X

Seokjin menggenggam senjatanya sembari menuruni markas KKP, Jungkook mengikutinya dengan jantung berdebaran hebat. Seokjin mengintip dengan hati hati, melihat sepasukan tentara berlari ke sebuah sel dalam barisan rapi. "Ayo!". Memiliki perasaan tak enak, Seokjin pun mengomando Jungkook untuk mengikuti para tentara yang berlari dengan sepatu berderap keras.

"Dia sangat ceroboh". Jungkook menggeleng tak habis pikir, mengingat Hoseok yang memasuki markas seorang diri demi menyelamatkan Taehyung…dan Jungkook. Ia melindungi temannya hingga rela mempertaruhkan nyawanya sendiri. "Hyung bodoh", Jungkook kembali berujar, tidak bisa menutupi rasa cemasnya.

"Aku berharap kau yang melakukannya, tau?", Seokjin melirik Jungkook sedikit. Ia terdiam ketika melihat sepasang pria berjas putih berjalan melewati lorong.

"Semuanya salah! Flare menyebar terlalu cepat, dan membuat orang orang itu menjadi sinting!".

"Seharusnya pengendalian populasi ini telah selesai beberapa hari yang lalu. Tapi lihatlah, bumi ini semakin hancur karenanya!".

Seokjin memperhatikan para pria yang tampak kelelahan, mereka berjalan terburu buru, urat menyembul pada pelipis mereka seperti ketegangan dan kekurangan istirahat yang gagal disembunyikan.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?".

"Membunuh mereka, semuanya!".

Jungkook tersentak, ia menghadap temannya yang balas menatap dengan tajam. Apakah KKP menyadari bahwa pengendalian populasi mereka kacau balau? Flare tidak menghapus separuh populasi manusia tetapi justru membuat mereka menjadi gila, saling mangsa dan menghantarkan kiamat untuk yang kedua kali.

Hebat, Jungkook mendengus geram.

"Kita harus menemukan mereka, Seokjin".

Seokjin mengangguk dan berlari setelah orang orang itu menghilang dari pandangan, mereka kembali mengikuti barisan tentara yang dipersenjatai lengkap.

Tapi bagaimana caranya? Jungkook tidak bisa memikirkan rencana untuk melawan sebuah organisasi yang bahkan tidak bisa disingkirkan oleh pemerintah. Teknologi mereka sangat canggih dan tentu saja KKP memiliki sumber daya tak terbatas. Jungkook hendak membuka mulut, tetapi tiba tiba pasukan tentara kedua berlari dari barat. Seokjin menyeret Jungkook bersembunyi dibalik sebuah generator.

"Mereka memang benar benar gila!", tentara itu menggenggam senjatanya dan Seokjin berpandangan dengan Jungkook. Kira kira apa yang sudah terjadi? Sepertinya sesuatu yang sangat serius.

Para tentara itu berhenti di sebuah sel di ujung lorong. Salah satu dari mereka menendang pintu itu hingga membuka dan mengumpat terkejut. "Sialan!", tentara itu menutup hidung secepat kilat, Jungkook mengernyit jijik ketika bau anyir menguar di udara.

"Ada apa?!".

"Seseorang telah membunuhnya!".

Jungkook mengintip dengan berhati hati dan jantungnya berhenti tiba tiba. Ia mebelalak melihat sebuah tubuh yang terbaring berlumuran darah, diseret oleh para tentara keluar dari sel tahanan. Rambut pirangnya acak acakkan, wajahnya berbekas cakaran liar dan sangat kotor.

"Buang dia!".

Namun, Jungkook langsung mengenali seseorang yang begitu dicintainya.

Kim Taehyung.

"T-Taehyung?", Jungkook merasa seluruh oksigen terempas dari paru parunya, rasa sakit menghantamnya hingga Jungkook nyaris terjatuh. Pikirannya berkecamuk melihat mata Taehyung yang terpejam, senyum cerianya yang tak lagi mengembang.

"Taehyung!", Jungkook menjerit ketika para tentara berbalik menghadapnya kaget. Jungkook berlari sekencang yang ia mampu, air matanya mengalir deras. Rasa sakit mengiris ngiris Jungkook seperti pisau, membuatnya bersimpuh di samping Taehyung yang terbaring kaku. Dunianya serasa dihancurkan sekali lagi.

"Jungkook!". Seokjin menggenggam pundaknya panik, lelaki itu memberontak sembari meremas rambutnya liar.

"Taehyung!".

"Siapa mereka?!", para tentara segera menodongkan senjata dan menghampiri pria yang menangis terisak isak di samping tubuh Taehyung.

"Jangan bergerak!".

"Angkat tangan!".

Tak satupun dari mereka melakukan perintah tersebut. Jungkook menggeram penuh penderitaan.

"Sialan kau!", seorang tentara menyeret Jungkook, pria itu berteriak histeris dan menyerangnya membabi buta. Tentara itu mengumpat kasar, menembakkan senjata tepat di kepala Jungkook. Tetapi Seokjin lebih cepat, ia menodongkan Transvice dan melontarkan sinar yang segera melenyapkannya tentara itu tanpa sisa.

"Apa apaan?!", para tentara terperanjat, mereka menatap Seokjin ketakutan.

"Jungkook, kita harus pergi dari sini!", Seokjin berusaha menarik Jungkook untuk bangun, namun, seluruh kekuatan dalam tubuh Jungkook serasa habis.

"Jungkook!". Seokjin menggeretnya tapi dia memberontak sekuat tenaga.

"T-Tae!", Jungkook meraih tangan Taehyung yang mulai mendingin. "Taehyung!".

Tentara terus berdatangan dan berlari dengan senjata tergenggam.

"Kita harus pergi, Jungkook! Sekarang!".

Jungkook menggeleng, peluru peluru memelesat tanpa henti.

"Jungkook!", Seokjin mengelak, tetapi serangan berdatangan dengan sangat cepat. "Dengarkan aku! Bila kita tidak pergi, ia akan mati sia sia!". Tubuh Jungkook bergetar hebat, tenggorokannya tercekat ketika jemari Taehyung tidak balas meremas miliknya.

I-Ia…ia benar benar sudah…

"Jungkook! Ayo!".

Para tentara hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Seokjin menyerang membabi buta, melenyapkan orang orang yang terus berdatangan.

"Lumpuhkan dia!", seorang tentara menodongkan senjatanya kepada Jungkook, tetapi tiba tiba seseorang menghantamnya dari dalam sel. Tentara itu terjerembab dan Hoseok langsung menggenggam lengan Jungkook erat. "Sekarang, Jungkook! Atau tidak selamanya!".

"H-Hyung?!".

Seokjin dan Hoseok menyeret Jungkook dengan cepat. Jungkook menjerit kencang, memberontak sejadi jadinya. "T-Tidak!". Jungkook berteriak, peluru berterbangan melewati mereka. Hoseok menggertakkan gigi sekuat mungkin, matanya memerah dan tubuhnya terasa sangat lemas.

"Cepat! Cepat!". Seokjin menyerang para tentara yang mengejar mereka dengan Hoseok menyeret Jungkook dibelakang. Hoseok bernapas tersengal sengal ketika mereka berlari melalui tangga menuju pintu keluar markas. Kepalanya terasa hendak pecah, tapi ia harus bertahan.

"Jungkook!". Jungkook terjerembab di lantai, memberontak kuat ketika Hoseok berusaha mengangkatnya dan terus berlari.

"Hanya satu jalan yang kau punya, Jungkook!".

Hoseok menatapnya nanar dan Jungkook pun berlari meninggalkan Taehyung untuk selamanya.[]