I LOVE YOUR DAD

WU YIFAN X KIM JONGIN

.

.

Ini bukan tentang sugar dady apalagi pedofil

.

.

CHAPTER 10: HIDDEN

.

.

Kini hari-hari Jongin benar-benar damai. Chanyeol tidak pernah mengunjunginya lagi. Ibu dan ayahnya kini menatap selama beberapa hari di Beijing. Kakaknya setiap hari selalu pulang malam bahkan menginap di kantor. Teman-temannya juga mendadak sibuk karena tugas yang menumpuk.

Jongin juga justru lebih sering bertemu dengan Luhan di bar. Dibandingkan bertemu dengan Sehun yang kini harus berbagi waktu dengan tugas, kerja paruh waktu dan pacar. Intinya bukan hanya damai, Jongin jadi sedikit merasa kesepian.

"Katanya kau berencana untuk magang," Luhan membuyarkan lamunan Jongin. "Di perusahaanku saja." Tawar Luhan yang membuat Jongin termenung.

"Hmm~ aku sudah mengirim lamaran ke beberapa perusahaan tapi belum juga ada panggilan." keluh Jongin.

"Makannya coba daftar di tempatku saja." Ulang Luhan dengan penuh penekanan.

"Tapi Ge, kenapa kau jadi lebih sering kesini?" meski sudah keluar, Jongin tahu hari ini waktunya komunitas mereka berkumpul. "Kau tidak keluar dari komunitas kan?"

"Mana mungkin, kan aku salah satu pendiri MoGB." Luhan berkata dengan bangga yang malah membuat Jongin berdecak pelan.

"Steve Job pendiri Apple saja bisa mengundurkan diri bahkan pernah di pecat, apalagi komunitas yang kau banggakan itu ge." Ejek Jongin yang membuat Luhan tersenyum dengan kesal.

"Apa kalian berbicara tentang komunitas esklusif itu?" tanya seorang bartender yang membuat Jongin mengerutkan keningnya. Luhan sendiri hanya mengangguk pelan dengan malas. "Aku dengar anggota yang bisa masuk hanya orang yang direkomendasikan oleh anggota tetap."

"Itu komunitas atau perusahaan ge?" tanya Jongin dengan wajah konyol yang membuat Luhan mendelik. "Oh, Baekhyun termasuk anggota tetap ya?" Jongin bergumam pelan. Ya wajar sih, Baekhyun itu kekasih Baba yang cukup akrab dengan tiga pendiri.

"Temanku ada yang sedang penelitian tentang komunitas gay, apa dia boleh berkunjung?" bartender itu bertanya dengan semangat. "Aku sih sebenarnya yang sedang penelitian, makannya aku bekerja di sini," tampa disuruh si bartender terus berbicara. "Kalau tidak percaya aku bisa mengirim proposalku."

Jongin menatap Luhan yang tampak tak tertarik. Tapi Jongin malah menyenggol pinggang Luhan.

"Aku rasa itu cara yang cocok, agar Gege tidak perlu ragu datang ke komunitas lagi," bisik Jongin yang membuat Luhan menatanpnya dengan heran. "Aku tahu Gege hanya gengsi untuk datang ke sana." sebenarnya Jongin hanya sok tahu saja. "Biar aku tanya pada ketuanya dulu." Ucap Jongin pada bartender yang tampak mengangguk dengan antusias.

"Apa aku perlu mengirim proposalku?" bartender dengan nama samaran Timoteo itu ikut mengecek handphonenya.

"Boleh." Jongin menjawab dengan nada sama semangatnya.

"Kau mau bertanya pada siapa?" Luhan bertanya dengan panik karena dua orang ini langsung bergerak dengan cepat. Meski yang bergerak hanya kedua tangan mereka.

"Pacar mantan kekasih Gege lah!" Jongin sengaja menjawab dengan kata yang paling menyebalkan untuk Luhan. "Tapi Ge, aku kan bukan anggota lagi, jadikan aku sebagai tamumu ya?" pinta Jongin dengan semangat. "Sudah lama aku tidak ke sana."

"Kau itu mau membantuku atau hanya ingin berkunjung?" Luhan menaruh gelas beernya dengan kasar.

"Oh, jadi kau benar-benar bingung untuk datang ke komunitas," sindir Jongin yang membuat Luhan membungkam mulutnya. Luhan memilih untuk menegak beernya tanpa menatap Jongin. "Ya kan, cara ini membuat kita semua bisa bergerak." Jelas Jongin dengan begitu santainya. "Luhan-ge datang karena menemaniku yang menemani temanku yang akan penelitian," Jongin sontak menatap sang bartender yang hanya diam dengan wajah penuh harap. "Siapa namamu?"

"Timoteo." Jawab sang bartender sambil tersenyum sumringah.

"Oke, bilang saja pada yang lain kalau Timoteo itu kenalanku." Jongin cukup terkejut karena Timoteo bukan nama samaran.

"Kau mau aku berbohong?" Luhan bertanya dengan ekspresi berlebihan.

"Tidak," sergah Jongin dengan cepat. "Namaku Kim Jongin, salam kenal." Ucap Jongin sambil mengulurkan tangannya pada sang bartender yang terlihat kebingungan. "Tuh, aku sudah berkenalan, jadi dia kenalanku."

.ILYD.

Karena Jongin sudah berjanji. Jadi Jongin memilih untuk mengirimkan pesan. Tapi belum juga di jawab sampai ibunya menyuruhnya untuk pergi belanja. Beginilah nasibnya karena tidak punya saudara perempuan. Mungkin Yifan sibuk atau memang pesannya tidak dibaca.

"Ayah! Pinjam mobil!" seru Jongin sambil mengambil kunci mobil yang di gantung dekat pintu keluar.

"Mau kemana?" tanya sang ayah dengan nada posesif.

"Belanja." Ucap Jongin sambil menunjukkan catatan yang lumayan banyak dari ibunya.

"Jangan lama-lama."

Jongin hanya mengangguk malas. Duh, begini kalau orang tuanya sudah di rumah. Ramai sih, Jongin juga tidak perlu bersih-bersih atau makan masakan kakaknya yang kadang luar biasa. Tapi malah jadi seperti tahanan rumah rasanya.

Jongin baru saja mengambil troli saat handphonenya berdering. Telfon dari Yifan.

"Kau dimana?" itu pertanyaan Yifan yang membuat Jongin bingung.

"Di Mio mart," jawab Jongin dengan nada mengambang. Yifan tidak menjawab malah diam. "Boleh tidak ge? Aku kirim proposalnya kalau gege mau bantu."

"Kau pakai baju apa?" Lagi-lagi Yifan menanyakan hal yang membuat Jongin menatap layar handphonenya dengan heran.

"Abu-abu." Jawab Jongin sambil melirik kaosnya sendiri. "Ge, kau lagi apa sih?" Lama-lama gemas juga Jongin dengan pertanyaan-pertanyaan Yifan.

"Lihat ke arah jam 11." Perintah Yifan yang membuat Jongin membulatkan mulut dan matanya. "Jodoh kita!" seru Yifan yang membuat Jongin tersenyum kaku.

Yifan belanja sayuran saja pakaiannya keren. Beda jauh dengan Jongin yang seperti anak gembel. Jongin jadi malas berjalan di samping Yifan. Mereka benar-benar bagaikan langit dan bumi. Belum lagi Jongin memakai sendal yang sebentar lagi butuh untuk dikebumikan saking prihatinnya.

"Proposalnya perlu aku kirim?" tanya Jongin sambil memilih sayuran hijau dengan teliti. "Ge, jangan yang itu, yang ini saja." Jongin mengambil kentang dari tangan Yifan. Bahkan dengan seenaknya mengeluarkan semua kentang pilihan Yifan. "Jangan ambil yang bertunas dan banyak lubangnya."

"Kirim saja, nanti aku kirim alamat emailku," Yifan menatap tangan Jongin yang memasukkan kentang-kentang dengan santainya. "Kau bisa masak?" tanya Yifan tiba-tiba.

"Tidak," Jongin menjawab dengan nada lugu. Yifan jadi ragu mengikuti saran Jongin tadi. "Tapi aku paling jago mencari bahan makanan." ucap Jongin yang mengerti maksud Yifan. "Kakakku yang punya tugas memasak, jadi aku yang bertugas untuk belanja bahan makanan."

"Hmm.."

Jongin tiba-tiba membalikkan badannya dengan semangat. Membuat Yifan sampai harus memundurkan tubuhnya. "Gege, kalau boleh temanku itu boleh tidak mewawancarai gege?"

"Gege belum bilang setuju." Yifan berkata sambil mendahului Jongin untuk beralih pada tumpukan telur.

"Kalau boleh ge~" ulang Jongin sambil mengejar Yifan.

"Kita lihat kualitas proposalnya." Usul Yifan yang membuat Jongin mengangguk.

"Kalau kata aku sih menarik." Komentar Jongin yang anehnya membuat Yifan tersenyum kecil.

Jongin baru saja menyelesaikan pembayarannya di kasir saat menemukan Yifan yang tampak kesal di pintu masuk. Padahal Yifan tadi bilang, ia buru-buru makannya mereka berpisah. Jongin mendorong trolinya ke arah Yifan yang tampak menelfon seseorang.

"Kenapa ge?" tanya Jongin dengan heran.

"Ada yang menjahili mobilku," keluh Yifan yang membuat Jongin penasaran. "Ada seseorang yang mengempeskan keempat ban mobilku."

Bukannya Jongin kurang empati. Wajar saja ada yang menjahili Yifan. Mobil Yifan terlalu mencolok di sebuah mini Market sekecil ini. Jongin saja sampai tertawa melihatnya. Yifan bilang dia sudah menelfon mobil derek. Sampai segitunya Yifan memperlakukan mobilnya. Jongin hanya bisa menghela nafas.

"Mau aku antar?" tawar Jongin sambil menunjuk mobil putih Haval H6. Mobil paling pasaran di daratan Tiongkok. Beda jauh dengan mobil Yifan, Aston Martin yang katanya hanya diproduksi sebanyak 77 unit. "Tidak senyaman mobilmu sih, ge."

"Kau niat membantu tidak sih?" tanya Yifan dengan judes.

Yifan masih belum bisa diajak bercanda. Jongin langsung mengulum bibirnya dengan pelan. Butuh lima belas menit sampai mobil derek yang dihubungi Yifan datang. Jongin sampai terkagum-kagum karena mobil dereknya sekeren mobil Yifan. Jongin semakin sadar kelas mereka berdua benar-benar berbeda.

Jongin baru saja duduk di kursi kemudi, saat handphonenya berdering. Karena ribet, Jongin menghubungkannya ke fitur mobil dengan media bluetooth. Sekarang gantian Yifan yang terkejut dengan fitur mobil Jongin. Karena fitur mobil Jongin bukan bawaan dari pabrik aslinya.

"Ayah harus pergi, ada meeting dadakan," ucap sang ayah tanpa basa basi sama sekali. "Ibu ikut dengan ayah."

Jongin baru saja menggunakan sabuk pengamannya dengan wajah kesal. "Aku sudah capek-capek belanja," keluh Jongin sambil menyalakan mesin mobilnya. "Ibu tega membiarkan anaknya kelaparan?" tanya Jongin dengan nada mendramatisir.

"Siapa yang duduk di sampingmu?" tanya ayahnya dengan tiba-tiba. "Pantas saja kau lama sekali belanjanya." Keluh sang ayah yang membuat Jongin terdiam.

Jongin menatap sekeliling mobilnya tepat saat ia harus mengatri keluar tempat parkir. Yifan yang tadi diam saja sampai menatap Jongin dengan horor. Tahu dari mana ayah Jongin kalau ada yang menumpang mobilnya.

"Oh, kata ibu, dia ayahnya Sehun," ucap ayahnya dengan tenang. Tapi tidak untuk Jongin dan Yifan yang semakin was-was. "Ucapkan rasa terimakasih ayah pada ayah temanmu." Titah sang ayah yang membuat Jongin mengangguk dengan kaku.

Yifan mencolek lengan Jongin sambil menunjuk kamera yang ada di visor mobil. Saking mungil dan berwarna sama dengan interior mobil. Yifan sampai tidak sadar kalau sejak tadi wajahnya terekam kamera. Diam-diam Yifan mulai kagum dengan mobil Jongin yang terlihat biasa dari luar, namun luar biasa di dalam. Benar-benar persis seperti karakter Jongin.

"Kau masih ada uang kan?" kali ini suara di sambungan telfon berganti menjadi suara ibu Jongin. "Kau makan malam di luar saja, kakakmu baru pulang besok pagi," kata sang ibu dengan nada terburu-buru. "Kalau kau malas, kau pesan saja dari luar atau masak telor atau sosis sendiri."

"Iya.. iya.." jawab Jongin dengan malas.

Jongin sampai lupa kalau di sampingnya ada Yifan yang sejak tadi diam dan mendengarkan. Jongin mematika sambungan dan menatap Yifan yang tampak kaku. Mungkin efek kamera yang meyorot wajahnya dengan sempurna. Jongin terkiki geli sambil mendorong visor mobilnya. Dan membuat kamera menyorot jalan.

"Ayahku memang sedikit.." Jongin memecahkan keheningan dengan nada gamang. Takut suaranya akan terekam dan di dengarkan oleh sang ayah. "..maaf kalau Gege merasa sedikit kurang nyaman."

Yifan hanya mengangguk pelan. "Tolong antarkan aku ke Lotus Apartemen," ucap Yifan tiba-tiba saat sadar Jongin mengantarkannya ke rumah. "Aku harus membawa belanjaanku ke sana."

Jongin mengangguk tanpa berkomentar. Lotus merupakan salah satu kawasan apartemen mewah di Beijing. Tapi hal lain mengusik Jongin. Yifan jelas-jelas punya rumah sendiri. Buat apa menyewa apartemen mewah macam itu.

"Aku tidak mungkin membawa kekasihku ke rumah kan?" Yifan berkata tepat saat Jongin ingin bertanya. Jongin kembali mengulumkan bibirnya. "Kau makan malam denganku saja, sekalian membayar tumpanganmu."

"Kau tidak punya janji dengan dr Xiumin?" Jongin hanya merasa, melihat belanjaan Yifan. Sepertinya mereka berdua akan memasak makan malam bersama. "Tapi ge, lebih romantis lagi kalau kalian belanja berdua." Saran Jongin tiba-tiba yang membuat Yifan menatapnya dengan heran.

"Besok kami akan bertemu," gumam Yifan pelan. "Aku hanya ada waktu hari ini dan besok kami berdua benar-benar sibuk," perkataan Yifan jelas membuat Jongin mengerutkan dahi. "Besok malam tepat satu bulanan kami."

Maafkan Jongin yang bereaksi berlebihan. Jongin jelas tertawa dengan keras. Gila, dulu saat ia pacaran tidak pernah merayakan hal macam itu lagi. Dulu saat SMA mungkin ia akan melakukannya. Jongin tidak bisa menghentikan senyumannya karena Yifan dan Xiumin.

"Kami jarang bertemu," celetuk Yifan yang membuat Jongin sedikit melirik Yifan sebelum kembali menatap jalan. "Saat kau mulai bekerja kau akan mengerti bagaimana susahnya mengatur waktu." Yifan menatap Jongin yang masih tersenyum.

"Sampai berkumpul dengan teman pun sulit." Celetuk Jongin saat sampai di depan kompleks Lotus Apartemen.

"Kita makan malam di apartemenku." Ajak Yifan yang membuat Jongin mengemudikan mobilnya ke area parkir penghuni apartemen.

Jongin tidak terlalu kaget menemukan apartemen Yifan yang mewah. Jongin hanya merasa mereka berdua itu benar-benar berbeda. Yifan tipe yang akan menunjukkan semua kemampuan dan keahliannya. Berbeda dengan Jongin yang lebih suka menyimpannya sendiri. Dalam kata lain, Yifan itu si tukang pamer sedangkan Jongin diam-diam menghanyutkan.

"Benar-benar khas seorang Kris," gumam Jongin sambil menaruh belanjaan Yifan di meja dapur berbahan kayu. "Jangan masukkan kentang ke dalam kulkas," larang Jongin. Yifan menatap Jongin meminta penjelasan. "Pati kentang akan berubah menjadi gula, kalau dipanggang atau digoreng, gulanya bisa bercampur dengan asparagin asam amino dan menghasilkan akrilamida," Jongin terus mengoceh sambil menata telur. Setiap lemari es selalu memiliki desain unik untuk menyimpan telur. "Akrilamida itu semacam bahan kimia yang biasanya digunakan dalam proses produksi kertas, pewarna dan plastik yang sering dikaitkan dengan kanker."

Yifan menatap Jongin dengan wajah pias. "Serius?" karena Yifan sering menaruh kentang di dalam lemari es.

"Gege tidak usah takut juga untuk mengonsumsi kentang," Jongin tidak bisa untuk tidak tertawa melihat reaksi Yifan. "Sampai sekarang studi yang menemukan ada reaksi kanker dari paparan akrilamida baru di temukan saat menggunakan model tikus, mungkin akan berbeda dengan manusia."

"Kau tahu dari mana sih?" Yifan mulai penasaran dengan isi otak Jongin yang tidak terduga.

"Aku tidak sengaja membaca artikel tentang kentang," jawab Jongin sambil mengangkat kedua bahunya. "Dan ternyata artikel itu berguna untukmu Ge."

"Kau duduk saja di sana, aku akan membuatkanmu sesuatu." Titah Yifan sambil menunjukkan sebuah sofa hitam panjang.

Jongin menuruti perintah Yifan. Dan duduk dengan nyaman sambil membaca majalah yang tergeletak di atas meja persegi yang terbuat dari kaca. Jongin awalnya hanya membaca asal majalah temuannya itu. Sampai pada halaman yang terpasang foto besar bertuliskan nama Xi Luhan.

"Wow~ dia menggunakan nama asli." Jongin terperangah.

Berbeda dengan dua temannya yang menggunakan nama samaran. Yifan dengan nama Kris. Joonmyeon dengan nama Suho. Luhan tetap menggunakan namanya sendiri. Jongin pernah mendengar jika ketiga orang ini merupakan CEO dari perusahaan mereka sendiri. Dan Luhan merupakan orang yang terlalu misterius hingga Jongin malas untuk bertanya.

Jongin kembali mengecek cover majalah ditangannya. Professional Security Magazine. Jujur saja, karena covernya terlalu membosankan Jongin tidak terlalu berharap banyak. Tapi saat ia membaca isi artikelnya bahwa perusahaan Luhan memiliki kerja sama dengan Interpol untuk mengatasi cyber crime atau kejahatan digital. Membuat Jongin dengan cepat menekan nomor Luhan dari handphonenya.

Jongin langsung beranjak berdiri saat Luhan mengangkat telfonnya. "Ge, apa kau sibuk?" tanya Jongin untuk berbasa basi. Luhan berkata dia tidak sibuk. "Apa tawaran gege, masih berlaku?" tanya Jongin dengan penuh harap.

"Sedepresi itu kah kau?" ejek Luhan yang membuat Jongin membulatkan matanya. "Aku akan menyerahkan handphoneku pada sekertarisku," ucap Luhan pada akhirnya yang membuat Jongin bernafas lega. Namun Luhan kembali berbicara, "aku rasa kau tertarik saat mengetahui perusahaanku bergerak di bidang macam apa."

Jongin tertawa kering dan buru-buru berkata, "Aku bukan orang IT," jelas Jongin dengan nada sedikit minder. "Tapi aku sangat penasaran dengan perusahaanmu."

"Aku tahu kau itu anak manajemen bisnis," ucap Luhan pelan yang membuat jantung Jongin berdegup kencang. "Toh, perusahaan kami memang membutuhkan orang sepertimu," Luhan seharusnya melihat bagaimana reaksi Jongin yang membukam mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Macam pemeran protagonis yang tengah dilamar oleh pemeran utama. "Kata-kataku menyentuh kan?" tanya Luhan yang membuat Jongin mengangguk dengan ekspresi terharu. Meski Luhan tidak bisa melihatnya.

"Jadi aku masih memiliki kesempatan?" tanya Jongin dengan penuh harap.

"Sekertarisku akan mengirimkan persyaratannya ke emailmu." Ucap Luhan yang membuat Jongin berjingkrak dengan senang.

"Oh, aku belum memberitahumu alamat emailku." Keluh Jongin.

"Tidak perlu, kau pernah mengirimkanku proposal si bartender," jawaban Luhan membuat Jongin diam-diam merasa tidak enak. Karena dulu ia memaksa Luhan untuk memberikannya alamat email dan nomor telfonnya. "Lengkapi persyaratannya dan jangan lupa membujuk Yifan untukku."

"Oh! Oke.." Jongin cukup terkejut dengan permintaan terakhir Luhan. Jongin niatnya ingin mengejek tapi tidak jadi karena Luhan akan menjadi calon bos magangnya.

"Kau pasti mengurungkan niatmu untuk mengejekku," tebak Luhan yang membuat Jongin terkekeh pelan. "Sampai jumpa di pertemuan MoGB." Tanpa mengatakan hal lainnya Luhan menutup sambungan telfonnya dengan Jongin.

Jongin menghela nafas dengan lega sebelum kebingungan. Ia tidak sadar berkeliling apartemen Yifan sambil menelfon. Jongin sendiri heran kenapa ia bisa berakhir di ruangan yang dikelilingi kaca jendela besar. Jongin bisa melihat gemerlap kota beijing dari sini. Karena sayang untuk dilewatkan jadi Jongin memilih untuk duduk di sofa cokelat yang tidak terlalu besar. Tapi saat ia baru saja duduk, ia sepertinya menindih sesuatu.

"Apa ini?" gumam Jongin sambil mengamati benda berwarna biru muda. Semacam gel dalam kemasan tube.

"Jongin!" panggil Yifan yang menbuat Jongin tersentak kaget. "Kau ini!" keluh Yifan saat menemukan Jongin yang tengah duduk. "Kau sedang apa?" tanya Yifan sambil menghampiri Jongin yang tidak menyahut panggilannya.

"Ge, kau benar-benar menjijikan," keluh Jongin pelan, namun sambil menatap pemandangan kota. Jongin seketika memiringkan kepalanya, "tapi mungkin jika melakukannya di sini akan terkesan romantis memang," gumam Jongin sambil menyerahkan benda yang sempat tadi ia duduki. "Aku tidak tahu, kau sengaja menaruhnya di sini atau kau lupa memindahkannya."

Yifan menaikan sebelah alisnya sambil tertawa pelan. Dasar tidak tahu malu. Jongin mengeluh pelan dengan cara Yifan tertawa. Jadi yang Jongin temukan adalah lubricant atau semacam pelumas. Kau mengerti maksud Jongin kan?

"Ya ampun, dengan sombongnya pemilik apartemen ini bilang mau memasakkanku makan malam, ternyata cuma mie instan." Ejek Jongin sambil menggelengkan kepalanya. "Mewah ya, isiannya." Gumam Jongin dengan terpukau tapi tetap dengan nada mengejek.

"Sehun selalu suka mie buatanku," Yifan mengambil dua mangkuk untuknya dan Jongin. "Kau akan tersentuh dengan rasanya." Yifan berkata dengan percaya diri. Oh, Yifan selalu terlihat percaya diri sebenarnya.

"Aku rasa itu karena Gege hanya bisa memasak mie instan," Jongin berkata sambil menyuap mie instan buatan Yifan. Jongin baru kali ini makan mie instan dengan toping sebanyak ini, sosis, baso, potongan udang, tofu, telur setengah matang dan entah apa lagi. "Boleh juga," gumam Jongin yang membuat Yifan tersenyum dengan cara menyebalkan. "Tapi jauh dengan masakan Sehun."

"Kau pernah merasakan masakan Sehun?" Yifan bertanya dengan nada terkejut.

"Tentu saja," jawab Jongin sambil menyeruput kuah mie instan dengan berisik. "Setiap dia menginap di rumahku, dia yang menggantikan kakakku untuk memasak," ucap Jongin sambil menggelengkan kepalanya. "Aku dan kakakku benar-benar payah dan tidak bisa mengikuti selera Sehun."

"Aku saja jarang memakan masakan Sehun," Yifan iri setengah mati pada Jongin. "Dia bahkan lebih perhatian padamu dibandingkan aku."

"Gege kan sudah punya pembantu," Jongin menjawab dengan logis. "Kata siapa? Sekarang dia lebih perhatian pada pacarnya." Jongin jadi mengerti rasa kesepian Yifan. Tapi Yifan kan juga sudah punya kekasih. Jongin langsung membuang jauh-jauh rasa empatinya tadi.

"Timoteo itu temanmu?" tanya Yifan yang memang sejak tadi sibuk makan sambil memainkan handphonenya.

"Iya, kenalanku di bar," jawab Jongin dengan jujur. "Bagaimana ge?" Jongin kali ini lebih waswas karena ini permintaan calon bos barunya.

"Oke, kau mau aku masukan kau dan temanmu sebagai tamuku?" tawar Yifan.

Jongin menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya Lu-ge sudah menawarkan kami sebagai tamunya," jawab Jongin dengan cepat. Jongin meminum air putih yang Yifan sudah sediakan. "Kenapa?" tanya Jongin saat menemukan raut wajah yang asing dari Yifan.

"Kalau begitu buat apa kau meminta izin padaku?" Yifan bertanya dengan nada kesal.

"Karena kau ketuanya," Jongin sepertinya sedikit mengerti dengan alasan Yifan yang merasa kesal. Tapi ia memilih untuk pura-pura tidak tahu. "Lu-ge bilang aku lebih baik meminta izin dulu darimu." Dusta Jongin. Sebenarnya Jongin juga bingung kenapa ia harus berbohong.

"Aku terkejut kau masih mau berteman dengan orang yang sudah mempermainkan hati temanmu sendiri," Yifan berkata dengan sinis dan itu cukup membuat Jongin sedikit tersentak. "Dia bahkan tidak berani datang ke komunitas lagi."

"Hati Kyungsoo?" tanya Jongin yang membuat Yifan menganggukan kepalanya. "Memangnya apa yang sudah Lu-ge lakukan?" Jongin memiringkan kepalanya.

"Aku berani bertaruh Kyungsoo sudah bercerita padamu." Yifan melanjutkan makannya mengacuhkan Jongin yang tersenyum simpul.

"Aku lebih penasaran dengan sikap Gege," Jongin masih menatap Yifan dengan penuh selidik. Tapi Yifan malah menatap Jongin dengan ekspresi merasa terganggu. "Baiklah, aku tidak mau mencampuri hubungan kalian."

.ILYD.

"Sejak kapan kau tertarik dengan urusan orang lain?" Kyungsoo bertanya dengan marah. Jongin hanya menghela nafas. "Kau tahu Luhan sudah.." Kyungsoo terdiam dan menatap Jongin dengan tajam. "Setelah kau memanas-manasiku dengan Yifan sekarang dengan Luhan?" keluh Kyungsoo yang membuat Jongin termenung. "Maumu apa sih?"

"Aku calon pegawai magang Luhan," Jongin bahkan menjawab dengan nada bingung. "Aku tidak memiliki niatan untuk memanas-manasimu," Jongin menatap Kyungsoo dengan wajah merajuk. "Aku serius ingin membantu penelitian temanku."

"Magang?" Kyungsoo tidak bisa mengendalikan keterkejutannya. "Kok bisa?"

"Aku mendaftar di perusahaannya." Jongin rasanya tidak perlu menjelaskannya dengan lebih perinci. Bagaimana Luhan menawarkannya dan bagaimana ia meminta Luhan untuk menerimanya menjadi pegawai magang. "Aku juga kaget saat tahu dia CEO perusahaan pemasok perangkat telekomunikasi dan jaringan komunikasi terbesar di Cina."

"Serius?" Kyungsoo memajukan wajahnya. "Sigma Telekomunikasi?" Kyungsoo menutup mulutnya sama persis dengan yang Jongin lakukan kemarin. "Aku dengar pendirinya dulu mantan anggota militer China." Kyungsoo menatap Jongin dengan penuh haru. "Aku harap kau bisa diterima di perusahaannya."

"Aku saja kaget setelah mengetahuinya," Jongin berkata dengan nada yang terdengar berlebihan. "Perusahaan Kris-ge dan Suho-ge, lewat." Oke, ini berlebihan. Tapi Kyungsoo tampak setuju dengan pendapat Jongin. "Jadi kau tertarik mengambil hati seorang Xi Luhan?"

"Ha ha, makin takut aku." Keluh Kyungsoo pelan. "Jadi kau akan jadi tamu Luhan?" tanya Kyungsoo sambil menghela nafas pelan saat Jongin menganggukkan kepalanya. "Aku yakin, romur mengenaimu akan semakin buruk, belum lagi jika Chanyeol tahu."

"Aku rasa dia sudah tahu." Jongin mengangkat kedua bahunya dengan pelan. Kyungsoo diam mematung saking kagetnya.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya dengan pelan dan melanjutkan topik pembicaraan. "Jadi kau memaksaku datang ke sini untuk membicarakan ini semua?" Kyungsoo tentu tertawa karena Jongin bahkan sampai rela mentraktirnya makan. Yah, meski Kyungsoo terharu karena Jongin tahu, Kyungsoo sangat menyukai spageti.

"Aku tidak peduli jika orang lain salah paham padaku, tapi aku tidak mau kau salah paham padaku."

Jongin tahu ini sedikit memalukan. Tapi Kyungsoo bahkan sampai menghentikan suapan spagetinya saking terkejut. Kyungsoo tersenyum senang mendengar perkataan Jongin. Kalau Kyungsoo tidak tahu malu seperti Baekhyun. Ia akan memeluk Jongin dengan erat.

"Kau ingin aku menciumu?" tanya Kyungsoo dengan nada yang amat manis.

"Tidak perlu, terimakasih." Tolak Jongin dengan nada tidak kalah manis.

.ILYD.

Sebelum masuk ke dalam komunitas. Pasti terdapat penjaga yang akan mengecek kartu pengenal komunitas. Tapi karena Jongin dan Timoteo seorang tamu. Jadi mereka berdua harus menyerahkan kartu tanda pengenal dan masuk ke dalam bersama pengundang. Yap, Luhan.

"Aku merasa gugup." Keluh Timoteo sambil mengelus dadanya dengan pelan.

Tapi Jongin rasa, Luhan bahkan jauh lebih gugup. Jongin melupakan sesuatu. Karena Luhan salah satu pendiri. Mereka tidak perlu mengantri seperti anggota yang lain. Enaknya jadi Luhan dan kawan-kawan. Timoteo bahkan sampai menatap Luhan dengan sebegitunya. Bukan dalam artisan kagum tapi kebingungan.

"Dia salah satu pendiri," bisik Jongin yang membuat Timoteo mengangguk pelan. "Aku sudah meminta izin pada ketua, kau bisa mewawancarainya."

Jongin sudah menawarkan diri untuk menemani Timoteo. Tapi dia bilang ia ingin lebih fokus untuk mengamati komunitas ini. Untuk wawancara Timoteo sejak tadi dengan mudah membaur dengan semua orang. Karena masih membutuhkan beberapa orang, Timoteo masih belum siap mewawancarai Yifan.

"Kau datang sebagai tamu Luhan?" Baekhyun bertanya dengan nada tidak habis pikir. "Kau mau Kyungsoo membunuhmu?"

"Aku tidak akan membunuhnya," keluh Kyungsoo karena kesal dengan tuduhan Baekhyun. "Dia sudah menjelaskan semuanya kemarin." Kyungsoo kini beralih pada Luhan yang tampak sedang bercengkrama dengan Suho.

Biasanya, Luhan, Suho dan Yifan selalu berbagi meja yang sama tapi sekarang, Suho bersama Luhan sedangkan Yifan bersama Xiumin. Kyungsoo menatap Jongin yang juga tengah mengamati hal yang sama dengan Kyungsoo.

"Suho menjadi orang yang paling netral," puji Kyungsoo sekaligus menambah informasi amatan Jongin. "Beberapa orang masih percaya bahwa aku kekasih Luhan." Ucap Kyungsoo saat Baekhyun menghampiri Baba di pintu masuk.

"Apa kau bilang, kau bukan kekasih Luhan?" Jongin menemukan Kyungsoo yang menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mengatakan iya atau tidak," Kyungsoo tersenyum saat menemukan wajah Jongin yang terlihat cemas. "Kau mengkhawatirkan calon bosmu?"

"Bukan, aku mengkhawatirkanmu," keluh Jongin. "Kau tahu sendiri, banyak anggota komunitas yang iri padamu," Jongin mengambil radlernya. Ia seding tidak ingin mabuk. "Rumor aneh pasti menghantuimu."

"Kau benar," Kyungsoo mengangguk dengan setuju. "Kita dipanggil kelompok pecundang yang akan dicampakkan, tinggal tunggu Baekhyun yang dicampakkan Baba." Gurau Kyungsoo yang membuat Jongin tertawa. "Mereka tidak tahu Baba sudah cinta mati pada ratu kita satu itu."

"Jongin," colek Timoteo yang membuat Jongin menengok ke samping kanannya. "Itu siapa?" Timoteo menunjuk Yifan dan Xiumin.

"Ketua komunitas dan kekasihnya," jawab Kyungsoo sambil berjalan meninggalkan Timoteo dan Jongin. "Aku akan menemui Baekhyun." Perjelas Kyungsoo saat tangannya dijegal oleh Jongin.

"Aku pernah melihat kekasih ketua komunitasmu dengan pria lain." Bisik Timoteo dengan tidak nyaman.

"Dengan Luhan?" Jongin tersenyum kecil. Adegan Luhan mencium Xiumin kan di tempat kerja Timoteo.

"Bukan," Timoteo menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku pernah melihatnya di komunitas lain." Timoteo mengeluarkan ponselnya dan mencari video di sebuah galeri. "Di Shutter Island."

"Serius?" Jongin menatap Timoteo dengan wajah kebingungan. "Jangan katakan itu pada siapa pun." Jongin menggigit kepalan tangannya dengan gelisah. "Kau tidak salah lihat kan?"

Timoteo menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Kau pasti tahu reputasi Shutter Island kan?" keluh Timoteo yang diberikan anggukan oleh Jongin. "Aku tidak bisa melupakan kejadian di sana," Timoteo bahkan tampak lebih gelisah dibandingkan Jongin. "Seperti tempat di mana kau bisa mencumbu siapa pun, di mana pun dan dengan cara apa pun."

"Kenapa kau bisa yakin?" tanya Jongin dengan sangsi. Jongin rasa dr Xiumin bukan orang yang seperti itu.

"Aku tidak pernah melihatnya melakukan hal itu di dalam komunitas," perkataan Timoteo membuat Jongin sedikit merasa lega. Jongin tidak bisa membayangkan Xiumin melepas pakaiannya dan melakukan hubungan seks dengan siapa pun. "Tapi dia terkenal karena selalu mendapatkan pasangan hookup," istilah lain dari cinta satu malam. "Hampir pria berbadan keren seperti ketuamu, pernah melakukan hookup dengannya."

"Aku masih tidak percaya."

"Serius, dia bahkan mendapatkan julukan Queen of Hookup," Timoteo menggelengkan kepalanya saat Yifan tampak mencium pelipis Xiumin. "Aku sarankan, kau tidak masuk ke dalam masalah ini," Timoteo mantap Jongin dengan tatapan serius. "Jangan pernah, ini terlalu rumit," Timoteo memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya dan berjalan menuju Yifan. "Tolong antarkan aku kepada ketuamu."

Jongin cukup terpukau dengan Timoteo yang tidak goyah sama sekali. Sedangkan Jongin sejak tadi berusaha untuk tidak menatap Xiumin. Meski Timoteo selalu bilang Xiumin melakukannya di ruangan khusus. Tetap saja, hookup bukanlah sesuatu yang biasa jika dilakukan berulang-ulang dengan pria berbeda.

Shutter Island sebenarnya bukan sebuah komunitas. Tetapi bar gay yang sangat terkenal. Bar itu mengusung konsep Babylon Club dari film Amerika, Queer of Folk. Dimana bar itu menyediakan tempat khusus untuk bersenggama. Jika ingin melakukan hal macam itu di tempat lebih privat, bisa dilakukan di lantai dua yang tentunya dijaga ketat oleh Bodyguard. Karena hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati fasilitas macam itu.

"Aku dengar kalian berdua tamu Luhan?" tanya Xiumin saat Timoteo baru menyelesaikan wawancaranya. Jongin mengangguk pelan sambil melirik Timoteo yang juga melirik Jongin. "Aku tidak menyangka kau tetap dekat dengan Luhan setelah dia melakukan hal itu pada temanmu," Xiumin menatap Kyungsoo yang tengah berbincang dengan Baekhyun dan Baba. "Dan melihat apa yang dia lakukan padaku."

"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Yifan dengan tajam. Dibanding menatap Xiumin, Yifan lebih memilih menatap Jongin.

Jongin mengerutkan dahinya, pura-pura tidak mengerti. Sial, kenapa dr Xiumin membawa-bawa Jongin coba? Dia kan cuma tidak sengaja melihat. Dia tidak mau terseret malah diseret paksa.

"Aku yakin kau melihat Luhan yang menyerangku." Xiumin berkata dengan hati-hati. Yang anehnya terkesan seperti korban kekerasan atau pelecehan. Hingga Jongin hanya bisa membulatkan mulutnya.

"Ge!" seru Jongin sambil meraih lengan Yifan yang ditepis keras oleh Yifan. "Menyerangmu apanya?" keluh Jongin sambil menatap Xiumin dengan kesal.

"Itu masuk ke dalam penyerangan." Jelas Xiumin yang kini berlari menyusul Yifan.

Jongin bisa melihat Xiumin yang kini berusaha mencegah Yifan. Luhan tampak kebingungan kala kerah bajunya ditarik oleh Yifan. Perbedaan tinggi badan membuat Luhan begitu sangat mungil. Belum lagi saat Yifan mebogem wajah Luhan dan membuat Xiumin berteriak dengan suara yang memuakkan bagi Jongin. Semua orang terdiam, senyap. Hingga yang terdengar hanya pemutar lagu yang tengah memperdengarkan lagu Kyle.

"Kau tahu Xiumin sudah menjadi kekasihku!" geram Yifan yang membuat semua orang tercekat. Termasuk Luhan yang jatuh terduduk, menatap Yifan dan Xiumin bergantian. "Aku tidak menyangka kau akan merebut Xiumin juga."

"Juga?" tanya Luhan sambil tertawa pelan. "Maksudmu Kyungsoo?" Luhan tertawa dengan nada menyebalkan. "Kau berpikir aku merebut Kyungsoo dari mu?" Luhan kini menatap Kyungsoo yang hanya diam dengan tatapan terkejut. "Lalu sekarang aku akan merebut kekasihmu yang dulunya adalah kekasihku?"

Yifan kini tanpa ragu kembali menarik kerah Luhan. Sebelum Luhan mendapat bogeman lagi. Luhan dengan cepat membalas tonjokan Yifan. Hingga membuat tubuh Yifan terhuyun. Luhan menegakkan tubunya sambil menggulung lengan kemeja biru mudanya yang kotor. Saat Luhan akan mendekati Yifan, dengan sigap Xiumin menghadang jalan Luhan. Terjadilah adegan dramatis yang membuat Jongin menganga.

"Yang benar saja." Keluh Jongin sambil tertawa kaku. "Memangnya ini serial remaja?" gumam Jongin yang masih menatap Xiumin dengan takjub.

Tapi Jongin lebih terkejut dengan Kyungsoo yang dengan tenang berdiri di antara Luhan dan Xiumin. Kyungsoo memunggungi Luhan yang tampak menatap Xiumin dengan menyedihkan. Kyungsoo tersenyum memandang Xiumin dengan cara yang sedikit menakutkan. Xiumin bahkan memundurkan langkahnya untuk berdiri di samping Yifan. Suara riuh anggota komunitas lain membuat Kyungsoo berdecak pelan.

"Ini urusan kalian bertiga," Kyungsoo membuat suara riuh kembali terdiam. "Kenapa membawa-bawa namaku?" Kyungsoo kini menatap Yifan dengan wajah kesal. "Aku direbut Lu-ge?" tanya Kyungsoo sambil tertawa pelan. "Kau bahkan sudah menolakku dengan tidak langsung namun terlihat jelas." Kini Kyungsoo membalikkan badannya dan menatap Luhan dengan heran. "Apakah sulit melupakan Xiumin-ge?" tanya Kyungsoo dengan wajah sedih.

Luhan membulatkan matanya dan merengkuh tubuh Kyungsoo. Rengkuhan itu diakhiri dengan Kyungsoo yang menarik lengan Luhan. Keluar dari kerumunan. Kyungsoo sengaja melewati Jongin sambil tersenyum tipis. Hingga membuat Jongin berbisik tanpa suara, aku mencintaimu. Kyungsoo hanya membalas godaan Jongin dengan tersenyum simpul.

"Kalau kau tidak percaya padaku," bisik Timoteo sambil menatap Xiumin yang tampak mengelus pelan dada Yifan. "Besok temui aku di sturbuck daerah Liangmaqiao, kita akan ke Shutter Island."

Jongin menatap Timoteo dengan tatapan tidak percaya. "Kau bilang aku tidak boleh ikut campur."

"Aku hanya tidak tahan melihatnya." Keluh Timoteo. "Ayo keluar dari sini."

Jongin mengangguk sambil menatap Yifan dan Xiumin dengan gelengan kepala pelan. Urusannya dengan Chanyeol saja belum selesai. Masa ia mau menjatuhkan diri ke jurang masalah orang lain. Jongin menghela nafas saat Kyungsoo mengiriminya pesan singkat. Kyungsoo meminta Jongin datang ke cafe dua blok dari gedung komunitas MoGB.

"Aku bersumpah," ucap Jongin dengan sungguh-sungguh yang didukung oleh Timoteo. "Aku tidak bilang apa-apa, mantanmu yang memancingnya." Keluh Jongin sambil meminum matcha green tea yang dipesankan oleh Kyungsoo.

"Aku terpaksa menolongmu karena kau membawa-bawa namaku," keluh Kyungsoo sambil membantu mengobati luka di wajah Luhan. "Masalah kalian tidak ada apa-apanya dibanding Jongin yang dihajar habis-habisan oleh Chanyeol," Kyungsoo menggigit bibir bawahnya dengan terkejut. "Aku tidak bermaksud.." Kyungsoo menatap Jongin dengan khawatir.

"Umur memang tidak menandakan kedewasaan seseorang," celetuk Luhan yang membuat Kyungsoo tertawa sinis. "Yifan merupakan orang yang paling mudah terhasut dan emosian," keluh Luhan pelan. "Harusnya aku tidak terbawa suasana."

"Aku rasa wajar," ucap Kyungsoo tiba-tiba. "Wajar kalian marah dan kesal, tapi kalian tidak melihat situasi dan kondisi." Kyungsoo menyesap minuman Jongin tanpa meminta izin. "Ini enak!" seru Kyungsoo yang melenceng dari topik pembicaraan.

"Aku rasa kau benar-benar membuatku jatuh cinta." Gumam Luhan yang membuat Jongin, Kyungsoo tak terkecuali Timoteo menatap Luhan dengan terkejut.

.ILYD.

"Jongin kau kedatangan tamu," ucap Yixing dengan senyuman aneh. "Sepertinya kau benar-benar harus pergi."

Jongin mengerutkan dahi dan tersenyum kaku saat menemukan siapa yang datang. Dua murid ayahnya yang paling handal. Xi Yuhuan, satu-satunya bodyguard yang dipercaya Tiongkok untuk mengawal Perdana Meteri Tiongkok dan Date Noboru, keturunan dari keluarga samurai dari zaman Edo. Kok, Jongin merasa ayahnya keterlaluan sekali.

"Tepat jam 5 sore kita akan berangkat ke bandara." Ucap Yuhuan sambil menatap jam tangannya. "Kau punya waktu tiga jam untuk bersiap-siap."

"Aku bahkan belum menyiapkan baju yang akan digunakan," gumam Jongin yang lebih dari sekedar keluhan. Jongin kira ayahnya sudah lupa. "Dan kenapa kalian berdua yang harus menemaniku?" Jongin berjalan menuju kamarnya. Noboru yang mengikuti Jongin ke kamar hanya tersenyum simpul. "Bukan waktunya mengeluh." Keluh Jongin sambil mengambil koper yang berada di atas lemari pakaiannya.

"Master bilang kami harus menunjukkan kebanggaan kami." Selalu, Noboru akan menjawab dengan serius semua pertanyaan Jongin.

Hanya ada lima orang yang diajarkan langsung oleh ayahnya. Kakaknya, Leo, Zitao, Noboru dan Yuhuan. Kelima orang ini yang selalu memanggil ayahnya dengan kata Master. Terkecuali, Yixing jika sedang di rumah. Jongin yang tidak suka berkelahi, memilih untuk menjauh dari ajaran ayahnya. Meski sekarang ia sedikit menyesal karena menolak tawaran ayahnya.

"Aku harus pakai baju apa?" tanya Jongin sambil menatap dua setelan formal yang ia punya. Satunya lagi dari Siwon. Masa ia memakai pakaian pemberian Siwon lagi.

"Tidak usah khawatir, Master sudah menyiapkan semuanya," jelas Noboru yang membuat Jongin sedikit lega. "Kau hanya perlu membawa beberapa barang yang diperlukan." Kini Noboru membantu Jongin untuk memasukkan pakaian dalamnya.

"Apakah tidak terlalu berlebihan jika aku membawa koper?" tanya Jongin yang melihat kopernya yang hanya berisi pakaian dalam. Noboru melarang Jongin untuk membawa kaos dan celana yang ada di lemarinya.

"Aku rasa kau lebih baik membawa koper." Saran Noboru yang tentu saja Jongin turuti. "Semua pakaianmu dari berangkat hingga pulang sudah diatur oleh Yuhuan." Ucap Noboru sambil menunjuk Yuhuan yang membawa banyak kantung belanja.

"Kita bukannya hanya dua hari satu malam ya?" tanya Jongin sambil menatap Yuhuan dengan helaan nafas pelan. "Kenapa aku merasa menjadi artis begini?" Jongin membongkar belanjaan Yuan dengan takjub. Jongin membongkar kotak jam tangan dengan lambang rolex. "Rolex Deepsea.." eja Jongin sambil memajukan wajahnya dan meneliti jam tangan bewarna tembaga dengan pelat bergradasi biru tua hingga hitam pekat. "Weh! Ini bukannya keluaran terbaru ya?!"

Jongin sampai terduduk di ranjangnya sendiri dengan tatapan kosong. Jongin jadi sedikit ragu untuk melihat belanjaan yang lain. Mulai dari kantung belanja yang bertuliskan Hugo Bos. Jongin yakin itu setelan jas yang akan ia gunakan. Serta beberapa kantung lain yang bertuliskan Lacozte, Versace Gucci dan beberapa merek lainnya yang tidak Jongin ketahui.

"Ayah sekalinya pamer, menyeramkan ya?" gumam Jongin sambil menatap Yuhuan dan Noboru untuk meminta persetujuan. Tapi keduanya hanya tersenyum simpul. "Ya ampun, entah aku harus senang atau bagaimana."

.ILYD.

.

.

.

HIDDEN/END

TBC

.

.

Terimakasih atas responnya selama ini..

Oke, akan saya coba wattpad. Tapi saya akan mencoba dengan tiga fanfic yang sudah di publish di sini. Bikinan Netonett, Berlindia dan NetoBerlin. Untuk fanfic yang belum selesai di ffn akan tetap saya lanjutkan di ffn. Sedangkan di wattpad, jika responnya bagus akan saya buat fanfic baru. Di wattpad saya menggunakan nama aku yang sama yaitu NetoBerlin.