Sebuah Penutup
"Dan ditanggal ini pula kita mengakhirinya, bukan?"
.
.
Sakura tertawa, "Semuanya pasti mengandung resiko, Sasuke. Semuanya, tak hanya pekerjaan macam agen rahasia"
Sasuke diam sejenak, benar juga. "Apa kau tahu kehidupan seorang agen itu sebenarnya didominasi kegelapan?"
"Mmm...kurasa, ya."
"Lalu bagaimana menurutmu?" mungkin pertanyaan ini akan terdengar aneh, tapi sungguh, Sasuke benar-benar tak pintar bicara.
"Menurutku aku dan ibuku akan merasa aman." Jawabnya ringan. Aman? Jika ia menjadi Juugo mungkin ia akan menyimpulkan bahwa sebenarnya Sakura butuh perlindungan. Tapi perlindungan yang Sasuke tawarkan bukan perlindungan biasa. Perlindungan yang justru bisa saja malah mencelakakan Sakura. Membawanya pada kegelapan yang lain.
Namun egonya tak mau kalah. Ia tak akan melepaskan Sakura hanya karena Teori Kegelapan konyolnya. "Baiklah."
Dan sialnya, Sasuke kehabisan kata-kata.
"Bagiku hidup itu misteri. Jadi apapun dirimu pasti ada resikonya. Jika tak mau menanggung resiko ya lebih baik tak usah hidup saja. Lagipula tak semuanya bisa diandaikan, bukan? Semua pertanyaanmu tadi, mudah saja menjawabnya, namun kita takkan pernah tahu apa yang terjadi jika kita menjalaninya langsung, bukan? Kita takkan pernah tahu jika kita tak mencobanya" ujar Sakura lancar. Sikapnya rileks. Kata-kata ini baru pertama kali Sasuke dengarkan seumur hidupnya. Dan berkatnya semua Teori Kegelapan konyol Sasuke menguap hilang begitu saja. Baiklah,
-10-
"Apa? Kau sudah pulang?" tanya Sakura kaget. Sejak semalam ia lupa tak menyalakan ponselnya, dan mendapati tujuh panggilan tak terjawab dari Sasuke saat mengaktifkan kembali ponselnya siang ini. mungkin telepon Sasuke semalam untuk memberitahu Sakura tentang kepulangannya.
"Ya, aku sudah pulang sejak semalam. Tapi tak ke apartemenku, melainkan ke rumah orangtuaku. Aku sudah meneleponmu sebanyak delapan kali dan tak satupun kau angkat." Komentar Sasuke.
"Tujuh kali." Koreksi Sakura. "Maafkan aku atas sikap tak peduliku pada ponsel. Aku lupa menyalakannya semalaman. Dan...kau tahu? Kini aku sedang berada dalam taxi sambil menggenggam dua kotak mini pancake dan berniat makan pancake ini bersamamu di rumah sakit. Lalu bagaimana?" desah Sakura. Diujung sana Sasuke hanya tertawa.
Sakura memang berniat mencoba salahsatu produk toko pancake baru yang terkenal enak di sekitar tempat kerjanya. Dan ia berencana membawakan satu kotak untuk Sasuke. Mengingat di rumah sakit ia selalu menyantap makanan minim rasa. Namun mana ia tahu jika Sasuke sudah pulang?
"Nampaknya pancake yang kau bawa itu enak. Jadi apa kau mau berbicara pada pengemudi taxi untuk mengganti tujuanmu?"
Sakura melihat ke kanan-kiri jalan, "Aku baru saja naik dan ini masih di pusat Shinjuku. Tempat apa yang kau maksud?"
"Bagaimana dengan Kafe Tohohira? Lumayan dekat dari sana."
"Baiklah. Aku akan menunggu disana. Kau dimana memangnya?" ujar Sakura tanpa pikir panjang karena ide makan siang di kafe jauh lebih bagus daripada makan siang di rumah sakit. Diseberang sana Sasuke menjawab, "Aku di kantor. Mungkin kau akan sampai duluan. Tunggulah disana sebentar,"
Tak lama telepon ditutup. Setelah Sakura memutuskan sambungan ia baru menyadari bahwa jika Sasuke sudah berada di kantor sekarang, artinya ia langsung kembali bekerja, padahal baru semalam ia pulang dari rumah sakit. Dasar Sasuke.
Oke, Sakura akan menyimpan amarahnya untuk nanti, untuk disemburkan langsung pada orangnya. Karena sekarang ia akan beristirahat sebentar dengan menyandarkan punggung dan kepalanya di jok mobil sambil memejamkan mata.
-11-
Sasuke melangkah tergesa memasuki kafe sambil memelototi arlojinya. Sakura pasti sudah menunggu cukup lama. Namun mau bagaimana lagi? Jalan raya bukan miliknya dan mau tidak mau ia harus dengan sabar mematuhi aturan dan lain lain.
Setelah puas memelototi arlojinya, ia mengedarkan pandangan kesekeliling kafe, dengan satu delikan mata saja ia sudah berhasil menemukan sosok gadis berambut merah muda yang tengah duduk sambil melamun. Sendirian.
Sasuke berjalan mendekat, gadis itu tampak larut dalam lamunannya hingga tak menyadari bahwa Sasuke sudah tiba disana. Baru saat Sasuke menarik kursi dan duduk dihadapannya, Sakura tersentak kaget, "Oh, kau"
"Ya, memangnya siapa lagi?"
"Oh, kau benar-benar sudah sehat?" tanya Sakura takjub. Matanya memerhatikan Sasuke dengan seksama. Rambutnya. Wajahnya. Bajunya. Seolah baru melihat Sasuke lagi setelah dua tahun tak bertemu.
"Tentu saja"
"Senang rasanya melihatmu memakai bajumu" ujar Sakura lagi. Tentu saja Sasuke tahu apa yang dimaksud Sakura dengan 'bajumu' ; kemeja hitam dan jaket kulit hitam, celana bahan serta sepatu berleher tinggi. Ya, itu memang pakaian simpel favorit Sasuke. Dan mengetahui bahwa selama ini Sakura hapal pakaian-pakaian yang kerap ia gunakan membuatnya agak...tergelitik. Oh tidak, ini pasti efek dari Juugo-dan-kemampuan-sialannya tadi.
"Yah...karena aku tak mungkin berpakaian seperti ini dirumah sakit" timpal Sasuke acuh. Sakura tertawa. Kemudian mereka berbincang tentang rasa sakit yang masih tersisa dibadan Sasuke. Tulang rusuknya yang mulai pulih, luka tembaknya yang mulai menutup. Dan lain-lain. Kemudian mereka menyantap mini pancake yang dibawakan Sakura.
Sakura berbicara lagi setelah menelan suapan terakhir pancake-nya, "Rasanya sudah lama tidak begini"
"Begini bagaimana?" tanya Sasuke agak bingung,
"Makan bersama. Mengobrol. Dan bukan di rumah sakit tentunya."
Sasuke mengangguk, "Ya, sudah lama"
Hening sejenak. Sakura sedang menikmati jus mangganya dengan khidmat. Sementara Sasuke hanya diam. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik hingga terdengar bunyi sesuatu yang keras, disusul bunyi alarm mobil yang berteriak tak terkendali. Baik Sakura maupun Sasuke menoleh kearah jendela besar di kiri mereka, dari sana dengan jelas terlihat sebuah sedan hitam mengedip-ngedipkan lampunya tak sabar, menunggu sang pemilik menghampirinya untuk memastikannya aman. Sasuke melihat bola yang menggelinding didekat mobil itu, dan sampailah ia pada kesimpulan bahwa mobil itu berteriak karena terhantam bola. Alarm yang sensitif.
Setelah tahu akar permasalahannya dan ia rasa sang pemilik mobil sebentar lagi akan datang kesana untuk membungkam alarm yang berisik itu, Sasuke mengalihkan pandangan dari jendela, pandangannya jatuh pada Sakura yang masih serius memerhatikan Si Sedan Hitam.
Kelopak matanya terbuka lebar, menampilkan iris hijau yang indah seutuhnya. Mengagumkan. Mulutnya setengah terbuka. Wajahnya yang menghadap jendela membuat cahaya mentari Tokyo yang terik menyinarinya lebih banyak dari seharusnya. Membuat manik hijau itu terlihat bersinar-sinar.
Ultraviolet jatuh pula diatas helaian rambut merah mudanya yang menyapu bahu. Indah. Sasuke bahkan baru sadar mengapa gadis ini bernama Sakura, pasti karena siapapun yang melihat rambutnya akan teringat akan bunga Sakura.
Nampaknya semesta tengah bekerja sama membuat sepasang mata Sasuke enggan untuk berkedip. Karena entah bagaimana bisa teriknya mentari Tokyo bisa sangat indah saat jatuh menerpa wajah Sakura? Menyinarinya. Menyusun sebuah profil sempurna yang Sasuke yakin belum pernah ia lihat selama dua puluh tujuh tahun hidupnya. Indah. Sangat indah.
Bahkan keriuhan disekitarnya pun seakan lenyap. Ia bahkan tak sadar jika suara alarm sudah berhenti berteriak sejak tadi. Yang ia sadari adalah dirinya yang tengah terhipnotis. Terhipnotis sesosok keindahan yang disiram cahaya mentari. Oh, bahkan tidak. Bahkan walau langit mendung pun wajah itu akan tetap indah. Bahkan jika mentari tak menampakkan cahayanya pun wajah itu akan tetap memukau. Bahkan dibawah keremangan malam pun wajah itu akan tetap...cantik.
Ya, cantik.
Akhirnya perasaannya tumpah membanjiri otaknya. Mengeluarkan segala macam pendapat akan Sakura yang selama ini tak pernah sempat ia pikirkan. Tentang Sakura yang perhatian. Tentang Sakura yang khawatir. Tentang dirinya yang kesepian. Tentang dirinya yang khawatir. Semuanya. Mungkin ia harus berterimakasih pada Juugo-dan-kemampuan-sialannya karena telah menumpahkan perasaannya pada sang otak yang selama ini menjabat sebagai pemimpin tindakannya. Otaknya akhirnya bekerja menafsirkan berbagai jenis emosi yang ia rasakan selama ini. Dan otaknya pun sukses besar,
Karena sang otak telah berhasil menyadarkan pemiliknya bahwa ia sedang jatuh cinta.
-12-
Mikoto terlonjak saat pintu depan rumahnya terbuka. Ia segera menaruh panci yang tadi sedang dibawanya di meja dapur, lalu melesat untuk melihat siapa yang datang. Kemudian saat melihat wajah Sasuke muncul diruang tamu, ia tersenyum, "Ibu kira siapa"
Sasuke tak menjawab, melainkan hanya mengangkat alis sebagai tanda ia mendengarkan perkataan ibunya.
"Oh iya, Sasuke. Jangan tidur dulu, Ibu ingin bicara sesuatu padamu. Sebentar, Ibu akan menghangatkan sup miso untukmu." Ujar Mikoto cepat, atau lebih tepatnya terburu karena ia sudah melesat kedapur bahkan sebelum ucapannya selesai. Ia tak repot-repot menunggu jawaban Sasuke karena anak bungsunya itu takkan repot-repot menjawab, paling hanya mengangkat alis atau mengangguk.
Mikoto mengangkat panci berisi sup miso dan menaruhnya diatas kompor, menyalakan kompor, lalu kembali melesat keruang tamu. Sasuke masih disana, nampaknya ia patuh terhadap apa yang ibunya perintahkan.
"Ini tentang rencana ke Venezia"
Sasuke menatap ibunya serius, menyimak. Mikoto lalu melanjutkan sambil membenahi posisi duduknya, "Kau belum ada misi lagi, kan? jadi kau mau ikut apa tidak?"
"Sebenarnya kapan?"
"Awal November, awal liburan musim dingin"
Sasuke mengernyit, "Musim dingin di Jepang, kan? Tapi nyatanya di Eropa masih musim gugur. Bukankah masih lama? Mengapa Ibu begitu menggebu membicarakannya sekarang?"
"Visa. Mengurusnya tidak cepat dan tidak mudah. Sekarang Ibu mau tanya dulu, kau akan ikut atau tidak? Ibu tak mau ada pembatalan mendadak nanti" tegas Mikoto. Sasuke mendesah, "Aku punya visa ke negara manapun, kantor yang akan mengurusnya dan akan beres dalam hitungan menit. Ibu tidak usah mengurusi visaku"
Mikoto memiringkan wajahnya, "Apa itu artinya kau akan ikut?"
"Ya. Lagipula aku belum pernah ke Italia. Berapa lama?"
"Satu minggu. Baiklah, kalau begitu artinya semua ikut. Akan Ibu sampaikan pada ayahmu nanti" Mikoto baru akan bangkit dari duduknya dan mengakhiri pembocaraan malam itu, namun tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan kembali menatap Sasuke antusias. "Ibu hampir lupa"
Sasuke kembali mengeryit untuk kesekian kalinya, "Apa lagi?"
"Bagaimana jika kita ajak Sakura?"
Mikoto menanyakannya dengan tatapan berbinar dan senyum yang lebar. Sementara diseberangnya Sasuke terlonjak kaget, punggungnya segera menegak dan ia memajukan tubuhnya sedikit, "Mengajak Sakura ke Venezia?"
Mikoto mengangguk, "Ya! Masih ada sisa tiket dan...apa salahnya? Kupikir ia punya selera memilih baju yang sama dengan Ibu"
-13-
Sasuke nampaknya belum pulih dari keterkejutannya. Kemudian ingatannya melayang pada kejadian siang tadi. Di kafe itu. Saat untuk pertama kalinya ia memandangi seorang wanita lebih dari tiga puluh detik lamanya. Saat akhirnya ia menyadari bahwa ia sudah jatuh...
"Jadi bagaimana menurutmu? Kupikir itu ide yang bagus."
Lamunan Sasuke sementara terinterupsi suara ibunya. Bagaimana menurutnya? Ia tak tahu itu ide bagus atau bukan. Ia tak tahu apa Sakura akan setuju dengan rencana ibunya tau tidak. Tapi, kemudian bayangan perahu-perahu yang mengapung diatas sungai-sungai di Venezia muncul dibenaknya. Bayangannya kemudian berubah membayangkan Sakura...
Oke, ia takkan meneruskan fantasinya.
Ia memandang lurus ibunya yang tampak masih antusias, kemudian tanpa sadar mengangguk. Ibunya melonjak kegirangan. Mulut Sasuke kemudian berkata ia akan menanyakannya pada Sakura segera. Ibunya mengangguk semangat dan berkata akan membujuk Sakura seandainya ia ragu. Sasuke hanya mengangguk, dan sesampainya dikamar barulah ia sadar bahwa kali ini ia –dan keluarganya- akan mengajak seorang gadis berjalan-jalan. Bukan jalan-jalan macam menikmati-suasana-peternakan-di-Hokkaido, atau berlibur-musim-dingin-di-Pulau-Jeju, tapi ini Venezia! Yang jaraknya ribuan mil dari jepang. Dan...apakah keputusannya ini tepat?
Sasuke mematut diri didepan cermin sambil mengacak rambutnya. Oke, ini sudah diluar kebiasaannya. Awal tahun yang penuh kejutan. Dan kejadian. Ia memelototi bayangan dirinya di cermin. Tampak asing. Dirinya yang kali ini dilihat dicermin tampak berbeda dari dirinya yang biasa. Tampak lebih...segar?
Sasuke menyeringai saat kata 'segar' muncul dibenaknya. Selama ini ia baru sadar hidupnya berjalan begitu membosankan. Hanya berkutat dengan misi, penyamaran, dan lain lain. Jarang sekali ia refreshing. Beberapa kali ia memang pernah tugas ke luar negeri, namun nyatanya hanya bisa 'berlibur' selama satu-dua hari saja. Nampaknya satu minggu ke Venezia adalah ide yang bagus.
Sebuah senyuman tiba-tiba muncul dicermin. Sasuke merasa aneh mengapa ia tiba-tiba tersenyum seperti itu. Tapi kali ini ia tak bisa mengingkarinya karena ia melihat senyumnya sendiri dari cermin. Dan kali ini ia tak mengingkari pula bahwa sebagian dari hatinya merasa senang Sakura akan ikut dalam perjalannya ke Venezia.
Oke, Sasuke segera menghentikan aksi konyolnya memelototi bayangannya sendiri dicermin dan mulai mencari ponsel, menghubungi Sakura untuk segera memastikan keikutsertaannya.
-14-
Malam yang dingin.
Ini baru pukul sembilan malam dan Sakura sudah begelung dibawah selimut hangatnya. Tidak biasanya memang, tapi udara dingin diluar sana menggelitiknya untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Dan tubuh Sakura yang lelah tergoda olehnya. Maka sekarang ia hanya meringkuk dibawah selimutnya sambil mencoba tertidur. Ia bukan tipe orang yang mudah jatuh tertidur, karenanya butuh waktu beberapa menit untuk benar-benar tertidur pulas.
Tapi kemudian menit-menit menjelang tidurnya terinterupsi suara dering ponsel yang ia letakkan agak jauh dari posisi kepalanya. Sakura mengerang, terpaksa mengubah posisi nyamannya demi menjulurkan tangannya untuk meraih ponsel. Saat ponsel sudah ia raih, matanya menangkap sederet nama dilayar yang membuatnya menyunggingkan sebuah senyum tipis, "Ya, Sasuke?"
"Kau belum mau tidur, kan?"
Sasuke yang biasanya. Selalu tanpa basa-basi. "Mmm...baru akan tidur sebenarnya. Tapi tak apa, ada apa?"
"Sesuatu yang penting. Menurutmu aku cukup menanyakannya disini atau kita perlu bertemu?" Tapi Sakura cukup menyukai gaya tanpa-basa-basi Sasuke. "Tadi kita baru bertemu. Mengapa tak kau katakan tadi saja?"
"Ibuku baru mengatakannya barusan"
Sakura tediam sejenak. Matanya sudah benar-benar berat, bisa saja ia ketiduran sekarang, "Baiklah, katakan sekarang saja"
"Ibuku ingin mengajakmu pergi berlibur bersama kami ke Italia. Bagaimana menurutmu?"
Mata Sakura sontak melebar. Namun gaya tanpa-basa-basi Sasuke cukup sering juga membuatnya terkejut. "I-Italia?"
"Ya, biaya perjalanan dan hotel sepenuhnya dibiayai kantor ayahku."
Sakura menegakkan punggungnya. Seumur hidup ia hanya pernah pergi keluar negeri dua kali, itupun China dan Korea. Keduanya dekat. Juga untuk keperluan pekerjaan. Tapi ini... Eropa? Bersama... "Ta-tapi apa tak apa-apa jika aku ikut? Maksudku, ini kan acara keluarga"
"Tak apa. Ibuku begitu antusias saat bilang akan mengajakmu. Kurasa Itachi pun takkan keberatan. Apalagi Izumi, pasti ia senang akan mendapat teman mengobrol" ujar Sasuke santai seolah ia baru saja mengajak Sakura pergi ke kota sebelah bersama keluarganya. Sakura menggigit bibir, "Bagaimana dengan ayahmu?"
Diam sejenak diujung sana. Kemudian masih dengan nada santai yang sama, Sasuke menjawab, "Ia tak pernah ambil pusing"
Sakura tahu ia berbicara ditelepon dan ia tak punya waktu lama untuk berpikir, "Akan kubicarakan dulu dengan orangtuaku. Kapan?"
"Awal November"
Sakura mengangguk-angguk, jadi ini semacam family-gathering menyambut liburan musim dingin? "Baiklah"
"Baiklah. Hubungi saja aku bila kau sudah mengambil keputusan. Oh ya, kalau tak salah tadi kau bilang mau tidur?"
"Nampaknya kantukku hilang saat mendengar kata Venezia" Sakura memainkan ujung selimutnya, ia tak tahu setelah ini bisa langsung tidur atau tidak.
"Oh, ya? Ada apa dengan Venezia?"
"Kupikir itu kota yang indah. Aku pernah melihatnya dalam film, sungai-sungainya yang bersih, gondolanya, bangunan klasik eropa yang berjajar disepanjang jalan..." Sakura tak sadar sudah berapa lama ia meracau ditelepon hingga ia mendengar tawa renyah Sasuke diseberang sana. Oke, tawa Sasuke bukanlah sesuatu yang sering didengar.
"Kau akan melihatnya langsung nanti" ujar Sasuke ringan, seolah Sakura sudah memutuskan untuk ikut. Sakura kemudian melanjutkan deskripsinya tentang Venezia yang ia lihat dalam film. Sasuke hanya menimpalinya dengan tawa.
"...berada diatas gondola sambil mendengarkan musik klasik..." racau Sakura lagi. Kali ini Sasuke menjawab, "Gondola? Siapa yang akan mendayungnya?"
Sakura terdiam sejenak, "Kau mau mendayungnya?"
"Memangnya aku pernah bilang akan naik gondola bersamamu?" ujar Sasuke menyebalkan. Sakura mencibir, "Baiklah, aku akan naik sendiri dan mendayungnya sendiri"
Sasuke tertawa. Kali ini tawa lepas. Memang agak jarang mendengar Sasuke tertawa seperti ini tapi Sakura cukup menikmatinya. Dan mau tak mau ia ikut tertawa juga.
Udara dingin menyelusup kedalam selimut tebal Sakura, mengusap lembut kulit kakinya hingga bulu kuduknya tegak berdiri. Gadis itu kemudian merapatkan selimutnya. Kemudian hingga larut malam itu Sakura terus bercakap di telepon, berceloteh tentang indahnya Venezia.
-15-
Juugo membanting pintu mobilnya sembarangan. Kemudian ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil berjalan tergesa menuju sebuah kafe dipinggir jalan raya yang ramai. Begitu masuk kesana, rasa hangat mulai menjalarinya. Ia berhenti menggosokkan telapak tangannya dan mulai berjalan-jalan pelan mencari kursi kosong. Namun alih-alih menemukan kursi kosong, ia malah menemukan Sasuke sedang duduk dislaah satu kursi sambil berbincang dengan seseorang. Juugo tak bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah berbincang dengannya –karena begitu banyak orang disana- tapi karena penasaran Juugo melupakan sejenak kegiatan mencari kursi kosongnya dan berjalan kearah Sasuke. Saat jarak mereka cukup dekat barulah Juugo bisa melihat gadis rambut merah muda yang duduk dihadapan Sasuke. Oke, rupanya ia sedang berkencan. Walau temannya yang naif itu takkan pernah mengakuinya.
Sasuke terlihat beberapa kali tertawa dalam sela-sela bicaranya. Oh ya, dan satu lagi, Sasuke jarang sekali tertawa. Artinya gadis yang tengah bicara dengannya berhasil membuatnya nyaman. Mungkin gadis itu satu-satunya, karena selama tujuh tahun lebih ia bekerja dengan Sasuke, bukan hanya satu-dua rekan kerja mereka yang terang-terangan menunjukkan rasa yang lebih pada Sasuke. Dan yang jelas bukan wanita sembarangan yang bisa masuk DIH; berbakat, tangkas, dan lain lain. Tapi pria itu seakan tak peduli dan akhirnya Juugo kini mendapat jawabannya; Sasuke membutuhkan seseorang yang berbeda dari dunia kerjanya yang suram, membutuhkan seseorang yang hangat, dan sebagainya. Pada intinya semua itu merujuk pada Sakura. Dan bahayanya Si Naif Sasuke tak menyadari hatinya sudah jatuh pada seorang wanita. Lebih bahaya lagi jika pria itu terus ber-naif ria sementara ada seseorang diluar sana yang lebih dulu 'merebut' Sakura. Oke, Juugo sebagai teman baiknya akan mengingatkannya dengan bijaksana.
Seorang remaja berseragam bangkit dari duduknya, membawa ranselnya dan segera melangkah menuju pintu. Artinya ada tempat kosong. Dan tempat kosong itu tepat dibelakang kursi Sasuke. Ini kesempatan bagus. Ia bisa mendengar pembicaraan mereka dari dekat tanpa Sasuke harus menyadari keberadaannya. Ia rasa Sakura pun takkan mengenalinya dengan hanya melihat punggungnya. Jadi Juugo segera melesat menuju kursi strategis itu, -tanpa melewati kursi Sasuke tentu saja- dan mulai memesan minuman, sementara telinganya sayup-sayup mendengar pembicaraan seputar 'Venezia' dan 'Gondola'.
Jangan bilang mereka akan pergi berdua ke Italia?
Tidak. Tentu saja tidak. Pengecut itu takkan berani seperti itu. Juugo melanjutkan kegiatan minum-kopi-sambil-mengupingnya dengan khidmat. Beberapa informasi berhasil ia dapatkan. Liburan ke Venezia bersama keluarganya. Ibunya mengajak Sakura untuk ikut bersama mereka. Oke, dan... Sakura setuju untuk ikut. Nah, artinya keluarga Sasuke sudah mengenal Sakura dekat. Tunggu apa lagi?
Tak lama Juugo mendengar kursi dibelakangnya ditarik kebelakang dan orang yang mendudukinya nampaknya bangkit. Mereka akan pulang? Setelah itu Juugo tak mendengar percakapan lagi. Mengira mereka sudah berlalu melewati pintu, Juugo menoleh ke belakang dan terlonjak saat mendapati Sasuke masih duduk di kursinya. Rupanya tadi yang pulang hanya Sakura.
Ini kesempatan bagus.
Tanpa pikir panjang Juugo segera bangkit sambil membawa cangkir kopinya, lalu duduk dihadapan Sasuke yang sedang serius dengan ponselnya. Pria itu terlonjak kaget saat mendengar suara derit kursi dan lebih kaget lagi saat melihat wajah Juugo, "Kauu?"
"Ya, ini aku" ujar Juugo datar. Sasuke masih mengerutkan keningnya, "Sedang apa kau disini?"
"Baru akan mengurusi seorang teman yang pengecut" tandas Juugo. Ekspresi Sasuke berubah bingung, "Apa tepatnya maksudmu?"
"Aku baru tahu jika kau akan mengajak gadismu ke Italia."
Mata Sasuke melebar, "Jangan bilang kau... Sialan!"
"Ya, aku baru saja mendengar sekelumit pembicaraanmu dengan gadismu. Nampaknya ibumu senang dengannya, ya?" tanya Juugo langsung. "Jadi apa kau sedang merencanakan sebuah acara pelamaran romantis di sebuah Gondola? Diatas sebuah sungai yang terhampar luas, dibawah langit Eropa yang indah, ditengah apitan bangunan klasik Eropa dikanan-kiri jalan?"
"Astaga, aku baru tahu ternyata kau penggemar drama" erang Sasuke. Juugo mengangkat bahu, "Baiklah. Kalau begitu apa rencanamu selanjutnya, Sasuke?"
"Aku tidak tahu"
Juugo menghela napas panjang, "Sudah kuduga, kau pengecut"
Ekspresi Sasuke menunjukkan ia tidak terima dikatai pengecut, tapi ia diam saja. Maka Juugo kembali menimpali, "Sekarang jangan katakan padaku kau tidak sadar bahwa kau sudah jatuh hati pada seorang gadis"
Sasuke baru akan membuka mulut namun Juugo kembali menyelanya, "Jangan mengelak dan jangan membohongi dirimu sendiri, oke? Kau bukan anak remaja tujuh belas tahun yang baru pertama kali jatuh cinta. Kau sudah dewasa, Sasuke!"
Sasuke mengurungkan niatnya untuk berkata. Ia malah diam. Berpikir? Mungkin iya, karena berikutnya ia segera bertanya dengan nada rendah, "Kalau begitu menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Juugo menyeringai. Oke, tak jarang melihat Sasuke bertampang bingung. "Grab her fast"
Sasuke mengernyit sekilas, kemudian ia bertanya, "Fast?"
"Yap." Tegas Juugo, kemudian ia segera menegakkan punggungnya dikursi, lalu mencondongkan wajahnya kearah Sasuke, bertanya dengan pelan dan tegas, "Atau kau mau seseorang mendahuluimu?"
Ada jeda sejenak. Sasuke pastinya sedang berpikir. Sebenarnya Juugo bukan ingin mengompori Sasuke atau memburunya, namun pria sedingin Sasuke perlu diberi percikan api sedikit, karena ia tak mau jika kawannya itu menyesal dikemudian hari akibat sikap cuek dan ke-tidaksensitivannya. Tak lama kemudian Sasuke mengangguk sambil tersenyum, "Baiklah. Tapi nampaknya aku takkan mengikuti ide dramatismu soal gondola tadi"
Juugo menghela napas lega, kemudian ikut tersenyum. Bagaimana bisa ia tidak ikut tersenyum?
-16-
Bunyi sirine begitu memekakkan telinga. Sebuah BMW hijau muda melaju kencang, menyeruak diantara mobil-mobil yang berjalan santai dijalan raya. Tak lama mobil patroli mengekor, mengejar mobil yang sukses merebut perhatian para penghuni jalan raya itu secepat mungkin. Ada-ada saja, sudah tahu ada mobil patroli sedang berkeliaran, masih saja berani kebut-kebutan.
Itachi menghela napas berat, setelah menepi sejenak untuk mempersilakan mobil patroli lewat, ia kembali mengarahkan mobilnya ketengah jalan. Ini hari minggu dan ia masih bertugas. Agak menyebalkan memang, namun apa boleh buat. Jika semua aparat keamanan libur di akhir minggu apa jadinya negara ini?
Dan entah mengapa rasanya hari ini kesialan sedang menghampirinya, pertama, ia harus berangkat pagi-pagi buta, kedua, ia lupa membawa bekal makanan, ketiga, ponselnya tak sengaja ketumpahan kopi. Sempurna sudah. Maka siang, setelah tugasnya berakhir, dengan mengesampingkan rasa lapar yang menyika lambungnya ia pergi ke sebuah toko servis elektronik disamping sebuah toko perhiasan terkenal. Karena tempat parkir yang disediakan toko servis itu terlampau kecil sementara jejeran toko-toko disana membuat tempat parkir manapun selalu penuh, maka terpaksa ia parkir agak jauh dari toko itu. Sehingga harus berjalan melewati sebuah minimarket, sebuah salon, sebuah toko perabotan dan sebuah toko perhiasan. Oh ya, kesialan nomor empat, ia harus berjalan dibawah terik mentari yang membakar kulit. Itachi hanya bisa berdecak. Apalagi setelah ini?
Itachi berjalan marathon, namun saat melewati toko perhiasan, ia menoleh sejenak untuk menikmati eksterior toko berbalut kaca itu sejenak. Sejak dulu ia mengagumi eksterior toko ini. Cantik dan elegan. Niat awalnya untuk hanya menikmati eksterior toko itu dan tetap berjalan cepat menuju toko servis segera pudar saat matanya menangkap sosok seseorang yang ia kenal didalam toko.
Sosok itu adalah adiknya.
Toko itu benar-benar berbalut kaca hingga tampak seperti akuarium raksasa. Dan itu meyakinkan Itachi bahwa ia tak mungkin salah mengenali orang karena kacanya begitu jernih. Sasuke sedang berdiri disebuah etalase, mengemati perhiasan yang terpajang disana. Maka dengan pertanyaan yang menggantung dibenaknya, Itachi berbelok masuk kearah toko itu. Seorang satpam membukakan pintu untuknya dan Itachi tersenyum sekilas. Langkahnya semakin mendekat kearah Sasuke namun sebelum ia benar-benar sampai kesana ia melihat seorang pramuniaga datang membawakan sebuah kotak kearah Sasuke, dan saat Itachi berdiri tepat dibelakang Sasuke, sang pramuniaga membuka tutup kotaknya dan nampaklah sebuah cincin berlian terselip indah didalamnya.
Sasuke membeli cincin?
Oke, Itachi tak ingin berspekulasi macam-macam tentang untuk-siapa-cincin-itu dan segera berdiri disamping Sasuke yang sedang memerhatikan cincin itu lekat-lekat.
"Seleramu bagus juga"
Sasuke terlonjak saat Itachi mengatakannya. Matanya membulat kaget. Berikutnya, seperti yang sudah Itachi duga, pertanyaan standar meluncur dari mulut Sasuke, "Sedang apa kau disini?"
"Baru akan menanyakan, untuk siapa adikku membeli cincin" balas Itachi cepat. Sasuke mendesah pasrah, "Astaga, mengapa orang-orang suka sekali mencampuri urusanku, sih?"
Itachi hanya mengangkat bahu, lalu mengambil berlian itu dari kotaknya dan mengangkatnya keudara, "Ini bagus. Kurasa ukurannya cocok juga"
"Ukuran? Aku bahkan belum menjawab itu untuk siapa." Komentar Sasuke. Itachi masih mengamati cincin itu seksama. "Ini cincin perempuan, tak mungkin kau yang memakainya, kan? Maka hanya ada satu kemungkinan"
"Berhenti mencampuri urusanku!" Sasuke merebut cincin itu dari tangan Itachi, Itachi sendiri hanya memandangi Sasuke lekat-lekat, "Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Sasuke. Setidaknya kau harusnya bilang padaku dulu jika ingin melama gadis"
Sasuke memandang tajam Itachi. Itachi sebenarnya sedang tak ingin bertengkar dengan adiknya, terlebih ditempat umum.
"Besok"
"Apanya?"
"Aku berencana menceritakan pada semuanya besok. Jadi sekarang lebih baik kau pulang saja" ujar Sasuke ketus. Jelas sekali ia kesal. Namun alih-alih marah, Itachi malah tertawa, "Baiklah, baiklah, tapi apa kau tak ingin meminta pendapatku tentang cincin itu?"
"Tidak perlu"
Itachi masih mempertahankan tawanya, "Baiklah, kapan?"
"Apanya?" Sasuke masih tampak gusar, ingin segera mengenyahkan Itachi dari sana. Itachi hanya menunjuk cincin itu dengan dagunya. Sasuke mengikuti arah pandang Itachi dan segera mengerti. "Mungkin minggu depan, entahlah"
"Makan siang romantis diibawah pohon Sakura?"
"Astaga. Kau sama saja dengan Juugo." Sasuke menepuk kening frustasi. Itachi tak menanggapi komentar Sasuke, hanya menatap adiknya lurus-lurus, "Baiklah, terserah padamu saja"
Sasuke sudah berhenti menatap gusar kakaknya, mungkin berpikir kakanya akan pergi sebentar lagi. Dan benar saja, Itachi berbalik dari meja etalase dan memutar tubuhnya untuk menghadap Sasuke, kemudian menepuk punggungnya sambil tersenyum, "Semoga berhasil"
-17-
Sakura tersenyum kaku. Disekelilingnya duduk melingkar kawan-kawan lamanya saat ia kuliah kedokteran dulu. Jadi ini reuni. Reuni makan malam di restoran bintang lima. Jika bukan karena pemilik restoran ini adalah suami teman kuliahnya dulu mana mungkin mereka mau datang ke restoran semewah ini hanya untuk reuni informal. Dan celakanya teman dekat Sakura banyak yang tak datang.
Jadi sedari tadi Sakura hanya tersenyum kaku sambil sesekali menimpali obrolan mereka. Yang ia kenal dekat hanya Shizune. Celakanya lagi Shizune adalah orang yang mudah berbaur hingga pada akhirnya dimeja ini hanya Sakura yang bergerak-gerak salah tingkah. Kapan ini semua akan berakhir?
Saat Sakura memandang berkeliling untuk menikmati interior restoran ini matanya menangkap bayangan seorang pria diseberang sana. Duduk mengenakan tuksedo hitam bersama beberapa orang pria lain yang juga bersetelan formal. Oke, Sakura sebenarnya tahu semua pengunjung yang datang kesini pasti berpakaian formal. Tapi fokusnya kini... pria itu adalah Sasuke.
Ya, itu Sasuke. Untuk pertama kalinya Sakura melihat Sasuke dalam balutan tuksedo, dan semua pakaian formal itu membuatnya semakin...tampan. Oke, Sakura tahu sekarang ia harus segera memalingkan pandangannya kearah lain untuk mencegah rona dipipinya. Ia kembali melihat kearah teman kuliahnya. Membosankan.
Tiba-tiba ia ingat akan telepon Sasuke beberapa malam lalu. Yang berisi ajakan makan malam, tepat malam ini. Tapi Sakura menolak karena ia sudah berjanji untuk mengikuti acara reuni membosankan itu. Dan Sasuke sendiri? Siapa sangka malam ini ia makan di restoran yang sama dengan Sakura, bersama rekannya juga. Dan Sakura ingat ia belum menanyakan mengapa Sasuke mengajaknya makan malam.
Karena bosan dan tak tahu harus berbuat apa, Sakura mengeluarkan ponsel dari tasnya dan mengirim pesan pada Sasuke, karena mereka sudah berada di satu tempat maksudnya, siapa tahu Sasuke punya sesuatu yang penting untuk dibicrakan. Dan benar saja, tak lama Sasuke membalas pesannya dan bertanya kapan Sakura akan selesai bersama teman kuliahnya. Sakura menoleh kebelakang, dan mendapati Sasuke tengah menatapnya dengan mata melebar. Pasti pria itupun tak menyangka akan bertemu Sakura disini. Sakura tersenyum tipis pada Sasuke, Sasuke membalasnya. Senyum itu...oh sialan. Sakura segera membalikkan badan lagi dan mulai membalas pesan, berkata ia takkan lama lagi.
Saat Sakura sedang menjejalkan ponsel ke bagian dalam tas, tangannya menyentuh plastik tebal didalam tas. Sakura menunduk untuk melihat benda apa itu dan segera menemukan cincin Sasuke yang terbungkus plastik obat. Oh iya, ia belum mengembalikan cincin Sasuke. Dan ia akan bertekad akan mengembalikannya hari ini. Sudah saatnya, bukan? Sudah saatnya mengakhiri semua ini.
Sebagian diri Sakura merasa sedih. Entah apa alasannya. Maka selanjutnya ia hanya menyandarkan punggung dikursi empuk hingga satu persatu temannya berpamitan pulang. Diakhiri dengan Shizune yang mengajaknya pulang bersama, namun tentu saja Sakura menolak. Ada yang harus ia bereskan setelah ini.
Shizune pulang dan kini hanya tinggal Sakura yang duduk dimeja bundar besar itu. Sakura baru akan mengeluarkan ponselnya saat suara seseorang tiba-tiba terdengar begitu dekat, "Lebih baik kita pindah meja. Meja ini terlalu besar jika hanya untuk dua orang"
Sakura mendongak, lalu tersenyum. Kemudian beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Sasuke menuju salahsatu meja di sebelah kaca besar. Pemandangannya menakjubkan. Pemandangan malam Tokyo dari lantai dua puluh satu. Indah sekali.
"Aku hanya tahu jika deretan meja ini yang paling bagus dari semuanya" Sasuke lebih dulu duduk, Sakura mengikutinya sambil tak berhenti menatap pemandangan malam dikanannya. "Indah sekali"
"Kau mau menunggu sebentar?"
"Menunggu?" tanya Sakura heran.
"Ada yang harus kuambil di mobil. Kau boleh memesan minum dulu jika merasa aku terlalu lama" ujar Sasuke sambil bangkit kembali dari duduknya. Sakura hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Sasuke segera melesat setengah berlari kearah pintu. Sementara Sakura mengeluarkan cincin Sasuke dari dalam tas, berniat mengakhiri sandiwara konyol diantara mereka.
-18-
Sialan.
Pencuri amatir sialan.
Padahal ia sudah berlari secepat mungkin menuju basement agar Sakura tak lama menunggu. Namun ia malah berpapasan dengan pencuri amatir yang baru saja mencuri tas seorang ibu dan berlari menuju mobilnya di basement. Tak ada pilihan lain kecuali mengejar dan menangkapnya dulu. Dan sialnya lokasi satpam cukup jauh darisana. Namun sudahlah, toh pencuri itu kini sudah aman di pos satpam. Memang timbul kerumunan kecil disana dan Sasuke tak ambil pusing, yang ingin ia lakukan hanyalah lekas kembali direstoran. Sakura sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.
Sasuke terengah saat sampai dimeja mereka. Duduk sejenak dan mengatur napas sebelum menggumamkan maaf. Alih-alih kesal, Sakura malah tersenyum sambil menyodorkan jus anggurnya, "Jadi kau yang menangkap pencuri itu?"
Sasuke hanya mengangkat bahu, kemudian menarik jus itu mendekat, "Begitulah"
Sakura tertawa saat dalam hitungan detik jus itu sudah habis ditangan Sasuke. "Kau hebat" komentarnya. Sasuke meletakkan gelas kosong diatas meja, "Kau sudah menunggu lama"
Sakura menggeleng, "Tak apa. Tadi beberapa pelayan dan pengunjung ribut soal pencurian di basement. Jadi kupikir kau pasti terlibat"
Pembicaraan berlanjut soal pencurian itu. Kemudian tiba-tiba Sakura menyodorkan cincin kearah Sasuke, "Waktunya aku mengembalikan ini"
Sasuke hanya menatap cincin yang disodorkan diatas meja. Kemudian berpikir. Sakura nampaknya ingin mengakhiri sandiwara konyol mereka. Namun bagaimana ia memulainya lagi? "Menurutmu bagaimana pekerjaanku?"
Sakura mengernyit, "Hebat"
"Sakura, ini bukan film. Menjadi agen tidak semenyenangkan kelihatannya. Kau harus mengorbankan banyak waktu, energi, identitas"
"Sebenarnya aku tahu. Tapi tetap saja, hebat"
Hebat, katanya? "Bagaimana jika ayahmu seorang agen dan...kau dan ibumu harus rela berbohong untuk menyembunyikan identitasnya sebagai agen?"
"Berbohong untuk kebaikan bagiku tak apa"
Jawaban fantastis. "Oke, kalau begitu...bagaimana perasaanmu jika kenyataannya nyawamu terancam oleh musuh ayahmu?"
Sakura tertawa, "Semuanya pasti mengandung resiko, Sasuke. Semuanya, tak hanya pekerjaan macam agen rahasia"
Sasuke diam sejenak, benar juga. "Apa kau tahu kehidupan seorang agen itu sebenarnya didominasi kegelapan?"
"Mmm...kurasa, ya."
"Lalu bagaimana menurutmu?" mungkin pertanyaan ini akan terdengar aneh, tapi sungguh, Sasuke benar-benar tak pintar bicara.
"Menurutku aku dan ibuku akan merasa aman." Jawabnya ringan. Aman? Jika ia menjadi Juugo mungkin ia akan menyimpulkan bahwa sebenarnya Sakura butuh perlindungan. Tapi perlindungan yang Sasuke tawarkan bukan perlindungan biasa. Perlindungan yang justru bisa saja malah mencelakakan Sakura. Membawanya pada kegelapan yang lain.
Namun egonya tak mau kalah. Ia tak akan melepaskan Sakura hanya karena Teori Kegelapan konyolnya. "Baiklah."
Dan sialnya, Sasuke kehabisan kata-kata.
"Bagiku hidup itu misteri. Jadi apapun dirimu pasti ada resikonya. Jika tak mau menanggung resiko ya lebih baik tak usah hidup saja. Lagipula tak semuanya bisa diandaikan, bukan? Semua pertanyaanmu tadi, mudah saja menjawabnya, namun kita takkan pernah tahu apa yang terjadi jika kita menjalaninya langsung, bukan? Kita takkan pernah tahu jika kita tak mencobanya" ujar Sakura lancar. Sikapnya rileks. Kata-kata ini baru pertama kali Sasuke dengarkan seumur hidupnya. Dan berkatnya semua Teori Kegelapan konyol Sasuke menguap hilang begitu saja. Baiklah,
"Baiklah, aku akan mengambil cincinku lagi" ujar Sasuke sambil menarik cincinnya dari atas meja. Kemudian dengan cekatan meletakkan sebuah kotak mungil diatas meja, "Tapi izinkan aku menggantinya dengan yang baru"
Sakura memasang wajah datar saat Sasuke meletakkan kotak itu diatas meja, barulah saat Sasuke membuka penutup kotaknya, mata Sakura melebar.
"Kau bilang kita takkan tahu jika tak mencobanya, bukan? Jadi apakah kau mau mencobanya?"
Sasuke tahu kata-katanya bukan kata-kata yang manis. Ini juga bukan makan malam romantis dengan lilin-lilin kecil bertebaran dimeja mereka. Tapi ia berharap semua tindakannya sudah mewakilkan apa yang diinginkannya.
Sakura menutup mulutnya. Tatapannya beralih pada Sasuke. Sasuke tahu Sakura tengah mempertanyakan keseriusannya, maka ia langsung menimpali, "Kurasa kau tahu benar aku tidak sedang bercanda"
Detik berikutnya Sakura tertawa. Sasuke bisa dengan jelas melihat airmata disudut-sudut mata Sakura. Namun gadis itu tertawa lebar. Memerhatikan cincin yang berkilauan itu lekat-lekat.
"Kurasa kau juga tahu benar aku suka tantangan" ujar Sakura sambil menatapnya sejenak lalu meraih cincin itu dan mengangkatnya keudara, "Kuharap cinicin ini tak berakhir dijari telunjuk lagi"
Sasuke tertawa. Keduanya tertawa saat Sakura menyematkan cinicin itu dijari manisnya. Ia memamerkan cincin itu pada Sasuke. Pas sekali.
"Satu lagi pertanyaan, apa kau tahu alasan mengapa aku memilih hari ini?" tanya Sasuke sambil tersenyum. Nampaknya senyum itu tak mau pergi dari bibirnya. Sakura masih menggeleng, masih tersenyum juga.
"Karena ini tanggal delapan belas. Tanggal dimana tuhan mengirimku untuk menyelamatkanmu dari tangan jahat yang berusaha menyentuhmu" ujar Sasuke. Sakura tertawa lagi, kali ini airmata jatuh dari pelupuk matanya, "Dan tanggal dimana kita melakukan sandiwara konyol"
"Dan ditanggal ini pula kita mengakhirinya, bukan?"
Sakura mengangguk. Senyum masih belum mau pergi dari bibir mereka. Sasuke tahu ia tak membawa Sakura berlayar diatas gondola atau makan siang dibawah pohon Sakura untuk melakukan semua ini. Mereka juga tak sedang berada dibawah langit indah Eropa, diatas sungai jernih Venezia atau ditengah apitan gedung-gedung klasik Eropa. Ia tahu ini begitu sederhana. Sesederhana niatnya untuk mengajak Sakura hidup bersamanya.
Cukup sederhana, bukan?
THE END
Author's Note
Finally! I've finished my first series\^^/
Terima kasih kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca FanFic ini.
Terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah mem-Follow dan mem-Favorit FanFic ini.
Dan terima kasih sebesar-besarnya untuk yang bersedia mengisi kolom review untuk memberi masukan dan dukungan ^^(maaf Author belum bisa membalas review kalian satu persatu T.T)
Mohon maaf atas segala kekurangan dan typo yang ada disini, baik yang sudah diperbaiki ataupun yang belum. Bagaimanapun Author masih pemula dan masih belajar, karenanya masih membutuhkan banyak-banyak review dari kalian.
Oh ya, sedikit mengenai tokoh Sasuke. Sebenarnya Sasuke itu tidak ditembak tepat dibagian jantung, ya, hanya saja peluru itu 'menggores' atau 'menyerempet' jantungnya (seperti yang dikatakan di sinopsis) karena jika pelurunya bersarang dijantung, bisa jadi ia tewas ditempat. Dan mengenai kata-kata 'peluru menembus jantungnya' didalam cerita ini (Chapter 1) itu hanya hiperbola yang disisipkan Author saja, artinya pelurunya nggak benar-benar bersarang di jantung.
Sebenarnya Author ingin menyisipkan tentang ini dalam cerita namun apa daya Author lupa dan baru ingat di chapter akhir. Jadi karena Author nggak mau merusak momen mereka yang lagi asyik berkencan direstoran mahal dengan ngomongin soal jantung dan semacamnya, jadilah penjelasan ini berakhir dikolom Author's Note, He he.
Thank you for reading! ^^
