-happy reading-
.
.
...life is like climbing Mount Everest, a struggle
before enjoying its beauty...
.
.
Sehun tak mengerti dengan apa yang dia dengar barusan. Bercerai? Apa maksud itu semua? Appa dan eommanya akan bercerai?
Sehun mundur perlahan. Air mata sudah tak bisa terbendung lagi.
"A-aniya. Tidak mungkin," gumamnya pelan. Dia lalu berlari pergi meninggalkan rumahnya dengan banjir air mata yang mengalir di kedua pipi tirusnya.
Gadis itu berhenti berlari saat dia sudah berada di pinggir sungai Han. Tempat terbaik untuk meluapkan segala amarahnya.
"ARRRGGGGHHHHH...!" teriaknya frustasi.
"WAE? KENAPA BISA SEPERTI INI?" lanjutnya sambil mengacak rambutnya kasar.
"Hiks..." Dia lalu terduduk di tanah. "Kenapa hidupku seperti ini, Tuhan...kenapa..." ucapnya lirih. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia terlalu bingung untuk memikirkannya. Dia tak mengerti kenapa kedua orang tuanya bisa seperti itu. Karena setahunya, selama ini keduanya tampak baik-baik saja, tanpa adanya suatu masalah sedikit pun. Tapi ternyata dia salah besar. Mereka ternyata tidak seperti yang dia pikirkan. Apa mereka menutupi itu semua darinya?
"Hiks...apa salahku Tuhan..."
Mungkin saat ini akulah orang yang paling menyedihkan di dunia ini. Mengetahui kenyataan pahit yang tak pernah ku duga sebelumnya.
"Aku hiks juga ingin merasakan kebahagiaan Tuhan..."
Aku sendiri. Ditemani air sungai yang jernih dan tenang, aku menangis. Meratapi takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan tanpa bisa aku merubahnya.
Ini mungkin akan menjadi sebuah cerita baru. Tapi memang itulah reality kehidupan. Dia sudah menjadi korban broken home kedua orang tuanya. Dia ingin mengelaknya, namun tak bisa. Faktanya sudah ada di depan mata.
Seperti sebuah klise, aku kembali mengingat kenangan lama. Tentang Appa, Eomma, dan aku.
Aku ingat bagaimana bahagianya mereka berdua saat aku berhasil mendapatkan predikat pertama saat berada di tingkat satu sekolah dasar. Mereka terharu, tidak menyangka aku bisa mendapatkannya. Kami tersenyum, dan tertawa bersama. Mereka memelukku dengan penuh cinta. Seperti hanya aku yang paling berharga yang mereka miliki di dunia ini.
Hingga saat ini. Mungkin orang lain mengira bahwa keluarga kami adalah keluarga yang harmonis. Dan aku juga mengira seperti itu. Mereka selalu menampilkan senyum bahagianya saat memandangiku. Memelukku setiap kali aku sedih, menceritakan padaku sebuah motivasi hidup, mengajarkanku apa arti saling percaya.
Sampai akhirnya, kini aku mengerti. Itu hanyalah sebuah topeng semata. Mereka menutupinya dengan sangat baik. Tapi kenapa aku tak pernah tahu? Tsk, aku memang seorang anak yang buruk. Yang selalu menganggap segalanya akan baik-baik saja.
Aku, Oh Sehun. Seorang gadis tujuh belas tahun yang sangat mengharapkan sebuah kebahagiaan datang.
.
Hari sudah semakin gelap, namun Sehun belum berniat untuk beranjak pergi dari tempat itu. Dia menatap pemandangan di hadapannya dalam diam. Air sungai yang tenang dan gemerlap kota menemani kesendiriannya.
Drrrttt...drrrttt...
Ponsel disaku bajunya bergetar. Sehun lalu merogoh benda persegi panjang tersebut. Dilihatnya ada satu pesan masuk. Itu dari eommanya.
From : Eomma
-Kau dimana sayang, kenapa belum pulang?-
Sehun berdecih pelan saat di lihatnya pesan dari Nyonya Oh barusan. Entah kenapa dia menjadi kasihan pada appanya. Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi dari sana.
Sehun memutar knop pintu rumahnya perlahan. Dilihatnya eommanya yang tengah duduk sendiri di sofa ruang tamu sambil menyesap teh hangat. Terlihat seperti tidak ada beban dalam dirinya. Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kau dari mana saja, sayang? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Nyonya Oh begitu di lihatnya Sehun memasuki rumah.
"Aku habis dari kerja kelompok, Eomma" jawab Sehun tenang. Dia lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
Gadis itu menghela napas panjang setelah menutup pintu kamarnya. Dia lalu menaruh tasnya asal dan langsung menghempaskan tubuh kurusnya ke atas kasur. Menenggelamkan wajahnya di boneka beruang besar berwarna cokelat miliknya. Dia terisak. Masih terasa menyakitkan baginya. Gadis manis itu lalu merogoh ponsel di saku blazernya, kemudian mendial nomor ponsel seseorang dan menghubunginya.
(H-halo Sehun-ah!)
"Appa..."
(Ada apa, sayang?)
"A-aniya. Aku hanya merindukan Appa."
(Appa juga merindukanmu, sayang.)
Sehun menangis dalam diam. "Dimana Appa sekarang?"
(Appa masih di Beijing, sayang.)
Air mata sudah membanjiri kedua pipinya. "Benarkah?"
(T-tentu saja. Waeyo sayang?)
"Tidak apa-apa." Dia tidak menyangka bahwa appanya akan berkata bohong padanya. "Kapan Appa akan pulang?"
(Secepatnya sayang.)
"Appa..."
(Ne, Sehun-ah.)
"Jangan lupa, bawakan Sehunie oleh-oleh kalau appa pulang."
(Tentu. Sehunie mau oleh-oleh apa dari Appa, huh?)
"Uhm...bagaimana kalau boneka panda, Appa? Tapi yang besar. Sehunie tidak mau kalau yang kecil."
(Hahaha, baiklah. Appa akan bawakan boneka panda yang sangat besar, khusus buat anak Appa yang paling cantik.)
"Gomawoyo, Appa."
.
Baekhyun berkali-kali melihat layar ponselnya yang sedari tadi tidak menyala. Dia tengah menunggu panggilan dari kakak sepupunya sambil mengerjakan pr. Namun dia tidak fokus pada pr nya, dan malah terus terfokus pada ponsel di atas meja di depannya.
"Kenapa dia belum juga menghubungiku?" risaunya tak tenang. "Kenapa Kyungsoo juga belum menelepon? Apa dia lupa? Tsk."
Drrrttt...drrrttt...
Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Ponselnya bergetar, ada sebuah panggilan masuk dari Jiyeon, kakak sepupu Baekhyun.
"Halo!" seru Baekhyun.
(Ya Baekhyun-ah...)
"Ottae? Apa Eonni sudah dapat hasilnya?"
(Ne. Keundae Baekhyun-ah, itu benar bukan punyamu, kan?)
"Aishhh...sudah berapa kali aku katakan, itu bukan punyaku. Wae? Apa itu bukan obat untuk sakit maag?"
(Ne. Itu obat kanker.)
"MWO?" Baekhyun langsung terlonjak kaget mendengarnya. "Jangan bercanda, Eonni. Aku serius!"
(Aku serius Baekhyun-ah... Itu obat untuk menahan rasa sakit.)
Baekhyun menggeleng tak percaya. "Andwe. Tidak mungkin." Air mata sudah mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"Eonni pasti bohong, kan? Iya kan? Aku tak percaya."
(Yak Baekhyun-ah! Buat apa aku sekolah farmasi selama empat tahun jika aku tidak tahu itu obat apa?)
"A-aniya..."
(Sudah dulu, ya. Aku masih sibuk. Sampaikan salamku untuk ahjumma di rumah. Annyeong!)
Baekhyun menatap kosong cermin didepannya. Dia terlalu syok. Dia tidak menyangka kenapa bisa seperti ini.
"Sehun-ah..." ucapnya lirih. "Wae? Bagaimana bisa..."
"Aniya. Itu pasti tidak benar. Aku yakin itu."
"Kyungsoo." Baekhyun lalu mendial nomor telepon Kyungsoo dan menghubunginya.
"Kyungsoo-ya!"
(Waeyo, Baek?)
"Apa kau sudah dapat hasilnya?"
(Ne.)
"Bagaimana, huh?" Baekhyun sangat berharap hasilnya tidak seperti miliknya.
(Buruk. Itu obat kanker.)
"Ne?" Pupus sudah harapan Baekhyun.
(Baekhyun-ah...hiks...apa yang harus kita lakukan?)
"Entahlah...aku juga bingung, Kyung..."
.
.
Bel istirahat telah berbunyi beberapa yang lalu. Nampak Baekhyun dan Kyungsoo keluar dari ruang kelasnya dan menuju ke kelas Sehun.
"Anggap tidak terjadi apa-apa, oke? Jangan sampai Sehun tahu kalau kita telah mengetahuinya," ujar Baekhyun mengingatkan.
Kyungsoo yang berjalan disampingnya mengangguk paham.
Begitu mereka memasuki kelas 2-A, dilihatnya Sehun yang tengah menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangannya di atas meja.
"Sehun-ah!" panggil Baekhyun menghampiri meja Sehun diikuti oleh Kyungsoo di belakangnya.
Sehun menegakkan badannya begitu dia mendengar suara Baekhyun yang memanggil namanya. "Wae?" tanyanya.
"Kau baik-baik saja kan, Hun?" tanya Kyungsoo khawatir. Pasalnya wajah Sehun nampak kusut sekali hari ini.
Sehun menggelengkan kepalanya pelan. Dia lalu beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Baekhyun erat.
Baekhyun yang dipeluk sedikit terkejut dibuatnya. "Sehun-ah..."
"Hiks..." Sehun mulai terisak. Baekhyun menatap Kyungsoo dengan tatapan bertanyanya, namun Kyungsoo mengendikkan bahunya tak tahu.
"Ada apa, Sehun-ah? Kenapa kau menangis? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Baekhyun beruntun.
"Appa dan eomma...hiks..."
"Wae? Ada apa dengan appa dan eommamu?"
"Mereka hiks akan bercerai."
"MWO?/MWO?" teriak keduanya bersamaan. Beruntung ini adalah jam istirahat, jadi tidak ada seorang pun didalam kelas selain mereka bertiga.
Baekhyun lalu melepas pelukan Sehun dan mengajak gadis itu ke tempat lain.
Dan disinilah mereka sekarang, di bawah pohon pelindung yang ada di samping kelas, tempat Sehun pernah ngobrol bareng Chanyeol dulu.
"Aku harus bagaimana? Apa yang harus ku lakukan hiks..." ucap Sehun sambil terisak. Kyungsoo yang duduk di sebelahnya langsung memeluknya. Mencoba menenangkan gadis berkulit pucat itu.
Baekhyun menghela napas panjang. Dia tak habis pikir, kenapa hal itu bisa menimpa Sehun. "Sebagai yang paling tua di sini, menurutku, kau harus menerimanya, Hun-ah..."
"Jika kau tanya kenapa, karena ini menyangkut masalah hati Sehunie. Kau tidak bisa memaksa mereka untuk tetap bersama jika sudah tidak ada lagi rasa cinta diantara mereka. Jika kau menginginkannya untuk tetap bersama, itu hanya akan membuat mereka tersiksa. Itu semua adalah pilihan mereka. Bukannya aku sok pintar atau sok bijak, tapi memang itulah realitanya Sehun-ah. Aku hanya memberikan pendapat saja. Kau bisa mengabaikannya," ujar Baekhyun panjang lebar.
Sehun lalu melepas pelukannya dan beralih menatap Baekhyun lurus. Baekhyun yang ditatap oleh Sehun langsung menghapus air mata sahabatnya itu dan kemudian memeluknya erat.
"Hiks...kau benar, Baek" kata Sehun lirih.
Baekhyun ikut menangis. Dia tidak tega melihat Sehun. "Kau pasti bisa melewati itu semua, Sehun-ah," ucapnya.
Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi.
Dialah ladang hatimu, yang dengan kasih kau taburi dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih.
Kau menghampirinya dikala jiwa membutuhkan kedamaian.
Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa...
-Kahlil Gibran-
.
.
Sehun memutar knop pintu rumahnya perlahan. Di lihatnya eommanya yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan appanya. Dia sedikit terkejut melihatnya.
"Appa..." ucapnya lirih.
"Kau sudah pulang, sayang?" tanya Tuan Oh.
"N-ne..."
"Kemarilah, Nak. Eomma dan Appa ingin berbicara sesuatu denganmu," ujar Nyonya Oh.
Sehun menatap kedua orang tuanya dalam. "Ini pasti tentang rencana perceraian kalian itu, kan?" tanyanya.
Tuan dan Nyonya Oh terlonjak kaget mendengarnya. "Darimana-"
"Lakukanlah. Aku tidak akan melarangnya. Aku menghargai keputusan kalian, asal kalian bahagia," potong Sehun cepat. Dia lalu melangkahkan kedua kakinya menuju ke kamarnya.
"Sehun-ah!" seru Tuan Oh. Namun Sehun mengabaikannya dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Sehun menangis sesenggukkan dibalik pintu kamarnya. "Hiks..."
Dia lalu mengusap air matanya kasar. "Yah...Baekhyun benar. Aku memang harus menerima keputusan mereka," ucapnya kemudian.
Sehun kemudian berjalan menuju jendela kamarnya. Di pandanginya langit malam yang nampak gelap tanpa adanya sinar bulan dan bintang. Langit malam ini begitu suram. Sama seperti dirinya. Gadis manis itu lalu mengepalkan kedua tangannya didepan dada dan menutup kedua matanya.
"Tuhan...aku mohon. Sekali ini saja, izinkan aku menikmati rasanya bahagia bersama orang-orang yang aku sayangi."
Sehun kemudian merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Di atas sana terdapat gambar Mickey dan Minnie Mouse. Terlihat Mickey yang tengah menyodorkan seikat bunga kepada Minnie yang nampak malu-malu. Sehun tertawa getir melihatnya. Dia membayangkan itu adalah Chanyeol dan dirinya.
"Ck, sesuatu yang tak pernah menjadi kenyataan," ucapnya.
.
.
"Wae? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Sehun pada kedua sahabatnya yang sedang menatapnya intens. Mereka tengah berada di kantin sekolah sekarang.
"A-aniya. Kami hanya heran saja melihatmu yang seperti ini," ujar Baekhyun.
"Tidak seperti biasanya," ini Kyungsoo. Mereka merasa heran melihat Sehun yang tidak seperti biasanya. Kali ini Sehun memakan makanannya dengan begitu lahap.
"Waeyo? Aku kenapa, huh?" tanya Sehun lagi.
"Berapa hari kau tidak makan, Hun?" tanya Baekhyun frontal.
"Mwo? Yak aku hanya lapar."
"Begitu, ya."
Kyungsoo lalu menatap Sehun sendu. "Sehun-ah," panggilnya pelan.
"Ne, waeyo?"
"Apa benar kalau kau-akhhh..!" Kyungsoo menjerit kesakitan saat Baekhyun tiba-tiba saja menginjak kakinya. "Yak Baekhyun-ah!"
Baekhyun dengan cepat langsung melanjutkan ucapan Kyungsoo tadi. "Sehunie, apa benar kalau kau sudah mahir berbicara bahasa Jerman?" Dia tidak ingin gadis bermata bulat itu sampai bilang pada Sehun bahwa mereka telah mengetahuinya.
Kyungsoo yang mendengarnya langsung menatap Baekhyun tajam dan malah dibalas wink oleh Baekhyun yang membuat Kyungsoo bergidik ngeri.
"Yaaaa tidak begitu mahir, sih. Kenapa? Apa kalian ingin ikut les bahasa Jerman juga?"
"A-aniya. Kami hanya ingin bertanya saja."
"Oh... Yak Yixing-ssi! Kemarilah," seru Sehun begitu melihat Yixing yang tampak bingung mencari tempat duduk untuk makan. Baekhyun dan Kyungsoo refleks menoleh ke arah pandangan Sehun dan melihat Yixing tersenyum lebar sambil melangkah menghampiri ketiganya.
"Hai Yixing-ssi," sapa Kyungsoo begitu Yixing tiba di hadapan mereka.
"Hai juga, Kyungie-ssi," balas Yixing.
"Oh, ya. Bagaimana hubunganmu sama Suho Sunbae? Aku dengar-dengar kau sudah di perkenalkan ya sama keluarga besarnya?" tanya Baekhyun sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Oh, itu..."
"Yak biarkan dia memakan makanannya. Kenapa kalian dari tadi terus bertanya padanya?" ucap Sehun sinis.
Baekhyun dan Kyungsoo yang melihatnya mendengus sebal.
Yixing terkekeh pelan melihat ketiganya.
.
"Yah...kita tidak dapat tempat nih, Yeol" ujar Jongin pada namja tinggi disebelahnya sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman. "Bagaimana kalau kau suruh yeoja-yeoja itu pindah? Pasti mereka mau. Secara, mereka kan para fans-fansmu," sambungnya sambil menunjuk sekumpulan siswi perempuan di ujung kanannya.
"Shireo. Suruh aja sendiri," tolak Chanyeol.
Jongin yang mendengarnya mendengus sebal. Iris matanya lalu tak sengaja melihat ada kursi yang masih kosong yang terletak di pojokan sana.
"Yeol, kemarilah" ajak Jongin.
"Hmm?"
Jongin lalu melangkah menuju ke kursi yang masih kosong tersebut di ikuti oleh Chanyeol dibelakangnya.
"Hai adik-adik manis..." sapa Jongin pada Baekhyun cs. "Jongin Oppa yang ganteng ini boleh duduk di sini, nggak?"
Baekhyun yang mendengar langsung menoleh dan menatap Jongin dengan pandangan jijik. Sedangkan Sehun langsung mengalihkan pandangannya begitu dilihatnya Chanyeol di sebelah Jongin. Kyungsoo dan Yixing santai-santai saja.
Tanpa menunggu persetujuan mereka berempat, Jongin langsung duduk saja di kursi yang masih kosong di sebelah Yixing, dan di ikuti Chanyeol yang duduk tepat disebelah Sehun.
"Selamat makan semuanya...!" ucap Jongin semangat.
Sehun merasa sangat gugup sekarang. Bagaimana tidak, Chanyeol ada disebelahnya. Sesekali namja itu menatapnya dan tersenyum manis kearahnya.
Sehun lalu bangkit dari duduknya. "Semuanya, aku duluan." Dia lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Kenapa dia cepat sekali?" tanya Jongin.
Baekhyun menghela napas panjang. "Dia sedang ada masalah." Dia lalu menatap ke arah Chanyeol sinis. "Termasuk juga masalah cintanya yang tak kunjung terbalas."
Chanyeol merasa tertohok mendengarnya. Namja itu lalu menatap punggung Sehun yang mulai menjauh tersebut penuh tanya.
.
.
Sehun melempar tasnya asal begitu dia memasuki kamarnya. Dia lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
"Cinta adalah obsesi. Semua orang menginginkannya, semua orang mencarinya, tetapi hanya sedikit orang yang mampu mendapatkannya..." kata Sehun pelan. (Curtis Judalet)
"Arrggghhh..." Sehun mengusap wajahnya kasar. Dia lalu mendengus pelan. "Apakah aku termasuk orang yang mampu itu?"
Drrrttt...drrrttt...
Ponsel yang ada di saku bajunya bergetar. Ada panggilan masuk dari Luhan.
"Ne. Waeyo?" Sehun lalu bangkit dari tidurannya. "Um...bisa. Tapi dimana?"
Dia kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah. Itu tempat yang bagus. Jam 5, oke. Annyeong!"
Sehun melempar ponselnya ke atas kasur begitu Luhan mengakhiri panggilannya. Gadis berkulit pucat itu lalu merebahkan tubuhnya kembali dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ini berat..."
.
.
Chanyeol nampak tengah berjalan menuju kamarnya. Dia baru saja pulang dari kegiatan ekskulnya disekolah. Namun dia memicingkan matanya begitu dia membuka pintu kamarnya dan di lihatnya Luhan yang sudah rapi sedang berdiri di depan sebuah cermin besar.
"Hai, Yeol" sapa Luhan sambil membenarkan tatanan rambutnya. Senyum tak lepas dari kedua bibirnya. "Kau sudah pulang?"
Chanyeol menghampiri Luhan dan menatap pemuda itu heran. "Kau mau kemana? Rapi benar. Tidak seperti biasanya." Dia lalu menaruh tasnya di atas kursi dan kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Luhan lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kemeja yang di kenakannya. Didalam kotak itu terdapat sebuah cincin.
Luhan membuka kotak cincin tersebut. "Aku mau mengungkapkan perasaanku pada Sehun."
"MWO?" Chanyeol yang sedang memainkan ponselnya terlonjak kaget.
"Wae?" tanya Luhan.
"A-aniya."
"Aku pergi dulu. Do'akan, semoga sepupumu yang tampan ini cintanya diterima." Luhan lalu melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruangan itu. Chanyeol yang berada di tempatnya menatap tak percaya punggung Luhan yang mulai menjauh.
"Hh! Yang benar saja."
.
Sehun nampak sedang berdiri di depan sebuah cermin besar yang ada didalam kamarnya. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum sedari dari. Bukan karena Luhan yang akan mengajaknya bertemu nanti, melainkan karena mini dress yang dikenakannya saat ini.
"Huaaa...setelah sekian lama aku tidak pernah memakainya, akhirnya sekarang muat juga," ucapnya senang.
Dia lalu terdiam sejenak. "Memang aku sekurus itu, ya?"
"Ah, aku tak peduli." Sehun lalu meraih minibag diatas ranjangnya dan kemudian melangkah keluar dari dalam kamarnya.
Sehun menyuruh Song Ajussi untuk mengantarkannya menemui Luhan. Dia terlalu malas jika harus menunggu bis di halte ataupun naik taksi.
.
Sehun sudah tiba di tempat yang dibilang oleh Luhan tadi di telepon, yaitu Seokcheonhonsu Lake atau yang biasa juga disebut Songpa Naru Park yang merupakan sebuah taman warga di daerah Seoul tepatnya di 180, Jamsil-ro, Songpa-gu, Seoul.
Sehun menyusuri jalanan setapak dan melihat Luhan yang tengah duduk disebuah bangku panjang dengan kepala yang menunduk kebawah. Dia lalu menghampiri namja itu.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ujar Sehun begitu tiba dihadapan Luhan.
Luhan menegakkan kepalanya dan menatap Sehun yang tengah berdiri dihadapannya. Dia terkesima. Sehun begitu cantik menurutnya. Mini dress berwarna merah muda lengan panjang yang memperlihatkan kaki jenjangnya terlihat sangat pas ditubuh tingginya. Rambut hitamnya dia biarkan terurai bebas, memperlihatkan kesan feminim dari diri Sehun.
"Luhan-ssi, apa kau mendengarku?" Sehun menggoyang-goyangkan telapak tangannya dihadapan wajah Luhan. Pria itu sepertinya tengah melamun.
"A-ah Sehun-ssi. Duduklah kemari."
Sehun menuruti perintah Luhan dan duduk disebelah namja itu.
"Kau sangat cantik hari ini," puji Luhan.
Sehun tersenyum, "terima kasih." Dia lalu menatap pemandangan dihadapannya takjub. Tempat ini sangat indah.
Luhan memandang Sehun dari samping dan kemudian menyunggingkan senyum. "Sehun-ssi," panggilnya.
"Ne." Sehun menoleh ke arah Luhan dan...
Chuu..
Luhan mencium bibir Sehun singkat. "A-aku..."
Sehun menyentuh permukaan bibirnya. "Apa yang-"
"Aku menyukaimu, Sehun-ah" potong Luhan cepat. Dia lalu mengeluarkan kotak yang berisi cincin tadi dan membukanya, lalu menyodorkannya pada Sehun. "Apa kau mau menjadi yeojachinguku?"
"Ne?" kaget Sehun.
"Aku serius, Sehun-ssi. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di rooftop rumah sakit dulu."
Sehun menatap mata Luhan dalam. Namja itu serius padanya, tidak ada sebuah kebohongan. Dia tak percaya Luhan akan mengatakan kalimat itu padanya.
"M-maaf, aku tak bisa," jawab Sehun lirih. Dia tidak bisa menerima perasaan Luhan. Dihatinya hanya ada nama Chanyeol, bahkan yang paling dalam sekalipun.
"Kenapa Sehun-ah? Kenapa kau tidak bisa?" tanya Luhan.
Sehun menggeleng pelan. "Maafkan aku."
"Keundae wae? Apa sudah ada orang lain dihatimu?" Luhan tampak kecewa dengan jawaban Sehun tadi. Dia ingin kejelasan, kenapa Sehun bisa menolaknya.
"Ne. Maafkan aku," Sehun menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap wajah kecewa Luhan. Bahkan matanya sudah nampak berkaca-kaca.
Luhan menangkup kedua bahu Sehun. "N-nugu? Siapa orang itu, Sehun-ah?"
Sehun menggeleng. Dia tidak ingin membuat Luhan kecewa untuk kedua kalinya, karena telah mencintai seseorang yang dekat dengan namja tersebut.
"Katakan padaku, Sehun-ah! Katakan, agar aku mengerti," desak Luhan.
Air mata mulai mengalir di permukaan pipi Sehun. Gadis itu lalu menegakkan kepalanya dan memberanikan diri menatap wajah Luhan.
"Dia..."
"Katakan Sehun-ah!"
"Dia..."
.
.
.
.
.
.
.
"...Chanyeol Sunbae."
Deg
.
.
.
Tbc...
Hai hai... I'm coming...
Buat yang sudah lumutan karena nunggu kapan ChanHun jadian, coming soon... Bentar lagi kok. :-D
Ditunggu reviewnya...
