ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : StarDust_
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri. Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
.
12. Revenge?
.
.
.
"Jadi, siapa raja baru itu? darimana dia berasal? Dan sialan, mengapa dia menyerangku?"
Chanyeol bertanya, dengan tergesa duduk di singgasananya dan menunggu jawaban.
Para Lords—yang tak Chanyeol ingat nama-namanya—membungkukkan badan dan merundukkan kepala mereka, menunggu sang Ratu yang akan menjawabnya.
"Dia adalah putra Raja Byun Byun, Chanyeol. Namun hal itu tidaklah penting sekarang, masalahnya adalah—"
Meskipun begitu, Chanyeol tak akan menyerah semudah itu.
"Tunggu, putra yang hilang itu? Mereka menemukannya?"
Berharap anaknya akan mengesampingkan rasa penasarannya itu, sang ratu mengangguk. Mereka ada di situasi yang berbahaya, pada situasi ketika Chanyeol menemukan bahwa Baekhyun adalah pemimpin pasukan yang akan mereka serang, mereka akan kalah. Karena Chanyeol tidak akan pernah bisa melawan Baekhyun, Sang Ratu tahu pasti itu, jadi ia harus berhati-hati.
"Chanyeol, kita tidak punya waktu untuk membicarakan tentang putra yang hilang! Kita tidak bisa menang, kita tidak bisa melawan pasukan tentara mereka! Kecuali jika kita bekerja sama dengan seseorang. Ini adalah alasan sebenarnya mengapa kita memanggilmu kesini."
Sadar akan perilaku ibunya dan terdengarnya suara langkah kaki di lorong, Chanyeol segera berdiri karena merasa terganggu.
"Tidak, mom. Aku benar-benar tidak akan menikahinya, apa kau mengerti? Aku tidak akan pernah menyetujuinya!"
"Well, kau akan mati jika kalah dalam perang ini!"
Hanya ada satu kesempatan untuk Chanyeol memenangkan perang ini, namun itu adalah sesuatu yang tak pernah ia inginkan.
Para Raja diseluruh Asia memfokuskan kegiatan mereka pada perang antara Raja Park dan Raja Byun. Dan dari banyak raja-raja tersebut yang mencari keuntungan dari perang ini, hanya Raja Jung yang memiliki rencana untuk memberi bantuan dan mendapatkan keuntungan yang terbaik.
Dengan pasukan tentara sekitar lebih dari 30.000 orang, Raja tersebut sudah bersiap untuk membantu Chanyeol. Tetapi dengan satu syarat; tidak hanya Chanyeol yang harus menandatangani kerja sama dengannya, dirinya pun harus menikahi anak perempuannya, Krystal.
"Kau harus menikahi sang putri, Chanyeol! Pertama, dia cantik dan diinginkan oleh seluruh Raja di dunia ini, namun pasukan tentara mereka meninginkan kita untuk memenangkan perang ini! kita bisa menghancurkan Baek—maksudku pasukan Byun!"
Namun Chanyeol tidak mau tahu.
.
Pintu besar yang menuju ruang tahta terbuka, memperlihatkan Raja Jung dan puterinya, Krystal yang hendak memasuki ruangan tersebut. Pada dasarnya memang benar Krystal sungguh cantik, bagi semua orang yang bernafas di ruangan tersebut, kecuali untuk Chanyeol.
"Ibu, aku tidak akan menikahinya."
Tanpa memberi kesempatan untuk sang Raja yang membawa puterinya itu untuk sekedar membungkuk padanya, Chanyeol meninggalkan ruangan yang kemudian disusul oleh Luhan dan Sehun.
.
.
.
Udara terasa semaki dingin, musim dingin semakin menggoda dipermukaan dengan dan hembusan nafasnya yang membeku. Taman tersebut terasa hampa hanya dengan rumput dan dedaunannya, pepohonan bahkan menggugurkan ranting-ranting mereka ke atas tanah bagai kelelahan.
Sehun meletakan tangannya di bahu kakaknya, mencoba untuk menenangkannya meskipun ia sendiri tahu entah bagaimana hal tersebut asalah sia-sia.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, Yang Mulia…" Luhan memulai, namun Chanyeol menghentikannya sebelum lelaki itu berbicara lebih jauh.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mencari Baekhyun dan memberikan cincinnya kembali, dan aku tidak akan menyerah. Aku lebih baik kalah dalam perang ini daripada harus menikahi wanita itu, percayalah."
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Hyung. Kerjasama dengan kerajaan Jung tidaklah buruk bagi kita…"
Chanyeol tersenyum, mengetahui bahwa jauh dalam didalam sana adiknya mirip seperti ibunya. Chanyeol tahu di tengah-tengah perasaannya akan kenyataan bahwa kerajaannya sendiri mungkin akan dihancurkan, namun entah bagaimana ia tidak peduli.
Jika masalah seperti ini terjadi sebelumnya—sebelum ia bertemu Baekhyun—Chanyeol akan menikahi puteri itu segera. Ia akan menyelamatkan kerajaannya, tidak pernah sekalipun memikirkan dirinya sendiri; namun kini tidak lagi. Kilauan dari cincin yang tersemat di jari manisnya selalu mengingatkannya pada puppy manisnya yang terampil memainkan piano itu. Chanyeol tak pernah berhenti berharap untuk bertemu dengan Baekhyun lagi, untuk memiliki anak itu lagi.
"Maafkan aku, Sehunnie. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan itu."
Ia melangkah menjauhi pasangan kekasih tersebut, seraya menghembuskan nafas yang terdengar lelah.
Baekhyun masih selalu ada dimanapun bersamanya, menemaninya dan bersusah payah menyeimbangkan langkah disampingnya. Chanyeol tersenyum, teringat pada beberapa rengekan Baekhyun,
'Kakimu terlalu panjang.'
'Sial, tunggu aku! Ini bukan salahku, kau saja yang terlalu besar!'
Pianonya masih berada di tempat yang sama, di bersihkan secara teratur oleh para pelayan. Layaknya benda tersebut turut menunggu pemiliknya untuk datang dan memainkannya lagi.
"Kenapa? Kenapa aku harus menghadapi perang ini tanpamu, Baekhyunie? Mengapa aku merasa begitu lelah, begitu… putus asa?" pertanyaan tersebut tidak memerlukan jawaban, namun Chanyeol sangat mengharapkan cempreng Baekhyun terdengar darimanapun. Chanyeol rindu mendekap Baekhyun di dalam pelukannya. Meskipun sudah beberapa bulan berlalu dan ia mulai bertanya-tanya, apakah yang ia rasakan pada Baekhyun adalah cinta?
Perasaan aneh yang diisi oleh udara namun masih terasa hampa, memakan makanan namun mencerna pasir, tersenyum namun melontarkan isak tangis, apakah ini cinta?
Chanyeol selalu mendapatkan apapun yang ia mau, bahkan sedari kecil. Dirinya hanya tinggal menunjukkan ataupun mengatakan apa keinginannya dan bam! Ia mendapatkannya. Ibunya selalu disana untuknya, mengangguk dan mengiyakan apapun yang ia inginkan, dan tidak ada seorang pun yang bahkan pernah berkata 'tidak'.
Dan lagi, Chanyeol tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu. Segalanya hanya untuk menghibur dirinya saja, dan ia menyebut semuanya sebagai 'kesenangan kerajaan' (kepuasan Raja). Namun dengan Baekhyun, hal itu berubah. Chanyeol menginginkannya, sangat sangat menginginkannya, tetapi tak ada satupun yang mengatakan 'ya' pada keinginannya ini. tidak ada satupun yang membungkuk padanya dengan senyuman bangga untuk menyerahkan apa yang ia inginkan. Dan dalam lubuk hatinya yang terdalam, akhirnya kini ia tahu…
Bahwa Chanyeol bahkan tidak tahu bagaimana untuk memintanya.
Ia selalu megambil apapun yang ia mau, tidak tahu bagaimana caranya untuk memintanya dengan lembut, ia tidak tahu bagaimana mengaja Baekhyun dengan hati-hati tanpa sebuah rasa nafsu, dan ia tidak tahu bagaimana cara mencium leher itu tanpa harus menurunkan ciumannya lebih rendah.
Chanyeol tidak tahu.
.
.
.
"Mereka membalas keras pada serangan kita!"
"Ya, tapi tetap saja mereka tidak akan bisa mengalahkan pasukan kita."
"Kita tinggal menghancurkan mereka semua, Yang Mulia!"
Para Lord berdiskusi, saling melemparkan tatapan mengancam. Beberapa dari mereka memiliki pikirannya masing-masing mengenai perang ini. sebagian menentangnya dan sebagian lagi justru menyukainya.
"Baekhyun." Kris berkata, merendahkan tubuhnya untuk membisikkan sesuati pada Baekhyun, namun pemuda yang sudah menyandang status sebagai Raja tersebut menghentikan pria itu dengan sebaris kalimat, "Aku baik-baik saja, Kris."
Tetapi Baekhyun tidak baik-baik saja. Dirinya merasakan intensitas serangan Chanyeol pada kulitnya dan rasanya sungguh sakit. Mengapa terasa sakit? Baekhyun pun tidak tahu.
Baekhyun memiliki harapannya sendiri, bahwa mungkin Chanyeol akan melakukan sesuatu terhadap perang ini, bahwa mungkin Raja itu tahu—atau setidaknya merasakan—bagaimana Baekhyun benar-benar jatuh, but no. Chanyeol justru menyerang balik. Sangat keras.
"Pembohong… pembohong, munafik…" Baekhyun berbisik pada dirinya sendiri, sembari meninggalkan ruang tahta.
Mereka akan tetap terus maju dengan serangannya, hingga sampai pada istana kerajaan dan menangkap Sang Raja—menangkap Chanyeol. Kemudian, perang barulah akan selesai.
"Baekhyun, tunggu!"
Kris berlari mengejar Baekhyun, dan memberi isyarat bahwa apapun yang akan ia katakan bukanlah hal yang baik.
"Apa? Mengejutkanku, cepat. Apa lagi? Apa lagi sekarang?" tidak merasa tertarik, Baekhyun melanjutkan langkahnya. Para pengawal berada dimana-mana segera membungkuk padanya kendati Baekhyun sama sekali tak melihat mereka.
"Baekhyun… Raja Jung sedang mencari seseorang untuk menikahi puterinya."
Mata Baekhyun mengernyit ketika dirinya menghentikan langkah, kemudian dirinya membalikkan tubuh menghadap Kris.
"Dia datang pada kami, dan kemudian pada Chanyeol sudah pasti. Baekhyun, ini buruk, Raja Jung merencanakan untuk memberi dukungan tigaratus ribu pasukan tentara untuk siapapun itu yang akan menikahi puterinya. Baekhyun, jika Chanyeol menikahi Krystal dan mendapat bantuan pasukan tentara itu, dia sudah pasti akan menang melawan kita, Baekhyun! Dia akan memenangkan perang ini."
Bagaimanapun, Baekhyun tahu apa yang akan terjadi, namun ia tetap bertanya.
"Lalu?"
Kris menelan salivanya sendiri sebelum menyampaikan inti dari maksudnya
"Lalu… jika kau menikahi Puterinya itu.."
"Pergi ke neraka. Terbakar. Mati. Kemudian membawa Chanyeol denganmu, kan?"
"Baekhyun, tapi coba kau lihat keuntungannya! Kau akan hidup jauh dengan—"
"Apa kau benar-benar berpikir bahwa kau berbeda dengannya? Tuhan! Aku pikir… aku pikir kau adalah kakakku karena itulah kau menjagaku, karena itulah kau…tetapi tidak, kau tidak ada bedanya dengan dia. Kepalang egois. Mengapa kalian berkeliaran disekitarku? Tidak adalah yang sebenarnya memikirkan tentangku huh, Wufan?"
Baekhyun hanya menyebutkan nama aslinya ketika ia sedang merasa marah atau pada keadaan ia merasa terganggu, Kris mengetauinya. Dan pria itu telah melewati batasnya.
"Mati! Kalian semua, matilah!"
Itu adalah kalimat terakhirnya, Baekhyun tidak dapat menahannya lagi. Ia berjalan kembali ke ruang tahta dimana para Lord masih berada disana. Baekhyun meraih sebuah map di tangannya dan memperlihatkannya pada para Lord, kemudian memerintahkan mereka satu hal;
"Hancurkan mereka. Hancurkan mereka semua."
.
.
.
Ratu Park melangkah mendekat pada anaknya, perlahan mendudukkan dirinya di atas kasur di samping Chanyeol lalu berdeham sedikit untuk menjernihkan suaranya. Wanita itu sudah merancang setiap kata yang akan ia sampaikan pada Chanyeol tanpa merasa menyesal sama sekali.
"Chanyeol? Chanyeol, kemari…"
Dengan perlahan, Sang Ratu meletakkan kepala puteranya tersebut di atas pahanya dan mengelus surai itu dengan sayang. Membuat Chanyeol terbangun, menatap mata ibunya dengan perasaan bertanya-tanya mengapa ibunya tiba-tiba menyentuhnya seperti ini.
"Ya, mom?"
"Chanyeol, aku harus memberitahumu sesuatu." Memperhatikan kata-katanya, Ratu menghindari tatapan mata Chanyeol. Sekarang atau tidak sama sekali, begitu pikirnya.
"Kau harus menikahi Krystal… bukan hanya untuk kita, untuk membantu kita.. Akan tetapi Chanyeol, para pasukan yang pergi dengan Baekhyun membohongimu, anakku. Aku kemudian mengetahui bahwa Baekhyun tidak melarikan diri dari Raja Wang, tetapi Raja Jung." Mata Chanyeol melebar, mendengarkan setiap penuturan kalimat dari ibunya. Kata-katanya keluar bagaikan Chanyeol sedang tertidur dan tengah memimpikan sesuatu.
"Kemudian, Raja Jung mengetahui siapa ia sebenarnya dan segera membawanya ke istana. Tampaknya, baik Raja dan puterinya itu menyukai Baekhyun. Karena itu Chanyeol, jika kau tidak menikahi gadis itu maka Baekhyun yang akan menikahinya. Sekarang kita tidak memiliki hak apapun untuk menuntutnya, terlebih karena anak itu tidak ingin kembali pada kita. Dia baik-baik saja, aku sudah melihatnya, dia bersama Kris. Namun Chanyeol, aku mengatakan ini padamu jika kau tidak ingin Baekhyunmu yang menikah dengan—"
Kebohongan itu dengan rapi tersampaikan, dengan cermat dibuat, tetapi sang Ratu tidak menduga akan reaksi dari anaknya itu.
"Apa maksudmu? Mereka membohongiku? Mengapa para pasukan itu membohongi, mom?"
Sementara itu, pikirannya kembali melayang pada malam dimana Baekhyun menanyakan apa maksud dari 'L.W', kemudian surat yang ia tinggalkan, dan pria bermasker.
Pria bermasker itu adalah Kris. Dan orang itu mengambil Baekhyunnya.
"Mereka… mereka pikir dengan mengambil Baekhyun akan membuat dirimu menjadi Chanyeol yang seperti biasanya, bukan kau… yang seperti ini."
Dengan cara yang aneh, segalanya terlihat dan tersusun dengan sendirinya menjadi sebuah kalimat dalam kepala Chanyeol. Tanpa mengetahui kebenarannya, ia percaya pada kebohongan yang ibunya sampaikan, namun tidak melakukan apa yang ibunya pikir akan ia lakukan.
.
.
.
"Mengapa? Mengapa kau membohongiku?!" para pasukan yang pergi dengan Baekhyun saat itu kini tengah berlutut di hadapannya. Mereka menatap Sang Ratu, meminta bantuan namun wanita itu tetap diam.
"Bagaimana bisa kau berbohong pada Rajamu ini? karena kau semua, kekasihku hilang! Jika aku tahu bahwa ia berada di Kerajaan Jung, aku bisa pergi kesana! Tetapi kau berbohong padaku, mengatakan ia pergi ke kerajaan yang tak bisa aku cari. Mengapa?!"
Mereka tetap diam, tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Bunuh mereka! Bunuh mereka semua!" Perintah Chanyeol membuat semuanya terkesiap. Sang Ratu menatap iba pada para pasukannya tersebut yang tengah menatap memelas, namun wanita itu tidak dapat menolong mereka.
"Chanyeol, anakku.."
"Tidak! Apa yang kalian pikirkan, bahwa aku menjadi sedih dan tersakiti, bahwa aku tidak sama lagi, huh? Well, kalian lihat saja."
Seorang prajurit mengeluarkan pedangnya dan bergerak ke arah mereka, membuat para pasukan prajurit lain yang terikat dan dikatakan sebagai para pembohong itu memohon pertolongan.
"Paduka Raja! Tunggu, tunggu, kumohon, Ratu berbohong padamu, Tuan!"
Salah satu prajurit tersebut berteriak, mengalihkan semua perhatian hanya padanya.
Oh, bahkan singa paling berani berbicara ketika kematian mengetuk pintunya.
Chanyeol mendekatinya, bertanya apa maksud dari yang baru saja orang itu katakan, namun terlambat,
Sebuah suara keras tiba-tiba menghentikan mereka semua. Para pengawal berlari ke seluruh penjuru istana untuk melindungi kerajaan namun para penyerang itu terlalu banyak.
Chanyeol telah kalah dalam perang.
Sehun, Luhan dan Chanyeol tidak tahu apa-apa mengenai Baekhyun yang menjadi seorang Raja, jadi ketika mereka dipaksa untuk berlutut dihadapannya, mereka tidak bisa lebih terkejut lagi.
"Baek- Baekhyun? Kau kah itu?" Lirih Luhan, matanya yang bulat melebar ketika menangkap sosok seseorang yang seharusnya terlihat sebagai adiknya.
Mata sipit itu berpaling untuk melihat Luhan, dan sebuah lengkungan di bibirnya membentuk senyuman yang manis.
"Tolong lepaskan Pangeran dan Lord Xi, kemudian bawa mereka ke ruanganku. Bawa Ratu ke ruangan yang lain dan le—"
"Baekhyun?" Chanyeol berbisik, suaranya pecah. Tidak mungkin, seorang lelaki didepannya saat ini tidak mungkin adalah Baekhyun, Baekhyunnya.
"—lepaskan sang Ratu juga."
Pengawal membawa ketiga orang itu pergi setelah membungkuk pada Rajanya. Sorakan kemenangan bisa terdengar dari luar, orang-orang sedang merayakan akhir dari perang ini. meskipun perang tersebut sangatlah singkat, namun cukup memberikan kerugian yang besar bagi kedua belah pihak kerajaan.
"Baekhyun?" Chanyeol memanggilnya dalam bisikan sekali lagi, hampir ketakutan.
"Ya. kita bertemu lagi, huh?"
Baekhyun tersenyum, sebuah senyuman melankolis. Ia tidak terlihat cukup baik, setidaknya tidak untuk Chanyeol.
Baekhyun berdiri dari singgasananya, menenangkan diri sedikit setelah sang Ratu pergi. Ia perlahan mendekati Chanyeol, menempatkan diri di belakang pria itu dan melepas tali yang mencengram lengan Chanyeol.
"Apa kau baik-baik saja? Apa mereka menyakitimu?" Baekhyun bertanya pada yang lebih tinggi sesaat setelah mereka berdiri, namun Sang Raja yang telah di kalahkan itu tidak berpikir kesana.
"Kaulah yang menyerangku? Kaulah yang memimpin perang itu?"
Pengawal yang lain datang untuk mengikatnya kembali dan Chanyeol tak dapat melakukan apa-apa.
"Apakah… apakah kau benar-benar harus membalaskan dendammu seperti ini, Baekhyun? Apakah aku sungguh begitu menyakitimu?"
Mungkin kalimatnya tidak bermaksud untuk menyinggung dan terdengar begitu kasar, mungkin kalimat tersebut tidak seharusnya keluar dari mulutnya.
Chanyeol terdiam, sadar akan apa yang baru saja ia ucapkan, sadar bahwa sekali ia melihatnya, semua hal yang ia pikirkan, semua permintaan maaf yang ia buat sungguh sangat tidak berguna. Sekali ia melihat Baekhyun, ia kelihangan kontrol lagi.
Sudah merasa hancur dengan tindakan kakaknya, pertanyaan terakhir Chanyeol bukanlah apa-apa selain membuat kepingan itu terbelah menjadi lebih kecil. Namun hal itu sungguh menyakitkan. Lukanya terlalu dalam, dan ia mulai menjadi bodoh.
"Oh, kau ingin tahu seberapa besar kau menyakituku, Chanyeol, begitu?"
Nada manis dari suara yang baru saja bertanya apakah ia baik-baik saja kini berubah drastis hanya dalam beberapa detik. Mata puppy-nya yang kecil dan menggemaskan berubah menjadi gelap, dengan sorotan tersakiti yang tidak asing.
Kebencian.
"Maka aku akan memperlihatkan tepatnya seberapa banyak mau menyakitiku. Pengawal!"
.
.
.
Ketika kau tidak bisa menahannya lagi, kau akan mulai untuk melepaskan apa yang membuatmu tak bisa bernafas. Baekhyun takut kehilangan kepolosannya, semua kemanisannya dan segalanya. Hanya gelap, perasaan menyedihkan bermain-main di ulu hatinya dan ia takut akan kehilangan kontrolnya lagi.
Chanyeol bangun beberapa jam kemudian. Diikat pada sebuah kursi yang menghadap sebuah kasur. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dimana ia berada, namun kekosongan menyelimuti pikirannya dan ia tidak tahu.
"So, kau sudah bangun."
Suara yang terdengar sangat familiar menggema didalam ruangan, membuat Chanyeol dengan segera memalingkan wajahnya dan mendapati Baekhyun disana. Chanyeol baru saja hendak bernapas lega, sebelum menyadari ada orang lain di samping Baekhyun, seorang pria.
Pria tersebut cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari Baekhyun namun tak lebih tinggi dari dirinya, Chanyeol menyadari itu. pria itu mencetak sebuah seringaian di bibirnya, dan berdiri di samping Baekhyun seolah sedang menunggu seseorang.
"Aku sudah mencoba. Aku mencoba untuk menjadi baik."
Seringaian itu semakin lebar, pria itu mendekati Chanyeol selagi Baekhyun berbicara. Ranjang di hadapannya mulai terlihat di belakang tubuh Baekhyun dan pria itu dan kemudian Chanyeol merasakan getaran dingin pada dirinya.
"Aku tidak menyukai ini, bukan— untuk beberapa alasan, aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku ingin melihat apa kau baik-baik saja, aku ingin melihat Luhan juga. Lalu, seluruh hal mengenai perang ini dimulai, dan aku ingin kau tahu bahwa aku tidak menyukai ini, bahwa aku ingin kau menghentikannya bagaimanapun juga."
Pria itu kini berdiri di hadapan Chanyeol. Dan Chanyeol—untuk pertama kali dalam hidupnya—merasa ketakutan.
"Baekhyun, Baekhyun, hentikan dia!"
"TIDAK!" Lelaki itu berteriak seraya memejamkan matanya. Tangan pria itu mulai menyentuh kaki Chanyeol yang terikat kuat di kaki kursi. Chanyeol berontak untuk melepaskan namun ia tidak bisa.
"Tidak… karena ketika aku melihatmu lagi, kau adalah bajingan yang sama yang aku tinggalkan beberapa bulan lalu. Karena… karena aku ingin kau merasakan bagaimana rasa sakitnya yang aku rasakan. Olehkarena itu, kau tidak perlu meminta padaku."
Mata pria itu cukup berbahaya sementara tangannya bergerak semakin jauh di tubuh Chanyeol.
Chanyeol gemetar, Chanyeol Sang Raja gemetar. Ketakutan mengambil alih dirinya dan jantungnya berdenyut dengan cepat. Chanyeol takut. Tidak ingin merasakan setuhan dari tangan pria itu. tidak ingin melihat pria itu mendekat dan terus mendekat padanya.
"BAEKHYUNNIE!" Chanyeol berteriak ketika dirasakannya nafas dari pria tersebut menerpa dan bibir yang tadinya menunggingkan sebuah seringaian itu berhenti hanya beberapa inci dari dirinya.
Sementara Chanyeol menutup matanya, air mata mulai bergulir turun di pipinya. Ia membeku, tak dapat bergerak dan tak dapat melakukan apapun selain berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi, sebuah mimpi buruk.
Siap untuk memperkosa tubuh terikat Chanyeol, sebuah perintah tegas tiba-tiba menggema di ruangan tersebut.
"Berhenti."
Baekhyun bertitah, tidak mengizinkan pria itu untuk menyentuh Chanyeol lebih jauh lagi.
"Aku bukan monster sepertimu."
.
.
.
To be Continue
Hai cantik, hai sayang, hai cintaku kasihku! Masih nunggu ff ini ga? Masih inget jalan ceritanya ga? Masih nafsu buat lanjutin baca ga? Ehehehe
Oke aku mau ngacebrek cukup panjang nih. Pertama maaf, karena aku sering mengobral janji tanpa di tepati. biadab banget kan gue ini -_- tapi ngomong ngomong masalah obralan janji aku tentang update ff ini, aku mau jelasin
Ada dua perihal yang bikin aku lama dan selalu tersendat buat ngerjain ini
Pertama, sang internet positip kebanggaan negara kita tercinta yang amat sangat mencintai bangsanya ini. Masalah ini sudah selesai karna, hey! Gue baru aja membobol situs yang terblokir! :"D (kampung lo, kudet lo, kemana aja lo!)
Kedua, TUGAS MEN TUGAS! T.T terlebih ngerjain ini itu butuh tiga pekerjaan sekaligus (baca-menafsirkan-ngetik) jadi gue tepaksa mendahulukan tugas :(
So.. Chapter ini satu aja ya? Ehehe ini cukup-lumayan-agak-sedikit panjang daripada chapter sebelumnya. Ehehehehehehehehe
/menghilang/
