Baiklah. Ini Chapter yang rada vulgar. Para readers yang membaca cerita sebelumnya pasti sudah tahu ^_^
Oke, Lanjuttt...
.
.
.
Kegelapan Putih (Slumber Corpses another story)
Bagian 10
Hanbei p.o.v.
(Tidak diperkenankan untuk dibaca oleh yang berumur 12 tahun ke bawah)
Aku dan Nona Misa menatap Nona Nago dengan nanar. Dadaku masih terasa sakit. Tapi aku tidak ingin merepotkan Nona Misa. Aku berusaha tegap, namun rasa sakit di tubuhku semakin menjadi-jadi. Kalau saja Nona Misa tidak menolongku, aku pasti sudah ambruk di tanah.
"Nago-chan! Jawab pertanyaanku! Mengapa kau melakukan itu pada Hanbei?" Tukas Nona Misa geram.
"Fufufu...kau pasti sudah tahu kalau Hanbei akan menikah denganku, Misa-chan. Tapi kau mengambilnya dariku! Seharusnya dia yang menikahiku dan bukannya kau!"
Nona Misa menoleh ke arahku.
"Hanbei-sama, apakah benar kau sangat ingin menikah dengan Nago-chan sebelumnya?" Tanyanya.
"Untuk apa aku berbohong pada anda, Misahime-sama? Baik, akan kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Ujarku seraya berusaha menarik nafas. Setelah agak lega, aku memulai penjelasanku.
"Awalnya kami memang akan menikah. Tapi itu bukan atas kemauanku sendiri. Nagohime-sama memaksaku habis-habisan. Dan anda pasti tahu bahwa cinta yang bertepuk sebelah tangan tidak akan pernah menjalin perkawinan sejati. Aku sudah memikirkan itu jauh-jauh hari. Sejak awal, aku memang tidak punya niat menikahi Nagohime-sama. Aku jatuh cinta pada anda, Misahime-sama. Aku tidak ingin perasaanku dicampur aduk. Itulah sebabnya aku..."
Aku tidak melanjutkan kalimatku dan terbatuk-batuk. Darah mulai membasahi tanganku yang menutup mulutku. Sejak Nona Nago melakukan itu padaku, kurasa penyakitku semakin menggila.
"Hanbei-sama, Jangan bicara lagi! Kau perlu istirahat!" Kata Nona Misa. Dia tampak khawatir.
Satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah Nona Nago segera pergi dari sini.
Nona Nago tertawa."HAHAHA! Menggelikan sekali. Kalian nyaris membuatku muak. Ah, aku baru ingat sesuatu."
Ia merogoh ke balik kimononya dan mengeluarkan sebuah boneka jerami.
"Takenaka-kun, kau masih ingat perjanjian kita tadi siang?"
Nona Misa terkejut melihat itu. Ia memegang bahuku erat-erat.
"Hanbei-sama, apa maksud semua ini?"
Aku menggigit bibir. Kupejamkan mataku. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Nona Misa harus tahu hal ini.
"Ada satu hal yang harus kuberitahu pada anda, Misahime-sama..." Desahku panjang.
(Beberapa jam yang lalu...)
Sakit. Tubuhku terasa begitu Sakit. Dan rasa sakit itu yang membuatku tidak berdaya sama sekali.
Memalukan!
Aku tergeletak di lantai kamarku. Baju tempurku sudah terbuka bagian atasnya. Keadaanku begitu berantakan. Aku berusaha bangkit, namun seluruh tubuhku terasa begitu lumpuh. Mungkin karena rasa sakit yang menguasai tubuhku.
Nona Nago duduk di samping tubuhku. Namun aku memalingkan kepalaku kearah lain. Aku tidak berani melihatnya karena dia sudah dalam keadaan nyaris tidak berbusana.
"Nagohime...sama...ke..kenapa...anda tega sekali?"
Aku hanya mendengar tawa sinis dari Nona Nago. Kudengar suara kain mendesir. Tampaknya dia sudah memakai pakaiannya kembali. Aku menoleh. Dan memang benar, penampilan Nona Nago kembali seperti semula. Aku mendesah lega.
"Ternyata dirimu lumayan juga, Takenaka-kun. Mungkin kita bisa melakukan itu lagi dilain waktu." ujarnya, membuatku merinding ketika mendengarnya.
"Hentikan, Nagohime-sama...itu...itu menjijikkan!"
"Hahaha! Takenaka-kun, kau memang agresif. Aku bisa memaklumi hal itu."
Aku perlahan bangkit dan berhasil duduk. Tubuhku masih bergetar hebat.
"Nagohime-sama...anda keterlaluan! Aku tidak bisa menerima ini!" desisku marah.
"Hmm...kau tidak bisa menerimanya, ya? Baiklah. Bagaimana kalau aku yang memberitahu Hideyoshi bahwa kau yang melakukan ini terhadapku? Fakta bisa diputarbalikkan, sayangku. Dimana-mana, lelaki dianggap seratus persen salah dalam kasus ini."
Hatiku terasa terbakar.
Nona Nago, anda jahat sekali!
"Anda...anda biadab!"
"Hei, santailah sedikit. Aku baru saja mencabut sehelai rambutmu. Kau tahu, sebagai jaminan."
Aku mematung mendengar itu. Nona Nago mengeluarkan sebuah boneka jerami dari kimononya dan membuka perutnya. Dimasukkannya helai rambutku ke dalamnya dan ditutup kembali.
Tindakannya itu membuat kedua mataku melotot.
"Na...Nagohime-sama...anda..."
Nona Nago tersenyum kecut. Ia mengeluarkan sebuah jarum dan menusuk si boneka jerami di bagian dada. Serta merta dadaku terasa sakit luar biasa.
Aku mencengkeram dadaku. Sakitnya tidak bisa ditolerir.
Kurang ajar! Dia...dia menyantetku!
"UAARRGGHHH!"
Aku berteriak kuat-kuat. Detik berikutnya, aku muntah darah.
Mengapa hal gila ini bisa terjadi?! Penyakitku bertambah parah karena ini!
Tubuhku berkeringat dingin. Nona Nago menengadahkan daguku dengan kasar.
"Nah, bagaimana dengan hadiah ini, Takenaka-kun? Kau tidak akan bisa mengalahkanku. Dan kalau kau berani berbuat macam-macam, akibatnya akan sangat fatal."
"Nagohime-sama...anda tidak bisa dimaafkan!"
"Tidak ada gunanya kau berkata seperti itu."
"Eerrgghh...aku memang sudah merasakan firasat buruk sejak Hideyoshi memberitahuku bahwa anda akan datang kemari. Dan ternyata itu benar!"
"Fufufu...tujuanku memang itu. Sayang sekali kau kurang peka dalam masalah itu."
Sekonyong-konyong ada yang mengetuk pintu kamarku. Segera saja terdengar suara seorang prajurit dari balik pintu.
"Hanbei-sama, anda di dalam? Kami mendengar teriakan anda dari sini. Ada apa?"
Aku hendak memberitahu prajurit itu mengenai apa yang sebenarnya terjadi padaku. Namun aku tidak jadi mengatakannya karena Nona Nago mulai menusuk boneka jerami seolah berkata "Kau melakukan itu, tubuhmu yang akan menerima akibatnya."
Aku segera mengurungkan niatku. Bukan, bukan karena aku takut, tapi aku tahu aku akan dibunuhnya secara perlahan-lahan kalau aku melakukannya. Dan kalau aku mati, tidak ada yang bisa membantu Hideyoshi menaklukkan negeri ini.
"Hanbei-sama? Buka pintu! Anda tidak apa-apa?"
Aku mendesah panjang. Aku tidak boleh berbohong.
"Tolong biarkan aku sendiri." Kataku.
"Ohh...baiklah, Hanbei-sama. Maafkan kami."
Kudengar langkah para prajurit Toyotomi itu meninggalkan pintu kamarku. Aku hanya bisa menatap pintu dengan pandangan kosong.
"Hmm...bagus sekali, Takenaka-kun. Kau baik juga rupanya." Kata Nona Nago. Ia menepuk kepalaku seraya melewatiku dan membuka pintu kamar."Aku akan berjalan-jalan sebentar."
Nona Nago meninggalkan kamarku. Aku membisu.
Dia menyandera tubuhku. Apa yang harus kulakukan?
Aku bangkit perlahan menuju lemari pakaian. Kuganti baju tempurku yang sudah berantakan dengan yang baru. Aku tidak ingin mengejutkan Hideyoshi dengan kejadian ini.
Setelah rapi, aku mengambil pedang cambukku yang tergeletak di sudut kamar dan melangkah keluar. Di serambi, aku bertemu Hideyoshi. Ia tampak berbicara dengan seorang wanita. Aku tahu siapa wanita itu. Nona Otsumi.
Aku lega hubungan mereka tampak baik-baik saja.
"Hanbei, aku senang kau datang. Bagaimana dengan Nagohime? Kau sudah mengajaknya berkeliling benteng, bukan?" Tanya Hideyoshi tiba-tiba.
"Maaf, Hideyoshi. Ada sesuatu yang terjadi. Tapi itu privasi."
"Apa maksudmu dengan privasi itu, Hanbei-kun?" Nona Otsumi menatapku."Aku curiga kau menyembunyikan suatu hal yang serius."
"Onee-sama, jangan begitu." kata Hideyoshi." Aku harus menghargai bawahanku, termasuk privasi Hanbei."
Hideyoshi berpaling ke arahku.
"Oh, ya. Kau belum bertemu Keiji."
"Kau benar, Hideyoshi. Dimana dia sekarang?"
"Sepertinya dia sudah mau pulang."
Aku segera meninggalkan mereka berdua dan pergi ke gerbang benteng. Dan saat itulah aku berpapasan dengan Keiji.
"Ahh...lama tidak berjumpa, Keiji."
"Hanbei, mengapa kau membantu Hideyoshi melakukan hal gila ini? Kalian sudah menghancurkan pulau Kawanaka. Apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Keiji tajam.
"Ada sedikit masalah dengan beberapa rencanaku. Inspeksi ke Oshu, aliansi dengan Motonari di Aki, penyerangan Satsuma dan penaklukan wilayah Kantou. Itu semua baru sebatas rencana. Tapi aku sudah membicarakan ini dengan Hideyoshi dan dia setuju."
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa istrimu, Misa nee-sama sangat mengkhawatirkanmu. Jangan membohongi dirimu, Hanbei! Dia ingin kau dan Hideyoshi sadar atas perbuatan kalian selama ini, begitu pula halnya dengan diriku!"
"Aku masih mencintai Misahime-sama. Tapi aku nyaris tidak punya waktu untuk hal itu."
"Hanbei, kau..."
"Jangan ikut campur, Keiji. Aku dan Hideyoshi akan mewujudkan impian kami. Dan itu tidak bisa kau cegah lagi, paham?"
Keiji mendengus."Terserah kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian, walaupun nyawaku taruhannya!"
Ia melangkah keluar gerbang. Aku beranjak dari tempat itu.
"Keiji, kau keras kepala..."
Tiba-tiba dadaku sesak sekali. Aku terbatuk-batuk. Seorang prajurit melihatku.
"Takenaka-sama! Anda baik-baik saja?"
Aku menahannya dengan isyarat tanganku "Tidak apa-apa. Aku bisa mengatasi ini."
"Ugh...baiklah.."
sepeninggal prajurit itu, aku melihat tanganku yang menutup mulutku ketika terbatuk tadi. Ada bercak-bercak darah segar di atasnya.
"Hmm...kau belum menyerah juga..."desisku."Masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan."
Aku bertekad untuk tidak menyerah pada penyakitku ini.
Aku menatap kastil Osaka. Sinar matahari sore menyirami atapnya bagai nirwana.
Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku.
"HANBEI-SAMAA!"
Aku menoleh dan terkejut melihat siapa yang berteriak itu.
NONA MISA?!
(Kembali ke waktu sebenarnya)
Nona Misa terbelalak mendengar ceritaku itu. Ia memelukku seraya terisak-isak.
"Hanbei-sama...mengapa...mengapa aku begitu lalai akan hal ini? Dan kau yang harus menderita. Aku bodoh sekali..."
Aku menggeleng."Misahime-sama, ini bukan salah anda. Kumohon, jangan menangis. Aku tidak ingin anda terlalu membebani diri anda karena mengkhawatirkanku."
Nona Nago mendecakkan lidah.
"Huh...kalian ingin membuatku muntah! Aku permisi dulu. Sampai jumpa."
"Nago-chan, berhenti! Serahkan boneka jerami itu! Kau benar-benar menyiksa Hanbei dengannya!"
Nona Misa hendak menerjang Nona Nago. Namun aku segera menahan tangan Nona Misa.
"Cukup, Misahime-sama! Anda terlalu mengkhawatirkanku! Aku tidak ingin merepotkan anda. Maafkan aku. Aku benar-benar suami yang tidak berguna."
"Tapi Hanbei-sama, kau akan..."
"Aku tahu. Tapi kumohon, jangan bertindak ceroboh. Dia menyandera tubuhku. Kalau anda tidak menahan emosi, nyawaku akan melayang."
Nona Misa mendekatiku. Ia segera mengunciku dalam pelukan hangat. Tangisnya meledak.
"Hanbei, maafkan aku...Aku tidak ingin lelaki yang kucintai menderita seperti ini..."
"Misahime-sama...Jangan khawatir. Anda hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk hidup bahagia."
"Tapi Hanbei-sama...aku tidak ingin kau membunuhku hanya karena ambisi seperti yang Hideyoshi lakukan pada Nene."
"Aku tahu kami begitu ambisius. Tapi bagaimanapun juga, anda berharga bagiku. Anda Istriku. Aku tidak akan pernah mencoba membunuh anda lagi, aku janji."
Nona Misa membenamkan wajahnya di dadaku. Aku balas memeluknya erat seraya meletakkan daguku di atas kepalanya. Kudengar ia berbisik.
"Terima kasih, Hanbei-sama..."
Angin sore menerpa kami dengan lembut, diiringi sinar matahari yang sebentar lagi akan terbenam dengan indahnya.
Woww... Mereka akhirnya berdamai kembali ^_^ Senangnyaaaa...
Eits! Jangan senang dulu. Si Nagohime dan koncro-koncronya masih hidup tuh... Dia kan biang keladinya.
Oh iya... Maaf ya. Baiklah, Nantikan cerita selanju...
Masamune:" Author, Kapan aku muncul? I've boring, you know?" -_-
Bang Masmun... sabar dikit napa.. Lagipula ente kan cuma pemeran pembantu (Kena Phantom Dive dari sang Dokuganryu)
Mohon review :)
