.
.
.
"Cari lalu biarkan aku yang mengakhirinya!" Satu hal yang harus diketahui tentang Sehun.
Jangan pernah berpikir untuk menjadi dekat dengan orang yang memiliki senyuman lebar dan selalu merasa senang setiap waktu. Pembunuh memang selalu terlihat ramah bukan?!
.
.
.
The Shadow of The Demon | Chapter 9
.
.
Author : Alyna Beryl
CAST : Park Chanyeol | Byun Baekhyun
Support Cast : Oh Sehun | Kris Wu | Kim Jongin | Xi Luhan | Kim Minseok
Genre : Romance | Sad | Yaoi
Rating : M
Sorry for typo. Hope you like it!
Happy Reading *bow*
.
.
.
Di mulai dari pagi yang membosankan, Sehun turun dari lantai satu kamarnya. Berniat keluar sejenak sekedar mencari udara segar, namun niat itu nyatanya pupus setelah melihat keluarganya berkumpul diruang tengah menyambut tamu yang sangat tidak ingin dilihatnya hari ini. Kris dan Chanyeol terlihat mengunjungi orang tuanya. Mengunjungi orang tua atau dirinya?
"Baru bangun Tuan Muda? Sepertinya kau melewati malam yang panjang kemarin" Sindiran, great! Ia sangat malas untuk menanggapi.
"Apa yang membuatmu kemari Park Chanyeol?" Lebih baik tidak perlu basa-basi.
"Kami akan meninggalkan kalian untuk mengobrol" Sahut Nigel setelah mendapat isyarat dari Chanyeol untuk meninggalkan mereka bertiga diruang tengah.
"Kau kemari mencari Baekhyun?" Seperti sudah tau tujuan utama Kris dan Chanyeol, Sehun mencoba mendahului. Ia berjalan kearah sofa dan mendudukinya berhadapan dengan Chanyeol.
"Kami kemari bukan untuk mencarinya, lagipula dia mungkin sudah kabur" Sehun menatap Chanyeol yang tersenyum tipis kearahnya.
"Bagaimana kau bisa tau?" Chanyeol tertawa kecil. Pertanyaan klasik, membosankan.
"Lihat wajah frustasimu itu! Terlihat sekali bahwa kau gagal menguliti Baekhyun" Mendengar itu Sehun hanya bisa diam, si brengsek itu memang selalu benar.
"Tak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan rahasianya dariku Sehun"
"Kau terlalu mengetahui banyak hal Chanyeol. Itu takkan baik untukmu!" Saran Sehun namun Chanyeol mendengus remeh. Mengetahui banyak hal lah yang justru lebih baik. Pemuda itu sedang bermimpi atau apa?!
"Well, tujuanku kemari karena ingin menawarkan sesuatu. Kau juga gagal mendapat Baekhyun dan kutebak kau pasti sudah mengutus pesuruhmu yang gila itu untuk mencarinya bukan?!" Julukan bukan pria sembarangan memang cocok untuk Chanyeol. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui segalanya?
"Apa itu?" Sedikit tertarik, Sehun pun bertanya. Ikut memajukan tubuhnya ketika Chanyeol juga melakukan hal yang sama.
"Bagaimana jika aku yang mencarinya dan kau yang mengakhirinya?" Tawar Chanyeol membuat kerutan samar tercetak di kening putih Sehun.
"Mungkin ini terasa mencurigakan jika aku harus menurutinya. Kau tau, didunia ini tak ada kata tulus untuk membantu! Semua pasti meminta sebuah imbalan" Chanyeol menjentikkan jarinya merasa setuju dengan ucapan Sehun.
"Apa yang kau inginkan jika Baekhyun sudah kau temukan?" Chanyeol mengeluarkan smirknya.
"Hanya berikan aku sehari bersamanya!" Sehun tertawa kecil mendengar permintaan Chanyeol yang terlalu sederhana.
"Kau yakin hanya itu?"
"Memang apa yang kuharapkan darinya? Setelah 24 jam dia sudah tidak berguna lagi. Bukankah kau berniat membedah tubuhnya?" Sehun berdahem menanggapi ucapan Chanyeol. didalam hatinya ia merasa ragu untuk menerima tawaran Chanyeol tapi setan yang ada didepannya ini terlihat begitu meyakinkan.
"Aku ragu jika kau berubah menyelamatkannya nanti. Apa kau yakin membuatnya menderita lagi?"
"Kenapa aku harus ragu untuk membuatnya menderita jika aku sudah menghancurkan hidupnya sejak awal!" Kris yang duduk tidak jauh dari tempat Chanyeol hanya bisa memandangnya tidak percaya. Kilatan mata yang setara percikan api dan seringai yang selalu menyimpan banyak makna didalamnya, entah itu baik ataupun buruk. Namun sejauh ia mengenal Chanyeol, tak ada yang benar-benar baik jika Chanyeol memperlihatkan seringai itu.
"Baiklah, kupikir tawaran ini cukup meyakinkan! Mohon kerjasamanya Chanyeol-ssi" Chanyeol memandang tangan Sehun yang disodorkan padanya, untuk berjabat tangan namun Chanyeol hanya tersenyum tipis tanpa menyambut tangan itu.
"Hanya tawaran kecil, tidak perlu berlebihan!"
.
.
THE SHADOW OF A DEMON
.
.
BRAK! BRAK! BRAK!
Seluruh maid seketika menghentikan kegiatannya setelah mendengar gebrakan pintu dari ruang tamu. Walau kamar Baekhyun berada dilantai atas, namun tak lantas membuat suara gaduh itu tak terdengar di telinga Tuan Byun yang sedang sibuk menata barang kesayangan putra tunggalnya.
"Keributan macam apa yang sedang terjadi?" Tuan Byun bertanya dengan suara tegasnya setelah keluar dari kamar Baekhyun. Berjalan cepat kearah maid yang akan membuka pintu ruang tamu, mencegahnya dan berniat membukanya sendiri.
BRAK! BRAK! BRA—
Tuan Byun membuka pintu rumahnya lebih lebar dan menemukan seorang laki-laki yang sedang menopang teman laki-lakinya dibagian lengan.
"Siapa ka—Baekhyun?!" Tuan Byun terkejut bukan kepalang ketika melihat putranya yang sudah lebih dari tiga bulan menghilang kini ada didepannya dalam kondisi pingsan.
"SEKERTARIS KANG!" Mendengar teriakan majikannya, Sekertaris Kang berlari mendekat. Belum juga sadar dari keterkejutannya setelah melihat Tuan Mudanya kembali, Tuan Byun sudah mengalihkan tubuh Baekhyun ketubuh sekertarisnya.
"Bawa masuk kekamarnya dan panggilkan Dokter Kim!" Setelah mendapat perintah, Sekertaris Kang membawa tubuh kecil Tuan Mudanya itu masuk kedalam kamar dengan cekatan.
Dari mulai pintu terbuka sampai tubuh Baekhyun dibopong kedalam, Luhan tak lepas memandang semua perlakuan menyenangkan itu. Bisa dikatakan jika tatapannya mengartikan bahwa dirinya iri karena tak pernah mendapat perlakuan menyenangkan itu dari orang lain bahkan dari orang tuanya. Sebelum mendapatkannya kenapa orang tuanya harus mati disaat ia benar-benar membutuhkan seseorang dikala adiknya sakit.
"Maukah kau masuk sebentar nak?!" Setelah sibuk dengn lamunnya, Luhan pun menoleh kearah ayah Baekhyun. Ini gila! Ia membuat kontak mata dengan mantan presiden Korea Selatan. Keberuntungan macam apa ini?
"Masuklah nak!" Luhan berjalan masuk mengikuti langkah Tuan Byun memasuki ruang keluarga.
"Apa kau yang menemukan anakku? Apa kalian berteman?" Tuan Byun mulai bertanya setelah mereka berdua duduk nyaman disofa. Dari gesture dan ucapan Tuan Byun yang begitu halus membuat Luhan sejenak berfikir. Keluarga bangsawan memang berbeda, ia pikir Baekhyun mungkin akan belajar attitude setelah ini karena begitu banyaknya bocah itu mengumpat.
"Kami sudah bersama sebelumnya, dia terkadang memanggilku Hyung karena selisih setahun umur kami. Kami cukup dekat" Tuan Byun menutup matanya sebentar, merasakan perasaan yang begitu lega.
"Aku tau kakak tirinya yang menculik Baekhyun tapi aku selalu gagal mengetahui dimana dia menyembunyikan anakku" Setetes air mata keluar dari mata ayah Baekhyun yang sudah setengah baya itu. Sungguh Luhan tak sanggup membuat Ayah Baekhyun begitu lemah hanya karena sikap egois Chanyeol.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa anakku bisa pingsan dan kakinya berdarah?" Tuan Byun bertanya dengan air mata yang ditahannya dikelopak mata.
"Entahlah, saya juga tidak terlalu mengerti. Baekhyun pingsan saat akan mengetuk pintu dan tentang kakinya…" Belum juga melanjutkan kalimatnya, Luhan sudah duduk lebih dekat kearah Tuan Byun.
"Tuan, jika saya sudah membawa Baekhyun kepada anda. Apakah anda bisa mengabulkan apapun permintaan saya?" Tuan Byun mengerutkan keningnya tapi tetap mengangguk menyanggupi.
"Chanyeol tidak akan melepaskan apa yang ingin dimilikinya, dia licik dan berbahaya! Dia tau segalanya dan dia pasti sudah tau jika Baekhyun berada disini sekarang" Tuan Byun membulatkan matanya mendengar apa yang diucapkan Luhan barusan.
"Permintaan saya adalah untuk membuat Baekhyun pergi jauh dari sini Tuan Byun! Dia tidak cukup aman jika terus disini walau anda memiliki banyak bodyguard untuk menghalangi Chanyeol. Lebih baik jauhi dari pada harus berurusan dengan tangan Chanyeol sendiri!"
Karena tak ada yang tau apa yang akan terjadi jika setengah psycho sudah berdiri didepanmu dengan aura pembunuh yang menguar diseluruh tubuh dan jiwanya.
.
.
"Apa Baekhyun sudah sadar Minseok-ah?" Dokter pribadi Keluarga Byun yang memiliki postur kecil itu menoleh setelah mengecek infus Baekhyun.
"Baekhyun belum sepenuhnya sadar tapi dia mengigau dan berkata bahwa anda harus menolong Luhan" Jelas Minseok.
"Setelah dia bangun aku akan bertanya padanya. Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" Sebelum menjelaskan Minseok menghela nafasnya sembari memperhatikan Baekhyun yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri sejak kecil. Kondisi terparah Baekhyun selama ia merawatnya saat sakit.
"Dia pingsan karena kelelahan. Kaki kirinya terdapat luka tembakan. Ada memar dan benjolan dibagian perut, sepertinya benturannya terlalu kuat hingga membuat robekan dibagian hati. Baekhyun harus segera dioperasi karena jika tidak, ia akan terus merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya!" Mendengar penjelasan Minseok, Tuan Byun seakan ingin meledak oleh amarah. Apa yang dilakukan bocah mengerikan itu terhadap anaknya hingga Baekhyun mengalami kondisi yang begitu buruk seperti ini.
"Apa harus segera dilakukan operasi?" Minseok mengangguk. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang terjadi pada Baekhyun dan apa yang membuat Tuan Byun begitu gelisah?
"Apa ada sesuatu yang terjadi Tuan Byun?" Minseok mendekat, menyentuh pundak ayah Baekhyun pelan untuk sekedar menenangkan.
"Aku harus segera membawa Baekhyun pergi dari sini sebelum Chanyeol datang kema—"
"Ayah…" Tuan Byun seketika menoleh melihat anaknya perlahan sadar. Ia mendekat dan langsung menggenggam lembut tangan Baekhyun. Bahkan air matanya tak kuasa untuk ditahan kala melihat Baekhyun yang mulai menangis melihatnya.
"Ada apa nak?" Tuan Byun mengelus surai hitam Baekhyun yang begitu panjang.
"Aku takut ayah" Baekhyun menangis sesenggukan. Jemarinya berusaha menggapai wajah ayahnya untuk menghapus aliran air mata yang tercipta dipipi tua ayahnya itu. Minseok yang berdiri disebrang ranjang Baekhyun juga tak bisa menyembunyikan tangisnya melihat interaksi ayah dan putranya.
"Tak ada yang akan membuatmu ketakutan Baekhyun, takkan ada. Ayah tak akan membiarkan semua itu terjadi" Tuan Byun semakin erat menggenggam tangan Baekhyun, seperti tengah menyalurkan kekuatannya untuk sang anak.
"Dimana ibu?" Ekspresi Tuan Byun yang tadinya begitu teduh kini berganti dingin saat Baekhyun menanyakan itu.
"Ayah sudah menceraikannya! Ayah tidak ingin mempertahankan dia yang melahirkan seorang iblis yang sudah menyakiti anakku begitu banyak" Sungguh jika Baekhyun ditanya lagi tentang apakah dirinya keberatan dengan pernikahan ayahnya, ia akan menjawab sangat keberatan. Meskipun ibunya sudah lama meninggal tapi itu tak membuatnya menginginkan ibu yang baru. Hanya bersama sang ayah sepanjang hidupnya itu saja sudah lebih dari cukup untuk Baekhyun, setidaknya ia masih punya orang tua walau tanpa seorang ibu.
"Apa yang kau inginkan saat ini hm? Ayah akan mengabulkan semua permintaanmu" Baekhyun mengusap kasar air matanya dengan lengan bajunya. Ada sesuatu yang begitu diinginkan Baekhyun saat ini.
"Luhan Hyung, laki-laki yang membawaku kemari. Bantulah dia ayah! Luhan Hyung mempunyai adik yang tengah sakit tapi aku tidak tau dirumah sakit mana adiknya dirawat. Kumohon bantulah Lu—"
"Ssstt… tenanglah! Ayah akan menemukan adik Luhan dan membantunya. Kau tidak perlu khawatir! Sekarang pergilah tidur, ayah akan menemanimu disini!" Membuat Baekhyun terlelap tidaklah sulit karena Baekhyun dalam pengaruh obat sekarang. Hanya lima menit diam dan Baekhyun sudah tidur dengan lelapnya.
"Tuan Byun, aku mempunyai sebuah saran" Seru Minseok setelah memastikan bahwa Baekhyun benar-benar tertidur. Terasa dari deru nafasnya dan detak jantungnya yang teratur.
"Saran? Apa itu?"
"Aku akan dialih tugaskan di rumah sakit London dalam waktu dekat ini. Bagaimana jika aku mengajukan pengalihan tugas itu lebih awal dan membawa Baekhyun bersamaku ke London? Aku akan mengoperasinya disana" Tiga bulan terpisah dari anaknya dan ia seperti tak rela jika akan berpisah lagi untuk waktu yang lebih lama. Tapi demi kebaikan Baekhyun, ia tak akan egois dalam mengambil keputusan.
"Tinggalah bersama Baekhyun, Minseok-ah! Aku akan menyiapkan tempat tinggal dan kebutuhan Baekhyun akan kupenuhi. Kau hanya perlu melakukan kegiatan seperti biasanya dan jaga dia untukku" Minseok menggeleng lalu tersenyum begitu tulus.
"Biar aku saja yang memenuhi kebutuhan Baekhyun setiap hari, karena dia sudah seperti adikku sendiri. Cukup carikan tempat tinggal dan sekolahkan Baekhyun disekolah yang menjadi favoritnya sejak kecil. Royal Academy of Music, dia menginginkan melanjutkan sekolahnya disana" Jelas Minseok.
"Baiklah, akan kuurus semuanya. Dan kupikir, kau harus segera bersiap-siap! Karena aku akan memesan tiket pesawat untuk penerbangan besok pagi!" Seru Tuan Byun final.
.
.
THE SHADOW OF A DEMON
.
.
"Kenapa kau begitu santai? Bukankah kita harus cepat menemukan Baekhyun?" Chanyeol memutar bola matanya heran. Tiga kali, sudah tiga kali Kris menanyakan pertanyaan yang sama dan ia tapi bisa lagi menghiraukannya.
"Bukankah kau dikubu Baekhyun? Kenapa kau ingin sekali aku cepat-cepat menemukannya?" Dari pada Baekhyun berakhir ditangan Sehun lebih baik Baekhyun berakhir ditangan Chanyeol agar ia bisa menyelamatkannya nanti.
"Hanya saja kau tidak seperti biasanya. Kau terlalu santai" Apa yang dipelajari dari Chanyeol sejak ia kecil adalah tentang penuntasan masalah yang begitu terperinci, terencana dan bersih. Bagaimana teman sekaligus atasannya itu memulai dan menyelesaikannya dengan begitu apik. Semuanya seperti sudah tersusun layaknya script dan membuat Chanyeol begitu mudah dalam menjalankannya.
"Tunggulah sampai mereka selesai berkemas Kris! Berikan mereka ruang untuk bernafas sejenak" Terlalu banyak mengetahui segalanya dan terlalu banyak memiliki rahasia, ciri utama Chanyeol. Terkadang apa yang diucapkan tak bisa dipahami oleh orang lain bahkan dirinya yang sudah sejak kecil tumbuh bersama dengan Chanyeol. Seperti teka-teki saat sedang bicara. Jika kau tak benar-benar tau apa maksud dari ucapan Chanyeol, selamanya kau takkan tau jawabannya sebelum laki-laki itu menunjukkan maksud dari tindakannya.
Sebagian besar apa yang dilakukannya pasti akan mengejutkan dibagian akhirnya.
"Apa tujuanmu bekerjasama dengan Sehun? Kau selalu melakukan sendiri tanpa menjelaskan" Chanyeol mengetuk-ketuk kecil telunjuk didagunya.
"Menurutmu apa yang membuatku melakukan hal itu?" Chanyeol balik bertanya. Sedikit menyesap cocktail yang ada diatas meja kerjanya.
"Rupanya kau benar-benar ingin membuat Baekhyun tersiksa" Chanyeol memutar kursinya menghadap jendela kaca besar yang memperlihatkan kesunyian kota mati diluar tempatnya.
"Itu yang membuatku merencanakan semuanya sendiri! Kau masih saja menggunakan apa yang ada dibalik dadamu itu untuk berfikir" Kris menghembuskan nafasnya lelah. Masih tak mengerti apa yang menjadi rencana Chanyeol.
"Jika kau sudah menggunakan otakmu maka kau akan dengan mudah mengerti maksudku"
"Beri aku sebuah clue!" Seru Kris dan Chanyeol pun beralih berbalik memutar kursi menghadapnya.
"Perhatikan seorang pembunuh dan hitung langkahnya!"
Sangat sempurna, Kris benar-benar tidak tau artinya.
"Aku berkuasa tapi tidak untuk niat seseorang. Aku memang tau segalanya tapi aku tidak bisa membaca pikiran orang. Apa yang membuat semuanya begitu mudah? Hanya satu yaitu kepercayaan! Kau hanya perlu mendapatkan itu maka kau akan mendapat bonus hatinya, perfect!" Kris menyeringai.
"Apa semudah itu untuk mendapatkannya?"
"Untukku itu seperti membalik telapak tangan!" Chanyeol menatap tajam Kris seolah mengatakan sebuah rahasia yang dipendamnya lewat sorot mata elangnya.
"Ada satu yang selalu ingin kutanyakan" Chanyeol memberi anggukan memepersilahkan Kris untuk bertanya.
"Jika kau menyuruhku untuk melakukannya dengan otak lalu bagaimana jika orang yang kau sayangi ingin diperlakukan dengan hati?" Kris melipat tangannya didepan dada, memperhatikan Chanyeol yang nampaknya tak menduga bahwa temannya itu akan menanyakan hal yang dirasa tidak terlalu penting itu.
"Jika kau memperlakukan ibumu dengan otak, maka kau tidak pernah memberikan perhatianmu padanya. Aku penasaran bagaimana kau bertindak jika dengan hatimu Park!" Ucap Kris lagi seakan ingin membuat Chanyeol bungkam. Lihat bagaimana Chanyeol belum bisa menjawabnya. Ini bukan tentang taktik dan siasat tapi apa yang ditanyakannya mengenai perasaan tulus yang mungkin tak pernah Chanyeol lakukan sebelumnya.
"Kau terlalu menganggap semuanya bisa dilakukan dengan otak! Ingatlah bahwa hatimu juga memiliki perasaan untuk mengatur emosimu"
"Hati tidak akan punya peranan jika kau tidak memiliki otak! Kau bertanya tentang hati dan mengatakan bahwa aku tak punya hati. Aku memilikinya Kris, disini!" Tunjuk Chanyeol didadanya.
"Jika kau tak bisa mengatur dengan baik kapan hati digunakan dan kapan benda itu beristirahat, maka itu akan membuatmu selalu merasa gelisah atas semua keputusanmu karena hati akan melemahkan semuanya. Jangan buat hatimu melakukan peranan besar dalam hidupmu Kris!" Akhir Chanyeol.
Kau adalah bayangan dari Demonic. Menyiksa tanpa iba dan membuat itu menjadi sebuah kesenangan. Kau bilang aku gila meskipun nyatanya memang seperti itu! Tapi satu fakta yang harus kau ketahui bahwa aku hanya bayangan bukan Demonic. Aku layaknya monster, iblis dan psycho tapi aku masih seorang manusia yang memiliki hati walau tak pernah tau kapan benda itu akan berfungsi.
.
.
.
.
TBC
.
Yuhuu~ karena kelelahan abis keluar kota, akhirnya saya tepar dari jam 6 malam. Tengah malam kebangun taunya dapat ide FF ini, yaudah saya ketik dari pada mubadzir. Part awal saya dapat ide waktu perjalanan pulang, ditengah rasa lelah dan menyebrangi jalan yang lagi banjir sedengkul, disitu saya sempet2nya ngetik idenya dihp *maklum takut idenya ngabur biar ga mikir lagi* wkwk~
Berhubung Kris ga ngerti2 maksud Chanyeol, ada yang bisa nebak ga maksudnya? Boleh kok ditebak dikolom review yang penting jangan ditebak didalam hati :D kalo nebaknya dalam hati kan yang disini susah bacanya haha~ Soalnya bagian Chanyeol sama Kris itu banyak petunjuknya.
Setiap baca review kalian saya jadi suka gemes sendiri waktu kalian bilang sebel sama Chanyeol or Sehun. Apalagi review yang kocak, saya jadi ga berhenti ngakak bacanya. Terimakasih yang udah meluangkan waktu untuk review~
.
Q : Apa Baekhyun berhasil pulang atau nasibnya lebih buruk?
A : Jawabannya ada dichapter ini.
Q : Bagaimana bisa Baekhyun ketemu Luhan?
A : Sebelum nyelamatin Baekhyun kan Luhan emang niat ambil gajinya ke Chanyeol buat pulang ke Seoul untuk liat adiknya dirumah sakit selama 2 hari. Baekhyun juga udah dirumah Sehun selama 3 hari termasuk pagi dia kabur, nah gimana bisa ketemu Luhan? Karena Luhan emang baru pulang dari Seoul naik kereta.
Q : Udah liat video Sehun di supermarket belom?
A : Ini sebenarnya pertanyaan yang OOT banget wkwk~ yang Sehun naruh keranjang belanjaan dikepalanya itu bukan?
Q : Ayahnya Baekhyun kenapa ga cariin anaknya?
A : Jawabannya udah ada loh dicerita cuma saya lupa dichapter berapa. Tuan Byun nyariin kok cuma ga bisa nemuin karena Tuan Byun ga punya kuasa lagi buat nyewa pasukan elite Negara buat nyariin Baekhyun karena dia udah ga jadi presiden lagi. Selengkapnya bisa dibaca dicerita tapi dicari sendiri ya karena saya lupa wkwk~
Q : ChanBaek cuma jadi kakak adek tanpa pacaran?
A : Sementara ini masih kakak adek yaa~ pacaran atau ga nya diliat nanti aja wkwk~
Q : Gimana chapter selanjutnya? Kabar orang tua Baekhyun, Chanyeol, Sehun? Kris setelah dihajar, apa lapor ke Sehun? Baekhyun dibawa ketempat prostitusi lagi sama Luhan atau Baekhyun disiksa lagi sama Chanyeol? :D
A : Untuk (BabyXie) wkwk~ saya jadi bingung jawabnya.
Yang mau tanya-tanya silahkan tinggalkan jejak dikolom review! Yang pertanyaannya OOT juga boleh kok wkwk~
.
Oke Selanjutnya silahkan REVIEW~ (Tolong hargai para author yang sudah meluangkan waktu untuk membuat FF dengan mereview! Don't be goestie~ Jadilah pembaca yang baik~)
