Previous chapter...

"Sehun!"

"Hyung..."

"Kau...bagaimana keadaanmu?" tanya Chanyeol. Dia berdiri di samping adiknya sementara di seberangnya, Baekhyun tengah duduk dengan perasaan kikuk. Baru semalam mereka menghabiskan malam bersama.

"Sudah lebih baik, hyung," sahut Sehun sambil tersenyum lemah.

Chanyeol menghela napas lega. "Syukurlah."

Dari sudut matanya, dia bisa melihat bagaimana canggungnya Baekhyun di sana. Gadis itu tampak gelisah. Matanya sembab. Pasti dia sudah menangis seharian. Dan tatapannya hanya tertuju pada Sehun.

"Hyung, bisa bantu aku untuk duduk?" pinta Sehun.

Chanyeol mengangguk dan segera menekan tombol di ranjang Sehun sehingga separuh bagian ranjang terangkat dan kini Sehun sudah dalam posisi duduk. Dia memang masih lemah tetapi wajahnya sudah sedikit menemukan warnanya. Tidak pucat seperti mayat.

Kemudian Sehun menoleh pada Baekhyun dan tersenyum. Dia mengambil tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat. Menghela napas dalam, Sehun berkata, "Aku tidak ingin membuang waktu lagi, Baekhyun. Di sini ada ibu dan juga hyungku. Aku ingin mereka menjadi saksi untuk kita berdua..." ujar Sehun. Baekhyun menatapnya bingung, namun sedetik kemudian dia tersadar ke mana arah pembicaraan Sehun ini. "Maukah kau menikah denganku, Byun Baekhyun...?"

.

.

.

IF I COULD CHOOSE...

Chapter 10

Cast :

Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Kyungsoo EXO (pairing CHANBAEK, SEBAEK, dan CHANSOO)

Genre :

Romance, Hurt, Sad

Rate :

T/ M / Gender Switch (GS)

FF ini terinspirasi dari sebuah cerita yang pernah aku tonton dari tivi

Tetapi...

Cerita dan alurnya serta dialognya milikku.

.

.

Beware of typos

.

.

Happy reading!

.

.

.


Baekhyun melirik nyonya Park dengan hati-hati dan menemukan wanita paruh baya itu sedang tersenyum penuh harap padanya—juga terharu. Dia hampir meneteskan mata melihat anaknya melamar Baekhyun, bahkan hanya satu jam setelah dia sadar setelah mengalami serangan jantung ringan. Sehun pasti benar-benar mencintai Baekhyun.

"Sehun, sebaiknya kita bicarakan ini setelah kau sembuh," kata Baekhyun sambil menghela napas resah. Dia merasa seluruh darah di tubuhnya lenyap. Wajahnya memucat dan kakinya seperti tidak bisa merasakan lantai yang sedang diinjaknya.

Sehun melamarnya! Di hadapan ibunya! Di hadapan Chanyeol!

"Tolong jawab sekarang, Baekhyun. Aku tidak sanggup menunggu lebih lama lagi. Aku mencintaimu dan... aku tidak sanggup kehilanganmu," kata Sehun.

Baekhyun menatap kekasihnya itu. Sehun benar-benar tulus mencintainya. Dengan seluruh jiwa raganya. Sedangkan Baekhyun, dia sudah mengkhianati Sehun. Berselingkuh di belakang kekasihnya. Dan yang lebih parah, dengan kakak kekasihnya sendiri.

Baekhyun merasa dirinya sudah tidak pantas untuk Sehun. Sehun terlalu baik dan dia tidak sanggup untuk menyakiti Sehun lagi lebih dari ini karena Baekhyun tahu, cintanya bukan lagi untuk Sehun. Seseorang sudah menggantikan posisinya di hati Baekhyun. Tidak. Mungkin sejak awal Sehun memang tidak pernah ada di sana.

Akan tetapi, menolak Sehun dalam situasi seperti ini sama sekali bukan keinginannya. Sehun sangat mencintainya, memujanya. Dan Baekhyun ragu apakah ada pria lain yang bisa mencintainya seperti yang Sehun lakukan—bahkan tidak sekalipun dengan Chanyeol!

Chanyeol memang mencintainya. Tetapi apakah cinta itu tulus? Mungkinkah hanya sebuah obsesi semata? Menaklukan hati Baekhyun memang sudah menjadi ambisinya sejak awal, bukan? Cinta Chanyeol begitu menggebu-gebu hingga Baekhyun ragu kalau cinta semacam itu akan bertahan lama. Dan bagaimana dengan Kyungsoo?

Batinnya berkecamuk. Ditatapnya sekali lagi nyonya Park dan mendapai wanita itu tersenyum lembut. Baekhyun bertanya-tanya apakah dia masih bisa melihat senyum keibuan itu jika saat ini dia menolak lamaran Sehun? Menyakiti anak kesayangannya? Dan jika pada akhirnya Baekhyun memilih Chanyeol, jatuh ke pelukan anak sulungnya, nyonya Park pasti tidak akan senang. Wanita paruh baya itu justru akan membencinya.

"Kalau kau merasa tidak nyaman dengan keberadaan kami," kata nyonya Park lembut penuh pengertian pada Baekhyun. "Kami akan menunggu di luar. Kalian berdua bisa bicara dengan lebih leluasa."

"Terima kasih, bu," ucap Baekhyun. Dia memang membutuhkan sedikit privasi dengan Sehun.

"Ayo, nak." Nyonya Park menarik tangan Chanyeol untuk keluar dari kamar rawat.

Dengan enggan, Chanyeol mengikuti langkah ibunya. Mereka berdua meninggalkan kamar rawat dengan hanya menyisakan Sehun dan Baekhyun saja di dalam.

Baekhyun menghela napas gundah dan mengalihkan tatapannya dari punggung Chanyeol yang menghilang di balik pintu, pada Sehun yang masih setia menanti jawabannya. "Apa kau yakin dengan keinginanmu ini, Sehun?"

"Kau tidak yakin padaku?" Sehun malah bertanya balik. Dan hal itu membuat Baekhyun tertohok.

"Bukan itu maksudku. Saat ini kesembuhanmu adalah prioritas utama. Kita bisa membicarakan ini setelah kau keluar dari rumah sakit."

"Apa bedanya?" debat Sehun. "Sekarang atau pun nanti, toh, jawabanmu akan tetap sama. Iya kan?"

"Tetapi ini bukan waktu yang tepat, Sehun."

"Lantas kapan?" tanya Sehun sengit. "Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai cintamu padaku perlahan-lahan habis?"

"Sehun..." Baekhyun menatap kekasihnya itu terkejut.

"Belakangan ini aku selalu merasa bahwa hanya dirikulah yang antusias dengan hubungan kita. Aku merasa kau sudah tidak mencintaiku lagi. Aku merasa kau akan meninggalkanku. Maka dari itu aku—"

"Itu tidak benar, Sehun," potong Baekhyun panik. "Kau tahu aku tidak seperti itu. Dari mana kau bisa berpikir begitu?"

"Kau berubah. Kau tampak tidak bahagia denganku..." ujar Sehun murung.

Oh, itukah penyebab Sehun jatuh sakit?

Penyesalan benar-benar mencekik Baekhyun hingga dia merasa dadanya sesak. Cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya. "Omong kosong! Tahu apa kau tentang itu semua? Aku bahagia bersamamu, Sehun. Jangan berkata seperti itu," isak Baekhyun.

Pria ini tidak salah. Sehun adalah pihak yang tersakiti. Dan Baekhyun merasa dirinya begitu jahat dan egois. Dirinyalah orang yang patut dipersalahkan dalam hal ini. Dirinya yang berhati lemah ini, begitu mudah sekali tergoda dengan cinta sesaat yang ditawarkan Chanyeol.

"Kita akan menikah, Sehun. Aku janji. Kita akan menikah."

.

.

.

Satu minggu kemudian, dokter sudah mengijinkan Sehun pulang, dengan catatan harus mematuhi semua yang dokter perintahkan padanya. Dia tidak boleh melakukan aktifitas berlebihan. Tidak boleh terbebani dengan masalah yang berat. Dia juga harus menjaga pola makan, berolahraga, dan istirahat yang cukup.

Baekhyun, Chanyeol, dan nyonya Park menjemputnya dari rumah sakit. Sementara Sehun memutuskan untuk pulang bersama Baekhyun menggunakan mobil milik kekasihnya itu, Chanyeol dan nyonya Park mengendarai mobil lain. Baekhyun hanya mampu menggelengkan kepala melihat Sehun yang tak henti-hentinya tersenyum dan sesekali bersenandung riang.

"Seseorang sedang bahagia rupanya," goda Baekhyun.

"Tentu saja aku bahagia. Akhirnya aku bisa keluar dari tempat yang seperti penjara itu. Aku bebas sekarang."

"Penjara yang kau maksud itu adalah tempatku bekerja, Park Sehun," dengus Baekhyun. Kemudian dia menatap kekasihnya. "Kau tidak melupakan pesan dokter, kan?"

"Ya, ya, ya. Aku akan mematuhinya. Aku juga ingin sembuh."

"Itu bagus," kata Baekhyun. Mobilnya sudah cukup jauh meninggalkan rumah sakit. Dan dari kaca spion depan, dia bisa melihat mobil Chanyeol mengekor tak jauh di belakang mobilnya. "Kudengar ibu akan mengadakan pesta penyambutan untukmu. Apa itu benar?"

"Iya. Ibu memang sedikit berlebihan," kekeh Sehun. "Kyungsoo noona yang akan memasak makanan lezat untuk kita."

Ada perasaan tidak suka yang tiba-tiba merayap di hati Baekhyun ketika mendengar nama Kyungsoo disebut-sebut. "Wah, benarkah?" Baekhyun pura-pura antusias.

"Kyungsoo noona memang hebat dalam memasak," puji Sehun.

Baekhyun merengut tidak senang. "Kalau begitu sayang sekali karena aku tidak sesempurna Kyungsoo noona-mu itu. Aku tidak bisa memasak."

Sehun tersenyum melihat Baekhyun yang sedang menekuk wajahnya, kentara sekali dia sedang kesal. "Kau cemburu?"

"Untuk apa aku cemburu?" sahut gadis itu ketus.

Sehun malah semakin tertawa senang. "Hei, aku tidak peduli, sayang. Kalau kau tidak bisa memasak, ya sudah, tidak apa-apa. Dan kalau kita sudah menikah nanti, aku tidak keberatan makan ramen setiap hari. Atau kita bisa memesan Jajjangmyun."

Baekhyun mendelik sebal pada kekasihnya itu. Sehun benar-benar menikmati kejengkelan Baekhyun. Sambil menghela napas, Baekhyun bergumam, "Baiklah. Kapan-kapan aku akan belajar memasak."

Ketika sampai di kediaman Park, senyum hangat Kyungsoo menyambut mereka. Dengan masih mengenakan apron, Kyungsoo terlihat begitu manis menguarkan aura keibuan. Satu hal yang tidak ada dalam diri Baekhyun dan secara terang-terangan Baekhyun merasa iri padanya.

Semua orang berkumpul di ruang makan. Dan seperti yang Sehun katakan, makanan-makanan lezat sudah tersaji di atas meja. Baekhyun menyapukan pandanganya pada makanan-makanan itu dan harus mengakui bahwa Kyungsoo adalah wanita yang hebat. Dia sempurna. Pasti semua pria menginginkan wanita sepertinya.

Semua orang menyantap makan malam lebih awal itu dengan lahap, kecuali Chanyeol yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak mereka sampai di rumah. Ah, tidak. Dia memang tidak bicara sejak seminggu terakhir ini. Dia hanya menatap makanannya dalam diam.

Ingatan tentang kejadian malam itu kembali mengganggu pikiran Baekhyun. Bagaimana bisa dirinya dan Chanyeol... Oh, astaga... Baekhyun tidak bisa mempercayai dirinya. Seharusnya dia tidak mabuk. Seharusnya dia bisa mengendalikan diri. Kenapa harus jadi seperti ini?

Sejak malam itu Baekhyun belum berbicara lagi dengan Chanyeol. Apalagi setelah Sehun melamarnya di depan Chanyeol dan nyonya Park, Chanyeol tampak sangat terpukul. Mungkin juga kecewa dan sakit hati. Dia menghilang selama beberapa hari dan tidak pernah menampakkan diri di rumah sakit sampai hari ini.

Baekhyun membuka mata, merasakan hangatnya sinar matahari menerpa punggung polosnya. Mengerang pelan merasakan kepalanya yang berdenyut nyeri, tubuhnya juga terasa kaku. Dia menengok ke sisi kirinya dan mendapati Chanyeol masih terlelap di sampingnya. Wajah angkuh itu sejenak menampilkan raut polos. Baekhyun hanya mampu menatapnya dalam diam.

Ah ya, semalam...

Baekhyun menghela napas dalam sebelum air mata sudah mengalir di pipinya. Dengan gusar dia menghapus cairan bening itu dengan punggung tangannya. Dia menarik selimutnya lebih atas dan berbaring terlentang menatap langit-langit kamar penginapan kecil ini. Dia dan Chanyeol sudah melakukannya. Lantas sekarang harus bagaimana?

Pikirannya buntu. Semalam mungkin dia tidak mau ambil pusing, tetapi pagi ini dia sadar, dia sudah melakukan kesalahan besar.

Bagaimana dia akan menghadapi Chanyeol setelah ini? Mereka pasti akan menjadi canggung satu sama lain. Lalu, bagaimana dengan Sehun? Dengan orangtuanya? Dengan nyonya Park? Dengan Kyungsoo?

Mengikuti kata hati? Naluri? Omong kosong. Nyatanya sekarang Baekhyun merasa begitu menyesal. Dia sadar akan ada banyak orang yang tersakiti oleh keegoisannya ini. Dan apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semua ini? Tidak ada.

Tanpa suara dan tidak ingin mengusik Chanyeol yang masih tertidur pulas, Baekhyun merangkak menuruni tempat tidur. Dipungutnya pakaiannya yang tercecer di lantai. Setelah terkumpul, dia mengenakan pakaiannya dengan cepat. Sesekali melirik ke arah Chanyeol, memastikan pria itu tidak terusik olehnya.

Setelah memastikan tidak ada satu barang pun miliknya yang tertinggal, Baekhyun mengendap-endap menuju pintu. Tetapi tanpa sepengetahuannya, Chanyeol sudah berdiri di belakangnya. Ketika tangan Baekhyun meraih gagang pintu, Chanyeol menahannya. Dan pintu kembali tertutup.

Baekhyun menoleh dengan terkejut. Matanya bertemu dengan mata Chanyeol yang sedang menatapnya intens. "C-chanyeol..."

"Tidak seperti ini kau meninggalkanku, Baekhyun."

"A-aku..."

"Jangan tarik kata-katamu semalam. Aku mohon. Aku mencintaimu," kata Chanyeol dengan suara rendah dan paraunya.

"Chanyeol, aku—"

Chanyeol menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Menenggelamkan wajah Baekhyun di dadanya yang bidang dan berotot. Baekhyun bisa dengan jelas mendengar detak jantungnya yang berdentum kencang. Tetapi anehnya, Baekhyun merasa begitu nyaman dalam posisi ini. "Kita akan hadapi semua ini bersama. Kita akan berbicara pada Sehun dan menjelaskan semuanya. Aku akan selalu ada di sisimu, Baekhyun."

Mendengar nama Sehun, Baekhyun seketika mendorong dada Chanyeol menjauh. Dia menatap Chanyeol dengan mata terbelalak. "Sehun? Dia tidak perlu tahu tentang ini!"

"Dia harus tahu kebenarannya."

"Kebenaran apa maksudmu?"

"Kebenaran bahwa kau dan aku saling mencintai."

"Kau sudah gila! Aku tidak mau." Baekhyun memalingkan wajahnya ke samping. Air mata sudah kembali menggenang. Dia tidak siap menyaksikan bagaimana kecewa dan sakit hatinya Sehun atas pengkhianatannya ini. Dia tidak ingin melukai Sehun—meski sebenarnya dia sudah melakukannya.

Chanyeol mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup wajah Baekhyun dan membawa gadis itu untuk menatap matanya. Manik mata cokelat itu menatap Baekhyun dalam. "Aku mencintaimu," ujar Chanyeol.

"Aku ingin pulang."

"Aku akan mengantarmu pulang."

"Tidak. Aku ingin pulang bersama mobilku. Kembalikan mobilku."

"Ini masih terlalu pagi. Tapi aku akan mencoba melepon pegawaiku. Setelah ini," kata Chanyeol kemudian mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibir Baekhyun. Melumat bibirnya lembut. Baekhyun hampir saja kembali terbuai oleh ciumannya. Tetapi kali ini dia tidak akan jatuh untuk kedua kalinya.

"Hentikan, Chanyeol," kata Baekhyun sambil mendorong pelan dada Chanyeol hingga tautan bibir mereka terputus. "Tolong telepon pegawaimu sekarang juga."

Menghela napas, Chanyeol kembali ke tempat tidur dan mencari ponselnya. Namun setelah beberapa saat mencari pun dia tidak kunjung menemukan benda itu. Dan dia harus merutuk pelan ketika sadar bahwa ponselnya tertinggal di kamarnya tadi malam.

"Aku lupa membawa ponselku," kata Chanyeol. "Kita sarapan terlebih dahulu. Setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang, oke?"

"Aku tidak mau," tolak Baekhyun. "Gunakan saja ponselku untuk menelepon kantormu. Aku benar-benar ingin pulang. Sekarang juga."

"Baiklah," kata Chanyeol sambil menerima ponsel Baekhyun. Kemudian dia mulai menghubungi nomor pribadi sekretarisnya. Hari masih terlalu pagi dan kantornya sudah tentu belum memulai jam kerja pegawainya. "Halo?"

Kemudian Chanyeol berbicara pada sekretarisnya dengan nada yang dingin dan penuh intimidasi seperti biasa. Baekhyun menantinya dengan tidak sabar. Dan setelah Chanyeol menutup telepon, dia menghampiri pria itu dengan tatapan mendesak

"Dia akan datang dalam tiga puluh menit. Pertama-tama dia akan kemari mengambil kunci mobilmu, kemudian dia akan ke Itaewon dan membawa mobilmu ke mari. Nah, sambil menunggu, kenapa tidak kita gunakan waktu singkat ini untuk sarapan?"

Baekhyun menatap Chanyeol kesal. Dia merasa dipermainkan. Dia merasa Chanyeol sengaja melakukannya—membuatnya tinggal lebih lama. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Baekhyun mengambil tempat duduk di sofa dan terpekur seorang diri. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia bahkan tidak menyadari keberadaan Chanyeol yang kini sudah duduk di sampingnya.

Chanyeol mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Baekhyun yang terasa dingin. "Kau baik-baik saja kan? Apa semalam aku menyakitimu?"

Kumohon jangan bicarakan itu sekarang, batin Baekhyun memelas.

"Aku... baik-baik saja," sahut Baekhyun sambil menundukkan kepalanya. Malu bercampur dengan canggung. Sebenarnya dia merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya tetapi sejak tadi memang dia berusaha mengabaikannya.

"Syukurlah..." Chanyeol mendesah lega. "Kau harus makan."

"Aku tidak lapar."

"Kalau begitu, kau bisa kembali tidur sambil menunggu mobilmu kembali. Kau tampak lelah. Aku akan membangunkanmu nanti."

"Tidak, terima kasih," tolak Baekhyun. "Kau tidak kerja?"

"Aku akan ke kantor. Tapi mungkin agak siang. Ada meeting jam 12."

"Hmm," angguk Baekhyun.

"Kemari," kata Chanyeol yang membuat Baekhyun menoleh padanya dengan bingung. Baekhyun melihat Chanyeol merentangkan tangannya.

Apa ini? Apa dia berharap aku akan datang ke dalam pelukannya? Batin Baekhyun.

Ini aneh. Kenapa Baekhyun tiba-tiba menjadi penurut? Gadis itu beringsut ke arah Chanyeol dan menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol—lagi. Tak lama setelahnya, Baekhyun mulai terisak. Sebenarnya dia takut. Dia juga tidak tahu harus bagaimana saat ini. Bingung. Panik. Putus asa. Dan Chanyeol ada di sana, memeluknya, mengusap punggungnya lembut, menenangkannya. "Aku takut..." gumam Baekhyun lirih.

"Ssstt... tidak apa-apa. Aku ada di sini. Jangan menangis..."

Baekhyun merasa dirinyalah yang menjadi penyebab kemurungan Chanyeol itu. Akan tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Baekhyun sudah memilih. Dan dirinya harus konsekuen pada pilihan yang sudah diambilnya. Sehun adalah yang terbaik.

Tetapi, jangan berpikir bahwa saat ini Baekhyun baik-baik saja. Tidak. Dia sama terlukanya seperti Chanyeol. Dia menghabiskan bermalam-malam di kamarnya untuk menangis. Dirinya dan Chanyeol sepertinya memang tidak ditakdirkan untuk satu sama lain. Dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain menerima kenyataan pahit ini dan tetap menjalani hidup.

"Selamat untuk kalian berdua. Aku turut bahagia," ucap Kyungsoo, tersenyum tulus pada Baekhyun dan Sehun yang duduk di seberangnya.

"Terima kasih," balas Baekhyun setengah hati.

"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"

"Kami belum memu—"

"—secepatnya," potong Sehun. Baekhyun menoleh pada kekasihnya itu dengan dahi berkerut, yang hanya dibalas dengan sebuah senyum dan genggaman erat di tangannya oleh Sehun. "Benar, kan, sayang?"

"I-iya."

"Kau pasti akan menjadi mempelai wanita tercantik, Baekhyun," ujar Kyungsoo.

"Terima kasih."

Baekhyun membawa tatapannya pada satu-satunya orang yang tampak tidak senang dengan berita bahagia ini. Dan dia melihat Park Chanyeol yang dingin dan 'sok berkuasa' itu kini hanya menundukkan kepala, sibuk dengan pemikiran berkecamuk di kepalanya.

Menghela napas dalam, mungkin Baekhyun harus mencari kesempatan untuk berbicara pada Chanyeol. Meminta maaf padanya mungkin akan membuat hatinya sedikit lega. Dia tahu, kemungkinan untuk Chanyeol memaafkannya begitu kecil. Bahkan mungkin pria itu sudah tidak mau lagi berbicara dengannya karena setiap kali Baekhyun melirik ke arahnya, Chanyeol selalu membuang muka.

Tetapi sebenarnya... untuk apa Baekhyun meminta maaf? Toh, sejak awal mereka tidak punya hubungan apa-apa. Meskipun sudah saling menyatakan perasaan dan tahu perasaan masing-masing, toh sampai saat ini mereka tidak terikat apa-apa.

Mungkin malam itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Sebuah one night stand yang tidak berarti apa-apa.

.

.

.

Malam sudah merangkak naik ketika Baekhyun memutuskan untuk pulang. Akan tetapi nyonya Park menahannya pergi. "Menginap saja di sini barang semalam, nak. Kyungsoo juga sering menginap di sini."

Baekhyun menoleh pada Sehun dengan ragu. Kekasihnya itu hanya mengangguk membenarkan ucapan ibunya. "Ibu benar. Tidak ada salahnya kau menginap di sini."

Baekhyun menggigit bibir bawah. "Aku akan menelepon ayah dulu."

Baekhyun sudah berbicara empat mata dengan ayahnya tentang rencananya dan Sehun untuk menikah. Awalnya ayah ingin berkata tidak lagi, sama seperti dulu. Akan tetapi kali ini Baekhyun lebih berkeras dan ayah bisa melihat kesungguhan di mata anak gadisnya itu. Pada akhirnya, sang ayah tidak bisa melakukan apa-apa kecuali merestui keinginan anaknya. Dia hanya mengangguk pelan sambil menyelipkan sejumput doa agar anaknya bahagia. Mungkin memang sudah saatnya dia melepas gadis kecilnya itu untuk bahagia bersama pria yang dicintainya.

Dan malam itu Baekhyun berbaring terlentang di atas tempat tidur kamar tamu kediaman keluarga Park. Dia sengaja mematikan lampu kamar agar bisa segera terlelap namun kebiasaannya jika berada di tempat baru adalah kesulitan tidur. Dia terus bergerak gelisah, mencari posisi yang nyaman untuk tidur tapi tetap saja dia tidak bisa tidur.

Dengan kesal Baekhyun menuruni tempat tidur dan berjalan tersaruk-saruk menuju pintu. Mungkin dia butuh segelas air. Tenggorokannya memang terasa kering. Dengan langkah pelan dia melintasi ruang tengah menuju dapur. Mengulurkan tangannya untuk meraih tombol lampu. Dan ketika lampu sudah menyala, Baekhyun segera menuju lemari pendingin. Mengeluarkan sebotol air dan menuangnya ke dalam gelas. Setelah beberapa saat, hampir separuh isi botol itu tandas.

Baekhyun duduk di konter sambil menatap bibir gelas itu. Tidak tahu harus melakukan apa. Ini sudah lewat tengah malam dan semua orang pasti sudah terbuai dalam mimpi masing-masing. Baekhyun merasa dirinya begitu lancang, tapi dia benar-benar bosan dan memutuskan untuk berkeliling. Melihat-lihat seisi rumah di malam hari.

Dengan langkah tak bersuara, Baekhyun meniti tangga. Ada banyak sekali tempat yang tidak pernah Baekhyun kunjungi di rumah besar ini. Meski pun hubungannya dengan Sehun sudah berlangsung cukup lama, tapi biasanya Baekhyun lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Sehun di studio. Dia bahkan belum pernah masuk ke kamar Sehun.

Baekhyun menyusuri lorong di sebelah kanan yang temaram, sementara lorong kiri tampak sangat gelap dan mencekam. Dia melangkah semakin jauh ke sana, melintasi pintu kamar Chanyeol. Kemudian dia menemukan satu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Lampunya menyala terang sekali. Sepertinya seseorang ada di dalam sana. Entah sedang apa.

Baekhyun mencoba untuk mengintip sedikit ke dalam, hanya untuk mengobati rasa penasarannya saja. Dan dia menemukan Chanyeol di sana. Duduk di balik meja kerjanya, masih memeriksa lembar demi lembar dokumen dengan dahi berkerut dalam. Demi Tuhan, ini sudah larut malam dan Chanyeol masih bekerja?

Pria macam apa dia, batin Baekhyun tidak habis pikir.

Ayah Baekhyun pun seorang pemimpin perusahaan, tetapi tidak se-workaholic Park Chanyeol. Pria ini bekerja tanpa mengenal waktu. Dan Baekhyun dengar dari Sehun bahwa Chanyeol sudah memimpin perusahaan sejak ayahnya jatuh sakit dan meninggal dua tahun yang lalu. Usianya bahkan baru tiga puluh tahun dan dia sudah dibebani banyak pekerjaan dan tanggungjawab yang begitu besar.

"Hyung, memimpin perusahaan seorang diri," kata Sehun dengan raut wajah sedih sekaligus menyesal. "Sejak ayah meninggal, hyung menjadi tulang punggung keluarga kami."

"Kau tidak membantunya? Kalian kan bisa memimpin perusahaan bersama," kata Baekhyun.

"Dengan kondisi tubuhku yang sering sakit-sakitan, aku tidak bisa. Aku mudah lelah. Pekerjaan itu terlalu berat. Lagi pula itu bukan bidang keahlianku. Aku seorang pelukis," ujar Sehun.

Baekhyun menatap kekasihnya. "Kurasa Chanyeol memang cocok dengan pekerjaannya itu. Lihat saja wajahnya. Dia pasti disegani oleh seluruh pegawainya."

"Sebenarnya Chanyeol hyung tidak mau menjadi penerus ayah. Aku akan memberitahumu sedikit rahasia," kata Sehun sambil mengedipkan sebelah mata pada Baekhyun. "Chanyeol hyung sangat menyukai musik. Kalau dia tidak harus meneruskan perusahaan yang sudah dirintis oleh ayah dengan susah payah, mungkin sekarang dia sudah menjadi anggota band."

Baekhyun membulatkan matanya, cukup terkejut. Chanyeol? Seorang musisi? Oh, tapi seharusnya Baekhyun tidak terlalu heran. Dirinya dan Chanyeol pernah bertemu di toko musik—saat Chanyeol untuk pertama kali menciumnya. Ah, ya. Baekhyun ingat sekarang.

"Dia masih bermain musik?" tanya Baekhyun penasaran.

Sehun menggeleng. "Sudah tidak lagi. Ayah menghancurkan gitar kesayangannya dan membuangnya. Aku ingat betul saat itu hyung menangis sepanjang hari di dalam kamarnya."

"Ayah kalian kan sudah meninggal. Tidak akan ada lagi orang yang akan menghalanginya bermain musik."

"Entahlah. Hyung sudah benar-benar berhenti mengejar mimpinya. Sekarang dia lebih fokus pada perusahaan."

Sedang sibuk dalam lamunan panjangnya, Baekhyun tidak sampai tidak menyadari kalau Chanyeol sudah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan dahi berkerut dalam. Raut wajah kesal juga ada di sana.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Baekhyun langsung gelagapan. "A-aku...uhmm...aku hanya kebetulan lewat."

"Seorang tamu berkeliaran tengah malam di rumah orang lain... kau benar-benar mencurigakan, nona Byun," ujarnya dingin. Wow, ke mana perginya Park Chanyeol yang memeluknya dengan hangat dan membisikkan kata cinta padanya kemarin?

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya tidak bisa tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Kalau begitu aku akan pergi," kata Baekhyun. Tiba-tiba dia merasa takut mendapat tatapan penuh intimidasi dari Chanyeol.

"Kau tidak bisa begitu saja pergi dariku, Baekhyun," ujar Chanyeol dengan suara rendahnya. Kalimat yang sama ketika pagi itu Baekhyun hendak meninggalkan Chanyeol di penginapan. Tahu-tahu dia sudah mencekal lengan kanan Baekhyun. Baekhyun meronta, berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Chanyeol. Tetapi ketika mendengar kalimat Chanyeol selanjutnya, Baekhyun berhenti melawan. "Mau menemaniku bekerja?"

Untuk pertama kalinya Baekhyun memasuki ruang kerja Chanyeol yang tertata begitu rapi. Buku-buku tebal berjajar di rak-rak tinggi, memenuhi setiap dinding ruangan itu. Meja kerja Chanyeol ada di ujung tengah ruangan. Kursinya bak singgasana raja. Baekhyun duduk dengan canggung di sofa yang tersedia di sana. Sementara Chanyeol kembali pada kertas-kertas pentingnya dan menyalakan laptop.

Detik demi detik terasa begitu lambat. Kesunyian merambat di udara. Padahal di ruangan itu ada dua manusia. Tetapi tidak ada interaksi sama sekali. Dan Baekhyun mulai tidak nyaman hanya duduk berdiam diri di sana. Sementara Chanyeol hanya fokus pada pekerjaannya. "Kumohon, katakan sesuatu."

"Kau ingin aku mengatakan apa?"

"Apa pun," kata Baekhyun.

"Aku tidak tahu."

"Kau boleh marah padaku. Kau juga boleh memakiku. Aku akan menerimanya. Tapi kau jangan diam seperti ini seolah tidak terjadi apa-apa."

"Memang apa yang terjadi?" Chanyeol malah bertanya balik dengan acuh.

Astaga!

Baekhyun menatap Chanyeol dengan marah. Pria itu kini sudah menaruh kertas-kertas di tangannya dan menutup laptop. Dia mengurut dahinya yang terasa pening. "Baik, kalau dengan bersikap dingin padaku bisa membuatmu puas," kata Baekhyun jengkel.

"Maafkan aku. Tapi kurasa, marah atau memakimu saja tidak akan cukup. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku sudah tidak tertarik lagi padamu."

Baekhyun kali ini benar-benar dibuat marah sekaligus malu. Apa dia bilang? Sudah tidak tertarik? Baekhyun tidak bisa mempercayai pendengarannya. Park Chanyeol benar-benar brengsek. Dia sudah mempermainkan perasaannya. Astaga! "Apa kau bilang?"

"Aku sudah tidak tertarik lagi padamu, Byun Baekhyun."

"Brengsek kau!" maki Baekhyun kesal. "Kau anggap aku apa? Barang yang bisa kau buang begitu saja? Setelah apa yang sudah kita lalui bersama?"

"Tolong pelankan suaramu. Aku tidak ingin membangunkan seluruh penghuni rumah."

Dada Baekhyun naik turun, menahan emosi yang seakan-akan hendak meledak saat itu juga. Air mata sudah mengalir deras di pipinya. Dia tidak percaya Chanyeol bisa begitu kejamnya mengatakan itu. Chanyeol memang manusia tidak punya hati. Menyesal Baekhyun sudah menaruh perasaan padanya. Bahkan menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya untuk pria itu!

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Chanyeol santai sambil menaikkan sebelah alis.

"Aku...benar-benar membencimu, Park Chanyeol! Kau dengar itu? Aku membencimu!"

"Bukankah seharusnya aku yang marah? Kau yang membuangku seperti sampah. Setelah apa yang kita lalui bersama, kau meninggalkanku. Tanyakan pada hatimu, Baekhyun, dalam kasus ini siapa sebenarnya yang menjadi korban!"

.

.

.

Pertemuan Sehun dan ayah Baekhyun berjalan tanpa hambatan yang berarti. Ayah cukup puas karena Sehun memang pria yang memiliki kepribadian yang santun. Sehun juga berjanji pada ayah Baekhyun akan membahagiakan putri sematawayangnya itu. Meyakinkan sang ayah bahwa dirinya layak mendampingi Baekhyun dan menjadi menantu yang baik untuk keluarga Byun.

"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya ayah.

Saat ini Sehun, Baekhyun, dan ayahnya sedang makan siang bersama di sebuah restoran dekat kantor sang ayah. Tuan Byun memang sengaja mengundang dua sejoli itu untuk makan siang bersamanya. Selain karena ingin lebih mengakrabkan diri dengan calon menantunya, tuan Byun juga ingin memantau sejauh mana persiapan mereka untuk menikah. Kini mereka sudah mengantongi restu dari ayah Baekhyun, keduanya sudah mulai menyusun rencana pernikahan.

"Aku dan Sehun ingin pernikahan yang sederhana. Hanya disaksikan oleh keluarga dan kerabat dekat saja. Maka dari itu kami tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mempersiapkannya. Mungkin sekitar bulan depan," kata Baekhyun. Sehun mengangguk membenarkan.

"Sayang sekali kalau begitu. Ayah tidak bisa mengundang kolega-kolega ayah. Padahal ini pernikahan satu-satunya anak perempuanku..." kata ayah.

Baekhyun hanya tersenyum lemah. Ayahnya pasti ingin mengundang banyak orang pada pernikahan anak satu-satunya itu. Tetapi Baekhyun tidak menginginkan pernikahan mewah. Dia hanya berharap pernikahan ini bisa berjalan sesuai rencana. Tidak ada hambatan apa-apa. Tidak ada drama. Dia sudah lelah dengan semua masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.

"Sebenarnya saya sudah memaksa, yah. Tetapi Baekhyun tetap ingin pernikahan sederhana. Katanya akan terasa lebih khidmat dan sakral," terang Sehun berusaha menyelamatkan situasi.

"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kalian. Katakan saja pada ayah jika kalian membutuhkan sesuatu atau bantuan. Ayah akan dengan senang hati membantu kalian menyiapkan pesta pernikahan."

"Terima kasih, yah," kata Sehun. "Terima kasih juga untuk makan siangnya."

Setelah makan siang bersama ayah Baekhyun berakhir, keduanya segera memasuki mobil dan Baekhyun mengendarai mobilnya meninggalkan restoran. Sepanjang perjalanan, Baekhyun sibuk dengan kemudinya sementara Sehun bersiul-siul ringan sambil mengedarkan pandangannya melihat-lihat sekeliling.

"Setelah ini mau pergi ke mana?" tanya Baekhyun memecah keheningan.

"Sebaiknya kita pulang saja. Kau tampak pucat. Kau pasti kelelahan. Bukankah tadi malam kau ada operasi dadakan?"

"Ya. Aku memang sedikit lelah. Tapi sebenarnya aku baik-baik saja," kata Baekhyun. Sebelah tangannya dia gunakan untuk menyentuh dahinya yang agak hangat.

"Kalau begitu sebaiknya kau beristirahat. Aku tidak ingin kau sakit."

Baekhyun menoleh pada calon suaminya itu. "Kau sendiri bagaimana? Tidak pernah merasa sakit di dada lagi kan? Jangan terlalu lelah. Sudah berapa banyak lukisan yang kau buat dalam dua bulan terakhir ini, huh?"

Sehun tersenyum. "Suatu saat aku ingin mengadakan pameran lukisanku sendiri. Lagi pula aku tidak punya kegiatan lain selain melukis. Terkadang aku benar-benar bosan dan ingin melakukan hal lain tapi ibu melarangku."

"Kau pelukis hebat, Sehun. Tapi ibumu benar, kesehatan adalah yang terpenting. Suatu saat kau pasti bisa mengadakan pameran lukisan sendiri. Tapi jangan terlalu memaksa diri bekerja terlalu keras."

"Baiklah, tuan puteri. Aku akan melaksanakan semua yang tuan puteri perintahkan," kata Sehun sambil pura-pura memberi hormat pada Baekhyun.

Mau tak mau Baekhyun tersenyum melihat tingkah Sehun yang kekanak-kanakan. Dan pria kekanak-kanakan ini adalah calon suaminya. Sampai saat ini Baekhyun masih belum bisa mempercayainya.

.

.

.

"Mana kopiku?!" tanya Chanyeol pada sekretarisnya lewat sambungan telepon dengan jengkel. Dia sudah menunggu selama dua puluh menit sejak dia memesan kopi. Dan kopi sialan itu belum juga diantar ke ruang kerjanya.

Benar-benar! Hal sepele seperti itu saja bisa dengan mudah membuatnya emosi.

Sang sekretaris yang ternyata memang tanpa sengaja melupakan kopi untuk atasannya itu, dengan panik beranjak dari mejanya. Dia merutuki dirinya sendiri, bagaimana dia bisa bertindak seceroboh itu. Apa lagi atasannya itu sudah menjadi sepuluh kali lipat lebih galak dari biasanya beberapa terakhir ini.

Baru saja dia hendak meninggalkan mejanya menuju pantry khusus untuk CEO, tiba-tiba seorang wanita muda menghampiri mejanya. "Bisa saya bantu?" tanya sang sekretaris tampak buru-buru.

Wanita itu tersenyum ramah. "Saya ingin bertemu dengan Park Chanyeol."

"Apa anda sudah membuat janji?"

"Katakan saja Do Kyungsoo ingin menemuinya."

"Baik. Silahkan tunggu."

Sang sekretaris dengan perasaan takut menghampiri pintu ruangan atasannya dan mengetuk pintu. Setelah mendapatkan sebuah gumaman dari dalam, dia membuka pintu dan menyembulkan sedikit kepalanya di celah pintu.

"Mana kopi sialanku itu?" amukan Chanyeol langsung menyambutnya.

"Maafkan saya, sajangnim. Tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."

"Aku tidak punya janji dengan siapa pun hari ini," kata Chanyeol. "Kau sendiri yang membuat jadwalnya. Apa kau lupa?"

"Iya, tapi orang itu bilang ingin menemui anda. Namanya Do Kyungsoo."

Chanyeol diam sejenak. Kyungsoo? Mau apa dia datang ke kantor Chanyeol? "Biarkan dia masuk."

"Baik, sajangnim." Belum sempat sang sekretaris menutup pintu dan mempersilahkan Kyungsoo masuk ke dalam ruangan atasannya, namun Chanyeol sudah memanggilnya.

"Tunggu," panggilnya. Sang sekretaris menoleh dengan waswas. "Kau tidak melupakan kopiku kan? Aku. Butuh. Kopiku. Sekarang."

"B-baik, sajangnim."

Selang beberapa saat, Kyungsoo memasuki ruang kerja Chanyeol. Gadis itu memang selalu tampak anggun dan lembut. Dia menghampiri meja Chanyeol dan menyapa pria itu, "Sedang sibuk ya?"

"Kau bisa lihat sendiri," sahut Chanyeol dingin.

"Ibumu memintaku untuk datang kemari. Katanya akhir-akhir ini kau sering melewatkan makan siang."

"Aku tidak sempat. Aku sibuk."

"Ini," kata Kyungsoo. Dia menaruh kotak makanan di atas meja kopi di ruangan Chanyeol dan membukanya. Menampilkan berbagai jenis makanan yang menggugah selera. "Makanlah dulu. Kalau kau tidak mau mengasihani dirimu, setidaknya kasihani tubuhmu yang semakin kurus itu."

Chanyeol berdecih. "Tidak usah sok peduli padaku."

Kyungsoo menghela napas. Betapa dingin perlakuan Chanyeol padanya. Padahal dia tidak ingat pernah membuat kesalahan padanya. Tetapi Chanyeol memperlakukannya seolah-olah Kyungsoo itu tidak terlihat. "Aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi setidaknya hargai usahaku. Aku sudah memasakkan makanan ini untukmu."

"Aku tidak memintanya."

Kalau boleh jujur, Kyungsoo sudah sejak lama sakit hati oleh perlakuan Chanyeol padanya. Pria itu menolaknya mentah-mentah, secara terang-terangan. Harga dirinya benar-benar terluka. Seolah-olah di sini, Kyungsoo mengemis cinta dari Chanyeol.

"Maafkan aku kalau ini bukan seperti yang kau inginkan, Chanyeol. Tapi harus kau tahu, aku juga tidak menginginkan perjodohan ini," akhirnya Kyungsoo membuka mulut.

"Lantas kenapa kau di sini kalau kau tidak mau?"

"Ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan padamu. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau pahami."

"Kau terlalu berbelit-belit," ujar Chanyeol gusar. Pada akhirnya dia menyerah. Meninggalkan pekerjaannya, Chanyeol berjalan menuju sofa dan duduk di samping Kyungsoo. Tanpa banyak bicara dia mengambil sumpit dan mulai menyantap makanannya.

Kyungsoo memperhatikan Chanyeol yang dengan lahap menyantap makanan buatannya. Dia sudah mengenal Chanyeol sejak lama. Sejak mereka remaja. Ya, meski pun dirinya dan Chanyeol tidak dekat. Tetapi dulu, Chanyeol bukan pria dingin dan angkuh seperti ini. Seingat Kyungsoo, Chanyeol malah pria yang ramah dan baik hati. Kenapa dia bisa berubah sedrastis ini?

"Kau tidak membenciku?" tanya Chanyeol ketika makanannya separuh habis.

"Tentu saja aku membencimu."

"Tapi kenapa kau masih bertahan dengan perjodohan ini? Kalau aku, aku tidak dalam posisi untuk menolak. Tapi kau bisa menolak kalau kau tidak ingin. Kau boleh memilih."

"Aku tidak tahu," sahut Kyungsoo. Gadis itu menundukkan wajahnya murung. "Aku juga mungkin sepertimu. Aku tidak bisa menolak keinginan ibumu. Kau tidak tahu sudah berapa banyak jasa ibumu untuk keluargaku."

Chanyeol terdiam. Jadi... gadis ini hanya ingin membalas kebaikan ibu Chanyeol?

Jadi... bukan karena menyukaiku? Batin Chanyeol.

Aneh sekali. Tiba-tiba sekarang Chanyeol merasa simpati pada gadis ini. Gadis ini bernasib sama sepertinya...

.

.

.

Dengan tangan gemetar dan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya, Baekhyun menatap nanar pada stik dengan dua garis merah di tangannya itu. Dia tidak mungkin salah lihat. Benda ini pun hampir seratus persen akurat. Tetapi Baekhyun tidak ingin mempercayai penglihatannya.

Tidak mungkin...

Mungkin saja, bodoh, batinnya merutuk. Kau wanita. Punya rahim. Sehat. Tidak mandul.

"Tidak... Tidak..." Baekhyun menggeleng kencang. Dia segera meraih kalender di nakas dekat tempat tidurnya. "Kapan terakhir kali aku mendapat menstruasi...?"

Dia mengecek siklus menstruasinya di kalender itu dan menahan napas sejenak.

Ya Tuhan!

Baekhyun menaruh kembali kalender tersebut dengan lemas. Dia menyentuh perutnya yang masih datar itu dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. Ada bayi yang bersemayam di sana. Anaknya. Anaknya dan Chanyeol.

Baekhyun meraih ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang. Hanya butuh beberapa detik sebelum orang di seberang telepon menjawab.

"Halo?" jawab seseorang di seberang telepon.

"Park Chanyeol, bisa kita bertemu?"

"Tidak."

"Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu."

"Tidak. Aku sibuk."

"Aku hamil, Chanyeol," kata Baekhyun sebelum dia tenggelam dalam isakan yang panjang dan memilukan.

.

.

.


TBC


.

.

.

Hola everybody!

I am back!

Apa kabar kalian semua? Tadinya aku berniat update chapter ini tadi malem tapi gak sempat. Sempatnya ya hari ini...

Konflik-konflik udah mulai bermunculan ya... apa emang dari dulu udah banyak konflik? Hehehe...

Tuh kan.. Baek hamil... terus gimana donk?

Pokoknya aku akan dengan setia menunggu review kalian. Silahkan tulis apa yang ada di dalam pikiran kalian tentang chapter 10 ini di kolom review ya all... ^_^

Sampai jumpa di update selanjutnya!

Love you guys! *muaachhhh*

Promosi lagi nih...hehehe

Check my new story out!

ARTIFICIAL LOVE

[chanbaek/yaoi/romance/angst/M]