Hatinya terasa hancur saat mengetahui ibunya telah berkhianat. Bagaimana bisa, pikirnya. padahal ayahnya sangat mencintai ibu mereka dibalik sifat angkuhnya itu
(Bittersweet Blood_Chapter 10_Don't Let Me Down)
Don't Let Me Down (BAB I)
"Kau sudah tahu hal ini kan" Kata Luhan.
Menatap adik bungsunya dengan tatapan menyelidik. Sementara Kris tak banyak bicara, namja berkacamata itu hanya duduk diam—karena memang dia tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Aku ingin berpikir—"
"Kau memang selalu ingin berpikir seolah kau benar-benar ingin melakukannya" Luhan menyela ucapan sang adik.
Luhan yakin, Sehun adalah salah satu makhluk hidup yang paling tahan banting. Tapi ia merasa jengkel juga dengan tingkah sok kapten muda itu.
Kris berdehem pelan. "Aku sama sekali tidak mengerti" ujarnya, seraya membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot.
"salahkan dia yang hanya diam saja" Kata Luhan, pedas. "ini keterlaluan" lanjutnya, pelan.
Sehun terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri untuk segera bereaksi terhadap omelan-omelan si sulung. Ia menumpukan diri pada tangannya, sama sekali tidak menyentuh makan siangnya. Ia menatap selembar kertas yang baru saja ia keluarkan dari dalam amplop.
"Bisa ku lihat sebentar?"
Ia mengangguk, memberikan lembaran kertas itu pada si anak tengah.
Kris mengambil surat itu dan mengarahkannya ke arah jendela—dengan hati-hati ia mempelajari bagian-bagian penting yang ia pelajari secara autodidak semasa SMA.
"Aku bertaruh jika dia punya kepribadian ganda yang menakutkan" katanya, sambil berpikir.
Kakak sulungnya terlihat terpana. Well, darimana si tengah mempelajari cara membaca sifat seseorang hanya dari melihat tulisan?
"Kalau begitu masalahnya pasti sangat penting" Luhan menyahut.
Mereka tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka jika tidak menemukan surat itu tergeletak pasrah di depan rumah mereka. Minseok yang menemukannya—dan lebih dulu membacanya, jadi Sehun tidak akan menyembunyikan lagi rahasia antara dirinya dan si pembunuh itu.
Luhan marah, itu wajar saja. Bukan karena menyangkut ancaman yang diberikan si pembunuh yang membuatnya khawatir. Ini sudah menyangkut keluarganya, kedua adiknya, dan juga ayah mereka. Ia pikir kalau sudah begini dia harus turun tangan membantu. Masa bodoamat dengan sifat keras kepala adik bungsunya itu.
"Eh, Sehun. Kau bilang kau ingat sesuatu" Kris berkata.
"Apa? Kalian juga menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Luhan, dia sudah mulai terlihat sangat jengkel. Bukankah mereka bersaudara? Seharusnya kan bukan hanya Kris saja yang diberitahu.
"Kau ingat saat kita kecil dulu?"
Luhan mengangguk pelan. Suasana restoran keluarga itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang saja yang berkunjung. Lagipula tempat ini tidak terlalu famous, jadi Ketiganya tak akan menjadi bahan perbincangan ataupun bertemu para pemburu berita.
"Mom sering pergi ke Jinan bersamaku"
"Kenapa kita jadi membahas mom?" Luhan bertanya, tidak mengerti.
"Hyung, cukup dengarkan Sehun saja, Ok!" Kris berseru. Kakaknya yang cerewet sama sekali tidak berubah meskipun telah menikah.
Bayangan sosok seorang yeoja yang selalu memakai dress putih lengan panjang bermain di benak Luhan. Sosok cantik yang telah melahirkannya dan merawat dirinya dan kedua adiknya dengan penuh kasih sayang. Dia terlalu bawa perasaan bilamana mengingat sang ibu. Bahkan sampai saat ini dia tidak tahu mengapa ibunya bisa meninggal—karena yang ia tahu, ibunya adalah yeoja yang sehat-sehat saja tanpa penyakit bawaan.
Sehun memberikan surat-surat milik Victoria Oh—dan membiarkan kakak sulungnya itu membaca. Lalu sebuah foto keluarga kecil dimana ada sosok lain yang bukan ayahnya dan sosok bocah laki-laki yang juga bukan adik-adiknya.
Papa, Baby panda, mama
Itulah caption yang ditulis sang ibu dengan sebuah tinta berwarna hitam dengan simbol hati. "Mommy selingkuh" gumamnya. Hatinya terasa hancur saat mengetahui ibunya telah berkhianat.
Bagaimana bisa, pikirnya. padahal ayahnya sangat mencintai ibu mereka dibalik sifat angkuhnya itu.
"Kau tahu siapa pembunuh itu?"
Luhan meletakan berkas-berkas itu di atas meja. Ia tak perlu menjawab 'iya', karena pada akhirnya Sehun kembali berkata; "dia adalah saudara tiri kita"
"A..apa?"
"Kau ingat kasus ini?" Sehun membuka map berwarna biru yang sama sekali belum dibuka.
Luhan membaca kembali kasus 22 tahun yang lalu saat ayahnya menjadi seorang pahlawan muda yang berhasil mengalahkan komplotan mafia paling berbahaya di kawasan Asia. Kemudian juga kematian ibu mereka 8 hari setelah kasus itu akibat penyakit yang telah lama ia derita.
"Dad yang membunuh mom" Ujar Kris.
"cukup..cukup!" katanya. "Aku tidak bisa mendengar semuanya lagi" Ia berkata lirih. Wajahnya terlihat syok, seolah tak percaya jika ayah yang begitu ia hormati telah membunuh ibu mereka.
"Kau harus dengar, hyung!" seru Kris. "mom dan Mafia Huang menjalin hubungan dan menghasilkan seorang putra"
"ITU SEMUA PANTAS IA DAPATKAN!" Luhan berseru. Beberapa pasang mata menoleh. Namun pura-pura fokus dengan aktifitas mereka saat melihat Sehun menatap tajam ke arah mereka.
"Hyung"—Kris
"Cukup Kris! Jangan bicarakan yeoja itu lagi"
"Kau harus bisa terima kenyataan ini, hyung!" Sehun berkata kalem. "Karena yang kau hadapi adalah seseorang yang lahir dari rahim yang sama dengan ibumu"
"Dia dendam karena keluarganya dibantai habis oleh ayah kita" Sehun berkata lagi.
...
Distrik Gangseo, 2 tahun silam.
"Apa yang kau lakukan?" Jongdae terkejut saat melihat kekasihnya tengah memotong tangan seorang polwan yang sudah tidak bernyawa lagi.
Zitao terkejut saat mendapati Jongdae tengah berada di ambang pintu ruang jagalnya yang tak pernah dimasuki orang lain selain dirinya sendiri.
Jongdae menutup mulutnya, tiba-tiba perutnya terasa mual saat mencium bau anyir dan potongan-potongan tubuh beku.
Dia tidak akan menyangka jika sosok yang ia cintai itu adalah seorang tukang jagal orang-orang yang ia bunuh. Karena yang ia tahu Zitao adalah sosok pemalu, penuh perhatian, dan begitu mencintainya. Tapi kini seolah ia tidak lagi mengenal sosok tersebut.
"Jongdae-ya"
Yeoja itu menggeleng pelan. Rantang yang ia bawa terjatuh di depan pintu. Kaos putih Zitao berlumuran darah. Inikah yang dilakukan kekasihnya saat ia pamit untuk bekerja di tempat pelatihan wushu yang ia buka?
"K..kau pembunuh!" Pekik Jongdae.
Hatinya terluka bukan main. Wajahnya yang manis penuh air mata dan ketakutan. Zitao tersadar, ia hendak mendekat, namun Jongdae lebih dulu menghindar dan berteriak agar namja itu tidak mendekat.
...
"Tae, biarkan aku saja yang mengemudi" Baekhyun berkata. Ia sudah melihat wajah Taemin yang memerah karena efek minuman beralkohol yang mereka minum saat di bar.
Baekhyun tidak terlalu mabuk, karena ia pikir ia harus tetap tersadar jika tidak mau kekasihnya tahu jika ia baru saja minum-minum menemani temannya semasa kuliah dulu sekaligus tunangan boss-nya sendiri.
"Tidak, Byun~" Taemin merengek. Ia masih kekeuh ingin mengemudi. Ia rasa seperti melayang, seolah melupakan masalahnya dengan Minho yang akhir-akhir ini terlalu memuji adik sepupunya itu. "Seharusnya kan Minho menikah saja dengan gadis itu ya, Byun~" katanya, kacau.
"Biarkan aku mengemudi, Tae! Kau mabuk" Baekhyun berkata lagi. Taemin berteriak agar Baekhyun diam selama ia yang mengemudi. Jantungnya berdegup kencang. Taemin mulai gila, ia baru saja melanggar peraturan lalu lintas dan berjalan selama lampu merah masih berjalan. Namja cantik itu mengebut dengan tawa-tawa kecil yang menunjukan dia benar-benar diluar kendali.
Ckittt...
Brukkk..
Baekhyun membulatkan kedua matanya—begitu pun dengan Taemin yang baru saja tersadar jika mereka telah menabrak seseorang.
Namja Byun itu segera melepas sabuk pengamannya dan keluar hendak memeriksa keadaan sang korban.
"T..Tolong" Yeoja itu tergeletak dengan darah membasahi dress pastel yang membalut tubuh mungilnya.
"Nona..N..nona kau tidak apa-apa?" Baekhyun bertanya, dia terlalu panik. Jadi tak tahu apa yang musti ia tanyakan lagi.
"T..Tuan Tolong aku..B..bayikuhh"
Namun Taemin yang terlalu panik pun segera menarik Baekhyun untuk masuk kembali ke dalam mobil sebelum ada yang melihat mereka.
"Tae..Kita harus menolongnya!"
"Tidak, Baek! Ini bukan saatnya menjadi seorang pahlawan"
Taemin segera menjalankan mobilnya kembali. Meninggalkan korban mereka yang tengah sekarat.
...
Jongin mengesampingkan makan malamnya yang belum tersentuh sama sekali dan menulis kalimat-kalimat yang menurutnya begitu penting. Ia berpikir keras, berusaha menyamakan huruf-huruf Hanzi yang pernah ia pelajari semasa sekolah menengah atas di Seoul.
"H..Huang Z..Zitao" Ia berhasil mengeja. Matanya yang bulat namun sedikit memanjang di bagian ekor terbelalak. Ia menutup buku harian dengan cover kulit lembu itu sambil kembali berpikir. Ia mengetukan pena hitamnya di kening. "Huang Zitao" ia bergumam.
"Ciapa itu Huang Jitao, mom?" Kyungsoo kecil bertanya, sambil mengunyah burger ukuran kecil.
Jongin menoleh, ia terkejut saat mendapati Kyungsoo sedang berdiri di sampingnya sambil mengunyah burger. "Baby, sejak kapan kau di sini?" Jongin malah balik bertanya.
"dali tadi" jawab Kyungsoo. "Mommy, ada Paman Oh di luang tamu"
"Benarkah?"
Kyungsoo mengangguk lucu. "Hmm..Lagi ngoblol tuh sama glannie dan glanpa"
"Sooie" Keduanya menoleh. Heechul datang bersama suaminya, dan Oh Sehun.
"Ayo kemari! Grandpa punya sesuatu untukmu" ujar Siwon. Memanggil cucu semata wayangnya untuk ikut mereka—dan memberikan waktu supaya Sehun lebih leluasa mengobrol dengan Jongin, putra manis mereka.
...
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Sehun, saat melihat piring Jongin masih penuh. "Sedang diet?"
Jongin menggelengkan kepalanya pelan. Diet? Dia bahkan sudah tidak pernah diet lagi selama menjadi seorang single mama.
"Tidak, aku sedang sibuk tadi"
"Sibuk?"
Ia menunjukan hasil kerjanya pada Oh Sehun. Apalagi saat melihat Jongin dengan kamus Mandarin. Mungkin Jongin memang sedang sibuk mempelajari bahasa itu.
"Sehun"
"Hm?"
Jongin nampak diam dan berpikir. "Aku menemukan ini di kotak rias yang kemarin" ujar Jongin. Menunjukan buku tebal yang tengah terbuka dengan huruf-huruf Hangul yang membentuk kalimat demi kalimat yang berisi sebuah curahan hati seseorang.
Sehun mengambil buku itu dan membaca tulisan-tulisan di sana. "Ini milik ibuku" katanya.
Kim Jongin mengangguk pelan. Tapi kerutan di alisnya menunjukan kekecewaan saat melihat Sehun yang nampak tidak tertarik. "Aku menemukan nama ini" Jongin memperlihatkan sebuah nama yang membuat Sehun mengernyit bingung.
"Huang Zitao" kata Jongin. "Kau kenal dia?"
"Di sini ibumu menyebut Huang Zitao sebagai baby pandanya"
"OH!" Sehun berseru. "Ku rasa ini nama kakak tiriku"
Besar kemungkinan begitulah faktanya. Sehun menatap Jongin—kemudian tersenyum. "Kau cerdas sekali, sayang" puji Oh Sehun.
Jongin memutar mata bosan. Sehun memang akan memanggilnya sayang jika Jongin berhasil membantu namja itu. Singkatnya saja, kata-kata sayang akan keluar dari bibir Sehun bilamana ia sedang membutuhkan Jongin.
"Cara yang aneh dan kacau untuk menggombal" cibir Jongin.
Sehun tertawa pelan. Ia mencubit gemas pipi tembam Jongin. "Oh Jongin, aku semakin mencintaimu"
Tak bisa dipungkiri lagi jika Jongin merona mendengar Sehun memanggilnya 'Oh Jongin'. Ah, ia sama sekali tidak sabar untuk menyandang nama itu.
.
.
.
Don't Let Me Down (BAB II)
From : TheDracoAce_3I33T
Kami sudah tahu siapa kau sebenarnya.
Jangan bertingkah jika kau yang paling benar, Tuan Huang!
Kami tidak akan tinggal diam.
Oh Sibblings
Zitao menyipitkan kedua matanya. Ia tersenyum meremehkan. Ini pasti akan sangat menarik, pikirnya. Ia tidak pernah membayangkan ada orang-orang yang begitu cerdas yang akan menjadi musuhnya.
Inilah dunia yang tepat baginya, dan dia tidak akan segan-segan menjalani apapun untuk menjadikan dunia itu miliknya sendiri. Dia egois, dia gila, dia psikopat, ya, Jongdae benar. Jika hasrat membunuhnya telah membuatnya kehilangan pribadinya sendiri.
"Kami tidak mendapati Junmyeon hyung di apartment-nya" Taehyung tiba dengan sebuah koran harian.
Kim Taehyung adalah seorang pemuda pengantar susu di distrik Haeundae. Ayahnya seorang penjudi berat, sementara ibu dan adiknya meninggal bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi ayahnya yang kasar itu.
Pertama kali ia membunuh adalah saat ia tak sengaja menusukan pisau dapur ke dada ayahnya yang saat itu hendak memukulnya. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan para pencuri Bank di daerah itu. sampai suatu hari ia melihat komplotannya mati terkena peluru para polisi yang saat itu menyergap mereka.
Ia berlari ke gang-gang sempit dan mendapati namja itu tengah membunuh seorang preman. Zitao mengancam Taehyung untuk segera pergi sebelum ia berubah pikiran. Namun ternyata Taehyung punya pemikiran lain, dan lebih memilih untuk bergabung dengan namja itu.
"Dia terlalu munafik" Zitao menyahut. "Apa yang kau bawa itu?"
"Oh, ini koran harian yang ku beli saat di swalayan tadi"
Dia mengira bahwa Taehyung terlalu aneh karena masih sempat-sempatnya membaca koran-koran penuh drama seperti itu. "Ku pikir hyung harus membacanya" kata Taehyung.
Zitao mengambil koran yang diletakan Taehyung di samping meja kerjanya.
'Penangkapan Inspektur Jang Perihal Kasus Suap' dan 'Choi Minho Ditetapkan Menjadi Seorang Tersangka'
Zitao tertawa pelan. "Mereka tidak mengusut kasus Jongdae"
"Itulah sebabnya aku membeli ini, hyung"
"Bagaimana dengan Namjoon?"
"Namjoon hyung sedang ke Jeju untuk mengurus pekerjaannya di sana" jawab Taehyung. "Hyung tenang saja, Namjoon hyung akan mengabari kita nanti siang"
.
.
.
.
"Kau pasti sudah tahu siapa aku kan" Changmin berkata. Sedikit demi sedikit ia mulai menyesuaikan dirinya dengan fakta jika Jongin bukan lagi miliknya.
Tubuh jangkungnya dibalut pakaian formal. Suatu gaya yang selalu ia pertahankan dengan gelar seorang pewaris kekayaan dan Usaha Anggur beras yang ia turunkan dari kakek buyutnya.
Dalam kurun waktu 8 bulan berpisah dari Jongin. Changmin sudah belajar cukup banyak, bagaimana memperlakukan seorang pasangan dengan baik dan memperhatikan keluarganya—terutama putra kecilnya dengan Jongin yang memang hanya itulah yang tersisa diantara mereka selain kenangan-kenangan manis.
"Tentu saja, Tuan Shim" Sehun menjawab.
Changmin mengunjunginya di kantor dan meminta waktunya sebentar. Ya, hanya sebentar. Itu pun harus menunggu waktu istirahat dulu.
Seseorang mengetuk pintu. Sehun berseru masuk, dan tak lama seorang namja yang kita ketahui bernama Moon Teil itu masuk ke ruangan dengan tingkahnya yang lucu.
Seohyun noona bilang jika ada seorang namja tampan bertubuh tinggi yang bertamu di ruangan Kapten Oh. Para yeoja pun juga bergosip jika namja itu adalah mantan suami Kim Jongin, yang baru bercerai 8 bulan yang lalu.
Siapa sih yang tidak kesemsem? Itulah kata Seohyun noona. Ia juga bilang betapa beruntungnya Jongin karena telah dicintai oleh dua orang namja tampan seperti Shim Changmin dan juga kapten Oh.
Teil berdecih pelan. Berkata dalam hati jika dunia sangat tak adil padanya. Jongin yang berparas manis dengan tubuh langsing nan sexy-nya. Serta kehidupan romantis dikelilingi oleh namja-namja tampan membuat Teil sedikit iri padanya.
Well, jika kalian ingat gossip kedekatan Sehun dengan Kim Jongin yang beredar—tentu saja itu berkat kepiawaiannya dalam membuat suatu peristiwa yang terkesan dramatis untuk di sebar.
"Aku tahu jika kau menyukainya" kata Changmin, saat mendengar Teil sudah menutup pintu.
Sehun membaca dokumen-dokumen yang dibawa Teil. "Hm" sahutnya. Suka? Ia memang menyukai Kim Jongin saat usianya baru 12 tahun. Siapa yang tidak menyukai seorang murid kelas 2 SD dengan wajah lugunya yang manis dan poni mangkuknya yang menggemaskan. Dibalik sikap juteknya, sebenarnya Sehun sudah lebih dulu jatuh hati dengan Jongin kecil yang selalu terlihat kepo dengan rumah besarnya itu.
"Boleh aku meralatnya?"
"Tentu saja" Changmin menyahut.
"Aku tidak menyukainya"
Changmin terkejut bukan main. Jika Sehun tidak menyukai Jongin, mengapa saat itu ia mendengar suara desahan dari kamar Jongin? Apa namja Oh ini hanya sekedar menjadikan Jongin semacam pelampiasan seks nya saja? Brengsek benar namja satu ini.
"Kau? Apa?"
"Aku tidak menyukainya, tapi aku sangat mencintainya"
"Oh" Changmin menggaruk kepalanya kikuk.
"Lalu?" Sehun bertanya, menatap namja yang lebih tua—mungkin satu atau dua tahun darinya itu.
Shim Changmin, presiden direktur Shim And Sons—perusahaan anggur beras terbesar kedua di Asia itu terlihat kikuk. Sulit dibayangkan saat ia harus mengikhlaskan Jongin untuk namja di hadapannya ini. Namun ia bisa apa? Jongin sudah tidak mungkin kembali menjadi miliknya.
"Aku hanya ingin kau menjaganya dan juga putra kami" Changmin memberikan sebuah jawaban yang membuat Sehun tertawa.
Dari cara Changmin berkata, membuat Sehun bisa mengira jika namja Shim itu masih mencintai Kim Jongin. Matanya yang menatap sendu itu ada rasa tidak ikhlas. Lagipula siapa sih yang ingin kehilangan namja seperti Jongin? Tidak ada..Ya, Tidak ada! Sehun pun juga tak mau mengalah kalau sudah menyangkut Jongin. Jongin itu miliknya! Adapun dulu Changmin pernah memiliki hati Jongin, salahnya sendiri membiarkan namja itu pergi.
"Kau masih mencintainya kan" tebaknya.
"A..aku? Hell, tentu saja"
Sehun tertawa pelan. "Tapi maaf saja, Tuan Shim. Aku tidak akan mengalah padamu"
"Kau pikir aku bisa? Tidak, Kapten!" katanya. "Tapi itu mustahil, cintanya, tatapannya, juga perhatiannya sudah tidak lagi tertuju padaku"
"Kau menyerah?"
"Entahlah" Changmin menyahut pelan. "Maka dari itu aku memintamu untuk menjaganya dan putra kami"
"Mengapa tidak kita berdua saja yang bersatu untuk melindungi mereka? Kau mencintai mereka, aku pun juga"
.
.
.
.
Kyungsoo menjerit senang saat melihat wajah Doyoung di tab berlogo Apelnya. Ia duduk di tengah-tengah mommy dan paman Oh yang tengah bersandar di atas ranjang apartment paman Oh yang terletak di daerah Haeundae. Deburan ombak terdengar lembut setiap detiknya.
"Adiknya cudah lahil? Benalkah? Cooie boleh liat?"
Terdengar kekehan kecil di bibir Doyoung saat mendengar Kyungsoo ingin melihat adik bayinya yang baru lahir seminggu yang lalu.
Jongin tertawa pelan, ia mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang.
"Mama Cooie mau lihat Nala"
Layar di tab itu sedikit bergerak. Dan memperlihatkan sosok yeoja cantik tengah menggendong seorang bayi kecil yang begitu menggemaskan.
"Hallo, Jongin"
"Hallo, Yoona noona..Wah, lucu sekali Nara Baby"
Yoona tersenyum simpul. Wajahnya masih terlihat pucat namun tidak mengurangi betapa cantiknya ibu dua orang anak itu.
"Bagaimana kabar kalian? Aku sudah mendengar berita itu. Hey, itu seperti Hadiah di tengah musibah" Kemudian tertawa dan membuat Jongin merona malu.
Ia menoleh ke arah Sehun yang juga ikut menoleh ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya. Jongin menggeleng, dia malu sekali kalau mau tahu.
"Jongin..Hey..Jongin..Dia tampan sekali. Oh, hey..Kau sangat beruntung bisa bertemu namja setampan dia"
Dan Sehun tertawa pelan saat mendengar Yoona memujinya. Jongin memukul pelan bahu Sehun dengan tampangnya yang merenggut.
"Aunty"
"Hey, Soo baby"
"Cooie mau lihat adik Nala"
Yoona tertawa gemas. Ah, Kyungsoo memang anak yang lucu dan menggemaskan.
"Wah, Nala lucu cekali" Kyungsoo meletakan kedua tangannya di pipinya yang chubby.
Namun bayi perempuan itu menangis dan membuat Yoona pamit undur diri untuk menyusui bayi perempuannya. Kemudian muncul wajah lucu Doyoung yang cemberut karena Kyungsoo lebih suka adik Nara dibandingkan dirinya.
...
Jongin baru saja tiba di kamar setelah mengantar Kyungsoo tidur di kamar sebelah. Ia tersenyum saat mendapati Sehun masih fokus dengan buku bacaannya. Kacamata masih terpasang di hidungnya yang mancung itu.
Bahkan saat Jongin merebahkan tubuhnya di samping tempat tidur Sehun masih tetap fokus. Membuat Jongin berdecak kesal. Apa buku itu lebih menarik darinya?
Tiba-tiba ide muncul di kepalanya. Jongin menyeringai, ia membuka kancing kemeja longgarnya dan melorotkannya sebatas bahu. Kemudian hal yang tak terduga terjadi, namja manis itu mulai menindih Sehun dan menatap maniks kelam Oh Sehun dengan penuh gairah.
"Sayang?" tanya Sehun. Ia tidak mengerti dengan tingkah binal Jongin malam ini.
Jongin menggeleng, dan mulai menciumi pipi tirus Sehun. Sementara namja tampan itu masih terus membaca bukunya. Melihat hal itu membuat Jongin semakin merenggut. Tanpa ia duga, ia segera melumat bibir tipis Sehun—membuat namja tampan itu melupakan bukunya dan melayani ciuman sang kekasih.
Jongin bersorak senang dalam hati. Rasakan itu buku jelek, batinnya senang.
Dan tiba-tiba Sehun membalik tubuh ramping Jongin sehingga ia berada di atas. Ia menghentikan ciuman itu, menatap wajah Jongin yang memerah lucu.
"Ada apa denganmu, hm?"
Jongin gelagapan. Apalagi saat mengingat kemejanya tidak dalam keadaan terkancing dan itu sama saja telah memperlihatkan dadanya yang mulus dan sedikit berisi.
"A..aku..eungghhhh" Ia melenguh saat tiba-tiba saja Sehun merundukan tubuhnya dan menjilati puting dadanya yang mudah sekali menegang.
"Kau sudah mulai nakal ya, milky mama" goda Sehun. Tapi tidak apa-apa. Ia juga haus, dan sepertinya ia tahu sesuatu yang bisa menghilangkan dahaganya.
Ia mengemut puting itu dan merasakan cairan yang keluar dari dada Jongin yang agak montok. Rasanya nikmat sekali, pikirnya.
"Mommy, hiks"
Keduanya terkejut saat mendengar suara tangisan Kyungsoo. Dengan segera ia mendorong tubuh Sehun dan memperbaiki kemejanya untuk menemui putra semata wayangnya itu.
Cklek..
"Ada apa, baby?"
"Cooie takut, hiks"
Jongin segera membawa Kyungsoo kecil ke dalam kamar. Menidurkan tubuh mungil itu di tengah-tengah dirinya dan Sehun. "Hiks"
Sehun yang berpura-pura tidur menghadap kesamping pun berbalik badan. Mendapati Kyungsoo terisak dengan wajahnya yang amat lucu. "Ada apa, hm?" ia bertanya, seraya mengusap punggung sempit Kyungsoo.
"Cooie takut..Ada Monstel"
Namja itu tertawa pelan. "Soo, monster itu tidak ada"
"Tapi..tapi"
"baby, paman Oh benar. Monster itu Cuma ada di film"
Namun Kyungsoo malah menjerit diiringi tangisannya karena tak ada satupun dari mereka yang percaya ada monster di kamarnya. Padahal memang tidak ada, karena anak itu hanya bermimpi buruk tentang monster saat tidur.
Jongin membuka kancing kemejanya saat Kyungsoo mulai menepuk pelan dadanya. Balita yang baru berusia 4,5 tahun itu segera mengemut puting sang ibu dan meminum cairan kesukaannya saat akan tertidur. Jemari mungilnya memainkan puting yang menganggur dengan matanya yang sedikit tertutup.
"Tidak apa-apa kan?" tanya Jongin. Ia takut Sehun marah karena lagi-lagi mereka tidak jadi berhubungan badan akibat Kyungsoo yang rewel dan tertidur bersama mereka.
"Tidak apa-apa" jawabnya. Mau bagaimana lagi? Ia juga tidak akan tega memarahi balita yang sudah ia anggap putra kandungnya sendiri. Jongin mengulum senyum, ia mengusap rahang tegas Sehun dan membuat namja tampan itu membalas senyumnya.
"Tidurlah!" kata Sehun. "Kita akan pergi ke pantai besok"
"Kau yakin? Kau kan hanya memiliki waktu 2 hari untuk istirahat. Kau tidak perlu menuruti Kyungsoo, Hun"
.
.
.
TBC
.
.
.
A/n :
Thx untuk semua review dan support juga kritik dan sarannnya.
Aku Cuma bisa bilang terimakasih karena itu yg memang bisa aku lakuin.
Well, meskipun sempat terjadi missunderstanding aku tetap akan menulis. Dan aku sempat merasa sedih saat ada yg menyebut aku org yg angkuh. Aku Cuma mau konfirmasi aja ya. Kalo aku gak angkuh dan bisa menerima berbagai macam kritikan. Kalo aja sunbaenim bilang 'Penggambaran karakter' bukan 'Karakter kuat' aku pasti paham kok maksud sunbaenim. Sampai saat dimana aku menulis sequelnya pun aku masih kepikiran. 'Karakter kuat' apa yg sunbaenim maksud. Bukannya aku gak terima kritikan. Aku Cuma bingung apa yg sunbaenim maksud. Tapi ternyata kita sama-sama Missunderstanding dan ya, bisa ditebak seperti apa jadinya. Kalo minna-san punya pertanyaan, aku harap langsung Pm aja ya. Karena kalo lewat Review aku agak kewalahan juga balasin pertanyaan-pertanyaan readers lainnya.
Aku minta maaf kalo ada yg gak sreg sama pendapat aku. Aku tahu aku Newbie dan gak seharusnya bertingkah. Aku minta maaf, maaf banget.
(PS : Jangan panggil aku Author, Sunbaenim, senpai, dsb. Aku 98Line. Masih terlalu muda untuk dipanggil Author maupun Sunbaenim)
