Sasuke menghela. Ia agak bosan saat ini. Tidak ada hal besar menarik apa pun yang patut dilaporkan pada Hokage, dan sang Hokage pun tidak mengiriminya laporan yang penting selama dua bulan sejak ia kembali mengembara. Hmm ... pulang ke Konoha sebentar saja, deh.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto. Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: Drabble, AR. INI DADAKAN.
.
Pulang
Epilog: 23 Juli
by Fei Mei
.
.
Sakura mengerjap. Ia benar-benar harus memastikan bahwa dirinya sedang tidak berhalusinasi, memastikan bahwa matanya masih berfungsi dengan baik. Memastikan bahwa yang berdiri di depannya adalah Sasuke-kun.
"Sakura ... " ucap Sasuke, terdengar lelah. "Tolong jangan pingsan."
Wanita itu terkesiap. "E-eh, tidak! Tidak, tidak, aku tidak akan pingsan! Ehehehe—" Lalu ia teringat lagi bahwa yang di depannya adalah—"ANATA?!"
Sasuke terkekeh pelan melihat reaksi istrinya. "Aku pulang, Sakura."
Hati Sakura jelas langsung berbunga-bunga. Ia pun mempersilakan suaminya masuk dan lalu memanggil putri mereka untuk berkumpul di ruang tengah. Sarada, mungkin karena memang anak Sakura, jadi ia langsung menunjukkan reaksi yang kurang lebih sama seperti sang ibu saat melihat ayahnya pulang. Sasuke menyengir kecil, berpikir bahwa putrinya sekarang telah menjadi fangirl nya.
"Papa sengaja pulang hari ini, ya?" tanya Sarada sambil menyengir.
"Tidak ada laporan apa-apa dari dan untuk Naruto, jadi kupikir bisa pulang sehari-dua hari," jawab Sasuke.
"Bukan, bukan begitu, maksudku, di tanggal ini. Papa pulang di tanggal ini, bukan kemarin atau besok," ujar Sarada.
Sakura yang mendengar itu tersentak kaget. Ia langsung melirik kalender di dinding, yang ternyata menunjukkan bahwa hari ini adalah tanggal 23 Juli—ULANGTAHUN SASUKE! Sebenarnya Sakura sangat ingat tanggal ulangtahun suaminya, tadi pagi saat bangun pun dia masih ingat tentang tanggal hari ini. Tapi ia tidak menyangka Sasuke akan pulang, jadi ia tidak menyiapkan apa-apa. Bagaimana ini?
"Ah, benar juga, aku ulangtahun hari ini," gumam Sasuke enteng. "Pas sekali."
"A-Anata ... aku tidak menyiapkan apa-apa, aku tidak menyangka kau pulang hari ini ... " ujar Sakura lesu.
"Tidak apa, aku juga tidak bilang-bilang sebelumnya, kan," ujar Sasuke.
Sarada malah menyengir. "Huuu ... mama tidak berjaga-jaga, sih! Ehehehe, sebentar, ya, Pa!" Lalu gadis itu berlari kecil ke kamarnya, kemudian kembali lagi, menyodorkan bungkusan kecil. "Selamat ulangtahun, Papa!"
Papanya tersenyum kecil. "Terimakasih, Sarada." Ia langsung membuka bungkusan itu, yang ternyata isinya adalah semacam kain khusus untuk membersihkan senjata tajam.
Melihat itu, Sakura jadi cemburu. Maksudnya, yah, putrinya itu walau tidak tahu papanya akan pulang atau tidak, Sarada tetap menyiapkan hadiah. Sedangkan Sakura, duh, istri macam apa dia? Hiks.
Eh, tunggu. Sakura dapat ide. Sambil tersenyum malu-malu ia memiringkan posisi duduknya, lalu menggenggam lembut tangan suami yang duduk di sebelahnya.
"Sasuke-kun," ucapnya, dan sang suami pun menoleh tanpa ekspresi. "Aku juga punya hadiah, sih, tapi aku belum bisa memberikannya padamu." Sasuke memandangnya dengan bingung. Senyum malu-malu Sakura perlahan berubah menjadi senyum yang memancarkan kebahagiaan. "Kamu harus menunggu tujuh bulan lagi untuk mendapatkan hadiahnya."
"Maksudnya?" tanya Sasuke. Ia benar-benar bingung sekarang.
"Sasuke ... aku sedang hamil dua bulan," ucap Sakura.
Pria itu mengerjap. Dua bulan. Terakhir ia pulang dan tidur dengan Sakura itu dua bulan yang lalu, dan ia percaya istrinya setia. Berarti ...
"EEEEHH? AKU BENARAN AKAN PUNYA ADIK?!" pekik Sarada kegirangan.
Sakura memang belum memberitahu putrinya, karena pikirnya pasti gadis itu akan cerewet ini-itu—jadi sebenarnya Sakura berencana untuk memberitahunya ketika sudah delapan bulan. Jadi ini di luar rencana sama sekali. Tetapi Sakura tidak menggubris reaksi Sarada. Bukan tidak peduli, tapi saat ini ia lebih ingin tahu respon apa yang akan diberikan suaminya. Sasuke masih menatapnya dengan agak tercengang. Mungkin karena terkejut. Tetapi ... –
"Sakura," ucap Sasuke akhirnya. Pria itu mulai tersenyum kecil, lalu memeluk pelan istrinya. "Aku sangat mencintaimu. Dan Sarada. Dan yang ada di rahimmu itu."
Wanita itu terisak pelan. "Selamat ulangtahun, Sasuke-kun."
"Hn."
...
...
...
"Mama curang! Aku juga ingin dipeluk papa!"
"Iya, iya, ayo sini."
.
.
Selamat ulangtahun, Uchiha Sasuke!
Semoga makin sayang Sakura dan Sarada,
Semoga makin sering pulang ke Konoha biar lagu 'Bang Toyib' gak berubah jadi 'Bang Sasuke',
Dan semoga tetap selalu jadi Teme dan Uke buat Naruto!
.
.
A/N: Chapter ini diketik sangat dadakan karena tidak ada di ide plot awal. Minggu lalu Fei hanya masukin 9 file ke doc manager, dan chapter ini baru Fei ketik ketika akan publish chapter 9. Omong-omong kali ini beneran tamat ya.
Review?
