"Aku tidak mengerti. Jadi,Young K adalah hyungnya Jun?".
Soyoung memijit pangkal hidungnya frustasi, "Aku tidak tahu, Soonyoung. Sekarang, berhentilah menanyakan pertanyaan yang sama padaku".
"Noona benar, hyung. Aku bahkan sudah bosan mendengar pertanyaanmu", tambah Dino.
Si rambut panjang langsung membenarkan, "Iya. Kau sudah menanyakan pertanyaan itu sebanyak... eum, kurasa hampir 38 kali", katanya.
Jisoo langsung mendelik heran, "Ei, Jeonghan, kau menghitungnya?".
Yang ditanya hanya terkekeh geli.
Saat ini, Soyoung, Dino, Jeonghan, Soonyoung, Hyun Ae, dan Jisoo tengah berkumpul di sebuah taman dekat rumah Soonyoung. Dino dan Soonyoung dengan permainan lingkaran besi berputarnya, dan Soyoung, beserta sisa lelaki lainnya berkumpul di wilayah ayunan sambil ber-es krim-ria.
Oh, ini hari Sabtu. Pertama, mereka tidak sekolah karna Sabtu adalah hari libur (Meskipun Soonyoung seharusnya latihan di sekolah, tapi ia selaku ketua tim basket, meliburkannya. Alasannya klasik, malas.). Kedua, besok adalah hari H audisi para cowok-cowok rusuh. Jadi mereka memutuskan untuk berkumpul, dan saling mengobrol dengan judul, 'menghilangkan rasa tegang sebelum audisi' atau semacam itulah pokoknya.
"Soyoung-ah, apa Jun tidak pernah mengatakan apapun padamu?", hati-hati sekali, Jisoo mengajukan pertanyaan pada gadis disampingnya dengan lirih.
"Maksudmu?"
"Tentang hyungnya mungkin?"
Soyoung terdiam sesaat, "Kurasa...pernah", jawabnya mengerutkan kening.
"Jinja? Tentang apa?". Kali ini suara Hyun Ae yang terdengar.
Sebuah cerita mengalir begitu saja dari bibir Soyoung. Bahkan gadis itu sampai tidak sadar, kapan Dino dan Soonyoung berhenti memainkan besi berputar (yang entah apa namanya itu), lalu duduk di depannya.
Ketika cerita itu mencapai titik akhir, si sipit bermata 10:10 itu langsung berseru.
"Kalau begitu aku akan mengembalikan tiket audisi Jun ke panitia!"
Semuanya terbelalak kaget mendengarnya.
"Yak! Micheosseo?! Kenapa kau kembalikan tiketnya?!", omel si pria cantik, Jeonghan.
"Bukankah Young K datang untuk meminta Jun mengambil alih perusahaan?"
TINGG!
Sebuah pikiran baru terbesit di kepala Soyoung. Benar. Hyungnya Jun datang secara tiba-tiba, itu artinya Jun...dijemput?
"Aigoo, hyung. Jangan menarik kesimpulan sesukamu. Kita bahkan tidak tahu kenapa 'hyung itu' mendadak datang, kan?", tukas Dino.
Jisoo tiba-tiba menjentikkan jarinya, "Ah, aku ingat sesuatu!"
"Apa?"
"Ei, jangan memandangku seperti itu", keluh Jisoo saat semua orang mendadak menatapnya tajam. Ia terkekeh sebentar, lalu kembali bicara, "Brian pernah bilang padaku kalau ia ingin menjemput adiknya di Korea.."
Tuh kan, Soyoung benar.
"Tapi aku tidak tahu kalau yang dia maksud adalah Jun. Mianhae."
Jisoo menghela nafas pelan sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, "Aku tidak tahu pasti saat itu kenapa ia meninggalkan adiknya. Yang aku tahu, ada sesuatu yang ingin disampaikan pada adiknya. Penting sekali, entah apa". Jisoo mengalihkan pandangannya ke arah Soonyoung, "Boleh aku tahu sebenarnya ada apa antara kalian dan Brian?"
Kali ini ganti Soonyoung yang menghela nafasnya kasar sambil mengusap wajah. Setelah berdecak, si sipit itu mulai membuka mulutnya, "Jadi begini..."
.
.
.
.
.
.
.
"Yak, berhentilah mengikutiku Oppa!"
Young K tertawa, "Shireyo!".
"Kenapa kau harus mengikutiku, sih? Oppa pergi saja, rumahku sudah dekat"
"Shireyo"
Si gadis kecil berambut kepang satu ke bahu itu mendadak menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah lelaki yang dua tahun lebih tua dengan kesal.
"Katakan padaku kenapa Oppa terus menerus mengikutiku?"
"Memangnya harus?"
"Tentu saja. Oppa bahkan sudah dimarahi eomma dan appaku kan karena mengantarku bahkan sampai ke kamar tidurku. Apa sekarang kau harus melakukan hal yang sama lagi?!"
Young K lagi-lagi hanya tertawa.
"Oppa!"
"Eung?"
"Jawab aku"
Sebuah seringai kecil muncul di sudut bibir Young K, "Hanya ingin menjagamu, Soyoung-ah"
"Menjagaku? Dari siapa?"
Young K merendahkan tubuhnya, mengambil posisi setengah berjongkok dengan bertumpu pada tumit kanan kakinya. Ia mengerling ke ujung jalan, "Dari mereka"
Dan untuk sepersekian detik, Soyoung bisa melihat kerumunan manusia bergerak dari balik tembok pagar rumah Junghyun ahjussi sebelum akhirnya tenggelam ke dalam gelapnya malam.
"Siapa mereka?"
"Tch. Kau bahkan tidak menyadari kalau akhir-akhir ini mereka selalu mengikutimu?"
Soyoung menggeleng, "Apa aku punya salah pada seseorang yang penting?"
"Ani", jawab Young K santai. Ia berdiri dan menepuk debu di seragam celananya, "bukan kau target utamanya"
"Lalu?"
"Penggemarmu"
.
.
.
.
.
.
"Tunggu sebentar, Noona."
Soyoung menatap Dino bingung.
"Jadi, dia bukan hyung pengganggu?"
Setelah tertawa sejenak, Soyoung menggeleng.
"Jadi, dia bukan penggemarmu?"
Soyoung menggeleng lagi.
"Kupikir Young K oppa menyukaimu". Itu kata Hyun Ae.
"Dia tidak pernah menyukaiku. Maksudku, dalam arti suka. Yah, kau tahu maksudku"
Jisoo kali ini yang memberi anggukan paham, "Lalu kenapa tiba-tiba dia menghilang?"
Soonyoung nampak berpikir sebentar sebelum akhirnya angkat suara, "Seingatku, dia membuat perjanjian dengan Mingyu".
"Perjanjian?! Perjanjian apa?!"
"Jangan bilang kalau kau tidak tahu, Im Soyoung"
Si sipit dan gadis berambut panjang itu beradu pandang untuk beberapa detik.
"Aku tidak tahu", geleng Soyoung akhirnya, matanya menatap sahabat perempuannya seolah meminta penjelasan.
Yang ditatap mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tahu. Saat itu aku dan Mingyu sudah putus, kan?"
Si sipit menghela nafasnya, "Baiklah. Ku rasa, hanya aku dan Mingyu yang tahu hal ini".
"Young K membuat perjanjian dengan Mingyu. Si Tiang itu menganggap, Young K adalah saingannya untuk mendapatkanmu, jadi dia meminta Young K untuk pergi dari kehidupanmu"
Jeonghan yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan kali ini mulai bertanya, "Lalu, apa balasan yang diterima Brian hyung sebagai balasannya?"
"Mingyu juga harus pergi dari kehidupan Soyoung"
"Mwoya?! Keduanya pergi? Lalu apa untungnya dari perjanjian itu?!"
"Dino-ya! Diamlah dulu. Aigoo, kau agresif sekali", Soonyoung mengusap telinganya kesal.
Dino menggigit bibirnya.
"Mereka berdua sama-sama paham, orang-orang itu bukan semata-mata mengancam dan menyerang kalian..", Soonyoung memotong omongannya ragu, "Baiklah, bukan kalian sih, tapi Kita."
Hening. Tak ada satupun yang berniat menanggapi. Soyoung, Hyun Ae dan Soonyoung merasa, itu bukan kenangan yang menyenangkan untuk dibahas. Dan bagi sisanya, merasa itu bukan bagian mereka untuk bicara.
Soonyoung melanjutkan kalimatnya, "Aku dan Mingyu sempat membahasnya dulu. Dulu sekali, saat hubungan kami tak serenggang ini.
Ada getir samar di kalimat terakhir Soonyoung.
.
.
.
.
.
.
.
.
"YAK, KIM MINGYU!"
Si jangkung menoleh, lalu melambaikan tangannya, "Yo! Soonyoung!"
"Berhenti sok akrab padaku", decih Soonyoung, "Mengakulah. Mereka semua datang karenamu, kan?"
"Nugu?"
"Preman itu"
"Ya! Kau juga didatangi oleh mereka?"
Soonyoung menggigit sudut bibirnya, "Mengakulah padaku, Kim Mingyu"
"Kau pikir aku yang menyuruh mereka?", Mingyu menunjuk dadanya kaget, "Hanya karena aku dekat dengan Ray, lalu kau menuduhku begitu saja. Aku tak pernah berurusan dengan orang-orang itu. Ck, Aigoo.. Ige. Yeogi, yeogi..".
Si jangkung menggulung kain lengan seragamnya naik, menunjukkan beberapa lebam kehitaman di lengannya. Ia juga mengangkat ujung celana panjang serta ujung bawah kemejanya untuk menunjukkan beberapa memar yang cukup parah. Setidaknya sudah cukup menjadi bukti bahwa itu adalah hasil dari 'diserang', bukan menyerang.
Mata sipit Soonyoung melebar.
"Kau juga?"
Mingyu mengangguk, "Malah tadinya kupikir hanya aku".
Ragu-ragu, Soonyoung melepas kemeja seragamnya, memamerkan kulit pucat yang dihiasi banyak kemerahan memar dan hitamnya lebam yang melebar.
"Kau juga? Aigoo.."
"Kau tahu mereka siapa, kan?"
Mingyu mengangguk.
"Mereka hyungdeul yang biasa bersama Ray"
.
.
.
.
.
"Hyung kenal mereka?"
Young K mengangguk beberapa kali, lalu menggeleng lagi, "Aku hanya tahu mereka."
"Siapa?"
"Kwangsoo. Hyungnya Ray"
Soonyoung langsung menjentikkan jemarinya, "Ah! Yang waktu itu merokok di samping gang sekolah?"
Young K mengangguk, tangannya sibuk memotong Steak dengan garpu dan pisau.
"Iya yang itu", katanya.
"Lalu, kenapa ia 'menyerang' kita seperti ini? Kita bahkan tidak pernah bicara pada mereka, kan?", keluh si sipit mengaduk cangkir kopinya.
"Kau ini pabo atau apa?"
"Eoh?"
"Bukankah sudah jelas sekali ini ada hubungannya dengan Mingyu?"
"Tuh kan, sudah kuduga, dia penyebabnya!"
"Ei, tunggu dulu. Aku bahkan belum mengatakan hubungan yang kumaksud padamu".
Kalau ini adalah komik, maka sebuah perempatan sempurna sudah muncul di sudut kepala Young K sekarang. Demi Tuhan, lelaki sipit di hadapannya ini benar-benar menguji kesabarannya. Sebenarnya, ini hanya karna Young K yang terlalu cepat dewasa, atau memang Kwon Soonyoung yang terlambat dewasa, sih?
Soonyoung tertawa melihat tatapan kesal hyungnya.
"Baiklah, aku akan diam dulu kalau begitu"
Sebenarnya Young K ingin sekali nyinyir ke namdongsaengnya dengan mengatakan, 'Kita lihat saja kau bisa diam selama berapa lama'. Tapi langsung diurungkan saat ingat sebentar lagi ia harus bekerja part-time di supermarket.
"Ini karna Yeodongsaengnya cemburu"
"Yeodongsaeng? Nugu?"
Tuh kan, Soonyoung langsung menyela ucapannya lagi. Kan sudah dibilang, diamnya takkan bertahan lama.
"Ray"
"Cemburu? Waeyo?"
Young K memilih tak menjawab. Ia memberikan waktu pada Si-terlambat-dewasa untuk menemukan jawabannya sendiri.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
Lima de–
"RAY MENYUKAI MINGYU?!"
"Tepat sekali. Memangnya kau tidak menyadari itu?"
Butuh sekitar tiga detik sebagai tambahan waktu sebelum akhirnya Soonyoung menjentikkan jarinya keras-keras.
"OH! Jadi itu alasannya kenapa dia tak pernah mau membahas hubungan Mingyu dengan Hyun Ae sejak awal?!"
Kalau bukan demi Soyoung, Young K malas sekali bicara dengan hoobaenya yang satu ini. Tebir.
"Pantas saja.."
Young K sibuk mengunyah steaknya.
"Lagipula, wajar juga sih. Mereka kan kemana-mana selalu bareng. Mungkin cinta tumbuh karna terbiasa ya, hyung"
Hanya gumaman samar yang terdengar sebagai jawaban.
"Tapi kalau memang suka, kenapa Ray tidak bicara langsung saja?"
"Nah itu dia", Young K mengusap bibirnya dengan sebuah tissue. Steak di piringnya sudah sukses bermigrasi ke dalam perutnya. "Itu adalah satu-satunya bagian yang tidak ku mengerti. Yang jelas, 'mereka' hanya berusaha melindung dongsaengnya"
"Jadi, bukan karna mereka membenci kita?"
Young K menggeleng. Ia merapikan posisi duduknya menjadi lebih formal.
"Tapi kurasa, untuk itu, aku bisa menduga beberapa hal.."
Soonyoung ikut merapikan duduknya. Untuk kali ini, ia akan serius benar-benar akan diam.
"Mungkin begini, Kwangsoo hyung tahu bahwa Ray patah hati karna Mingyu. Jadi, ia berusaha menjauhkan Mingyu dari Ray..". Kening Young K berkerut sebentar, "Ia mungkin merasa Hyun Ae dan Soyoung adalah penyebab utama kenapa Mingyu tidak bahkan melirik Ray sedikitpun. Mereka juga mungkin menyalahkanmu, eum, entah karna merasa kau menghalangi hubungan Mingyu dan Ray, atau justru mungkin karna merasa bahwa kau menjadi pendukung hubungan antara Mingyu dan Hyun Ae sehingga tidak ada tempat bagi Ray", papar Young K berulang kali menekankan kalimat 'mungkin'.
Bibir Soonyoung membulat sempurna, "Jadi itu sebabnya kenapa hanya aku dan Mingyu yang dihajar habis-habisan..".
Young K mengaduk minuman dinginnya. Bercerita panjang lebar begitu nampaknya cukup untuk membuat lidah dan tenggorokannya kering.
"Lalu, apa hubungannya denganmu hyung?"
Sebuah helaan nafas keluar dengan kasar dari hidung Young K, "Tidak ada".
"Mwo?"
"Aku hanya berusaha melindungi Soyoung dari gerombolan ahjussi yang selalu menguntit itu", kesalnya.
"Lalu kenapa hyung harus membuat perjanjian konyol itu dengan Mingyu?"
Young K baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Soonyoung tiba-tiba menggebrak meja dengan tangannya dan berseru, "Oh jangan dijawab! Aku tahu!"
Sebuah senyuman kecil muncul di bibir Young K.
"Kau meminta Mingyu pergi dari Soyoung, jadi preman itu tidak lagi menganggap ada sesuatu diantara mereka. Artinya, Soyoung akan aman setelahnya. Sedangkan Mingyu memintamu pergi agar tak ada lagi saingan baginya untuk mendekati Soyoung. Begitu, kan?"
"Majayo (kau benar)", jawab Young K.
"Jadi, kau benar-benar akan pergi?"
Sebuah anggukan diberi sebagai jawabannya.
"Kapan?"
"molla"
"Bukankah kau bilang, kau sedang mengurus sesuatu dan menunggu seseorang?"
Young K mengangguk lagi, "Akan kupastikan aku sudah kembali kesini saat orang itu datang", ujarnya sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
.
Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik sampai kemudian Jisoo merenggangkan punggungnya dan menghela nafas panjang.
"Jadi, yang Brian maksud selama ini adalah Jun ya..", gumamnya menarik kesimpulan.
"Aku bahkan baru tahu kalau mereka membuat perjanjian konyol itu"
"Nado", Hyun Ae menimpali ucapan Soyoung pelan, "Lagipula, aku tidak mengerti kenapa marga mereka berbeda".
Untuk yang satu itu, tidak ada satupun yang bisa menjawabnya.
Jeonghan melepas ikat rambutnya, merapikan beberapa helai rambut yang berkeliaran nakal, lalu mengikatnya kembali. "Kenapa masa lalu kalian rumit sekali, sih?", katanya.
Kali ini ada Dino yang ikut mengangguk setuju. "Kepalaku rasanya sakit mendengar cerita itu. Yang aku tahu kan, Hyung itu adalah penguntit noona. Dan lagipula, pengetahuanku itu salah". Dino jadi terkekeh sendiri karna ucapannya.
"Soyoung-ah.."
Yang dipanggil menoleh ke arah si sumber suara, Soonyoung. Gadis itu mengangkat alisnya seolah bertanya, 'wae?'.
"Bagaimana jika ternyata Young K benar-benar membawa Jun pergi? Maksudku, bagaimana jika dia benar-benar datang untuk menjemput Jun?"
"apanya yang 'bagaimana'?"
"Hubunganmu"
Dan detik itu Soyoung baru sadar kalau ia masih berstatus sebagai 'kekasih' dari seorang Wen Junhui.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Noona!"
Soyoung menoleh, berusaha mencari orang yang memanggilnya barusan. Dahinya langsung berkerut kesal saat menyadari bahwa ia melakukan hal yang sia-sia saat ini. Apa Soyoung lupa? Ia sedang berada di bangunan Pledis Entertainment, mengantar Dino, Soonyoung, dan Jeonghan untuk audisi. Sialnya, tempatnya menunggu ini terlalu ramai. Terlalu banyak orang.
"Noona!"
Itu suara Dino. Soyoung yakin sekali.
Ia menoleh lagi. Heol. Bagaimana caranya mencari orang ditengah kumpulan 'ikan pepes' ini, sih?
"Yak! Im Soyoung!"
Oh, kali ini itu suara Soonyoung.
Mata Soyoung mengedar lagi. Demi Tuhan, ia benci sekali dengan keramaian.
Keramaian, dan bau keringat, tentu saja.
GREBBB
Sebuah tangan tiba-tiba menarik lengan Soyoung ke pinggir ruangan. Soyoung terlalu kaget untuk menjerit marah karna wajahnya menubruk ransel seseorang beberapa kali, atau karna cekalan tangan orang itu menimbulkan jejak kemerahan di kulit lengannya.
Soyoung baru bisa melihat wajah pelakunya saat mereka sampai di sudut ruangan yang untungnya (atau mungkin juga, sialnya) agak sedikit lebih sepi.
"Mingyu?"
Si jangkung melambaikan tangannya keatas seolah memberi tanda tentang posisinya, entah pada siapa.
"Dino dan Soonyoung memanggilmu berulang kali, Pabo. Apa kau tuli?"
Soyoung mendengus, "Iya aku tuli. Sekarang lepaskan tanganku"
"Tidak sebelum Soonyoung sampai disini"
Apa katanya? Heol, Dasar 'Hitam Posesif' kelas berat.
"Mingyu-ya!"
Soyoung menoleh, dilihatnya seorang gadis berambut pirang dengan sentuhan warna biru di beberapa bagian tengah berlari menghampiri mereka. Oh, itu Ray. Ia mengecat rambutnya dengan warna yang berbeda lagi.
Gadis bercelana ripped Jeans itu sempat termenung sesaat ketika melihat Mingyu memegang tangan Soyoung erat, sampai kemudian ia mengalihkan pandangannya pada si tinggi.
"Kau sudah memberitahunya?"
Mingyu menggeleng, "Bisa kau tolong carikan Soonyoung dan Dino. Secepatnya"
Ray buru-buru mengangguk. Sekejap kemudian, ia melesat ke arah kerumunan peserta audisi. Dan tak lama kemudian, ia kembali dengan menggeret Soonyoung, Jisoo dan Dino ke tempat Mingyu berdiri.
Mingyu langsung melepaskan cekalannya.
"Ada apa?", cecar Soyoung begitu adiknya dan Soonyoung mendekat.
"Pergilah ke apartemen Jun, sekarang. Cepat!". Jisoo, setengah berteriak, mengguncang bahu Soyoung kuat-kuat.
Mata Soyoung membulat kaget, "Mwo? Apa yang terjadi? Apa ia belum juga hadir?".
Dino kali ini menggeleng, "Cepat susul Jun hyung, Noona. Kita masih punya waktu sampai jam 4 sore sebelum audisinya selesai".
"N-naega wae?"
"Yak! Kau bodoh? Kau kan pacarnya!"
Soyoung langsung menoleh ke arah Ray saat mendengar gadis itu bicara.
Ah benar, Soyoung adalah pacar Junhui.
"Jeonghan sudah didalam untuk audisi. Aku dan Mingyu akan berusaha melobi panitia untuk tetap memberikan Jun kesempatan sampai sore nanti. Aku harap ia takkan didiskualifikasi", lanjut Ray.
"KENAPA KAU MALAH DIAM DISITU, IM SOYOUNG?"
"Jangan berteriak padaku, Kim Mingyu! Kau hanya akan membuatku panik!"
"Kalau begitu, cepat berangkat!"
Soyoung menoleh ke arah Soonyoung. Belum sempat lagi ia membuka mulutnya untuk bicara, Jisoo sudah merangkul bahu Soonyoung dan mengangguk paham.
"Aku akan memastikan adikmu aman", katanya.
Setelah melempar ucapan terimakasih berkali-kali, Soyoung langsung melesat keluar gedung, menyetop sebuah taxi, lalu menghilang di tikungan jalan.
Mingyu menghentakkan kakinya kesal, "Si bodoh itu lupa menanyakanku password apartemen Junhui".
"Dan kau juga dengan bodohnya malah tidak memberitahu si bodoh itu meski tahu ia tidak bertanya", tukas Soonyoung.
"Aku juga lupa, Kwon", sungutnya, "Aku akan mengiriminya pesan kalau begitu".
Kwon?
Ah, nampaknya hubungan dua orang ini akan segera membaik sebentar lagi. Mingyu bahkan sudah memanggilnya dengan panggilan akrabnya di masa lalu barusan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
'From : Kim Mingyu
Kode apartemen Junhui adalah 80-98-711. Lain kali berpikirlah sebelum kau pergi, dasar bodoh'
.
Soyoung menekan tombol kode yang diberikan Mingyu di depan pintu apartemen Jun. Setelah bunyi 'PIIIPP' dan pintu terbuka. Setelah ber'Gomawo'-ria pada pesan Mingyu, gaids itu mulai melangkah masuk.
"Jun?"
Soyoung mengedarkan pandangannya ke dalam apartemen. Ia menyerngit saat pemandangan aneh tersaji di depan matanya. Buru-buru ia melirik ke pintu apartemen lagi, memastikan bahwa ini adalah apartemen nomor 47, bukan 74. Tapi, kodenya masuk benar kan? Seharusnya ini memang apartemen Jun.
Tapi, kenapa apartemen Jun sangat berantakan?
Diulangi ya.
Apartemen Jun sangat berantakan.
Ini benar-benar bukan Junhui yang Soyoung kenal. Jun terlalu malas untuk mengacak-acak barangnya sendiri.
Tunggu, kalau Jun sampai sekacau ini.. jangan sampai dia...
"YAK! WEN JUNHUI, PABO! EODISSEO?!"
Kakinya berlari ke ruangan pintu coklat, matanya mengedar. Jun tidak ada di kamarnya.
Ia berlari lagi ke dapur.
Jun tidak ada.
Di balkon juga tidak ada.
"WEN JUNHUI, JAWAB AKU! KAU DIMANA?!"
Ah, tunggu! Ada satu ruangan lagi yang belum Soyoung lihat.
Tangannya mendorong daun pintu berwarna putih kedalam. Hati-hati sekali, matanya mulai mengedar menyusuri tiap inci dari ruangan itu. Dan benar saja, ia berhasil menemukan sosok seseorang tengah berbaring di sofa. Seluruh tubuhnya tertutup selimut warna coklat, hanya lengannya yang muncul di bagian atas selimut tertekuk menutup bagian matanya.
Gadis itu hanya terlalu bodoh untuk menyangka Jun akan bunuh diri di apartemennya sendiri.
Soyoung melangkah perlahan menghampiri sofa.
"Jun-ie.."
Jun tak menjawab. Tapi samar-samar, Soyoung dapat mendengar ada helaan nafas berat dari balik selimut.
Tubuhnya didudukkan di samping sofa, tangannya meraih lengan Jun dan meletakkannya di pangkuan.
"Jun, wae geure?"
Jun masih diam saat Soyoung mulai mengusap dan memainkan ujung-ujung jemarinya.
"Ada apa, hm?"
Masih tak ada jawaban dari balik selimut.
Akhirnya Soyoung menarik kain yang menutupi wajah lawan bicaranya. Jun memalingkan wajahnya dari Soyoung, berusaha menyembunyikan matanya yang sedikit sembab, lengkap dengan hiasan lingkaran hitam di bagian bawahnya.
"Hei..", Soyoung menangkup wajah Jun dan membawa pandangan laki-laki itu untuk bertemu dengan miliknya, "Ada apa?".
Jun menggigit bibirnya. Dan sesuatu menetes begitu saja dari sudut matanya.
"Jun-ah, wae geure? Gwaenchana?"
Bukannya menjawab, Jun malah menarik tangannya dari genggaman Soyoung. Ia melingkarkan lengannya ke leher Soyoung dan membawa tubuh gadis itu ke pelukannya.
Jun menangis.
Tunggu.
Apa?
Jun menangis?
Ditepuknya punggung Jun beberapa kali, "Hei..", panggilnya. Kemudian Soyoung berujar pelan saat merasa pelukannya mulai mengendur, "Bangunlah. Cuci wajahmu, aku akan membuatkanmu coklat panas".
Dan untuk kali ini Jun meresponnya dengan anggukan pelan.
.
.
.
.
.
.
Soyoung mendudukkan dirinya disamping Jun. Ia meletakkan cangkir coklat panas di meja, lalu melirik sekilas ke arah jam dinding.
Ah, sudah hampir jam 1 siang.
"Sudah lebih baik?", tanyanya pada Jun.
Jun mengangguk, tangannya meraih cangkir, menyesap isinya sedikit, lalu melingkarkan jari-jarinya di sana.
Apartemen Jun sudah nampak sedikit lebih baik sekarang. Meskipun Soyoung hanya membuang sampah yang bertebaran dan mengembalikan beberapa selimut di atas sofa ke dalam kamar, sih. Tapi setidaknya, itu lebih baik daripada sebelumnya.
"Young K oppa memintamu untuk mulai mengurus perusahaan, eoh?", tanya Soyoung memecah kesunyian.
Jun langsung menoleh.
"Bagaimana kau tahu itu?"
Soyoung angkat bahu.
"Hanya dugaan", jawabnya tersenyum.
Lelaki bersurai kecoklatan itu menghela nafasnya lagi, pandangannya kembali terpaku ke coklat panas di tangannya.
"Sebenarnya, ia tidak memintaku. Ia hanya menyarankanku untuk mengurus perusahaan"
"Kenapa tidak Young K oppa yang mengurusnya?"
Manik madu yang sewarna dengan warna rambut pemiliknya itu beralih ke arah Soyoung.
"Soyoung-ah..", panggilnya. "Kau tahu kenapa margaku adalah Wen, sedangkan marga hyung adalah Kang?"
Sebuah gelengan diberikan Soyoung sebagai jawaban.
"Waeyo?"
"Brian Kang itu bukan hyungku"
"Mworago?"
"Papa menikah dengan wanita lain diluar sepengetahuan mama. Wanita itu adalah mama Kang, mamanya Brian hyung.."
Soyoung diam, menunggu Jun melanjutkan ceritanya.
"Saat papa menikah, mama Kang sudah memiliki Brian hyung. Mereka bahagia sekali, sampai kemudian, mama. Mamaku. Mengetahui segalanya. Mama dan Papa sempat bertengkar, dan hampir berpisah, kalau saja saat itu hasil tes kesehatan mama mengatakan kalau mama tengah mengandungku.". Bibir Jun sempat sedikit tertarik melengkung ke atas saat mengatakan kalimat terakhir. Mungkin karna ia sadar, kalau ia sempat menjadi hadiah yang indah bagi orangtuanya.
Sayangnya, itu hanya terjadi sekejap saja. Karna kemudian, senyum itu kembali hilang.
Jun mengusap permukaan cangkir ditangannya beberapa kali. "Pilihannya dua, papa menceraikan mama Kang, atau menceraikan mama", tambahnya.
"Dan Papa mu memilih untuk bertahan dengan mamamu?"
Jun menggeleng.
"Papa tidak memilih siapapun"
Soyoung kali ini menyerngit. Ia membiarkan Jun menyesap coklatnya lagi sebelum melanjutkan ceritanya.
"Mama Kang meninggal"
"Mwo? Bagaimana bisa?"
Jun hanya mengangkat bahu, "Kudengar karna sakit". Lalu ia melanjutkan, "Yang jelas mulai sejak itu, Brian hyung menjadi hyungku dan ikut tinggal bersama aku, mama dan papa. Tidak ada yang keberatan dengan itu, terkhusus aku. Aku malah sangat bersyukur memilikinya. Mama juga sebenarnya tidak masalah. Yang membuat mama marah itu karna papa menyembunyikan pernikahannya. Papa pabo".
Baiklah, Soyoung merasa, itu bukan bagian yang bagus untuk dikomentari. Hei, itu urusan orang dewasa, kan?
"Ehm, Lalu apa yang membuat Young K oppa tiba-tiba menghilang?"
Dan detik itu, Soyoung bisa melihat raut wajah Jun yang dulu sering mengganggunya. Raut wajah yang membuat gadis itu penasaran setengah mati. Raut wajah yang justru membuat dirinya dan Jun menjadi dekat seperti sekarang.
Itu merupakan ekspresi wajah yang membuat Soyoung sangat menyesal karna merasa telah menanyakan hal yang salah padanya.
Wajah sendu Jun.
"Kupikir selama ini, hanya aku yang kesepian..". Jun menoleh pada Soyoung, "Tapi kau tahu, Soyoung-ah? Ternyata hyung lebih kesepian dariku".
Soyoung memilih untuk tetap diam kali ini.
"Hyung sudah susah payah mengorbankan hidupnya di Cina dengan datang kesini. Belajar bahasa korea, hangul, budaya, segalanya. Tapi, sedih kan rasanya jika harus hidup sendiri, dijauhi dan bahkan sampai tidak diakui oleh keluarganya".
Soyoung menyerngit bingung, "Maksudmu?".
"Kau sudah pernah berteman dengannya, kan?"
Soyoung mengangguk, "Tidak lama", jawabnya. Tapi, sedetik kemudian, matanya mengerjap kaget.
"AH! AKU INGAT! Dia.. dia juga.."
Bibir Jun tertarik ke atas. "Iya", sambungnya, "Dia juga. Dia juga sama sepertiku. Berkali-kali pindah karna dijauhi", katanya getir. "Tapi nasibnya lebih buruk. Saat ia mulai membuka koneksi ke perusahaan, ia bahkan diabaikan. Dianggap anak haram karna hampir merusak pernikahan papa dan mama. Saat itu Hyung merasa sangat...hancur". Butuh sepersekian detik bagi Jun sampai akhirnya bisa menemukan kata yang pas untuk menggambarkan keadaan Young K waktu itu.
"Jadi, itu sebabnya dia ke Kanada?"
Kali ini Jun yang mengangguk.
"Lalu apa yang membuatmu sampai se-terpuruk ini?"
"Soyoung-ah.."
"Eum?", sahut Soyoung. Kedua alisnya terangkat menuntut lanjutan dari kalimat Jun.
"Bagaimana jika..aku tidak jadi ikut audisi?"
Ingatkan Soyoung untuk memeriksakan telinganya ke dokter THT setelah ini. Ia hampir mendengar bahwa Jun ingin membatalkan audisinya tadi. Lucu sekali, mengingat lelaki itu sudah mati-matian mengasah kemampuan vokalnya.
"M-mworago?"
"Aku ingin membatalkan audisiku"
"W-waeyo?"
"Pilihannya hanya dua. Aku yang membatalkan audisiku, atau hyung yang harus berhenti dari bandnya.", ujar Jun. "Bukankah lebih baik aku mundur sebelum segalanya dimulai? Karir hyung sudah bagus saat ini. Aku tak mungkin mengacaukannya begitu saja"
Helaan nafas berat lolos dari bibir Soyoung. Seharusnya ia sudah menduga ini sejak Jeonghan memberitahunya tentang band bernama Day6, kan? Yah, meskipun ia baru sadar kalau Young K oppa yang ia kenal itu yang kini menjadi artisnya.
Tapi... Hei, jangan salahkan Soyoung! Gadis itu bahkan hampir tidak pernah menonton televisi lebih dari 3 jam perharinya.
"Jadi, itu yang Young K oppa katakan padamu?"
"Iya, dan tidak. Ia menceritakan segalanya padaku. Termasuk... eh, omong-omong, hyung meminta maaf karna tidak memberitahumu nama aslinya. Dia bilang, dia hanya ingin memulai identitas baru"
Soyoung malah merengut mendengarnya, "Iya, terserahlah. Lanjutkan saja omonganmu tadi".
Hampir saja Jun terkekeh melihat respon gadis disebelahnya, kalau saja ia tidak ingat kalau moodnya sedang tidak baik hari ini.
"Termasuk kenapa namanya menjadi Young K. Kenapa dia ikut audisi band. Kenapa dia pergi dari Korea. Kenapa dia melindungimu. Dan,...", Jun menggigit bibirnya sesaat. "Kenapa mama hilang".
"Boleh aku tahu, kenapa?"
Setelah mengangguk, Jun menyesap coklatnya yang mulai dingin.
"Pesawatnya jatuh"
"Ja-jatuh?"
Jun mengangguk. Ekspresinya masih terlihat datar seperti sebelumnya. Tapi kali ini tangannya gemetar hebat, bahkan isi cangkirnya sampai tumpah ke atas karpet ruangan.
"Kecelakaan. Kau ingat saat kita berkencan, lalu siaran berita di pos keamanan bilang, ada pesawat menuju Korea yang jatuh di perairan dan tidak ditemukan sama sekali?"
Samar-samar, Soyoung mengangguk. Mereka memang sempat mendengarnya, tapi saat itu, baik Soyoung maupun Jun sama-sama menganggap kalau itu hanya kecelakaan 'biasa'. Jadi, saat mereka mendengarnya sekilas, mereka hanya kembali berjalan ke arah kedai kopi untuk istirahat. Soyoung tidak menyangka kalau pesawat itu adalah..
"Iya, mama hilang. Meninggal, mungkin."
Soyoung bisa melihat ada air menggenang di pelupuk mata Jun. Tanpa sadar, ia meraih cangkir dari tangan Jun, dan meletakkannya di meja. Lalu sebagai gantinya, ia menggenggam kedua telapak tangan Jun yang masih bergetar kuat.
"Kurasa, aku memang harus membatalkan audisinya. Mama.. Mama mengharapkanku untuk melanjutkan perusahaan itu"
"Jun-ah.."
Setetes air mengalir turun dari pipi Jun. Matanya beralih pada manik kecoklatan milik Soyoung, tatapannya hampa. Soyoung tahu pasti, ini bukan keputusan yang Jun inginkan.
"apa kau benar-benar ingin membatalkan audisinya?"
Sedikit ragu memang, tapi Jun mengangguk. "Tak ada ruginya. Tak akan ada yang peduli lagipula".
Suasananya mendadak hening sampai suara Soyoung terdengar dan memecahkan keheningan itu.
"I do care"
Ekspresi Jun sesaat sempat berubah selama sepersekian detik, sebelum akhirnya kembali sendu.
"Jangan membuatku berharap. Kita hanya terikat perjanjian, Soyoung-ah. Lagipula, aku belum mengatakan padamu, kan, kalau Mingyu bilang, dia akan berhenti mengejarmu?"
"Mwo?"
"Iya, dan itu artinya, sebentar lagi, kita akan kembali ke kehidupan masing-masing"
Soyoung menatap mata Jun dalam-dalam. Jun benar. Mereka memang tidak punya hubungan apa-apa. Toh sejak pertama, ini hanya sebuah perjanjian konyol. Ini hanya sebuah permainan yang akan berhenti jika Mingyu sudah berhenti 'mengganggu' Soyoung. Benar, kan? Soyoung dan Jun memang tidak pernah punya hubungan apapun dari awal.
Setidaknya, belum.
"Kalau begitu, jadilah kekasihku yang sesungguhnya, Jun"
"M-mworago ?"
Soyoung tersenyum, "Jadilah kekasihku. Kau harus bertanggung jawab karna sudah membuatku jatuh cinta padamu. Lagipula, apa kau sama sekali tidak memiliki rasa untukku? Heol, kau bahkan sudah mengajakku berkencan"
Hening.
"Jun?"
"N-ne?"
Hening lagi.
"Maaf, aku kelewatan, ya?", tanya Soyoung kecewa.
Bukanya menjawab, Jun malah menepis tangan Soyoung yang sejak tadi menggenggam telapaknya.
Soyoung langsung merunduk, merasa apa yang ia katakan tadi adalah salah. Wae? Bukankah tidak seharusnya perempuan yang mengajak laki-laki berkencan duluan? Ah, Soyoung paboya.
Ia baru saja ingin memukuli keningnya sendiri saat tiba-tiba tangannya ditarik kedepan dan sepasang lengan melingkar nyaman dibalik punggungnya.
Tunggu dulu!
"Jun?"
"Berjanjilah padaku untuk tidak pergi"
Ada air yang mulai membasahi bagian bahu baju Soyoung saat Jun bicara disana.
"Jun-ah, uljimma..", jawab Soyoung. Tangannya menelusup dibalik lengan Jun, ia membawa jemarinya menepuk pelan punggung lelaki itu beberapa kali.
"Berjanjilah dulu padaku, Im Soyoung", isak Jun lagi.
Soyoung mendorong tubuh Jun menjauh, memaksa lelaki itu untuk melepas pelukannya. Ditangkupnya kedua pipi Jun, lalu dengan jemarinya, ia menghapus jejak air mata dari sana. Ditatapnya juga kedua manik madu di hadapannya, dan gadis itu berkata, "Aku berjanji, Wen Junhui".
Sebelum Soyoung sempat menyadari apa yang terjadi, Jun sudah lebih dulu membalas tangkupan wajahnya. Bahkan lelaki Cina itu sudah mengecup bibir Soyoung lembut cukup lama. Jika bukan karna Soyoung yang memukuli dadanya akibat kehabisan nafas, Jun pasti tidak akan menghentikan pagutannya.
Keduanya terkekeh malu saat kembali bertemu pandang. Soyoung senang sekali akhirnya ia bisa melihat senyum Junhui kembali.
Suasana sedih yang baru saja diciptakan Jun mendadak hilang entah kemana, dan hampir tak ada jejaknya sedikitpun andai sebuah kalimat menyebalkan tidak meluncur dari bibir Jun.
Dia bilang,
"Aku tetap akan membatalkan audisiku"
Heol. Ingatkan Soyoung untuk tidak mengamuk pada lelaki cengeng yang satu ini.
