Eclipse
.
.
a BTS Fanfiction
Kim Namjoon x Kim Seokjin (GS!)
Kim Taehyung x Kim Seokjin (GS!)
.
.
Warn!
Fantasy, AU, GS. NamJin with TaeJin
.
.
Read at your own risk
.
.
Part 9: Leave Behind
Seokjin berlari secepat yang dia bisa menuju mobilnya, dia bisa merasakan langkah kaki Namjoon di belakang tubuhnya namun Seokjin tidak berhenti sama sekali, dia justru mempercepat kayuhan langkahnya hingga akhirnya dia melihat mobilnya yang masih terparkir di depan toko.
Seokjin segera masuk dan mengunci pintu bersamaan dengan Namjoon yang tiba di samping mobilnya, Namjoon mengetuk-etuk kaca jendela mobil Seokjin namun Seokjin tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Dia bergegas memakai safety belt dan menyalakan mesin mobil, Namjoon terlihat kalut dan itu wajar saja, Seokjin benar-benar melihatnya saat sedang bersama orang lain.
Namjoon memasang wajah memelasnya seraya memanggil nama Seokjin berulang kali namun Seokjin sama sekali tidak menoleh ke arahnya dan ketika mesin mobil menyala, Namjoon semakin panik. Namjoon mencoba memanggil Seokjin lagi namun Seokjin masih tidak menoleh ke arahnya.
Seokjin menarik napas dalam, kedua tangannya mencengkram roda kemudi dengan erat kemudian dia akhirnya menoleh ke arah Namjoon, Namjoon terlihat bersyukur karena akhirnya Seokjin mau menatapnya.
"Seokjin, aku.."
"Aku membencimu. Selamat tinggal." Seokjin memasukkan persneling dan menginjak pedal gas dengan kuat, dia sama sekali tidak peduli Namjoon yang sedikit terseret karena sebelumnya pria itu masih bersandar di mobilnya.
Seokjin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kota, dia yakin Namjoon pasti akan menyusulnya dan Seokjin benar-benar tidak mau bicara dengannya saat ini. Jika saja bisa, Seokjin ingin sekali mencekik Namjoon, memakinya hingga puas, dan juga meneriakinya sesuka hati.
Namun entah kenapa Seokjin rasa itu tidak akan cukup, Seokjin tidak tahu apa dan kenapa yang membuat Namjoon begitu dekat dengan Jungkook. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan percakapan diantara Namjoon dan Hoseok yang Seokjin dengar?
Mungkinkah memang Namjoon itu tidak ditakdirkan untuk Seokjin?
Seokjin menginjak pedal gasnya semakin kuat, semua hal ini benar-benar membuatnya sakit kepala, Seokjin sangat ingin pergi meninggalkan semuanya. Akan tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya, Seokjin sampai di persimpangan jalan yang akan membawanya menuju rumahnya, namun Seokjin tidak berbelok menuju rumahnya, sebaliknya dia justru berbelok menuju kastil Taehyung.
Seokjin butuh menjauh dari Namjoon dan Seokjin tahu Namjoon tidak akan pernah pergi ke tempat Taehyung. Seokjin menghentikan mobilnya ketika dia sudah tiba di jalan dengan sebatang pohon tumbang yang melintang menghalangi jalan. Jalanan itu sepi dan tidak terlihat satu orangpun di sekitarnya, namun Seokjin tahu Taehyung pasti menyadari kehadirannya di sini.
Dia bergerak keluar dari mobilnya dan ketika Seokjin baru saja melangkahi pohon tumbang itu, seseorang menangkap lengannya. Seokjin berhenti dan menoleh, dia melihat Namjoon berdiri di sebelahnya dengan tangan yang memegangi lengannya.
"Tidak, Seokjin." Namjoon menarik napas, "Biarkan aku menjelaskan ini."
Seokjin menunduk menatap tangannya yang masih dipegangi dengan kuat oleh Namjoon, "Kurasa tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku sudah melihat semuanya."
Namjoon menggeleng, "Seokjin, ini tidak seperti yang kau lihat. Aku tidak.."
Seokjin menarik tangannya dari cengkraman Namjoon, "Aku tidak tertarik membahas ini." Seokjin berbalik dan berjalan semakin jauh ke dalam wilayah Taehyung, dan tiba-tiba saja Taehyung muncul dan berdiri di tengah jalan itu.
Pandangan vampire itu tertuju padanya dan Taehyung tersenyum padanya saat Seokjin berjalan menghampirinya. Seokjin menoleh ke belakang dan dia melihat Namjoon yang terlihat sangat sedih, namun dia tidak bisa beranjak dari posisinya karena jalan tempat Seokjin berada adalah wilayah Taehyung.
Taehyung membuka lengannya, "Seokjin.."
Seokjin mempercepat langkahnya dan akhirnya masuk ke dalam pelukan Taehyung, Seokjin bisa merasakan kedua lengan Taehyung yang melingkari tubuhnya dan bagaimana vampire itu menarik napas di rambutnya. Seokjin membenamkan hidungnya di bahu Taehyung kemudian mempererat pelukannya pada tubuh pemimpin klan vampire itu.
"Taehyung.." bisik Seokjin.
.
.
.
Namjoon tidak tahu apakah ada kata-kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Awalnya dia tidak ingin pergi menemui Jungkook lagi, namun ada sesuatu yang membuatnya begitu penasaran dengan kehadiran gadis itu. Namjoon tidak bodoh, instingnya sebagai Alpha sangat kuat dan jika memang Jungkook pasangannya, seharusnya Namjoon sudah menyadarinya sejak awal.
Jika Jungkook adalah pasangannya, maka seharusnya Namjoon sudah tahu sejak dulu. Seharusnya Namjoon tahu jika pasangannya berada di jarak yang sangat dekat dengannya, kecuali jika Jungkook baru pindah ke kota itu bersamaan dengan Seokjin yang tiba di kota ini.
Maka dari itu Namjoon bermaksud menyelidiki kenyataan itu dengan pergi menemui Jungkook lagi. Namjoon bermaksud memeriksa latar belakang Jungkook dan kapan kiranya gadis itu mulai tinggal di kota ini.
Namjoon tidak bermaksud lain, dia hanya ingin memeriksa keterangan mengenai Jungkook. Ketika Namjoon masuk ke dalam restoran, senyuman ramah Jungkook segera menyapanya. Namjoon memutuskan untuk memesan kopi lagi dan duduk di salah satu meja yang kosong.
Jungkook tersenyum saat melihat Namjoon berjalan masuk ke dalam restorannya. "Kopi lagi?" tawar gadis itu seraya tertawa kecil.
Namjoon membalas senyum ramah Jungkook dan mengangguk, "Yah, kopi boleh. Tapi⦠kali ini aku mau latte, boleh?"
Jungkook mengangguk, "Tentu, duduklah dulu." Jungkook berjalan ke arah meja bar kemudian menoleh lagi ke arah Namjoon, "Mau makan sesuatu?"
Namjoon menggeleng, "Tidak, aku sudah makan. Aku hanya butuh kopi." Namjoon memperhatikan seisi restoran yang agak sepi, "Tidak biasanya di sini sepi."
Jungkook mengambil sebuah cangkir, karena meja tempat Namjoon duduk dan meja bar tidak terlalu jauh, dia masih bisa mendengar suara Namjoon. "Sekarang belum jam makan siang, Tuan. Dan kami juga baru buka."
Namjoon mengangguk-angguk, dia memperhatikan seisi restoran, jika diperhatikan dari kondisi interior restoran, Namjoon bisa menduga bahwa tempat ini sudah buka cukup lama. "Berapa lama kau dan ayahmu membuka restoran ini?"
Jungkook meletakkan latte Namjoon di atas tray, "Belum lama, kurasa lima tahun lalu. Aku dan Papa pindah ke sini kurang lebih enam atau tujuh tahun lalu." Jungkook mengangkat bahunya, "Kami pindah ke sini karena Papa bilang ingin mencari suasana baru, dan siapa sangka ternyata kami malah membuka restoran di sini."
"Kalian tinggal di dekat sini?"
"Aku dan Papa tinggal di flat di sebelah restoran." Jungkook membawa tray berisi kopi Namjoon dan mengantarnya ke meja pria itu. "Kenapa? Kau berpikiran untuk pergi ke rumah kami juga? Maaf saja ya, rumah kami tertutup untuk orang asing." Jungkook berujar dengan mata disipitkan kemudian dia tertawa.
Namjoon refleks ikut tertawa ketika Jungkook tertawa ceria, dia menggeleng pelan. "Tidak, tidak, aku hanya bertanya. Karena rasanya aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini."
Jungkook mengerutkan dahinya dan meletakkan kopi Namjoon di atas meja, "Aku juga tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau juga baru pindah?"
Namjoon menggeleng, tangannya bergerak meraih cangkir kopinya, "Tidak, aku sudah tinggal di sini seumur hidupku. Hanya saja aku memang suka bepergian dalam waktu yang cukup lama." Karena aku pergi mencari Seokjin..
Jungkook menaikkan sebelah alisnya, "Wow, sudah kuduga kau kaya."
"Kenapa begitu?"
"Karena tidak ada orang biasa saja yang sudah makan tapi pergi ke restoran hanya untuk membeli kopi." Jungkook berdecak, "Itu terlalu berlebihan, kau tahu?"
Namjoon tertawa mendengar ucapan Jungkook, "Yah, kau bisa bilang begitu."
Jungkook tersenyum bangga, "Aku memang selalu tepat." Kemudian gadis itu menarik napas, "Oke, kalau ada sesuatu yang kau butuhkan atau ingin kau pesan, kau bisa memanggilku."
Namjoon tersenyum seraya menyesap isi cangkirnya, "Tentu, terima kasih, Jungkook."
Jungkook membalas senyum Namjoon dengan senyum cerianya kemudian berbalik dan kembali bekerja di balik meja bar. Sementara Namjoon meraih cangkirnya lagi dan mulai menyesap isinya sampai kemudian dia merasakan jantungnya yang terasa nyeri. Namjoon menyentuh bagian dadanya dan merasakan bagian itu terasa begitu sesak dan menyakitkan, Namjoon bukanlah seseorang yang mudah sakit, bahkan sebenarnya dia tidak bisa sakit sedikitpun.
Namun rasa sakit di dadanya begitu nyata dan jika ini tidak berasal dari Namjoon, maka ini berasal dari Seokjin, karena mereka berbagi jiwa yang sama setelah Namjoon mengklaim Seokjin sebagai miliknya. Jika Seokjin merasakan sakit, maka Namjoon akan merasakan hal yang sama, dan saat ini Seokjin pastinya sedang merasakan sakit.
Namjoon bermaksud untuk keluar dan pergi mencari Seokjin namun entah kenapa dia merasa melihat sesuatu di luar dari ekor matanya. Namjoon menoleh dan matanya melebar saat melihat Seokjin yang berdiri diam di luar restoran dengan mata basah dan airmata yang mengalir dari kedua matanya yang cantik. Namjoon kehabisan kata-kata, rasa sakit di dadanya terasa semakin menyesakkan dan dia melihat Seokjin menggigit bibirnya kemudian sebelum Namjoon sempat melakukan apapun, Seokjin sudah berbalik dan berlari pergi.
Hal pertama yang dilakukan Namjoon kala itu adalah berdiri dan berlari pergi, dia meninggalkan sejumlah uang di atas meja dan segera berlari secepat mungkin untuk mengejar Seokjin.
Namjoon merasa hampir mati saat melihat Seokjin menangis, terlebih lagi ketika dia bisa merasakan apa yang Seokjin rasakan. Namjoon bisa benar-benar mati jika dia tahu Seokjin merasakan perasaan sakit hingga seperti itu. Namjoon tidak akan bisa menerimanya, Namjoon tidak akan pernah membiarkan Seokjin merasakan perasaan seperti itu lagi karena itu benar-benar membunuh Namjoon di tiap detiknya.
Namun sayangnya Seokjin tidak mau mendengarkannya dan Namjoon bisa mengerti itu. Seokjin pastinya merasa sangat kecewa dan sedih melihat apa yang terjadi di antara dia dan Jungkook. Namun satu hal yang benar-benar disayangkan oleh Namjoon adalah dia tidak bisa menjelaskan alasan kenapa dia menemui Jungkook dan juga apa yang sebenarnya terjadi.
Namjoon sudah benar-benar yakin sekarang,
Seokjin adalah seseorang yang ditakdirkan untuknya, karena Namjoon bisa benar-benar mati jika Seokjin meninggalkannya.
.
.
.
Seokjin duduk di ambang jendela besar yang berada di kastil Taehyung seraya melipat lututnya, cuaca di luar sedang mendung dan entah kenapa ini terasa benar-benar mendukung suasana hati Seokjin. Seokjin menatap ke luar dengan pandangan kosong, sejak tiba di kastil Taehyung dia tidak melakukan apapun selain duduk dan menatap ke luar dengan pandangan kosong.
Taehyung memutuskan untuk meninggalkannya di ruangan ini hingga Seokjin mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan Seokjin benar-benar bersyukur akan sikap Taehyung yang satu itu. Setidaknya Taehyung tidak memaksanya untuk bercerita.
"Jadi kau ke sini hanya untuk duduk diam di ambang jendela seperti itu?"
Seokjin tersentak kaget, dia menoleh ke arah suara dan melihat Yoongi sedang melipat tangannya di depan dada seraya menatapnya dengan mata menyipit. Seokjin menurunkan kakinya dan menjadi duduk bersila di ambang jendela, dia berdehem gugup. "Hai, Yoongi.
Yoongi berjalan menghampiri Seokjin dan bersandar di dinding yang berada di sebelah jendela Seokjin. "Kau memiliki masalah?"
Seokjin memainkan bibirnya, "Kurasa begitu."
Yoongi menoleh ke arah Seokjin yang masih duduk di ambang jendela, "Kau ingin menceritakannya padaku? Aku akan berusaha netral dan tidak memihak."
Seokjin tertegun, entah kenapa dia merasa Yoongi hampir mirip dengan Hoseok. Mereka sama-sama tenang dan terlihat mampu menangani berbagai hal. "Kau seperti Hoseok," ujar Seokjin tanpa sadar.
Yoongi menaikkan sebelah alisnya, "Beta dari pack werewolf itu?" Yoongi memiringkan kepalanya, "Kurasa kami mirip karena tugas kami sama. Aku adalah orang yang menasihati Taehyung agar dia tidak bertindak bodoh."
Seokjin tersenyum, "Kurasa kau benar-benar menjalankan tugas itu dengan baik."
"Yah, kurasa begitu. Jadi, ada apa?"
Seokjin mengulum bibirnya, "Aku rasa masalah ikatan yang tertukar itu.. memang benar."
Yoongi memperhatikan Seokjin yang sedang bergerak-gerak memilin-milin jemarinya sendiri. "Kenapa kau berpikir begitu?"
Seokjin mendongak, karena Yoongi berdiri, maka posisinya menjadi lebih tinggi. "Karena kurasa.. Namjoon menemukan pasangannya yang sesungguhnya."
Yoongi menarik napas, "Kau tahu masalah ini tidak bisa dibereskan begitu saja hanya berdasarkan dugaan. Aku sudah setengah mati menahan Taehyung yang benar-benar ingin melanggar batas territorial hanya untuk bertemu denganmu. Masalah ini tidak akan selesai jika kau tidak bisa berpikir dengan jernih."
Seokjin menggigit sudut bibirnya, "Aku tahu, tapi.. aku tidak.." Seokjin menghela napas keras, "Aku rasa itu bukan aku. Kurasa bukan aku seseorang yang diinginkan Namjoon."
"Kau benar-benar yakin untuk yang satu ini?"
Seokjin mengulum bibirnya, matanya bergerak-gerak tidak fokus karena dia sedang merasa ragu. "Entahlah, aku hanya.. aku tidak yakin Namjoon benar-benar menginginkanku." Seokjin menghela napas pelan, bayangan Namjoon saat tersenyum dan tertawa bersama Jungkook kembali terbayang di pikirannya. "Kurasa pasangan Namjoon memang bukan aku."
"Dan kau adalah pasangan Taehyung, begitu?" tanya Yoongi, dia melihat Seokjin yang diam dan terlihat ragu kemudian menghela napas pelan. "Kau bahkan ragu menjawab pertanyaan yang ini. Kurasa kau hanya sedang bingung."
Seokjin mengacak rambutnya dengan frustasi, "Lalu aku harus bagaimana?"
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Kau harus berpikir jernih."
Seokjin terdiam kemudian dia merogoh saku celana jeansnya dan menarik keluar ponselnya. Seokjin menggerak-gerakkan jarinya di ponsel kemudian dia menempelkannya ke telinga.
Yoongi mengangkat sebelah alisnya, "Siapa yang kau hubungi?"
"Hoseok," sahut Seokjin singkat kemudian dia kembali fokus ke sambungan teleponnya. "Hei, Hoseok.." Seokjin berdehem, "Ini aku, boleh aku minta tolong padamu untuk membawakan pasporku ke ujung jalan untuk masuk ke territorial vampire?"
Dahi Yoongi berkerut, "Apa yang.."
"Terima kasih, Hoseok." Seokjin menutup sambungan telepon itu kemudian dia mendongak dan menatap Yoongi. "Aku akan pergi dari sini."
Yoongi terlihat terkejut, "Hei, aku tidak menyarankanmu untuk pergi."
Seokjin tersenyum, "Aku tahu, tapi.. aku juga tahu jika aku terus berada di sini, maka pastinya akan terasa sulit untuk semua orang."
"Seokjin.."
Seokjin tersenyum, "Jangan khawatir, hanya aku yang pergi." Seokjin menunduk kemudian menatap tangannya yang masih memegang ponsel, "Kurasa seharusnya aku melakukan ini sejak awal aku tahu Namjoon memiliki Omega dalam kehidupannya, jika saja aku langsung pergi saat itu, maka Taehyung tidak akan bertemu denganku."
"Aku cukup yakin aku tidak akan menyesal dengan pergi meninggalkan Namjoon karena aku rasa memang bukan aku yang seharusnya berada di sisinya. Tapi.. aku rasa aku akan merasa menyesal dan bersalah karena aku akan meninggalkan Taehyung." bisik Seokjin kemudian dia menarik napas dalam, "Taehyung sudah bersikap sangat baik padaku, aku.. menyayanginya seperti teman baikku sendiri."
Yoongi melirik ke arah pintu ruangan yang tertutup, dia tahu Taehyung bisa mendengarkan ini semua karena sejak tadi pria itu berdiri di balik pintu yang tertutup.
Sementara itu di luar pintu, Taehyung berdiri bersandar di dinding yang berada tepat di sebelah pintu, sejak Seokjin tiba di kastilnya dan memilih untuk berdiam sendirian, Taehyung memang sudah berdiri di sana. Dia tidak ingin menganggu Seokjin namun dia sendiri juga merasa cemas dan khawatir akan kondisi Seokjin.
Untungnya Yoongi menawarkan diri untuk masuk dan bicara dengan Seokjin, dan sejak awal percakapan itu dimulai, Taehyung sudah bisa menangkap masalah yang dialami Seokjin.
"Aku merasa bersalah karena pada akhirnya aku pergi seperti ini. Aku tahu ini benar-benar jalan pintas yang bodoh dan menegaskan bahwa aku adalah seorang pengecut yang memilih untuk lari. Tapi.. seperti yang kau bilang tadi, Yoongi. Aku butuh memikirkan ini dengan baik, dan aku tidak akan bisa mendapatkan itu di sini."
"Lantas kemana kau akan pergi?"
Taehyung bisa mendengar tawa kecil Seokjin, "Bukankah dunia ini luas? Aku bisa pergi kemana saja."
Taehyung menunduk dalam dan memejamkan matanya, haruskah dia merelakan Seokjin pergi?
"Karena itu.. apa aku boleh minta tolong padamu, Yoongi?"
"Apa?"
"Bisakah kau mengantarku sampai ke ujung jalan sana?"
"Aku bahkan bisa mengantarmu sampai bandara."
Taehyung mendengar Seokjin tertawa lagi dan akhirnya memutuskan untuk bergerak pergi meninggalkan tempatnya berada tadi.
Jika Seokjin ingin pergi untuk menentukan keputusannya, maka Taehyung tidak bisa melakukan apapun, itu adalah hak Seokjin untuk pergi.
Taehyung tidak bisa melakukan apapun selain membiarkannya.
.
.
.
Seokjin menunduk menatap passportnya yang baru saja diberikan oleh Hoseok tadi, Beta dari pack Namjoon itu tidak mengatakan apapun ketika menyerahkan passport itu, dia bahkan tidak berkomentar mengenai Yoongi yang berdiri menunggu Seokjin di mobilnya sendiri.
Seokjin sudah menyerahkan kunci mobil yang dibawanya pada Hoseok dan saat ini dia sedang duduk di sebelah Yoongi di dalam mobil pria itu. Seokjin menatap passportnya dengan pandangan kosong, dia masih tidak tahu apa yang harus dia lakukan tapi Seokjin rasa ini adalah keputusan terbaik.
"Jadi, kau sudah memutuskan?" tanya Yoongi seraya menyalakan mesin mobilnya.
Seokjin menarik napas dalam dan mengangguk, "Ya, tolong antar aku ke bandara."
Yoongi mengangguk, "Oke, apapun keputusanmu."
Seokjin memperhatikan pemandangan di luar jendela sepanjang perjalanannya dengan Yoongi yang juga tidak mengatakan apapun di sebelahnya. Kemudian tiba-tiba saja Seokjin melihat restoran ayah Jungkook dan dia melihat gadis itu yang sepertinya sedang membuang sampah.
"Tunggu," ujar Seokjin.
Yoongi menginjak rem, "Ada masalah?"
Seokjin menoleh ke arah Yoongi, "Maaf, Yoongi. Bisa tolong berhenti sebentar?"
Yoongi mengerutkan dahinya tapi dia tetap meminggirkan mobilnya dan berhenti. Seokjin segera melepas safety beltnya dan berjalan keluar dari mobil. Yoongi ikut keluar dari mobil dan berdiri di sebelah mobilnya, dia melihat Seokjin berlari kecil menghampiri seorang gadis yang sepertinya baru saja membuang sampah.
Dahi Yoongi berkerut karena rasanya dia belum pernah melihat gadis itu, namun sesuatu membuatnya tertegun.
Yoongi tidak bisa mencium aroma gadis itu.
Yoongi sangat yakin aroma yang beterbangan di udara ini adalah aroma Seokjin, Yoongi mengenal aroma Seokjin karena aromanya luar biasa lezat untuk ukuran manusia, aromanya begitu unik dan tidak ada satu manusia pun yang memiliki aroma yang sama dengan Seokjin.
Namun entah kenapa, hanya aroma itu yang beterbangan di sekitar Yoongi, padahal seharusnya Yoongi mencium aroma dari gadis yang sedang berbicara dengan Seokjin itu.
Lantas kenapa Yoongi tidak mencium aroma yang berbeda?
Disaat Yoongi masih termenung dalam kebingungannya, dia melihat Seokjin yang sepertinya sudah selesai berbicara dengan gadis itu dan kembali berjalan ke arah mobilnya. Yoongi membuka pintu mobilnya dan menunggu Seokjin masuk ke sisi sebelah pengemudi namun saat Yoongi memalingkan pandangannya kembali ke arah gadis tadi, dia bisa melihat gadis itu memperhatikan Seokjin dan mungkin karena dia merasa diperhatikan, dia mengalihkan pandangannya ke arah Yoongi.
Mata Yoongi melebar saat menyadari satu hal ketika gadis itu menatap Yoongi.
Gadis itu memiliki mata yang sama dengan Seokjin.
To Be Continued
.
.
.
Hello~
Lama tidak bertemu. Heheheh
Aku update kalo aku lagi bisa update ya gaes.
Jadi kuharap kalian bisa maklum. Hehe
Sampai ketemu lagi nanti saat aku update~
