Blank Letter
By : Mizu Kanata
Disclaimer : Mashashi Kisimoto
Chapter 10 : The Last Letter
Sepasang iris hazel menatap nanar surat kosong di hadapannya –surat yang Sakura pegang dan belum sempat mereka sobek. Surat putih bersih yang sama sekali tampak tak berdosa, dan entah bagaimana caranya telah menelan banyak korban. Gadis itu menghembuskan napas pelan, sementara sepasang iris lavender tidak lepas memperhatikannya.
"Aku tidak percaya Ayane adalah satu korban dari 3 murid tadi," kata Tenten. "Dan Neji, 1 korban lagi, KHS dalam bencana…" Tenten menolehkan kepalanya menatap Neji.
"Hn, jangan sampai kita lengah besok."
Sakura, Yumi, Kana, Mirano, Ino, Shizuka, Hinata, Himeko, Yuna, Ayane, Fuyuki, Narisa.
12 korban, dan 1 murid akan jadi korban besok…
…
Keesokan harinya, festival sekolah…
Konoha High School yang megah telah dipadati banyak orang. Sore itu warga sekitar dan murid-murid –baik murid KHS maupun murid sekolah lain, telah bercampur baur menjadi satu. Murid luar sekolah ataupun warga sekitar yang belum pernah melihat festival KHS sebelumnya, langsung bergumam betapa luar biasanya sekolah ini.
Beberapa ruang kelas telah disulap menjadi kafe dan arena hiburan seperti rumah hantu. Lapangan yang sebelumnya polos telah didekorasi menjadi berbagai stand. Sementara auditorium sekolah, menjadi titik pusat utama dari festival, dimana beberapa pertunjukkan akan ditunjukkan disana. Para panitia tersenyum ramah pada semua orang.
Semuanya terlihat benar-benar normal, hanya sebuah festival sekolah, dan tidak ada yang tahu kalau mereka sedang diawasi…
Tenten menatap lantai auditorium dengan gugup, gaun abu-abu selutut membalut tubuh kecilnya. Tanpa riasan apapun, gadis itu terlihat manis. Serasi, Neji mengenakan setelan jas abu-abu yang tentunya membuat semua anak perempuan terkesima. Shizune yang menyiapkan pakaian untuk mereka. "Abu-abu, warna yang tidak mencolok, tidak menarik perhatian orang."
Satu-satunya yang membedakan murid KHS dari orang luar adalah pakaian resmi mereka, gaun dan jas. Setelah festival selesai, akan ada pesta dansa yang sekaligus menjadi perayaan terakhir kelas 12 sebelum kelulusan.
Jiraiya masih berusaha mengirim dirinya ke dunia ilusi. Semantara tugas dari 4 orang lainnya adalah mencegah 1 murid perempuan terakhir masuk dalam jebakan. Shizune mengontrol keadaan di beberapa kelas, Kakashi bertugas di pintu masuk dan lapangan, tentunya dengan menyamar. Lalu, disinilah mereka –Neji dan Tenten, mengawasi auditorium.
Tenten menarik nafas panjang dan mengangguk pada Neji. Mereka berjalan berdampingan, Tenten segera memasang wajah cerianya, dan Neji tetap dengan wajah datarnya. Tapi, mata mereka tetap waspada, berjalan pelan sambil memperhatikan keceriaan yang ada di sekeliling mereka.
Sejauh ini, tidak ada murid yang sendirian…
"Huwa… Neji-kun lagi-lagi bersama anak itu."
"Jangan-jangan mereka… pacaran."
"Tidak, aku tidak rela!"
Bisik-bisik yang cukup keras itu terdengar saat mereka melewati kumpulan anak perempuan. Tenten yang mendengarnya segera memberi tatapan tajam pada gadis-gadis itu, walaupun ia merasakan pipinya sedikit memanas.
"Ah… kenapa Neji harus bersama cewek dari klub karate itu sih!"
Ya, walaupun mereka iri, mereka tidak akan pernah berani melawan Tenten.
Neji segera menyikut lengan gadis itu dan menggandengnya. Tenten mengernyit dan melayangkan pandangan pada Neji. Neji mendekatkan kepalanya ke telinga Tenten.
"Mereka sangat berisik, aku muak," bisiknya pada Tenten, tanpa terdengar yang lain.
Gadis-gadis itu segera melongo dan menatap tidak percaya pada mereka berdua.
"Baiklah, Neji-kun, ayo kita pergi dari sini." Tenten segera melanjutkan drama mereka dan tersenyum manis pada gadis-gadis itu.
…
Jam demi jam berlalu, warga sekitar dan anak sekolah yang sekedar menonton, sebagian besar telah meninggalkan gedung. Acara penutup mereka baru saja selesai setengah jam yang lalu. Panitia yang semula tersebar di berbagai ruangan, mulai berkumpul di auditorium. Pesta dansa akan dimulai tepat jam 9 malam ini.
Neji dan Tenten melihat sekeliling mereka, menemukan Kakashi yang menyamar sedang bersandar di dinding. Dan sekarang Shizune tentunya sudah ada di asrama perempuan, berjaga-jaga jika ada siswi yang sendirian.
Tenten kembali mengedarkan pandangannya, menatap khawatir pada Naruto yang sedang menyesap segelas jus. Pemuda berambut jabrik itu hanya sendirian, jika Hinata tidak menjadi korban, jelas-jelas mereka akan bersama. Dalam sekejap, pandangan mereka bertemu. Naruto segera menolehkan wajahnya dan pergi menjauh.
"Dansa?" Neji mengulurkan tangannya.
Ternyata dari tadi musik sudah dimulai, dan orang-orang di sekeliling mereka sedang berdansa, Tenten tidak menyadarinya.
"Tapi, kita kan…"
"Kita berada di tengah-tengah Ten, semua orang berdansa. Tapi ingat tugas kita, tetap fokus."
Neji meraih tangannya. Tenten diam saja, ia tidak mengerti apapun dalam berdansa. Tahun lalu, Tenten hanya melihat saja. Bukan tidak ada yang mengajaknya, tapi ia memang tidak mau. Sekarang lain lagi, keadaannya berbeda… ini demi, sekolah mereka.
Sambil berpegangan tangan, Tenten mengikuti irama Neji. Semua orang larut dalam dansa itu, kecuali mereka berdua. Sambil berputar, mata mereka terus mengawasi sekeliling. Dan terlihat Kakashi sedang bersama anak perempuan yang sendirian.
Neji dan Tenten menghentikan dansa mereka. Murid perempuan yang tampak tidak memiliki pasangan dansa, meninggalkan auditorium… Tenten melepaskan genggaman tangan Neji dan memberi tatapan sekilas padanya.
Tenten berlari menghampiri gadis itu, "Hey, kau mau kemana?"
Gadis itu menolehkan kepalanya pada Tenten.
'Sial! Dia salah satu gadis yang berbisik tentangku dan Neji tadi!' umpat Tenten dalam hati.
"Apa urusanmu?" tanya gadis itu.
"Ti-tidak, aku hanya… kupikir sepertinya kau patah hati. Aku merasa bersalah," kata Tenten bohong.
"Oh, bagus sekali kau masih punya rasa bersalah," jawabnya ketus, tapi masih ada rasa takut terpancar di matanya.
'Sungguh, jika ini bukan tugasku, aku tak kan mau bahkan sekedar mendekatinya!' umpatnya lagi, jengkel.
"Yuki! Kau benar-benar licik!" Tiba-tiba saja gadis itu berlari pada salah satu temannya yang sedang berduaan dengan Neji.
Sepertinya tadi gadis ini dan anak bernama Yuki itu berpisah, Tenten mengejar gadis ini, dan Neji gadis satunya. Tapi sepertinya Neji lebih sial darinya, pikir Tenten.
Sebelum Tenten menolong Neji yang sedang kewalahan dengan dua gadis itu. Ia melihat seorang gadis keluar sendirian melalui pintu besar auditorium. Tenten mempercepat langkahnya.
"Kenapa kau sendirian?" tanya Tenten di sebelah gadis itu.
"Ah, aku hanya ingin kembali ke asrama. Aku merasa sedikit pusing," kata gadis itu.
"Biar kuantar," kata Tenten.
"Ti-tidak usah."
"Tidak apa-apa kok," Tenten tersenyum.
Mereka berjalan dalam kegelapan begitu keluar dari auditorium yang terang. Terus berjalan dalam hening...
"Sudah sampai," kata Tenten, melihat Shizune mengedipkan sebelah matanya di salah satu kursi asrama.
"Terimakasih."
Tenten tersenyum lega sambil membalikkan tubuhnya. Ia melewati gerbang asrama yang gelap. Matanya yang tetap waspada tiba-tiba menemukan sesuatu… surat itu!
Napasnya tercekat dan jantungnya berdegup cepat. Biasanya Neji yang selalu merobek surat itu. Sekarang ia, sendirian…
'Tidak, aku harus berani merobeknya!'
Tapi, bahkan sebelum Tenten mendekat, surat itu melayang ke arahnya. Gadis itu berusaha berlari, tapi rasanya kaki Tenten tidak bisa digerakkan. Perlahan, surat itu membuka, menampilkan tulisan dari tinta hitam.
KAU TERLALU BANYAK TAHU.
Tulisan itu berputar dan berubah menjadi awan hitam. Dan Tenten menyadari, kalau surat terakhir adalah untuknya. Tapi, ia tidak boleh terperangkap! Tenten melindungi tubuhnya menggunakan tangan, sebuah perlawanan tak berarti. Karena dengan cepat awan hitam menyergap kesadarannya.
Wah, kayaknya chapter ini lebih banyak diksi daripada dialog, hehe...
Dan soal genre, fic ini tetap Mystery/Frienship, tapi Romance selalu terselip.
Mungkin chapter 11 jadi yang terakhir, tunggu ya!
