Kyuhyun masih berada di dalam mobilnya. Dia juga belum juga menyalakan mobilnya kembali. Bahkan tangannya masih berada di atas kemudinya. Dan mobilnya masih berada di depan apartemen Sungmin, di tempat yang sama saat dia menurunkan Sungmin tadi. Padahal Sungmin sendiri sudah masuk ke gedung apartemennya bermenit-menit yang lalu.
Sebuah pemikiran tiba-tiba memenuhi seluruh kepalanya. Dan semua itu adalah Sungmin. semuanya yang berhubungan dengan Sungmin. Kyuhyun sungguh terkejut ketika dia menyadari bahwa hanya butuh beberapa jam saja untuk dekat dengan Sungmin. Seperti kata Jino, Sungmin menyenangkan. Dan Kyuhyun juga merasa mengobrol dengan Sungmin menjadi seperti candunya. Rasanya aneh sekali kalau dia tidak mendengar suaranya atau membayangkan suaranya ketika dia sedang bertukar pesan singkat. Dia merasa sangat diperhatikan. Dan ketika mereka bertemu dan mengobrol, mata Sungmin selalu berbinar seperti air sungai yang disinari Matahari. Membuat Kyuhyun tidak rela untuk menyelesaikan pembicaraan mereka hanya sebentar saja.
Dan tanpa Kyuhyun sadari, mereka berdua menjadi begitu dekat. Kyuhyun hanya merasa sangat senang dan rasanya dia tidak pernah mempunyai beban apapun ketika dia berinteraksi dengan Sungmin. Ketika bertemu Sungmin, Kyuhyun hanya merasa menjadi dirinya dan dia merasa bahwa dia bukan Kyuhyun yang dulu. Ketika bersama Sungmin, dia bisa menjadi orang yang disayangi walaupun dia tidak melakukan apapun dan rasanya begitu menyenangkan. Mereka berdua tidak pernah berkata apapun, yang mereka tahu sekarang adalah ketika mereka bersama-sama semuanya terasa benar dan semuanya menjadi indah—menyenangkan, dan tidak ada beban sama sekali.
Tapi apakah dia bertindak terlalu cepat? Tapi bukankah mereka memang "cepat"? Maksudnya, ini baru tiga minggu sejak Sungmin menghubunginya karena dia sedang merasa dikuntit namun hubungan mereka sudah secepat koneksi internet Korea Selatan. Mereka sudah banyak melakukan kontak langsung. Bergandengan tangan, menyentuh wajah, dan lainya. Kyuhyun memiringkan kepalanya, tidak, bukankah Sungmin orang Amerika? Jadi tentu dia sudah terbiasa dengan yang seperti ini, kan?
Kalau begitu, apa Sunggyu juga pernah mencium pipi Sungmin? Apa saja yang Sunggyu sudah lakukan dengan Sungmin? Kyuhyun tahu bahwa Sungmin dekat dengan Sunggyu, lagipula Sunggyu mengenalkan padanya bahwa Sungmin adalah temannya. Namun Kyuhyun tidak tahu sejauh apa pertemanan mereka. Dan Kyuhyun menjadi ingin tahu.
Kenapa aku ingin tahu? Kyuhyun bertanya pada dirinya sendiri.
Kalau Sunggyu dan Sungmin berteman tentu tidak masalah bukan? Sungmin boleh saja berkencan dengannya namun dia tidak menginginkan Sungmin untuk tidak mempunyai teman, seperti dirinya ketika bersama Gaeun. Dia ingin hubungannya dengan Sungmin menjadi lebih pengertian. Menjadi hubungan yang berbeda dari dengannya dan Gaeun. Dia ingin hubungan mereka lebih baik dari miliknya dengan Gaeun.
Kyuhyun berkedip dua kali. Dia menggelengkan kepalanya seolah bisa menanggalkan semua pikirannya tadi. Apa yang sedang dia pikirkan?
Akhirnya dia kembali menyalakan mobilnya dan mulai mengemudi untuk kembali ke rumahnya.
-Las Palabras de Amor-
Selain karena dia sangat bahagia karena sebuah kecupan kecil di pipi dari Kyuhyun, Sungmin mengkhawatirkan sebuah hal: bagaimana dengan keluarga Kyuhyun?
Dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu lagi dengan Kang Hanna, dengan Jino dan dengan Cho Younghwan. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Tentu dia harus menelepon mereka karena dia sudah berjanji, tapi apakah dia harus mengatakan bahwa sekarang dia menetap di sini? Tapi Sungmin benar-benar tidak bisa—tidak ingin. Bukannya Sungmin bersikap kurang ajar karena bagaimanapun Keluarga Cho Younghwan banyak sekali membantunya ketika dia berkuliah di KAIST. Tapi dia juga tidak ingin bertemu dengan mereka lagi dan akhirnya bisa berhubungan langsung. Dia tidak masalah dengan menghubungi mereka melalui surel, pesan singkat atau telepon. Namun untuk bertemu Sungmin tidak ingin. Dia merasa bahwa dia harus menghindar dari mereka. Tapi Sungmin sadar, sebesar keinginannya untuk menghindar dari mereka, sebesar itu juga dia tidak bisa menghindari mereka.
Sejenak Sungmin merutuki kebodohan hatinya yang memaksanya untuk datang ke kafe milik Kang Hanna dulu ketika dia datang ke Seoul pertama kali dan menjadi pelanggan tetapnya di sana. Kenapa juga dia harus ke sana waktu itu? Bukannya dia sendiri yang sebenarnya ingin terbebas dari semua rasa sakit hati itu dan ingin fokus pada studinya untuk menyelesaikan program pascasarjananya di KAIST?
Awalnya ketika dia kembali ke Seoul ketika dia mendapatkan pekerjaan di DNE Entertainment, dia ingin memulai hidup barunya dari awal seperti dia belum pernah datang ke Seoul sebelumnya. Dia ingin hidup bersama dirinya sendiri, jadi dia bisa menikmati waktunya sendirian dan dia bisa menikmati hidup sepenuhnya. Dia dulu membayangkan untuk bekerja sangat keras di kantor saat Matahari bersinar dan kemudian dia akan pergi ke club, bersenang-senang, berbelanja, berkumpul bersama teman-teman barunya dan teman kuliahnya saat Matahari sudah terbenam.
Dia tahu bahwa rencananya tidak akan berjalan seperti yang dia inginkan ketika dia bertemu dengan Kyuhyun Sabtu malam itu ketika Sunggyu membawanya di acara makan malam bersama rekan-rekan musikalnya. Itu seperti instingnya saja.
Dan benar, semuanya menjadi lebih "menyenangkan" dari apa yang dia bayangkan.
Dia punya hubungan dengan Kyuhyun.
Sungmin hampir saja memecahkan kepalanya ketika dia membenturkan kepalanya di meja di ruang tengahnya karena dia begitu salah tingkah. Sekali lagi, Kyuhyun mengecup pipinya.
Sungmin hampir seperti orang gila karena dia hanya tersenyum, kemudian terkikik sendiri, menutup mukanya seperti orang malu-malu, dan dia tiba-tiba seperti lemas dan merebahkan dirinya di sofa—namun dia kembali bangkit dalam sekejap mata. Dia seperti orang… jatuh cinta pada umumnya.
Dia tahu bahwa dia harus berbagi kabar menyenangkan ini kepada seseorang karena dia sendiri merasa tidak bisa menahan kebahagiaannya yang meluap dari tubuhnya. Tapi dia tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Dia meraih ponselnya kemudian memindai nama-nama di sana.
Ibu? Tidak, belum.
Minjung unni? Boyoung unni? Bukan pilihan yang benar.
Sunggyu? Tidak, terima kasih.
Stephannie? Tidak ada salahnya meneleponnya. Walaupun ini sudah lebih dari sebulan sejak terakhir kali dia menghubunginya. Lagipula Stephannie adalah seorang sahabat yang tidak pernah bertanya dengan detil, dia hanya perlu garis besarnya. Stephannie suka mendengarkan, dia tidak banyak bicara, dan dia tidak akan bertanya macam-macam. Itulah alasan Sungmin berteman dengannya. Sungmin punya rahasia dan dia tidak suka jika dia dipaksa untuk membicarakan rahasianya—kecuali pada Sunggyu, tentu, dia istimewa.
Sungmin akhirnya memutuskan untuk menghubunginya. Dia menempelkan ponselnya di telinganya sambil meyakinkan dirinya bahwa Steph masih menggunakan nomor ini dan sedang tidak sibuk. Setelah menunggu setelah beberapa lama, sampai Sungmin hampir saja menyerah, Steph mengangkat teleponnya.
"Pronto."
"Nice, Italian." Sungmin membalas sapaan Stephannie dengan candaan.
"Oh, Sungmin!" Stephannie berseru dalam bahasa Inggris. "Apa kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Bagaimana, apa kau sudah punya baju-baju untuk kucoba?" Sungmin bertanya dengan nada ceria. Sebenarnya dia ingin sekali langsung menceritakan apa yang tidak, dia baru menyadari bahwa dia merindukan temannya ini setelah mendengar namanya.
"Sayangnya, belum. Kamu terlalu pendek untuk gaun-gaunku. Aku harus merancang gaun yang pas untuk badan model, kau tahu." Sungmin mendengar Steph tertawa. "Tapi, karena kamu adalah sahabatku, aku berjanji akan membuatkanmu summer dress yang cocok buatmu setelah aku menyelesaikan rancangan-rancanganku untuk Milan Fashion Week."
Sunggyu mengangguk, "Pastikan itu semua layak aku pakai."
"Of course, kamu pikir aku siapa." Steph menjawab dengan nada terganggu yang menyenangkan. "Jadi, kenapa menelepon? Tentu selain karena kamu merindukanku. Aku juga, omong-omong."
"Aku tahu," Sungmin tersenyum kecil mendengarnya. "Yo, kamu ingat dulu aku pernah bercertia kalau aku menyukai seseorang dan seseorang itu tidak tinggal di Amerika?"
"Yeah?"
Sungmin tersenyum lebar, "Aku bertemu lagi dengannya." Sungmin memberi jeda sebentar. "Dan kurang dari satu jam yang lalu, dia mencium pipiku."
"Wow." Steph menanggapi Sungmin. Dan Sungmin tidak mengharapkan apapun kecuali ini karena menurut Sungmin kata ini adalah kata terbaik yang keluar dari mulut Steph.
Tanpa sadar malam itu mereka mengobrol banyak. Tentu, seperti masa SMA mereka dulu bahwa Sungmin yang akan terus berbicara sedangkan Steph yang mendengarkan. Steph tidak bertanya bagaimana detil mereka bisa berhubungan sejauh itu namun Steph yang pengindraannya tajam merasakan ada yang ganjil.
"Sungmin, dulu saat aku sedang bosan setelah aku pindah ke Milan, aku sempat mencari informasi tentang orang yang kamu ceritakan sekarang ini. Bukankah dia sudah menikah?"
-Las Palabras de Amor-
"Selamat pagi!"
Sungmin tersenyum lebar walaupun matanya masih tertutup. Dia belum bangun tidur. Dia hanya mengangkat ponselnya yang pagi-pagi sekali berbunyi mengganggu tidurnya kemudian menempelkannya di telinganya.
Cho Kyuhyun meneleponnya. Sungmin terkekeh kecil karena sapaan pagi super manis ini. Kemudian Sungmin membuka matanya, namun tidak, dia belum beranjak dari kasurnya. Dia justru menarik selimutnya lebih tinggi.
"Selamat pagi. Apa kemarin kamu sampai di rumah dengan selamat?" Sungmin bertanya. Tentu setelah dia berdeham beberapa kali. Dia tidak ingin Kyuhyun mendengar suara bangun tidurnya yang serak dan menurutnya sangat tidak "perempuan" itu.
"Tentu." jawab Kyuhyun membuat Sungmin tersenyum semakin lebar. "Kalau tidak, mana mungkin aku meneleponmu sekarang."
Sungmin memejamkan matanya dan merutuki dirinya sendiri karena sudah bertanya pertanyaan bodoh pada Kyuhyun, sangat bodoh. Dia sudah yakin bahwa reputasinya di depan Kyuhyun sudah turun satu level. "Benar juga."
"Mau sarapan bersama?" Kyuhyun bertanya pada Sungmin dan seketika itu juga Sungmin membelalakkan matanya.
"Sarapan?" Sungmin berseru hampir berteriak.
"Iya, walaupun ini masih jam lima pagi—"
"Jam lima pagi?" Sungmin memotong kalimat Kyuhyun, hampir saja menjerit ketika dia mendapati kenyataan bahwa Kyuhyun membangunkannya pukul lima pagi. Padahal semalam dia selesai menelepon ibu dan kakaknya pukul tiga dini hari setelah dia mengobrol dengan Stephannie. Dan Kyuhyun dengan suaranya merdunya membangunkannya pukul lima pagi?
Nice, jerit Sungmin dalam hati. Bukan dia tidak suka, Sungmin justru sangat menyukainya (mana mungkin Sungmin tidak menyukainya, Ini Kyuhyun, orang yang ada di daftar pengecualian pada semua prinsip hidupnya). Dia bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bangun pukul lima pagi setiap hari dan akan mengubungi Kyuhyun sebelum Kyuhyun sempat menghubunginya.
"Apa terlalu pagi buatmu? Tapi pukul lima pagi adalah jam paling tepat untuk kita pergi bersama. Tidak banyak orang." Kyuhyun berkata, memberikan alasan untuk Sungmin segera bagun dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi.
"Oke, di mana kita bertemu?" Sungmin menjepit ponselnya dengan kepala dan pundaknya. Sungmin dengan cepat meraih penjepit rambut untuk menjepit poninya. Dia meraih sikat gigi dan menekan pasta gigi sebelum dia oleskan ke sikat itu. Dia berhati-hati sekali menyalakan kran di wastafel. Dia tidak ingin Kyuhyun mendengarnya sedang terburu-buru.
"Aku akan menjemputmu. Aku akan sampai di sana kurang lebih sepuluh menit lagi."
Sungmin memekik kaget. Sepuluh menit! Nice, Kyuhyun. "Aku akan turun secepatnya kalau begitu. Sampai nanti." Sungmin buru-buru memutuskan sambungan teleponnya dan segera menyimpan ponselnya di sebelah wastafelnya.
Sungmin dengan cepat menggosok giginya dan mencuci wajahnya lalu dia mengoleskan sedikit alas bedak setelah kulit wajahnya kering. Kemudian dia segera berlari ke depan lemari pakaiannya untuk mencari pakaian yang pas. Dia tidak bisa memakai dress, terlalu dingin. Dia juga tidak bisa memakai kemeja, terlalu formal dan tidak cocok untuk pertemuan sepagi ini. Dia tidak tahu pakaian apa yang harus dia pakai untuk sarapan bersama pukul lima pagi di luar rumah.
Sungmin menggigit bibirnya dan menjambak rambutnya yang dia ikat ekor kuda karena dia terlalu panik. Dia hampir saja mengeluarkan semua pakaiannya dari lemarinya dan mencobanya satu-satu. Tapi ketika dia melirik jam digital yang ada di atas nakasnya dia tahu dia hanya punya waktu lima menit lagi.
Demi kodok bernyanyi, lima menit lagi!
Sungmin terpekik dan dengan cepat dia memilih pakaian hangatnya dari lemarinya. Bodoh, mengapa dia tidak dari tadi memilih pakaian ini, sih? Sungmin diam-diam memukul kepalanya sendiri karena merasa terlalu bodoh.
Dan setelah dia selesai dengan bajunya dia berlari ke luar kamarnya untuk memakai sepatu. Namun dia kembali lagi masuk ke kamar mandinya karena dia teringat ponselnya masih di sana. Masih sambil menggumamkan kata bodoh untuk dirinya sendiri. Dia dengan cepat mengikat tali sepatunya dan berlari turun ke bawah sebelum Kyuhyun sampai di sana dahulu.
Sungmin yang berlari tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan lobi. Sial, Kyuhyun sudah mendahuluinya. Mobil Kyuhyun sudah ada di depan gedung apartemennya di tempat biasanya. Sungmin mendesah sebal dan memperbaiki penampilannya sedikit sebelum dia berjalan menuju mobil Kyuhyun seperti dia tidak mengalami pagi yang luar biasa sibuk.
"Hai." Sungmin menyapa Kyuhyun yang sedang sibuk dengan ponselnya ketika dia sudah membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Dia diam-diam lega melihat Kyuhyun memakai celana olah raga dan kaos yang dia tutupi dengan jaket. Setidaknya dia tidak salah kostum karena dia hanya memakai pakaian kasual.
Kyuhyun tersenyum lebar ketika dia melihat Sungmin sudah duduk di sampingnya dan segera menyimpan ponselnya di saku celananya. Tapi kemudian Kyuhyun tersenyum canggung saat dia melihat Sungmin sudah memakai sabuk pengamannya padahal Kyuhyun berniat untuk memakaikan sabuk pengaman itu untuk Sungmin. Dia memperhatikan Sungmin dengan cermat dan dia memaki dirinya sendiri di dalam kepalanya.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" Sungmin memandang Kyuhyun dengan bingung karena Kyuhyun masih memperhatikannya membuatnya salah tingkah.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada yang salah. Hanya kurang sesuatu." ujar Kyuhyun membuat Sungmin mengerutkan dahinya karena semakin bingung. "Selamat pagi."
Sungmin kemudian tersadar. "Oh ya, benar. Selamat pagi!"
"Kamu ingin sarapan di mana?" Kyuhyun bertanya sambil menyalakan mobilnya dan menarik rem tanganya sebelum melajukan mobilnya.
"Aku tidak pernah sarapan pukul lima pagi. Jadi aku hanya akan mengikutimu." jawab Sungmin yang kemudian ditanggapi dengan anggukan oleh Kyuhyun.
Karena tidak banyak restauran yang buka sepagi ini akhirnya mereka pergi ke restauran cepat saji yang buka duapuluh empat jam. Mereka memutuskan untuk tidak masuk ke dalam restauran melainkan menuju drive thru. Kyuhyun menaikkan tudungnya dan memakai maskernya sebelum dia menurunkan kaca mobil di sisi Sungmin untuk memesan.
Setelah memesan dan membayar, mereka mengambil pesanan mereka kemudian kembali melaju ke jalanan. Mereka akhirnya berhenti di sebuah tempat parkir yang kosong di dekat Stadion Jamsil.
Sungmin membuka bungkus sarapan mereka. Dia menyerahkan sebuah burger kepada Kyuhyun yang langsung Kyuhyun gigit karena dia harus membuka sabuk pengamannya terlebih dahulu. Baru setelah dia bebas dari sabuk itu, dia meraih burger dari tangan Sungmin. Sungmin sendiri lebih dulu membuka bungkus kentang gorengnya. Dia menarik satu kentang goreng untuknya dan kemudian dia menyuapi kentang goreng lainnya untuk Kyuhyun.
Mereka berdua mengobrol tentang banyak hal. Kebanyakan dari obrolan mereka adalah tentang orang yang berlalu-lalang di depan mereka. Memang tidak banyak orang, namun cukup banyak untuk diperhatikan. Mereka memperhatikan orang-orang itu dari dalam mobil mereka dan menemukan orang yang sedang berlari, bersepeda, jalan santai, bahkan ada juga yang sedang tertidur di kursi taman, mungkin dia mabuk dan akhirnya tidur di sana.
"Sarapan bersama sepagi ini tidak terlalu buruk." Kyuhyun berkomentar setelah dia menyelesaikan burgernya dengan cepat.
Sungmin mengangguk menyetujui. "Mungkin benar. Tapi aku tidak menyarankan untuk dilakukan setiap hari."
Kyuhyun terkekeh mendengarnya. Sebenarnya Kyuhyun sedang mengagumi Sungmin. Dia sebenarnya kaget ketika mereka mengobrol tadi ketika Sungmin mengatakan banyak hal menarik ketika mereka sedang memperhatikan orang-orang. Kyuhyun akhirnya menangkap bahwa Sungmin begitu cerdas. Kyuhyun juga menyadari bahwa Sungmin adalah perempuan mandiri yang begitu menyenangkan dan flamboyan walaupun dia tidak menyukai hal-hal mewah. Kyuhyun tahu karena sampai saat ini dia belum pernah melihat Sungmin memakai barang-barang dengan merk fashion terkenal seperti Gaeun, lagipula apartemen Sungmin bukanlah apartemen yang mewah.
Kyuhyun kemudian tanpa sadar memperhatikan wajah Sungmin dari samping. Dan dia mengagumi bentuk hidung dan bibir Sungmin dari samping. Begitu menyenangkan untuk dilihat dan anehnya Kyuhyun merasakan sesuatu yang mendorong badannya untuk maju.
"Sungmin?" panggil Kyuhyun.
Sungmin menoleh dan hampir saja berteriak ketika dia mendapati wajah Kyuhyun hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Mata Sungmin membelalak kaget walaupun mata Kyuhyun menatapnya tajam seperti mengirimkan sinyal-sinyal agar Sungmin tetap tenang dan berhenti bergerak.
Dan kemudian hidung mereka bersentuhan.
Sungmin panik walaupun hanya di dalam kepalanya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Apakah dia harus menutup matanya sekarang? Atau haruskah dia mendorong wajahnya maju untuk menyambut Kyuhyun? Haruskah dia memiringkan kepalanya sekarang—demi kodok beranak hidung mereka bersentuhan membuat bulu kuduk Sungmin berdiri semua.
Badan mereka sama-sama terlonjak ketika mendengar suara keras berirama. Mereka saling menjauh kemudian dan Sungmin mengambil ponselnya dari dalam kantung jaketnya.
Sungmin yang panik langsung mengangkat teleponnya itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Ya, halo." Sungmin menjawab sambil melirik Kyuhyun yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi kemudinya. Sepertinya dia sedang menenangkan detak jantungnya. Sama seperti dirinya sendiri.
"Kamu di mana? Aku tidak bisa menemukanmu di apartemenmu!" Sungmin mengenali suara Sunggyu. Tiba-tiba Sungmin ingin memaki-maki Sunggyu sekarang. Walaupun jelas dia tidak bisa karena dia masih memperhatikan citranya di depan Kyuhyun.
"Aku sedang keluar. Kamu di apartemenku sekarang? Sepagi ini?" Sungmin bertanya. Nada bicaranya naik setengah nada.
"Keluar di mana? Aku di apartemenmu ingin membalas dendamku padamu karena kamu mengganggu tidurku."
Sungmin terdiam sebentar untuk mencerna kalimat Sunggyu. "Itu sudah lebih dari sebulan yang lalu!"
"Kamu tahu betul aku suka menyimpan dendam." ujar Sunngyu. "Kapan kamu pulang? Aku sudah membawa sarapan untukmu."
Sungmin menghela nafasnya. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam jaketnya.
"Maaf tentang itu." Sungmin berkata pada Kyuhyun yang sudah memakai kembali sabuk pengamannya.
Kyuhyun hanya tersenyum. "Aku mengerti. Lagipula Matahari sudah terbit. Lebih baik kita pulang."
Sungmin ikut tersenyum. Kemudian dia juga memakai kembali sabuk pengamannya dan Kyuhyun kembali menjalankan mobilnya.
-Las Palabras de Amor-
Shim Gaeun masih terbaring di atas kasurnya. Dia masih belum bisa tidur sejak semalam. Kepalanya terlalu penuh untuk bisa dia istirahatkan untuk tidur. Namun hanya ada satu nama yang selalu muncul di pikirannya. Lee Sungmin.
Lee Sungmin.
Kenapa dia muncul lagi? Dan kenapa dia sangat mirip dengan orang yang ada di foto-foto Kyuhyun itu? Apa benar itu adalah Sungmin?
Sial, pikir Gaeun. Itu sudah pasti Sungmin tapi kenapa dia masih terus menyangkalnya? Kenapa sulit sekali menerima Sungmin di kehidupannya dari pertama kali mereka bertemu sampai sekarang?
Tentu. Tentu itu karena dia merasakan sesuatu yang tidak beres dengan perempuan itu. Gaeun tahu bahwa Sungmin menyukai suaminya. Dia juga perempuan, dia tahu gerak tubuh Sungmin. Dia khawatir karena dia tahu bahwa Sungmin adalah orang yang mudah untuk disukai, dia merasa terancam. Dan mulailah Gaeun tidak menyukai Sungmin.
Tapi Gaeun sadar, Kyuhyun sekarang bukan Kyuhyun sebelumnya yang dia kenal lima tahun ini. Kyuhyun bukan miliknya. Jadi kenapa dia mempermasalahkannya? Bukankah dia sendiri sudah lelah dengan Kyuhyun? Bukannya dia sendiri sudah tidak tahu lagi bagaimana dia bisa berhubungan dengan Kyuhyun lagi?
Dia sudah memberi Kyuhyun kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka selama beberapa minggu namun Kyuhyun tidak melakukan apa-apa. Justru Kyuhyun menyuruhnya meneruskan perang dingin ini.
Sial, Gaeun mulai bersumpah serapah di kepalanya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Kyuhyun dan Sungmin. Apa yang harus dia lakukan kepada mereka?
Shim Gaeun mendesah frustrasi. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Oh dia tahu, dia harus tidur. Namun dia masih tidak bisa tidur. Memejamkan matanya lebih dari sepuluh menit saja tidak bisa bagaimana dia bisa tidur sekarang?
Sialan, Cho Kyuhyun sialan. Lee Sungmin sialan. Bagaimana aku bisa hidup tenang kalau dua orang itu selalu muncul?
Shim Gaeun akhirnya bangkit kembali dari tempat tidurnya. Dia tidak bisa di sini sendirian. Dia harus pergi menemui seseorang. Setidaknya orang itu akan membuatnya lebih tenang dan membuatnya melupakan sejenak permasalahannya.
-Las Palabras de Amor-
Author's note:
Halo teman-teman semuanya. Terima kasih ya untuk komentar yang sudah kalian tinggalkan di bab kemarin. Banyak sekali yang bertanya bagaimana Kyuhyun dan Sungmin bisa bersama. Di sini sudah aku jelaskan sedikit. Jujur saja aku memang tidak berniat untuk menceritakan awal hubungan Sungmin dan Kyuhyun dengan detil karena... siapa sih yang ingat bagaimana sebuah hubungan mereka dengan orang lain berjalan awalnya? Ketika kita berhubungan dekat dengan orang, yang kita tahu adalah bahwa kita sudah dekat dengan orang itu, bukan?
Maaf juga untuk keterlambatan bab sepuluh ini. Karena... seperti yang sudah aku bilang, bab ini dan bab selanjutnya nanti sangat sulit untuk aku tulis walaupun aku sudah mendapatkan garis besarnya. Dan sekarang aku juga banyak mencari ide untuk mengisi detil-detik cerita jadi aku sedang rajin menonton film dan membaca. Jadi aku hampir tidak sempat untuk menulis karena aku terlalu larut dalam emosi film dan bacaan-bacaan itu.
Seperti biasa aku minta maaf kalau ada mistype dan hal-hal yang menggangu lainnya.
Terima kasih yang masih setia membaca cerita ini, ya! :)
