Some review from all of you are good appreciation for me! Thank you so much, for reading this story. I'm very happy… I hope this is the last chapter, just enjoy it! But maybe (I'm not sure) I will make it's sequel because there are some missing scene inside. (ngomong apa sih? Saya juga kagak ngerti kok *gampar*) Saya senang sekali kalian semua telah bersedia membaca, mereview, bahkan meng-alert fic ini. Sungguh apresiasi yang sangat mengesankan di hati saya. Tanpa kalian semua dan juga… ehem terima kasih kepada Allah SWT, mungkin saya tidak akan dapat sampai pada tahap akhir. Thanks a lot for all of you!
.
Disclaimer
Bleach adalah manga hasil karya Tite Kubo yang mungkin sekarang berada di negeri Sakura, Jepang. Iya kan ? Fuuuuh bosen ah… bilang kalimat yang itu-itu melulu!
.
.
Sumary
Ia membalikkan tubuhnya, mengikuti pandangan Byakuya yang kini sedang menatap bunga sakura yang berguguran di inner world. 'Kebahagiaan yang sesungguhnya, Byakuu. Apakah kau akan mengekangnya lagi?' kata Senbonzakura sambil mengalihkan pandangannya ke arah Byakuya yang masih tetap menatap guguran bunga sakura itu. 'Byakuu… tidakkah kau berpikir bahwa pada akhirnya ia telah menemukan arti dari kebahagiaan itu? Orang-orang yang dekat dengannya telah mengembalikan senyuman itu. Senyuman tulus dan wajah ceria yang kini terpampang jelas di raut mukanya, yang sungguh kontras dengan dirinya selama 40 tahun ini.'
.
.
Adikku Sayang, Kakakku Malang
( by shiNomori naOmi )
.
Genre : Family/Humor; Romance; Hurt/Comfort; General; Es Campuur. All in One !!!
Rated : T (masih aman dan dijamin halal).
Warning : OC, super ultra high level OOC, maap bila endingnya terasa aneh dan maksa… mungkin ada request pairing yang tidak dapat saya penuhi. Pairing ByakuRen, SenByaku, ByaRuki. Selamat menikmati chapter terakhir ini…!!!
.
.
Chapter 10
Arigato Gozaimasu… Byakuya nii-sama !!!
Gerbang Senkaimon yang terbuka lebar menyambut Kuchiki Byakuya kembali ke seretei. Di depannya, telah berdiri fukutaichounya dengan memasang wajah yang sangat campur aduk. Lega, kesal, marah, rasa syukur, dan entahlah… semuanya bercampur menjadi satu. Renji menatap mata Byakuya dengan pandangan yang menyorotkan semua itu, namun Byakuya mengacuhkannya. Ia meneruskan perjalanannya, mengacuhkan fukutaichounya yang hanya bisa berdiri mematung di depan gerbang Senkaimon.
Renji membalikkan tubuhnya. Berjalan cepat di belakang Byakuya, berusaha untuk menyamai langkah-langkah kakinya yang menggema di lorong rumah sakit.
"Taichou!" panggil Renji.
"…"
Renji mempercepat langkahnya, salah satu tangannya terulur untuk meraih pundak Byakuya. "Taichou!" panggilnya lagi.
Byakuya menghentikan langkahnya. "Kau masih ingin berduel denganku, Abarai?" tanyanya dingin tanpa menatap wajah Renji yang ada di belakangnya.
Renji melepaskan tangannya dari pundak Byakuya. "Sejujurnya… huuf…," Renji menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin meminta maaf atas kejadian yang kemarin itu. Aku tidak menyangka bahwa taichou ternyata juga mengkhawatirkan Rukia, walaupun saat itu… aku sulit untuk mempercayainya," lanjutnya dengan pandangan menunduk. "Arigato gozaimasu, taichou," Renji membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih.
"Hn…," jawab Byakuya singkat dan kemudian berlalu dari hadapan Renji untuk pergi menemui Unohana taichou.
Renji hanya bisa tersenyum melihat perilaku Byakuya yang dingin itu. 'Taichou… walaupun kau terlihat dingin, tapi ternyata dari dalam lubuk hatimu yang terdalam kau masih tetap sseeorang yang memiliki hati dan perasaan. Itulah yang aku kagumi dari dirimu taichou, selain kau adalah orang yang aku jadikan panutan untuk menjadi lebih kuat.' batin Renji sambil menatap punggung Byakuya yang semakin lama semakin mengecil dari pandangannya dan menghilang di tikungan lorong rumah sakit divisi 4 itu.
'Byakuu!' panggil Senbonzakura dari dalam inner world.
'Hn?' tanya Byakuya.
'Gue gak habis pikir kenapa kau dingin sekali padanya?' tanya Senbonzakura sambil mengelap topeng setannya hingga mengkilap.
Byakuya menghentikan langkahnya, menatap langit biru dan awan putih yang melayang di atas sana dari balik jendela sebelum dirinya berada di dalam inner world seutuhnya. 'Karena dia berusaha mendekati Rukia. Aku tidak bisa membiarkan orang seperti dia dekat-dekat dengan Rukia.'
Senbonzakura menghentikan aktifitasnya saat mendengar jawaban dari Byakuya. 'Hn… jadi loe cemburu?' tanyanya sambil meletakkan topengnya. Oleh karena Byakuya telah melihat wajah aslinya, maka ia melepaskan topengnya itu saat di inner world. Panas rasanya memakai benda itu terus. Apalagi sekarang sedang global warming, bisa layu dia kalau kepanasan dan dehidrasi.
Byakuya hanya terdiam, tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan yang terlontar dari zanpakutounya itu. Merasa tertohok? Mungkin saja tapi entahlah, karena hanya Byakuya lah yang memahami perasaan yang kini mencengkeram erat di dalam hati dan pikirannya itu. 'Ingat Byakuu dia itu adik loe!' kata Senbonzakura kemudian.
'Aku tau itu,' Byakuya kembali terdiam. 'Aku masih menganggapnya sebagai adikku, bahkan lebih. Aku sangat menyayanginya, tapi…,' kata Byakuya terputus.
'Jangan bilang loe mau nikahi adik loe sendiri!' kata Senbonzakura tajam. 'Dasar incest!' lanjutnya sambil membuang muka. Ia benar-benar tidak bisa menerima sifat Byakuya itu.
'Aku tidak bilang mau menikahi dia, Sen-chan!' sergah Byakuya.
'Lantas?'
'Aku cuma tidak ingin dia merasa tersakiti dan menderita lagi karena salah memilih orang,' jawab Byakuya.
Senbonzakura memalingkan wajahnya, memandang wajah Byakuya dengan pandangan penuh tanda tanya. 'Gue gak ngerti deh sama maksud loe?' tanyanya.
'Haaah…,' Byakuya menghela nafas. 'Suatu kesalahan bahwa aku telah memintanya untuk memasuki keluarga Kuchiki. Tak ku sangka dia akan menerimanya. Aku tahu bahwa dia sangat menderita selama 40 tahun ini. Entahlah tapi saat itu aku tidak mempedulikannya, aku hanya ingin memenuhi permintaan terakhir Hisana untuk mengangkatnya menjadi adik.' Hatinya terasa tercabik-cabik. Entah kenapa… ia merasakan penyesalan yang sangat dalam saat ini karena meminta Rukia menjadi bagian dari keluarga Kuchiki.
'Tapi akhir-akhir ini, gue lihat hubungan kalian membaik kok,' kata Senbonzakura dan Byakuya kini berbalik menatapnya meminta penjelasan lebih. 'Loe inget kan? Beberapa waktu lalu kalian pergi bersama ke taman ria dan Rukia terlihat bahagia sekali,' lanjutnya.
'Itu karena kutukan itu, Sen-chan. Entahlah sebagian kecil hatiku berkata bahwa aku menginginkan agar kutukan itu takkan pernah hilang bila mengingat kejadian itu. Tapi… aku tidak mau membohongi kenyataan. Itu bukanlah perasaan Rukia yang sesungguhnya. Bukanlah kebahagiaan yang berasal dari dalam hatinya,' kata Byakuya sendu.
'Lantas apa mau loe sekarang?' tanya Senbonzakura tidak sabar. Ia tidak menyukai perkataan Byakuya yang berputar-putar.
'Aku ingin… Rukia bahagia dan tersenyum. Benar-benar tersenyum dan bukan senyuman penuh kepura-puraan yang selama ini kulihat. Aku senang kalau dia senang dan aku bahagia bila dia juga bahagia,' kata Byakuya lirih. 'Walaupun aku tidak suka mengatakannya, sebenarnya aku sangat berterima kasih kepada Kurosaki Ichigo.'
'Huh? Bukannya loe benci banget sama dia?' tanya Senbonzakura heran.
Untuk kesekian kalinya Byakuya menghela nafas, mencoba memenuhi kebutuhan oksigen untuk paru-parunya yang terasa sesak. Terlalu berat baginya untuk mengatakan semua kenyataan itu walaupun kepada zanpakutounya sendiri yang notabene telah bersama dengannya selama lebih dari 150 tahun. 'Karena dia, Rukia bisa menemukan kembali senyumannya yang telah lama hilang sejak masuk keluarga Kuchiki,' kata Byakuya pada akhirnya dengan nada lirih.
Senbonzakura berjalan mendekati Byakuya yang kini berada di bawah bunga sakura yang berguguran dari pohonnya. 'Byakuu… aku sangat memahami perasaanmu itu,' kata Senbonzakura sambil memegang kedua bahu Byakuya yang kini terlihat gundah. 'Aku mengerti… sangat mengerti bahwa kau telah berusaha menjadi kakak yang baik, tapi… Rukia juga harus menemukan kebahagiaannya sendiri,' lanjutnya sambil menatap lekat-lekat ke dalam mata Byakuya.
'Maksud loe?!' tanya Byakuya dengan pandangan mata tajam. 'Loe ingin gue merestui hubungan Rukia dengan kepala duren itu, hah?!' lanjutnya emosional.
Senbonzakura menghela nafas. 'Gue hanya bilang bahwa loe harus membiarkan Rukia mencari kebahagiaannya sendiri. Gue gak bilang buat merestui hubungan mereka kok,' kata Senbonzakura menegaskan sambil melepaskan pegangan tangannya di bahu Byakuya. Ia membalikkan tubuhnya, mengikuti pandangan Byakuya yang kini sedang menatap bunga sakura yang berguguran di inner world. 'Kebahagiaan yang sesungguhnya, Byakuu. Apakah kau akan mengekangnya lagi?' kata Senbonzakura sambil mengalihkan pandangannya ke arah Byakuya yang masih tetap menatap guguran bunga sakura itu. 'Byakuu… tidakkah kau berpikir bahwa pada akhirnya ia telah menemukan arti dari kebahagiaan itu? Orang-orang yang dekat dengannya telah mengembalikan senyuman itu. Senyuman tulus dan wajah ceria yang kini terpampang jelas di raut mukanya, yang sungguh kontras dengan dirinya selama 40 tahun ini.'
Byakuya menundukkan pandangannya ke arah air sungai yang mengalir jernih dan ikan koi yang berenang-renang di dalamnya. 'Kau benar, Sen-chan. Terima kasih banyak,' katanya sambil sedikit tersenyum dan kemudian meninggalkan Senbonzakura yang masih menatap bunga sakura yang kini berjatuhan di sungai kecil yang mengalir di inner worldnya, menuju ke dunia nyata untuk menemui Unohana taichou.
.
.
Unohana mendongakkan wajahnya dari kertas kerja yang menumpuk di mejanya saat ia mengetahui bahwa Byakuya telah berdiri di hadapannya dengan memasang wajah datar. "Kuchiki taichou," sapanya sambil tersenyum. Byakuya mengangguk. Unohana berdiri dari tempat duduknya setelah membereskan meja kerjanya. "Aku memanggilmu ke sini karena kau harus membantu membuat segel kidou untuk ritual pelepasan kutukan itu dari tubuh Rukia."
Ia sedikit berpikir sejenak… pantaskah ia? Apakah Rukia akan memaafkan semua perbuatannya karena telah membuatnya menderita selama 40 tahun ini?
"Kuchiki taichou, bersediakah anda?" tanya Unohana.
Deg… Byakuya teringat kembali akan kata-kata Senbonzakura beberapa menit yang lalu. 'Kebahagiaan yang sesungguhnya, Byakuu. Apakah kau akan mengekangnya lagi?'
Byakuya menatap kembali wajah Unohana dan kemudian mengangguk setuju."Baiklah kalau begitu, mari kita menuju ruang perawatan khusus di divisi 12!" ajak Unohana dengan nada lembut.
"Divisi 12?" tanya Byakuya tidak paham sambil berjalan beriringan bersama Unohana. "Kenapa harus ke sana?" lanjutnya tanpa menatap sedikitpun pada lawan bicara yang ada di sebelahnya itu.
"Ah maaf, Kuchiki taichou. Aku terpaksa meminta bantuan Kurotsuchi taichou dalam hal ini," jawab Unohana. "Ne… bukankah divisi 12 bertugas untuk menangani hal-hal semacam ini, Kuchiki taichou?" lanjutnya sambil melirik ke arah Byakuya yang berjalan dengan langkah angkuhnya menuju divisi 12.
.
.
Pintu ruangan perawatan khusus divisi 12 terbuka dengan lebar, memperlihatkan ruangan yang gelap, kontras dengan hari yang masih siang itu. Byakuya dan Unohana memasuki ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin kecil. Byakuya sedikit menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya.
Langkahnya terhenti dan dahinya sedikit mengkerut saat dilihatnya 3 orang taichou yaitu Ukitake, Kyouraku, dan Soi Fon berdiri mengelilingi tubuh Rukia yang terbaring di udara, melayang kurang lebih 30 cm dari tanah. Di bawah kaki mereka terdapat simbol lingkaran yang di dalamnya terdapat simbol bintang dan Rukia berada di tengah-tengah simbol bintang tersebut dengan Kurotsuchi taichou duduk bersila di sisi kiri Rukia.
"Yoo… kau sedikit terlambat, Kuchiki!" sapa seorang kapten bertopi jerami dan berhaori warna pink dengan hiasan bunga-bunga kecil berwarna senada. Byakuya hanya memandang dingin padanya membuat Kyouraku hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Kyouraku taichou, maafkan atas keterlambatan kami ini," sahut Unohana padanya sambil membungkukkan badan.
"Ah… Unohana-san, anda memang terlalu baik hati," kata kapten berambut putih panjang sambil mengibas-ibaskan tangannya.
"Memang demikian adanya kan, Ukitake?" tanya Kyouraku padanya dan di jawab dengan anggukan Ukitake.
"Ah sudahlah. Hentikan percakapan yang tidak penting ini! Sebaiknya segera kita mulai saja!" seru Soi Fon dengan nada yang sedikit kesal. 'Cih… hari ini kerjaanku menumpuk. Deadline peluncuran majalah shinigami besok pagi. Haah… kurasa aku akan lembur malam ini bersama yang lainnya,' batinnya kesal.
"Ya baiklah, kurasa sudah saatnya untuk menyelesaikan semua ini," kata Kyouraku sambil membetulkan letak topi jerami yang sedikit miring ke kanan.
Unohana mengangguk dan kemudian berjalan ke salah satu ujung sudut simbol bintang itu diikuti Byakuya. "Kurotsuchi taichou, bagaimana dengan anak itu?" tanyanya pada Mayuri yang sedang mempersiapkan segala keperluan ritual itu.
Mayuri tersenyum mendengarnya, lebih tepatnya menyeringai. Ia mengambil rantai besi berwarna perak agak kelabu yang tergeletak di sebelah kanannya dan menghentakkannya dengan cukup keras, menimbulkan bunyi gemerincing yang menggema di ruangan berlangit-langit yang cukup tinggi itu.
Seorang gadis cilik berkimono ungu dengan motif bunga sakura berjalan ke arah Mayuri dengan kedua tangannya menyatu di dada karena terikat rantai yang salah satu ujungnya dalam genggaman erat taichou berwajah putih pucat itu. "Khe… khe… khe… kau siap, Bocah?" tanyanya.
Gadis itu hanya membuang muka. "Cih!" Tapi sedetik kemudian hatinya mencelos juga saat menyadari tatapan tajam Byakuya. Ia pun menundukkan wajahnya dan berjalan menghampiri Kurotsuchi.
"Bocah manis," kata Mayuri sambil menyeringai. "Ayo kemarilah, mendekat padaku!" perintahnya. "Baiklah ayo kita mulai!"
Kelima taichou yang lain kini berdiri membentuk segilima. Mereka membentuk segel tangan dan melakukan kidou untuk memperkokoh pertahanan karena ritual pelepasan kutukan biasanya akan mengundang hawa jahat dan para hollow untuk berdatangan. Oleh karena itu kelima kapten tersebut bertugas untuk menghalangi hawa jahat yang akan keluar.
Gadis itu duduk di sebelah kanan Rukia, menghadap ke Mayuri yang ada di seberangnya. Lingkaran dan tanda bintang di bawah mereka kini bersinar hijau, pertanda bahwa Mayuri bisa segera memulai ritual tersebut. Tekanan reiatsu yang besar pun menguar dari dalam gedung tersebut, membuat shinigami yang memiliki reiatsu lemah akan segera jatuh pingsan bila mendekatinya.
Mayuri mengambil tumpukan kelopak bunga tujuh rupa yang diletakkan di dalam guci tanah liat yang berada di samping kanannya. Berbagai macam alat dan bahan ritual atau bisa dibilang berbagai macam jenis benda-benda yang berbau dukun dan santet tertata rapi di hadapannya. Bakaran kemenyan, hio, kelopak kembang tujuh rupa, air bunga mawar, minyak nyong-nyong, keris tolak santet yang khusus di impor dari Ki Mantep Gerandong yang bermukim di kawah gunung Bromo yang berada di salah satu negara tropis bernama Indonesia, gulungan kertas mantra penyegel yang di pesan khusus dari empunya di negeri api, Mbah Madara dan lain sebagainya.
Mayuri menaburkan kelopak bunga itu ke udara, mengambil daun ilalang yang di pinjam dari Dewi Kwan Iem, mencelupkannya ke dalam minyak nyong-nyong dan kemudian memercik-mercikannya ke wajah Rukia.
'Aahh… Byakuu, gue pengen digituin kayak Rukia!' rengek Senbonzakura tiba-tiba dari dalam inner world.
'Diam, Sen-chan! Kau menganggu konsentrasiku!' tolak Byakuya yang kini sudah berada di inner world, menatap dingin dan tajam kepada zanpakutounya yang kambuh childish-nya itu.
'Aaah… Byakuu… Byakuu… Byakuu…!' rengekan Senbonzakura semakin menjadi. Ia mencengkeram erat seraya menggoyang-goyangkan ujung haori Byakuya sambil ngesot dan menangis layaknya anak kecil yang minta permen. 'Aku kan belum di mandiin sejak 10 hari yang lalu, Byakuuu,' lanjutnya sambil sedikit sesenggukan.
'Senbonzakura!' kata Byakuya tegas membuat zanpakutou yang satu ini terkesiap. Ia kaget karena ini pertama kalinya Byakuya memanggil dirinya dengan nama panjang dan dengan nada seperti itu. Itu berarti untuk saat ini Byakuya sedang tidak mau di ajak bercanda atau dengan kata lain ia sedang tidak mau diajak berdebat. Apapun alasannya.
Senbonzakura melepaskan cengekraman tangannya, menatap mata tajam berwarna abu-abu milik Byakuya. Ia masih sesenggukan, kemudian berdiri dan berjalan dengan lunglai meninggalkan Byakuya.
"Kuchiki taichou!"
Panggilan itu menyadarkan kembali Byakuya akan posisinya. Tidak di sangka mengunjungi inner world selama beberapa detik akan membuat pertahanan kidou menjadi selemah ini dan mengundang banyak hollow walaupun masih kategori lemah. Byakuya meningkatkan konsentrasinya dan… Blast! Reiatsu yang keluar dari tubuhnya berhasil menghancurkan hollow-hollow pengganggu itu.
Terlihat di matanya, kini Mayuri sedang melakukan ritual itu sedangkan gadis arwah itu, hnn… kalau tidak salah ingat namanya Haruka sedang menggenggam tangan kanan Rukia dengan kedua tangannya. Tubuh Rukia dan Haruka memancarkan cahaya kemerahan. Cahaya yang menebarkan aura jahat. Tidak di sangka olehnya, gadis sekecil itu bisa memilikinya.
Mayuri mengangkat kedua tangannya ke atas dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri. Sementara itu asap hasil bakaran kemenyan dan hio menyeruak menjadi satu, menimbulkan aroma yang memabukkan dan membuat Byakuya mual mengingat dalam ruangan itu sangat sedikit sekali ventilasi udara.
"Wahai setan-setan yang bergentayangan. Roh-roh manusia yang tidak diterima langit. Keluar kalian dari tubuh ini!" kata Mayuri sambil menyabet-nyabetkan daun ilalang Kwan Iem ke seluruh tubuh Rukia. Ia kemudian mengambil segelas air bunga mawar yang dicampur dengan kelopak bunga tujuh rupa yang telah ia siapkan.
Mayuri meminum air itu, berkumur sebentar dan kemudian. BRUUUSST!!! Ia menyemprotkannya ke wajah Rukia dan Haruka. Byakuya yang melihatnya hanya bisa memandang jijik bercampur marah karena telah mengotori wajah cantik adik tersayangnya itu dengan air bekas berkumur, apalagi air bekas dari seorang shinigami gila setaraf Kurotsuchi Mayuri, bisa-bisa setelah Rukia bangun mungkin ia akan sembuh dari kutukan itu tapi ia juga malah jadi ketularan gila.
'Aakkh… apa sih yang aku pikirkan? Gak boleh negative thinking! Gak boleh… Pokoknya gak boleh!' Byakuya berusaha menepis semua pikiran-pikiran buruk yang mulai merajai otaknya itu. Pandangannya sedikit mengabur dan kepalanya terasa pening. 'Kkhh… ini pasti gara-gara kemenyan itu,' tebaknya dalam hati tapi ia berusaha untuk menahannya setidaknya hingga semua ini berakhir. Ia tidak ingin jatuh pingsan di depan orang banyak.
Tiba-tiba cahaya kemerahan yang keluar dari tubuh Rukia dan Haruka sedikit demi sedikit mulai memudar dan hilang sama sekali. Haruka terlihat sangat kelelahan, nafasnya terengah-engah. Wajahnya menunduk dengan keringat yang mengucur deras dari pelipisnya. Ia tidak menyangka bahwa membalikkan kutukan ternyata membutuhkan kekuatan berpuluh-puluh kali lipat daripada mengutuk orang lain. Seketika itu pula tubuhnya ambruk tak sadarkan diri karena rasa lelah yang demikian hebatnya.
"Khe… khe… khe… Ritual telah selesai," ujar Mayuri yang kemudian diikuti oleh para taichou untuk melakukan tahap akhir penyegelan arwah. Ia berdiri dan merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal karena duduk selama lebih dari 2 jam untuk ritual membalikkan kutukan tersebut. "Melelahkan juga ternyata," kata Mayuri sambil memijat-mijat bahu kirinya yang sedikit kaku.
Semua taichou yang ada di sana menghembuskan nafas lega karena semua telah berakhir. Byakuya yang lega akhirnya Rukia akan kembali bangun dan menjadi adiknya yang seperti dulu, Soi Fon yang kini terburu-buru pergi ke kantor Shinigami Wanita dan Unohana yang sibuk memerintahkan divisi 4 yang ia panggil beberapa detik yang lalu untuk membawa Rukia dan Haruka untuk dilakukan perawatan.
"Unohana taichou, aku minta agar Rukia dirawat saja di Kuchiki manshion," kata Byakuya tiba-tiba. Unohana memandang Byakuya, mencoba memahami kata-katanya dalam diam. "Kami memiliki dokter yang cukup hebat dan kurasa ia hanya memerlukan sedikit istirahat," lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu," jawab Unohana sambil tersenyum keibuan. "Aku akan mengurus segalanya."
.
.
Keesokan Harinya
Rukia membuka matanya karena merasa silau dengan sinar matahari pagi yang menelusup masuk ke sela-sela kelopak matanya. "Uggh… apa yang sebenarnya telah terjadi pada diriku?" tanyanya kepada diri sendiri sambil menyentuh dahinya dengan punggung tangan kanannya. Ia pun bangun dan duduk di atas futonnya. Termenung sejenak dan kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sreek! Pintu geser kamar Rukia terbuka.
"Ohayou gozaimasu Rukia-sama. Pagi yang cerah sekali bukan hari ini? Saya berharap anda segera bangun karena kami sangat merindukan anda," sapa seorang pelayan berambut indigo yang disanggul tinggi tanpa memperhatikan bahwa nona besarnya telah bangun dan mendengar semua yang telah ia katakan. "… terlebih lagi Byakuya-sama sangat mencemaskan keadaan anda, Rukia-sama," lanjutnya sambil duduk dan meletakkan baskom berisi air dan kain lap untuk membersihkan wajah Rukia.
"Benarkah itu, Rie-san? Ni-sama mengkhawatirkanku?" tanya Rukia tiba-tiba dengan nada yang penuh ketidak percayaan. "Sebenarnya apa yang telah terjadi selama ini?"
Rie menoleh ke arah Rukia, menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "A-ah… Rukia sama, saya senang sekali anda sudah pulih," katanya penuh rasa hormat sambil membungkukkan badannya sehingga hampir mencium lantai.
Walaupun Rukia telah diperlakukan seperti itu selama kurang lebih 40 tahun sejak ia menjadi anggota keluarga Kuchiki, tetap saja ia merasa asing dengan semua itu. "Ah sudahlah Rie-san, jangan terlalu sungkan seperti itu!" katanya karena merasa tidak enak terhadap perlakuan pelayan pribadinya itu.
"Ta-tapi Rukia sama, su-sudah tugas saya untuk bersikap seperti ini," kata Rie masih tetap dengan tubuh yang membungkuk. Ia kemudian menegakkan badannya namun pandangannya masih di bawah, pada tatami berwarna hijau lumut yang mendominasi ruangan itu. "Saya… kami semua sangat senang Rukia-sama telah kembali," katanya terharu. Tak terasa air matanya meleleh ke pipinya yang berwarna kuning langsat itu.
Rukia menyentuh dagu Rie dan mendongakkannya. Salah satu tangannya menyeka air mata yang mengalir itu. "Sudahlah Rie-san, aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang pelayan. Aku lebih menganggapku sebagai seorang teman di manshion yang dingin ini," kata Rukia sambil mengalihkan pandangannya ke luar kamar. Menatap daun-daun yang menguning dan kini berguguran karena tiupan angin.
"Hum… arigato Rukia-sama," ujarnya sambil mengangguk senang. "Nah… Rukia-sama saya akan mencuci kaki anda pagi ini. Sudah lebih dari satu minggu anda tidak sadarkan diri. Oleh karena itu anda harus terlihat cantik."
Rukia terkesiap mendengar pernyataan Rie. "Apa kau bilang? Aku pingsan satu minggu? Bagaimana bisa?" tanya Rukia bertubi-tubi.
Rie mencelupkan kedua kaki Rukia pada baskom yang berisi air yang telah diberi pewangi itu dan membasuhnya dengan lembut. "Hum… anda terkena kutukan saat ada misi di real world bersama Byakuya-sama. Sejak saat itu tingkah laku anda menjadi sangat aneh dan Byakuya-sama sangat mencemaskan keadaan anda," katanya.
"Kau yakin bahwa nii-sama begitu mencemaskanku?" tanya Rukia setengah tak percaya.
Rie mengangguk dalam. "Walaupun Byakuya-sama sangat dingin pada anda, namun sebenarnya dia adalah sosok yang memiliki hati yang lembut." Rukia terdiam. "Anda tahu bahwa Byakuya sama telah mengorbankan nyawanya untuk mencari arwah yang mengutuk nona selama 3 hari. Sungguh saya sangat berterimakasih karena beliau pulang dalam keadaan selamat walaupun dengan sedikit luka."
"Benarkah itu?" tanya Rukia lirih yang dijawab dengan anggukan Rie. "Dimana dia sekarang? Aku ingin menemuinya," lanjutnya.
"Byakuya sama sedang berada di ruangannya, Rukia-sama," jawabnya.
.
.
Byakuya sedang mengaduk ramuan teh hijaunya pagi itu. Ia merasa dejavu dengan keadaan ini. Sinar mentari pagi yang hangat itu sedikit mengurangi hawa dingin yang mulai berhembus di awal musim gugur ini. Ia menyesap teh nya, mencoba mencari kehangatan dari cairan berwarna hijau itu yang kini sedikit demi sedikit mengalir melewati kerongkongannya.
Tok… tok… tok…
"Byakuya-sama… Rukia-sama ingin menemui anda," kata seorang pelayan dari balik pintu.
"Hn… suruh dia masuk," katanya dingin.
Sreeek… Rukia membuka pintu geser itu dan kemudian duduk di ambang pintu. "Ni-sama," sapanya lirih.
Byakuya hanya meliriknya dari sudut matanya. Hal itu membuat Rukia sedikit sungkan dan takut. Perubahan raut wajah Rukia yang jelas itu membuat hati Byakuya sedikit teriris. Ia menatap Rukia dengan wajah stoicnya. "Masuklah, Rukia!" katanya kemudian.
"Ha-hai, nii-sama," katanya gugup. Ia kini menggunakan sebuah furisode berwarna kuning dengan hiasan bunga lili berwarna orange yang sangat cantik. Ia duduk di hadapan Byakuya dengan pandangan menunduk. "Nii-sama… aku ingin mengucapkan terima kasih," lanjutnya dengan sedikit terbata.
Byakuya mengernyitkan keningnya dan kemudian membuang pandangannya pada daun-daun yang berguguran dari tangkainya. "Kau ingin jalan-jalan, Rukia? Hari ini cukup cerah," katanya datar.
"Nii-sama?" kata Rukia meminta penegasan. Ia merasa tidak yakin dengan perkataan Byakuya itu.
Byakuya kemudian berdiri. "Ayo kita keluar!" katanya sambil berjalan menuju salah satu taman mungil yang ada di kediaman Kuchiki tersebut.
"Ah… baik nii-sama," jawab Rukia seraya mengikuti langkah-langkah Byakuya menuju taman.
Byakuya dan Rukia kini sedang berjalan di salah satu jembatan mungil yang dibawahnya terdapat sungai buatan yang jernih. Byakuya menghentikan langkahnya sejenak, menundukkan pandangannya pada gemericik air yang mengalir dengan tenang itu. "Apa kau bahagia, Rukia?" tanya Byakuya tiba-tiba.
"Nii… nii-sama, apa maksudmu?" tanya Rukia balik dengan sedikit gugup. Ia tidak berani memandang wajah Byakuya.
"Sejak kau tinggal di keluarga Kuchiki," lanjut Byakuya.
Rukia terdiam. Ia bimbang. Apa yang harus ia katakan saat ini? Apakah ia harus jujur bahwa sesungguhnya selama 40 tahun ini, ia merasa terkekang? Menjadi keluarga bangsawan secara tiba-tiba, mengikuti semua peraturan-peraturan yang sungguh memuakkan. Haruskah ia mengatakan semua itu? Bagaimana perasaan Byakuya bila ia melakukannya?
"Ya… aku cukup bahagia, nii-sama," jawabnya ragu.
"Maaf, Rukia," ujar Byakuya lirih tanpa memandang Rukia. Bagi orang sedingin dia, mengucapkan kata maaf memerlukan perjuangan yang cukup besar.
"Nii-sama?"
Byakuya menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba memantapkan hati untuk menyatakan semua rasa penyesalannya. "Maaf telah memintamu menjadi keluarga Kuchiki."
"…"
"Maaf karena telah mengambil semua kebahagiaanmu, senyumanmu, dan semuanya."
"…"
"Maaf karena telah mengekangmu selama 40 tahun ini."
"…" Rukia masih terdiam namun bulir-bulir air mata berjatuhan dari pelupuk matanya. Ia menggigit bibir bawahnya yang bergetar, mencegah agar suara tangisnya tidak pecah.
"Maaf karena selama ini aku tidak menjadi seorang kakak yang baik, dan maaf karena telah membuatmu menangis dalam diam."
"Nii-sama, aku tidak pernah menyalahkanmu," kata Rukia dengan nada bergetar. "Terima kasih. Terima kasih banyak atas semua yang telah engkau lakukan padaku, ni-sama," lanjutnya sambil mencengkeram kerah furisodenya dengan kedua tangannya.
Grep! Rukia terbelalak kaget ketika kedua tangan Byakuya meraih tubuh mungilnya ke dalam pelukannya. "Ni-nii sama?"
"Terima kasih, Rukia. Byakuya mempererat pelukannya hingga tangisan Rukia sedikit mereda.
"…"
" Berjanjilah padaku," bisik Byakuya. "Jangan pernah menangis!"
"…"
Byakuya melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuhnya. "Carilah kebahagianmu! Apapun itu," bisiknya pelan dan kemudian berjalan kembali menuju manshion dengan perasaan lega, meninggalkan Rukia yang masih melelehkan air mata haru.
Rukia memandang punggung Byakuya yang semakin menjauh dengan tersenyum. Senyuman yang tulus dari dalam lubuk hatinya. "Arigato. Arigato gozaimasu… Byakuya nii-sama," ujarnya lirih sambil menyeka sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
.
.
'Jadi Byakuu, apakah kau telah melakukannya?' tanya Senbonzakura dari dalam inner world. Ia kini sedang duduk di atas dahan pohon sakura sambil mengamati kelopak merah muda itu berhamburan di terbangkan angin. Perasaannya yang ngambek kepada Byakuya kemarin sudah menguap seiring dengan hatinya yang telah menerima kenyataan bahwa Shirayuki lebih memilih Hyourinmaru dibandingkan dirinya.
"…"
'Aku bangga padamu Byakuu walaupun aku tidak melihatnya tapi aku tahu bahwa kau telah melakukan hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk kebahagiaannya.'
'…'
'Hei… Byakuu, aku tadi gak ngintip loh. Aku menghormati privasimu jadi aku tadi pergi sebentar.'
Senbonzakura kemudian terdiam. Ia merasa sia-sia saja berbicara dengan masternya di saat perasaannya masih galau seperti itu. Ia menunggu dengan muka sedikit cemberut… ya menunggu kata-kata yang terlontar dari mulut Byakuya hingga kemudian…
'Sen-chan!' panggil Byakuya kemudian yang membuat Senbonzakura menjawab panggilan itu dengan wajah yang kembali ceria. Ia menghentikan aktivitas menulis kaligrafi yang rutin ia lakukan setiap pagi lalu memandang ke luar ruangan pada kelopak-kelopak bunga yang mulai berguguran dan diterbangkan oleh angin. 'Terima kasih.'
'Hum… tentu saja,' jawab Senbonzakura ceria.
'Jadi bagaimana dengan kisahmu?' tanya Byakuya tiba-tiba sambil meneruskan kembali menulis kaligrafi yang tadi sempat tertunda.
'Kisah apa?' tanya Senbonzakura balik.
Byakuya tersenyum. 'Jangan kau kira aku tidak tahu tentang cinta segitigamu itu antara kau, Sode no Shirayuki dan Hyourinmaru,' katanya. Senbonzakura terdiam, tatapannya terlihat menerawang ke langit yang biru. 'Sen-chan!' panggil Byakuya.
'Kurasa aku harus melepaskannya,' ujarnya masih dengan menatap langit bertabur awan tipis di dalam inner worldnya.
'Apa maksudmu? Kau menyerah?' tanya Byakuya penasaran. 'Sulit dipercaya.'
Senbonzakura tersenyum. 'Byakuu… tidak selamanya cinta harus memiliki, bukan?' tanyanya yang lebih tepat sebagai sebuah pernyataan dibandingkan pertanyaan.
'Kau benar, Sen-chan,' sahut Byakuya dan kemudian keduanya terdiam, terlarut dalam pikirannya masing-masing.
Tok… tok… tok…
Bunyi ketukan pintu itu membuat Byakuya kembali menhentikan aktifitas menulis kaligrafinya. "Masuk!" perintahnya lalu melanjutkan kembali mengaduk adonan tinta dalam guci kecil tanpa memandang ke arah pintu.
"Byakuya-sama, ada paket untuk anda," kata seorang pelayan sambil menyodorkan sebuah amplop coklat dengan ukuran yang cukup besar.
"Hn," jawab Byakuya singkat dan kemudian pelayan itu pergi setelah menutup pintu geser ruangan Byakuya.
'Byakuu… gue boleh keluar gak? Bosen di dalam terus, gue pengen cari udara segar nih,' kata Senbonzakura setengah memohon.
'Sesuka loe aja deh,' jawab Byakuya. Ribuan kelopak bunga sakura berwarna merah muda berhamburan di kamar Byakuya, mengumpul menjadi satu dan termaterialisasi menjadi sosok Senbonzakura.
Senbonzakura menggeliat, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. "Uwaaa… akhirnya!" ujarnya lega. "Eh apaan nih?" Ia mengambil paket yang tadi di kirimkan oleh pelayan untuk Byakuya.
"Halah… paling-paling juga gak penting amat kok," kata Byakuya dengan sedikit enggan.
"Boleh gue buka?" pinta Senbonzakura sambil mendudukkan dirinya di depan Byakuya.
Byakuya mengangkat kedua bahunya. "Terserah," katanya yang memiliki arti sebuah persetujuan.
Senbonzakura melepaskan tali yang mengikat amplop itu. Ia mengeluarkan paket itu yang ternyata sebuah buku. "Hnnn…" Senbonzakura membuka lembar demi lembar buku yang ternyata majalah itu. 'Majalah Shinigami Terbaru?' batinnya penasaran sambil terus membukanya hingga ia menemukan berbagai macam pose yang membuat matanya terbelalak lebar. Glek…! Senbonzakura menelan ludahnya dengan susah payah… ketika di dalamnya tertulis sebuah iklan tentang perjalanan sang taichou selama ini yang dibuat dalam bentuk film. Semua tiket sudah tersebar dan terjuat habis dalam waktu 1 jam setelah loket karcis dibuka. Film akan di putar dua hari lagi dan mendapat dukungan penuh dari Soutaichou. Ini berarti tidak ada seorang pun yang bisa membatalkannya. Ia menatap Byakuya dengan tangan bergetar.
Byakuya meletakkan kuas dan menatap lekat-lekat pada hasil karya kaligrafinya. Merasa bosan ia pun mengalihkan pandangannya kepada Senbonzakura. "Loe kenapa, Sen-chan?"
Glek…! Lagi-lagi Senbonzakura harus berjuang sekuat tenaga. Bibirnya terasa sangat kering, seolah-olah semua cairan tubuhnya menguap entah kemana.
"Apa itu?" Byakuya menanyakan tentang paket kiriman yang berada di tangan Senbonzakura yang dengan secepat kilat menutupnya dan mendekapnya erat-erat di dada.
"Ti-tidak. Bukan apa-apa, kok," jawabnya dengan pandangan menunduk, tidak berani menatap wajah Byakuya yang kini mendekatinya.
Byakuya mengangkat dagu Senbonzakura. "Berikan padaku!" perintahnya dingin.
"Uugh!" Senbonzakura memalingkan wajahnya. "Tidak!" tolaknya. "Demi kebaikanmu, aku tidak akan pernah memberikan benda laknat ini!" lanjutnya dengan tubuh gemetaran.
Byakuya memicingkan matanya. "Laknat?" katanya dan dengan secepat kilat Byakuya telah berhasil merebut majalah itu dari tangan Senbonzakura. Ia berdiri dan kemudian berjalan kea rah berlawanan hingga langkahnya terhenti karena ujung kimononya ditarik oleh Senbonzakura yang masih dalam posisi terduduk.
"Jangan Byakuu. Kumohon, jangan pernah membacanya!" pintanya. Byakuya menghentakkan kakinya, membuat cengkeraman Senbonzakura terlepas. "Byakuuu!" panggil Senbonzakura, nadanya diliputi rasa kekhawatiran tingkat tinggi akan keselamatan jiwa Byakuya.
Byakuya memulai membuka lembar demi lembar majalah itu. Tangannya mencengkeram erat pada kertas majalah hingga membuatnya kusut. "Ti-dak… mung-kin," katanya dengan nada terbata dan nafas terputus-putus. Byakuya merasa tubuhnya menjadi ringan dan semuanya terasa gelap di matanya.
BRUK!!!
"Bya-Byakuuuu! Kumohon, jangan mati Byakuu!" jerit Senbonzakura penuh kekhawatiran sambil menguncang-guncang tubuh Byakuya yang kini terbaring tak sadarkan diri.
.
T H E END
.
Shinigami Corner
Yip… Yip hurray! Fiuuuh (menyeka keringat yang super bau)… Akhirnya satu fic multichapter ini berakhir juga dan seperti biasa… alur yang sangat lambat sekali. Kebiasaan sih menulis deskripsi yang berbelit-belit, gak puas rasanya kalau gak menuliskan sedetail mungkin hehehe *ditimpuk* Ah maaf kalau ritualnya gaje banget, udah kehabisan ide n gak bisa bikin supernatural yang bagus dan malah bikin ritual ala mbah dukun kayak di sinetron… mantranya juga ngarang abis kok hadoooh.
Oh iya dialog Byakuu n Sen-chan bahasanya campur-campur. Iya… kadang saya pake bahasa aku-kamu agar perasaan Byakuya n Sen-chan lebih terasa feel-nya. Coz kalau pake bahasa gue-elu ntar malah jadi aneh. Gituuuuu… btw kok aku ngerasa Sen-chan dewasa banget ya? hahaha- tapi lebih sering childishnya kumat abis. Kalau dewasa ya dewasa banget tapi kalau lagi childish juga sama parahnya.
Ini adalah satu-satunya chapter dalam fic ini yang aku tulis dengan sedikit perasaan(?), biasanya aku langsung menuliskan apa yang terlintas di otak tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Ending memang bagian tersulit, karena harus menuliskan penyelesaian dari semua konflik… huff.
Sejujurnya dalam fic ini aku lebih menyukai adegan SenByaku-nya daripada ByaRuki atau yang laen hohoho… tapi mereka kan gak lebih dari sekedar master-zanpakutou, ya… walaupun penyakit master-zanpakutou complex yang menyerang mereka kian hari kian parah aja (geleng-geleng). Walau demikian… saya ttetap mengucapkan terima kasih kepada para author yang telah membuat fic ber-pairing ByaRuki karena telah menjadi inspirasi saya… (mengatupkan kedua tangan di dada n membungkuk hormat ala orang china)
Rukia : Akhirnya gue bangun juga. Kenapa sih peranku tidur mulu? Mana author note loe panjang bener (nunjuk-nunjuk ke atas)
naOmi : skenarionya gitu sih… Oh iya kayaknya gue pengen bikin sekuelnya deh, soalnya banyak adegan yang terlewatkan... apalagi ending fic ini agak menggantung. Nah… bagaimana pendapat kalian? Sen-chan, Byakuu? Bukankah adegan di inner world itu terlihat cukup… so sweet?
Senbonzakura : (ngelirik Byakuu)
Byakuya : Ogah… (membuang muka ke tempat sampah *?*) Kenapa nanya gue? Halaaah… loe aja gak becus bikin fic, masa genrenya campur aduk kayak gini sih? Fic yang laen juga sama kan?
naOmi : itulah hidup Byakuu. Tidak selamanya hidup itu hanya penuh dengan rasa suka. Duka, senang, susah, hidup, mati, rasa kehilangan, cemburu, ambisi, cinta dan benci… setiap orang pasti akan merasakannya, hanya waktunya yang berbeda-beda. Makanya aku pengen menuliskannya dalam kehidupanmu dan Sen-chan.
Byakuya : halaah… sok ngeles segala.
naOmi : *cemberut* abis gue pengen bikin pairing SenByaku dalam fic tersendiri gituuu. Dalam fic ini perjuanganmu buat Sen-chan dan sebaliknya belum terkuak. Kalian kan master dan zanpakutou yang saling protektif dan memahami satu sama laen.
Byakuya : Perjuangan apaan?
naOmi : perjuangan loe bisa dapet ntu makanan aneh, truz perjalanan loe keliling jaman, bla…bla…bla… (berkicau layaknya burung kenari)
Byakuya : jawaban yang gak logis.
naOmi : masa bodoh! Gue udah terlanjur cinta ama nih pairing sejak bikin ni fic. Gue juga udah nemuin judulnya, tinggal ditulis aja chapter pertama, tapi gak tau kapan bakal release.
Byakuya : (komat-kamit) Semoga gak bakalan release! Amieeen!
naOmi : Bodo amat weeeek. Gue mau ngebales repiu yang masuk dulu deh. Pertama dari MikiDaCAT… yooo Byakuu emang super narcis (ngelirik Byakuu yang lagi pake bedak n maskara *?*)
Hyourinmaru : lalu dari Ruki_ya. Uwaaa makasih atas dukungannya. Iya ini dah apdet!
Rangiku : Huwaaahahaha… cumamojadi'reader' ternyata gak sabar pengen liat foto nista Byakuu. Ntu udah ada tuh reaksinya, tapi maap kalo gaje bener nulisnya. Hiyaaa makasih banyak.
Shirayuki : Ndak papa kok BinBin-Mayen. Kuchiki, walah ntu author kalo mo repiu lewat hape gagal teruz, makanya dia kalo repiu cuman pas ke warnet doang. Maklum… dia kere sih, kagak punya lepi n modem.
naOmi : jangan buka aib gueeee!!!! *sewot mode on* Itu juga gara-gara maling laknat bin sial yang nyomot laptop tercinta gue… hiks3x aku kangen banget *curhat mode on*
Hitsu : Sabar neng! Selanjutnya dari Jess Kuchiki, cih… fukutaichou durhaka itu emang musti dijadiin es serut. Masa gue gak dipeduliin sih? *deathglare ke Matsumoto*
naOmi : dari kishina nadeshiko. Ah benarkah? Huwaaaa arigato gozaimasu, saya akan bikin sekuelnya (masih dalam tahap rencana) kalau saya lagi gak sibuk. Hidup SenByaku! SenByaku! *ngibarin bendera n nyalain kembang api disiang bolong?* Mwahahahaha….
Byakuya : (sweatdrop)… OrGil keluaran baru sudah release! Selanjutnya dari shena blitz… maap chapter terakhir apdetnya telat bener (bungkuk2). Namanya juga kucing, mau digimanain juga tetep kucing kan? *ngelirik Haineko*
Haineko : (angguk2 n garuk2 telinga pake kaki kiri *?*) Meeoww lalu dari Mizu_kun iya udah ketahuan jadian ma siapa. Okeee… ntar bakalan diupdate kok fic yang laen, ntah kenapa author lagi seneng nerusin ni fic dulu…. Meow(?)
Senbonzakura : dari Kuchiki-Rukia-taichou, hahaha… akhirnya gue baikan ama Byakuu. Tapiii… kenapa Shira jadian ma Hyou? Gue gak rela! Gak rela! *mewek n ngesot-ngesot*
Byakuya : (nyeret Sen-chan n ngunci di kamar) Dasar malu-maluin masternya aja! Dari Mayonakano Shadow Girl, jelaslah gue kan keren gitu loh. Hebat kan aksi gue nyelamatin Sen-chan? *narcis tingkat tinggi*
Shirayuki : lalu dari rabichankawaii. na Maapkan daku, IchiRuki nya kagak muncul, saya bingung kalo naruh mereka, ntar takutnya malah jadi kian melebar n ga jadi mencapai kata "The End" Maap… (bungkuk-bungkuk)
naOmi : dari DiLLa-SaGi yang malez login, hah? Beneran mau ngasih saya gambar Byakuu? Iyaaa arigato gozaimasu, nanti alamat fb-mu kirim aja lewat pm ke saya, ntar saya add deh. Beneran nih loh gambarnya? *ngarep banget n ngiler berat*
Byakuya : NOOOOOO!!! *stress tingkat berat, guling-guling truz terjun ke laut*
naOmi : (nyeret Byakuu dari laut) Loe gak boleh mati! Gak boleh! Kontrak kerja loe ma gue masih panjang! *nodongin sumpit -?-*
Shirayuki : dari D31-ryuuken Hakuryuu. Ah benarkah? Gak apa kok telat, kita kan juga sama hahaha *digampar author laen* Karena repiumu berjibun banyaknya, jangan bilang ntu balas dendam ya truz nulis banyak gitu hehehe… Ini sudah apdet, terima kasih banyak.
Hyourinamru : terakhir dari Toshihiro Fumi,Um iya… di animenya Haineko emang manggil Matsumoto dengan sebutan "nenek" gituuu… Ah benarkah menykai sen-chan? Makasih banyak. Lalu tentang Hiten Mitsurugi rencananya mau aku ceritakan dalam sekuelnya –yaa kalo saya gak terlalu repot dengan waktunya- Insya Allah akan saya buat. Terima kasih repiunya
Hitsu : Walah… akhirnya selesai juga nih, ucapan terima kasih juga kepada MaskicHy. ZaoLdyEcK, Nanakizawa l'Noche, Vi. D. Z, Rin Primula Bernkastel, yuinayuki-chan, Ni- chan d' Sora Yuki, Raeru Nikaido, Byabun Kuchiki, Quinsi Vinsis, Hikari Kinomoto, chariot330, tuan tak bernama, dan KuroShiro6yh atas repiu dan dukungannya pada author nan gak jelas itu. Arigatooo gozaimasu!!!
naOmi : Sebagai penutup acara, mari kita potong kue!!! *hasil nyolong dari toko kue* dan saya mohon repiu lagi untuk chapter terakhir ini. Ehm… test-test (nyiapin microphone)
~ ~ from the bottom of your heart please your review for this last chapter ~ ~
' Xie Xie '
