire yang melekat di matanya membuat bola mata itu menampilkan warnanya yang sesungguhnya yaitu merah yang mirip dengan warna mata keluarga Uzumaki tetapi sebenarnya tidak.
Mata itu didapat Minato dari seorang temannya yang saat ini telah mati sedangkan mata asli milik Minato yang berwarna saphire telah buta total karena semua jaringan syaraf di mata itu mati.
"Tidak kusangka jika sekarang adalah waktunya, Alice. Aku akan kesana bersama Kushina nanti malam jadi tunggu saja." Guman Minato dengan volume kecil disertai dengan kedua rahangnya yang saling beradu satu sama lain dengan keras sampai-sampai menimbulkan suara yang cukup keras.
Perlahan tapi pasti Minato mulai teringat dengan tawa, tingkah konyol, senyuman dan wajah dari seseorang yang telah menyelamatkan dari kebutaan total dengan mendonorkan mata kepadanya sebelum akhirnya orang itu mati. Air mata pun mulai mengalir dari kedua mata Minato tapi tak lama kemudian ia menghapusnya dengan kasar dan kembali melanjutkan perjalanan ke meja kerjanya.
Disisi lain... (Naruto)
Saat ini Naruto, Kurama, Ophis, Naruko, Xenovia (ditambah Sekai), Rias, Akeno, Maki dan Sona sudah berada di rumah keluarga Uzumaki, lebih tepatnya di ruang keluarga yang sempat dibobol tempo hari. Di meja yang ada di tengah-tengah mereka terdapat sebuah kotak yang sisi kanan, kiri dan belakangnya telah terbuka meninggalkan sebuah sisi depan yang masih menutup rapat. Meski tertutup rapat tapi sisi depan secara asali sama seperti sisi-sisi lain yaitu memiliki 9 gundukan (mirip tombol) yang tersusun 3x3 secara rapi dan juga di masing-masig tengahnya terdapat sebuah simbol yang menunjukkan jika gundukan (tombol) itu merujuk pada angka 'before it was cool' alias sebelum keren dan mudah seperti jaman sekarang.
"Jadi... itu kotak pandora? Kukira kotak itu lebih besar lalu saat semuanya terbuka maka akan dunia akan dalam kekacauan besar." Komentar Akeno setelah melihat apa yang Naruto dan Kurama sebut sebagai kotak pandora. Jujur, dia merasa sedikit takut jika apa yang dibacanya dalam dongeng mengenai kotak itu akan menjadi kenyataan.
Dongeng? Ada sebuah cerita turun-menurun dari masyarakat Yunani Kuno (sampai sekarang) jika kotak pandora terbuka maka umat manusia akan dilanda oleh bencana secara besar-besaran dan memakan korban yang sangat banyak baik itu harta maupun nyawa. Kejahatan akan merajalela di seluruh belahan dunia belum lagi beberapa bencana alam yang terjadi secara bersamaan seperti angin tornado dengan letusan gunung berapi dan gempa bumi. Membayangkan jika Apocalypse akan terjadi dengan cara seperti itu membuat Akeno begidik ngeri dan sepertinya akan kesulitan tidur malam ini.
"Baka-Akeno, dongeng seperti itu tidak mungkin terjadi, yang sebenarnya terjadi adalah dari kotak itu akan muncul wabah penyakit yang mematikan bagi manusia dan tidak bisa disembuhkan, dengan begitu jumlah manusia akan terus berkurang hingga seorang pahlawan menutup kembali kotak itu." Kata Rias mengejek Akeno. Meski dia bilang jika dongeng yang diutarakan Akeno tidak akan menjadi nyata tetapi dia malah mengatakan sesuatu yang berasal dari sebuah dongeng juga.
Dongeng lagi? Sebenarnya ada banyak versi dongeng (bahkan doujin dan anime biasa sampai hentai) mengenai kotak pandora. Menurut versi yang diutarakan oleh Rias, jikankotak pandora terbuka maka akan mengeluarkan sebuah wabah penyakit mematikan kepada umat manusia. Meski berbeda versi tetapi versi Rias dan Akeno memiliki persamaan yaitu sama-sama berujung pada Apocalypse.
"Rias-nee dan Akeno-nee salah! Kotak pandora sebenarnya berisi oleh sebuah kekuatan luar biasa yang bahkan mampu membunuh pemimpin para dewa (Zeus). Sehingga siapapun yang membukanya dan mampu menggunakannya akan menjadi pemimpin dari dunia ini dengan kekuatan yang ada di dalamnya." Setelah perkataan Rias yang mengejek Akeno, kini giliran Naruko yang menyalahlan pemikiran mereka.
Kekuatan luar biasa di dalam kotak pandora? Masih di dalam versi dongeng, dahulu kala atas saran dari dewi Athena, Kratos membutuhkan kotak pandora untuk membunuh Zeus alias raja dari para dewa. Meski apa yang dikatakan Naruko tadi berdasar dari game dan gamenya sendiri berdasar pada cerita dongeng tapi sebenarnya isi kotak pandora menurut versi Naruko secara akal bisa diterima oleh Naruto dan Kurama yang tahu tentang isi sebenarnya dari kotak tersebut.
Sebuah dokumentasi wahyu agung yang berisi tentang ilmu pengetahuan yabg bahkan tidak terpikirkan oleh umat manusia jaman modern sampai postmodern saat ini lalu dikatakan juga jika di dalam wahyu itu semua pernyataan dari Einstein akan terbantahkan. Contoh: Einstein bilang jika cahaya adalah kecepatan akhir tapi di dalam dokumentasi wahyu agung tadi bisa saja ada sebuah rumus dan formula untuk membuat sebuah benda bergerak melebihi kecepatan cahaya maupun partikel hasil gaya Superluminal di pusat galaksi.
"Jadi... bagaimana cara membuka sisi depan kotak ini Naruto-kun, Sona?" Tak mau terlibat di dalam unjuk versi cerita dongeng mengenai kotak pandora, Maki langsung bertanya kepada Naruto yang saat ini tengah memeriksa bagian-bagian yang telah terbuka menggunakan semacam kaca pembesar bersama dengan Sona, sementara itu di lain sisi Kurama sedang menakut-nakuti Ophis dengan cerita Apocalypse yang dilebih-lebihkan yang berhasil membuat Ophis meringkuk ketakutan dan Xenovia sedang menyuapi Sekai.
Sona yang kala itu sedang memeriksa bagian gundukan mirip tombol menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik yaitu sebuah pebedaan warna yang kontras menunjukkan jika dari ke 9 tombol itu tidak semuanya digunakan untuk membuka bagian sisi kotak. Meski kotak itu terbuat dari semacam campuran dari beberapa logam yang sangat keras namun ke 9 gundukan itu sendiri terbuat dari kayu sehingga jika sering ditekan maka akan membuat warnanya menjadi kontras.
"Rubah kampung! Kau pernah membuka kotak ini bukan? Saat itu jawaban apa yang kau masukkan?" Tanya Sona kepada Kurama dengan sedikit ketus. Sejak pertama kali bertemu dengan pemegang gelar Enigma itu dia sudah merasakan perasaan kurang mengenakkan. Perasaan itu berbeda saat dia bertemu dengan Pythagoras Madara tetapi juga tidak terlalu sama. Mungkin di generasi sebelum dirinya, pemegang gelar Galileo dan Enigma bermusuhan.
"Hm... kalau tidak salah saat itu yang aku masukkan adalah koordinat negara Yunani. Memangnya ada apa papan berkacamata?" Jawab Kurama membalas perkataan Sona sekaligus membalas ejekan Sona dengan tepat sasaran.
"Lalu bagian mana yang kau buka dengan jawaban itu?" Meski mendapat ejekan yang 'jleb!' dari Kurama namun Sona tetap melanjutkan investigasinya sekaligus menunjukkan totalitas dan profesionalitasnya.
"Bagian kanan." Jawab Kurama singkat.
"Naruto-kun! Di bagian belakang dan kiri kira-kira jawaban apa yang dimasukkan oleh Pythagoras?" Setelah puas dengan informasi dari Kurama, Sona melanjutkan bertanya kepada Naruto yang saat itu juga memeriksa kotak pandora bersamanya.
"Hm... di bagian kanan, angka 1 ditekan du.. tidak! Maksudku ditekan empat kali lalu angka 2, 4, 8, 9 ditekan 1 kali dan angka 5 ditekan 3 kali. Alfabet ada 26 jadi tidak menutup kemungkinan jika ada penggabungan 2 angka tapi menurutku jawabannya adalah 25, 15, 8, 1, 14, 5, 19 sehingga akan membentuk nama Yohanes." Balas Naruto menjawab pertanyaaan Sona, meski ada kemungkinan tak terhingga dari kumpulan angka tadi tetapi entah kenapa dia menyusunnya untuk membentuk nama orang.
"Di bagian Kiri, angka 1 ditekan 6 kali, angka 2 ditekan sekitar 4 kali, angka 5 ditekan 2 kali dan angka 9 ditekan satu kali. Untuk melengkapi bagian kanan maka susunannya adalah 25, 1, 11, 15, 2, 2, 21, 19 sehingga akan menjadi kata Yakobus, entah apa hubungan kedua nama itu tetapi aku merasa keduanya saling berhubungan satu sama lain entah bagaimana caranya." Lanjutnya dengan masih memeriksa kotak pandora untuk setidaknya berharap menemukan sesuatu yang akan menuntunnya kepada kunci pembuka kotak pandora.
"Yohanes? Yakobus? Sona! Mungkinkah jika ketiga jawaban itu bersumber pada sebuah lukisan? Kau masih ingat dengan nama yang aku ucapkan saat di gedung seni Kuoh kan?" Kata Maki yang tersadar akan suatu hal tak asing dari jawaban ini. Jika benar dugaannya maka kunci untuk membuka kotak pandora sampai tahap ke 3 merupakan sebuah lokasi. Jawaban pertama adalah lokasi kotak itu ditemukan yaitu Yunani dan jawaban ke 2 dan 3 merupakan lokasi tempat duduk kedua murid Yesus di lukisan The Last Supper karya Leonardo Da Vinci. Jika hal itu benar maka sudah pasti jawaban untuk membuka sepenuhnya kotak pandora adalah nama Yesus (alias angka 25, 5, 19, 21, 19).
"Benar juga Maki! Menurut formasi duduk di lukisan The Last Supper, jika Yohanes di sebelah kanan dan Yakubos di sebelah kiri itu artinya yang berada di tengah adalah Yesus." Ucap Sona kegirangan karena merasa jika mereka sudah mendapatkan jawaban untuk membuka kotak pandora sepenuhnya.
"Kau salah Galileo, Da Vinci." Potong Kurama dengan ekspresi serius. Kini dia telah meninggalkan kegiatannya menakut-nakuti Ophis dengan ceritanya dan masuk ke dalam diskusi antara Maki dan Sona.
"Apa maksudmu Enigma? Bukankah sudah jelas jika jawabannya adalah..." Belum sempat Sona a.k.a Galileo menyelesaikan ucapannya, Maki a.k.a Da Vinci telah memotong perkataannya dan menyetujui perkataan Enigma.
"Sepertinya Enigma benar, kita telah salah Galileo." Ucap Maki memotong perkataan Sona sebelum Sona menyebutkan jawabannya. Tentu saja tindakan itu membuat Sona marah sekaligus tersinggung karena jawabannya sebagai pemegang gelar Galileo disalahkan bahkan sebelum dia mengucapkannya oleh temannya sendiri.
"Apa maksudmu salah? Bukankah sudah jelas jika jawabanku dan Maki mempunyai kemungkinan tertinggi?" Ucap Sona tak terima jawabannya disalahkan oleh Enigma, seseorang yang entah kenapa ia benci di hatinya.
"Kunci untuk membuka bagian terakhir dari kotak pandora tidak mungkin hanya sebuah lukisan, meski itu adalah lukisan masterpiece dari Leonardo Da Vinci. Kuncinya adalah harta karun yang terletak di sebuah tempat di bumi, aku punya petanya dan harusnya saat ini petanya berada sepaket dengan kotak ini jadi mungkin saja sudah hilang." Kata Kurama dengan tampang watados meski kenyataannya dia telah menyembunyikan fakta tentang cara membuka bagian terakhir kotak pandora dari Naruto, Sona dan Maki sekaligus membuat mereka sweatdrop.
"Kalau kau tahu kenapa kau tidak bilang dari tadi, rubah kampung!" Teriak Sona di depan wajah Kurama sembati tangannya mengguncang-guncang pundak Kurama, hal itu membuat tubuh bagian depan Kurama yang kelebihan aset memantul karena ulah Sona dan karena hal itu pula Sona semakin kesal karena seolah-olah payudara Kurama mengejeknya.
"Jangan menyentuhku, dasat papan berkacamata!" Kini giliran Kurama yang berteriak di depan wajah Sona setelah Sona berhenti berteriak kepadanya. Tapi kedua pemegang gelar itu tidak tahu bahaya apa yang mengintai mereka dan dalam hitungan detik kaki keduanya merasakan sakit yang luar biasa meski mereka telah memakai sepatu.
Di samping mereka berdua terlihatlah Xenovia yang masih setia menggendong Sekai menatap kedua perempuan yang sedang berseteru itu dengan tajam, bahkan Sekai yang berada di gendongan Xenovia juga merasa ketakutan. Tapi apa yang membuat Kurama dan Sona kesakitan? Setelah mereka melihat ke arah kaki mereka, yang dilihat bukan hanya 2 buah sepatu standart anak sekolahan tetapi juga sebuah sepatu lagi yang dengan kerasnya menginjak kedua sepatu yang merupakan milik Sona dan Kurama.
"Xenovia! Kau akan menghancurkan kedua kaki mereka." Peringat Naruto kepada Xenovia yang telah berada dalam level kemarahan yang berbeda dengan Kurama maupun Sona.
"Posisi seperti itu akhirnya berakhir setelah 1 menit, Xenovia akhirnya menarik kembali kakinya yang ia gunakan untuk menginjak kaki Kurama dan Sona membuat kedua pemegang gelar itu bisa bernafas lega setelah satu menit berada dalam sasaran kemarahan dari perempuan bekas prajurit angkatan laut yang pernah mencicipi berbagai pertempuran di timur tengah.
"Anak kecil memiliki kebiasaan meniru apa yang orang di dekatnya lakukan jadi jika kalian marah-marah atau saling berteriak saat berada di depan Sekai maka tidak akan kuampuni." Akhirnya Kurama, Sona, Maki dan Naruto mengetahui awal mula penyebab kemarahan Xenovia dan itu tidak jauh-jauh dari seseorang yang dianggapnya sebagai anak yaitu Sekai.
"Ah! Ngomong-ngomong Kurama-san! Apankau tahu dimana peta itu?" Kata Maki mencoba menurunkan tensi di ruangan ini dengan cara mengalihkan pembicaraan dan benar saja kini Xenovia pergi meninggalkan mereka setelah berkata "Aku akan pergi ke kamarku." Sekaligus membuat Kurama dan Sona bernafas lega.
"Hoaam! Apa yang kalian lakukan disini? Naruto! Jika melakukannya pertama kali dengan para pacarmu jangan kasar-kasar!" Setelah kepergian Xenovia dan Sekai dari ruang keluarga Uzumaki, kini masuklah Kushina yang sepertinya terbangun dari tidurnya akibat teriakan dari Sona dan Kurama. Mata merah cek! Rambut berantakan cek! Baju sedikit terlipat di beberapa bagian cek! Dengan beberapa bukti itu ditambah omongan ngelanturnya saat baru masuk ke dalam yang menyebabkan semua perempuan disana blushing bisa disimpulkan jika Kushina baru saja bangun tidur.
Mata kucing berwarna merah Kurama kemudian menangkap sebuah kertas yang tidak asing baginya di cengkraman tangan Kushina. Kertas itu merupakan kertas kuno namun modern *?* yang terbuat dari campuran selulosa murni dan beberapa zat tak dikenali lainnya sehingga mirip dengan kertas biasa abad 21 namun akibat dari selulosa murni tadi dan cara menyimpannya yang sempurna, kertas itu menjadi sangat awet dan gambar di atasnya yang terbuat dari tinta cumi-cumi juga masih bisa dilihat meski harus disoroti oleh lampu terang dibagian bawah akibat warna kertasnya yang kusam hampir menyatu dengan tinta hitam.
Tanpa banyak bicara lagi Kurama kemudian merebut kertas itu dari tangan Kushina lalu dibukanya kertas yang merupakan peta itu kemudian dibentangkan dihadapan Naruto, Sona, Maki, Naruko, Rias dan Akeno. Sementara itu Kushina yang merasakan jika apa yang dipegang tangannya direbut oleh tangan orang lain tidak begitu ambil pusing dengan hal tadi karena kertas yang selama ini ia lihat sambil tiduran sehabis melakukan pekerjaan rumah tangga tidak ia mengeri sama sekali.
"Inilah tempatnya!" Kata Kurama membuka dan merentangkan peta itu di depan dadanya.
Cukup lama sampai datangnya reaksi pertama yang menanggapi aksi Kurama dan reaksi itu berasal dari Sona yang terkejut setelah membaca huruf alfabet namun dalam versi yang sangat kuno bahkan rupanya hampir 100% berbeda dengan apa yang dipelajari oleh manusia dari jaman ke jaman.
"Galileo's Treasure (Harta Karun Galileo)? Apa maksudmu Enigma?" Kata Sona kebingungan saat membaca judul dari peta yang direntangkan oleh Kurama. Peta itu digambar dengan sangat rinci dan lengkap dengan legendanya namun yang membuat mereka semua yang melihat peta itu merinding adalah jika di jaman sebelum masehi, ada manusia yang sudah bisa membuat peta serinci dan selengkap ini bahkan juga membuat kertasnya maka kira-kira berapa volume otak manusia itu?
Namun Naruto tidak ingin percaya dengan hal seperti itu, jaman sebelum Masehi bukanlah jaman dimana manusia berjaya dengan ilmu pengetahuan kecuali di beberapa tempat saja. Jika saat ini Naruto menggunakan imajinasi super liarnya maka sudah pasti dia akan menjawab jika orang yang membuat kotak pandora adalah orang dari jaman ini tetapi melakukan perjalanan waktu ke masa lalu yang bersambung dengan masa ini. Jika itu benar maka hal itu menjelaskan kenapa tulisan judul di peta itu menggunakan bahasa inggris padahal bahasa tertua saja yang pernah ditemukan para peneliti adalah bahasa ibrani dan kenapa cara pembuatan wadah dari dokumentasi wahyu agung merupakan sebuah karya yang hanya bisa dibuat berdasarkan model modern.
"Kurama-san, bukankah itu peta negara Yunani?" Tanya Maki memastikan jika pikiran pertamanya saat melihat peta itu benar.
"Benar. Aku tidak tahu apa maksudnya tetapi Madara bilang jika saat aku mengambil gelang Prometheus aku melewatkan sebuah harta dan harta itu adalah harta karun Galielo yang diperlukan untuk membuka kotak pandora. Aku mengambil gelang Prometheus di ruang bawah tanah yang ada di kota Athena bersama dengan kotak pandora, memang benar saat itu ada 2 jalan yang harus kupilih sesaat setelah masuk tetapi aku tidak menyangka jika kedua jalan itu harus dilalui." Jelas Kurama panjang lebar mengenai dimana dan bagaimana caranya menemukan gelang Prometheus.
"Ngomong-ngomong soal gelang Prometheus, kelihatannya kau tidak memakainya kali ini Kurama-san." Tanpa disangka-sangka oleh Kurama sebelumnya, perkataan yang berasal dari Rias tadi sudah membuat Sona, Maki dan Akeno sadar akan hilangnya sebuah aksesoris kecil yang seharusnya senantiasa berada di lengan Kurama.
"Apa artinya ini Enigma? Kemana gelang sialan itu?" Kata Akeno dengan mata penuh selidik pada Kurama. Sementara itu yang ditatap hanya bisa mengeluarkan keringat dingin sebab dia tidak ingin jika keterpurukannya kemarin diketahui oleh mereka. Dia adalah pemegang gelar Enigma yang sejak dulu terkenal tidak pernah setengah-setengah dan jika mereka tahu dia menangis maka hancur sudah image pemegang gelar Enigma yang sudah dipercayakan Hagoromo kepadanya.
"Aku menghancurkannya kemarin. Kita semua tidak butuh benda semacam itu untuk menghentikan Pythagoras dan Aristoteles." Kata Naruto membuat tatapan penuh selidik Maki, Akeno, Rias dan Sona kepada Kurama teralih kepadanya. Tapi meski yang menatapnya adalah para pemegang gelar yang sudah dekat dengannya tetapi butih waktu sampai ratusan detik agar Maki, Rias, Akeno dan Sona menyerah membahas hal itu.
"Aku menyerah." Maki akhirnya menyerah dengan cara normal dimana dia menutup matanya lalu menghembuskan nafas kemudian membuka matanya lagi.
"Terserah kau sajalah, Naruto-kun." Tak berbeda jauh dari Maki, Sona juga melakukan hal sama tetapi sebelum membuka matanya lagi ia lebih dulu membenarkan posisi kacamatanya.
"Jadi itu rahasia..." Berbeda dengan Maki dan Sona yang lebih normal, ekspresi kekecewaan Rias tampak seperti di beberapa anime yaitu dengan mwnutup mata dan kepala menunduk disertai aura suram. Mungkin dia terlalu banyak menonton anime belakangan ini.
"Ara... ara... sepertinya itu adalah rahasia yang mencurigakan." Dan yang terakhir sekaligus yang paling aneh adalah Akeno dengan gaya tertawa khas milik ibunya yang dithrunkan kepadanya. Meski tertawa tetapi bagi yang cukup peka untuk merasakananya maka tawa Akeno saat ini akan terasa horor sekligus membuat suasana ruangan itu bak setting tempat di film SAW.
"Onii-chan! Bukankah pemegang gelar berjumlah 10 jika ditambah dengan Aristoteles tetapi kenapa sampai saat ini Newton generasimu belum muncul? Apakah tidak ada yang memberitahu tentang gelarnya itu?" Akhirnya setelah lama hanya menonton perdebatan antara Naruto dan teman-temannya, Naruko memberanikan diri untuk bertanya kepada Naruto tentang sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"Kalau dipikir-pikir kami belum menemui Newton generasi ini kan? Apa kau pernah menemuinya sewaktu di Italia Naruto-kun?" Sejalan dengan Naruko nampaknya Akeno juga penasaran dengan Newton pada generasi ini.
"Newton generasi ini? Kita semua sudah menemuinya. Hanya saja dia selalu bersembunyi menunggu gilirannya untuk dihentikan. Prioritas kita saat ini adalah membuka kotak pandora atau dengan kata lain adalah menghentikan Madara, setelah itu kita akan memburu Newton ke seluruh penjuru kota ini." Tak pelak jawaban Naruto yang menyatakan jika mereka semua telah bertemu dengan Newton generasi ini membuat mereka terkejut. Pasalnya selama ini mereka semua terkecuali Naruto tidak sadar siapa Newton yang dimaksud Naruto.
"Lebih baik kalian pulang dulu karena sudah jam segini. Untuk apa yang akan kita lakukan selanjutnya akan kusampaikan lewat E-mail nanti malam." Setelah mengatakan itu, Naruto kemudian berjalan ke arah Ophis yang tergeletak pingsang di lantai. Dia sendiri heran apakah hanya dirinya (sang penolong) dan Kurama (sang tersangka) yang sadar jika semenjak mereka berbicara panjang lebar disini Ophis tidak bersuara sama sekali?
Penyebabnya mungkin terlihat kekanak-kanakan untuk seusianya yaitu Ophis 'sedikit' tidak tahan dengan cerita hantu dsb tetapi jika digoda terlalu lama maka dia bisa pingsan seperti yang baru saja dilakukan oleh Kurama tadi setelah Akeno, Rias dan Naruko membahas masalah kotak pandora dan selalu berakhir dengan Apocalypse.
Sementara itu Rias, Akeno, Naruko, Maki dan Sona yang sejak tadi tidak sadar jika salah satu teman baru mereka, Ophis tidak bersuara semenjak tadi memasang tampang horor. Setelah itu mereka dengan kompak mengarahkan pandangan mereka kepada Kurama dan hanya dibalas dengan senyum tanpa rasa bersalah dari Kurama.
Time Skip!
09.00 PM
Rasa sunyi dan sepi kini telah menyelimuti rumah keluarga Uzumaki sepenuhnya, rumah besar nan megah itu kini sudah diselimuti oleh kegelapan meski saat ini baru jam 9 malam. Memang benar jika para penghuninya saat ini belum tidur tetapi semua lampu di rumah ini sudah dimatikan dan hanya menyisakan beberapa saja sebagai pajangan menandakan jika 'kehidupan malam' para penghuninya telah dimulai.
Uzumaki Naruto, saat ini sedang berjalan santai dari arah kamar mandi menuju ke arah kamarnya. Kamar mandi? Bukankah di kamarnya juga ada kamar mandi? Alasan kenapa Naruto lebih memilih memakai kamar mandi rumah daripada kamar mandi pribadi di kamarnya untuk menyikat gigi dan mencuci kaki sebelum tidur tak lain dan tak bukan adalah karena letaknya yang strategis yaitu melewati kamar kedua orangtuanya.
Jadi jika Naruto beruntung maka dia akan bisa mendengarkan 'kegiatan malam' kedua orangtuanya yang penuh akan siksaan. Alasan yang konyol bukan? Meski tahu jika apa yang dilakukannya ini adalah kurang ajar tetapi Naruto kini sudah menganggapnya hal biasa, terlebih lagi ada 1 hari dalam 1 tahun dimana dari kamar Minato dan Kushina terdengar suara tangisan yang tertahan. Naruto tidak tahu apakah itu suara Minato ataupun Kushina tetapi suara tangisan itu selalu terdengar pada tanggal yang sama dan tanggal yang sama itu adalah hari ini.
"Hiks... hiks..."
Saat Naruto melewati pintu kamar Minato dan Kushina, dia mendengar lagi suara tangisan tertahan dari arah dalam dan hal itu sudah cukup untuk membuat Naruto menghentikan langkahnya di depan pintu kamar kedua orang tuanya. Meski saat ini ia diselimuti oleh kegelapan yang pekat sekaligus suasana sunyi namun kewarasannya yang masih kuat membuatnya tidak takut sebab jika Ophis berada di posisinya maka sudah dipastikan dia akan menganggap suara ini adalah suara hantu.
Setelah lama berdiam diri di depan kamar kedua orang tuanya, akhirnya Naruto memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju kamarnya dan Kushina. Secara pribadi dia sudah sering mencoba menyelidiki alasan kenapa Minato atau Kushina selalu menangis pada malam yang sama tetapi penyelidikan itu tidak membuahkan hasil sama sekali.
Membuka pintu kamarnya, Naruto disuguhkan dengan pemandangan Sekai dan Ophis yang sedang tertidur dengan nyenyak di kasurnya. Ngomong-ngomong soal Ophis, sebelum makan malam tadi dia sudah sadar dan ikut makan malam bersama tapi entah apa yang mendorongnya untuk tidur lebih cepat mendahului Xenovia dan Naruto padahal biasanya dia ngotot memaksa Naruto dan Xenovia tidur bersamanya.
Tapi kemana Xenovia? Setelah masuk dan mengedarkan sebentar pandangannya ke seluruh ruangan akhirnya Naruto menemukan jika Xenovia saat ini berada di balkon kamarnya dengan piyama yang cukup tebal tetapi ukurannya sedikit lebih kecil dari yang seharusnya untuk ukuran badan Xenovia. Meski begitu namun Xenovia tetap bersikeras memakianya sebab pakaian itu mengingatkannya dengan dalaman ketat berwarna hitam angkatan laut yang biasa dia gunakan saat bertugas.
Membuka baju santai yang dipakainya membuat tubuh atletis pemuda itu terekspos sekaligus membuat Naruto kini setengah telanjang dan hanya memakai celana pendek. Setelah melemparkan bajunya entah kemana, Naruto kemudian berjalan ke arah balkonnya untuk menemui sekaligus berbicara kepada Xenovia. Ingat! Hanya menemui dan berbicara tetapi jika nanti dia melakukan hal yang lebih maka itu tak lain dan tak bukan adalah sebuah kekhilafannya sebagai seorang remaja yang dapat dikendalikan oleh hormon.
"Xenovia, apa kau tidak kedinginan?" Tanya Naruto sesaat setelah melangkahkan kakinya di balkon kamarnya lalu memposisikan dirinya disamping Xenovia yang sedang melihat keindahan kota Kuoh di malam hari melalui balkon kamarnya.
Mendengar namanya dipanggil awalnya membuat Xenovia terkejut tetapi setelah melihat jika yang memanggilnya adalah Naruto maka dia kembali melanjutkan kegiatannya tadi meski harus berusaha menahan matanya yang ingin terus-terusan memandangi Naruto yang saat ini hanya memakai celana pendek menampilkan badannya yang atletis sekaligus terlihat baik-baik saja padahal aslinya badan itu penuh dengan bekas lebam akibat pukulan tangan maupun benda tumpul. Penyebabnya? Tentu saja berasal dari perannya sebagai Kaneki yang kadang mengharuskannya berhadapan dengan berbagai macam sindikat.
"Tidak dingin kok. Aku sudah biasa dengan suhu udara seperti ini saat berada di kapal." Jawab Xenovia atas pertanyaan Naruto.
...
Diam dan sunyi, kedua sejoli itu saat ini sedang diam tak bersuara dan saling memandang hal yang sama yaitu gemerlap kota Kuoh di malam hari. Merasa tak nyaman dengan situasi ini Naruto kemudian memulai percakapan dengan Xenovia sekaligus ingin menanyakan sesuatu tentang sikap Xenovia tempo jam tadi.
"Xenovia, sebenarnya apa yang membuatnu bersikap seperti tadi? Tidak mungkin jika hanya karena Sekai bukan?" Setelah tahu maksud dari Naruto, tubuh Xenovia awalnya menegang karena Naruto mengetahui kedoknya saat menginjak kaki Sona dan Kurama tadi. Mengalihkan direksi dan badannya menghadap Naruto, Xenovia kemudian menjawab pertanyaan Naruto tadi.
"Sebenarnya aku tadi merasa menjadi istri yang tidak berguna."Jawab Xenovia dengan volume suara yang kecil sehingga mirip dengam gumanan.
"Hm? Kau mengatakan sesuatu?" Naruto yang tidak mendengar jawaban dari Xenovia tadi dengan jelas karena volume yang terlampau kecil kembali bertanya.
"Bu-bukan apa-apa, aku tadi hanya merasa tidak berguna dan tidak bisa membantumu seperti mereka semua yang memperdebatkan kotak pandora." Akhirnya Xenovia mengungkapkan apa yang dia rasakan sesungguhnya kepada Naruto. Merasa tidak berguna? Ya, sebenarnya dia sedikit minder saat berada diantara Sona, Maki, Kurama, Ophis, Rias, Akeno bahkan Naruko karena Xenovia merasa jika saat ini dirinya berbeda derajat dengan mereka semua.
Sebenarnya pandangan jika para pemegang gelar mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada manusia merupakan salah satu alasan kenapa pemegang gelar harus dirahasiakan dari khalayak umum dan hanya menyisakan beberapa orang tertentu yang tahu akan eksistensinya. Tapi Naruko? Xenovia merasa dirinya lebih rendah derajatnya dari Naruko? Jika disuruh menjawab jujur maka jawabannya adalah ya. Alasannya karena perbedaan kecerdasan antara mereka berdua ditambah lagi status Naruko sebagai anak dari pasangan pemegang gelar dan saudara dari pemegang gelar cukup untuk membuat manusia normal seperti Xenovia merasa dirinya rendah.
Tak mau Xenovia terlarut dalam pemikiran primitif seperti itu, dengan cepat Naruto kemudian memeluk Xenovia. Awalnya Xenovia mencoba melawan tetapi setelah merasa tak bisa lepas dari pelukan Naruto akhirnya Xenovia berhenti melawan.
Setelah dirasa sudah cukup lama memeluk Xenovia, Naruto kemudian melepaskan pelukannya lalu meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Xenovia dan menatap langsung matanya membuat Xenovia merasakan rasa hangat yang mengalir di kedua pipinya, untung saja di balkon ini tidak ada lampu sehingga semburat merah di pipi Xenovia dipastikan tidak akan terlihat oleh pandangan Naruto.
"Jangan sekali-kali kau berfikir seperti itu lagi, Xenovia. Kita semua (para pemegang gelar) mempunyai derajat yang sama dengan manusia biasa. Bahkan jika kau ingin mendengarnya sesungguhnya para pemegang gelar mempunyai sebuah keanehan yang turun-temurun dari generasi ke generasi." Kata Naruto lalu kemudian dia tersenyum geli saat kembali memikirkan apa saja keanehan dari para pemegang gelar dan sekali lagi Xenovia harus mencoba menahan dirinya untuk tidak memakan bibir seorang Uzumaki Naruto yang saat ini ada di depannya.
"Sebuah keanehan? Keanehan seperti apa?" Mendengar sesuatu yang kelihatannya menarik membuat Xenovia ingin tahu lebih tentang itu.
"Contohnya adalah ayahku, Newton yang memiliki sifat licik kepada para lawannya. Lalu Edison yang sadis, Da Vinci yang suka mencari musuh, Pythagoras yang berpikir jika gendernya adalah yang paling superior, Galileo yang terkadang ceroboh hingga membahayakan nyawanya, Nightingale yang jarang menjaga kebersihan meski selalu bilang jika kebersihan itu penting. Aib yang menyedihkan." Jelas Naruto panjang lebar dan diakhiri dengan senyum yang dipaksakan.
"Hahaha... tidak bisa dipercaya jika dibalik kejeniusannya mereka punya aib seperti ini. Ngomong-ngomong kau belum memberitahu keanehan Einstein bukan? Apa keanehannya?" Sungguh Xenovia tak percaya jika para pemegang gelar yang tempo menit tadi dia rasa mempunyai derajat tinggi sebenarnya mempunyai aib seperti ini.
"Ah! Einstein! Biar kuberitahu, kau pasti tidak mau mendengarnya." Elak Naruto menutupi tentang aib pemegang gelar Einstein yang diturunkan turun temurun.
"Ayolah Naruto-kun!" Tuntut Xenovia pada Naruto, bahkan dia tidak sadar jika tadi ia menambahkan suffix -kun di akhir kalimatnya.
"Haah... jangan salahkan aku jika mood mu kembali memburuk karena ini. Keanehan dari pemegang gelar Einstein adalah suka SELINGKUH." Meski sebenarnya ingin menyembunyikan hal ini dari siapapun tetapi karena tuntutan Xenovia maka Naruto akhirnya memberitahukan keanehan pemegang gelar Einstein. Apa benar Naruto suka selingkuh? Tentu saja tidak! Keanehan ini hanya berlaku kepada Einstein yang asli bukan kepada generasi penerusnya.
Sementara itu Xenovia yang mendengar kata suka selingkuh tiba-tiba langsung drop. Mood miliknya yang semula membaik karena dihibur Naruto juga langsung kembali memburuk karena tahu jika keanehan pada diri Naruto adalah suka selingkuh. Tetapi Naruto dengan bodohnya juga tidak bilang jika keanehan ini tidak berlaku padanya melainkan hanya kepada Einstein yang asli.
"Xenovia, kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto khawatir pada Xenovia yang kini menundukkan kepalanya sehingga dia tidak bisa melihat ekpresinya. Sepertinya Xenovia tidak apa-apa karena tiba-tiba Xenovia mengambil alih tangan Naruto lalu menyeretnya menuju kasur kemudian membantingnya di kasur dan yang terakhir Xenovia menempatkan kedua lututnya untuk memerangkap kedua kaki Naruto dan kedua tangannya menekan bahu Naruto sehingga kini posisinya adalah Xenovia yang sedang menungging mengunci pergerakan Naruto di kasur mereka.
"Tidak akan kubiarkan kau menambah harem milikmu lagi, Naruto-kun." Ucap Xenovia di depan telinga Naruto dan langsung dijawab oleh Naruto tepat di depan telinga Xenovia juga.
"Baka, keanehan itu hanya berlaku kepada Einstein yang asli. Para generasi selanjutnya tidak terpengaruh dengan hal seperti itu." Bulu roman Xenovia berdiri kala mendengar bisikan Naruto yang berisi informasi tentang kesalah pahamannya karena mengambil tindakan gegabah seperti ini dan untuk kesekian kalinya Xenovia kembali memerah malam ini akibat ulah Naruto.
Namun nasi telah menjadi bubur ayam, Xenovia kemudian menurunkan badannya disamping badan Naruto lalu kemudian dia menyusupkan kepalanya yang telah memerah bak kepiting rebus di dada bidang nan telanjang Naruto. Sepertinya malam ini Naruto dan Xenovia akan berpisah sejenak dari tidurnya bersama Sekai karena mereka tidur di tepi kasur.
Di sisi lain... (Madara)
Masih berada di rumah yang dibangunnya di salah satu pulau di Indonesia, saat ini Madara dan beberapa pekerjanya tengah berada di sebuah ruangan semacam hanggar pesawat. Di depan mereka ada sebuah peti kemas besar yang baru saja diturunkan dari kapal lalu diangkut kesini menggunakan alat berat. Di pintu yang seharusnya digunakan untuk membuka peti itu terdapat sistem keamanan yang harus dipecahkan oleh Madara agar isi peti yang dikirim oleh Izuna itu bisa ia pakai.
Dan seperti biasa, sistem keamanannya berupa game. Gamenya terdapat di sebuah touchscreen berukuran cukup lebar di pintu masuk peti itu tapi game kali ini sedikit berbeda dari yang lainnya. Jika biasanya game yang dimainkan pemegang gelar identik dengan penjelasan panjang maka kali ini gamenya adalah memilih dengan petunjuk seadanya. Pilihannya ada 3 yaitu bentuk segitiga, kotak dan trapesium.
Sedangkan petunjuknya adalah:
= 1.a6+6.a5b+15.a4b2+20.a3b3+15.a2b45+1.b5
= a6+6a5b+15a4b2+20a3b3+15a2b4+6ab5+b5
Note: Jika di ffn tanda pangkatnya gak ada silahkan liat di status saya.
Tanpa pikir panjangpun Madara langsung menekan bentuk segitiga dan tak lama kemudian pintu peti kemas itu terbuka dengan sendirinya.
"Dua baris angka tadi adalah penjabaran dari bentuk (a+b)6 dan bentuk aljabar seperti itu ada di segitiga pascal dengan kata lain segitiga. Cih! Padahal aku berharap game dari pemegang gelar Aristoteles bisa menghiburku tapi ternyata sama saja dengan game sampah buatan GoG." Guman Madara menjelaskan kenapa jawaban game ini adalah segitiga dan diakhiri dengan umpatannya kepada Izuna.
"Sebentar lagi sampai waktunya tiba, Einstein. Aku akan menyiapkan duel game untuk pertemuan ketiga kita." Lanjutnya.
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
Chap 10: END!
A/N: haah... mos semakin dekat dan saya semakin sibuk. Btw sebenarnya saya bisa buat gambar untuk game di chapter ini tapi entah kenapa saya gak bisa Log In akun Wordpress saya jadi ya gak bisa upload lalu gak buat sekalian.
Q: Kemana author selama ini?
A: Re-watch anime Faity Tail dari eps 1. Gak percaya? Silahkan liat di status fb saya, saya mengupload beberapa SS tayangannya.
Q: Soal keanehan para pemegang gelar?
A: Soal itu sebenarnya saya ambil dari dunia nyata. Edison sadis? Pernah denger gak persaingan arus AC dan DC? Antara Thomas Alva Edison dan Nikola Tesla? Lah demi membuktikan temuannya lebih hebat daripada temuan Nikola, Edison pernah dan sering menyetrum anjing dengan arus listrik temuannya hingga mati. Sadis kan?
Q: Siapa pendonor mata ke Minato?
A: Seorang wanita yang bakal terungkap identitasnya di seri MAJIKOI yang lain. Jadi tunggu aja :P
Q: Jadi yang membuat kotak pandora itu dari masa lalu atau masa depan?
A: Hm... rahasia deh. Ntar gak seru lagi.
Nano, Log Out
