Previous Chapter
"Hyung… aku tidak bisa baik-baik saja tanpamu."
Akhirnya Kyuhyun menyerah. Diciumnya kening Donghae dengan lama. Air matanya terus menderas membasahi wajah Donghae. Semua orang di ruangan itu hanya bisa diam, membiarkan Kyuhyun meracau sendiri. Mereka lebih sibuk mengenang Donghae dalam tangisan diam mereka.
Mereka tahu. Tahun lalu, di musim gugur, mereka kehilangan Appa mereka. Tahun ini, di musim dingin, mereka harus kehilangan anggota keluarga yang lain. Dan itu rasanya sama-sama menyakitkan. Benar-benar menyakitkan. Rasanya begitu menyesakan seperti seluruh oksigen di dunia ini menjauhi mereka.
Tapi, meski perih, kehilangan tentu adalah salah satu fase kehidupan yang harus mereka lalui. Fase untuk mereka belajar lebih kuat dan lebih ikhlas. Fase di mana mereka mesti tahu bahwa perpisahan adalah awal dari pertemuan lain yang lebih indah.
Chapter 10
Kyuhyun masih saja berharap bahwa apa yang tengah menimpa ia dan keluarganya saat ini hanya sebuah mimpi. Ia masih berharap saat ia bangun sudah menemukan tubuhnya terbaring di tempat tidurnya di Gyeongju sana. Dengan pemandangan sempurnanya selama ini, kedua hyung-nya. Pindah ke Seoul, sekolah baru bernama Kyunghee, Henry dan Kibum, kebakaran, dan kepergian Donghae, hanyalah serangakaian bunga tidur paling buruk yang sebentar lagi akan berakhir.
Tapi, lagi semuanya terlalu nyata. Kyuhyun berada tepat di posisi yang tidak bisa terelakkan.
Semuanya masih membayang dalam ingatan. Bagaiamana tubuh kaku dan pucat Hyung kesayangannya dibaringkan di dalam peti mati. Namja polos kekanakan itu tertidur damai. Kedua matanya terpejam sempurna dan tak bisa dibuka lagi meski Kyuhyun ingin melihat binar terang di balik manik indah itu sekali lagi. Sekali lagi saja.
Semuanya masih segar dalam ingatan bagaimana tanah merah itu mengubur dalam-dalam peti mati terkokoh yang membawa serta jasad hyung-nya. Dan Kyuhyun hanya bisa membatu kala itu. Meredam sakit dan sesak yang secara kompak mengoyak perasaannya tanpa ampun. Seolah kematian appa-nya satu tahun silam tidak membuatnya lantas terbiasa menghadapi kehilangan. Rasanya tetap menyakitkan. Bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya seolah luka yang belum sempat mengering itu kembali tertusuk dalam dan bernanah.
Benarkah Donghae Hyung telah pergi?
Benarkah?
Benarkah?
BENARKAH?!
Kyuhyun masih tak dapat memercayai semua kenyataan pahit itu. Rasanya baru kemarin. Benar-benar baru kemarin ia diajarkan bersepeda oleh hyung-nya itu. Rasanya baru kemarin ia berjalan beriringan setiap hari minggu dan mengantre untuk mendapatkan eskrim gratis. Rasanya baru kemarin ia melihat senyum dan tawa polos itu. Benar-benar baru kemarin ia dipeluk hangat. Dicium lembut. Baru kemarin ia bahagia bersama hyung-nya itu. Dan kebahagiaan itu berakhir begitu saja. Tidakkah terlalu singkat?
"Kyunie…"
Kyuhyun tak menggubris bentuk suara apa pun di luar kamarnya. Ia terus meringkuk di atas tempat tidurnya. Tiga hari ini, setelah kepergian Donghae, ia bahkan tidak ingin menemui siapa pun. Hanya ingin sendiri dan mengenang Donghae dengan caranya yang ternyata begitu menyakitkan. Ia tidak ingin bersikap baik-baik saja seperti yang Donghae harapkan sementara ia bahkan tidak tahu seperti apa itu kalimat baik-baik saja. Semuanya terlalu menyakitkan. Sungguh menyakitkan.
Begitu menyakitkan mengakui bahwa mulai sekarang ia tidak akan menemukan Donghae lagi saat ia pulang. Tidak akan ada lagi yang mengganggu tidurnya. Tidak akan ada lagi calon psikolog hebat yang beberapa tahun lagi akan diandalkannya. Tidak akan ada lagi rengekan manja yang membuat telinganya gatal. Tidak akan ada lagi yang mengucapkan "Kyunie… semoga harimu menyenangkan." Tidak akan ada lagi. Kenangan semanis es krim pemberian hyung-nya itu kini terasa seperti ramuan paling pahit yang tak bisa hilang dengan apa pun. Melekat dalam hati.
Hening. Cukup lama. Sampai suara lain—yang Kyuhyun yakin bukan eomma-nya—kembali terdengar.
"Kyu! Kau mendengarku? Kau mengenal suaraku?"
Dalam diamnya Kyuhyun menajamkan pendengarannya. Pertanyaan konyol yang membuat hatinya yang sedang dirundung kesedihan tergelak. Tentu saja. Kau, Chwang pabo! Eomma menyuruhmu ke sini untuk membujukku, huh? Pergilah! Kali ini tidak akan berhasil. Kyuhyun semakin menggulung tubuhnya dengan selimut. Sungguh! Tidakkah mereka yang saat ini berada di luar kamarnya merasa sedih dengan kepergian Donghae? Harusnya mereka sedih sepertinya juga. Harusnya mereka merasa tidak ingin melakukan apa pun dan terus mengenang Donghae. Rasanya begitu tidak adil. Apakah kenangan bersama Donghae hanya menghantuinya saja? Atau mereka terlalu dengan mudah melepas Donghae? Kyuhyun benci itu semua.
"Buka pintunya, Pabo!"
Ani! Pergilah!
"Kalau kau tidak membuka pintunya, aku tidak akan berhenti mengoceh sampai kau mau membukanya!"
Silahkan! Mengocehlah sampai mulutmu berbusa.
Kyuhyun menatap nanar buku kuliah Donghae yang tergeletak sembarang di atas meja. Satu-satunya hal milik Donghae yang tersisa. Lagi, kenangan tentang hyung-nya itu berkelebat dalam kepalanya. Membuat rasa rindu menelusup sela-sela batinnya. Kerinduan yang akan tercipta tanpa ujung.
"Kyu, bukalah! Semua orang begitu mengkhawatirkanmu. Ada Kibum dan Henry juga."
" YA! Kau bahkan tidak bercerita kalau mempunyai teman baru yang lebih tampan dan lucu dariku."
"Bagaimana kalau kita mengenang Donghae Hyung bersama-sama. Bukankah itu jauh lebih baik? Kita bisa saling membagi kesedihan kita bersama."
"Bukalah! Kau pikir, aku ke sini untuk berbicara dengan pintu, huh? Kau bahkan melanggar janjimu untuk mengantarku pulang waktu itu. Keluarlah dan tebus dosamu! Temani aku ke stasiun sekarang dan aku akan memaafkanmu."
"Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus kembali hari ini juga atau Eomma akan menguburku hidup-hidup."
"Keluarlah atau aku tidak akan pernah memaafkanmu dan tidak akan pernah mau menemuimu lagi!"
"LEE KYUHYUN! KELU—"
BRAKK!
"BERISIK, CHWANG!"
Hening. Lama. Changmin mematung di tempatnya. Cukup kaget dengan gebrakan pintu dan teriakan Kyuhyun. Henry dan Kibum yang waktu itu berada di depan rumah bersama Nyonya Lee dan juga Siwon tersentak. Kompakan berlari menghampiri Kyuhyun dan juga Changmin yang masih mematung dan saling tatap.
"Pabo!" desis Changmin. Air mata menggenang di pelupuk matanya begitu sosok kurus dan pucat di hadapannya memenuhi indera penglihatannya. Demi persahabatan mereka yang abadi, Kyuhyun benar-benar terlihat begitu kacau. Lebih mengenaskan dari terakhir kali ia melihatnya. "Kau pikir mengurung diri seperti itu hal lucu, hah? Kau pikir kau it—"
"Jangan pergi. Kumohon jangan pergi…"
Kata-kata Changmin terpotong karena baru saja Kyuhyun menghapus spasi antara ia dan dirinya. Namja berwajah pucat itu memeluknya dengan begitu erat. Bersamaan itu pula air mata keduanya mengalir dengan kompak. Membasahi hati yang sama-sama menyimpan luka. Menambah perih dan sesak.
"Kyu…" panggil Changmin serak.
"Jangan pergi…" Hanya Changmin yang Kyuhyun mau. Hanya Changmin, sahabat kecilnya yang paling mengerti dirinya selain Donghae. Hanya Changmin yang memiliki senyuman sepolos Donghae. Hanya Changmin yang bisa mengobati kerinduannya pada Donghae.
Changmin mengeratkan pelukannya. Tak berkata apa pun lagi. Ditariknya tubuh itu hingga sepenuhnya bersandar padanya. Jika Tuhan memberinya kesempatan dan mengabulkan satu permintaannya dalam sekejap, Changmin ingin waktu kembali berputar. Dan ia akan memertahankan Kyuhyun untuk tidak pindah ke Seoul. Dia tidak akan menyetujui kepindahan Kyuhyun, membiarkan Kyuhyun tetap di Gyeongju bersamanya. Boleh ia menyesal sekarang? Oh Tuhan… Changmin bahkan bisa merasakan seberapa menderitanya Kyuhyun setelah pindah ke Seoul.
"Jangan pergi… kumohon jangan pergi." Kalimat itu terlafal ulang. Membuat semua orang yang mendengarnya serasa dilempari kerikil tajam yang dengan sukses menancap di dada. Turut merasakan bagaimana sesak dan sakit yang tengah mempermainkan perasaan Kyuhyun.
Changmin tak bisa berjanji. Ia hanya punya waktu sampai besok sebelum eomma-nya benar-benar—meski ia tahu itu hanya ancaman kosong—akan menguburnya hidup-hidup. Changmin tdak bisa meninggalkan eomma-nya sendiri di rumah. Tapi, ia juga tidak ingin meninggalkan Kyuhyun. Alhasil, ia hanya mampu memeluk Kyuhyun dengan erat. Dengan lama. Meyakinkan sahabat terbaiknya itu kalau semuanya akan baik-baik saja, akan selalu baik-baik saja. Meyakinkan sahabat nomor satunya itu kalau ia selalu membagi kekuatan yang dimilikinya meski jarak antara mereka ribuan kilo. Changmin tidak bisa berjanji untuk menemani Kyuhyun, tapi ia berjanji akan lebih sering berdoa pada Tuhan untuk kebaikan Kyuhyun. Untuk kebahagiaan Kyuhyun.
"Ayo kita buat perjanjian." Changmin melepaskan pelukan Kyuhyun. Ditatapnya wajah pucat dan lelah Kyuhyun dengan serius. Lantas setelah itu ia menatap Siwon, Nyonya Lee, Kibum, dan Henry secara bergantian. "Aku tidak bisa berjanji untuk tidak kembali ke Gyeongju. Jadi, kalian berjanjilah untuk menjaga sahabatku ini sebaik mungkin." Changmin menarik bahu Kyuhyun untuk direngkuhnya. "Jika kalian tidak bisa menjaganya dengan baik, aku berjanji akan membawa Kyuhyun kembali ke Gyeongju untuk hidup bersamaku. Dan kau Kyu, berjanjilah akan memberitahuku jika mereka mulai mengabaikanmu dan menyakiti dirimu." Changmin kembali menatap semua orang secara bergantian. Ia merasa, keputusannya untuk membuat perjanjian ini adalah hal yang paling baik dan bijak.
"Atas nama Donghae Hyung yang sudah tenang di sisi Tuhan, berjanjilah untuk selalu menjaga Kyuhyun dan membuatnya selalu baik-baik saja seperti yang Hae Hyung inginkan."
Hening untuk beberapa saat.
"Atas nama Donghae Hyung yang sudah tenang di sisi Tuhan, aku berjanji! Aku berjanji akan menjaga Kyu Hyung seperti aku menjaga hyung-ku sendiri!"
Seluruh mata sontak saja beralih ke arah bocah tembam yang baru saja dengan penuh semangat mengucapkan janji itu. Mata sipitnya berbinar meyakinkan setiap orang yang saat ini melihatnya. Changmin melihat ketulusan di baliknya. Membuatnya merasa begitu senang sekaligus iri. Senang karena ternyata ada yang begitu peduli pada Kyuhyun, dan iri karena ia sadar, sebentar lagi akan ada sahabat yang lebih baik selain dirinya untuk Kyuhyun.
"Eomma berjanji untuk memperbaiki semuanya, Kyu. Eomma berjanji setelah ini semuanya akan lebih baik lagi." Nyonya Lee berjalan mendekati Kyuhyun. Diraihnya tangan Kyuhyun dan digenggamnya seerat mungkin. Henry, orang asing yang bahkan belum genap setahun bertemu Kyuhyun, berani mengikrarkan janji seberani itu. Kenapa ia yang eomma-nya Kyuhyun, orang yang telah menghabiskan sepanjang usianya bersama Kyuhyun, tidak bisa berjanji untuk membuat anaknya itu bahagia.
"Atas nama Donghae, Hyung juga berjanji akan menjagamu. Janji Hyung untuk membuat hidupmu lebih bahagia di sini, tak akan Hyung ingkari lagi."
Kyuhyun hanya menatap haru orang-orang di sekitarnya. Apa yang baru saja didengarnya telah menyentil hatinya hingga bergetar. Membuat senyum dan tangisnya seketika pecah. Terlebih saat ia mendengar suara dan kata terakhir dari orang yang sejak tadi diam dan hanya memerhatikan dirinya.
"Aku juga berjanji…"
Meski kalimat yang terlafal dari bibir tipis itu begitu singkat, tapi Kyuhyun merasa kalimat yang Kibum lafalkanlah yang membuat hatinya seketika menghangat. Membuatnya sesaat saja merasa ribuan tameng panglima perang melindunginya dari musuh. Ia merasa ribuan sayap malaikat kasat mata merengkuhnya, menjaganya. Membuat Kyuhyun sadar bahwa kesedihannya selama ini telah terbayar tuntas hanya dengan mendengarnya. Membuat Kyuhyun mengerti bahwa ketika tangan terulur untuk memberikan apa yang Tuhan ingin kembalikan, maka saat itu pula tangan Tuhan terulur untuk memberikan apa yang lebih baik lagi. Tuhan telah mengirim lebih dari satu malaikat di saat ia ikhlas kehilangan malaikatnya.
"Gomawo…"
.
.
Semuanya kembali seperti semula setelah hari itu. Berjalan seperti biasanya meski Kyuhyun merasa ada yang kurang setiap kali ia terbangun. Ia merasa bangun dalam keadaan tidak sempurna seperti sebelumya. Tapi, kepulangan Changmin ke Gyeongju satu minggu yang lalu mengajarkannya satu hal. Satu hal yang begitu penting, bahwa sejauh apa pun kakinya melangkah pergi, pada waktunya nanti, ia akan pulang dan kembali ke tempat di mana ia berasal. Mau tidak mau, saat Dia yang memiliki dirinya seutuhnya ingin ia pulang dan kembali ke sisi-Nya, maka ia harus kembali. Itu adalah jalan yang paling baik.
Mungkin ini saatnya untuk Kyuhyun menepati Janji pada Donghae kalau ia akan selalu baik-baik saja.
"Belajar yang baik, Arraseo?"
"Ne, Hyung." Kyuhyun mengangguk singkat sebelum keluar dari dalam mobil, meninggalkan Siwon dan juga eomma-nya. Setelah perjanjian itu, Eomma dan juga hyung-nya benar-benar menepati janji mereka. Mereka jadi lebih memerhatikannya. Mereka tidak pernah lagi pulang malam karena bekerja. Kyuhyun merasa cukup senang dengan hal itu.
"Titip salam untuk Kibum dan juga Henry." Nyonya Lee menyembul di balik kaca mobil. Kyuhyun yang sudah berdiri di luar mobil kembali mengangguk. "Kami berangkat, ne?" Dan satu-satunya benda berharga peninggalan appa-nya yang tidak hangus terbakar itu melaju meninggalkannya.
Sedikit merapatkan mantelnya, Kyuhyun berbalik dan segera melangkah memasuki gerbang Kyunghee. Baru beberapa langkah kaki jenjang yang ditemani sepatu kets seputih salju yang dipijakinya itu melangkah, seseorang tiba-tiba saja mengapit sebelah tangannya. Tidak perlu repot-repot menebak siapa, Kyuhyun sudah tahu siapa pemilik tangan itu. Tentu saja putra bungsu keluarga Kim. Kim Henry. Hanya dia yang melakukan hal itu setiap pagi.
"Kyu Hyung, eomma-mu selalu terlihat cantik setiap hari." Henry bergelayut manja di tangan Kyuhyun. Mereka berjalan beriringan.
Kyuhyun terkekeh mendengar pujian Henry untuk ibunya. "Itu sebabnya aku juga selalu terlihat tampan setiap hari."
Henry menyeringai. "Sikap narismu sedang mode on, huh?"
"Kalau aku tidak terlihat tampan setiap hari, aku yakin kau tidak akan mau menyambutku setiap pagi di depan gerbang. Kau terlihat seperti yeojachingu-ku saja."
Henry cemberut. Meski dalam hati ia merasa senang melihat perubahan Kyuhyun akhir-akhir ini. Hyung-nya itu sudah kembali seperti semula, tidak lagi terpuruk seperti seminggu setelah kepergian Donghae.
"Aku hanya becanda." Melihat wajah murung Henry, refleks saja tangan Kyuhyun usil mengacak-ngacak rambut Henry. "Lain kali temuilah eomma-ku dan bilang padanya kalau ia terlihat cantik setiap hari. Dia akan senang mendengarnya. Selain Hae Hyung, tidak pernah ada yang memujinya terang-terangan."
"Jinjja? Kau tidak pernah memujinya juga? Uh, sungguh keterlaluan. Waktu eomma-ku masih hidup, setiap pagi aku selalu menemaninya membuat sarapan. Menemaninya saja, sih. Hanya duduk di meja makan dan memerhatikannya yang sibuk mondar-mandir menyiapkan ini itu sambil sesekali bilang, "Eomma, kau terlihat cantik hari ini. Eomma, kau selalu cantik jika sedang di dapur. Eomma, masakanmu secantik dirimu. Eomma, kau benar-benar cantik. Eomma…" Henry menggantungkan kalimatnya saat melihat ekspresi murung Kyuhyun.
"Kau…" Kyuhyun menoleh ke arah Henry.
Henry menatap Kyuhyun serius, menunggu kalimat Kyuhyun selanjutnya."Kau?"
…sangat mirip dengan Hae Hyung. Kyuhyun melanjutkan dalam hati. "Kau pasti anak manja," ujarnya. Untuk kedua kalinya Kyuhyun mengacak-ngacak rambut Henry gemas. Henry menyeringai. "Kita berpisah di sini." Kyuhyun menepuk pundak Henry beberapa kali.
"Sebentar, Hyung." Henry mengeluarkan sesuatu dalam ranselnya. "Kibum Hyung pergi lebih pagi tadi. Tolong berikan ini padanya, ne?" pinta Henry. Kyuhyun menerima kotak nasi yang Henry hadapkan padanya. "Gomawo, Hyungie…" ujar Henry sebelum akhirnya berlari kecil meninggalkan Kyuhyun.
Kyuhyun hanya tersenyum melihat punggung Henry perlahan menghilang di ujung koridor. Benar, Kyuhyun baru saja menyadari kalau Henry begitu mirip dengan Hae hyung-nya. Cerianya, keluguannya, senyuman polosnya, sikap manjanya, dan…
Kyuhyun menggeleng kuat-kuat. Ani! Tidak ada yang bisa menggantikan Donghae Hyung seberapa mirip pun orang itu. Henry adalah Henry dan Hae Hyung adalah Hae Hyung. Mereka orang yang berbeda. Apa yang aku pikirkan? Pabo!
Dengan langkah cepat, Kyuhyun segera berjalan ke arah yang berlawanan dengan Henry. Sesekali ia melemparkan senyum dan anggukan kecil saat berpapasan dengan beberapa siswa Kyunghee yang lain. Setelah insiden kebakaran itu namanya jadi lebih terkenal di Kyunghee. Cukup memalukan sebenarnya. Tapi, Kyuhyun tidak ingin terlalu memikirkan hal itu.
Senyum lebar tersungging manis di bibir Kyuhyun saat bola mata karamelnya menangkap sosok Kibum di ujung sana, tempat duduk mereka. Namja berwajah datar itu tengah menidurkan kepalanya di balik kedua tangannya yang terlipat di atas meja dengan wajah menghadap ke arah jendela, menatapi aktifitas di luar kelas. Pemandangan biasa yang sering Kyuhyun temui setiap pagi.
"Annyeong, Kibum-a…" Namja berkulit pucat itu mendudukan dirinya di samping Kibum. Memerhatikan Kibum sekilas sebelum akhirnya membuka buku fisikanya, pelajaran pertama hari ini. Tidak mendapatkan respon berarti dari Kibum adalah hal biasa. Kyuhyun tidak begitu mempermasalahkan hal itu lagi.
Kyuhyun baru ingat dengan kotak makan siang milik Kibum yang Henry titipkan tadi, saat seonsaengnim masuk ke dalam kelas. Alhasil, ia memutuskan untuk menyimpannya dan memberikannya di jam istirahat nanti.
Di detik berikutnya, Kyuhyun kembali menoleh ke arah Kibum yang masih betah dengan posisinya. Seingat Kyuhyun, namja—yang Kyuhyun akui—lebih tampan darinya itu akan mengubah posisinya seketika saat ia mendengar suara seonsaengnim. Tapi, kali ini reaksi Kibum tampak berbeda. Ia tampak tidak peduli sama sekali.
"Kibum-a, kau tidur, eoh?" Disenggolnya lengan Kibum dengan pelan, sepelan suaranya. Tak ada jawaban dari Kibum, meyakinkan Kyuhyun kalau namja itu benar-benar sedang tidur. Membuat Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk fokus pada pelajaran dan tidak mengganggu. Kibum pernah membiarkannya tidur di kelas tanpa diketahui oleh guru. Mungkin hari ini gilirannya.
Dan… waktu berlalu dengan cepat. Tiada reaksi apa pun dari Kibum, membuat konsentrasi Kyuhyun terganggu. Ia benar-benar tidak bisa fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Puncaknya, saat bel istirahat terdengar dan beberapa siswa berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut mereka, keresahan Kyuhyun semakin memuncak saja. Kibum tidak bangun juga. Membuat berbagai pemikiran buruk berdesak-desakan dalam kepalanya.
"Kibum-a, ireonna! Kau sakit, huh? Sebaiknya kita ke ruang kesehatan saja." Kyuhyun kembali mengguncag tubuh itu. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Harusnya jika Kibum benar-benar tidur, Kibum akan terganggu dan segera terbangun. Tapi, ini tidak berpengaruh sama sekali. Membuat Kyuhyun akhirnya menyerah dan memaksanya untuk mengangkat kepala Kibum dan menegakan tubuh itu. Dan saat itu juga… bola mata Kyuhyun membulat sempurna. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
"YA! KIBUM-A!" Satu detik sebelum Kyuhyun berteriak hingga beberapa siswa yang memutuskan untuk tetap di kelas dan tidak pergi ke kantin menoleh, tubuh Kibum terkulai di bahu Kyuhyun.
.
.
"Aku benar-benar panik. Kukira kau hanya tidur biasa."
"Jangan berlebihan begitu."
"Serius. Kau sakit, huh?"
"Jangan menyentuhku! Aku hanya sedikit demam."
"Ck, kau sok kuat sekali!"
"Kau cerewet sekali."
"Luka-luka ini… kau berkelahi lagi, eoh? Dengan siapa lagi? Seingatku Henry baik-baik saja tadi pagi."
"Aku tak ingat."
"Mwo?"
"Ketika bangun, luka-luka ini sudah ada."
"Jangan becanda."
"Rahasiakan ini dari Henry."
Dalam satu helaan saja, Kyuhyun mengembuskan napas beratnya. Demi Tuhan, ia sungguh panik ketika melihat wajah Kibum tadi. Luka memar di sana-sini, suhu tubuh yang bukan buatan panasnya, dan bibir yang sedikit sobek berwarna biru, membuat Kyuhyun tercekat saat itu juga. Ia sungguh berpikir kalau Kibum sedang sekarat atau mungkin lebih dari itu.
Hening. Lama.
"Kyuhyun-a…"
Kyuhyun menoleh ke arah Kibum. "Ne?"
"Waktu hyung-mu meninggal, apa sesedih itu?" tanya Kibum tanpa berniat membalas tatapan Kyuhyun. Ia lebih asyik menatapi tirai pembatas ranjang ruang kesehatan.
Mendengar pertanyaan Kibum, sontak saja kedua alis tebal Kyuhyun menyatu. Cukup lama ia menatap Kibum, mencerna apa maksud dari pertanyaan namja dingin itu. "Aku sedang tidak ingin mengingat Hae Hyung." Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah lain. Kotak P3K di atas meja menjadi pilihannya untuk memusatkan titik fokus matanya. Sampai saat ini Kyuhyun bahkan masih memikirkan obat apa yang bisa menyembuhkan luka kehilangan itu.
"Waktu eomma- ku meninggal, aku sama sekali tidak merasa sedih. Tidak sama sekali. Aku berpikir bahwa aku begitu jahat. Henry bahkan tidak berhenti menangis seminggu penuh, atau bahkan sampai sekarang dia masih suka menangisi kepergian Eomma diam-diam."
Kyuhyun kembali melirik Kibum yang masih tidak mengalihkan pandangannya. Semula ia tidak tertarik dengan pertanyaan Kibum. Tapi, begitu mendengar apa yang Kibum katakan barusan, mau tidak mau menarik perhatiannya juga. Mendengar Kibum bercerita apalagi tentang dirinya adalah hal yang paling mustahil. Tapi, kali ini entah untuk alasan apa, namja irit kata itu dengan sangat lancar dan tentu saja panjang lebar bercerita tentang kehidupannya. Itu adalah hal yang sangat langka. Kesempatan yang bagus untuk Kyuhyun menyelami lebih jauh lagi tentang namja itu.
"Aku… tidak ingat kenapa aku bisa terluka seperti ini. Tapi…" Kibum menggantungkan kalimatnya. Tampak berpikir dan mengingat keras.
Kyuhyun mengernyit. Menunggu kalimat Kibum setelahnya. "Tapi?"
"Aku... rasanya… Kyuhyun-a!" Kibum tiba-tiba memandang Kyuhyun dan meraih bahu teman sebangkunya itu sehingga mau tidak mau membuat Kyuhyun tersentak kaget. "Bunuh aku, Kyuhyun-a. Bunuhlah aku! Kumohon…"
"MWO?!"
.
.
-To be Continue-
.
.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Yang pasti, terima kasih yang masih nunggu dan mau baca gwaenchanha-ku ini. Maaf juga karena telat publish dan sekalinya publish, ceritanya benar-benar mengecewakan dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sungguh… akhir-akhir ini aku mengalami writer's block. T.T . Aku melupakan banyak hal (konsep cerita) yang tak seharusnya kulupakan. sempat berpikir untuk stuck, tapi… aku tidak begitu suka lari dari tanggung jawab.
Last… tolong beri aku SEMANGAT, ne?
Gomawo
.
.
Follow me at
Twitter: nhyea1225
Wattpad : naesu13
Wordpress : www. naemochi. wordpress. com
Blog : www. nia-sumiati. blogspot. Com
