Hi! Maaf, lama updatenya. Writer's blockku mangkin parah! Saya nggak mau banyak bacot, jadi inilah chapter selanjutnya.

Warning: Slight bit of OOCness, yaoi, gore, typos and misstypos, gaje, dan bahasa.

Disclaimer: Sampai kiamat dunia pun, Hetalia milik Mas Hidekaz.

Edit: Saya membuat sedikit perubahan, karena ada beberapa hal yang salah. Ga ada perubahan ke ceritanya, sih, jadi bagi yang udah baca... just ignore it.

S'lamat menikmati!


Chapter 9

6th victim: A god damned brat.

Di suatu apartemen di Italia...

Peter tertidur lelap ketika suatu perasaan membuatnya tiba-tiba terbangun. Dia merasa seuatu terjadi pada kakaknya itu. Ya, mereka sering berantem, tapi yang namanya kakak-adik, kan walau sering berantem juga tetap saling sayang. Peter sebenarnya sekarang mau pergi ke rumahnya Feliciano, tapi masih sedikit ragu akan keputusan itu. Ia memutuskan untuk kembali tidur, dan melupakan perasaan tidak enak itu.

Tapi, anehnya ia tetap tidak bisa tidur. Perasaan bahwa sesuatu telah terjadi pada kakaknya, walau ia mencoba melupakannya, tetap tidak bisa tersingkir. Akhirnya, karena tidak tahan lagi, ia akhirnya pergi ke rumahnya Feliciano.


Kembali ke rumahnya Vargas bersaudara.

Alfred mendudukan Arthur di kursi ruang tamu (akhirnya mereka dapat sampai di ruang tamu. Dalam 'perjalanan' mereka, Arthur memegang lengan bajunya Alfred dengan erat), dan segera pergi ke dapur untuk mengambil kotak P3Knya Feliciano (anehnya mereka menaruhnya di ruang dapur)

Setelah kembali dari dapur, Alfred langsung mengobati luka-lukanya Arthur. Ternyata, lukanya parah juga. Banyak luka sayatan di tangan dan kakinya, tapi ada juga luka tusukan yang lumayan dalam di dadanya.

Tap tap tap

Alfred dapat mendengar suara langkah kaki dari tangga. Langkah itu pun terdengar mangkin cepat, sampai akhirnya terdengar seperti orang yang sedang berlari, bukannya jalan.

Dan tiba-tiba suara langkah itu tidak terdengar lagi.

"Alfred!"

Seseorang terdengar memanggil dia. Suara itu terdengar familiar. Bukan suaranya Matthew, tapi. Dan suara langkah itu terdengar lagi, kali ini dari arah suara itu tadi berasal, lorong yang menuju ke ruang tamu dari pintu depan rumah.

Tap tap tap

Suara melangkah itu pun mangkin cepat, tapi bukannya mendekat malah menjauh.

Di saat yang bersamaan, Peter sudah mendekati rumahnya Feliciano. Malah, ia sudah berada di depaan gerbangnya. Peter membuka gerbang rumahnya Feliciano. Aneh, tidak dikunci.

Setahu dia, kalau seseorang menjalankan investigasi paranormal, gerbang atau jalan keluar dari manapun dikunci. Tapi, ia tetap memasuki rumah itu. Setelah berada di halaman depan rumah, tiba-tiba udara di sekitarnya dingin. Bahkan, Peter dapat melihat napasnya sendiri. Dan gerbang rumah tertutup dengan sendirinya. Peter langsung menoleh ke belakang, tapi tidak ada apa-apa.

Seseorang, atau bisa saya bilang sesuatu mendekap dia dari belakang.

Peter spontan langsung mencoba memberontak, tapi tidak bisa. Bagaimana bisa kalau yang mendekapnya itu Gilbert, memegang pisau yang siap untuk membunuh Peter.

"Tch... du schweigst, grundlegende ... NOCH!" Kata Gilbert, tapi Peter tidak mengerti.

"Sein Bruder Arthur, huh? Du schläfst, mein Sohn. Guten Abend" Kata Gilbert, dingin, dan ia langsung menyayat lehernya Peter, yang membuatnya mati seketika. Gilbert langsung melepas pegangannya pada tubuhnya Peter, dan membiarkan tubuhnya jatuh ke tanah. Darah keluar dari lukanya Peter dengan deras, seperti air terjun, membuat seringainya Gilbert yang tadi sudah lebar, lebih lebar lagi. Dan tiba-tiba, ia langsung ketawa.

"Hahahahahaha, töten keine Menschen nie gedacht, es fühlte sich so gut!" kata Gilbert, dan dengan itu ia langsung menghilang, membiarkan jasadnya Peter terbaring di tempatnya.


Sekarang ke rumahnya Alfred.

"Eh, jadi maksudnya..." Dwi tanya, setelah mendengar penjelasan dari Kiku mengenai kalimat yang ia telah temukan di buku yang ditemukan Yao.

"Berspekulasi jangan terlalu cepat, mana tahu itu cuma tulisan, dan bukan kutukan," kata Van Houten kepada mereka bertiga.

"Dom! Al weet als dit, ja het is zeker een vloek, lah! Waar mogelijk, niet?" kata Dwi, tiba-tiba dalam bahasa Belanda. Dia langsung menutup mulutnya dengan tangannya ketika menyadari hal itu.

"Yao-san, tadi kamu temukan bukunya di mana?" tanya Kiku pada Yao.

"Umm... di kamarnya Alfred. Kenapa," jawab Yao.

"Kita lakukan saja sesi EVP di sana. Bagaimana?" balas Kiku.

"Ya, sudah, tapi hanya dua orang saja yang boleh pergi," kata Yao.

"Kami saja yang pergi," kata Van Houten, dan langsung dipukul oleh Dwi.

"SIAPA BILANG AKU MAU?" teriak Dwi, tapi Van Houten langsung menyeret Dwi pergi. Yao dan Kiku mendengar Dwi mengatakan sesuatu dalam bahasa Belanda yang terdengar seperti "Basic hond"

"ARG!"

Terdengar suara seseorang dari lantai dua. Suara itu terdengar seperti suaranya Elizabetha. Yao dan Kiku pun langsung bergegas ke atas.

-Bersambung(to be continiued)-


Maaf chapter ini pendek banget, maaf nggak jelas, maaf membuat Anda menunggu BEGITU lama, tapi hasilnya Cuma kayak gini, maaf Author banyak bacot, maaf-PLAK-

Hajar saya sampai mati karena membuat Anda menunggu BEGITU lama, tapi hasilnya malah PENDEK, GAJE, dan JAUH dari memuaskan...*pundung di pojok kamarnya Author*

Huuu... writer's blocknya Author mangkin parah, ga ada inspirasi...

Yaks, karena ada bahasa asingnya, inilah translationnya:

German terms:

Tch... du schweigst, grundlegende ... NOCH! tch diam kau, dasar...DIAM!

Sein Bruder Arthur, huh? Du schläfst, mein Sohn. Guten Abend~=Adiknya Arthur, ya? Kau tidur dulu, ya nak. Selamat malam. (dalam hal ini, maksudnya Author menulis "nak" itu sebagai sapaan. Kan, Peter masih kecil)

Hahahahahaha, töten keine Menschen nie gedacht, es fühlte sich so gut!=Hahahahahaha, nggak nyangka bunuh orang rasanya seenak ini!

Dutch terms:

Dom! Al weet als dit, ja het is zeker een vloek, lah! Waar mogelijk, niet? BEGO! Udah tau kayak gini, ya sudah pasti kutukan, lah! mana mungkin, nggak?

Basic hond=Dasar anjing

Anyway, R&R, 'kay?

p.s. Bagi yang bingung, Peter=Sealand.