BTS – Big Hit Entertainment

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita

.


.

.

Jeon Jungkook menatap lurus pada langit-langit. Pukul setengah satu pagi di sebuah kamar hotel, dengan alas tidur yang terlalu tebal, denging yang kurang familiar, suasana beraroma Amerika, juga sesuatu baru saja membuatnya terbangun. Mungkin saja mimpi, mungkin juga igauan. Jungkook gagal mengingat dan dia butuh waktu untuk kembali terlelap. Sejatinya ada keinginan untuk berjalan-jalan di koridor menunggu kantuk kedua datang, namun bayangan wajah datar manajernya yang siap membanting siapapun yang melanggar jam malam membuat Jungkook urung beranjak. Mereka harus berada di tempat wawancara pukul tujuh pagi dan peringatan tersebut mendadak terasa begitu wajar. Dicobanya menghitung biri-biri, mengaktifkan ponsel demi membaca berita terbaru mengenai Justin, mendengarkan musik balada, mencari perbedaan antara Jimmy Kimmel dan Jimmy Fallon, berguling yoga, bahkan meneguk susu kemasan pemberian Jin sampai dua kotak, tapi mata besarnya menolak untuk mengatup dan malah sibuk memikirkan banyak hal di keremangan kamar.

Di ranjang sebelah, sebuah gundukan besar mendengkur rusuh. Selimut menutup mulai dari ujung kaki hingga leher, menyisakan kepala berambut abu-abu berantakan dan ekspresi tidur konyol yang tampan. Sepasang kaki panjangnya ditekuk rapi bagai mumi. Damai. Sejahtera.

"Hyung," bisik Jungkook lirih. Tungkainya diseret turun dari kasur dan beralih mengguncang bahu Taehyung perlahan, tak ada respon.

"Hyung."

Masih tak ada jawaban.

"V-hyung!" Jungkook menggerung, agak keras kali ini. Diguncang-guncangnya lebih beringas seolah berasumsi jika bahu seniornya itu terbuat dari batu. Yang bersangkutan bersikukuh bergeming, menggeliat pun enggan. Kening pemuda itu berkerut tak terima.

"KIM TAEHYUNG!" teriak Jungkook sekerasnya dan Taehyung pun langsung terduduk bagai disetrum.

"Apa? Apa? Ada apa? Sudah harus berangkat? Ha? Mana Sejin-hyung? Mana pasta gigiku?" sergahnya beruntun dengan garis liur nyaris mengering. Jungkook mendengus puas.

"Aku tidak bisa tidur."

Taehyung terdiam sejenak, lengan terjulur menyalakan lampu meja dan memandang kosong pada Jungkook, kiranya berpikir kepala anggota termudanya itu baru saja terbentur gagang keran di kamar mandi saat pamit buang air kecil jam sembilan tadi.

"Sebentar, biar kuulangi," seloroh Taehyung dengan suara paraunya yang terdengar semakin seksi, "Kau membangunkanku karena tidak bisa tidur?"

Jungkook mendekap bantal dan mengangguk sekenanya.

"Aku pasti sedang bermimpi. Baiklah, selamat malam," Taehyung bergegas mematikan lampu dan berbaring memunggungi Jungkook yang malah menaiki ranjang tanpa permisi sambil beringsut di sisinya. Mengabaikan kenyataan jika postur badannya justru memaksa Taehyung bergeser hingga ke tepi.

"Hyung, ceritakan sesuatu," desaknya antusias, mata berbinar, "Aku ingin tahu lebih banyak soal Selena-noona."

Taehyung memilih tak menyahut, hidungnya bergerak kembang-kempis.

"Jangan pura-pura! Tidak ada orang yang bisa tidur secepat itu!" gerung Jungkook berang, telunjuk dan ibu jari kokohnya memencet hidung pria itu sampai Taehyung meronta kehabisan napas. Kesal, vokalis yang gemar menyaru sebagai murid terbaik Yoongi tersebut akhirnya duduk tegak dan Jungkook segera memutar tombol lampu ke tingkat penerangan maksimum.

"Kau pikir aku situs gosip? Cari saja sendiri."

"Kalau begitu cerita apa saja. Dongeng juga boleh."

"Malas."

"Akan kuadukan ke Yoongi-hyung kalau V-hyung memepetku di kamar ganti kemarin malam."

"Memangnya kau berani?"

Dagu Jungkook terangkat, diambilnya ancang-ancang turun dari tempat tidur dan Taehyung terkesiap, disambarnya pergelangan tangan Jungkook agar kembali duduk sambil setengah merutuk, belum siap menyaksikan penisnya dipotong jadi tiga oleh Yoongi.

"Kau mau mendengar dongeng? Oke, perhatikan baik-baik," tegas Taehyung. Jungkook pun mengangguk berkali-kali, girang.

"Jaman dahulu kala, hiduplah seorang bocah bongsor menyebalkan bernama Jeon Jungkook yang suka membangunkan orang di tengah malam."

"Hyung!" protes Jungkook melengking, Taehyung mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Aku belum selesai," tukasnya kalem, "Pada suatu malam yang kelam karena suhu pendingin udaranya terlalu rendah, Jeon Jungkook nekat mengusik jam istirahat pria tampan, berkharisma, dan penuh pesona bernama Kim Taehyung."

Jungkook sontak terpingkal dari balik bantal.

"Sang bocah terus mengguncang bahu dengan tenaga yang sanggup memindahkan sebuah buldozer. Dan ternyata pria yang sangat mempesona itu merasa terganggu dan tidak senang."

"Oh ya? Kenapa dia tidak senang?" gigi-gigi besar Jungkook terpampang, makin terbahak.

"Setelah seharian berlatih menyesuaikan lirik sambil bekeliling kesana-kemari, ingin rasanya melepas lelah dan tidur dengan tenang tanpa harus diusik oleh masalah kecil yang jauh lebih sepele daripada penyebab timbulnya kutu air di telapak kaki kiri Namjoon-hyung. Begitulah isi hati si tampan bersuara indah."

"Sepertinya si tampan itu perlu dihibur ya?"

"Jangan buang bagian 'bersuara indah'nya!"

"Iya, iya, maafkan aku, sini, sini," Jungkook menarik lepas selimut tebal dari badan Taehyung, memamerkan bawahan piyama sutra dan singlet hitam tipis dengan bonus otot lengan yang terbentuk bagus.

"Kau menyuruhku berbuat apalagi?"

"Menyiapkan camilan, aku lapar," perintah Jungkook seraya mendorong pria itu berdiri. Ekor mata Taehyung meruncing, alis tebalnya menyatu.

"Camilan? Tengah malam begini? Astaga, harusnya aku tahu kenapa Hoseok-hyung dengan senang hati menyerahkan kunci kamarnya tanpa kuminta," erang Taehyung selagi lengannya digamit paksa, "Berikan alasan yang masuk akal tentang kenapa aku harus menuruti kemauanmu."

"Karena tidak ada orang yang bisa menolak tatapan mata dari yang mulia Jeon Jungkook."

"Haish!"

Jungkook bertepuk tangan dengan tawa penuh kemenangan. Seringainya terkulum senang selagi menghempaskan diri ke tempat tidur Taehyung sementara pria itu berkacak pinggang diantara dua buah ransel dan koper yang terbuka.

"Mau makan apa?"

"Yang manis dan segar!" sergah Jungkook, menyandarkan kepala di dua lapis bantal besar.

"Maksudmu aku?"

"Hyung memang menarik. Tapi kurus. Tidak enak."

Taehyung mendengus, "Setelah ini aku tak mau mendengar apapun dan melakukan apapun, kau harus tidur!" umpatnya sembari mengaduk isi ransel Jungkook sekaligus isi dari kantong besar pemberian manajer mereka yang sempat berbelanja karena anak-anak asuhnya butuh makanan kecil. Beberapa bungkus kue kering berbagai rasa ditumpuk berdesakan di sekat ransel, bersama dengan sereal siap makan dalam mangkuk plastik kemasan, "Biar kulihat dulu apa yang ada. Tapi ngomong-ngomong, bukannya kau sudah menghabiskan tiga paket nasi selesai latihan tadi?"

"Un."

"Termasuk milikku."

"Aku kan masih dalam masa pertumbuhan, perlu cadangan gizi."

"Dengan cara menyuruh Sejin-hyung membeli begitu banyak biskuit?"

"Ehe."

"Lain kali minta belikan puding susu atau roti, daripada mengunyah terus-terusan. Rahangmu bisa pegal," Taehyung menggapai tas lain di sisi koper sambil mencibir, tak percaya bila dia sedang mengulang nasehat sang nenek pada rekan seatap yang selalu menolak patuh meski menginjak usia dua puluh, "Berapa kali harus kuingatkan? Dan jangan lupa membersihkan mulut. Kalau sakit gigimu kambuh aku benar-benar tak mau tahu. Menangis saja sepuasnya pada Jin-hyung. "

"Pih, jahat," Jungkook meluruskan kakinya sembari berkilah tak mau disalahkan, didekapnya bantal milik Taehyung dan membenamkan wajahnya diantara gundukan, mencoba menghirup wangi yang tertinggal. Dia suka parfum Taehyung yang selalu menguarkan aura dewasa, membuatnya tak sanggup menggelengkan kepala tiap kali pria itu menaiki punggungnya tanpa ijin atau menempel erat di samping Jungkook dan bersandar jumawa menempati teritori. Memang miris, namun Jungkook tak bisa membantah jika Taehyung mampu mengontrolnya hanya dengan tatapan mata dan aroma tubuh yang patut dipuja.

Matanya melirik majalah mode yang—tentu saja, berbahasa Inggris, tergeletak di sisi lampu meja. Iseng, juga karena belum ada tanda-tanda bila Taehyung selesai berjibaku, diambilnya majalah tersebut dan dibuka-buka dengan serius meski tak paham apa yang tengah dibaca.

"Suka sereal jagung?"

"Suka, suka, apalagi kalau ditambah apel kelinci dan irisan jeruk mandarin yang di..."

"Jungkook-ah," delik Taehyung, "Jangan rewel."

"Oke, sereal jagung dan susu," bahu Jungkook berkedik pasrah, majalahnya dilempar bosan lalu beralih memeluk lutut menggunakan kedua lengan, diamatinya Taehyung yang memeriksa batas kadaluarsa kotak susu dari kantong belanja, "Eh, V-hyung."

"Hmmm?"

"Selama ini pernah melakukan hal bodoh tidak?"

Taehyung berhenti membuka kotak stroberi di tangannya dan menatap bingung, "Apa?"

"Pernah melakukan hal bodoh tidak?" tanya Jungkook lagi, kepalanya miring seraya berkedip imut, "Jimin-hyung bilang dia pernah lupa mencopot masker waktu mandi. Hoseok-hyung tak sengaja menghapus file lagu demo ciptaannya sendiri, Yoongi-hyung pernah tersandung di tangga panggung padahal tidak ada apa-apa di depannya, dan Jin-hyung menghancurkan wajan kesayangannya gara-gara dipakai memukul lalat. Kalau aku sih, dulu di Busan sempat berbuat bodoh karena..."

"Berisik. Matamu besar. Hidungmu besar."

"Hyung, kugigit lho."

"Akan kugigit balik, tapi nanti, masih sibuk," lengos Taehyung, dan Jungkook pun melempar sendal hotel sambil mendengus, "Bukannya hyung juga sampai menabrak tiang listrik karena terlalu asyik bermain ponsel?"

"Tsk," pelipis Taehyung berkedut, "Tapi itu bukan yang paling bodoh."

"Ada lagi?"

Tak dijawab.

Telunjuk Jungkook ditaruh menusuk-nusuk dagu, hidungnya berkerut lucu, "Kalau tidak salah, waktu sedang terlalu bersemangat turun dari ranjang properti di atas panggung, aku nyaris terpeleset kalau tidak buru-buru ditahan Hoseok-hyung. Kalau diingat-ingat, itu bodoh sekali ya?"

"Untungnya aku duduk di kanan dan bukan di bagian bawah, tampaknya sakit kalau tertimpa, badanmu kan berat," seloroh Taehyung penuh arti. Dibelahnya masing-masing stroberi menjadi dua menggunakan sendok kecil yang disediakan hotel di sebelah deretan cangkir teh, menaruhnya dalam mangkuk sereal, kemudian memutar mata mencari botol yogurt yang dibelinya untuk kudapan darurat.

"Beratku enam kilogram lebih ringan dari sebelumnya, tahu. Lagipula tidak benar-benar jatuh, buktinya Hoseok-hyung baik-baik saja walau tersenggol siku," Jungkook merajuk lalu duduk berbalik menghadap dinding, tungkainya dilipat bersila, lengan memeluk bantal milik Taehyung lalu menguap lebar, "Selalu membawa-bawa bobot. Aku kan tidak gendut. Menyebalkan."

Taehyung balas terkekeh, dirobeknya kertas aluminium pelapis botol dan mengucurkan isinya di atas potongan stroberi usai dicicipi sedikit. Yogurt kental bertekstur lembut dan beraroma asam itu membuat matanya setengah terjaga, meski masih belum cukup ampuh untuk menghilangkan kantuk.

"Aku benar-benar tidak mengerti, tinggal empat jam sebelum kita berkemas untuk gladi resik dan apa yang kulakukan? Meracik camilan untukmu. Sumpah demi betis berbulu Jiminnie, setelah ini aku ingin tidur. Peduli setan kalau kau tetap mau bangun lalu jalan-jalan telanjang keliling koridor atau menyelinap ke kamar Namjoon-hyung dan mencoret-coret mukanya dengan spidol. Kau bisa jungkir balik, salto tiga ratus enam puluh derajat di lorong belakang, menyanyi di hadapan resepsionis, atau memainkan apa saja yang menurutmu bagus. Yang kubutuhkan cuma bantal dan mimpi indah."

Diambilnya sendok bekas membelah buah, menyekanya sejenak, kemudian menyelipkannya di sela-sela gundukan stroberi beralas sereal jagung bertabur saus yogurt yang segar. Siap dinikmati. Pria itu mengangguk puas. Tidak terlalu buruk.

"Jungk..."

Begitu mendongak, alih-alih bertemu seulas cengir gembira dan pipi tembam dengan dua gigi depan berukuran mencolok, Taehyung malah mendapati pemandangan yang membuatnya spontan menghela napas panjang.

"Kau ini suka sekali merepotkan orang, ya?" desahnya tertahan selagi berjalan menghampiri dan mengamati Jungkook yang kini bergelung nyenyak di ranjang Taehyung. Dada busungnya naik turun teratur, pulas sekali.

Menggeleng maklum, Taehyung meletakkan mangkuk camilannya di atas meja. Harusnya dia berhak marah besar atau menarik lapisan seprai keras-keras hingga pemuda tersebut terguling jatuh. Namun wajah tidur Jungkook tampak begitu manis dan menggemaskan. Bibir tipisnya sedikit terbuka, alis bergerak-gerak tak sadar, sementara lengannya mendekap bantal dengan posesif. Lucu sekali.

Hati-hati, Taehyung menyelipkan tangan di bawah leher Jungkook untuk menyingkirkan salah satu dari dua bantal yang menyangga agak terlalu tinggi. Dia tak berniat melihat pemuda itu bangun keesokan hari sambil mengeluh salah tidur. Jungkook menggeliat nyaman serta beringsut terlentang, pun tanpa sengaja menggamit lengan Taehyung seraya bergumam lirih.

"Hyung..."

Perlahan, Taehyung melepaskan pegangan lengan Jungkook untuk memindahkan bantalnya ke sebelah, sejenak mendesis karena tak ada rencana untuk bertukar tempat tidur. Berbaring di dekat Jungkook dan menghabiskan malam dalam satu selimut terdengar begitu menggoda, tapi Taehyung masih cukup waras untuk mematuhi teguran Namjoon dan bertekad memenangkan taruhan melawan libido. Maka sambil mendesis, digesernya kaki Jungkook agak ke tepi lalu menyelimutinya hingga ke bahu. Pemuda itu menggeram pelan namun tak terusik.

"Hal paling bodoh yang pernah kualami adalah kenyataan bahwa aku begitu mudah menuruti permintaanmu untuk membuatkan makanan kecil tepat jam satu pagi dan ditinggal tidur di ranjangku sendiri," tukas Taehyung, menjumput stroberi dan mengunyahnya tanpa suara. Kepalanya menunduk perlahan, menyibak lembut anak rambut di pelipis Jungkook, menunduk lebih rendah dan mengecup keningnya sambil tersenyum.

"Kau beruntung karena aku sayang padamu," bisiknya, tersenyum samar sebelum mematikan lampu.

"Selamat tidur, Jungkook-ah."

.


.

.