I'M SORRY, MAMA
…
…
…
Sarada yang sudah tergolong sering menjalankan misi, merasa tidaklah terlalu asing berada di Iwa. Seingat Sarada, ia juga pernah menjalankan misi bersama Itachi di Iwa.
Sesuai tujuan awalnya berada ke Iwa, sekarang ia langsung menuju kantor Tsuchikage.
Sarada melangkah dengan tenang memasuki area kantor Tsuchikage. Namun sebelum memasuki halaman utama kantor Tsuchikage, ia langsung di hadang oleh satu unit pasukan keamanan Tsuchikage.
Kendaraan berat pun langsung mengarahkan senjatanya pada Sarada. Melihat keadaannya, bisa di yakini, Sarada tidak akan lolos dari maut jika para pasukan itu melepaskan tembakan.
"Siapa kau!... mau apa kau!"
Begitulah pertanyaan dari para prajurit. Semua prajurit langsung bertanya dengan lantang pada Sarada secara bergantian. Sehingga halaman luas itu menjadi terasa berisik.
"Tahan" suara berat seperti menggema dan sontak saja tempat yang tadi berisik kini terasa sepi.
Sarada dan prajurit pengepungnya sontak menoleh ke asal suara bentakan tadi. Suara tersebut ternyata berasal dari suara pria yang selalu mendampingi Tsuchikage.
Pria itu menatap Sarada dalam-dalam. Ia menautkan alis. Tidak lama kemudian, ikut juga muncul Tsuchikage.
"Sarada?" sebagai seorang kepala negara, ia memang sering meminta bantuan pada kaum Uchiha. Apalagi Sarada, puteri Sasuke, tentu saja ia lebih mengenal Sarada. Terlebih lagi Sarada juga pernah menjalankan misi di Iwa, tentu saja Sarada juga mengenal Sang Tsuchikage.
Tsuchikage memberi isyarat agar menurunkan senjata.
"Sarada, ikutlah denganku. Aku tahu tujuanmu kesini" Sang Kage pun berlalu begitu saja dan di ikuti dengan tenang oleh Sarada.
Sarada kini berada di ruangan dalam kantor Hokage, yang seperti ruang itu adalah ruangan khusus yang mungkin adalah ruang untuk membicarakan hal yang sangat rahasia.
"Silakan duduk Sarada" titah Sang Kage pada Sarada.
Sarada tidak langsung mengambil tempat duduk, sesuai yang di inginkan Tsuchikage. Ia malah berdiriu di dekat pintu sambil menatap pada sang Kage.
Terdengarlah desahan nafas dari Kage perempuan pertama di Iwa itu. Sedetik kemudian ia melempar senyum hangat pada Sarada.
"Aku tahu, tujuanmun kesini Sarada. Duduklah, sebentar lagi, apa yang ingin kau ketahui akan kau tahu" kembali Sang Kage mengulangi permintaannya.
Tidak lama kemudian terdengarlah ketukan pintu.
"Masuk" Tsuchikage itu memberi perintah.
"Nyonya Kage, aku ingin melaporkan sesuatu hal penting" Mata Sarada membulat seketika ketika melihat siapa yang telah muncul di depan pintu, dia adalah Akari, adiknya snediri.
Akari yang baru datang, tidak melihat Sarada yang sedang berdiri di samping pintu masuk.
Sang Kage itu tidak langsung menangggapi ucapan Akari, ia malah tersenyum sambil menatap Sarada.
Akari yang muncul bersama Mai, serta merta menoleh kesampingnya mengikuti tatapan Tsuchikage.
"Sara…"
Buakk!
Serangan tiba-tiba dan cepat, belum lagi Sarada sangat dekat dengan Akari, di tambah lagi dengan kekagetan Akari atas kehadiran kakaknya, membuat Akari tidak sempat menghindar.
"Bangsat!" Sarad langsung memaki sambil melayangkan tinjunya, tepat mengenai wajah Akari.
Mendapat serangan mendadak seperti itu,serangan kuta dari Sarada tidak membeberikan efek yang besar, hanya membuat kepala Akari menoleh dengan tubuh sedikit memutar. Namun, serangan Sarada tidak hanya sekali, Sarada yakin, kekuatannya tidak akan seberapa jika hanya sekali melakukan serangan. Kembali Sarada tidak memberi kesempatan pada adiknya untuk memperbaiki posisi. Sekuat-kuatnya Akari, akhirnya ia akan goyah jika terus menerus di serang.
"Apa yang telah lakukan, brengsek!"
Buak! Buk!
Bruk!
Akari membentur dinding hingga tubuhnya terjatuh. Melihat tubuh Akari sudah jatuh, Sarada langsung berlari dan meraih kepala Akari kedalam pelukannya.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, huh! Hu…hu…hu…" pecahlah tangisan Sarada mengingat perbuatan adiknya yang justeru mengancam nyawa adiknya sendiri.
Meski ia memaki-maki adiknya berulang kali. Namun rasa sayang terhadap saudara jauh lebih besar, ia sebenarnya tidak bisa marah pada adiknya.
Terlalu banyak yang mengganggu pikiran Sarada terhadap Akari membuat perasaan Sarada makin terguncang. Bahkan Sarada sendiri, tidak tahu kenapa ia menjatuhkan tangan pada adik yang sangat di sayanginya itu.
Akari masih terdiam, membiarkan kakaknya yang menangis sambil memeluk kepalanya dan di rapatkan dalam dadanya.
Mai yang dari tadi seperti terpaku melihat ada seorang gadis cantik yang langsung memaki dan memukul Akari, apa lagi gadis itu malah memberikan pelukan. Kontan saja adegan itu, membuat dada Mai ikut bergetar. Ia merasakan rasa perih ketika gadis cantik itu memeluk Akari, karena Mai sebenarnya diam-diam telah menaruh hati pada Akari.
"Sarada nee…" panggilan Akari kontan saja membuat gemuruh Mai menjadi tenang, karena ternyata gadis yang di sangkanya kekasih Akari, ternyata adalah kakak Akari sendiri.
"Maaf…"
Sarada yang masih menangis, meski tidak sekeras tangisannya tadi, cuma menggeleng, bahkan makin mengeratkan pelukannya pada adiknya. Tangan Akari bergerak dan membalas pelukan kakaknya.
"Sarada, tenanglah. Dan kita akan mendengarkan penjelasan adikmu" suara lembut dari Tsuchikage menguar di pendengaran orang-orang yang hadir di situ.
Tampak Sarada menghentikan tangisannya, ia menarik nafas dalam-dalam, guna menenangkan sekaligus mengendalikan perasaannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Akari. Mama khawatir dan menangis akibat ulahmu, bodoh!" suara Sarada lirih menenangkan hatinya.
"Maaf! Sarada Nee-chan" ulang Akari minta maaf yang juga masih memeluk erat Sarada.
Sarada dan AKari kembali saling mendiamkan. Namun masih dalam keadaan berpelukan.
Tsuchikage dan Mai yang dari tadi diam membiarkan Sarada dan adiknya saling melepaskan emosi perasaan.
Tsuchikage lagi-lagi mengulangi, agar Sarada mau duduk bersama. Dengan demikian, Sarada pun bisa mendengar keterangangan adiknya.
"Nee-chan. Dia Mai" Akari mulai percakapan dengan memperkenalkan Mai pada Sarada.
Tanpa di perkenalkan pun, Sarada sudah bisa menduga tentang Mai sebagai rekan Akari. Sarada mengangguk perlahan pada Mai sebagai bentuk rasa hormat.
Mai menatap Sarada dan Akari secara bergantian. Dari cara Akari dan Sarada saling memanggil satu sama lain, Mai bisa melihat, meski bernada agak dingin dan datar jika berbicara, Sarada maupun Akari memiliki nada yang berbicara sangat berbeda jika kedua bersaudara itu berbicara satu sama lain.
Membuat Mai menilai, kalau kedua bersaudara ini di besarkan dengan penekanan pada rasa sayang. Mai cukup kagum melihat pembicaraan kedua bersaudara melihat kedua bersaudara itu, ada perasaan yang beda yang timbul dalam hati Mai.
"Akari, maukah kau menjelaskan tentang hal ini pada Kakakmu?" pertanyaan Tsuchikage membuat tatapan Sarada mengarah pada Akari seakan menuntut alasan.
Akari menarik nafas dan di hembuskan kuat-kuat.
"Pertama kali datang kesini, dan mendengar keterangan Nyonya Tsuchikage. Aku mulai mencium adanya penghianat di lingkup pemerintahan ataupun Staff Kage. Olehnya, aku dan Mai memutuskan untuk berpura-pura menjadi pemberontak. Dengan harapan, aku bisa menarik orang-orang yang ingin membelot. Bukankah untuk mendapat tangkapan yang lebih banyak, serigala harus menyamar jadi domba" Akari mulai menjelaskan.
Akari juga meminta tsuchikage untuk merekam hasil rapat dengan para petingginya. Akari ingin mengetahui yang mana pejabat korup dan yang mana yang bersih. Tentu saja Akari juga terlatih untuk mendeteksi kebohongan dan bisa membaca prilaku seseorang hanya dengan melihat dari wajahnya. Akari ingin membuat kekacauan dengan menjadikan tumbal para pejabat korup, sekaligus meyakinkan kalau Akari benar-benar melawan pemerintah.
Setiap beraksi, Akari tidak menutupi wajahnya. Ini bertujuan untuk mengukuhkan posisinya, sekaligus memberikan rasa takut pada semua lawan politik Han. Yang benar-benar takut dengan aksi Akari, mereka akan menyatakan diri untuk bergabung. Dan yang kukuh pada pemerintahan, mereka malah seakan-akan menantang Akari.
"Jadi, aku dan Mai menyamar jadi pemberontak. Kelompok terbagi tiga. Kelompok yang bersamaku sekarang, lalu kelompok yang melawan kami dan juga pemerintah. Dan aku menyerang kelompok kedua agar mengukuhkan kami sebagai pemberontak" Akari mengakhiri penjelasannya
"Sudah berapa banyak nyawa yang harus korban atas rencanamu?" Sarada ingin sekali rasanya memarahi adiknya jika saja ia tidak ingat kalau ia kini berada di kantor Tsuchikage. Bahkan sang Tsuchikage pun hadir.
"Akulah yang mengatur semua itu, Sarada" giliran Sang Kage Iwa yang menyela. "Aku percaya pada adikmu, semua yang menjadi korban adalah bawahan dari orang-orang yang menunjukan gejala ingin menentang pemerintahan"
Terdengarlah hembusan nafas dari Sarada. Itu artinya orang yang menjadi korban adalah golongan pemberontak pula, dan mereka pura-pura menyerang basis Akari, agar kebohongan mereka, makin tertutupi. Memikirkan itu, Sarada sedikit tenang, karena tak ada orang-orang bersih yang menjadi korban dari sandiwara Akari.
Tsuchikage juga menceritakan kalau ia membentuk tim yang membekuk Akari yang terdiri dari orang-orang yang ia curigai ingin membelot. Dan Sang Kage memiliki metode tersendiri untuk mengetahui mereka yang menjadi pembelot.
"Bukankah statusmu sebagai pemberontak, kenapa kalian bisa berada di sini?"
Akari dan Tsuchikage saling taatap sesaat, "Akari kuberi akses khusus untuk bisa sampai kesini. Tanpa sepengetahuan orang lain"
Sarada tentu saja tahu, akses khusus yang di maksudkan adalah jalan rahasia.
"Sarada nee…" Akari tidak melanjutkan ucapannya, kepalanya malah sedikit di tundukan.
Sarada menangkap adanya raut wajah penyesalan dari adiknya, "Tidak apa-apa, Akari" Sarada sama sekali tidak ingin adiknya itu di rundung muram karena rasa penyesalan. Dan sarada bisa yakin kalau itu malah akan mengganggu kinerja dan tugas adiknya. Maka segera di tenangkannya Akari
"Terima kasih, Onee-chan" tanggap Akari dengan lembut.
…
SSS
…
Awalnya Sarada masih ingin menetap di Iwa. Bahkan ia sangat ingin membantu adiknya dalam memperlancar sandiwara. Tapi Akari menolak, bukannya ia merasa yakin pada diri sendiri. Ia hanya ingin, setelah tahu kalau mama mereka bersedih akibat ulahnya, agar tenang.
Akari pun dengan penyamarannya, mengantar sang kakak untuk pulang.
"Onee-chan" panggilan lembut Akari pada kakaknya, "Pulanglah duluan. Katakan pada mama, kalau aku tidaklah menjadi pemberontak. Aku tidak ingin mempermalukan nama keluarga, hanya karena ingin menjadi tenar. Aku juga tak ingin membuat mama khawatir. Sebentar lagi kasus ini akan selesai. Ku mohon jelaskan juga tentang ini pada Mama" Akari menatap kakaknya, "sekalian juga permintaan maafku padanya" suara Akari melirih. Ada rasa bersalah mengingat sang mama sangat khawatir bahkan sampai menangis karena ulahnya.
"Akari, kau yakin tidak butuh bantuan" justeru Saradalah yang balik khawatir pada Akari. Ia masih ingin lama-lama di Iwa. Ia ingin turut membantu misi adiknya dalam menumpas oknum-oknum penghianat di dalam lingkup pemerintahan Iwa.
"Maaf, Sarada-san…"
"Sarada nee…" Sarada memotong ucapan Mai. Sejak awal, sejak pertemuan mereka. Sarada bisa menilai kalau gadis cantik berambut lavender itu menaksir adiknya. Sarada juga bukanlah orang bodoh, meski Akari sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Namun sebagai saudara, tentu saja Sarada memahami pula perasaan Akaari.
"Eh… i.. itu.. maaf Sarada nee… kurasa kami bisa… Nee-san tak perlu khawatir" Mai malah kelabakan saat Sarada yang tiba-tiba memintanya mengubah panggilan. Jantungnya malah berdegup kencang dengan perasaan yang bercampur aduk. Tapi perasaan senang Mai lebih mendominasi.
"Hn" Sarada menatap Mai. Tentu saja, menurut Sarada, mungkin mereka kini sudah kompak dalam misi. Dan Sarada membenarkan, kalau tenaganya memanglah tidak di butuhkan di sini. Lagi pula, ada hal penting yang harus ia lakukan, yaitu, menenangkan sang mama.
Sarada segera menjabat tangan Mai dengan hangat. Tak lupa pula sebuah pelukan ia berikan pada adiknya.
"Saling jagalah kalian" Mai menangkap, tatapan Sarada kali ini berbeda kepadanya. Mai bisa merasakan adanya pancaran kasih dari tatapan Sarada padanya. Mai juga menangkap adanya senyum tipis Sarada padanya, yang menurut Mai, malah membuat Sarada makin tambah cantik.
Mai bersemu mendapat tatapan dari Sarada. Lagi-lagi tingkah Mai membuat Sarada sedikit tersenyum.
"Baiklah, aku pulang" Sarada memutar tubuh hendak meninggalkan Akari dan Mai.
"Mai, ku harap pertemuan kita tidaklah hanya sampai di sini" imbuh Sarada sambil melangkah, menjauh.
Wajah Mai makin merona mendengarkan ucapan Sarada. Akari yang berada di samping Mai malah tersenyum, 'Akan kulakukan, Nee-chan' batin Akari.
Seusai mengantar Sarada, Akari dan Mai kembali kekantor Tsuchikage.
"Jadi, apa rencanamu Akari?"
"Operasi militer. Aku dan Mai sudah menetralisir daerah yang akan di jadikan Daerah Operasi Militer. Semua penduduk sipil akan segera berpindah. Nah rencananya, aku akan mengumpulkan semua para penghianat itu untuk berkumpul. Dan saat itulah, operasi besar-besaran akan di lakukan"
"Kalian yakin?"
"Yakin, tapi rencana ini harus tepat, jika terlalu cepat, akan banyak rakyat sipil yang akan menjadi korban. Namun jika terlambat, justeru akan ketahuan" imbuh Mai mendahului Akari.
Sang Kage Iwa menatap dua anak muda di depannya secara bergantian. Meski ia yakin kalau rencana ini sudah di rencanakan dengan matang oleh kedua pemuda ini, namun Sang Kage masih menyimpan keraguan. Bagaimana bisa ia yakin kalau Akari sudah berhasil menarik semua para penghianat.
Tentu saja, keraguan Tsuchikage bisa di pahami oleh Akari.
"Begini, kami telah membunuh semua orang yang berseberangan dengan pemerintah dan juga dengan kelompok kami. Dan aku yakin, yang menentang pemerintah, semuanya telah bergabung dengan kami. Olehnya itu, saat operasi militer, yakinlah kalau, yang sudah bersama nyonya adalah orang-orang bersih"
"Jika kami melakukan operasi militer, bagaimana dengan kalian berdua?"
Akari dan Mai saling tatap.
"Serahkan padaku" Mai maupun Tsuchikage kurang menangkap maksud Akari. Apa maksudnya kini Akari malah mengatakan 'padaku' bukan kata 'pada kami'.
Berikutnya Sang Tsuchikage cuma mengangguk pasrah, dan mengikuti rencana dari Akari dan juga Mai.
"Kau siap. Akari" tanya Mai yang juga sudah mulai bersiap-siap.
Akari cuma mengangguk menatap Mai dan Tsuchikage secara bergantian. Berikutnya, Mai malah mengerutkan dahi melihat Akari yang justeru menatap dirinya lama-lama.
"Akari, aku ingin bertanya sesuatu, apa maksudmu tadi dengan mengatakan 'serahkan padaku'?" Mai sedikit perlahan bertanya.
Mai makin heran dengan tatapan sendu Akari padanya.
Akari menatap Mai, karena Akari merasa kalau misi yang rencananya akan di selesaikan ini, akan sangat berbahaya. Dan ada rasa tidak rela dalam hati Akari jika Mai kali ini terlibat. Dan memang benar, Akari-lah yang akan melakukan sendiri.
"Tidak ada" Akari menggeleng.
"Hanya…"
Buk!
Akari bergerak sangat cepat, bahkan tidak sempat lagi di ikuti Mai. Sebuah pukulan keras mendarat di perut Mai.
"Ukh!"
Mai membungkukan badan, akibat pukulan Akari.
Puk!
Sekali lagi sisi telapak Akari mengenai tengkuk Mai, hingga Mai jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
"Akari…!" Tsuchikage melotot, kejadian yang begitu cepat, tidak sempat lagi di cegah. Ia hanya melihat Akari sudah, menangkap tubuh Mai yang tadi terjatuh.
"Maaf, nyonya. Aku akan melakukan semuanya sendiri"
Tsuchikage akhirnya mendesah nafas. Lalu berikutnya tersenyum menatap Akari.
"Baiklah, apa rencanamu"
"Aku adalah pedagang obat terlarang, aku ingin menyamarkan bom di dalamnya. Aku akan meledakan mereka dari dalam. Aku akan memberi tanda. Setelah itu, lakukan serangan, luluh lantahkan saja tempat itu"
Tentu saja hal itu tidak akan ketahuan karena Akari sudah sangat di percaya oleh Tofune dan yang lainnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku tidak apa-apa" jawab Akari, lalu ia membungkukan badan minta pamit dan melenggang pergi, setelah menatap Mai yang masih pingsan.
Tsuchikage sedikit menggeleng kepala melihat ulah Uchiha muda itu..
Tsuchikage itu mendengus tersenyum, "Like Father, like son" gumamnya. Karena ia juga mengenal pemuda itu adalah putera Sasuke dan Sakura.
Tsuchikege kemudian menatap Mai yang tadi sempat di baringkan oleh Akari. "Kalian serasi sekali"
…
SSS
…
Sarada sedikit menautkan alis, ia melihat sang mama tiba-tiba buru-buru menutup telepon. Padahal tadi ia sempat melihat bagaimana Sang Mama itu sedang tersenyum sambil berbicara lewat telepon.
"Mama" Sarada menatap Sakura
"Dari pa… eh… itu, bukan siapa-siapa sayang" Sakura terlihat sedikit kelabakan, dan berusaha ia tutupi dengan cengirannya. Sarada makin menautkan alis, Sakura sama seperti pamannya. Tampak menyembunyikan sesuatu.
Sarada makin penasaran dengan kata yang sempat terpotong. 'Pa..?' Apakah kata yang di maksud adalah papanya. Karena andai jika yang di maksud 'paman' maka pasti mamanya tidak akan menahan kata-katanya.
"Misimu sudah selesai, sayang" tanya Sakura membuyarkan pertanyaan-pertanyaan yang tadi sempat melintasi pikiran Sarada.
"Iya, mama" senyum Sarada menatap Sakura.
Sakura malah menangkap adanya arti sebenarnya di balik senyum Sarada.
"Sebenarnya…" Sarada mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Akari. Termasuk kepura-puraan Akari yang menjadi pemberontak. Tak lupa juga ucapan permintaan maaf dari Akari, juga Sarada sampaikan.
"Kau tidak berbong kan, Sarada?" Sarada mengangguk meyakinkan Sang Mama.
Sakura nyaris tidak percaya dengan berita yang di sampaikan puterinya. Ternyata Akari memang tidaklah sungguhan, tapi bersandiwara menjadi pemberontak guna menarik semua para penghianat. Ia sedikit kesal dengan ulah puteranya yang sangat beresiko.
Sakura malah terdiam karena saking senangnya. Ia malah sedikit tersenyum, ternyata perasaan suaminya lebih peka terhadap anak-anaknya dari pada dirinya sendiri.
"Mama?" panggil Sarada yang malah mendapati Sakura tersenyum sendiri.
"Oh… tidak apa-apa sayang. Syukurlah, kalau adikmu memang bukanlah pemberontak. Tapi apa kau yakin kalau adikmu memang tidak akan apa-apa?" lagi-lagi Sarada mengangguk meyakinkan sekaligus menenangkan Sakura.
…
SSS
…
Akari melangkah ke tempat pertemuan bersama Tofune dan yang lain.
"Akari" panggilan dari Han menghentikan langkah Akari.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu" AKari masih tidak bergeming dari tempatnya, "Mai mana?" kembali Han mempertanyakan gadis yang selalu bersama Akari.
"Mai sedang bertransaksi" jawab Akari masih tenang seperti biasa.
"Oh, bagaimana kalua kita berbicara sebentar ada yang ingin ku bicarakan padamu" ulang Han.
"Bukankah kita akan melakukan pertemuan"
"Masih ada waktu. Ayo!" Han mendahului Akari melangkah menuju kamarnya jika ia datang membicarakan sesuatu dengan Tofune. Akari yang penasaran mengikuti langkah Han.
"Begini Akari" Han membuka percakapan setelah mempersilakan Akari duduk, "sebenarnya tujuan utamaku menggulingkan pemerintahan Iwa adalah menjalankan misi dari organisasi"
"Organisasi?" Akari menautkan alis. Sebagai politikus, itu memang hal wajar. Kospirasi berkepanjangan karena adanya maksud lain, selain yang di tunjukan memang.
"Ya. Namanya AKatsuki"
Akari malah penasaran dengan organisasi Akatsuki yang baru saja di katakan Han. Ia malah ingin menyelidiki lebih jauh tentang Akatsuki.
"Seperti apa Akatsuki ini" AKari malah menunjukan kalau ia tertarik pada organisasi Akatsuki.
"Organisasi ini telah berdiri lebih dari 20 tahun. Tujuan organisasi ini adalah agar semua orang berada di bawah satu naungan, dengan demikian semua orang akan menjadi setara, itulah tujuan Akatsuki" terang Han.
Akari malah nampak berpikr. Akari berusaha meraba-raba tujuan Akatsuki. Jika memang berada di bawah naungan Akatsuki, itu tidak mungkin, karena semua negara pasti memiliki sistem tersendiri, mustahil satu pendapat dengan Akatsuki.
Sesuai keterangan Han, mereka sudah lebih 20 tahun berdiri. Apa saja yang mereka lakukan. Muncul lagi satu pertanyaan, bagaimana reaksi AKatsuki pada negara yang menolak penyatuan ini. Sudah pasti, mereka yang menolak akan di perangi. Akari yakin, siapapun, jika bertahan sejauh itu pasti ada maksud tersembunyi. Dan Akari juga meyakini kalau pastilah Akatsuki akan melakukan apasaja agar semua negara menuruti ideologi penyatuan, dan hingga saat itu, kemungkinan yang terjadi adalah perang.
Akari kelihatan menarik nafas, ia juga tidak setuju dengan ideologi penyatuan ini.
Tapi entah kenapa, insting Akari malah seperti memberitahukan kalau belum saatnya Akari terlibat dengan Akatsuki. Dan sesuai dengan keterangan Han, Akari menyimpulkan kalau sebenarnya organisasi Akatsuki ini, sudah lama bercokol. Ia merasa harus pulang dan memberitahukan pamannya atau siapapun tetua di Uchiha tentang ini.
"Bagaimana Akari?"
"Aku tidak tertarik. Seperti yang ku bilang, aku tidak ingin ada yang mengangguku ketika berbisnis"
Usai berkata demikian, Akari meninggalkan Han. Tapi baru beberapa langkah meninggalkan Han, langkah Akari terhenti.
"Bagaimana dengan kekuatan Akatsuki"
"Untuk sementara, kita hanya memiliki sekelompok prajurit yang kulatih. Sebagian juga sudah kukirim padamu untuk kau habisi untuk meyakinkan Tsuchikage, kalau aku berada di pihak mereka.
"Tujuanku adalah membantumu, menggulingkan pemerintah. Selebihnya bukan urusanku" jawab Akari.
"Tapi aku berharap kau berubah pikiran dan bergabung dengan kami"
Akari cuma menggumam sambil meninggalkan Han.
Sepeninggal Akari, Han tersenyum, ia melihat rasa penasaran di wajah Akari. Dan ia yakin kalau, Akari suatu saat akan bergabung dengan organisasinya. Han sendiri sudah membuat trencana, bagaimana cara agar agar Akaribisa ikut bergabung dengan Akatsuki.
Senyum Han makin melebar, jika Akari berhasil bergabung dengan akatsuki, maka ia memiliki rencana lebih. Melihat kemmpuan Akari, Han berencana akan menjadikannya senjata untuk meraih posisi tertinggi di Akatsuki.
Usai memikirkan rencananya yang tertinggi, Han segera menyusul Akari
Akari tiba di sebuah ruangan mewah yang cukup besar. Kursi yang berada di sekitar meja berbentuk persegi panjang itu sudah terisi penuh. Kecuali beberapa kursi yang berada di
ujung meja. Kursi untuk untuknya dan mungkin juga untuk Han yang baru hadir bersamanya pula. Orang-orang itu berdiri saat Akari memasuki ruangan di ikuti oleh Han. Mereka menatap Akari dengan pandangan yang berbeda-beda. Namun ada hal yang menyamakan pandangan mereka. Ternyata pemuda pemberontak yang kini mulai jadi pemberitaan dan mengguncang Iwa, adalah seorang anak muda. Tapi tak ada yang bisa di tampik, sepak terjang Akari memang sudah sangat terkenal.
Mereka kembali duduk setelah saling memberi hormat.
Akari memerhatikan satu persatu orang yang di anggap penghianat Iwa. Semua yang dia harapkan hadir sudah memenuhi undangannya. Beberapa
politisi seperti menteri dan anggota parlemen, dua orang petinggi kepolisian pusat, hakim-hakim, serta para pejabat publik lainnya
Akari Cuma tersenyum menatap tamu itu satu persatu, rencananya memancing semua pejabat busuk berhasil.
"Kalian tentu tahu kenapa Tuan Tofune melakukan pertemuan hari ini." Foo yang berdiri di samping kanan Tofune memulai pembicaraan. "Ini semua terkait dengan rencana kalian yang sudah setuju untuk menggulingkan pemerintahan, dan dengan senang hati, pemuda yang di ujung sana mau membantu kalian"
sontak para koruptor itu menoleh pada Akari. Para politisi yang duduknya sederet saling melemparkan pandangan.
"Buat Tuan Tofune, siapapun yang berkuasa di Iwa, bukanlah masalah. Karena setidaknya posisi kami ini tidak terganggu. Pemikiran yang sama dengan Akari. Selama ini, orang-orang munafik itu selalu mengganggu kami. Tapi dengan kebaradaan teman semua, apalagi jika ada di antara kalian yang berkuasa, maka tentu kami akan berterima kasih jika kalian membiarkan kami" kembali Foo yang kali ini bertindak sebagai juru bicara menambahkan.
"Kami hanya ingin merubah sistem, kalian yang menjadi teman kami, tidak akan mendapat gangguan, nah, yang sekarang apa rencana kalian. Kami sudah sepakat untuk membantu" giliran Dosu yang angkat bicara dan menatap Tofune dan Foo secara bergantian, terakhir pada Akari.
"Menghabisi Kage, dan orang yang tetua yang menjadi kendala kalian. Dan jika kematian Tsuchikage pasti akan memunculkan kecurigaan, maka pasti akan terbentuk tim penyidik atas kematian atau terbunuhnya sang Kage. Hingga saat itu, aku tetap ingin kalian menjaga komunikasi denganku. Jika sudah ada tim penyidik, maka beritahu saya, dan saya akan bertindak, maksudnya, saya akan menghabisi para tim penyidik. Yang berikut, berikan data para tetua yang berperan dalam menentukan seorang Kage. Mereka juga akan menjadi targetku. Setelah itu, urusan kuserahkan pada kalian" giliran Akari menjawab.
Semua tamu Tofune yang hadir, mulai berbisik-bisik, sesekali menatap Akari.
"Jika saya gagal, kalian akan tetap bersih. Tapi aku yakin tidak akan gagal" kemudian Akari menatap Han. "Gambar para Tetua sudah ada padamu, kan"
"Itu ada pada saya" seorang pria botak berbicara. Dari nadanya, ia sangat antusias sekali dengan rencana Akari. Ia kemudian mengeluarkan beberapa lembaran yang berisi poto para tetua. Ia menyerahkan poto-poto itu pada orang yang di sampingnya lalu di oper lagi hingga sampai pada Akari.
Akari menatap poto-poto itu satu persatu. Dan terdengarlah gumaman Akari.
…
SSS
…
"Ukh" Akari tersadar.
"Kau sudah bangun rupanya, Mai" suara Tsuchikage melintasi pendengaran gadis cantik bersurai lavender.
Mai menatap sekilas ruangan tempat ia tersadar, ia bangun sambil memegangi tengkuknya yang masih terasa sakit akibat sabetan sisi luar telapak tangan Akari.
"Akari…" Mai menatap Tsuchikage.
Sang Tsuchikage itu malah tersenyum lembut. "Akari sudah berangkat"
Mai menundukkan kepala, timbul lagi pertanyaan, kenapa Akari malah meninggalkannya juga bisa meraba, kalau Akari tak ingin dirinya terlibat terlalu jauh. Mai bisa melihat kekhawatiran Akari saat terakhir mereka berencana menyelesaikan misi dengan memborbardir basic Tofune dan lainnya.
Sama halnya seperti Akari. Mai juga begitu khawatir, bahkan sekarang Akari berada di tengah-tengah target.
"Mai, bersiaplah. Kau akan ikut pasukan penyerang" lagi-lagi ucapan Tsuchijage itu membuyarkan lamunan Mai.
"Tapi Akari…"
Lagi-lagi pemimpin itu cuma tersenyum. Ia bisa melihat raut ketakutan Mai terhadap keselamatan Akari.
"Sebelum berangkat, Akari sempat mengatakan kalau, mungkin hanya kau yang bisa membantunya nanti bebas dari sana"
Mai menatap sesaat, apa maksudnya?
Mai tak ingin berpikir lebih lama. Kalau sudah demikian, maka ia memang harus menyelamatkan AKari, pria yang telah menawan hatinya. Selain itu, ia merasa harus ikut bertanggungjawab dalam tugas yang di berikan Sasuke padanya.
…
SSS
…
"Kalian semua adalah mitraku yang berharga. Karena itu, kuharap kalian semua baik bisa bekerja sama. Saya dan beberapa teman saya tentu tak akan melupakan jasa kalian."
Pria botak tadi kembali berucap, "Anda tak perlu khawatir. Bahkan kami juga sudah menyediakan pasukan untuk membantu pemberontakan Tuan Akari"
"Hn." Tofune kembali menatap satu persatu tamunya. "Saya senang kita bisa saling mengerti keinginan satu sama lain"
Orang-orang itu menganggukan kepalanya, mereka mulai tersenyum dan tertawa. Tapi, dalam hati, ketakutan itu masih ada. Kalau usaha mereka gagal, maka mereka semua akan habis. Kini hanya mereka hanya bisa berharap pada seorang pemuda tangguh dan kuat seperti Akari.
Sekitar satu batlyon di kerahkan oleh militer Iwa menuju markas Tofune yang selama ini begitu susah di tumpas. Selain karena ternyata mereka bekerja sama dengan orang dalam, mereka juga memiliki sepasukan orang terlatih yang siap melindungi tempat mereka. Tidak hanya satu batalyon, sekelompok artileri udara juga sudah di kerahkan.
Tapi berkat informasi dari Akari dan Mai, termasuk juga rencananya. Ada kemungkinan basic beserta pemilik serta pendukungnya itu akan mudah di tumpas.
Di antara pasukan penyerang itu, juga sudah hadir Mai.
…
…
…
TO BE CONTINUE
