BURIED ALIVE
BRAAAAKKKK
Baekhyun tersentak luar biasa kala meja yang ditempatinya terdorong begitu saja. Sipitnya melotot, mengintip melalui poni yang menjuntai pada sosok di depannya. Itu Woori dengan kedua tangan terkepal di atas meja merunduk di depan Baekhyun.
"Kau," perempuan itu menatap Baekhyun menyeluruh, bibirnya berkedut dalam seringaian sebelum tiba-tiba mencengkram pipi Baekhyun dengan keras. "Benar-benar jalang tidak tau diri, huh!"
"Akh!" Baekhyun mengaduh keras merasakan tulang rahangnya yang perih oleh cengkraman itu. Kelas menjadi ramai dengan beberapa siswa dari kelas lain ikut menggerubungi meja yang Baekhyun tempati. Satu dari mereka datang mendekat, meraih rambut Baekhyun dalam kepalan dan menjambaknya dengan keras.
PLAAKK
Woori melayangkan tamparan dengan ujung kuku ikut menggores pada pipi. Baekhyun tersentak pada sisi kanan dengan urat leher mengaku merasakan pukulan itu. Tubuhnya tiba-tiba bergetar, ketakutan menyergapinya pun dengan kuruman yang kian ramai dengan dirinya yang dipermalukan oleh Woori tanpa sebab.
"Yak! Kau pikir kau siapa, hah!" Woori berteriak keras. "Kau benar-benar tidak tau, kau pikir dengan wajah memalukan seperti ini Chanyeol akan tertarik padamu!"
PLAAAKKK
Perempuan itu kembali menampar Baekhyun.
"Bawa kemari." Woori mentitah temannya. Seember air dibawa kepada perempuan itu, warnanya hitam dengan bau menyengat lalu-
BYUUURRR
Woori tanpa aba-aba menyiramkan seember air kotor itu membasahi Baekhyun. Tubuh mungil itu kembali mengaku menyadari apa yang tengah terjadi. Darah berkumpul pada wajahnya—merasakan malu luar biasa namun dia tak mampu berkutik.
Baekhyun ketakutan, bulan sabit miliknya berubah kacau dalam buram air mata yang menggenang.
Sorak tawa dari teman sekelas yang lain terdengar riuh. Suara mereka menggelegar memenuhi seisi kelas diikuti lemparan telur dan bungkusan tepung menghujani Baekhyun.
"Masih berani main-main denganku jalang!" Woori berseru lalu menghantamkan ember plastik itu pada Baekhyun—membuatnya pecah berkeping meninggalkan goresan pada kening carrier itu.
Tubuh Baekhyun limbung bersama pening dan perih yang mendera tubuhnya. Dia terlihat begitu kecil pun dengan lingkaran yang semakin rapat melingkari dirinya. Beberapa menendang, beberapa masih melemparinya dengan telur bersama hinaan yang tanpa henti mereka perdengarkan.
"Kau sampah busuk!"
"Kenapa kau tidak mati saja, carrier sialan!"
"Jalang! Jalang! Jalang!"
Baekhyun menangis sembari memeluk tubuhnya sendiri. Pandangannya memburam, menatap pada ujung sepatu yang melingkari dirinya. Baekhyun tak mengenal mereka semua, kecuali Woori dan Baekhyun tak ingat memiliki masalah dengan perempuan itu.
Lalu mengapa mereka melakukannya?
"Apa yang kau lihat bangsat!" Woori menendang wajahnya dengan keras, Baekhyun terjungkal jatuh dengan hidung perih meneteskan darah dari sana.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Gema suara berat itu memecah riuh seketika. Mereka semua serempak menoleh pada pintu dan mendapati sosok Chanyeol disana. Lelaki tinggi itu melotot dengan langkah besar-besar menuju kerumunan. Beberapa segera menyingkir, memberikan jalan kepadanya.
"Chanyeol…" Woori tergagap menatap kehadiran Chanyeol tiba-tiba. "Bukankah kau bolos hari ini—"
"KUTANYA APA YANG KAU LAKUKAN!" Chanyeol membentak, mata bulatnya seolah hendak meloncat keluar menatap murka kepada Woori. Pundak perempuan itu bergetar sedang langkahnya reflek mundur menghindari amukan Chanyeol.
Suasana kelas itu berubah tegang tanpa suara apapun mengucur keluar dari pemilik suara lingkaran itu. Baekhyun mengepalkan tangannya berusaha mengumpulan keberanian lantas segera menerobos keluar dari sana.
Atensi Chanyeol teralih cepat pada Baekhyun sedang tangannya melayang di udara hendak meraih pergelangan tangannya namun Baekhyun dalam hitungan detik menariknya dengan cepat. Pandangan mereka bertemu selama 3 detik sebelum Baekhyun kembali berlari tanpa peduli dengan tubuhnya yang kotor pun bau menyengat yang menguar sepanjang lorong.
"Yak—" Chanyeol hendak mengejar di saat bersamaan Woori menarik dirinya.
"Chanyeol kau mau kemana?"
"Lepas!" Chanyeol menghempaskan cengkraman Woori, "Aku tidak tau kau akan sejauh ini Woori." Chanyeol berdecak dalam ketidakpercayaan, "aku tidak tau kau bisa sangat rendahan seperti ini."
Woori melotot tak percaya, "Chanyeol, aku melakukan ini untukmu! Agar carrier tidak tau diri bisa sadar dimana posisinya—"
"Apa aku menyuruhmu melakukannya! Aku tidak, jadi jangan libatkan aku dalam tindakan busukmu sialan!" Chanyeol memaki.
"YAK PARK CHANYEOL!" Woori berteriak kalap. "INIKAH CARAMU MEMBERLAKUKANKU! KAU PIKIR AKU MELAKUKAN INI UNTUKKU? AKU MELAKUKANNYA UNTUK KITA! SEJAK CARRIER SIALAN ITU DATANG KAU BERUBAH PADAKU, KENAPA?!" Woori berdecih. "KARENA KAU HOMO SIALAN YANG MENYUKAI CARRIER JALANG—"
PLAAAKKKK
Wajah Woori tersentak keras oleh tamparan Chanyeol. Pekikkan tertahan menggema dalam respon atas apa yang lelaki Park itu lakukan.
"Hentikan mulut busukmu sialan," Chanyeol menatap Woori penuh intimidasi. "Apa aku homo menyukai carrier atau bukan, apa aku menyukai carrier itu… itu adalah urusanku. Kau bukan siapa-siapa Woori, jangan merasa hebat hanya karena orangtuamu adalah pemilik sekolah ini."
Rahang Woori beradu dalam gertakkan amarah. Paras cantiknya diselimuti merah dengan emosi tingkat tinggi menderanya seperti itu. Chanyeol mengetahuinya namun dia enggan untuk peduli. Pandangannya dia bawa pada kuruman dan menatap menyeluruh mereka satu per satu.
"Dan kalian," Chanyeol berkata, "Kupastikan kalian akan meminta maaf pada anak itu. Kalian dengar!"
Hening ruangan adalah jawaban dan Chanyeol tak memiliki niatan untuk menunggu pula. Dia segera bergegas keluar dari ruang kelas itu dan berlari sepanjang lorong mencari Baekhyun. Lorong panjang kosong tanpa kehadirannya dimanapun, di toilet bahkan halaman belakang sosok mungil itu tak terlihat.
Chanyeol berubah khawatir dan menyesali dirinya yang tak pergi lebih cepat.
"Kau dimana?" Chanyeol bertanya kepada dirinya sendiri.
Namun sampai hari itu digantikan malam, sampai esok telah berganti lagi… Chanyeol tak pernah bertemu Baekhyun lagi. Meja disampingnya kosong tanpa kehadiran sosok lugu yang kerap dia dapati mencuri pandang padanya.
Lorong menjadi lebih sepi tanpa sosok yang mengikutinya diam-diam, bersembunyi di balik tembok ketika Chanyeol mendapati basah dirinya atau dimanapun yang luput Chanyeol ingat. Sosok mungil itu tak lagi terlihat dimanapun, sampai wali kelas memberitau,
"Hari ini teman kalian yang bernama Byun Baekhyun sudah pindah sekolah."
Byun Baekhyun…
Chanyeol menggumankan nama itu berulang dalam hati, mengingatnya diam-dian sepenggal nama yang tak pernah dia ketahui. Merupakan pemilik nama dari si mungil cantik yang selalu mengikutinya, si mungil pemilik senyum yang menawan, si mungil yang Chanyeol panggil bodoh karena selalu mengikutinya, si carrier pemalu yang nyatanya menarik perhatian Chanyeol sejak hari pertama pertemuan mereka.
…
"Deokjun!" Chanyeol melambai dengan senyum tertarik lebar pada celah bibirnya yang tebal.
"Oh, Appa!" bocah itu lekas berlari keluar dari perataran sekolah dan menuju Chanyeol. "Tumben sekali Appa menjemput."
"Yak, apa itu? Sindiran eh?" Chanyeol mencubit main-main pinggang anaknya. Deokjun tergelak dan mengangguk membenarkan.
"Apa pekerjaan Appa sudah selesai? Aku bosan harus tinggal bersama Nenek," bocah itu mengeluh dengan lengkungan pada bibirnya dan itu nyatanya menampar Chanyeol dalam rasa bersalah.
"Hm, semuanya sudah selesai. Kita akan pulang ke rumah sekarang." Chanyeol menarik lengan Deokjun dan menggenggamnya dalam langkah menuju mobil.
Pandangan Deokjun berpendar pada minimarket dan menatap sekitar pada mobil yang tak lagi asing baginya. Dia menatap menyeluruh namun nyatanya mobil dan sosok cantik itu tak berada disana.
"Ada apa?" menyadari Deokjun yang tengah mencari sesuatu, menarik perhatian Chanyeol. "Apa yang kau cari?"
"Hyung cantik." Deokjun menjawab. Dia terlihat kecewa nyatanya sosok itu tidaklah berada disana.
"Hyung cantik siapa?" Chanyeol berkerut bingung.
"Hm-hm, hyung cantik yang selalu membelikanku es krim dan mengantarku pulang ke rumah nenek."
"Apa?" Chanyeol mengerjab. "Jadi selama ini bukan Ibumu yang mengantar?" Chanyeol nyaris terlonjak pada tempatnya. Ini bukan perjanjian yang telah dia setujui bersama dengan Woori.
Perempuan itu setuju untuk tetap memperhatikan Deokjun selagi Chanyeol mengurus perceraian mereka.
Benar, pertengkaran terakhir adalah final bagi Woori untuk mempertahankan pernikahan mereka. Perempuan itu menuntut cerai dan Chanyeol tak memiliki alasan kuat lain untuk memperhatankan segalanya. Satu-satunya alasan mengapa Chanyeol enggan untuk menuruti kemauan Woori untuk bercerai adalah Deokjun namun nyatanya perempuan itu dengan mudah memberikan sepenuhnya hak asuh anak itu kepada Chanyeol.
Chanyeol benar-benar sangat marah walau disisi lain dia bersyukur akan hal itu. Seperti apapun rasa bencinya pada Woori itu bukanlah alasan untuk Chanyeol membenci darah dagingnya sendiri, Deokjun yang nyatanya harus tetap menjadi prioritas utama pria itu.
Hanya dengan memikirkan hari lalu dengan Woori membuat suasana hati Chanyeol berubah jengkel. Dia mendengus sekali sebelum kembali pada Deokjun.
"Jadi selama ini seseorang terus menjemputmu?" Chanyeol bertanya.
Anak itu mengangguk, "Hm, hyung cantik melakukannya."
"Deokjun," Chanyeol bersimpuh satu lutut di depan anaknya guna mensejajarkan tinggi mereka. "Kau seharusnya tak pergi bersama dengan orang asing, Appa pernah mengatakan hal itu padamu 'kan?"
Deokjun mengangguk pelan, "Tapi hyung cantik bukan orang jahat, hyung cantik bahkan membelikanku banyak makanan."
Chanyeol mendesah menyadari polosnya anaknya itu, "kau bahkan tak tau siapa namanya." tutur Chanyeol tak habis pikir.
"Aku tau nama hyung cantik kok!" sergah Deokjun tiba-tiba.
"Eh? Benarkah?" Chanyeol mengerjab.
"Hm-hm!" untuk kesekian kalinya Deokjun mengangguk, "nama hyung cantik adalah Baekhyun."
"Apa?" Chanyeol kembali terlonjak. Matanya sampai melotot, menatap bak hantu anaknya itu. "Baek-Baekhyun?" tergagap dia mengulang. "Baekhyun menemuimu?"
"Apa hyung cantik teman Appa?" kini berbalik Deokjun yang kebingungan dengan reaksi Chanyeol.
"Sebentar—" pria itu menjeda dan terburu meraih ponselnya. Dia mengetik pada kunci pencarian internet dengan nama Baekhyun lanyas memperlihatkan Deokjun gambar pemilik B H Corp. itu. "Apakah maksudmu Baekhyun yang ini?" Chanyeol bertanya.
Deokjun memperhatikan sesaat dan tiba-tiba saja memekik dengan senyum tersungging lebar pada bibirnya. "Ya-ya, itu hyung cantik!"
Chanyeol kontan terpaku diam. Otaknya mendadak kosong hanya dengan memikirkan Baekhyun yang menemui anaknya. Bukan karena Baekhyun yang dia dapati membunuh Yunho malam itu, alih-alih tentang Baekhyun yang tau tentang Deokjun—atau apakah itu semua benar hanyalah kebetulan semata?
Tapi benarkah?
…
Sebulan sudah berlalu sejak malam kematian Yunho dan selama itu pula Chanyeol tak pernah bertemu dengan Baekhyun. Dia tak lagi melihat sosok mungil itu perusahaan, pun dengan dirinya yang tak lagi menjadi pengawal pribadi lelaki itu—seperti yang Sehun sampaikan padanya, sedang semua tanggungjawab di ambil alih oleh Sehun. Chanyeol tak sempat memikirkan hal itu di tengah masalah perceraian yang tengah di urusnya.
Setelah pengadilan selesai dengan status perceraiannya dengan Woori, semua beban pikirannya terangkat dan Chanyeol tak memiliki banyak rencana kecuali Deokjun dan kehidupan baru yang akan dijalaninya bersama anaknya itu.
Namun tampaknya sebulan bukanlah waktu sempurna untuk melenyapkan segala apapun yang berhubungan dengan Baekhyun. Deokjun yang membawanya masuk dan otaknya dengan segera merangkum semua dia jalani bersama presdir tempatnya bekerja itu.
Apa yang ingin Chanyeol lupakan adalah kenyataan Baekhyun yang membunuh Yunho juga bagaimana mudahnya lelaki itu menghilangkan semua jejak pekerjaannya. Chanyeol tak ingin munafik dengan dirinya yang berubah ngeri dengan lelaki itu—hanya ngeri, namun nyatanya tak memiliki rasa takut terhadap sosok itu. Chanyeol bahkan bekerja di bagian keamanan, ketika berada di lapangan dulu, melenyapkan nyawa musuh adalah pekerjaannya. Pikirnya, apa bedanya dia dengan Baekhyun memangnya?
Chanyeol bahkan tak memiliki kekhawatiran tentang Baekhyun yang menemui anaknya, seharusnya untuk seseorang yang dia dapati membunuh seseorang, Chanyeol mustinya menjauhkan anaknya dari orang-orang seperti itu. Namun nyatanya yang Chanyeol pikirkan adalah sengaja atau tidak disengajanya pertemuan itu?
Apa jangan-jangan… Baekhyun mencari tau tentang dirinya? Chanyeol menerka.
Namun semua kesimpulan itu tidaklah membantu, sedang hatinya berteriak berulang memintanya untuk menemui Baekhyun.
Chanyeol jadi membenci dirinya tak mampu menahan diri untuk tidak melakukannya. Seharusnya Chanyeol memang menahan diri untuk tidak pergi.
Dia sampai di kediaman itu dengan sosok Sowon tengah mengunci pintu. Raut wajah cantiknya terlihat panik sembari menyahut pertanyaan Chanyeol,
"Presdir berada di rumah sakit."
Chanyeol bertanya kepada dirinya sendiri, apakah lebih baik dia tetap berdiam diri pada tempatnya atau tetap melakukan pinta hatinya lantas mengetahui sesuatu yang luput untuk di bayangkan sebelumnya.
Chanyeol tidak tuli, pendengarannya masih baik-baik saja namun entah mengapa kalimat itu terdengar berdengung dalam lobang telinganya.
"Ya, bayi ini milik Chanyeol."
Baekhyun hamil dan janin itu adalah miliknya.
Chanyeol terkejut luar biasa sampai nyawanya ikut meninggalkan raga selama beberapa saat. Tungkainya ikut bergetar pula tak mampu menahan bobot tubuhnya lebih lama membuat Chanyeol harus bersandar pada dinding dingin luar kamar inap itu.
Chanyeol tidak tau apakah itu menjadi sesuatu yang baik atau buruk—karena bahkan hubungannya dan Baekhyun tidaklah lebih sebagai majikan dan bawahan. Mereka melakukan seks dan Chanyeol tau Baekhyun seorang carrier berpikir jika Baekhyun akan mengantisipasi tentang kehamilannya. Toh, sebelumnya dia melakukan seks juga dengan Sehun dan Baekhyun tak pernah di dapati hamil. Lalu—apakah ini murni kecelakaan saja? Sebuah keteledoran saja?
Deritan suara pintu terbuka menyadarkan Chanyeol dalam lamunannya. Dia mendongak segera dan menemukan sosok Sehun yang menatapnya terkejut. Pandangan kedua pria tinggi itu beradu dalam ekspresi serupa dengan canggung yang memenuhi.
Chanyeol lekas bangkit dan berubah kikuk pada tempatnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Sehun bertanya, satu alisnya naik pada kening menatap Chanyeol penuh selidik. Dia melirik sekali ke dalam kamar dan beradu pandang dengan Baekhyun sesaat sebelum menutup pintu. "Baekhyun—maksudku, Presdir yang memintamu untuk datang?"
"Eh—" Chanyeol terkesiap, "Er… ya, Presdir yang memintaku untuk datang." Jawab Chanyeol dusta.
Sehun terlihat tak suka pun dengan dengusan yang sengaja dia perdengarkan.
"Sebelum kau menemuinya, bisa minta waktumu sebentar?" Sehun bertanya. "Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu."
Samar-samar kening Chanyeol menciptakan kerutan. Dia mulai menerka tentang Sehun yang akan membicarakan tentang kehamilan Baekhyun jadi dia memberikan anggukan dan ikut langkah Sehun meninggalkan kamar inap itu.
…
Kafetaria rumah sakit adalah pilihan. Dua cangkir Americano tersaji sebagai kawan untuk kedua pria tinggi itu.
"Kau sudah mengetahuinya 'kan?" Sehun memulai pertama kali. "Kau pasti sengaja melakukannya, bukankah begitu? Atau… memang ini keinginan Baekhyun sendiri."
"Maaf?" Chanyeol kembali kebingungan.
"Kau benar-benar tak ingat ternyata," Sehun memamerkan senyum miring.
"Err…" Chanyeol berguman tak yakin. "Sebenarnya apa yang tengah Anda bicarakan Sekretaris Oh?"
"Tenyata memang benar," Sehun kembalo bergumam kepada dirinya sendiri. Dia meraih cangkir miliknya dan mengaduk cairan hitam itu dengan pelan, menghasilkan sebuah pusaran kecil di dalam wadah keramik itu. "Tidakkah kau merasa tak asing dengan nama Byun Baekhyun, Park Chanyeol?"
Chanyeol terdiam. Perlahan otaknya mulai memproses ingatannya namun nyatanya dia tak menemukan jawaban apapun. Sehun menunggu dengan tak sabar sedang hati menumpuk kesal karena hal itu.
"Tentu saja kau tidak ingat, untuk siswa pemalas yang selalu melewatkan kelas rasanya akan sulit untuk mengingat seseorang yang mengisi meja di sebelahmu, apalagi yang hanya dalam waktu kurang 2 bulan saja." Sehun menutur, "Seseorang yang menjadi teman sekelasmu, teman semeja—Byun Baekhyun…"
Pundak Chanyeol menegang pun dengan lintasan ingatan akan masa sekolah dulu membuat bulat matanya seakan hendak meloncat saja, "Byun Baekhyun?" dia mengulang. Otaknya memutar banyak hal tiba-tiba; masa-masa sekolah, pada ruangan kelas yang tak pernah dia sukai, teman sekelas yang membosankan terlebih sosok rapuh yang menjadi teman sebangkunya.
Sekelebat ingatan memenuhi otaknya dalam kapasitas terlalu banyak. Sosok kecil yang samar Chanyeol ingat namanya, sosok lugu yang dia panggil bodoh, si aneh yang selalu mengekori dirinya kemanapun.
"Dulu kau memanggilku si bodoh…"
Lalu ingatannya berpindah pada pembicaraannya dengan Baekhyun.
Jadi… selama ini mereka memang pernah saling mengenal sebelumnya—namun hanya Baekhyun yang ingat sedang si tak peduli Chanyeol melupakan semuanya semudah angin menerbangkan abu.
"Jadi Presdir adalah Byun Baekhyun yang—"
"Ya, mereka adalah Byun Baekhyun yang sama, Byun Baekhyun yang merupakan atasanmu sekaligus Byun Baekhyun yang pernah kau tindas saat sekolah—"
"Juga Byun Baekhyun yang selama ini kucari… dan kulupakan." Chanyeol menatap tak percaya Sehun dengan kalimat yang meluncur dari mulutnya. Dia tergugu luar biasa dengan retina acak tak fokusnya.
"Kau mencarinya?" Sehun mengulang dengan nada ejakan. "Kau pasti bercanda."
"Setelah kejadian itu dia tak pernah terlihat lagi di sekolah, guru bilang dia pindah…" guman Chanyeol.
"Kau pikir setelah apa yang menimpanya, keluarganya masih akan tetap mempertahankannya bersekolah di tempat para gangster seperti kalian?" pertanyaan retoris itu mencubit perasaan Chanyeol akan rasa malu. Tawa Sehun terdengar lagi berbanding terbalik dengan tubuh mengaku tanpa raga milik Chanyeol di depannya.
Otaknya masih berusaha berpikir tentang semua hal tak masuk akan tentang apa yang dia ketahui hari ini. Tentang Baekhyun si lugu di bangku sekolah dulu dengan Baekhyun si angkuh pemilik satu satu perusahaan terbesar di Korea Selatan. Bagaimana bisa...
"Mereka seperti dua orang yang berbeda…" kata Chanyeol lagi.
"Baekhyun memiliki alter ego," kata Sehun.
Mata Chanyeol membeliak terkejut lagi, "Alter ego?" ulangnya gagap.
"Tidakkah kau menyadari perubahan sikapnya?" Sehun ikut terkejut pula. "Kau bahkan sudah menghamilinya," pria itu berdecih.
Chanyeol menyadarinya, sangat menyadari betul bagaimana Baekhyun juga semua perubahan sikap yang dia miliki. Si dingin yang tiba-tiba saja menjadi polos kekanak-kanakkan lalu pada saat yang bersamaan pula kembali menjadi sosok dingin seperti yang selalu Chanyeol lihat di perusahaan.
"Sepertinya kau tidak tau apa-apa tentang Baekhyun," Sehun berguman dalam ketidakpercayaan. Hatinya masih tak rela dengan kenyataan Baekhyun tengah mengandung janin dari seorang pria yang bahkan buta 100% tentang dirinya. Chanyeol bahkan tak ingat tentang Baekhyun lalu bagaimana bisa Baekhyun membiarkannya seperti itu.
"Setelah pembullyan yang Han Woori lakukan Baekhyun pindah ke Kanada dan mengenyam pendidikannya disana." Sehun memulai. "Baekhyun tinggal bersama Kris, asisten kepercayaan Presdir Byun Seunghyun namun si brengsek itu malah melecehkannya secara seksual disana."
Chanyeol menjatuhkan rahang. Tak hanya tentang apa yang menimpa Baekhyun; pelecahan seksual juga... Kris… itulah Kris yang Baekhyun sebutkan dulu?
"Karena hal itu Baekhyun mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder). Baekhyun mulai menyadari keadaan mentalnya yang bermasalah dan dia membenci dirinya karena hal itu. Baekhyun sempat mengalami depresi dan menjalani terapi, dr. Choi adalah dokter yang masih merawatnya sampai hari ini. Selama menjalani terapinya, Baekhyun tanpa sadar mulai membentuk kepribadiannya yang lain, kepribadian yang berbanding terbalik dengan dirinya sendiri."
Nyatanya Baekhyun tetaplah si lugu yang sama. Kenyataannya Baekhyun si angkuh itu hanyalah topeng semata.
"Tapi walaupun Baekhyun rutin melakukan terapi, tetap ingatan kelam itu tak bisa di lupakan begitu saja. Baekhyun bahkan masih mengingatnya bahkan ketika dia tidur," Sehun tersenyum sedih akan kenyataan itu. "Jadi tiap kali Baekhyun mengingat kejadian itu, dia mencoba untuk menghilangkannya dengan cara berhubungan badan. Dan nyatanya itu berhasil membuatnya merasa lebih baik."
Sehun membawa pandangannya kepada Chanyeol kembali.
"Sekarang kau tau mengapa aku tak menyukaimu 'kan Park Chanyeol?" Sehun tersenyum miring. "Benar, karena kaulah yang penyebab Baekhyun harus menjalani semua ini."
Chanyeol tercenung dan tak mampu mencegah bagaimana hatinya malah berteriak menyerukan hal itu. Benar, ini adalah kesalahannya. Baekhyun harus merasakan dan tersiksa sepanjang hidupnya karena dialah pelakunya.
"Tapi," Sehun berkata lagi. "Aku hanya tidak menyukaimu, bukan berarti aku membencimu." Sekretaris itu menyembunyikan senyum. "Aku berpikir, bagaimana jika kau dan teman-temanmu tak pernah membully Baekhyun dulu, aku pasti takkan pernah bertemu dengannya 'kan?"
Chanyeol menatap lama ruang inap itu. Langkahnya seolah terpaku di lantai sejak beberapa menit lalu dengan sejumput pertimbangan; apakah dia harus masuk atau pergi dan bertingkah seolah tidak mengetahui apapun.
Otak Chanyeol menjadi kacau. Semua mendadak kusut dengan semua yang dia dengar dari Sehun. Bagaimana bisa, pikirnya sosok polos yang pernah mengisi meja kelasnya dulu merupakan orang yang sama dengan atasannya?
Pun dengan kanyataan Baekhyun yang mengingatnya semua selama ini, menciptakan dentuman dalam hati Chanyeol. Baekhyun hanya pindah sejak kejadian itu namun dia tak pernah bisa melupakannya sama sekali.
Kejadian konyol yang di dasari cemburu buta Woori dan berakhir tindakan gila yang di lakukan oleh perempuan itu. Kenyataan jika dirinya adalah alasan disana, membuat sesal rasa bersalah yang sempat Chanyeol lupakan… tiba-tiba saja timbul kembali.
Lalu sekarang apa yang harus Chanyeol lakukan? Apakah maaf masih dibutuhkan? Apakah itu memiliki sebuah perubahan setelahnya? Lalu bagaimana setiap kejadian buruk yang harus Baekhyun tanggung selama ini, tentu maaf saja takkan cukup bukan?
Chanyeol menarik nafasnya berulang dan berusaha keras menyakinkan dirinya. Langkahnya dia tapak maju, menuju pintu dan menggesernya. Sosok Baekhyun segera tertangkap inderanya, di atas ranjang dengan pandangan beradu di udara.
Baekhyun lekas membuang muka dan tiba-tiba saja malu menyergapi Chanyeol atas pernolakan itu. Namun pria itu tak berbalik langkah alih-alih menutup pintu kembali dan menghampiri Baekhyun.
"Hai," Chanyeol bahkan menyapa pula. "Bagaimana kabarmu?"
Baekhyun tak menjawab dan menciptakan canggung bagi Chanyeol. Dia berdehem kikuk dan mendekati si mungil itu berhadapan dengannya.
"Aku—"
"Jika kau berada disini karena Sehun dan apa yang dia katakan, semua itu adalah omong kosong jadi jangan dengarkan apapun." Baekhyun memotong sembari membawa pandangannya kembali pada Chanyeol. Hanya dengan melihat raut Chanyeol, Baekhyun dapat menebak jika Sehun pastilah telah memberitau segalanya.
Baekhyun pernah membayangkan bagaimana kiranya reaksi Chanyeol jika mengingatnya suatu hari nanti, apakah dia akan menyeret Woori dan meminta perempuan itu untuk mencium kakinya atau hal-hal di luar ekspetasi Baekhyun yang lain.
Baekhyun akan sangat senang jika Chanyeol melakukannya, Woori akan memohon maaf dan bertingkah bak kotoran lalu Baekhyun akan tertawa puas melihatnya.
Namun disini Woori tak ada, hanya Chanyeol dan raut sendu pria itu membingungkan Baekhyun.
"Maaf…" Chanyeol seperti berguman mengatakannya, "Maafkan aku…"
Baekhyun berdecih pelan lalu tiba-tiba tertawa ringan.
"Reaksimu sangat jauh dengan ekspetasiku Chanyeol." Baekhyun menatap mengejek. "Dimana Park Chanyeol yang jahat itu? Mengapa dia menjadi lembek seperti ini?"
Chanyeol diam.
"Kenapa? Karena aku atasanmu dan kau takut jika kupecat?"
"Baek—"
"Lihat bahkan sekarang kau bisa menjadi tidak sopan dengan memanggil namaku, lihat-lihat… kau terlihat menjadi lebih takut padaku." Baekhyun tertawa lebih keras.
"Kau terlihat sangat berbeda." Chanyeol memotong tawa Baekhyun dalam ujaran. "Benar-benar sangat berbeda," Chanyeol menambahi.
"Kau bahkan dulu tak tau siapa namaku," Baekhyun menyela, "Kau hanya memanggilku si bodoh dan si bodoh."
"Maafkan aku Baekhyun, maaf karenaku kau… harus melalui semua ini."
Tawa Baekhyun menghilang sepenuhnya, wajahnya yang pucat mendadak dingin tanpa ekspresi apapun pada raut wajahnya.
"Aku bertanya-tanya apa yang terjadi jika aku tak bertemu dengan orang-orang seperti kalian," Baekhyun berkata. "Apa aku masih akan tetap menjadi si bodoh Baekhyun yang bahkan tak bisa membela dirinya sama sekali ketika di hina seperti itu?" Baekhyun tertawa kepada dirinya sendiri. Retinanya meluruh jatuh pada perutnya dan menatap lama bagian itu.
"Apa yang harus kulakukan untuk menebus semua kesalahanku Baek?"
Baekhyun telah menunggu pertanyaan itu sejak lama. Dia telah memikirkan jawaban untuk Chanyeol mempermalukan dirinya sendiri, dia akan berlutut dari pagi sampai pagi lagi memohon untuk sejumput maaf dan Baekhyun akan melihatnya dengan segelas anggur dalam tawa.
Namun nyatanya lagi ekspetasi tidaklah seindah itu. Baekhyun menjadi marah untuk dirinya sendiri dengan tercenung diam seperti dirinya di bangku sekolah dulu.
Nyatanya si bodoh tetaplah menjadi si bodoh yang sama.
Baekhyun menarik pandangannya dan menemukan sendu Chanyeol kian meredup dalam sesal. "Berhenti menampakkan wajahmu lagi padaku." namun pelan suaranya, mampu menciptakan petir pada pria Park itu.
"Baekhyun," Chanyeol menatap atasannya dengan tak percaya.
"Aku sudah memecatmu Park Chanyeol, kau bukan lagi pengawalku atau karyawan di perusahaanku. Jadi segera enyah dari hadapanku!"
Chanyeol menggeleng dalam ketidaksetujuan. "Aku tidak bisa melakukannya," pria itu meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan erat.
"Apa yang kau lakukan!" Baekhyun menepis dengan cepat.
"Aku tak bisa melakukannya Baek, kau sedang mengandung anakku!" Chanyeol menyerukan alasannya.
Baekhyun berdecih dalam ejekan lagi, "Anak?" Baekhyun mengulang. "Maksudmu ini?" dia menunjuk perutnya sendiri. "Aku akan menggugurkannya." Baekhyun mengetus ringan.
Petir lagi menggelegar dalam kepala Chanyeol, "Baekhyun…" Chanyeol termangu, "Kau… tak bisa melakukannya—"
"Mengapa aku tidak?" Baekhyun menatap Chanyeol dalam kernyitan, "Aku sudah membunuh dua orang dewasa jadi bukanlah hal yang sulit membunuh gumpalan darah."
"Tapi dia bayimu!" Sergah Chanyeol, "Dan dia adalah bayiku juga…"
Baekhyun kembali tertawa, sangat keras membuat kesal meluap dalam Chanyeol.
"Park Chanyeol kau lucu sekali, ya Tuhan~"
"Aku tak peduli sudah berapa banyak orang yang kau bunuh, tapi aku takkan bisa diam jika kau melakukannya pada bayiku!" suara Chanyeol berat dalam penekanan. Rahangnnya beradu sedang retina menghujam terlampau dalam lelaki mungil itu.
Baekhyun tergugu, tak menyangka atas apa yang Chanyeol katakan. Sipitnya melebar namun tak mampu rahangnya untuk terbuka guna membalas kalimat yang Chanyeol ujarkan.
Chanyeol merunduk lebih dekat pada Baekhyun, menautkan hazel mereka kian dalam di antara patah kalimat yang kembali dia suarakan, "Dan akan kupastikan kau takkan berani melakukannya!"
Chanyeol meninggalkan tatapan terakhir sebelum melangkah besar-besar meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Baekhyun yang baru mampu menarik nafasnya kembali lalu tersadar bagaimana degup jantungnya bertalu—keras, mengingatkan Baekhyun akan rasa takut yang sempat dia rasakan kepada pria tinggi itu.
…
Baekhyun tidak baik-baik saja setelah kepergian Chanyeol, degup jantungnya masih berdebar dengan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Baekhyun ketakutan hanya dengan sepanggal kalimat ancaman yang Baekhyun tau hanyalah sekedar kalimat semata.
Namun konyolnya itu benar mempengaruhi Baekhyun. Dia meraih ponselnya terburu, menghubungi satu-satunya orang yang dia tau dapat menolong pelik perasaannya itu.
"Yu-Yuna…" Baekhyun bahkan tak mampu menahan gagap suaranya.
"Baekhyun? apa kau baik-baik saja?" Yuna bertanya risau dengan nada bicara pasiennya itu.
Baekhyun menggeleng walau dia tau psikiater itu tidak mengetahuinya, "A-aku takut." Baekhyun nyaris berguman mengatakannya.
"Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan? Aku akan segera kesana jadi—"
"Aku takut Yuna," namun Baekhyun tak mendengarkan dan menyela dalam nada serupa. "Aku tak ingin mempertahankan bayi ini." Baekhyun menggeleng lagi, lebih kuat sampai kepalanya mendadak pusing. "Aku takut bayi ini akan seperti aku." Baekhyun terisak.
"Baek…" suara Yuna sayup dalam prihatin.
"Bagaimana… bagaimana jika nanti dia akan menjadi seseorang yang kesepian seperti aku? Bagaimana jika nanti ada banyak orang yg tidak suka padanya, orang-orang ingin membunuhnya. Bagaimana bisa aku membiarkan bayi ini hidup dengan cara yang menyedihkan seperti aku?!" Baekhyun terbata merangkai tiap kata yang menyeruak terlampau banyak dalam pikirannya.
Ketakutannya dan semua hal yang terlampau jauh dia pikirkan.
"Baekhyun kau tidak akan melakukan apa yang kupikirkan bukan?"
Baekhyun terdiam dalam isakannya.
"Jangan lakukan itu Baek, ingat dia adalah bayimu, darah dagingmu."
"Tapi aku tak bisa membiarkannya hidup seperti aku."
"Itulah mengapa kau harus tetap hidup dan bertahan untuknya." Sahut Yuna cepat. "Aku tau kau menyayanginya Baek dan aku tau kau tak benar-benar ingin menggugurkannya 'kan?"
Baekhyun lagi terdiam, pikirannya mendadak kosong dengan kilasan masa lalu menghampiri.
"Aku akan mati saat melahirkannya…" Baekhyun berguman nyaris tak terdengar, namun nyatanya itu bak bom yang menghentak Yuna di ujung sambungan sana.
"Baekhyun apa yang kau katakan—"
"Karena Ibuku adalah carrier dan dia juga mati saat melahirkanku, bukankah aku akan seperti dia juga?"
bersambung
Tim PHP comeback mana suaranya? kkk~
Gapapa, we gencana... biar EXO istirahat dulu, kalo udah comeback bakal sibuk promosi sana sini trus lanjut konser lagi hhhhh~ kasian EXO nya hm... kita puas-puasin nonton the eve aja :v
but anyway, makasih udah baca ini dan sampai ketemu di chap terakhir!
