Balasan Review:
Viaaaagruvia
Silahkan tabok mas Gray-nya kalau nyebelin wkwkwkw #Buagh! Tepar dihajar Juvia.
Untuk beberapa chapter kedepan aku memang akan membuatnya nyebelin kok, jadi harap maklum ya.. hehe. Nanti juga ada kalanya dia berhenti jadi menyebalkan begitu. Selamat membaca~
Fic of Delusion
Pfft.. aku gak bisa bayangin kalau Juvia main tikung-tikungan gimana. hahahahaha.
Jawabannya silahkan liat di chapter selanjutnya..
DaneshaFir
Huaaaaaaaa... Danesha-chaaaaaan.. sumpah Naomi terharu bacanyaaaa... hiks.. hiks.. terima kasih banyaaaaaak #lari gaje mau peluk Danesha *Brak! Nabrak tembok
Hiks, maaf ya kalau aku terlalu lebay T3T tapi sungguh, aku terharu baca review dari dirimu. Hiks hiks. Soal Juvia yang bakal tersakiti lagi.. Eum silahkan Danesha baca aja. Hihi
Rosiana
Gray selingkuh? #Kaget mode on.
Jawabannya silahkan Rosi-san baca aja di dua chap ini. Dan terima kasih atas pujiannya. Aku kira fic ini bakalan gak kerasa hurt nya hiks. Jadi soal keadaan Juvia saat mengetahui semuanya, euumm. Mungkin dia akan bunuh diri. Wkwkwkw.. *digampar reader.
Novi
Iyaaa.. ini dua chap yang Naomi janji kan kemarin. Selamat membaca~
Silahkan tabok mas Gray kalau kesel. Huehuehue..
Eum, untuk beberapa chapter kedepan mungkin aku akan membuat Gray menyebalkan, tapi nanti juga ada kuselingi yang manis-manisnya juga. Dan soal yang happy, hehehe, mungkin itu akan muncul di chap terakhir. *Author benci sad ending sih~
brillalia26
Jawabannya bisa lia-san lihat dichapter sebelas. :3
Soal update Naomi gak bisa janji, karena menulis fic terlalu cepat juga bisa menganggu kesehatan Author. *Plak! Apaan sih lu thor?! Hahaha becanda.
Aku akan update secepat yang aku bisa.. Selamat membaca~
~ Based on Fairy Tail by Hiro Mashima ~
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Pairing : Gray, Juvia
Rate : T
.
A Fairy Tail Fanfiction Story
-Lewat Telepon-
Chapter 10 : Nama Panggilan
Juvia POV
Apa aku harus mencurigainya?
Suara dentuman detik jarum jam mengalun merdu di dalam kamar milik Gray-sama di rumah Lyon ini. Sejak tadi, aku hanya tidur telungkup, menenggelamkan wajah ke tubuh gemuk milik Hani dan hanya diam tak menggemingkan apapun. Sejak sampai dirumah Lyon tak sekali pun aku keluar dari kamar ini. Mengabaikan pria berambut ubanan itu dan hanya bermain dengan pikiran sendiri.
Ku tolehkan kepala sedikit ke kanan, menghirup napas dalam-dalam karena sejak tadi udara tak sampai ke hidung yang tertutup bulu lembut Hani dan menghembuskan napas sedikit. Pikiranku masih saja berada di tempat dimana aku dan Gray-sama bertemu. Tak seinci pun tersisa ruang di kepalaku untuk tak memikirkan hal itu. Bahkan dada ini masih tetap berdesir seperti tadi. Ya, kejadian tadi. Aku masih tak menyangka Gray-sama tidak tahu kalau Ibuku sudah tiada. Meski pernah ku pikirkan, tapi tak ku sangka akan begini menyakitkannya. Aku tahu, aku terlalu berlebihan merasakan ini. Bisa saja di Ishgar sana tidak ada kabar yang bisa menjangkaunya. Tapi jika aku pikir, kenapa Lyon yang berada di negara yang sama dengan Gray-sama waktu itu bisa mengetahuinya? Sungguh pikiran ini membuatku muak. Jika saja aku tak mengetahui kalau Lyon tahu tentang kematian ibuku, aku pasti tidak akan pernah berpikiran seperti ini. Tak akan mencurigai Gray-sama sampai sejauh ini dan akan tetap mempercayainya seperti dulu.. hm.. mempercayai...
Aaargh, ada apa denganku? Kenapa tidak langsung saja tadi aku memberitahunya kalau memang ibu sudah tiada...? Aku menghembuskan napas lagi, mengkerutkan dahi berusaha membuang pikiran kotor ini. Aku yakin, sangat yakin kalau kabar tentang kematian ibuku tidak sampai padanya. Ya, aku harap begitu. Tapi dari semua pikiran itu, ada hal yang jauh terasa lebih menyakitkan. Ini tentang suara Gray-sama saat mengangkat telepon tadi. Sebelum dia jauh meninggalkanku, sepenggal kata 'Hallo..' dan sebuah nama panggilan sempat terdengar samar ditelingaku. Nama panggilan yang entah kenapa menjadi inti buah pikirku. Nama panggilan seseorang yang sangat terasa asing di telingaku. Dan nama panggilan yang mungkin saja Gray-sama tak ingin aku ketahui mengingat reaksinya yang menjauhi diriku seperti tadi. Apa yang terjadi... tepatnya.. Siapa yang tengah menelepon Gray-sama? Aku benar-benar tak bisa menerka apa yang ada di pikirannya. Kenapa dia sampai menjauh seperti itu? Kenapa dia tidak ingin aku mengetahuinya? Ck. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa? Rasanya aku ingin meruntuk pikiran ini.
Kesal. Tapi rasanya juga menyakitkan. Dada ku terus menggemuruh tak menentu, mencengkram seluruh tubuh sampai apapun yang hendak aku lakukan terasa semakin menyakiti relung hatiku. Reaksi dan kelakuannya tadi itu cukup menjelaskan kalau memang benar-benar ada sesuatu yang berbeda darinya. Dan sungguh, ini sangat menyakitkan Gray-sama.. Bahkan untuk bertanya seluruh pertanyaan yang selama ini mendekam di pikiranku saja, kau terlihat tak mengizinkannya... Benar kan? Apa aku tak perlu tahu apapun tentang dirimu? Bagaimana dengan hubungan kita selama ini? Pertanyaan-pertanyaanku? Penjelasanmu? Aku ingin mengetahui semuanya, Gray-sama! Kumohon, jangan seperti ini..
Mendadak suara ketukan pintu dan suara engsel pintu yang tak tertutup rapat terdengar lirih. Aku mengintipnya sedikit dari ujung bahuku, meski aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi aku tahu itu siapa.
"Boleh aku masuk?" Tanya suara baritone nan hangat keluar dari seseorang yang berdiri memenuhi setengah pintu. Aku tak menjawab apapun dan hanya diam mengabaikannya. Dia menghela dan membuka pintuku lebar-lebar. "Aku anggap itu iya." Lanjutnya sembari berjalan memasuki ruang kamarku.
Aku tak mengabaikannya yang perlahan terasa berjalan mendekati tubuhku dan kemudian ia menyodorkan sebuah benda ke kasur tepat tak jauh dari tubuhku. "Makan lah. Sudah jam berapa ini. Kau belum makan apapun dari sore tadi. Kau bisa sakit, Juvia." Omelnya yang membuatku berdesis. Disaat seperti ini, tidak nafsu makan adalah sesuatu yang selalu menggangguku. Tapi, dia tetap saja seperti itu.
Aku tetap tak menjawab apapun, walau dari balik kaca jendela sana aku bisa menangkap wajahnya tengah menatapku nanar. "Kau masih memikirkan Gray, Juvia?" Tanyanya lagi meski dia tahu aku akan tetap diam tak menjawab apapun. Padahal sebelum mendarat dirumah Lyon, aku sempat berpikir kalau kerumahnya adalah pelarian satu-satunya agar aku tidak menangis dan terlalu memikirkan hal ini. Tapi kenayataannya, aku malah seperti ini. Meski tidak menangis, tapi tetap saja aku masih merasa terluka. Dan Lyon juga, sejak tadi dia hanya diam tak cerewet seperti biasanya. Tapi itu cukup membuktikan bahwa dia tahu apa yang tengah ku rasakan. Bukankah dia selalu bisa menebak apa yang ku rasa?
"Kalau kau masih memikirkan soal Gray yang tidak tahu tentang kematian ibumu, jangan terlalu di pikirkan. Mungkin tidak ada kabar yang bisa menjangkaunya disana, kan?"
Tapi sayangnya kali ini tebakkannya tak sejitu biasanya. Aku sedang tidak memikirkan hal itu, Lyon..
Aku tetap diam. Lyon masih menatapku nanar. "Kalau ada yang ingin kau ceritakan padaku, ceritakan saja. Kau tahu aku dimana kan?" Lirihnya lembut. Aku mengerjap, entah kenapa suara Lyon akhir-akhir ini terasa teduh di hatiku, membuatku dengan mudah merasa nyaman untuk melontarkan segala keluh kesah yang tengah menimpahku.
"Aku keluar." Katanya seraya berbalik arah. Aku mengerjap, dengan sigap aku menggerakkan tubuhku, meraih telapak tangannya dan menahannya untuk tidak pergi. "Lyon.." Ucapku akhirnya. Aku bisa merasakan tubuh Lyon tersentak mendapati reaksiku. Begitu pula denganku, reaksi kaget Lyon juga menyentak tubuhku. Entah kenapa, tanpa sadar aku menahannya begitu saja.
Lyon menoleh kearahku, mata kami sempat melekat satu sama lain. Tapi kemudian aku malah menunduk. Begitu juga dengan dirinya.
"Ada apa?" Lirihnya dengan sebagian wajah tertutup bayangan poni.
Aku menatap kosong sprai putih kasur. Lebih tepatnya bingung sendiri dengan reaksiku saat ini. Sedetik lalu, bahkan aku masih bisa merasakan bahwa aku sangat ingin mengatakan sesuatu padanya. Tapi, perasaan itu mendadak pergi saat rasa kaget Lyon menyentak diriku.
Dengan perlahan, aku melepaskan tangannya dan masih menunduk. "Tidak ada. Maaf." Ucapku yang pasti akan membuatnya merasa bingung.
Lyon membiarkan tanganku lepas begitu saja. Kemudian ia membalikkan tubuhnya sejajar dengan wajahku. "Yasudah." Ujarnya lembut seraya menaikkan sebelah tangan keatas rambutku. "Jangan lupa dimakan ya." Lanjutnya seraya mengelus lembut pucuk rambutku dan kemudian berlalu keluar kamar sembari menutup pintu.
Normal POV
Bruk.
Lyon menutup pintu kamar Juvia rapat. Tangannya masih menggenggam gagang pintu dan tubuhnya belum bergerak sama sekali untuk melanjutkan langkah meninggalkan pintu kamar itu. Ia menarik napas dalam, menutup mata, dan kemudian menghembus napas panjang. Dahinya berkerut seakan masalah rumit tengah menimpah pikirannya. Perlahan Lyon menyandarkan tubuhnya didepan pintu coklat itu, sedikit menengadahkan kepala dan membuka mata menatap nanar langit-langit rumah.
Apa yang terjadi padanya?
Lyon makin mengernyitkan dahi. Reaksi, wajah dan tingkah laku Juvia kembali bermunculan satu per satu ke depan matanya. Sungguh, ia bisa merasakan kalau rasa sakit yang dirasakan Juvia tengah mengalir didalam dadanya juga. Dan lebih parahnya lagi, rasa penasaran akan apa yang membuat Juvia sekusut itu menyulut pikirannya sejak tadi. Apalagi reaksi Juvia yang terakhir kali itu, entah kenapa jantung Lyon terasa tersengat akan sesuatu begitu hangat tubuh Juvia menjalar melalui ujung jari tangannya. Apa yang mau dikatakannya tadi? Cih. Ini benar-benar menyebalkan!
Lyon menghela keras. Matanya kembali terpejam diriingi dengan tangannya yang menghalau poni hingga menampakkan dahi yang masih berkerut kesah.
Sialan!
Runtuknya untuk yang entah keberapa kali hari ini. Tidak mungkin Juvia sakit hati hanya karena Gray tidak tahu kalau ibu nya sudah meninggal! Tidak mungkin! Lyon mendecak lagi. Ia masih terus menyandar pada daun pintu itu dengan tangan kanan memegang gagang pintu dan tangan kiri menghalau rambut.
Gray sialan! Ini tidak ada hubungannya dengan apa yang ku pikirkan sejak sebulan lalu kan? Ck. Apa yang sudah kau lakukan pada Juvia?!
.
Seorang pria berambut raven tengah berjalan melintasi jembatan sungai kecil yang tak jauh dari kawasan UC. Sejak keluar dari ruangan Meldy, kepalanya masih dipenuhi oleh gadis berambut gelombang laut yang sore tadi ditemuinya setelah sekian lama.
Tangannya tersembunyi di balik kedua saku celana. Saat ini, tubuhnya tak terselimuti jaket ataupun mantel untuk melindunginya dari udara malam yang kian mendingin. Pria sedingin es itu memang sangat menyukai udara dingin seperti ini, tak ayal jika memang dirinya kuat menerima hantaman udara dingin disekelilingnya. Meski kepulan napas terlihat jelas didepan mulut dikala ia menghela, tapi tak sedikit pun pria itu menunjukkan reaksi kedinginannya.
Hingga langkahnya terhenti dan pria itu mendekatkan diri pada batas jembatan. Pria dingin berambut raven yang akrab disapa Gray itu meletakkan sebelah tangannya ke tepi jembatan, menatap kosong aliran air sungai, dan kemudian salah satu tangannya merogoh kantung atas kemeja abu-abu itu.
Secarik kertas foto ia keluarkan dari sana, diiringi dengan tatapan nanar melihat gambar dirinya dengan seseorang disana.
"Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini padamu.." Ucap Gray memandangi gadis difoto itu. "..Juvia.." Lanjutnya lirih.
Gray makin menunduk menatap foto itu, makin, dan makin menunduk hingga wajahnya menghitam akibat poni yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Perlahan kedua tangan Gray bergerak menyentuh ujung kertas foto. Menariknya sedikit hingga terdengar bunyi sobekan kecil mulai dari ujung foto itu.
Angin berdesir, menerpa rambut yang masih menutupi sebagian wajah tampannya, mendesirkan rumput dan air sungai serempak, diringi dengan suara klakson dan bunyi ban dari mobil yang bergerak melewati belakangnya seakan mereka semua terdengar saling sahut-sahutan. Sementara Gray hanya diam sambil terus merobek secarik foto yang hanya kertas kosong baginya saat ini. Diikuti suara musik klasik yang mendadak terdengar dari ponselnya seperti sore tadi. Gray tetap tak tersentak ataupun mengerjap. Ia mengabaikan bunyi yang ada disekitarnya hingga beberapa detik kedepan. Seluruh suara yang tadi mengalun keras itu akhirnya mereda juga. Bahkan lantunan musik klasik di saku celananya sudah tak terdengar lagi. Gray tetap diam. Tangannya masih bergerak didepan foto itu, sampai akhirnya ujung tangannya menjatuhkan sisa sobekan kertas itu kesungai. Gray menatapnya lirih, membiarkannya basah, mengalir ke hulu sungai atau bahkan mungkin tenggelam. Terserah. Dia tidak peduli. Tak lama, ponselnya kembali berdering. Dengan sigap, kali ini ia mengeluarkannya dari saku celana seraya berjalan menjauh dari sisi jembatan itu, mengangkat telepon dan berjalan meninggalkan jembatan.
Kediaman Vastia, Pukul 7.30 pagi
"Sudah selesai?" Tanya Lyon setelah meraih kunci mobilnya dan menatap Juvia tengah memakai sepatu boot putih kesalah satu kakinya. Walau tampak kusut dan selalu berkata 'Aku tidak ingin berada di dunia desain' lagi, tapi penampilan gadis itu selalu membuat Lyon terpana. Memang fashion sudah mengalir deras dalam darahnya. Tetap cantik dengan gaun biru muda pendek dan blezer putih menghiasi dirinya.
"Um." Angguk Juvia setelah selesai mengenakan itu. Lyon menatapnya dari belakang dengan pandangan lirih. Ia masih seperti tadi malam enggan mengucapkan sepatah kata pun.
"Yasudah. Ayo pergi." Ucap Lyon seraya berlalu melewati Juvia dan berjalan menuju pintu. Tapi, mendadak kejadian tadi malam terulang kembali. Sebuah tangan tiba-tiba saja menahan langkahnya yang membuat Lyon kembali mengerjap. Ia tak menyangka akan mendapatkan perilaku itu dua kali.
Lyon kali ini melirik Juvia. Wajahnya yang kebingungan kali ini ia tampakan dengan jelas. Juvia masih menunduk. Membenarkan ujung sepatu dan menggerakkan bibirnya. "Maaf tadi malam aku tidak jadi mengatakannya padamu, Lyon." Ucap Juvia pelan seraya menggeser wajah menatap pria itu.
Lyon hanya diam menunggu Juvia melanjutkan kalimatnya. "Sebenarnya... Kemarin aku mendengar Gray-sama berkata sesuatu.."
Lyon membelalak dan memilih membalikkan tubuh tepat ke depan Juvia setelah gadis itu melepaskan tangannya.
"Kemarin Gray-sama mengangkat telepon dari seseorang. Bukan hal yang aneh memang." Ujar Juvia sambil menunduk. Lyon hanya diam sambil merasakan sesuatu mendadak mengalir deras didalam tubuhnya. "Tapi, saat dia mengangkat telepon itu, dia langsung menjauh dariku." Lanjut Juvia. Mata Lyon terus memperhatikan wajah Juvia yang perlahan berubah semakin kusut.
"Sebelum Gray-sama menjauh, aku mendengar sesuatu dari mulutnya.. dia bilang 'Hallo' dengan nama panggilan seseorang."
"Na-nama panggilan?" Tanya Lyon bingung.
Juvia mengangguk ragu. "Suaranya tidak terlalu jelas karna Gray-sama sudah , itu terdengar seperti uru, ru, lu, atau ur begitu." Ungkap Juvia.
Lyon sungguh membelalak mendengarnya. Seakan sesuatu telah menyentil sekujur tubuhnya.
Fakultas Teknik, Universitas Crocus, Ruangan 4.2.15
Lyon duduk dibangkunya dekat jendela seraya memutar-mutar ballpoint, memangku wajah dengan sebelah tangan, termenung menatapi secarik kertas dimejanya. Sementara Jura-sensei selaku dosen Struktur Konstruksi Bangunan itu tengah menjelaskan dengan lihai mata kuliahnya dengan bantuan slide didepan sana. Sejak kelas dimulai dua jam lalu, Lyon sama sekali tak memperhatikannya. Ia hanya fokus dengan pikirannya sendiri, teori-teori mengenai Gray yang selama ini berada di pikirannya, hipotesisnya, dan juga perkataan Juvia tadi pagi. Sampai-sampai seorang gadis yang sejak tadi terus memperhatikannya dari jauh sama sekali tak terasa olehnya.
Gadis berambut hotpink berpita kuning itu terus memperhatikannya diam-diam. Wajah Lyon terlihat kusut walau hanya nampak dari samping. Hal itu benar-benar menyebalkan untuknya. Sejak Juvia tinggal di Crocus, ia bisa merasakan perubahan sikap pria itu. Pria yang biasanya tak pernah luput dari kata 'memperhatikan dosen' mendadak menjadi seperti itu. Ia benci ini. Jika saja Lyon dan Juvia tidak bertemu, Lyon pasti tak akan menjadi seperti yang sekarang ini kan? Tanpa sadar, ia menggertakkan giginya dan menggenggam ballpoint sangat erat. Kalau saja ia punya hak, ia ingin sekali menyuruh Lyon berhenti memikirkan 'Gadis Kertas Desain' itu.
Lyon menatap tajam kertas yang saat ini sudah diisinya dengan tulisan tak beraturan. Tangannya masih memangku wajah ambigu yang saat ini masih tersirat banyak pikiran. Tangannya bergerak lagi, melingkari kata demi kata yang ia tulis dikertas itu.
Cuti Kuliah... Januari... Ishgar... Suara perempuan... Alasan Gray... Sikap anehnya... dan Nama panggilan...
Lyon mendesis. Dengan pelan ia menggumamkan apa yang tadi disebut Juvia. "Uru.. Ur.. Ru.. Ulu.. U-" Lyon kontan tersentak. Matanya membelalak saat itu juga seakan sebuah kilatan baru saja menjalar dipikirannya. "Mungkin kah?" Gumamnya tak percaya. Ia menatapi kata demi kata yang ia tulis dikertas tadi. Memikirkan kembali penggalan kata itu dan tak ada yang bisa ia pikirkan selain apa yang baru saja terlintas dikepalanya.
Mendadak, suara dosen didepan sana membuyarkan segala pikirannya. "Sampai disini saja pertemuan kita hari ini. Selamat siang.." Ujar Jura-sensei yang membuat Lyon menggeser pandang menatap depan sana. Padahal rasanya Lyon baru saja duduk di bangku ini. Tapi, waktu mengalun cepat selama pikirannya fokus pada kertas coretan itu.
Jura-sensei berlalu keluar kelas setelah menyusun semua media ajarnya, diikuti beberapa mahasiswa yang juga meninggalkan kelas. Lyon dengan sigap mengeluarkan ponselnya, mengirimi pesan singkat ke seseorang sebelum sebuah siluet datang menghampirinya.
"Lyon.." Panggilnya tiba-tiba namun tak membuat Lyon mengerjap sama sekali. Pria itu bergegas menyusun peralatan kuliahnya dan menggeser kursi hendak berdiri. "Ayo ke kan.."
"Maaf Chelia. Aku buru-buru." Potong Lyon seraya berlalu.
Chelia tersentak. ia membulatkan matanya menatap kosong kursi yang baru saja di tinggalkan Lyon. Setelah sadar pria yang disapanya tadi benar-benar meninggalkannya, Chelia menggeser pandang memperhatikan Lyon yang kini baru saja keluar dari pintu besar disudut sana.
Chelia mendecak. "Ck. Pasti Juvia lagi!" Runtuknya kesal.
Sementara itu
UC Gallery
Juvia duduk sambil memilah-milah baju yang akan mereka distribusikan ke beberapa toko di Crocus, mengeceknya ulang, sampai menyusun-nyusunnya ke dalam kardus berlebel UC Gallery nan besar itu. Tak hanya dirinya, beberapa pegawai disana juga ikut membantu. Bahkan Meldy yang fokus ke daftar barang yang akan mereka distribusikan berdiri tak jauh darinya.
Selama memilah-milah berbagai jenis baju, gaun, dan lain sebagainya ini, pikirannya masihlah berada pada penjelasan yang ia berikan pada Lyon pagi tadi. Reaksi Lyon membuatnya benar-benar penasaran. Walau Juvia bertanya 'Apa kau mengetahui sesuatu?', Lyon hanya menjawabnya dengan kata 'Tidak' meski wajahnya benar-benar terlihat mencurigakan. Bagaimana tidak, ia kontan membelalak saat Juvia memberitahunya, dan ekspresinya seakan anugrah baru saja turun ke dalam dirinya. Menyebalkan.
Tapi, sejujurnya Juvia tak ingin mencurigai Lyon terlalu dalam. Toh ia juga benci jika sesuatu keluar dari mulut Lyon tentang Gray. Apalagi kalau pria ubanan itu sampai merendah-rendahkannya. Saat itu juga Juvia pasti akan menghajar Lyon habis-habisan.
Juvia menghela. Tapi, bagaimana kalau sesuatu yang mungkin disadari Lyon itu memang benar nyatanya? Apa yang harus ia lakukan? Aaaargh, ini benar-benar menyebalkan. Kenapa juga aku memberitahunya pagi tadi? Ck. Kalau Lyon saja menyadari sesuatu, masa aku tidak bisa menyadarinya...
Juvia sedikit menarik kasar bungkusan plastik baju yang saat ini baru saja ia ambil dari keranjang di kirinya dan kemudian berusaha berpikir keras.
Uru.. Ur.. Uru.. ru.. Gumamnya dalam hati sambil bingung sendiri. Ru.. eru.. Aaaargh, apa sih itu? Kesal Juvia. Kali ini beberapa orang sedikit meliriknya karna barusaja menarik setumpukan bungkus baju dengan kasar.
"Juvia.. kau semangat sekali. Kami juga membantu loh.." Ujar salah satu pegawai Meldy sambil terkikik lucu berbarengan dengan yang lain. Juvia tak menghiraukannya dan fokus menatapi tumpukan baju yang saat ini menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan pikiran yang pasti tak berada di baju-baju itu.
Oke.. kita mulai dari awal. Pekik Juvia dalam hati sembari mulai berpikir keras kembali. Uru.. ur.. ru.. erru.. Ucap Juvia sambil memiringkan kepalanya. rrru... ru.. ulu.. ul-u, lu.. lu? Spontan Juvia mengerjap. Lu? Ulangnya lagi dengan jelas apa yang baru saja ia ucapkan. Lu? Lucy? Juvia benar-benar kaget dengan apa yang baru saja melintas di kepalanya. Ia tak mengerti kenapa kepalanya sampai berpikiran ke nama orang yang sudah jelas sangat di kenalnya itu. Apa mungkin...
"Juvia.." Panggil Meldy seraya menepuk bahu Juvia pelan. Gadis itu kontan tersentak hebat, bak listrik baru saja menyengatnya keras. Ia segera menggeser pandang melirik Meldy yang saat ini tengah membungkuk kearahnya. "Bantu aku bawa baju-baju itu keruanganku sekarang ya." Katanya tersenyum sambil menunjuk sekardus kecil baju dengan jempol kirinya. Juvia mengangguk-angguk dan segera bangkit mengukuti Meldy.
Selama dalam perjalan menuju ruangan Meldy, kepala Juvia masih dipenuhi satu kata yang membuat kepalanya makin terasa pusing. Lu? Ck. Kenapa aku jadi berpikiran soal Lucy? Mana mungkin Gray-sama dan Lucy.. Aaaargh.. apa yang ku pikirkan?! Aku benar-benar mencurigai orang yang sangat ku cintai. Astagaaa.. Kau jahat sekali Juvia.
"Kau baik-baik saja, Juvia?" Tanya Meldy setelah merasakan ada yang aneh dengan 'tangan kanan'-nya hari ini. Juvia mengerjap, jelas saja sejak tadi pikirannya tak berada dalam UC Gallery sama sekali.
"Ba-Baik kok.. Meldy-san." Ucap Juvia terbata. Meldy mengernyitkan dahinya. Kelihatan sekali kalau Juvia berbohong begitu. Meldy menghela, mengabaikan rasa penasarannya dan segera mendorong pintu ruangannya.
"Baguslah." Ucap Meldy tersenyum seraya berjalan masuk. Apa dia seperti ini gara-gara pertemuannya dengan Gray kemarin ya? Meldy diam-diam terus memperhatikan wajah Juvia sampai gadis itu meletakkan kardus baju keatas meja.
"Itu sisa penjualan kita bulan lalu." Ucap Meldy setelah menggeser pandang kembali menatap daftar di tangannya. "Sayang sekali model baju itu tidak terlalu di minati warga." Lanjutnya. "Mungkin, aku akan sedikit mengganti modelnya. Bagaimana?" Tanya Meldy yang membuat Juvia mengambil sebingkis baju itu dan memperhatikannya.
"Ini bagus." Ujar Juvia begitu menatap baju berwarna darkblue ditangannya. "Hanya saja, hiasannya terlalu mewah untuk baju yang akan di pakai sehari-hari ini, Meldy-san." Jelas Juvia yang membuat Meldy menggeser pandang kearahnya.
Haaah, andai kau bisa merancang seperti dulu. Aku pasti akan menyerahkan pekerjaan ini padamu. Lirih Meldy. "Baiklah.. nanti akan aku coba perbaiki. Hihi." Sensei, aku merasa seperti berada di depanmu saat ini. Senyum Meldy.
Juvia meletakkan baju itu kembali kedalam kardus dan kemudian melirik Meldy. "Meldy-san.." Panggil Juvia membuat Meldy yang baru saja duduk di kursi-mejanya menatap gadis itu kembali. "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya Juvia ragu.
Meldy masih memancarkan senyuman hangat. "Tentu."
"Em.. Apa yang.. kau dan Gray-sama lakukan kemarin?" Tanya Juvia yang kontan membuat Meldy mengerjap. ia sama sekali tak menyangka Juvia akan bertanya seperti itu padanya.
Mendapati reaksi kaget dari Meldy membuat Juvia sedikit merasa tak enak pada atasannya itu. "Ma-maaf kalau tidak sopan. Tapi, kemarin aku dengar dari Nana-san kalau kau bertemu dengan clien mu, sementara yang kulihat kemarin malah kau menemui Gray-sama." Jelas Juvia. Meldy tak memungkiri keterkejutannya barusan. Juvia benar-benar seperti bisa melihat segalanya.
"Kalau ada sesuatu.., bisa kau beritahukan padaku, Meldy-san?" Tanya Juvia. Kali ini ia mengangkat wajahnya yang merunduk untuk menatap Meldy. "Gray-sama itu.. pacarku.." Lirih Juvia yang membuat sesuatu terasa mengguncang dada Meldy.
Apa yang harus ku jawab, Gray? Lirih Meldy seraya menggeser pandang kembali ke daftar baju dan menggigit ujung bibirnya.
"Aku memang bertemu dengan clien ku, Juvia." Jawab Meldy kemudian. "Setelah aku selesai berbincang dengan mereka. Tiba-tiba saja aku bertemu dengan Gray. Tak kusangka dia sudah kembali ke Crocus." Ujar Meldy dengan senyuman ambigu.
Juvia menatap Meldy datar. Bibirnya yang sempat terbuka mendengar jawaban Meldy barusan, ia tutup kembali. "Oh, begitu ya. Syukurlah." Hela Juvia seraya kembali menggeser pandang ke kardus baju. "Maaf sudah mencurigaimu, Meldy-san." Lanjutnya.
"Tak apa." Senyum Meldy sampai menyipitkan kedua matanya.
Juvia tersenyum menatap baju yang ia keluarkan satu persatu dari kardus itu. Sementara Meldy masih terus menatapnya tak tega. Maafkan aku Juvia. Ucap Meldy dalam hati sembari menggenggam erat papan daftar baju itu.
Mendadak, sebuah deringan singkat mengalun dari dalam tas Juvia. Suasana yang terasa mencengkram bagi Meldy pecah seketika ketika suara itu berhasil menyentak dirinya dan Juvia. Juvia berjalan menghampiri sofa tempat dimana tasnya tertidur dan kemudian merogoh ponsel yang berada didalamnya. Juvia sedikit terenyak, sebuah pesan masuk dari nomor seseorang yang sudah lama tak ia lihat muncul di depan layar ponselnya.
Juvia.. bisa kita bertemu di jembatan dekat taman kota jam tiga nanti? Ada yang harus aku bicarakan padamu.
Lyon berlari tunggang langgang menuruni anak tangga gedung 4 milik jurusan Arsitektur di Fakultas Teknik ini. Ia tak memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh dan bahkan tak segan menepis siapa saja yang menghalangi jalannya. Sampai akhirnya Lyon berada di lantai dasar gedung itu. Dengan sigap, ia membelokkan langkah keluar dari Fakultasnya ini. Mempercepat lari hingga ia bisa sampai ke halaman samping Auditorium yang tak jauh dari Fakultasnya dan Fakultas Ekonomi.
Setelah cukup lama berlari meniti kawasan UC yang sangat luas itu, Lyon tiba juga di halaman samping Auditorium yang tertutupi dinding putih yang menjulang tinggi dan pagar kawat yang membatasi gedung dengan kawasan luar.
Lyon mengatur napasnya. Ia sampai memegang lutut sanking lelah berlari hampir 1 km dari Fakultas Teknik. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seorang pria yang berdiri menyandar pada pagar kawat sana tengah menatap arah yang berlawanan dengan kedatangan Lyon dan rambutnya yang tersapu angin sayup.
Setelah cukup mengatur napas, Lyon mulai melangkah menghampiri pria itu. Suara langkahnya yang berhasil memijak salah satu ranting tipis di rerumputan membuat pria raven itu menggeser pandang menatapnya.
"Oh, sudah datang ya?" Lirihnya sembari menegakkan tubuh dan ikut berjalan menghampiri Lyon. "Untuk apa kau menyuruhku datang kesini?" Tanya Gray sembari melemparkan tatapan dingin pada sepupunya.
"Gray.." Gerutu Lyon. Tangannya sudah terkepal kuat menampakkan urat yang menjalar tegang ke sisi lain telapak tangannya.
"Ada apa?" Tanya Gray lagi. Ia bisa merasakan ada hal aneh pada sepupu bodohnya itu.
Lyon menggertak giginya, dengan langkah cepat, ia segera melayangkan pukulan kuat ke wajah dingin Gray yang saat ini benar-benar sangat dibencinya.
Brak! Tubuh Gray sampai menubruk pagar kawat akibat pukulan dahsyat barusan.
Gray kontan menajamkan alisnya, menyeka ujung bibir yang kini memar dan berdarah. Kemudian meludahkan darah ke bawah pagar itu.
"Kenapa kau memukulku?" Tatap tajam Gray pada Lyon. Lyon membalas tatapan tajam itu dengan mata yang bahkan lebih tajam dari milik Gray, seakan amarah benar-benar memenuhi sekujur tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan di Ishgar?!" Tanya Lyon lantang pada wajah dingin nan tajam yang memang hanya milik sepupunya seorang.
"Fuh. Apa perlu aku jelaskan padamu?" Dengus Gray seraya tersenyum menyebalkan.
"Aku tanya! APA YANG KAU LAKUKAN DI ISHGAR?!" Tanya Lyon memekik yang bahkan tak membuat wajah Gray memudarkan ekspresi khasnya itu.
"Kau sudah tahu, bukan?" Jawab Gray enteng yang kali ini berhasil menyulutkan kobaran api yang semakin besar didalam tubuh Lyon.
Lyon mendecak. Ia benar-benar tak menyangka Gray akan menjawabnya seperti itu, seakan rasa bersalah benar-benar sudah mati didalam dirinya. Dan yang lebih membuat Lyon kesal, Gray sungguh tak menyangkal apa yang tengah ia pikirkan.
"Kau.." Geramnya sembari mengepalkan tangan kembali dan sekali lagi Lyon melayangkan pukulan keras ke wajah itu.
"Kau Menghianati Juvia, kan?!" Pekik Lyon yang hanya dibalas dengusan dan senyuman singkat dari Gray yang tengah kesakitan akan pukulan yang barusaja diterimanya. Sudah tidak diragukan lagi. Cuti kuliah.. Januari.. Ishgar.. Suara perempuan itu.. Nama panggilan yang di dengar Juvia..
Lyon kontan pitam saat ini.
"Dasar Brengsek!" Pekik Lyon seraya menarik kerah kemeja biru tua Gray.
"Kau juga sama brengseknya denganku." Ucap Gray dingin. "Kau mencariku selama ini karena Juvia, kan?" Lanjutnya. "Kau meneleponku sebulan lalu, hanya karena Juvia kan?" Tambahnya lagi. "Lalu setelah semua info yang kau dapatkan tentangku, kau sama sekali tak memberitahukannya pada Juvia, kan?"
Gray mendengus kesal. Rasanya ia juga ingin memukul Lyon karena telah menipunya sebulan lalu.
"Setidaknya aku tidak sampai menyakitanya selama berbulan-bulan seperti yang kau lakukan, sialan!" Kesal Lyon balik.
"Oooh, benarkah?" Alis Gray naik sebelah menatap wajah Lyon. "Aku bertaruh Juvia juga akan membencimu jika dia mengetahuinya." Senyum Gray dingin.
Tangan Lyon lagi-lagi terkepal erat. Seperti biasa Gray paling ahli dalam mempermainkannya.
"Setelah menyakitinya sebanyak itu, kau masih bisa tersenyum?! Aku benar-benar menyesal merelakannya padamu!" Kesal Lyon seraya menghempaskan tubuh Gray ke pagar kawat dibelakang.
"Kalau kau menyesal, kenapa tidak kau katakan saja pada Juvia betapa brengseknya pacar kesayangannya ini?" Ujar Gray yang lagi-lagi membuat Lyon terbakar amarah. Lyon menarik kembali kerah baju itu dan berniat melayangkan pukulannya kembali ke wajah Gray sebelum sebuah telapak tangan menangkap kepalan itu.
"Juvia sangat mencintaimu! Dia sampai datang sejauh ini hanya untuk mencarimu! Dia tak peduli apapun yang didapatnya jika ia bertemu denganmu! Dia tidak peduli meski kau sudah berkali-kali menyakitinya! Dia tetap mencintaimu! Dan kau.." Gerutu Lyon.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi." Jawab Gray enteng. Wajahnya sudah tak menajam menatap Lyon, tetapi masih dalam keadaan dingin yang mencengkram. Lyon tersentak. Ia menurunkan tangannya dan melepaskan cengkraman kerah kemeja Gray.
"Dia membutuhkanku. Makanya aku pergi dengan dia, meninggalkan Juvia." Jelasnya. Lyon masih menatap wajah Gray tak percaya. "Juvia sudah baik-baik saja sekarang. Juvia tidak serapuh saat aku meninggalkannya di Magnolia dua setengah tahun lalu. Lagipula Ibunya juga sudah baik-baik saja sekarang. Jadi aku tak perlu berada disamp-"
BRAK! Lyon kembali memukulnya lebih keras. Dadanya memburu. Amarah sudah memenuhi seluruh tubuhnya. Pukulan barusan bahkan sangat terasa berbeda dengan yang diterima Gray sebelumnya. Bahkan tubuh Gray sampai terpelanting menabrak pagar kawat dan mendarat ke rerumputan.
"Apa yang kau tahu tentang Juvia, ha?!" Pekik Lyon tak terima. Mendengar Gray berkata soal Ibu Juvia, Lyon jadi teringat dengan perkataan gadis itu.
"Gray-sama tidak tahu kalau ibu sudah meninggal."
"Ck! Kau memang bodoh!" Runtuk Lyon seraya menatap tajam wajah dingin itu yang kembali menyeka darah diujung bibir.
"Setidaknya, aku sudah tahu apa jawabanmu sekarang!" Seru Lyon sembari membalikkan langkah kakinya. "Jadi jangan menyesal bila aku merebut Juvia dari tanganmu mulai detik ini!" Lanjutnya seraya melirik Gray yang masih terduduk dirumput, dari ujung bahunya. Angin kembali berdesir, menyambut kepergian Lyon, menghempaskan kedua surai berlawanan warna itu, rumput, dan pohon disekitarnya.
Gray menatap punggung Lyon makin dingin, bibirnya tersungging senyuman kecil, dan kemudian ia mendengus lucu.
"Ambil saja kalau kau mau."
Pukul 15.10, Jembatan di Sebelah Taman Kota
Juvia menyangga kedua tangan ditepi jembatan sembari menggenggam ponsel dan menatap air pancur yang tak jauh berdiri dari pandangan matanya. Sejak mengirimi Juvia pesan tadi, Gray sama sekali belum memberikan kabar lagi. Pesan itu seperti pesan pertama dan terakhir yang dikirim Gray pada Juvia. Sudah lebih dari 7 menit gadis itu menunggu kedatangannya disini, tapi tanda-tanda kehadiran Gray belum juga terlihat.
Tapi, yang menyulut pikiran Juvia saat ini bukanlah lamanya ia menanti kedatangan Gray, melainkan isi pesan yang dua jam lalu dikirimnya. Kalimat terakhir dari pesan itu masih terbayang-bayang di kepala Juvia. Ada yang harus aku bicarakan padamu. Juvia menghela, sejujurnya ia sangat penasaran apa yang akan dibicarakan Gray nanti dengannya. Tapi pertemuan ini sepertinya sangat menguntungkan untuk Juvia. Karena ia juga memiliki sesuatu yang harus ia bicarakan secara jelas dengan pria itu. Setidaknya, ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaannya selama ini.
Ya, semoga kali ini Juvia bisa mendapatkan jawabannya dengan jelas. Asalkan apa yang mau Gray-sama bicarakan tidak membuat semua ini menjadi semakin rumit. Lirihnya dalam tunduk.
Hingga beberapa menit ke depan terasa langkah kaki yang berjalan mendekatinya.
"Juvia.." Panggil orang itu yang kontan membuat Juvia menoleh. Tak salah lagi.
"Gray-sa.." Juvia segera membungkam mulutnya begitu mendapati wajah aneh dari orang yang perlahan berjalan makin mendekat dengan dirinya. Bahkan rasa penasaran dan niatnya untuk meminta semua penjelasan dari Gray mendadak lenyap begitu saja. Matanya membelalak begitu berhasil melihat dengan jelas memaran aneh pada pipi kiri Gray yang kemarin masih terlihat baik-baik saja itu.
"W-Wajahmu kenapa Gray-sama?" Tanya Juvia begitu Gray menghentikan langkah tepat didepannya. Gray mengelus pipinya sedikit. Rasa sakit akibat tiga tonjokan maut dari Lyon nyaris saja membuatnya kehilangan salah satu gigi. Hal itu membuat Gray tak henti-hentinya meruntuki sepupu terkutuknya itu dengan makian kasar. Sialan. Aku jadi susah berbicara sekarang.
Wajah Juvia langsung berubah panik. "Apa yang terjadi, Gray-sama?" Tanyanya lagi seraya mengangkat kedua tangan untuk menyentuh kedua pipi Gray.
"Agh." Rintih Gray saat tangan Juvia mendarat di pipi memarnya itu.
"Maaf." Seru Juvia khawatir. "Ya ampun, kenapa bisa sampai memar parah begini?"
Gray mencoba membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan yang terus-terusan muncul dari bibir Juvia. "A-Aku hanya terjatuh dari tangga tadi." Jawab Gray yang jelas berbohong.
Juvia tersentak. Ia tak sepolos itu sampai harus mempercayai apa yang baru saja di katakan Gray. Tapi dari wajah itu, Gray benar-benar terlihat enggan membicarakan hal yang mungkin saja memalukan baginya.
"Kenapa bisa sampai separah ini? Hati-hati dong Gray-sama.." Ucap Juvia makin khawatir. Gray tersenyum, walau sudah lama tak bertemu dengan Juvia. Tapi memang gadis berambut gelombang laut itu tak pernah merubah sifatnya sama sekali.
"Iya.." Balasnya lembut sembari mengenggam tangan Juvia yang berada di pipinya yang tidak memar. Memejamkan mata dan mengelus lembut tangan itu di pipinya.
Juvia terenyak. Semburat tipis muncul begitu saja di wajahnya. Sementara Gray masih menutup mata meski perlahan seluruh tubuh Juvia terasa semakin memanas.
Kau berhutang padaku Lyon. Kalau saja Juvia tahu pipiku memar karena pukulanmu, dia pasti akan marah besar padamu. Lirih Gray dalam hati sembari mendengus.
"Gray-sama.." Panggil Juvia akhirnya. Sejujurnya ia tak mau berlama-lama merasakan hawa panas yang terus-menerus mengalir disekujur tubuhnya akibat perilaku ini, karena yang lebih utama sekarang adalah mengobati pipi itu. Gray membuka matanya dan menatap Juvia tak berekspresi. "Ikut aku. Ayo kita obati pipimu." Lanjut Juvia seraya menggeser langkah hendak membawa Gray meninggalkan jembatan.
"Tidak perlu." Sanggah Gray sembari menahan Juvia dengan genggaman tangannya. "Aku baik-baik saja." Lanjutnya masih dalam senyuman.
"Kau yakin?" Tanya Juvia begitu menoleh.
Gray mengangguk mantap membalasnya. Juvia hanya bisa menghela dan membalikkan tubuh kembali berhadapan dengan pria itu.
"Maaf mengganggu jam kerjamu, Juvia." Ucap Gray seraya melepaskan tangannya. "Ada yang harus kita bicarakan."
"Hm. Tidak apa-apa. Kau juga sudah bilang begitu dipesan tadi." Balas Juvia sembari merunduk. Ia sedikit menekan kulit ujung jempolnya dengan kuku jari telunjuk begitu merasakan atmosfer diantara mereka mendadak berubah.
"Ada yang ingin kusampaikan padamu sejak Desember tahun lalu." Ujar Gray yang membuat Juvia membelalak. Bulu kuduknya terasa berdiri saat itu juga seakan udara dingin baru saja menghantam tubuhnya. Entah kenapa sekarang Juvia merasa sangat takut. Takut kalau Gray akan..
"Juvia maaf aku menghilang selama ini." Aku Gray yang membuat perasaan didada Juvia terus menerus mengalun tak menentu. "Seharusnya, aku menyampaikan ini padamu sebelum aku berangkat ke Ishgar waktu itu.. Tapi aku rasa kita harus.."
"Gray-sama!" Potong Juvia lantang membuat Gray langsung membungkam mulutnya. Airmata mendadak menetes dari pelipis gadis berambut biru laut didepan Gray itu. Matanya merah, berkaca-kaca seakan rasa sakit tergambar jelas dimatanya.
"A-Aku percaya padamu." Ujar Juvia. Air kembali menetes mulus ke pipinya membuat Gray makin membungkam mulut dan terperangah menatap wajah itu. "Selama ini, selama ini aku selalu percaya padamu.. Selalu.. Walau kau pergi aku tetap percaya padamu." Makin deras air mata itu menetes dari pelipisnya.
"Walau mereka selalu membicarakan hal buruk tentang dirimu, aku selalu percaya padamu. Sedikit pun aku tidak pernah meragukanmu... Jadi aku mohon, apapun yang terjadi padamu saat ini, kumohon Gray-sama.. Jangan pernah tinggalkan aku.." Ucap Juvia. Bahkan ia tak bisa melihat wajah Gray dengan jelas akibat genangan air matanya.
Tubuh Gray bergemuruh. Sesuatu mendadak menyentil relung hatinya sampai ia tak tahu harus menjawab perkataan Juvia seperti apa. Tanpa sadar, tangan Gray bergerak dengan sendirinya untuk membawa gadis itu masuk kedalam dekapannya. Memeluk gadis itu erat seakan air mata Juvia juga bagian dari rasa sakitnya.
"Maaf Juvia.. Maaf.." Ucap Gray lirih sembari menenggelamkan wajah ke surai biru laut itu.
UC Gallery, Pukul 19.30
Hujan lebat yang mengguyur kota Crocus selama tiga jam lebih tadi baru saja berhenti semenit lalu. Hal itu membuat seluruh perancang busana UC Gallery menghela napas lega. Pasalnya mereka kedapatan merancang busana untuk pergelaran Theater yang akan dibawakan para mahasiswa Fakultas Budaya dan Sastra dua hari lagi. Lantaran hujan tak henti-henti turun, mereka mengurungkan niat untuk membawa beberapa penggal gaun, baju, jas, aksesoris dan lain sebagainya ke Auditorium UC yang cukup jauh dari sini. Maka dari itu, tidak ada cara lain selain menunggu hujan berhenti.
Dan sekarang, langit benar-benar sudah tidak meneteskan cairan-cairan sejuk itu. Membuat kali ini semua orang sibuk bergegas menyiapkan peralatan untuk bergerak menuju Auditorium. Termasuk Juvia yang saat ini tengah menatap masam Meldy yang lagi-lagi heboh tak menentu didepannya. Tapi Juvia sudah tak ambil pusing akan hal itu, sudah biasa, sangat biasa. Ia menghela sembari mengambil sekotak gaun diatas meja dan berjalan mengikuti yang lainnya menuju Auditorium. Daripada melihat Meldy mondar-mandir tak menentu, lebih baik ia membantu para pegawai yang lain.
Begitu melewati pintu utama UC Gallery, mendadak sebuah suara membuat Juvia tersentak.
"Masih lama ya?" Ujar suara yang mengagetkan itu. Tubuh Juvia bergetar bak mendengar suara malaikat maut. Dengan segera ia menggeser pandang dan mendapati Lyon tengah berdiri tepat disamping pintu.
"Yo!" Sapanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Pekik Juvia.
"Menunggumu." Jawabnya ringan.
"Sudah ku bilang, aku sibuk hari ini. Jadi kau pulang duluan saja." Juvia masih membalas suara Lyon dengan pekikan hebat.
"Hujan. Bagaimana mau pulang?" Jawabnya enteng lagi.
"Alasan! Hujannya 'kan turun jam empat tadi. Kau bilang hari ini perkuliahanmu selesai jam tiga! Lagipula kau 'kan naik mobil, bodoh?" Kesal Juvia. Ia tak enak hati melihat Lyon selalu menunggunya seperti ini.
"Aku sudah disini, jadi mau bagaimana lagi?" Tanyanya ketus yang membuat kepala Juvia seakan di hantam empat kerut siku. Sementara tanpa sadar, beberapa pegawai UC Gallery yang berjalan bersamanya menatap mereka bergantian.
"Ck. Terserah. Tunggu saja disini. Aku mau mengantar kostum ini dulu ke Auditorium." Ucap Juvia mengalah seraya kembali melangkah. "Oh ya.." Kerjap Juvia seraya menolehkan kepala kembali ke Lyon. "Jangan menganggu ataupun Mengikutiku!" Lanjutnya begitu sadar barusan Lyon hampir melangkahkan kaki untuk mengikuti dirinya.
"Dasar.." Gumam Juvia kesal seraya berjalan menjauhi UC Gallery.
"Hihi. Pacarnya Juvia-san baik sekali ya." Kata salah satu staff yang ikut berjalan disebelahnya diiringi dengan anggukan dari beberapa orang yang lain. Juvia tersentak dan segera melemparkan pandang ke beberapa orang itu.
"Dia bukan pacarku!" Timpal Juvia kesal. Selalu saja mereka beranggapan begitu dan ujung-ujungnya selalu tertawa melihat reaksi sanggahan Juvia. Menyebalkan.
Pacarku itu kan.. Gray-sa.. Mendadak Juvia membungkam lirihan hatinya sendiri. Mengucapkan nama Gray membuatnya kembali memutar ingatan di Jembatan Taman Kota jam tiga tadi. Juvia sedikit menundukkan kepalanya ke bawah dan membayangkan nanar kejadian itu.
"Tapi aku rasa kita harus.."
Juvia mendecak setiap kali kalimat terpotong yang diucapkan Gray tadi kembali terngiang di telinganya. Wajah, hawa sekitar dan kata-katanya itu terasa sangat mencengkram diri Juvia, seakan Gray akan memuutuskannya saat itu juga. Dan itu benar-benar membuat dada Juvia sangat sakit. Juvia menarik napas singkat, menggigit ujung bibir sembari meremat erat bajunya didepan dada. Menahan rasa sakit yang sangat mengilukan dadanya ini. Meski akhirnya Gray malah memeluknya dan tak jadi melanjutkan kata-kata, tapi tetap saja Juvia tak bisa melupakan hal itu. Sungguh, ia benar-benar tak bisa mengerti Gray yang sekarang.
Apa sikap Gray-sama ini ada hubungannya dengan nama panggilan itu? Apa dia menghia- . . Aaaargh, apa yang kau pikirkan Juvia?! Kesalnya sendiri dalam hati. Tapi nama panggilan itu.., Lu? Siapa Lu? Lucy kah? Ck. Mana mungkin. Bahkan dia yang memberitahuku kalau Gray-sama sudah kembali ke Crocus. Juvia kontan mengerjap. Tunggu! Dia tahu Gray-sama kembali?! Apa jangan-jangan memang..
Mendadak pikiran Juvia kembali melayang ke masa SMA dulu. Dulu, tepat empat tahun lalu, bukankah Gray pernah menyukai Lucy? Mata Juvia membelalak saat ia kembali mengingat hal itu. Perlahan suara Gray di SMA dulu dapat kembali terdengar ditelinganya.
"Lu, kau melihat Natsu?"
"Apa Erza ada mengatakan sesuatu padamu, Lu? Ya, yang bersifat pribadi mungkin?"
"Juvia, kau melihat dimana Lu sekarang?"
"Lu, kau kemana saja?!"
"Lu.."
"Lu.."
"Lu.."
Pikiran Juvia berputar-putar saat mendengar ngiangan suara Gray yang tak berhenti mengalun deras di telinganya. Tubuhnya sedikit bergetar. Rasa takut sungguh menjalar hebat di dalam dadanya. Bahkan sampai ia tak sadar, kalau mereka sudah berada di aula besar Crocus ini, menyerahkan kostum itu dan Juvia tak bergeming sama sekali. Ia masih berada dalam permainan pikirannya sendiri.
Mungkinkah? Seluruh tubuh Juvia berdesir.
"Aku pergi ya.. Jangan menangis Juvia.. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Suara Gray-sama saat sebelum keberangkatannya ke Crocus di Stasiun Magnolia saat itu kembali terngiang menimpah semuanya. Setelah meletakkan kardus didepan meja peralatan Theater, Juvia dengan sigap mengambil langkah mundur dan berlari meninggalkan ruangan meski beberapa orang sempat memanggil namanya kebingungan.
"Aku tidak akan menghianatimu. Aku janji. Aku sayang padamu."
Tes! Kali ini airmata mengalir kembali kedepan wajah cantiknya. Ia berlari tunggang langgang melewati koridor penghubung aula itu dengan ruangan lebar menuju pintu utama Auditorium.
"Kau percaya padaku 'kan, Juvia..?"
Hati Juvia mengilu sekarang.
Bohong kan? Apa yang ku pikirkan?! Pasti bohong! Tidak mungkin! Tidak! Tidak! Tidak Tidak! Tidak mungkin Lucy dan Gray-sama.. Mendadak Juvia menghentikan langkahnya. Ia tersentak begitu mendapati siluet yang berada didepan pintu sana terekam jelas dipengelihatannya. Entah kenapa, Juvia dengan segera menyembunyikan tubuhnya dibalik dinding rungan. Sedikit mengintip-memastikan apa yang tengah dilihatnya tadi memang hanya kebohongan. Tapi, perlahan siluet itu tampak semakin jelas. Dan apa yang ditangkapnya tadi benar-benar tidak salah. Itu... Gray-sama? Rambutnya, bajunya, celananya masih sama seperti yang tadi ia temui. Hal itu benar-benar membuktikan bahwa itu memang benar Gray-sama. Dan sesosok yang yang kini berada dipelukan tangannya itu... Seorang gadis.. Gadis? Berambut pirang? Berpita satu biru? Lucy?
Mata Juvia membelalak sepenuhnya sekarang.
-to be continued-
Hai Minna~
Hohoho, baguslah kemarin semuanya pada kesal sama Gray, bukan sama diriku hohohohooho *tawa Nista.. semoga chap kali ini juga bikin reader kesal #Plak! Ditimpuk sendal. :v wkwkwkw
Oh ya, Soal jawaban tentang dia yang kemarin aku sebutkan, sepertinya bisa kalian liat di chap sebelas ya? Gak enak kalau aku yang jawab. Haahaha, jadi biarkanlah fic yang menjawabnya :v #smirk.
Oke, sesuai janji kemarin, ini dia 2 chapter hadiah dariku.. selamat membaca~
