Kuroko no Basket

Kiseki no Heika

Rated T

Friendship, Romance, Humor

Warning: Shounen ai, misstypo, first timer, gaje.

Disclaimer: Not mine...just the OC..


Quarter ke 3 telah dimulai. Skor sekarang adalah 83-30 Teiko. Mereka kembali memasuki lapangan, dengan tersenyum puas melihat penampilan mereka. Kiyoshi melirik sedikit ke arah Hanamiya. Selama ini, Kiyoshi belum melakukan apa-apa pada Kiseki no Sedai. Tapi, ia merasa bersalah dan tidak bertanggung jawab sebagai kapten mereka.

"Hanamiya, Kurasa ini sudah terlalu jauh," kata Kiyoshi sambil mengepalkan tangannya.

"Kau ingin kita kalah? Kalau kita kalah, kau harus bertanggung jawab atas semuanya lho,"

"Bukan begitu. Basket itu seharusnya dilakukan dengan bersenang-senang. Bukan dengan kekerasan!"

"Simpan kata-kata bijakmu untuk saat ketika kita sudah menang. Kau akan bersujud dan meminta maaf padaku," dengus Hanamiya sambil melangkah pergi.

Kiyoshi mengeratkan kepalan tangannya.


"Sei, kau yakin masih bisa main?" tanya Yamiga.

"Harusnya aku yang berkata seperti itu," senyum akashi.

Yamiga terdiam sebentar, memikirkan sesuatu. "Sei, bagaimana kalau ...," Yamiga membisikan sesuatu di telinga si rambut merah itu. Akashi membelalakan kedua matanya, lalu menatap Ryuu.

"Kau yakin? Bukankah itu dapat membahayakanmu?"

"Tidak kok. Tapi kemungkinan berhasilnya hanya sekitar 75.867%" kata Ryuu sambil mengkalkulasikan persentase berhasil di kepalanya.

"... tidak ada salahnya mencoba,"

Pertandingan dimulai dari tiupan peluit yang menggema di tempat itu. Kise langsung mengoper ke Murasakibara. Murasakibara berhadapan dengan Kiyoshi. Murasakibara mendengus kesal dan berlari melewatinya, dan mengopernya ke Akashi. Bola itu langsung saja dibawa lari olehnya, hingga berhadapan dengan salah satu anggota Shoei. Ia men-Death Glare orang itu, hingga ia mendecit ketakutan. Akashi melewatinya dengan mudah.

Mata emasnya menangkap keberadaan Kise di dekatnya. Ia melempar bola itu, dimana kira-kira Kise dapat menangkapnya. Tapi ternyata, Hanamiya sudah berada di sana. Bola tersebut sudah mendekati tangannya. Senyum Hanamiya mengembang. Tapi mendadak, senyum itu menghilang saat melihat bola itu hilang dari hadapannya. Yamiga menangkap bola oranye itu, membuat yang lain kaget. Dengan gesit, ia segera melakukan dunk. Akashi smirking.

Hanamiya menggertakan giginya. 'Dia! Dia yang membuat tim ini menjadi seperti ini! Kalau saja ia tak ada di sini...' Ia menatap Yamiga tajam.


"Tampaknya, rencana kita berhasil," kata akashi.

"Eh? Apa maksudnya-ssu?"

"Berdasarkan perkiraanku, Hanamiya-san memilik-"

"Kau tak perlu menyebutnya dengan sopan, nanodayo,"

"Baiklah...*sweatdrop*.. Hanamiya memiliki IQ lebih dari 160,"

"Kalau sudah pintar seperti itu, buat apa dia melakukan kekerasan-ssu?"

"Kalau yang itu aku tak tahu,"

"...aku ingin meremukannya Aka-chin,"

"Jangan Atsushi...,"

"Oh iya! Tadi kenapa Akashicchi tidak memberikan bola padaku?!" tanya Kise sambil menggembungkan pipinya.

Akashi dan Yamiga bertatapan, lalu tersenyum.

"Itu triknya, Ryouta,"ujar Akashi.

"Kita memanfaatkan kepintarannya untuk mengkalkulasikan dimana bola akan dilempar. Ia memiliki kemampuan untuk merebut bola saat bola dioper ke yang lain. sebelum ia mencuri bola yang dioper untukmu, aku mencurinya terlebih dahulu, " sambung Yamiga.

"Tapi, bukankah itu berbahaya, nanodayo?"

"Memang sedikit berbahaya. Kau tahu kan? Hanamiya senang melihat orang lain kesakitan?"

Mereka terdiam, dan mengangguk.

"Ayo, pertandingan akan dimulai lagi!" ajak Ryuu.


Mereka kembali melakukan pertandingan. Kiyoshi diletakkan di bench, membuat Ryuu bertanya-tanya. Kenapa pemain sebaik Kiyoshi diletakkan di bench? Yamiga menggelengkan kepalanya, mencoba untuk memfokuskan dirinya ke pertandingan. Situasi sekarang memburuk. Tampaknya, serangan 'Tanpa Sengaja' semakin banyak terjadi padanya. Luka-luka lamanya terasa perih, karena mulai berdarah lagi. Aomine dan Kuroko yang berada di bench menggigit bibir mereka. Aomine ingin sekali kembali ke pertandingan. Tapi, dengan kondisinya sekarang, ia tak akan berdaya.

Kise sudah kehabisan napas karena capek, dan sakit yang menusuk di sekitar rusuknya. Kuroko menyadarinya, dan meminta time out. Walau terundur beberapa menit, karena referee-nya tidak dapat menyadari keberadaannya.

"TIME OUT!"

Mereka menghela napas lega. Lalu segera pergi ke bench mereka. Kuroko cepat-cepat menarik Kise, untuk duduk di bench. Kise meringis saat mendapati dirinya ditarik Kuroko. Kuroko lalu menekan tangannya ke dada si rambut pirang itu. Kise mengerang pelan. Midorima mendekatinya, dan menyuruhnya untuk membuka bajunya. Kise langsung bilang tidak mau. Akashi menariknya ke arah ruang ganti baju bersama dengan Kuroko dan Midorima.

Kise dipaksa membuka bajunya, dan menunjukan bercak berwarna biru yang sangat besar di sekitar bagian sisi kiri tubuhnya. Midorima, Kuroko, dan Akashi membelalakan mata mereka.

"Kalau seperti ini, kau tidak dapat mengikuti pertandingan lagi, nanodayo,"

"Tapi aku masih bisa melanjutkan-ssu!"

"Ryouta, tubuhnmu sudah mencapai batasnya,"

"Tapi-,"

"Kise-kun," Mereka menoleh ke arah Kuroko. "Tolong... jangan paksakan dirimu,"

"Kurokocchi...,"

"Akashi-kun, aku akan menggantikan Kise,"

"Kau yakin? Tetsuya?"

"Hai. aku yakin,"

"Ku-kurokocchi..., maaf merepotkan. A-aku,.. tidak ingin menjadi beban bagi kalian,...*sob* *sob*" kata Kise, sambil menjatuhkan air matanya.

Kuroko menatap Kise. "Daijobu," Kuroko menyentuh pundak Kise. "Kau sudah berbuat sebisamu."


"Tetsu-kun? Kau akan ikut bermain?" tanya Yamiga.

"Kise-kun terluka cukup parah. aku akan menggantikannya," jawab Kuroko datar.

Yamiga mengangguk pelan.

"Kise? memangnya dia kenapa?" tanya Aomine.

"Tulang rusuknya retak,"

.

.

.

"APAAAAAAAAA?!"

"Jangan berteriak Aomine-kun,"

"KAU BILANG TULANGNYA RETAK, DAN KAU MENYURUHKU UNTUK TIDAK BERTERIAK?! JANGAN BERCANDAAAAAAAAAA!" teriaknya lagi.

Kuroko menusuk bagian samping Aomine.


Saat pertandingan berlanjut, lagi-lagi mereka melakukan kekerasan. Ryuu menjadi target mudah karena tubuhnya yang kecil itu. Tapi, Murasakibara seringkali menerima senggolan yang dimaksudkan untuk mengenai Yamiga, apabila ia sedang tidak dinomori. Hanamiya menggertakan giginya kesal. Rencananya tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Ia melirik ke arah Yamiga. Sekarang ia sedang diulurkan tangan oleh si rambut merah, Akashi. Kuroko, sedang menanyakan keadaannya. Midorima memeriksa keadaan lukanya, dengan tsundere-tsundere. Murasakibara mengacak rambut putihnya. Hanamiya menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi. Ia membuat strategi baru, dan mengembangkan senyumnya.

Kiyoshi merasakan hawa yang tidak enak.


Pertandingan berlanjut, dan makin menambah tanda tanya. Serangan yang dilakukan Shoei malah ditujukan ke anggota lain, bukan ke arah Yamiga lagi. Serangannya semakin fatal dan menyakitkan. Kuroko mendapat serangan ke pergelangan tangannya, membuat passing-nya melambat. Murasakibara mendapat 4 foul. Midorima mendapati kacamatanya retak. Akashi,... ia hampir mendapat tangannya dipatahkan.

"Sei, lebih baik kalian change player dengan anggota lain saja," kata Yamiga menatap ke arah lantai.

"Tidak,"

"Tapi,...kalau begini terus... Aku tidak ingin melihat kalian terluka," Kata Yamiga lagi.

Akashi menghela napas, dan menarik dagu Yamiga, membuat mereka bertatapan. "Kami dipanggil Generation of Miracles bukan untuk omong kosong. Tenang saja Ryuu." Katanya dengan senyum kecil.

"Baiklah. Tapi, kumohon... jangan sampai terluka," bisik Yamiga.

Akashi melepaskan tangannya dari dagu Yamiga. Ia lalu berbisik di telinganya, "Aa. Aku janji."


Quarter ke-3 hanya tersisa 3 menit lagi. Skor masih 89-49. Skor Teiko hampir tidak berubah sama sekali. Penonton terkaget-kaget mendapati Shoei mengejar Teiko. Mereke tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Murasakibara mendribble bola itu, dan melakukan dunk lagi. Keringat sudah bercucuran deras di tubuhnya. Sekarang, bola di tangan Shoei, tepatnya di tangan Hanamiya. Ia melempar bola itu ke anggota team-nya. Orang itu membawanya, tetapi terhenti saat Kuroko melakukan steal darinya. Bola sekarang di akashi. Akashi menerjang ke ring Shoei. Di tengah-tengah saatnya berlari, ia berhadapan dengan anggota Shoei yang lain. Setelah membaca gerakan tubuhnya, ia melewatinya. Orang itu melirik ke arah Hanamiya yang memberi signal padanya.

Ia menyepak kaki akashi, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke depan. Sebelum merasakan kepalanya menyentuh tanah, kepalanya ditendang olehnya. Akashi sukses jatuh ke lantai dengan suara keras, dengan kepala yang berdarah. Tapi, hal itu tak berhanti di sana. Orang itu menyikut kepalanya dengan keras, dan membuatnya kehilangan kesadaran total. Hanamiya tertawa.

"SEI!" teriak Yamiga sambil berlari ke arahnya.

Anggota Kiseki no Sedai yang lain menahan napas, saat melihat darah yang mengalir melewati kepala si rambut merah itu. Ya, kapten mereka sedang didapati dengan kepala yang bocor di hadapan mereka


Hanamiya masih tertawa. Aomine men-death glare-nya. Ia berdiri, dan berlari ke arahnya. Rasa sakit di kakinya sudah ia lupakan. Ia menarik baju jersey milik Hanamiya dan mengangkatnya.

"KAU! BERANINYA KAU MELAKUKAN INI!"

"Melakukan apa? Aku hanya berdiri di sini,"

"JANGAN BERCANDA! KAU DAN RENCANA BUSUKMU INI!"

"Aomine-kun!"

Aomine menoleh, dan mendapati Kuroko di sebelahnya.

"Jangan khawatirkan dia. Kita khawatirkan Akashi-kun dulu,"

Kuroko melirik ke arah Akashi yang sudah dihampiri oleh anggota yang lainnya. Aomine menurunkan Hanamiya.

"Jangan kira aku sudah selesai denganmu!" geram Aomine sambil berlari pergi.

Hanamiya tertawa kecil. Ia sangat senang rencananya berhasil.

"Hanamiya. Kau sudah keterlaluan," kata Kiyoshi, menurunkan nada suaranya.

"Hah! memangnya kenapa? Aku memang bermain untuk ini!" tawanya meninggalkan Kiyoshi.


"Sei! Kumohon, bangunlah,..." tangis Yamiga, sambil memeluk Akashi.

"Yami-chin. Aka-chin harus ke rumah sakit,"

"Itu benar, nanodayo. Kalau begini, Akashi dapat kehabisan darah,"

"Akashicchi..,"

Mereka semua terdiam menyaksikan kapten mereka dibawa pergi oleh petugas paaramedic. Setelah ia sudah benar-benar pergi, mereka kembali ke lapangan dengan berat hati.

"Aominecchi! Kakimu masih terluka! Kau tidak boleh bertanding duulu!" sahut Kise.

"Akashi sudah terluka, dan ia masih berusaha hingga ia menjadi seperti itu! Aku akan bertanding!" sahut aomine.

"Aominecchi..."

"Aomine-kun..., jangan melakukan hal yang bodoh,"

"Aa. aku tahu Tetsu!"

"aaah,... sayang sekali, ya, Ia harus pergi," tawa seseorang, membuat mereka menoleh.

"Hanamiya," geram mereka semua.

"Padahal, aku ingin melihatnya lagi, kasakitan, dan penderitaannya itu," senyumnya.

''Kau mau apa di sini, nanodayo?"

"Hanya ingin memberi salam saja," katanya.

"Kalau hanya ingin memberi salam, tolong jangan habiskan waktu kami," kata Kuroko dengan datar, tetapi ada bercak kebencian di suaranya.

"Habiskan waktu apa? Oh, iya! Kalian tidak boleh habiskan waktu kalian, karena kalian akan kalah,kan?" ejeknya.

"Kau menyebalkan," kata Murasakibara.

"Huh. Tidak lebih menyebalkan dari kapten kalian. Ia sungguh tidak berguna,"

"Jaga bicaramu, manusia rendahan,"

Mereka menatap Yamiga. Apakah pendengaran mereka salah?! Ekspresi wajahnya tak terbaca, karena matanya tertutup poninya.

"Apa? kau merasa lebih tinggi dariku?" tanya Hanamiya, mendekati Yamiga.

"Mari kita buktikan kalau begitu," senyum Ryuu.


"Quarter ke-4, DIMULAAAAI!"

Suara peluit ditiup, tanda dimulainya waktu 10 menit penentuan. Mereka sedikit khawatir dengan keadaan Ryuu. Ryuu masih membentuk bayangan di sekitar matanya. Bola sekarang di Hanamiya. Ia memegang bola oranye itu, sambil memberi sinyal ke teammate-nya. Ia lalu mendribble bola itu. belum sampai bola itu menyentuh lantai, ia sudah tidak dapat merasakan bola yang seharusnya ia pantulkan. setelah menengok ker sekeliling lapangan, ia mendapati bola itu di tangan Yamiga yang sudah mencetak poin dari tadi.

Mereka menahan napas, tidak percaya. Yamiga membalikan badan, menghadap mereka, lalu mengangkat wajahnya. Semua yang ada di tempat itu bergetar kaget, saat melihat mata kanan Yamiga berubah menjadi emas. Matanya menjadi persis seperti Akashi! Hanya saja, berbeda posisi.

Setelah puas melihat ekspresi mereka, Ia berkata, "Aomine, Kuroko, Kemari. Midorima dan Murasakibara, tetap berjaga di tempat kalian," perintahnya.

Mereka heran, apakah ia kesurupan Akashi?!

"Dengar ya, strategi kali ini,..."

Aomine dan Kuroko mengangguk mendengar strategi yang dilontarkan mendadak oleh Ryuu. Setelah selesai, ia membubarkan mereka. Tetapi sebelum merka melaksanakan rencana mereka, Kuroko angkat bicara, "Ryuu-kun. Kenapa,..,"

"aku tahu kau punya banyak pertanyaan. Aku akan menjelaskan semuanya, nanti,"senyum Yamiga, tipis.

Kuroko mengangguk, dan pergi untuk menjalankan rencana barunya.


Kuroko mengoper bola pada Midorima. Midorima menerimanya, dan melakukan three pointer. Keadaan berbalik sekarang. Skor adalah 128-49. Sejak rencana baru dijalankan, mereka dapat mengambil alih semuanya. Ini berkat Yamiga. Rencananya simpel, Aomine adalah knight, Midorima Priest, Murasakibara Rook, Kuroko pion. Mereka menyerang seperti bidak catur.

Aomine menyerang dengan menerjang lurus ke depan, lalu tiba-tiba membelok. Midorima berlari, menunggu bola dengan cara berlari menyilang, Murasakibara menerjang lurus, dengan badannya yang besar sebagai keuntungan, Dan Kuroko menyerang dengan sulit ditebak. Hanamiya sudah tidak dapat memproses apa-apa lagi di ia bisa membaca gerakan mereka, Hanya satu orang yang tidak dapat ia baca...Yamiga Ryuu.

Ia menyerang dengan semua cara yang dapat dilakukan anggota lainnya. Itu membuatnya menjadi bingung, karena gerakannya dapat berubah menjadi apapun sewaktu-waktu.

Queen.

Satu-satunya bidak catur yang dapat bergerak dengan bagaimana saja. Hanamiya memilih lawan yang salah.

Aomine dan Kise bertukar pemain. aomine diganti, karena kakinya mencapai batas. Sebelum dimulai, Yamiga memanggilnya.

"Kise, kau bisa meng-copy yang dilakukan Aomine kan?"

"Un! aku bisa-ssu!"

"Bagus kalau begitu. aku mengandalkanmu, Kise" senyum Yamiga.

Mereka kaget saat mendengar Shoei juga berganti pemain. Kiyoshi memasuki lapangan...


Meskipun Kiyoshi memasuki lapangan, tapi tidak ada yang berubah. Skor Shoei tak menambah sedikit pun. 1 menit lagi pertandingan berakhir. Skor sekarang adalah 149-49. mereka teringgal 110 point. Kiyoshi melawan mereka berlima sendirian. Hanamiya sudah tak melakukan apapun. Kise melakukan dunk. Mereka tak bisa berkutik lagi.

Teiko lagi-lagi akan mencetak skor. Tetapi, mendadak sebelum Murasakibara melakukan dunk, Kiyoshi menahan bola itu dengan tangan besarnya. Ia membawa bola itu, dan mencetak poin.

Yamiga melihatnya dengan penasaran. "Itu, teknik yang baru kau buat ya?" tanyanya.

"Vice Claw..."

Kiyoshi menatap Yamiga.

"Itulah namanya," tawa Kiyoshi.

Yamiga tersenyum lalu mengangguk.

"PRRIIIIIIIIIIIIIIT! WAKTU HABIS!PEMENANGNYA TEIKO!"


Pertandingan telah selesai. Hanamiya mendekati Yamiga.

"Kau,... bagaimana mungkin kau bisa mengalahkanku..,"

Yamiga diam menatapnya.

"Padahal, aku sudah melukainya di depan matamu. Bagaimana bisa?" tanyanya sambil glaring.

"...Ini, sudah tugasku,"

Anggota Miracles yang lain mendekati mereka berdua, mendengarkan pembicaraan mereka.

"Apa Maksudmu?!"

"Sei sudah memilih tempat ini sebagai kerajaannya. Dan Apabila ia tak bisa berada di sini untuk memerintah kerajaannya, aku akan di sini untuk menggantikannya. Itu sistem dasar dari sebuah kerajaan bukan?" tanya Yamiga sambil tertawa kecil.

"Kerajaan?"

"Aa. Sei memilih lapangan basket sebagai kerajaannya. Sei sendiri adalah Emperor, dan anggotanya adalah prajurit kepercayaannya,"

Para Miracles menatap Yamiga.

"dan itulah tugasku, untuk datang ke sini dan bertemu dengan kalian," kata Yamiga menoleh ke mereka. "Aku memiliki mata pasangan milik Sei. Mata ini bernama 'Empress Eye'. Aku akan menjelaskan soal ini pada kalian, nanti."

"Ceh! Emperor apaan?! Ia jelas-jelas tidak bisa apa-apa!" sahut Hanamiya.

"...Ia bisa melakukan apapun, tetapi dengan bantuan prajuritnya. Dan karena itulah aku ada di sini, untuk melindunginya,"

"Bicaramu benar-benar sok tinggi! Aku muak dengan itu!" ia mengarahkan kepalan tangannya ke Yamiga.

Sayangnya, tidak berhasil. Aomine menahan tangannya.

"Jangan kira kau bisa pergi dari sini tanpa luka kalau kau menyakiti salah satu dari kami lagi," geram Aomine kesal. Hanamiya jatuh terduduk.

"Tidak apa-apa, Aomine-kun," kata Yamiga.

"Ah? Kau memanggilku seperti biasa lagi!" kata Aomine.

Mereka semua melihat mata Yamiga yang kembali merah.

"Gomen, sudah membuat kalian khawatir, dan Hanamiya, untuk perkataanmu yang tadi,"

Hanamiya mengangkat kepalanya, menatap Yamiga. Yamiga tersenyum, dan berkata sambil membalik badan,

"I'm The Empress after all,"


Tbc


Claudi: Akhirnyaaaaaaaa dijelaskan juga!

Yamiga: Minna! Kiseki no Heika artinya: Empress of Miracles!

Aomine: Nih author, senang banget main teka-teki...

Claudi: ^3^~ begitulah!

Akashi: Kau... baru saja membunuhku.

Claudi: QAQ Gomeneee,... aku butuh Aka-kun terluka untuk chapter ini.

Kise: Tulangku diretakkin! Author sakit apa sih?! Aku salah apa sama kamu-ssu?!

Kuroko: Pergelangan tanganku...

Claudi: Go-gomen! Minna! Matta Ashita ne!


Kacchanwriter: Soal SMP-nya, saya memang sengaja bikin mereka 1 sekolah. Saya nggak tau aslinya memang seperti ini atau bukan :P. Namanya juga FF.