Naruto berjalan perlahan mendekati Sakura yang berdiri membelakanginya di sebuah jembatan kayu yang dihiasi bunga rambat warna-warni. Dari sini, dari tempatnya berdiri, Sakura terlihat sangat cantik dengan Mini Dress Brokat maroon yang dikenakannya. Bahkan, belum melihat wajah Sakura pun Naruto bisa menebak kalau wanita itu sangat cantik malam ini. Naruto tersenyum. Tatapannnya lurus ke depan menatap Sakura yang menunggunya di jembatan.

Melihat sekitarnya yang hanya diterangi lampu-lampu taman, pohon, bunga dan aliran air buatan Sakura terdiam dalam lamunannya. Memikirkan banyak hal tentang hidup yang dijalaninya slama ini. Tentang betapa bodohnya ia yang menunggu orang yang sudah mati. Tentangnya yang begitu lemah dan banyak membuat orang menderita karenanya. Ini bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang orang-orang yang peduli padanya. Tentang perasaan mereka, juga tentang Naruto kekasihnya dan Naruto Namikaze. Sakura belum yakin dengan semua ini, tapi dia akan berusaha, belajar, menerima semuanya. Memulai hidupnya yang baru dan membahagiakan semua orang. Sakura berbalik dan menemukan Naruto yang berjalan pelan mendekatinya. Naruto Namikaze adalah sosok pria tinggi tegap dan tampan. Sakura akui itu. Dan bahkan dia jauh lebih tampan dari kekasihnya. Dia juga mapan. Tidak. Tapi kaya raya. Apa yang kurang darinya? Wanita buta, tuli, bisu, pun tahu, dia sosok pria sempurna. Semua wanita bisa jatuh cinta karena pesonanya. Jadi? Apa yang kurang darinya Sakura?

Sakura menatap Naruto lama membuat langkah pria itu terhenti. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak satu meter. Saling bertatapan. Mata Sakura berkedip beberapa kali dan kembali melihat Naruto. Naruto mengenakan kemeja putih dirangkap rompi hitam dan celana bahan mahal hitam sebagai bawahannya. Sementara rambut pirangnya berstaly acak-acakkan seperti biasa. Dia benar-benar Naruto Namikaze. Sakura tersenyum dan berlari memeluk Naruto. Kakinya sedikit berjinjit, didekapnya tubuh tinggi pria itu erat dengan kedua mata terpejam.

Naruto terkejut, tidak percaya, dan bingung ingin melakukan apa. Otaknya membeku, seluruh tubuhnya kaku, dan jantungnya berdetak dengan cepat. Dan sampai pada akhirnya ia kembali dari keterkejutannya. Ia tersenyum dan balas memeluk Sakura erat.

Ini yang selalu Naruto impi dan khayalkan. Ia tersenyum bahagia. Mereka benar. Cinta itu indah, hanya sentuhan sedikit saja sudah dapat menerbangkanmu ke langit ke tujuh. Jantungmu berdetak dengan sangat cepat dan seperti ada ribuan kupu-kupu memberikan sengatan menyenangkan pada setiap saraf tubuhmu. Dan Cinta itu efeknya lebih kuat dari heroin, alkhohol dan semacamnya. Dia bisa memberikan rasa bahagia, tenang, puas, lega, dan semua rasa menyenangkan lainnya. Dan Naruto tidak pernah sesenang ini selama hidupnya. Tidak pernah. Dengan semua pengalamn hidup dan yang dimilikinya, ini adalah moment paling membahagiakan. Sungguh.

"Beri aku waktu ..." Sakura berbisik dalam pelukkannya. Naruto diam mendengarkan dengan baik kata-kata wanita itu. "Sebentar saja," pelukkannya mengerat. "Belajar mencintai,"

Pelukkan mereka terlepas. Tangan Naruto menangkup wajah Sakura. Dengan ibu jarinya dia mengusap air mata wanita itu. "Sebanyak yang kau mau ... Sakura. Sebanyak yang kau inginkan."

Tatapan Sakura memburam karena air mata. Wanita itu mengisak, air matanya semakin deras menetes. Kenapa pria di depannya ini begitu baik padanya. Kemudian dipeluknya lagi tubuh pria itu. Menangis sepuasnya yang dia mau dipelukkan pria itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam itu, di bawah pohon, Naruto mendekap tubuh Sakura memberi kehangatan. Mini dress brokat yang dikenakannya membuat Sakura kedinginan. Naruto merutuki dirinya karena mengenakan rompi, bukannya blazer atau jas, kalau saja dia mengenakan dua benda itu ia bisa melindungi Sakura dari angin malam dan wanita itu tidak kedinginan seperti saat ini. Kedua mata Sakura yang terpejam perlahan terbuka saat satu daun disusul daun-daun yang lain menjatuhi ia dan Naruto. Pohon itu bergoyang seperti ada angin besar meniupnya membuat daunnya yang menguning berjatuhan. Sakura mendongak menatap pohon tempatnya berteduh kemudian menatap pohon lainnya. Pohon yang lain biasa saja, bergoyang ringan mengikuti arah angin. Wanita itu mengedipkan kedua matanya menatap bingung pohon itu. Naruto pun ikut mendongak kemudian tersenyum saat melihat siapa yang melakukannya. Lama tidak melihat, dan mendapat gangguan dari hantu itu membuatnya rindu.

"Kita pulang." Sakura beranjak dari dekapan Naruto kemudian tangannya diraih pria itu.

Naruto menarik Sakura kembali jatuh dalam pelukkannya. "Akan ku antar." Senyumnya. "Bukankah kau suka guguran bunga dan daun, Sakura?" Dalam pelukkan Naruto Sakura mengangguk. "Nikmatilah... ini malam kita." Naruto mendaratkan sebuah ciuman di rambut Sakura membuat wanita itu kembali memejamkan kedua matanya.

...

Naruto mengancingkan kemeja seraya tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Entahlah, sejak malam itu bibirnya selalu ingin melengkungkan senyum. Pria tampan berambut pirang itu memakai dasinya dengan rapih kemudian menoleh menatap Naruto si hantu yang duduk di atas lemari dua pintu besar miliknya. Dia tersenyum. "Lama tidak bertemu."

Naruto si hantu yang tadi menunduk menatap Naruto. Tidak ada senyuman, wajahnya terlihat tidak bersemangat, tanpa ekspresi. Melihat itu Naruto mengernyit dan berjalan mendekat. "Apa yang terjadi?" Dia bertanya khawatir.

Naruto si hantu menatap Naruto dalam diam. "Tidak."

"Apa yang terjadi?" Naruto mendesak Naruto si hantu untuk mengatakan yang sebenarnya.

Naruto si hantu mendesah seraya memejamkan mata. Perlahan dia membuka kedua matanya dan mendongak menatap langit-langit kamar Naruto yang didesain sedemikian rupa indah. "Aku tidak ingin Sakura melupakanku, itu saja. Aku ingin sekalipun dia menjadi milikmu dia tetap mengunjungiku, menyempatkan sedikit waktunya untuk. Dia cinta pertama bagiku ... aku tidak ingin dia melupakanku tapi aku sadar aku tidak boleh egois. Naruto ... aku akan menjadi langit yang mengawasimu dengannya. Bila cerah itu artinya aku bahagia, bila turun hujan artinya aku bersedih, bila turun salju anggaplah butiran salju itu bagian dari diriku. Aku akan pergi ... secepatnya. Aku sudah tidak bisa berada di sini." Perlahan tubuh Naruto si hantu semakin transparan. Dan saat tubuhnya semakin menghilang dia kembali berbicara. "Aku percaya padamu..." Belum sempat Naruto mengatakan sesuatu tubuh Naruto si hantu sudah benar-benar menghilang.

...

Maybach Landaulet putih Naruto terparkir di bawah pohon tidak jauh dari rumah lama Naruto si hantu. Di depan rumah Naruto tampak pria itu sedang menggulung lengan kemeja sampai batas siku dan bersiap mengangkat kaleng cat berukuran sedang. Dengan susah payah putra tunggal Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina itu mengangkat kaleng cat serta kuasnya. Dia tidak terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, lengan berototnya tidak terbiasa bermain dengan kaleng cat dan kuas dinding, jadi jangan menatapnya seperti itu. Naruto tersenyum melihat Sakura yang dengan ahli memasang kain di atas lemari, sofa dan meja di dalam rumah kecil itu. Di mata Naruto Sakura begitu manis dengan penutup kepala biru pucat di kepala merah mudanya. Tubuhnya yang indah sempurna mengenakan kaus lengan panjang dan celana jeans standart. Tapi itu tidak mengurangi keindahan tubuhnya di mata Naruto.

Wanita itu memergokinya cepat-cepat Naruto mengecat dinding tanpa tahu bagaimana caranya. Cat menetes mengotori lantai dan menempel dengan tidak rada di dinding. Melihat hal itu Sakura mendekati pria pirang itu. Digenggamnya tangan Naruto yang memegang kuas dan mengajari pria itu caranya mengecat. Naruto menoleh menatap Sakura yang mengarahkan tangannya. Cat putih sedikit mengotori wajah serta rambutnya membuat Sakura tertawa kecil. "Apa?" Tanyanya tak tahu.

Sakura terkikik. "Wajahmu," Naruto mengernyit bingung seraya mengusap asal wajahnya. "Ada cat di wajahmu." Sakura mengusap kening Naruto menghapus cat yang menempel di sana kemudian melakukan hal yang sama pada rambutnya. Naruto menatap Sakura yang sedang membersihkan cat di rambutnya. Dia tersenyum ketika tatapan mereka bertemu.

Setelah menghabiskan waktu tiga hari akhirnya Naruto selesai mengecat rumah lama Naruto si hantu. Hasilnya memang jauh dari kata sempurna tapi dia puas dengan hasil kerja kerasnya. Naruto sedang mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin saat Sakura datang. Sakura terlihat cantik dengan kemeja planel dan jeans hitamnya. Wanita cantik berambut merah muda itu menatap dinding-dinding hasil kerja keras Naruto.

"Bagaimana?" Naruto mendekat, ia berdiri di samping Sakura seraya meminum minuman kaleng.

"Untuk seorang amatir sepertimu tidak terlalu buruk." Naruto membuang entah kemana kaleng minumannya dan memeluk pinggang Sakura. Pria itu menatap puas hasil kerjanya. Sementara Sakura berdiri dalam diam.

Naruto menarik Sakura mendekati meja kecil di samping lemari pendingin. Ia menarik kursi untuk Sakura dan mempersilahkan wanita itu duduk kemudian pergi mengambil sesuatu. Ia kembali dengan kertas tempel. Sakura memperhatikan Naruto yang sedang menulis sesuatu di kertas tempel dan sedikit terkejut saat Naruto menempelkan kertas itu di keningnya. Sakura berkedip bingung menatap Naruto yang tersenyum menatapnya. "Hari senin, rabu dan jum'at, kita kunjungi kekasihmu." Dia tersenyum dan menggenggam tangan Sakura. "Membawakannya banyak bunga." Sakura diam, matanya berkedip-kedip lemah. Sementara Naruto pergi menempelkan catatan kecilnya di lemari pendingin.

...

Sakura sedang belajar mencintai Naruto dengan tulus, setulus pria itu mencintainya. Dia berbelanja banyak bahan makanan untuk makan malamnya nanti bersama Naruto di rumah yang tlah pria itu beli. Wanita itu sudah menghubungi Naruto dan tentu saja pria itu mengiyakannya dengan senang hati. Sakura sudah lupa bagaiman mana cara mencintai dan rasanya mencintai. Hatinya sudah lama mati dan dia ingin menghidupkan perasaan itu kembali untuk Naruto, pria yang memiliki nama dan wajah yang sama dengan kekasihnya. Dengan susah payah wanita berambut merah muda itu membawa masuk kantung-kantung belanjaannya yang penuh oleh bahan makanan. Ia mengikat rambut merah mudanya asal dan memasukkan bahan-bahan itu ke dalam lemari pendingin. Dahinya mengernyit saat bahan paling penting untuk membuat ramen tidak ada di kantung belanjaannya, hanya tersisa ikan segar untuk membuat sushi di sana. Sakura mencari mie untuk membuat ramen itu di kantung lain. Tapi tidak ada. Tidak ada mie, jamur dan daun seledri, bahkan garam pun tidak ada. Seingatnya dia sudah membeli itu semua tapi... Sakura menghela napas. "Pasti tertinggal di kasir." Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu tapi kemudian dia kembali. Ia mengambil kertas tempel dan menulis sesuatu. Sakura yakin Naruto pasti akan pulang cepat, jadi dia membuat pesan untuk Naruto dan menempelkannya di lemari pendingin.

Dengan terburu Sakura menyebrang jalan tanpa menyadari mobil sedan bermerek ferrari melaju dengan cepat di belakangnya. Mobil itu mengerem mendadak melihat Sakura yang menyebrang tiba-tiba. Decitan ban mobil membuat Sakura menoleh dengan terkejut. Kedua mata wanita itu membulat melihat mobil yang hampir menabraknya. Wanita itu berdiri diam dengan tubuh gemetar. Sementara pengemudi mobil itu keluar dari dalam mobil. Mereka sama terkejutnya saat melihat satu sama lain. Tubuh Sakura semakin gemetar, tatapannya tajam dan penuh dendam menatap pria pemilik mobil itu.

Setelah sekian tahun berlalu akhirnya Pain bertemu lagi dangan wanita itu. Selama tiga tahun ia habiskan dalam penjara dan dalam penyesalan. Tapi akhirnya dia dipertemukan kembali dengan wanita itu. Wanita yang dulu dengan tidak sopan dan manusiawi dia setubuhi.

"Pembunuh!"

Pain mendekat tapi dengan cepat Sakura berlari darinya. Secepat itu pula Pain menepikan mobilnya dan berlari mengejar wanita itu. Dia berlari ke gang sempit tempat Sakura berlari menghindarinya. Pain mengepalkan tangannya dan meninju udara. "Sial!" Dia mengumpat kesal karena kehilangan jejak wanita itu. Kalau saja dia tidak menepikan mobilnya lebih dulu mungkin dia tidak akan kehilangan jejak.

...

Naruto menepikan mobilnya di depan rumah kecil yang dia beli dari pihak bank. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah seraya mencari-cari seseorang. Kemudian pria itu tersenyum melihat kertas tempel yang Sakura tempel di lemari pendingin.

"Aku pergi sebentar, tidak akan lama, janji seorang Haruno Sakura :D"

Sembari tersenyum Naruto merapikan kantung belanjaan yang belum sempat Sakura bereskan, memasukkan isinya ke dalam kabinet dan menatanya dengan rapih. Selesai dengan pekerjaannya Naruto kemudian duduk di meja makan dekat lemari pendingin menunggu Sakura. Dia merasa malas sekali untuk mandi dan lebih memilih menunggu wanita itu.

Naruto menunggu Sakura dengan waktu yang lama tapi Sakura belum juga kembali. Pria itu duduk gelisah menatap keluar jendela yang sudah mulai gelap. Ini sudah malam tapi kenapa Sakura belum juga pulang. Naruto sangat mengkhawatirkan wanita itu. Sangat, sangat mengkhawatirkannya. Pewaris tunggal Namikaze corp itu berjalan cepat keluar rumah. Dia mendekati mobilnya tanpa mengunci rumahnya lebih dulu dan mengemudikannya dengan cepat.

Di balik kemudi mobilnya Naruto menatap lurus ke depan dengan tatapan cemas yang nyata. Pria itu menghela napas saat nomor yang dihubunginya tidak menjawab. Di mana sebenarnya dia berada sekarang. "Ya tuhaann... Sakura ..." helanya dan berusaha kembali menghubungi Sakura. "Sakura kau di mana?" Tanyanya dengan cepat saat wanita itu mengangkat telfonnya.

"Naruto ... aku takut, hiks, aku sangat takut."

Naruto dibuat semakin cemas mendengar suara parau Sakura. Pria itu mencengkram kemudi mobil berusaha menahan emosinya. "Sakura katakan di mana kau sekarang."

.

.

.

.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

B

Y

E

:D