It's Okay
By : parasvana (FanFreaktion)
Disclaimer : This Story is mine, but the whole character is da bae(?).
Main Cast : Do Kyungsoo & Kim Jongin.
Additional Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Kim Junmyeon, Kim Minseok, Kim Jongdae, Huang Zitao, Minho (Shinee) and etc.
Pairing : Kaisoo, Chanbaek.
Genre : Romance, Friendship.
Warning : Boy x Boy (Yaoi), Typo(s), Absurd(?)
If you don't like gay's story don't read this, just leave without judging. Because I'm Kaisoo, Chanbaek, HunHan, ChenMin, SuLay, and TaoRis Shipper.
.
.
.
Pagi itu Kyungsoo heran ketika tidak menemukan Jongin, Chanyeol dan Junmyeon di sekolah, begitupun dengan para penggemarnya. Biasanya jam-jam seperti sekarang sekolah akan gempar karena kehadiran mereka yang mampu memecah histeria para gadis itu.
Ketika memasuki kelas Kyungsoo juga diherankan dengan tingkah Baekhyun yang tampak murung di mejanya, terlihat ketika namja itu justru menelungkupkan kepalanya di atas meja tidak bergairah, ketika Kyungsoo ingin mendekati Baekhyun dan bertanya apa yang terjadi langkahnya langsung di hadang oleh Minho yang langsung menarik pergelangan lengannya dan membawanya ke tempat duduk namja itu.
"Mana tugasmu?" Minho langsung saja menodongkan tangannya ke wajah Kyungsoo, namja itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengeluarkan dua lembar kertas besar dari dalam tasnya dan memberikannya pada Minho. Minho menerima kertas itu dan meneliti setiap jawaban milik Kyungsoo, matanya berbinar takjub saat mendapati bahwa jawaban Kyungsoo benar semua. Dari mana ia tahu jika jawaban milik Kyungsoo benar semua? Itu karena malamnya Minho diam-diam juga mengerjakan milik Kyungsoo untuk berjaga-jaga, jadi pagi ini ia hanya harus menyamakan jawabannya dengan namja itu dan hasilnya hampir sama semua karena Minho akui jika miliknya ada yang salah.
"Ternyata ibumu benar-benar pintar yah…" Minho melemparkan senyum manisnya pada Kyungsoo berharap jika namja itu akan terpikat. Namun justru wajah bingung Kyungsoo yang ia dapat.
"Ibuku?" Kyungsoo mengerjab bingung sekali lagi.
"Ya… kau bilang akan mengerjakannya bersama ibumu kan?" Minho mengernyitkan alisnya karena turut bingung dengan kebingungan yang tertera di wajah manis Kyungsoo.
"Err… Ya." Kyungsoo menggaruk pelipisnya lalu sedikit melirik Baekhyun yang masih tertunduk lesu dari tempatnya. "Jadi… errr apa jawabannya benar?"
"Ya." Minho mengangguk mantap namun tidak menghilangkan gurat bingungnnya melihat keanehan Kyungsoo.
"Daebak!" Kyungsoo mengerjab lagi lalu menggaruk pelipisnya.
Jadi benar jika Jongin pintar eh? Woaah… aku harus banyak belajar darinya. Hatinya berdecak kagum.
"Aku jadi ragu jika kau mengerjakannya bersama ibumu." Minho menatap Kyungsoo menyelidik.
"I… Itu kan tidak penting Minho, yang penting aku sudah mengerjakannya." Tiba-tiba saja Kyungsoo menjadi salah tingkah sendiri ketika mengingat bagaimana Jongin mengajari dirinya dan Baekhyun kemarin untuk tugas fisika ini.
"Itu penting! Kau harus mengerti Kyungsoo! Aku tidak mau nilaimu buruk di mata pelajaran ini."
"Eum Minho, aku mengerti kok…" lagi-lagi Kyungsoo menggaruk pelipisnya. Apa benar ia mengerti? Dari kemarinkan ia hanya fokus dengan Jongin bukan dengan bahan ajarannya. Tiba-tiba saja semburat merah menjalar dari leher hingga kupingnya saat menyadari jika ia kemarin memperhatikan Jongin dengan begitu memuja.
Astagaa… apa yang aku lakukaan?
"Kau kenapa merona begitu eoh?" Kini Minho benar-benar di buat bingung sekaligus penasaran dengan Kyungsoo yang bertingkah aneh.
"Ah tidak! Sudah ya Minho aku… aku ingin ketoilet dulu." Kyungsoo buru-buru menaruh tasnya di atas meja dengan asal saat melihat Baekhyun melangkah keluar dari dalam kelas.
"Baekhyun!" Kyungsoo mengejar langkah namja itu setelah berada di sisinya Kyungsoo menatap Baekhyun dengan heran karena namja itu nampak beda pagi ini.
Jangan-jangan ada hubungannya dengan…. Kyungsoo tidak jadi menduga, jadi ia lebih baik menanyakannya langsung agar rasa penasarannya tuntas, "Kau kenapa eoh? Apa ini ada hubungannya dengan tidak adanya Chanyeol dan yang lain?"
"Errr tidak… memangnya aku kenapa?" Baekhyun menatap Kyungsoo dengan bingung atau lebih tepatnya berpura-pura bingung.
"Ada aura hitam di sekelilingmu." Kyungsoo bergidik ngeri dan Baekhyun hanya menghembuskan nafasnya gusar, melihat itu Kyungsoo semakin curiga di buatnya, "Kau tahu kemana para namja itu?"
"Aku tidak tahu." Jawab Baekhyun dengan lesu sehingga Kyungsoo dapat menyimpulkan jika ini memang ada kaitannya dengan ketidak hadiran para namja itu.
"Apa kau sedang ada masalah Baek? Kau bisa bercerita padaku." Kyungsoo menyentuh bahu Baekhyun lalu menatapnya khawatir, Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain sebelum akhirnya kembali menghembuskan nafasnya.
"Nanti saja…" Baekhyun melepaskan tangan Kyungsoo dari pundaknya sebelum akhirnya ia berbalik pergi dan meninggalkan Kyungsoo yang kini benar-benar kebingungan dengan sikap aneh Baekhyun. Tidak lama dari itu bel yang menandakan masuk berbunyi membuat Kyungsoo mendesah malas sebelum akhirnya kembali beranjak ke kelasnya.
.
Dewi keberuntungan kini tengah berpihak pada kelas Kyungsoo sebab guru Matematika yang seharusnya mengajar pagi ini tidak dapat masuk kelas, oleh karena itu kini keadaan kelas benar-benar terlihat kacau. Kyungsoo menghembuskan nafas bosan apalagi saat Baekhyun sejak tadi tidak kembali ke kelas, mungkin namja itu bolos?
Minho tiba-tiba saja datang dan menarik bangku untuk duduk di dekat Kyungsoo, "Dari pada kau jenuh lebih baik kita belajar." Minho membuka buku paket matematika membuat Kyungsoo lagi-lagi menghela nafas keberatan.
"Err… maaf Minho tapi aku sedang tidak dalam keadaan mood yang baik untuk belajar." Kyungsoo memainkan jemarinya tanpa berminat menatap wajah Minho. Kyungsoo heran kenapa pagi ini moodnya sangat buruk, apa mungkin karena ia tidak melihat keberadaan Jongin pagi ini? Apa benar karena itu?
Minho berdecak sesaat, "Lebih baik kau bolos saja kalau begitu." Sindirnya namun justru membuat Kyungsoo mengangkat kepala dan menatapnya dengan berbinar seolah baru saja dapat pencerahan dari sindiran namja itu.
"Ah kau benar!" Kyungsoo tersenyum puas lalu dengan gerak cepat ia berlari keluar mennggalkan Minho yang hendak protes untuk mencegahnya.
Kyungsoo membolos bukan semata-mata hanya untuk membolos saja tapi ia ingin mencari keberadaan Baekhyun dan menanyakan perihal yang tadi pagi. Ia berkeliling untuk mencari Baekhyun, mulai dari toilet, taman belakang sekolah sampai kantin tapi tidak ada, jadi Kyungsoo memutuskan untuk ke belakang sekolah tempat di mana ia bertemu Kris ketika membolos. Siapa tahu namja itu ada di sana kan?
Sayup-sayup Kyungsoo dapat mendengar seseorang tengah berbicara di sana, dari suaranya Kyungsoo dapat mendebak jika di sana mungkin saja ada lawan bicaranya dan mungkin lebih dari dua satu orang. Karena penasaran Kyungsoo melangkah mendekat dan merapatkan tubuhnya pada dinding sekolah.
"Ck! Kenapa ketika sedang stress kalian selalu melampiaskannya pada rokok?" Mata besar Kyungsoo membulat sempurna karena terkejut, itu suara Jumyeon. Kyungsoo meneguk air liurnya kelu, siapa yang Junmyeon maksud dengan mereka? jangan-jangan… Jongin… Chanyeol?
"Kau tidak mengerti Hyung… setidaknya benda ini mampu meringankan penat kami." Kyungsoo langsung saja jatuh merosot ke bawah saat mendengar suara Jongin menyahuti, tubuhnya masih bersandar pada dinding yang dingin. Air matanya mengembang. Mungkin hanya sekedar rokok tapi Kyungsoo benci pada perokok.
"Kau tahu benar jika anak itu benci pada perokok Jongin-ah, kau ingin mengecewakannya eoh?" suara Junmyeon terdengar lagi. Siapa yang Junmyeon maksud dengan anak itu? Lagi-lagi Kyungsoo hanya mampu untuk menduga-duga dengan jantung yang berdegup kencang. Dirinya? Sudah pasti tidak mungkin karena Jongin ataupun Junmyeon belum mengetahuikan jika dirinya benci pada perokok.
"Kecewaku jauh lebih berat." Jongin menyahuti dengan suara yang murung.
"Tapi itu bukan salah dia." Kini suara Chanyeol terdengar.
"Kau tidak mengerti Hyung, bagaimana di pandang seperti orang asing oleh orang yang kau cintai setengah nyawamu."
"Tapi dia bahkan sudah membuka hatinya padamu Jongin-ah." Suara berat Chanyeol terdengar lagi.
"Itu tidak cukup! Terkadang ia masih bersikap canggung padaku! Dan itu benar-benar melukai egoku!"
"Semuanya butuh waktu Jongin-ah!" suara Junmyeon terdengar sedikit membentak.
Siapa yang mereka maksud? Siapa orang yang tengah mereka bicarakan? Siapa? Aku? Tidak mungkin! Pasti orang lain… tapi… tapi siapa? Siapa yang di cintai Jongin sampai setengah nyawa namja itu? Siapa? Jadi Jongin hanya menjadikan aku pelampiasannya? Apa maksud semua ini?
Ulu hati Kyungsoo seolah di pukul oleh sebuah godam yang sangat besar. Sakit. Rasanya menyesakkan. Kenapa harus seperti ini? Seharusnya biasa saja, dirinya bahkan baru mengenal Jongin tapi kenapa rasa yang Kyungsoo miliki untuk namja itu begitu besar? Kenapa? Seharusnya tidak begini. Apa yang Jongin telah perbuat sampai rasanya sangat menyakitkan?
Air mata Kyungsoo menetes mendengar penuturan Jongin, "Aku tahu… tapi bagaimana jika dia tidak bisa mengingat semua kenangan yang telah kami rangkai sebelumnya? Ini sangat menyakitkan… karena aku mencintainya sejak dulu… cinta dan kenangan tidak akan bisa terpisahkan Hyung." Cukup. Kyungsoo tidak dapat mendengarnya lagi.
Siapa yang di cintai oleh Jongin sejak dulu? Sudah pasti bukan aku… Karena kami bahkan baru bertemu…
"Kau buat lagi memori indah untuknya." Sahut Chanyeol.
"Ck! Mudah sekali kau berbicara seperti itu." Suara Jongin terdengar dingin ketika menyahuti ucapan Chanyeol barusan, mungkin sedikit terdengar putus asa.
"Cukup Jongin! Kau sudah hampir menghabiskan setengah bungkus rokok itu! Kau masih ingin tambah?! Kau ingin mati eoh?" suara marah Junmyeon terdengar.
"Biarkan Hyung… aku sungguh membenci diriku sendiri!"
"Berengsek! Sejak kapan kau menjadi lemah seperti ini eoh?!" Maki Chanyeol.
Jongin terkekeh sinis, "Sejak aku butuh cintanya but it's never the same."
Entah kerasukan setan apa Kyungsoo bangkit dari keterkejutannya, ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya untuk menghampiri mereka. Kyungsoo menatap Jongin dengan air mata yang menetes satu persatu. Ia menangis karena ia kecewa. Kyungsoo menatap Jongin yang kerah bajunya tengah di cengkram oleh Chanyeol sedangkan Junmyeon mencengkram tangan Jongin yang tengah memegang rokok yang menyalah. Semuanya masih setia di tempatnya dengan posisi yang sama namun tatapan mereka terfokus pada Kyungsoo yang melangkah mendekat.
"Kyu…Kyungsoo." Jongin tergagap ketika Kyungsoo mengambil puntung rokok dari tangannya. Tanpa berfikir panjang Kyungsoo lantas langsung meremas rokok itu dengan tangannya tanpa mengindahkan rasa sakit yang membakar tangannya. "Kyungsoo!" Jongin buru-buru saja melempar sebelah tongkat yang menyanggah tubuhnya lalu segera menarik pergelangan tangan Kyungsoo.
"Ini tidak seberapa… " Kyungsoo terisak lalu ia menunduk, "…Hatiku bahkan lebih sakit…" Kyungsoo semakin terisak kencang, "…Kau berbohong padaku…"
"Kyungsoo aku ti-"
"Siapa orang itu?" Kyungsoo mendongak dan menatap Jongin dengan linangan air mata yang membasahi wajahnya, Jongin membeku seketika.
"A… Apa maksudmu?" Lidahnya terasa kelu, genggamannya di pergelangan Kyungsoo mengerat.
"Seharusnya tidak seperti ini Jongin… tidak… karena aku dan kau baru saling mengenal… seharusnya aku biarkan kau hanya menjadi stranger di hidupku… kau mempermainkanku… Liar!" Kyungsoo semakin terisak di tempatnya, tangannya yang di genggam oleh Jongin terkepal kuat. "Brengsek! Kau hanya orang asing di hidupku! Jika kau mencintai orang lain seharusnya jangan mempermainkan aku! Enyah kau!"
Jongin mematung di tempatnya, hatinya teramat sakit mendengar semua perkataan Kyungsoo. Rasa benci menguasai dirinya, dendam itu kembali muncul kepermukaan. Sakit dan benci membaur menjadi satu di hati Jongin yang semakin lama menjadi retak hingga detik berikutnya hatinya bisa jadi sudah hancur berkeping-keping.
Perkataan Kyungsoo benar-benar menghunus dirinya, menjatuhkan egonya, menyakiti cintanya, apa lagi yang kurang? Bukankah itu sudah sempurna untuk membunuh dirinya. Rasanya semua perjuangan yang ia lakukan hanya sia-sia seiring perkataan Kyungsoo. Jongin bahkan rela cacat untuk Kyungsoo tapi kenapa takdir yang dikirim untuknya sangat pelik? Kenapa harus mereka?
Jongin tidak marah pada Kyungsoo karena kecacatannya, ia tidak marah pada Kyungsoo karena terror yang kini menghantuinya, Jongin tidak marah pada Kyungsoo karena ia tahu jika namja itu hanya korban dari masalah ini. Tapi, kenapa sekarang justru Jongin merasa marah, ia benci, ia kecewa, ia sakit. Bodohnya rasa itu hanya mampu Jongin pendam karena si penyebab tidak memiliki ingatan yang sempurna untuk disalahkan seutuhnya.
Sekarang siapa yang patut Jongin benci? Kyungsoo? Tidak mungkin. Apa dirinya yang patut di benci karena tidak mampu menjaga dan melindungi Kyungsoo dari pembullyan itu? Ya, sepertinya ini memang salahnya karena tidak bisa melindungi Kyungsoo dengan baik.
Atau… mungkin ini memang cara tuhan untuk memisahkan mereka? Jongin benar-benar merasa sendirian sekarang. Ia merasa hancur tak tersisah . Segala harap, asa dan angan yang Jongin tanam untuk mendekap kembali Kyungsoo entah lenyap kemana. Segalanya pupus. Jongin sudah tak sanggup untuk melewatinya seorang diri, ini terlalu berat. Ia tidak bisa jika harus menanggung beban ini jika si pemberi beban tengah bersembunyi di balik amnesianya. Ia tidak mampu ketika Kyungsoo masih menganggapnya orang asing ketika dulu banyak kenangan yang terajut di antara keduanya.
Tega sekali kau takdir. Jika memang harus berakhir kenapa jalan ini yang kau berikan? Kenapa harus aku yang merasakan sakitnya seorang diri? Aku mencintai Kyungsoo tapi kenapa harus di persulit seperti ini. Aku sakit. Tapi aku akan lebih membenci diriku sendiri jika harus melihat Kyungsoo sakit. Aku tidak bisa mengungkapkan semuanya. Aku tidak mau masalah yang Kyungsoo telah lupakan menghantuinya kembali. Kyungsoo hanya namja rapuh. Tapi siapa yang patut disalahkan sekarang? Siapa yang patut aku benci? Jalan mana yang harus aku pilih jika kesendirian kini telah mendekapku erat? Kyungsoo membenci diriku karena kesalah pahaman ini… tapi untuk sekedar menjelaskan aku tidak mampu. Takdir… bawa aku pergi bersama lenyapnya ingatan Kyungsoo… aku mohon.
"Jongin…" Junmyeon bersuara ketika melihat wajah pias Jongin yang sedari tadi hanya diam mematung bahkan namja itu tidak bergerak sejak Kyungsoo membentaknya. Tatapan Jongin kosong ketika menatap Kyungsoo yang masih menangis terisak.
Apa ini saatnya aku berhenti berjuang? Tapi… untuk meninggalkan Kyungsoo seorang diri aku tidak mampu.
"Jongin…" Kini suara Chanyeol yang terdengar tapi Jongin masih bergeming di tempatnya. Berdebatan batin untuk meninggalkan Kyungsoo atau tetap berada di sisinya benar-benar membuatnya gila. Jika ia meninggalkan Kyungsoo maka kelak Kyungsoo akan di kuasai oleh rasa sakit tapi jika ia tetap bertahan maka dirinya yang akan terus di hujam rasa sakit itu. Ia harus bagaimana? Mana yang harus ia pilih? Jongin memang cinta tapi jika seperti ini… apa ia masih bisa bertahan?
"Lepas." Kyungsoo menarik kasar tangannya dari genggaman Jongin hingga tanpa perlawan Jongin melepasnya. Kyungsoo berbalik dan hendak melangkah meninggalkan ketiga namja itu di sana namun Jongin langsung mendekapnya dari belakang, sebuah dekapan yang hangat dan erat. Sebuah dekapan yang membangun kembali segala asa, harap dan angan Jongin. Sebuah dekapan yang membakar kembali semangat Jongin untuk kembali berjuang. Sebuah dekapan yang membuktikan jika Jongin akan bertahan tidak peduli seberat apapun beban itu.
"Mian… Mianhae… Mian Kyungsoo-ya… Mian." Jongin menangis terisak di lekukan leher Kyungsoo. "…Jebal mianhae…" isakan Jongin semakin kencang. "Berikan aku satu kesempatan… aku mohon…" bisik Jongin di sela isakannya. "Aku salah… aku hanya mencintaimu Kyungsoo… hanya dirimu yang sekarang aku cintai… tetaplah berada di sisiku Kyungsoo…" Hati Kyungsoo rasanya seperti teriris saat mendengar rintihan Jongin seperti itu. "Jangan tinggalkan aku sendirian Kyungsoo… aku mencintaimu… gapai aku kembali Kyungsoo… aku mohon… jangan… jangan kau anggap aku orang asing dihidupmu… jangan buat aku hancur… aku mohon… jangan…" Jongin terisak pilu dan itu mengundang Junmyeon dan Chanyeol untuk ikut terisak seolah ikut merasakan sakit yang Jongin tanggung sekarang, andai bisa mereka ingin menghapus beban itu.
"Sekali kau melangkah pergi… aku akan hancur… aku mohon… maafkan aku… biarkan aku berjuang hingga akhir Kyungsoo… aku mohon… saranghae Kyungsoo-ya… saranghae… jebal saranghae…" Jongin semakin terisak pelu, kini tubuh namja itu gemetar hebat akibat tangisnya.
"…Cintai aku sekali lagi…" suara Jongin benar-benar terdengar putus asa di telinga Kyungsoo, hingga akhirnya Kyungsoo luluh. Mudah sekali hatinya memaafkan Jongin, ia tidak mengerti kenapa dan Kyungsoo lebih memilih untuk mengikuti hatinya. Hatinya begitu sakit mendengar semua rintihan Jongin untuknya. Menyesakkan sekali mendengar Jongin harus mengemis seperti itu padanya. Kyungsoo mencintai Jongin dan ia tidak akan peduli dengan masa lalu namja itu karena kini yang dibutuhkan oleh cintanya hanya waktu sekarang dan esok bukan masa lampau. Jika memang Jongin belum bisa melupakan masa lalunya maka biarkan cinta yang Kyungsoo miliki menghapus jejak kenangan Jongin dengan masa lalunya. Kyungsoo tidak mau menyesal karena kehilangan Jongin, ia tidak peduli walaupun mereka baru bertemu tapi entah kenapa cinta yang Kyungsoo miliki untuk Jongin sangat besar, seolah telah terpendam sejak lama. Akhirnya ia berbalik untuk membalas dekapan Jongin pada tubuhnya. "Jangan anggap aku orang asing Kyungsoo… aku mohon… obati luka di hatiku dengan cintamu… aku mohon." Dan yang mampu Kyungsoo lakukan hanya mengangguk pelan di dekapan Jongin.
Hingga akhirnya kedua hati itu kembali bersatu melupakan segala retakan yang telah bersemu kepermukaan, menghiraukan segala rasa sakit dan perih. Jongin yang bertekad untuk mendekap kemabli Kyungsoo tanpa harus peduli lagi dengan ingatan Kyungsoo dan Kyungsoo yang kembali membuka hatinya yang tanpa ia sadari ia telah jatuh pada pesona Jongin untuk yang kesekian kalinya. Mereka kembali merajut sebuah asa bersama-sama. Sebuah do'a terselip di hati Chanyeol dan Junmyeon yang menjadi saksi hidup peleburan cinta mereka di kala mentari pagi baru saja terbangun, sebuah do'a yang mereka harapkan akan terkabul.
Tuhan… tolong jangan pisahkan mereka… biarkan mereka bahagia… angkat segala beban di pundak mereka… aku mohon… sebuah lantunan do'a yang di panjatkan setulus hati dari sang sahabat kepada sahabat tercinta.
.
.
.
Kyungsoo memasuki kelasnya dengan mata yang bengkak, orang-orang di sana heran melihat keadaan namja itu hinga membuat Minho mendekatinya dengan mimik wajah khawatir tertera pada wajahnya, "Apa yang terjadi?" Minho menangkup wajah Kyungsoo.
"Tidak Minho, hanya masalah kecil… aku ini kan cengeng." Kyungsoo melepaskan tangkupan tangan Minho pada wajahnya lalu terkekeh pelan. Ia melirik meja Baekhyun yang masih kosong melompong. "Mana Baekhyun?"
Minho menggeleng acuh, "Mungkin dia masih membolos setelah ini kan pelajaran fisika." Minho mengangkat bahunya.
Tapi ada sesuatu yang aneh di sana. Kyungsoo menyipit curiga pada tempat duduk Baekhyun yang kosong melompong bahkan sekarang tas anak itu sudah tidak ada di tempat. Ada keganjilan ketika Kyungsoo melihat coretan-coretan spidol warna-warni mengotori tempat duduk Baekhyun. "SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!" Kyungsoo berteriak kesetanan seraya menggebrak meja milik Baekhyun. Suasana kelas yang tadinya ramai menjadi hening. Kyungsoo memandang bengis orang-orang yang menatapnya satu persatu.
"CK! Menjijikan sekali kalian. Apa kalian sadar jika diri kalian hina?!" Kyungsoo menampakkan senyum sinisnya, "Kalian marah pada Baekhyun karena menjalin hubungan dengan Chanyeol?! Idola kalian… Ck.. ck.." Kyungsoo menggeleng tidak percaya. "Kalian… para bedebah… seharusnya sadar, jika cinta kalian egois pada Chanyeol. Chanyeol mencintai Baekhyun! Dan kalian harus sadar itu! Sedangkan kalian apa?! Kalian bukan siapa-siapa di hidup Chanyeol! Dan kalian tidak berhak untuk melarang Baekhyun untuk membalas cinta Chanyeol! Sampai kapanpun Chanyeol tidak akan bisa membalas cinta kalian! Dasar pengganggu!" dengan emosi yang membara Kyungsoo menendang salah satu kursi di dekatnya hingga terpental jauh.
Kyungsoo berlari keluar untuk mencari keberadaan Baekhyun yang mungkin bisa jadi sudah parah. Ia berlari kesetanan menuju kelas Chanyeol tanpa memperdulikan guru yang tengah mengajar Kyungsoo membukanya dengan nafas yang terengah. "Maaf." Kyungsoo membungkuk saat mendapati seorang guru tengah menatapnya galak. "Saya akan bertanggung jawab dengan keributan yang saya buat tapi biarkan saya berbicara dengan Chanyeol." Kyungsoo menatap Chanyeol dengan gurat khawatir di matanya hingga namja itu bisa langsung menebak.
"Brengsek!" Chanyeol memaki sesaat sebelum akhirnya melesat pergi dari dalam kelasnya. Ketika Kyungsoo ingin berbalik dan mengikuti langkah Chanyeol telinganya langsung tertarik kencang ke samping. Dan Kyungsoo tahu siapa pelakunya. Guru yang terkenal killer seantero sekolah.
"Beraninya kau mengacau!" Kyungsoo meringis.
"Ehem… Maaf Philip Ssaem… bisa kau lepaskan?" Tiba-tiba saja Jongin sudah berdiri di samping Kyungsoo, ia menatap tajam guru tersebut hingga akhirnya dengan berat hati ia menuruti perintah Jongin.
"Biarkan kami yang memberinya pelajaran." Junmyeon langsung menyeret Kyungsoo keluar dan di ikuti Jongin di belakangnya, Pernyataan Jongin barusan membuat orang-orang di sana kini tengah saling berbisik.
"Apa yang akan terjadi pada anak malang itu jika mereka yang memberikan hukuman?"
"aku harap bukan sesuatu yang buruk."
"Kau tahu siapa dia?"
"Kasihan sekali."
Dan bisikan-bisikan seperti itu terus menggema di ruang kelas sebelum akhirnya sang guru membentak untuk kembali diam dan fokus pada pelajaran yang tengah ia bawakan.
.
Jedarr!
Suara bedebum pintu terdengar menggema di ruang ganti, suara gemanya menyisir kesunyian di sana. Mata Chanyeol membelalak liar menatap orang-orang di sana yang kini tengah menatapnya takut. Tanpa berfikir panjang Chanyeol langsung saja menghabisi mereka di tempat tanpa memandang laki-laki atau perempuan.
Chanyeol menatap lantai yang terdapat bercak darah dan juga buku pelajaran yang Chanyeol tebak itu milik Baekhyun berserakan di lantai yang basah. "Mana Baekhyun?" Chanyeol mencekik leher seorang gadis yang belum kena hajar oleh tangan dinginnya. Gadis itu gelagapan akibat cekikan Chanyeol pada leher jenjangnya.
Kyungsoo mematung di tempat ketika melihat beberapa orang yang berlari ketakutan dari dalam dan ketika ia ingin melangkah masuk Jongin buru-buru menahannya, ia menutup mata Kyungsoo dengan sebelah telapak tangannya, "Jangan lihat." Bisik Jongin.
Junmyeon dan Jongin dengan tenang menyaksikan bagaimana Chanyeol memperlakukan gadis itu. Tangan gemetarnya menunjuk sebuah loker membuat pandangan Chanyeol, Junmyeon dan Jongin beralih pada loker yang baru saja di tunjuk oleh gadis itu. Dengan gerakan kasar Chanyeol langsung membanting gadis itu hingga bunyi bedebum dan juga suara batuk gadis itu menjadi musik pengiring ketika Chanyeol membuka loker itu. Chanyeol mematung saat menemukan Baekhyun di sana dengan tubuh yang babak belur, ketika tubuh Baekhyun hampir terjatuh Chanyeol langsung menahannya dan membawanya ke dalam dekapannya. Jongin tercengang hingga akhirnya ia mengeratkan tangannya pada mata Kyungsoo yang ia tutup rapat-rapat.
"Baekh… Baekhyun." Chanyeol membelai wajah Baekhyun hati-hati, air matanya terjatuh melihat kondisi Baekhyun. Baekhyun tersenyum tipis ketika Chanyeol berhasil menemukannya.
"Chanyeol… maafkan aku."
"Ssst… bibirmu robek, jangan bicara." Bisik Chanyeol lalu dengan seluruh tenaganya Chanyeol langsung membawa Baekhyun pergi dari sana untuk di berikan penolongan.
.
Jantung Chanyeol berdegup kencang melihat kondisi Baekhyun sekarang. Sejak sampai di rumah sakit Chanyeol tidak sedetikpun meninggalkan Baekhyun bahkan Chanyeol tetap menemani Baekhyun ketika namja itu tengah mendapatkan penangan.
Rasa takut menguasai Chanyeol, ia takut kejadian yang menimpah Jongin dan Kyungsoo ikut menimpahnya. Jika itu sampai terjadi Chanyeol tidak yakin ia akan setegar Jongin. Kini ia mengerti sebenci apa Jongin pada pelaku pembullyan, dan rasanya sangat memuakkan. Chanyeol bersumpah setelah ini ia akan meminta Junmyeon untuk drop out seluruh orang yang besangkutan.
Chanyeol menatap Baekhyun yang terlelap, hatinya begitu teriris melihat Baekhyun yang babak belur seperti ini. Seharusnya ia tidak membiarkan Baekhyun untuk jauh dari dirinya. Dan lagi-lagi Chanyeol mengerti rasa menyesal yang menelusup di hati Jongin seperti apa.
Jongin yang mengerti keterdiaman Chanyeol hanya mampu meremas bahu namja itu memberinya support. Sedangkan Junmyeon yang berada di sebrangnya hanya mampu terdiam dengan hati yang menggeram menahan amarah. Setelah ini Junmyeon bersumpah jika ia akan mendrop out semua siswa dan siswi yang bersangkutan dengan khasus ini.
Kyungsoo yang duduk di ranjang yang sama dengan Baekhyun hanya mampu menitihkan air mata seraya menggenggam jemari lentik namja itu. Ia sangat sedih melihat kondisi Baekhyun yang seperti ini. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menepati janji untuk menjaga Baekhyun ia sangat menyesal.
"Baekhyun… cepat sembuh." Lirihnya hingga akhirnya mengundang sebuah dekapan Jongin yang mencoba untuk menguatkan dirinya.
.
.
.
TBC.
Yaaahahaha… sampai sini dulu cerita dari saya.
Well, aku ngerjain ff ini ketika ulangan fisika tengah berlangsung hohoho… ketauan banget ya mana IPA gadungan-_-v muehehehe…
Gimana part ini? Sebentar lagi HunHan akan tiba hehehehe… anyway… makasih ya yang udah mau nunggu cerita aku ini… makasih banyaak hueeee~ ^^
Review?
