Root Wood In!
Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lain yang muncul dalam Fic ini. Saya hanya meminjam apa yang diperlukan untuk membuat Fic ini.
Genre : Adventure, Friendship, Family, Supernatural, Mistery, Romance [Maybe], Humor [Garing], Etc.
Rate : M untuk Bahasa, Storyline dan Madara :v Lolz
Pairing : Akan muncul dengan sendirinya. [Karena hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga]
Warning : Alternate Universe, Typo[s], Miss-Typo[s], Bahasa Gado-Gado, Mainstream [Mungkin], OOC , DLL.
.
.
.
.
.
.
.
The Half-Devil Lucifer
Arc II : Awal dari semua masalah!
Chapter 10 : Terungkapnya dua hal penting! ... [Dua hal yang akan mengubah Naruto, Hashirama dan Madara]
AN : Tehnik buatan sendiri dan ada juga saya ambil dari beberapa Anime yang mempunyai kemampuan memanipulasi api yang sedikit saya ubah untuk Naruto.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setibanya di apartemen mereka, Yuki yang tengah tertidur di gendongan Madara. Langsung dibawa ke kamar tidur. Setelah itu, Madara memanggil Naruto ke halaman belakang untuk meminta penjelasan lengkap kenapa pemuda itu selalu lemah dan tidak berkutik di depan Rias.
Saat kedua orang ini sudah berada di bawah satu-satunya pohon di tempat itu, Madara langsung melayang pertanyaan inti dari perjanjian mereka.
"Jadi, bisa kau jelaskan semuanya?"
Naruto diam beberapa saat, dia bingung mau memulai dari mana. Di samping pemuda ini, Madara masih setia menunggu dengan wajah datarnya.
"Permisi, apa ada orang?" Singgung Madara datar karena sudah tidak sabar untuk mendengar alasan Naruto.
Kesabaran Madara mulai habis, pria ini hendak memukul Naruto. Tangan kekar sebelah kanan pria itu membentuk tinju yang siap menghantam wajah Naruto. "Tunggu, Ossan!" Namun ucapan Naruto itu membuat Madara segera mengurungkan niat untuk memukul.
Naruto mengambil nafas dalam-dalam, membiarkan oksigen murni menyapu rongga tenggorakan hingga ke paru-parunya lalu dihembuskan secara perlahan. Ini dia atas dasar untuk menangkan pikiran-pikiran negatif yang mungkin terjadi apabila Madara mengetahui semua tentang hubungannya dengan Rias. "Baiklah... Semuanya dimulai sebulan setelah aku dan Ero-sennin meninggalkan desa. ..."
"Hn..." Madara merespon singkat dengan dua huruf universal Uchiha. "... Lalu?"
"Saat itu... Kami berdua berada di bagian selatan Jepang untuk melakukan penelitian novel edisi ke-3 Ero-sennin..."
.
.
.
- Flashback –
Di sebuah kota kecil di sebelah selatan Jepang. Seorang pria yang kira-kira berumur 40 tahunan lebih, bersurai putih runcing yang dibagian belakang diikat model ekor kuda sepunggung dan jambang yang membinkai wajah bagian atas. Di wajah pria itu, terdapat tahi lalat atau sejenisnya di samping kiri atas hidung. Mengenakan kimono coklat dan ransel kecil untuk membawa perlengkapan.
Di samping pria yang diketahui bernama Jiraiya, Seorang anak yang kira-kira setinggi kurang lebih 140 cm, bersurai dark-silver acak-acakan. Mengekan t-shirt hitam dan celana pendek selutut putih. Dia adalah Naruto.
"Woah, ini dimana Ero-sennin? tempatnya benar-benar indah!" Naruto memandangi seluk beluk kota kecil tempat mereka dengan mata berbinar. Jiraiya terkekeh melihat Naruto begitu kagum pada pemandangan di sekitar.
"Ada apa Ero-sennin? Kenapa tertawa?"
Orang dipanggil Ero-sennin atau Pertapa Mesum, menggeleng pelan. "Tidak papa kok... Aku cuma bingung, kau sudah diajari banyak hal tentang dunia ini dari kami... Dan aku tidak menyangka ekspresimu terlewat berlebihan ketika melihatnya secara langsung."
Mendengar kata 'diajari'. Wajah Naruto seketika pucat pasih disertai keringat dingin. Sebenarnya kata itu hanya plesetan dari kata 'penyiksaan' bagi Naruto. Selama di Konoha, dia selalu dipaksa mempelajari semua hal setiap hari dan waktu istirahat yang diberikan cuma 1 jam sehari. Lain lagi kalau harus dipaksa oleh dua orang berwajah datar yang tidak bisa membedakan mana anak-anak, mana orang dewasa saat memberikan latihan fisik yang kelewat batas wajar.
Benar-benar neraka dunia untuk Naruto!.
Tapi semua itu akhirnya berakhir ketika Jiraiya mengajak Naruto keluar dari desa. Tapi dengan syarat, mereka tidak boleh memberitahukan sedikit pun informasi tentang Konoha kepada orang luar.
"Haa... Jangan ingatkan aku tentang itu, Ero-sennin."
Jiraiya yang menyadari ada yang salah pada anak didiknya, dia segera tersenyum kikuk. "Gomen~Gomen... Aku lupa kalau pembelajaran si dou Teme hanya menyangkut shinobi saja, Hahahahah." Tawa hambar keluar dari mulut Jiraiya. Dan ketika mereka sudah tiba di depan sebuah bangunan sederhana. Jiraiya menghela nafas.
"Haaa... Kita sudah sampai!"
Naruto mendongak melihat papan yang sepatutnya tidak boleh dipajang di depan umum. "Klub Hiburan Malam... Tempat macam apa ini?" Dan alhasil, kepolosan Naruto yang belum sepenuhnya hilang karena seluruh ingatannya disegel Kurama kembali muncul.
"Ini adalah surge dunia bagi pria, Naruto... Anak semi-polos sepertimu belum boleh memasukinya, hahahahaha~" Jiraiya tertawa bangga dengan wajah mesum membuat Naruto malah kebingungan sendiri melihatnya.
Dalam keadaan bingung, Naruto memikirkan sesuatu. 'Aku ingat... Teme-ossan bilang, kalau Ero-sennin tertawa dengan wajah seperti itu, berarti...'
Naruto langsung menunjuk wajah memerah mesum Jiraiya. "Kono Hentai!" Teriak Naruto lalu mengayunkan kaki kanan menuju tempat dimana alat penunjang masa depan Jiraiya terpasang.
"Itteeeeeee~~!" Jiraiya meringis kesakitan sambil memegang bagian selangkangan yang baru saja menjadi sasaran empuk kaki kanan Naruto. "Bocah sialan!... Kenapa kau menendang selangkanganku, Haa?"
"Karena kau Mesum!" Ejek Naruto tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Jiraiya menatap sebal Naruto. 'Bocah sialan... Tendangannya benar-benar kuat!'
Setelah rasa sakit di selangkangan Jiraiya menghilang. Dia melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat lain yang mereka butuhkan di kota kecil ini. "Ayo, Naruto... Kita cari penginapan, entar malam baru kita kesini!"
"Ieee... Aku tidak mau kesini!"
"Haa... Terserah kau, bocah keparat!"
.
.
.
Beberapa hari kemudian –
Selama berada di kota kecil tersebut. Naruto dan Jiraiya melakukan aktivitas mereka masing-masing. Naruto berlatih menyempurnakan [Senjutsu] miliknya karena perkataan Madara yang menjadi teladan untuknya. Sedangkan Jiraiya malah sibuk mengunjungi onsen dan klub hiburan malam untuk menyelesaikan novel edisi ke-3 miliknya.
"Nee, Ero-sennin... Sampai kapan kita disini? Aku sudah tidak sabar mengunjungi tempat-tempat lain." Naruto yang mulai bosan tinggal, akhirnya mengeluarkan keluh kesahnya. Apalagi Jiraiya yang selalu menolak untuk menemaninya berlatih semakin menambah kebosanannya di kota ini.
Jiraiya meletakkan alat tulis yang selalu digunakan dan menoleh ke luar jendela dimana langit malam hari dihiasi puluhan bintang. "Kau sudah bosan disini?" Tanya Jiraiya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Di samping meja, Naruto mengangguk pelan. "Kalau begitu, besok sebelum pergi, akan kutes sampai mana kemampuan bertarungmu berkembang, Naruto."
'Dan juga, ada yang ingin kusampaikan untukmu, Naruto.' Jiraiya membatin setelahnya. Jujur, mungkin hal yang disampaikannya besok akan menyakiti hati Naruto hanya karena ramalan yang dia terima dari pemimpin tempatnya mempelajari [Senjutsu].
"Benarkah?"
"Tentu saja!"
"Benarkah?... Benarkah?... Benarkah?"
"Iya... Iya... Dan iya, Bocah!"
"Arigatou, Jiraiya-sensei!"
"Jiahh..."
Jiraiya menepuk kesal jidatnya. Melihat Naruto memanggilnya 'Sensei' apabila ada keinginan sang anak didik yang terpenuhi.
.
.
Keesoka harinya. Di sebuah area yang cukup luas jauh dari pusat kota kecil, Naruto dan Jiraiya tengah melakukan pemanasan untuk mengetes sampai mana Naruto menguasai [Senjutsu : Toad Sage Art] yang diajarkan langsung oleh Jiraiya.
"Nah... Sekarang masuk ke mode Senjutsu milikmu dan kita mulai tesnya!"
Naruto mengangguk antusias. Kedua tangan Naruto terkepal dan saling bertabrakan di depan perut, kedua mata dipejamkan agar bisa fokus mengumpulkan energi alam yang menjadi sumber utama penggunaan [Senjutsu : Toad Sage Art].
"Sudah selesai!" Kedua mata Naruto terbuka dan memandang serius pria di depannya. Tidak ada perubahan sedikit pun pada tubuh Naruto ketika menggunakan Senjutsu. Dan ini membuat Jiraiya semakin kagum atas peningkatan sang anak didik.
"Jadi ini hasil latihanmu selama sebulan ya?... Aku sampai terkejut loh, kau adalah pengguna Senjutsu pertama yang tidak mengalami perubahan fisik ketika menggunakannya, Naruto!" Kata Jiraiya. Tapi yang dikatakan pria ini sangat berbeda dengan apa yang dilihat. Tubuhnya sedikit merinding merasakan energi [Senjutsu] Naruto yang mampu dideksi olehnya.
"Ayo mulai!"
Mendengar arahan dari Jiraiya. Naruto langsung melesat menuju lawan latih tandingnya. [Taijutsu] gabungan yang diajarkan oleh dua shinobi yang berasal dari dua klan berbeda di Konoha, Naruto gunakan untuk menyerang Jiraiya.
Sang Pertapa mesum sedikit kewalahan menghadapi serangan [Taijutsu] gabungan Naruto ditambah lagi [Senjutsu] yang menambah kecepatan dan kekuatan fisik Naruto semakin menambah keefektipan serangan. Sangat hebat untuk anak seumurannya.
Suara hentakan terdengar ketika Jiraiya menangkap dua lengan kecil Naruto. Senyum tipis disungging sang pertapa mesum. "Lumayan juga, tapi belum cukup untuk mengalahkanku!"
Jiraiya melakukan tendangan lurus yang mengenai perut Naruto hingga membuat wadah untuk Kyuubi no Kitsune itu terpental dan memuncratkan air liur. Naruto mendarat pada permukaan tanah dan sedikit terseret beberapa senti.
'Kurama... Aku pinjam apimu!' Melalui telepati, Naruto meminta persetejuan Youkai yang tersegel di dalam tubuhnya. Naruto baru menyadari kalau terdapat mahluk supranatural yang tersegel di dalam dirinya beberapa bulan setelah tinggal di Konoha.
Saat itu Naruto berlatih keras di bawah bimbingan Jiraiya. Saking kerasnya hingga membuat Naruto pingsan dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dan disitulah pertemuan pertama Naruto dan Youkai Kitsune di dalam tubuhnya.
'Dengan senang hati... Dan tolong bakar muka mesum orang itu, Naruto!' Naruto hanya mengangguk paham atas permintaan tidak berprike-Youkai-an dari Kurama lalu bergumam dalam hati membalasnya. 'Tentu saja!'
"[Enkai]"
Naruto bergumam pelan lalu menghentakkan kaki kanan sehingga api Kurama tiba-tiba menguar dari kanan Naruto, tatapan mengintimidasi yang sangat khas dengan salah satu petinggi desa Konoha Naruto langsung tujukan untuk Jiraiya.
'Shit!'
Dalam satu kali kedipan mata, Naruto langsung melesat meninggalkan retakan kecil di tempatnya tadi berdiri. Jiraya langsung memasang kuda-kuda bertahan bertahan dengan menyilangkan lengan di depan kepala.
"[Kagizume]"
Jiraiya menggeser tangannya yang menyilang di samping kepala sebelum kaki Naruto mencapai kepalanya. Dan hasilnya, serangan Naruto berhasil di blok. Namun... Api di kaki Naruto tiba-tiba berkobar hebat hingga membuat sang pertapa terpental beberapa meter. Luka bakar kecil pun muncul di kedua lengan Jiraiya.
"Lumayan juga... Tapi, bagaimana dengan ini Naruto..." Akhirnya Jiraiya mulai serius untuk mengetes seberapa jauh Naruto mampu mengendalikan api Kurama. Segel tangan mulai dirangkai oleh dia disertai pipi yang menggembung siap mengeluarkan sesuatu.
"[Katon : Dai Endan]"
Peluru api berintensitas sedang Jiraiya semburkan dari dalam mulut. Melihat api yang panasnya sedikit dibawah api miliknya sendiri, Naruto mengepal tangan kanan dan api milik Kurama pun menguar pada kepalan itu.
"[Hiken]"
Dari pukulan Naruto, Api yang tidak kalah besarnya dari yang dikeluarkan Jiraiya melesat dengan kecepatan tinggi. Sepersekian detik kemudian, kedua api berbeda sumber kekuatan itu saling bertabrakan di depan mereka berdua.
Blaaaarrr!
Ledakan besar disertai hembusan angin kuat terjadi. Naruto dan Jiraiya sama-sama memasang pose bertahan agar tidak sampai terpental. Setelah mereda, Jiraiya menghilangkan kuda-kuda miliknya dan menatap kagum Naruto.
"Tes sampai disini saja, kau sudah kuat untuk anak se-usiamu... Itu adalah hal yang cukup hebat menurutku, karena di Konoha, rata-rata para Genin belum ada yang bisa menahan Katon sebesar tadi dalam latih tanding atau tes." Senyum bangga pun disungging Jiraiya. Naruto hanya nyengar-ngenyir tidak jelas menanggapinya.
Tapi tidak berselang lama, senyum Jiraiya tiba-tiba menghilang seperti tertiup angin. Naruto pun menaikkan alis melihat perubahan drastis pada shinobi yang telah mengajarkannya [Senjutsu] serta arti tentang sebuah kehidupan.
"Ero-sennin?"
"Mendekatlah, ada yang mau aku bicarakan!"
Naruto menghilang api yang berkobar di kaki kanan lalu menghampiri Jiraiya. "Begini... Mulai besok, aku akan melanjutkan perjalananku sendirian-"
"APAAAA!" Naruto tiba-tiba berteriak memotong ucapan Jiraiya. "Aku tidak mau!"
Jiraiya berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Naruto. Sambil mengacak-ngacak rambut Naruto, dia mulai menjelaskan alasan kenapa memilih melanjutkan perjalanan seorang diri. Awalnya, Naruto tidak mau karena sudah menganggap dirinya sebagai seorang ayah yang sudah menemukan dan membawa ke Konohagakure. Jiraiya tersenyum tulus dan sama seperti Naruto, dia juga sudah menganggap anak itu sebagai seorang anak makanya tidak ingin mengikut sertakan dalam perjalanannya.
"Tenang saja... Aku punya kenalan, mungkin dia bisa merawatmu karena adanya mahluk di dalam tubuhmu."
Mata Naruto seketika melebar, ternyata Jiraiya sudah mengetahui keberadaan Youkai Kitsune di dalam tubuhnya. "B-Bagaimana Ero-sennin mengetahui?"
Jiraiya tersenyum misterius di depan Naruto. "Kau lupa kalau aku shinobi?... Kami sudah mengetahuinya sejak pertama kau mengeluarkan api tau!"
'Naruto... Ayo bertukar!' Suara berat Kurama tiba-tiba menggema di kepala Naruto.
'Bertukar apa?'
'Diam dan lihat saja... Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakek mesum di depanmu.' Balas sang Youkai Kitsune masih dengan nada beratnya. Karena tidak mau menjelaskan secara rinci ke Naruto. Secara paksa atau sepihak, Kurama langsung bertukar dengan Naruto.
"Yoo..."
"Siapa kau?" Jiraiya mengerjit heran ketika mendengar suara Naruto berubah 180 derajat. Bukan lagi suara anak-anak, melainkan suara berat yang terdengar menakutkan. "Jangan-jangan kau, mahluk di dalam tubuh Naruto?"
Naruto atau Kurama mengangguk. "Itu benar, perkenalkan aku Kurama... Dan kalau boleh aku tau, siapa orang yang kau maksud bisa merawat bocah cerewet ini?"
"Kurama ya?... Orang yang mau kusebut itu sering memanggil nama anda karena eksistensi anda tiba-tiba menghilang... Padahal anda ingin dijadikan pemimpin para Youkai." Jelas Jiraiya yang mulai serius mengingat tubuh Naruto sekarang diambil alih oleh Youkai Kitsune yang kekuatannya setara dengan kekuatan pemimpin Youkai Kitsuen kenalan dia.
"Apa orang yang kau maksud... Yasaka-chan?"
"Bingo! Anda benar, Kurama-san... Aku dan beliau sudah saling kenal satu sama lain. Itu karena dulu, kami bertemu secara tidak sengaja. Kira-kira sekitar 2 tahun sebelum aku menemukan Naruto." Jelas Jiraiya sebelum Kurama bertanya lebih banyak kenapa dia mengenal pemimpin Youkai Kitsune di Kyoto. "Ngomong-ngomong, kenapa anda berada di dalam tubuh Naruto?"
"Aku disegel oleh seseorang!"
"Hmnn... Begitu ya, pasti segel yang digunakan lumayan rumit dan hebat. Karena anda dan Naruto bisa bertukar satu sama lain." Jiraiya memasang pose berpikir untuk mengingat-ingat beberapa tehnik penyegelan shinobi yang diketahui. Tapi tidak satu pun yang bisa menjadi patokan untuk tehnik yang digunakan orang yang menyegek Kurama. Dan ia pun memutuskan untuk melanjutkan apa yang ingin disampaikan ke Kurama.
"Jadi... Bisakah aku menitip Naruto ke anda dan Yasaka-dono?"
"Tentu saja... Lagian sudah menjadi tugasku agar bocah ini tidak mati karena jika sampai terjadi, aku juga bakalan ikut mati."
"Arigatou, Kurama-san!"
Dan tepat setelah itu, Naruto akhirnya setuju mengenai kepergian Jiraiya. Tapi sebelum itu, dia meminta kepada Jiraiya agak mengantarnya sendiri ke Yasaka sekaligus menghabiskan waktu mereka sebagai anak dan ayah tidak sedarah sebelum berpisah. Perjalan mereka ke Kyoto memakan waktu sekitar 3 hari. Sesampainya di Kyoto, Jiraiya langsung menjelaskan semuanya termasuk adanya Kurama di dalam tubuh Naruto kepada Yasaka. Dan beberapa jam kemudian, Jiraiya pun meninggalkan Naruto di kediaman Yasaka.
- Flashback Off-
.
.
.
"Tiga tahun setelah aku ditinggal Ero-sennin bersama Yasaka-baasan dan Kunou-chan, aku berhasil menyempurnakan Senjutsu milikku dan berniat menciptakan tehnik teleportasi sendiri agar memudahkan untuk berpindah tempat... Tapi, sayang..." Naruto menundukan kepalanya dan berusaha menguatkan diri untuk melanjutkan penjelasan atas apa yang menimpa dirinya saat melakukan percobaan pertama menggunakan tehnik teleportasi miliknya.
"Tapi apa?" Madara mulai dibuat penasaran.
"... Di percobaan pertamaku, aku gagal dan malah terdampar di U-Underword, tempat tinggal fraksi... i-iblis. Dan tidak bisa kembali!."
Madara melebarkan matanya mendengar ucapan terakhir Naruto. Tangannya terkepal kuat-kuat. Ternyata setelah meninggalkan Konohagakure dan tinggal bersama pemimpin Youkai di Kyoto, Naruto malah tinggal di Underwold, tempat tinggal mahluk yang sekaranga paling di benci olehnya. Dan kini bertambahlah satu orang yang dicurigai kenapa Konohagakure bisa ditemukan oleh para iblis golongan [Old Satan Faction]. Tapi ada yang menghalangi kecurigaan Madara. Itu adalah sebuah segel khusus yang ditanamkan pada Naruto sebelum meninggalkan Konoha.
"Coba buka bajumu dan perlihatkan bagian punggungmu!" Madara mulai merangkai beberapa segel tangan saat Naruto melakukan apa yang diperintahkan olehnya.
"Ada ap-... Itte!" Naruto meringis kesakitan saat Madara menampar punggungnya agak keras.
'Masih ada!' Madara menaikkan alis ketika melihat sebuah simbol aneh muncul di punggung Naruto. 'Jadi bukan juga, lalu siapa yang sebenarnya memberitahukan lokasi Konoha kepada para mahluk hina itu.'
"Kenapa?" Naruto menoleh kebelakang dan mendapati Madara tengah melamunkan sesuatu.
Madara pulih dari lamuannya mendengar pertanyaan Naruto dan menggeleng pelan. "Lanjutkan penjelasanmu karena aku belum tau hubunganmu dengan gadis itu!"
Akhirnya!
Pertanyaan yang ditakutkan oleh Naruto keluar. Itu adalah... Menjelaskan hubungan dia dan Rias yang sebenarnya. Naruto takut!... Takut apabila Madara membencinya karena telah mengabdikan diri pada Maou-Lucifer sebagai pelindung dari pewaris klan Gremory.
Dan lebih parahnya lagi. Madara akan semakin benci dan tidak segan-segan membunuh dia karena telah jatuh cinta pada Rias.
Naruto ingin berbohong, tapi itu tidak mungkin!... Karena Madara adalah tipe orang yang mampu melihat kebohongan seseorang melalui ekspresi wajah saja. Ditambah lagi Madara adalah seorang Uchiha, klan yang dikenal dengan kepandaian tinggi di Konohagakure. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi.
Naruto menghela nafas sejenak berusaha menguatkan diri untuk kesekian kalinya. "Begini... Saat aku di Underworld, aku ditemukan Sirzechs-sama di hutan tidak jauh dari kediamannya, waktu itu aku sangat kelaparan dan baru saja diserang sekelompok iblis yang tidak terima keberadaanku di Underwold."
"Aku ditolong oleh beliau dan diizinkan tinggal di kediamannya... Tapi, dengan syarat aku harus mengabdikan diri kepada keluarga Gremory karena Sirzechs-sama bisa merasakan bahwa aku kuat untuk ukuran anak seusiaku... Semenjak saat itulah, aku tidak melawan jika diperintah ataupun dibentak oleh anggota keluarga Gremory, termasuk Ojou-sama... Karena ajaran Izuna-niisan yang melekat di dalam diriku."
Amarah dari sang Uchiha pun memuncak karena secara tidak langsung Naruto diperlakukan seperti budak oleh para iblis. Dan dengan polosnya, Naruto menerima semua itu karena ajaran sang adik yang telah tiada, Izuna. Pria yang mengajarkan Naruto mengenai arti kebaikan dan kasih sayang. Berbeda dengan dirinya yang malah mengajarkan Naruto cara bertarung dan lain sebagainya.
"Aku bisa memaklumi kau mengabdi pada klan mahluk busuk itu, karena memang Izuna dan Jiraiya 'lah paling dekat denganmu dibanding kami bertiga... Tapi..." Secara gamblang dan tanpa pikir panjang. Madara menyarangkan sebuah bogem mentah di pipi kiri Naruto.
Pemuda bersurai dark-silver itu pun terbanting dengan kerasnya pada permukaan tanah. Wajah dia terlihat meringis kesakitan dengan luka lebam bekas bogem Madara. Naruto tidak merespon sedikit pun. Baginya, pukulan itu memang pantas untuknya atas apa yang telah dilakukannya.
"... Tapi tidak sampai segitunya kau tidak berkutit di depan mereka, brengsek... Seolah-olah kau direndahkan se-rendahnya sebagai manusia oleh iblis!... Mahluk yang derajatnya lebih rendah dari kita... Manusia!" Madara mendesis dingin. Tersirat banyak kemarahan dan kebencian di dalamnya dan Naruto dapat menyadari semuanya.
Pemuda itu hanya diam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Biasanya jika Madara memukul. Puluhan ejekan dan beberapa ucapan tidak sedap menjadi balasannya. Tapi tidak untuk saat ini. Karena...
Naruto sadar!
Sadar akan apa yang telah menimpa dia sampai-sampai tidak bisa berkutit di depan Rias dan Sirzechs.
"Hanya itu?" Madara kembali bertanya meminta kejelasana lain. Dia menyadari ada keganjilan di penjelasan Naruto barusan.
Perlahan Naruto bangkit berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya untuk membersihkan debu yang menempel. Iris biru samudra miliknya terlihat kosong. "Ya, hanya itu yang membuatku tidak berkutik dan lemah di depan Ojou-sama!"
"Tidak!" Madara menggeleng pelan. "Ada hal yang lebih besar yang terjadi antara kau dan gadis sialan itu."
"Aku serius... Hanya itu!" Naruto masih berusaha menutupi semua.
Kesabaran Madara yang dari tadi ditahan akhirnya runtuh. Ternyata pukulan saja tidak bisa membuat Naruto mengatakan semuanya. Dan jalan satu-satunya untuk Madara hanya satu...
"Kesabaranku sudah habis Naruto... Maka dari itu..."
Dengan refleks yang sangat tepat, Madara menendeng kedua kaki Naruto hingga terjerembab pada permukaan tanah. Madara tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mata Naruto melebar sempurna. Madara kini tepat berada di atas tubuhnya. Dua lengan pemuda ini diinjak kasar oleh Madara.
"... Akan kulihat sendiri dari ingatanmu!" Iris merah darah berhias tiga simbol mirip tanda koma terpampang jelas di pandangan Naruto.
Tanpa menunggu lama, Madara langsung menggali seluruh ingatan Naruto ketika berada di Underworld hingga sekarang. Setelah selesai, pukulan kedua kembali bersarang di wajah Naruto.
"Jadi itu alasan kau selalu tidak berkutik, Haa?"
Satu demi satu pukulan. Bersarang di wajah Naruto. Madara tidak dapat lagi menahan amarah ketika mengetahui bahwa Naruto ternyata mencintai Rias Gremory.
Anggota dari fraksi yang telah membantai ratusan shinobi Konoha.
Gadis yang berusaha menjadikan dirinya bagian dari fraksi itu sendiri... Yang apabila itu terjadi. Seakan-akan Madara memakan bangkai Izuna dan Tobirama.
Iblis muda yang menculik Yuki dan memancing amarah Madara hingga ke level tertinggi setelah kematian Izuna dan Tobirama.
"Apa kau begitu bodoh, sampai-sampai tidak bisa menghilangkan rasa cintamu pada gadis itu setelah pembantai Konoha yang dilakukan oleh fraksinya, Haa?"
Entah sudah berapa banyak pukulan yang bersarang di wajah Naruto. Luka lebam, darah di sudut bibir dan kelopak mata yang membengkak adalah hasil semua pukulan Madara.
"Jawab aku Naruto!"
Pemuda itu masih diam dan menerima dengan rela pukulan dari Madara.
"Kenapa diam saja!... Jawab aku! Atau tidak, akan kupukul kau sampai mati, brengsek!"
Kali ini Madara tidak main-main. Tangan kanannya sudah dialiri chakra dan langsung dihantamkan pada perut Naruto. Pemuda itu pun memuntahkan cairan merah kental yang lumayan banyak.
"Ohokk!"
"JAWAB AKU NARUTO!"
"AKU TIDAK BISA!... SUDAH RATUSAN BAHKAN RIBUAN KALI KUCOBA!... BAHKAN KURAMA SUDAH KUSURUH MENYEGELNYA, TAPI TETAP TIDAK BISA!" Naruto akhirnya berteriak menjawab pertanyaan dari sang Uchiha.
Madara berhenti sejenak. Menatap datar wajah Naruto Setelah itu melayangkan sebuah perntanyaan. "Bahkan setelah dia menculik Yuki-chan?"
"A-Aku t-tidak tau!"
Madara mengepal kuat-kuat tangan kanan sampai kukunya memutih. Jujur dia sangat benci melihat keadaan Naruto saat ini.
Itu karena,
"Sebenarnya, aku benar-benar tidak ingin memukulmu..." Madara memejamkan kedua mata tepat di depan wajah Naruto. "Kau sudah kuanggap adik sendiri seperti Izuna menganggapmu sebagai adik... Tapi, kau yang memaksaku melakukan ini demi kebaikanmu sendiri. Jadi apa boleh buat, Naruto!"
Naruto tersentak sejenak mendengar pengakuan besar dari Madara yang ternyata sama seperti mendiang Izuna yang sudah menganggapnya adik ketimbang keponakan.
"Jadi... Apa yang membuatmu tidak bisa menghilangkan perasaanmu pada gadis itu, walaupun sudah menculik Loli-chan, Haa?" Madara kembali mengulang pertanyaan sebelumnya. Jujur Madara benar-benar emosi dengan Naruto yang bisa-bisanya masih menyimpan perasaannya pada sang gadis.
"Mungkin karena dia'lah gadis pertama yang dekat denganku sampai-sampai membuatku jatuh cinta padanya..."
Madara terkejut mendengar penuturan Naruto. Wajahnya berubah sinis. "Gadis pertama, Hee?" Nada sarkatik pun keluar dari mulut Madara karena menyadari Naruto sudah melupakan sesuatu sewaktu masih di Konoha. "Mungkin kau sudah melupakannya karena kehadiran iblis sialan itu."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau lupa gadis kecil yang selalu membawakanmu bento ketika waktu istirahat latihanmu?... Gadis yang membuatmu nekad membolos latihan beberapa kali?... Gadis yang selalu tersenyum padamu, bahkan ketika kau membentak dan marah ke dia?... Gadis yang selalu menemanimu berjalan-jalan bersama Izuna ketika tugasnya melatihmu?... APA KAU SUDAH MELUPAKAN DIA DAN SEMUA ITU, BRENGSEK?!"
"Atau... Apa perlu kuperlihatkan melalui Genjutsu agar kau bisa ingat, Haa?!"
Naruto melebarkan mata, iris biru samudra miliknya bergetar hebat setelah mendengar beberapa pertanyaan Madara yang ditujukan agar dia mengingat seorang gadis kecil di Konoha yang selalu menemaninya diwaktu istirahatnya.
Tapi,
Belum sempat Naruto mengingat semua kenangannya bersama sang gadis kecil. Satu pukulan kembali mendarat di pipinya hingga membuatnya kembali meringis kesakitan.
"Tau'kah betapa sedihnya dia saat kau dan Jiraiya keluar desa? Dia bahkan meminta ijin ke Hashirama untuk mengikuti kalian, tapi Hashirama menolaknya... Dan semenjak saat itu, dia selalu menunggu kau kembali dan juga berlatih agar suatu saat Hashirama bisa menginjinkan dia keluar mencarimu, tapi apa?... Kau malah menghabiskan waktu untuk kembali ke genggaman gadis sialan itu dan bukannya ke Konoha!"
"Dan kau baru ke Konoha ketika diserang... Dan hasilnya-"
"J-Jangan bilang m-mati?"
"Kemungkinan besar, iya... Karena sewaktu penyerangan di mulai, dia masuk dalam divisi 1 yang menjadi benteng utama desa di wilayah paling luar... Berdoalah, dia selamat karena aku dan Hashirama tidak menemukan satu pun tubuh anggota divisi 1 ketika hendak menguburkan mereka."
"Ya, semoga saja!" Ucap pemuda bersurai dark-silver itu agak pelan dan tersirat harapan besar agar sang gadis selamat.
"Percuma saja... Walaupun dia selamat, aku yakin dia akan berubah setelah melihatmu yang sekarang... Lemah, brengsek, tidak tau terima kasih dan paling buruk, melupakan semua yang telah dilakukannya untukmu!"
"Ya, aku tau itu!" Sambil meringis kesakitan, Naruto memejamkan kedua mata untuk meresapi semua kesalahan yang telah diperbuat kepada sang gadis yang baru dia disadari.
Madara menghela nafas berat lalu menjauh dari tubuh Naruto. Dia sudah menyadari kalau pemuda yang baru saja diberi pencerahan sekaligus penyiksaan itu sudah menyesal, itu terlihat jelas di wajah pemuda itu. Sebelum berjalan menuju apartemen, Madara menoleh kebelakng dengan tatapan tajam.
"Keperingatkan kau, Naruto... Kalau sampai kau masih seperti itu... Tidak ada lagi kata ampun."
Dalam keadaan berbaring, Naruto memalingkan wajah ke Madara dan membuka mata sebelah kiri. "A-Aku paham!"
"Jika kau sudah paham, maka... Hilangkan perasaanmu pada gadis sialan itu!... Apa kau masih tidak bisa menerima kenyataan kalau dia sudah membenci dan tidak mengakui keberadaanmu lagi. Kalau perlu benci dia! Buat dia menyesal. Ahh, tidak! Buat dia merasakan yang lebih pedih dari penyesalan... Karena telah menculik Loli-chan, membuatmu hancur, patah hati dan yang paling penting... Telah membuatmu melupakan gadis kecil itu, Naruto!"
Madara memalingkan wajah ke langit malam. "Ingat ini... Sekali iblis, selamanya akan menjadi iblis... Walaupun kau sudah menidurinya ribuan atau bahkan jutaan kali. Dia tidak akan pernah menjadi manusia ataupun mahluk lain!"
"Kau benar!" Naruto tiba-tiba berucap datar menyetujui hal yang baru saja diucapkan Madara. "Mereka adalah bagian dari fraksi dari yang telah membantai penduduk Konoha, Izuna-niiisan, Tobirama-ossan dan..." Semilar angin membuat suara pelan Naruto yang menyebut nama gadis yang selalu ada untuknya di Konoha tidak terdengar.
Madara tersenyum tipis mendengar ucapan Naruto yang terdengar amat sangat datar. Sekarang sudah tidak ada yang perlu dilakukan untuk menarik Naruto secara perlahan ikut dalam pemahamannya bahwa [Old-Satan Faction] ataupun [Anti Old-Satan Faction] sama-sama dari satu fraksi yang telah membantai Konoha hingga menyisahkan Madara, Hashirama, Jiraiya dan juga Naruto sendiri.
Karena lama kelamaan, kebencian Naruto terdahap iblis akan semakin membesar!.
Seiring berjalannya waktu...
Hingga kebencian Naruto benar-benar bangkit sepenuhnya!
"Hn... Kau benar Naruto!" Dan tepat setelah itu, Madara segera berjalan memasuki apartemen meninggalkan Naruto yang masih berbaring di atas rerumputan sebagai alas.
Di pikiran pria Uchiah itu, tinggal Hashirama dan Jiraiya yang perlu di tarik untuk ikut dalam pemahamannya.
Namun satu hal yang belum ketahui oleh Madara. Yaitu, Naruto mempunyai setengah darah mahluk yang paling dia benci... Iblis.
'Akankah terjadi sebuah perpecahan antara mereka berdua saat identitas Naruto sepenuhnya terungkap?... Aku harap tidak ada yang mengungkapnya terutama 'dia' agar semuanya bisa berjalan sesuai alur takdir yang sudah ditentukan!' Youkai Kitsune di dalam tubuh Naruto pun membatin hal yang sedikit ganjil. Setelah itu kembali tertidur pulas.
.
Kembali ke sisi Naruto.
Dengan wajah hancur di sana sini seperti... : Luka lebam membiru si hampir sebagian besar wajah, mata sebelah kanan membengkak, sudut bibir dan hidung yang mengeluarkan darah... Pokoknya sudah tidak layak dikatakan sebagai wajah... Dia memandang lurus ke langit. Sekarang, iris biru samudra miliknya terlihat kosong bagai mayat hidup. Pandangan kosong itu menyiratkan penyesalan yang sangat besar.
Dia sudah memahami semuanya... Mulai dari apa yang telah dilakukannya kepada gadis masa kecilnya yang selalu menemaninya hingga apa yang menimpanya sekarang.
Sebuah Karma!
Balasan atas tindakannya selama ini!.
Karena sama seperti dirinya. Gadis itu hampir diperlakukan sama oleh dia, diabaikan begitu saja setelah semua yang telah dilakukan.
Naruto mengankat tangan kanan dan menadahkan tepat di atas wajahnya. Senyum kecut pun disungging Naruto. "Nee... Kalau kau sudah benar-benar tidak ada di dunia ini, mungkin kaulah yang membuatku seperti ini dari atas sana... Karena telah telah membuatmu menderita menungguku."
Pemuda ini langsung menutup wajah babak belurnya dengan tangan kanan yang tadi terangkat untuk menyembunyikan sesuatu... Dia menangis, cairan bening mulai mengalir dari sudut mata bengkaknya. Mengalir melalui sela-sela jari. Sekaranglah, dari cairan bening, dia mengeluarkan semua penyesalannya pada sang gadis yang kemungkinan besar telah tiada.
"Gomennasai... Hontou ni gomennasai... Hiks-hiks..." Naruto berujar lirih dan beberapa menit diam kemudian tak mengeluarkan sepatah kata pun kecuali isakan penuh penyesalan sangat besar. Hingga akhirnya, dia memberanikan diri memanggil nama kecil sang gadis.
.
.
"... Hina-chan!"
Dan tepat setelah itu, Naruto menyelam ke dalam ingatannya sendiri ketika masih bersama sang gadis yang sering dia panggil 'Hina-chan'. Dan setelah memikirkan hal ini hingga ke tingkat terkecilnya, Naruto akhirnya memutuskan untuk mengakhiri semua hal yang sudah dia lakukan pada Rias agar semua kesalahannya terhadap gadis masa lalunya setidaknya bisa terbayar walaupun tidak semua.
Itu adalah... Menghilangkan semua hal tentang Rias dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Tapi pertanyaannya... Apa dia bisa menghilangkannya begitu saja?
Naruto memejamkan mata beberapa saat. Setelah merasa sudah sedikit membaik, Naruto menghapus kasar cairan bening di wajahnya. "Tunggulah, Hina-chan... Aku pasti melakukan sesuatu agar kau bisa tenang di atas sana!"
.
.
.
.
.
.
.
Di dalam apartemen, Ketika Madara tiba, dia langsung di tahan oleh Hashirama dan Yuki yang sudah sadar dari pengaruh Genjutsu.
Singkat cerita... Saat Madara mengambil Yuki dari sofa di ruang klub penelitian ilmu gaib, dia langsung memberikan Genjutsu yang berguna untuk menghapus ingatan tentang penculikan yang menimpa Yuki. Dia sebenarnya tidak tega melakukan hal itu, tapi karena takut Yuki menderita trauma. Dia pun memilih cara ini walaupun sedikit ragu bisa berhasil... Dan sekarang lah saatnya untuk membuktikan jika Genjutsu itu bekerja.
"Bagaimana keadaanmu Loli-chan?" Tanya Madara agak takut-takut Genjutsu-nya tidak bekerja.
Yuki memasang ekspresi bahagia lalu mengangguk mantab. "Sudah mendingan Maddie-niichan!"
"Begitukah... Lain kali, jangan terlalu banyak makan es krim, ya... Kalau pingsan lagi. Kita juga yang repot kan?" Madara menghela nafas lega. Ternyata hal yang dilakukannya tidak sia-sia.
"Aku mengerti, Maddie-niichan!" Jawab Yuki kembali menganggukkan kepala membuat surai putih tebalnya melambai-lambai. "Tapi, Maddie-niichan janji akan mengajakku lagi kan?" Tatapan memelas pun dipasang oleh Yuki agar Madara mau mengabulkan permintaannya.
Sialnya bagi Madara. Tidak ada yang lebih berbahaya dari tatapan memelas seorang Loli imut nan polos seperti Yuki. 'Sial, efeknya terlalu besar!... Sharingan-ku tidak bisa menandinginya.' Dengan wajah horor disertai keringat dingin. Madara menganggukkan kepala tanda menerima permintaan Yuki.
"Yippe!... Arigatou, Maddie-niichan!"
Melihat keakraban Madara dan Yuki. Hashirama malah bengong sendiri memikirkan apa yang terjadi pada kedua orang itu. Apalagi setelah mendengar panggilan Yuki kepada Madara. "Hoiy, sejak kapan kalian jadi saudara?" Tanyanya untuk memastikan kapan mereka berdua menjadi saudara angkat. Jujur Hashirama agak iri, karena sekarang hanya dia yang dianggap sebagaim 'paman' di sini.
Madara memasang tampang sombong tepat di depan Hashirama dan dengan bangganya, dia berkata. "Sejak tadi sore... Dan sekarang kaulah yang tertua disini, Doobeee!"
"Sialan kau Teme, siapa yang kau panggil paling tua, haa?"
"Kau!" Madara menunjuk lurus wajah Hashirama dengan tampang masih sombong.
Hashirama tiba-tiba menundukkan kepala. Aura suram berupa garis-garis melengkung muncul di atas kepalanya. "Kenapa ini harus terjadi padaku 'sih?... Oh, Kami-sama ampunilah aku yang sudah melakukan banyak dosa ini!"
"Haaa?" Madara tiba-tiba melongo goblok mendengar curahan hati sohibnya yang kelewat nista. "Hentikan, Dobe... Kau membuatku jijik mendengar curahan hatimu itu!" Sebuah sensasi aneh pun terjadi di perut Madara. Semua isinya seperti tertarik ke atas menuju kerongkongan.
"Hoeekk!... Kalau mau curhat. Sana curhat sama pintu saja! Aku tidak sudi mendengarnya."
Sedangkan sang mahluk terindah di muka bumi –Dedek Yuki... Memilih diam melihat interaksi kedua shinobi 'tidak normal' di depannya. Bukan karena takut dibentak oleh Madara ataupun Hashirama. Tapi karena tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Untuk kesekian kalinya, salahkanlah kepolosan Loli ini.
'Curhat?... Apa itu semacam makanan?'
Nah, Terbuktikan? Kalau Yuki masih rada-rada polos. Istilah saja dikira makanan.
.
.
"Oh, iya!" Beberapa menit kemudian, Hashirama kembali ke mode normal. "Dimana Naruto? Sejak kembali, batang hidungnya tidak terlihat sama sekali."
"Si bodoh itu ya?... Dia lagi melakukan renungan di halaman belakang. Sebaiknya kau tidak mengganggunya." Madara mengalihkan direksi pandangannya ke Yuki. "Itu juga berlaku untukmu, Loli-chan!"
"Mouu~~ Maddie-niichan tidak asik, padahal aku mau menceritakan semua yang kita lakukan tadi pada Nii-chan."
Sang Uchiha menggeleng pelan. "Kan masih ada hari esok dan seterusnya, Loli-chan... Malam ini Aniki bodohmu itu perlu memenangkan diri. Jadi biarkan dia sendiri untuk sementara waktu."
"Hmmmpt... Baiklah!" Yuki menggembungkan pipi sedikit kesal. Tatapan lalu tertuju pada Hashirama. "Nee~ Kalau Ojii-chan, mau tidak mendengar ceritaku?"
"Aku tid-" Belum sempat mengutarakan penolakan, Hashirama langsung mendapatkan tatapan tajam dari Madara yang seolah-oleh ingin membakarnya hidup-hidup. Dia pun menghela nafas, lalu tersenyum kecil yang ditujukan untuk adik Naruto. "Tentu saja!"
Yuki berteriak antusias dan segera menarik lengan Hashirama menuju sofa di ruang tengah. Setelah keduanya duduk. Yuki langsung menceritakan semua yang dia lakukan bersama Madara selama seharian penuh.
Madara tersenyum tipis melihat raut wajah bahagia Yuki ketika bercerita. Baginya, ini seperti pemanis atas apa yang baru saja di lakukan pada Naruto di halaman belakang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beralih ke tempat yang sangat jauh dari apartemen Naruto.
Puluhan tubuh mahluk berbagai macam bentuk dan rupa tergelatak pada permukaan tanah, darah segar terlihat dimana-mana, beberapa anggota badan yang seharusnya melekat pada tubuh malah berserakan dimana-mana. Tanda bahwa pertempuran baru saja terjadi di tempat itu.
Tempat itu adalah area pabrik yang sebelumnya Jiraiya dan mata-matanya datangi.
Di tengah-tengah penuh mayat mahluk tidak berbentuk tadi. Jiraiya berdiri sambil mendongak ke atas. "Khukukuku... Kemampuanmu ternyata masih tajam Jiraiya, kau adalah orang pertama yang membantai puluhan hasil penelitianku!" Kata orang yang diatatp oleh Jiraiya.
Dialah Orochimaru.
"Jangan-jangan..." Mata Jiraiya melebar sempurna. "... Kau yang membocorkan informasi Konoha kepada pihak iblis [Old-Satan Faction], Orochimaru?"
Orochimaru menyeringai ular. "Benar... Akulah orang itu, Jiraiya!" Secara frontal, dia mengakui semuanya. "Aku melakukannya demi mencapai tujuanku... Yaitu, mendapatkan apa yang namanya keabadian seumur hidup dengan melakukan semua penelitian ini!"
"Lalu kenapa, haa?... Kenapa kau sampai memalsukan kematianmu lalu kabur dan membocorkan informasi Konoha, Orochimaru? Bukannya kau bisa melakukan penelitianmu di Konoha!"
Seringai ular Orochimari semakin mengembang jelas. "Apa kau sudah lupa semuanya, Jiraiya!"
"Cih, jangan bercanda Orochimaru!... Mana mungkin kau rela melakukan semua ini, hanya karean kejadian itu!"
"Ya, aku rela melakukannya... Asalkan tujuanku yang sebenarnya bisa tercapai sepenuhnya." Tidak mau rencana besarnya terbongkar secara keseluruhan, Orochimaru mulai merangkai segel tangan.
"Tunggu, Orochimaru!" Jiraiya segera melompat menuju tempat Orochimaru, namun...
"Jaa~nee... Jiraiya!" Segel tangan Orochimaru akhirnya selesai. Tubuh pria berkulit pucat itu pun menghilang dalam ledakan asap putih.
Jiraiya mendarat tepat di tempat Orochimaru tadi berdiri dan langsung mengumpat kesal dengan tangan kanan terkepal kuat-kuat. Dia berusaha menahan diri agar tidak kelepasan dan mengambuk di tempat ini. Dan satu hal yang sudah pasti menjadi prioritasnya setelah mengetahui kebenaran tentang invasi Konoha adalah ... Mengejar Orochimaru dan memaksanya mengungkap semua rahasia dibalik pria itu kenapa melakukan hal yang sangat buruk ini.
Sebuah penghianat besar-besaran yang terjadi hanya karena sebuah tujuan dan kejadian di masa lalu yang menimpa pria bernama Orochimaru itu. Tanpa basa-basi, Jiraiya langsung memerintahkan salah satu anggota di jaringan mata-mata yang tadi menemani kesini untuk memeriksa area ini bersama-sama.
Tidak lain untuk mencari informasi tempat persembunyian Orochimaru yang lain. Karena dia tau, Orochimaru adalah seorang jenius yang tidak mungkin hanya memiliki satu tempat persembunyian untuk melakukan penelitian gila.
3 jam mencari!... Akhirnya Jiraiya menemukan sebuah petunjuk berupa sebuah peta yang diberi tanda di 4 lokasi berbeda di daerah tidak jauh dari Kyoto dan Kuoh. Sekarang Jiraiya berpikir. Apa Orochimaru itu jenius apa bodoh? Kenapa mendirikan markas di dekat 2 kota yang menjadi wilayah beberapa mahluk supranatural. Atau mungkin ada hal lain yang direncakan oleh Orochimaru?
Masa bodoh memikirkan itu... Pikir Jiraiya. Yang penting sebuah petunjuk penting sudah didapatkan. Dan sebagikanya dia segera kembali ke kediaman Naruto di kota Kuoh untuk memberitahukan hal ini ke Madara dan Hashirama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari telah berlalu semenjak Naruto diberi pencerahan sekaligus penyiksaan oleh Madara. Keadaannya mulai membaik, sang Ojou-sama sudah sangat jarang muncul di kepalanya. Sungguh, Naruto harus berterima kasih ke Madara karena hal ini.
Jika saja dia tidak diberitahu tentang sang gadis kecil. Mungkin gambaran-gambaran ingatan Naruto ketika masih bersama sang Ojou-sama kembali bermunculan.
.
Malam hari di apartemen quartet mahluk absurd. Tiga dari empat penghuninya tengah berkumpul di ruang tengah. Madara dan Hashirama duduk di sofa yang sama, sedangkan Naruto duduk pada sofa yang berada di depan kedua orang tadi. Di antara mereka, ada meja yang membatasi. Di atasnya tersaji tiga gelas kecil berisi ocha hangat buatan Hashirama.
"Bagaimana Naruto?... Apa si kepala merah sudah kau beritahu?" Madara menyerubut ocha hangat yang disajikan oleh Hashirama lalu meletakkan kembali gelas itu di atas meja. Di depan dia, Naruto hanya mengangguk pelan memberi jawaban.
"Baguslah... Lalu bagaimana tanggapannya?"
"Lumayan marah dan sedikit, errr... takut. Menurutku!"
"Tunggu dulu!" Tiba-tiba saja Hashirama yang duduk di samping Madara angkat suara. "Sebenarnya apa yang kalian bicarakan sih?... Kepala merah, marah dan takut. Aku bingung tau!" Wajah dongkolnya pun terpampang jelas. Madara menepuk jidat kesal dan Naruto menghela nafas berat.
"Haaa, tunggu saja... Orang yang dibicarakan akan segera datang kok!" Jawab Naruto agak malas.
"Maaaaaddiiiieeeee-niiiiiichaaaaaaan!"
Brukk!
Dari arah tangga, teriakan Yuki langsung menggema. Dan tak berselang lama, seorang gadis bertubuh Loli tiba-tiba berlari dan langsung memeluk Madara hingga membuat si pria Uchiha hampir terjatuh dari sofa.
Keringat sebesar jempol kaki menetes di belakang kepala Naruto. "Akhir-akhir ini reaksimu ke Teme semakin ganas saja, Yuki-chan!" Ucap pemuda ini dengan nada sweatdrop.
Yuki menoleh ke sang kakak dengan wajah gembira. "Habisnya, Maddie-niichan selalu mengajakku jalan-jalan sih!" Dia lalu mengembalikan pandangan ke Madara. "Benar kan, Maddie-niichan?"
Madara menjauhkan wajah tampannya dari Yuki. Ekspresinya terlihat kesal. "L-Loli-chan... S-Sesak nih!"
"Ahh, Gomen~Gomen... Maddie-niichan!" Yuki tersenyum kikuk.
Dia lalu melepas pelukan mautnya kemudian duduk di pangkuan sang Uchiha dengan senyum mengembang. "Nah begini lebih baik." Madara berujar datar sambil membelai surai putih gadis loli di pangkuannya.
"Tunggu!" Entah kerasukan setan spesies apa. Hashirama tiba-tiba berteriak keras dengan mata melebar. Jari telunjuk dia mulai mengarah ke Yuki. "Apa Yuki yang dari tadi kalian bicarakan?!"
Mendengar pernyataan Hashirama. Naruto dan Madara hampir terjungkal dari sofa yang mereka duduki. Sekali lagi pertanyaan yang sama kembali muncul di kepala Naruto melihat betapa bodoh, goblok dan tololnya mantan pemimpin desa tempatnya belajar banyak hal penting jika tidak dalam mode seriusnya. Pertanyaan itu adalah...
Apa benar Hashirama adalah mantan pemimpin desa Konoha?
Sudah sangat terlihat jelas kalau yang mereka bicarakan bukan Yuki. Gadis ini bersurai putih bukannya merah dan yang terpenting... Yuki sama sekali tidak pernah melakukan kejadian yang besar. Dia hanya penyebab kejadian besar yang baru terjadi beberapa hari yang lalu.
"Otakmu kau sim-"
Clek!
Madara belum sempat melempar ejekan ke Hashirama. Suara pintu apartemen yang dibuka oleh seseorang terdengar. Secara bersamaan, mereka berempat menoleh ke ruang tamu. Tak berselang 1 menit, suara yang sangat mereka kenal terdengar mengucap salam sekaligus memberi ejekan ringan.
"Tadaima, mahluk-mahluk aneh!"
"Oh, Okaeri... Muka Hentai!"
"Hn, Okaeri... Pak tua bangsat!"
"Okaeri, Ero-sennin!"
"Okaeri, Jiraiya-ojiichan!"
Balas Hashirama, Madara, Naruto dan Yuki secara bersamaan. Perempatan besar langsung tecetak di kening orang itu mendengar 3 julukan/ejekan yang ditujukan untuknya. Helaan nafas berat pun dikeluarkan lalu menghampiri ke-4 mahluk nista di ruang tengah apartemen.
"Haa... Sepertinya kalian berdua baik-baik saja kutinggal beberapa minggu." Kata orang itu yang tidak lain adalah Jiraiya.
"Apa dia orang yang kalian bicarakan?" Hashirama kembali mempertanyakan siapa yang orang yang tadi dibicarakan Madara dan Naruto.
"Hmnn, Ya~Ya..." Naruto dan Madara mengangguk-anggukan kepala mereka lalu, "... Ah, bukan~bukan!" menggeleng-gelengkan kepala setelahnya.
"Hoiy... Yang benar mana sih? Kalian membuatku bingung tau!" Hashirama mulai kesal. Dia merasa seperti dipermainkan oleh dua orang terdekatnya. Jiraiya yang baru tiba disana langsung sweatdrop melihat Hashirama yang berusaha mencari tau siapa yang dibicarakn oleh Madara dan Naruto.
Jiraiya langsung duduk di sofa yang sama dengan Naruto duduki. Pandangannya langsung tertuju pada –mantan- pemimpin Konoha dan asistennya. "Kalian lagi membicarakan apa? Kelihatannya serius sekali!"
"Hmnn... Cuma-"
"Tu-tunggu dulu..." Hashirama tiba-tiba menikung ucapan Naruto. "Kalian belum mengatakan siapa yang dibicarakan. Ayolah, beritahu aku... Madara, Naruto!" Tampang memelas pun dipasang Hashirama.
"Ayolah~Ayolah~Ayolah!" Tidak cukup dengan itu, salah satu tehnik andalan Yuki untuk meluluhkan Madara dan Naruto dikeluarkan Hashirama. Apalagi kalau bukan [Puppy Eye no Jutsu]. Tapi yang kedua orang itu lihat, Hashirama tampak seperti orang yang belum makan selama beberapa hari.
Dan itu sama sekali...
"Gak mempan!" Gumam Madara datar.
"Ya, benar... Itu gak mempan, Ossan!"
Dong!
Pupuslah sudah harapan Hashirama. Senjata terakhir yang menurutnya berhasil, malah tidak berefek apapun kepada Naruto dan Madara. Kepala dia kini tertunduk lesuh, garis-garis melengkung yang berjejer rapi mengepul di atas kepalan Hashirama. Tidak lupa backround suram yang semakin memperparah keadaannya saat ini.
"Kenapa kau membuat hidupku nista sekali, Kami-sama!" Gumamnya dengan nada depresi tingkat 8. Dan hasilnya... Madara, Naruto dan Jiraiya terkena swetdrop tingkat 9 secara berjamaah. Sedangkan Yuki malah pusing 7 keliling memikirkan apa yang menimpa Hashirama.
.
.
Beberapa menit kemudian, Hashirama akhirnya pulih. Dia tidak mau lagi bertanya atau meminta penjelasan ke Naruto. Lagipula orang yang mereka bahas akan segera muncul seperti kata Naruto.
"Madara, Hashirama... Aku punya informasi yang sangat penting!" Jiraiya pun angkat bicara.
Melihat wajah serius dari Jiraya. Madara dan Hashirama langsung menatap serius sang pertapa katak. "Apa itu Jiraiya?" Tanya Madara.
"Sebelum aku menjelaskan informasi ini..." Jiraiya mengalihkan pandangan ke Yuki yang masih setia duduk di pangkuan sang Uchiha terakhir. "... Yuki-chan, bolehkan kau ke kamar dulu! Ada yang ingin kami bicarakan. Dan kau tidak boleh mendengarnya."
Yuki mengerucutkan bibir. "Apa karena anak kecil tidak boleh ikut perbincangan orang dewasa lagi?" Setelah itu, Yuki menyilangkan lengan di dada. Karena payudara miliknya belum tumbuh sepenuhnya, maka tidak ada yang mengembang disana. "Aku tidak akan pergi dari sini! Aku sudah dewasa dan harus ikut!"
"Jiah..." Madara bergumam sedikit kesal lalu membisikkan sesuatu ke Yuki. "Kalau kau tidak pergi... Maka-"
"Baik~Baik, Maddie-niichan!" Seolah tau apa yang direncakana Madara. Yuki berucap dengan nada sebal, dia lalu mendongak ke wajah datar Madara. "Tapi janji ya, Maddie-niichan... Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi!"
"Hn... Aku janji!"
Setelah mendapat jawaban dari Madara, Yuki turun dari pangkuan Madara dan segera melenggang menuju tangga ke lantai dua. Tampaknya, Madara sudah memiliki senjata ampuh untuk membuat Yuki patuh. Tapi senjata itu mungkin tidak akan berguna jika Yuki juga mengeluarkan senjata pamungkasnya.
"Haaa... Untung saja dia tidak mengeluarkan itu!"
"Benar, Ossan... Aku saja tidak sanggup melawan 'itu'." Kata Naruto dengan tampang horor mengingat betapa menakutkannya senjata rahasia Yuki yang mereka bicarakan.
"Bisa kalian hentikan membahas 'itu' dan 'itu' itu... Membuatku pusing saja!" Ungkap Jiraiya agak kesal.
"Baiklah-baiklah..." Madara dan Naruto secara bersamaan mengangguk. Ekspresi kedua tiba-tiba berubah menjadi serius dalam sekejap. "... Jadi informasi apa yang ingin kau sampaikan? Jika itu cuma masalah novel pornomu, maka dengan senang hati akan kutendang kau ke neraka terdalam!"
"Maa~Maa... Mana mungkin aku jauh-jauh kesini hanya membawa informasi seperti itu." Dengan nada sedikit santai, Jiraiya membalas ucapan Madara.
"Lalu informasi apa kalau bukan novelmu itu?" Kali ini giliran Hashirama yang bertanya.
"Ini mengenai invasi Konoha..." Mata Jiraiya tiba-tiba memicing tajam. Ketiga orang di dekatnya pun tersentak. "... Aku sudah tau penyebab Invasi itu! Dalangnya adalah Orochimaru!"
Brakk!
"Apa!" Madara tiba-tiba menggebrak meja hingga, tiga gelas Ocha pada permukaan meja itu pun terlempar ke segala arah. "Jangan bercanda Jiraiya!... Bukannya ular brengsek itu sudah tewas dalam misi SS-Rank beberapa tahun yang lalu?"
"Madara benar... Bukannya Orochimaru dan Tim-nya tewas diserang sekelompok mahluk tidak dikenal!... Lagipula mustahil, Orochimaru yang memberitahukan eksistensi kita ke Old-Satan Faction." Hashirama ikut membenarkan ucapan dari Madara.
Jiraiya menggeleng pelan. Setelah itu, dia mulai menjelaskan semua hal tentang Orochimaru. Mulai dari pertemuan mereka, tentang tujuan Orochimaru hingga alasan kenapa Konoha bisa diketahui keberadaannya oleh iblis [Old-Satan Faction].
Setelah Jiraiya selesai menjelaskan semuanya, tubuh Madara kini memancarkan aura pembunuh sangat kuat. Bahkan [Mangekyo Sharingan] milik Uchiha ini telah aktif. Hashirama dan Jiraiya pun berdigik ngeri merasakan kuatnya aura pembunuh Madara. Tapi satu hal Jiraiya tau, Aura pembunuh ini masih kalah satu tingkat dibawah mantan pemimpin Kohoha, Hashirama. Tapi entah kenapa, Hashirama tidak mengeluarkan aura pembunuh miliknya.
"Ular brengsek itu akan kuhancurkan sampai ke bagian tubuh terkecilnya!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu, di dunia tempat para iblis tinggal, Underwold.
Di sebuah ruangan bergaya eropa klasik. Tiga iblis terlihat tengah membicarakan sesuatu. Mereka adalah Rias, Sirzechs dan Grayfia. Sang Maou-Lucifer sudah mengetahui kelakukan sang adik dari pesan yang dikirim Naruto melalui kertas sihir pemberiannya. Ingin rasanya dia memberi hukuman pada Rias, akan tetapi ini juga termasuk kesalahannya karena lupa memerintahkan Grayfia untuk memberitahukan ke gadis muda itu untuk tidak mengusik kehidupan sang Uchiha Terakhir.
Karena jika sampai itu terjadi... Maka kepalanya yang menjadi taruhan.
Tapi sayang, nasi sudah terlanjur menjadi bubur!
Rias sudah membuat sebuah kesalahan fatal. Bahkan Sirzechs tidak peduli kalau Adik dan Peerage-nya terluka di tangan Madara.
"Kenapa malah menyalahkanku? Bukannya Onii-sama sendiri yang lupa memberitahuku hal ini!"
"Ya, aku minta maaf tentang tapi... Kenapa kau sampai bertindak senekad itu?" Nada suara suara Sirzechs mulai naik beberapa tingkat. "Apa kau tidak puas sudah mendapatkan Sekiryuutei sampai-sampai mau menjadi Madara-san bagian dari Peerage-mu?"
Sirzechs lalu menghela nafas dan kembali memasang ekspresi tenang. "Untung saja Naruto masih menganggp dirinya sebagai pelindung-mu, Ria-tan... Kalau tidak mungkin dialah yang paling marah atas tindakanmu menculik Imouto-nya."
"Cih, Jangan sebut nama dia di depanku, Onii-sama!" Rias memalingkan ke arah lain, kedua lengannya disilangkan di bawah dua gunung kembar pada dadanya.
"Hey... Apa begitu balasanmu atas apa yang telah dilakukan Naruto kepadamu, Haa?" Sirzechs kembali membentak sang adik.
Melihat emosi sang suami mulai terlihat, Grayfia segera menepuk pundak pria yang berdiri di samping kirinya. "Tenangkan diri anda, Sirzechs-sama!"
Sang Maou-Lucifer menghela nafas berat dan tidak lupa mengucapkan terima kasih ke istrinya, kalau tidak mungkin dia sudah kelepasan dan bukan tidak mungkin akan memberi hukuman berat ke Rias, bukan sebagai kakak melainkan sebagai pemimpin.
"Sebenarnya, apa salah Naruto-kun sampai kau sangat membencinya Rias... Jika alasanmu masih soal janji itu, aku ragu hanya itu alasanmu!"
"Onii-sama cari tau saja sendiri!" Ya, seperti yang diprediksi oleh Sirzechs. Masih ada masalah lain yang Rias sembunyikan. Itu bisa Sirzechs lihat secara jelas ketika mendengar respon acuh tak acuh dari sang adik.
"Baiklah Rias... Aku sudah tidak bisa lagi ikut campur masalah kalian berdua. Tapi sebelum angkat tangan, aku punya tugas untuk kalian berdua... Ada informasi kalau Iblis liar kembali berulah di Kuoh. Bereskan Iblis liar itu dan selesaikan masalah kalian berdua... Dan jangan pernah meminta bantuanku jika Naruto-kun berbuat apa-apa kepadamu setelah ini... PAHAM?!"
"Ya~Ya... Aku paham, Lucifer-sama!" Balas Rias dengan menekankan gelar sang kakak di akhir ucapannya.
"Ayo Grayfia!" Sirzechs segera melangkahkan kakinya menuju area yang cukup luas di ruang tempat mereka sekarang.
"Kemana?"
"Ke tempat Naruto-kun untuk bertemu dan meminta maaf atas tindakan bodoh Ria-tan beberapa hari yang lalu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
[TrouBlesome Cut]
Yooo~~ '-')/
Bagaimana Chapter kali ini? Klo jelek dan Feel-nya kurang kena, Ane minta maaf deh '-')
Satu per satu masa lalu Naruto mulai saya ungkap dan itu adalah sebagian kecil masa lalunya ketika di Konoha... Dan Siapakah gadis kecil di masa lalu Naruto yang dipanggil Hina-chan?... Apakah Hinata? Atau malah Chara lain? Lalu apa dia masih hidup? Semuanya bakalan terjawab beberapa chapter lagi.
Untuk balasan Review, biar tidak ribet. Saya akan menjawabnya secara ringkas saja.
Bagi kalian yang menginginkan Naruto move on dari Rias dan tidak menjadi cengeng, lemah dan sebagainya lagi. Nah, dichapter ini Naruto memulai semuanya setelah mendapat pencerahan [Penyiksaan] dari Madara. Trus apa Naruto akan menjadi Dark? Hmnn... Mungkin saja, tapi saya tidak janji bakalan jadi Dark. Kemungkinan besar hanya Gray atau Semi-Dark lah!
Lalu masalah si Ular atau Orochimaru... Disini saya buat dia jadi musuh. Di Akhir Arc ini, semua tentang Orochimaru akan terungkap. Mulai dari kenapa dia menghianat dan siapa orang yang bersama dengannya di beberapa chapter sebelumnya.
Trus Sirzcehs... Sayang sekali yang meminta kepala sang Maou dipenggal. Itu tidak akan terjadi, walaupun Sirzechs sendiri yang membuat janji itu! Mungkin tavokan lengan Susano'o Madara sudah cukup untuk membalas perlakuan Rias terhadap Yuki.
Oh iya, hampir lupa. Di Chapter sebelumnya ada yang salah mengartikan gelar Madara. Disitu saya menulis 'Future God Shinobi' yang berarti Dewa Shinobi masa depan. Jadi di awal-awal ini kekuatan Madara masih dibawa atau mungkin setara ama Kokabiel, lagipula dia baru mempunyai [Mangekyo Sharingan].
Dan untuk 'uzumakynurroni' ... Terimakah telah menanyakan tentang, apa yang akan dilakukan Madara ketika mengetahui Naruto adalah Half-Devil. Khukukukuku... Seperti kata Kurama di Chapter ... Apakah akan terjadi perpecahan antara Madara dan Naruto? Kita tunggu saja.
Oke, mungkin tidak semua yang kalian tanyakan saya jawab diatas. Karena beberapa pertanyaan bersifat Sepoiler, hehehe. Tapi tenang saja, Review kalian sudah kubaca secara keseluruhan kok. Maka dari itu, saya berterima kasih telah menyempat diri membaca dan me-review Fic abal-abal ini.
.
"Setelah membaca Fic ini, puas atau tidak… Kami tetap pusing tujuh keliling!"
- Root Wood and Stark Fullbaster 012.
.
.
Root Wood Out! ... Mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy dulu! '-')/
