Hi, everyone!
Anne muncul lagi dengan dua chapter terakhir. Apa? Iya, ini adalah chapter-chapter akhir. Chapter 11 nanti akan jadi finalnya sebelum masuk fic cerita baru. Yang kepoin IG Anne pasti udah tahu sedikit cuplikannya karena Anne buat video trailernya.
Nah, sebelum baca. Anne mau ucapkan selamat puasa, ya! Bagaimana yang puasa, hari pertama lancar? Aha, untuk mengisi puasa kalian, bisa tuh menikmati tulisan-tulisan Anne. Sebisa mungkin, fic Anne di puasa ini akan meminimkan macam-macam yang berbau rate M. Hahaha cari amalan yang baik gitu.. :P
Baiklah, Anne balas review dulu..
Deauliaas: kau terbangkan aku ke awan lalu kau jatuhkan ke dasar jurang.. *kayak lagu*
aquadewi: dijampi memori, sadis! :P
rin willow moon: kalau jadi bumil biasanya gitu, ya. Sensi mulu :)
AMAZING: Aku buat fic hinny nanti. Kalau pensaran bisa lihat dulu di IG aku. Kalau menurutku malah di video sesi photoshootnya pas yg jadi Albus ketawa jadi ganteng gitu. Hehehe *loh* see you!
kiru: penasaran ya... ini dibaca ya sebelum besok ending :)
Octaviadwins: Di sini Draco mulai berubah ya sifatnya meskipun nggak total sejak kenal Mione. Gitu kira-kira.. Si Astor kan ada di masa lalu bahagia Draco jadi ya.. mau marah Draco mulai gimana gitu.. :)
Liuruna: aduhh yang jadi Draco mah langsung buat aku deg-degan! :*
Naomi Hime: Scorpie belom bangun, kalau udah bangun itu si Astor pasti udah di gampar bapaknya diapa-apain, hehehe namanya juga Ron sakit ati, bawaannya negativ mulu..
Afadh: so sweet nggak sih si Albus perhatian sama adeknya :) Wah kok kamu kayak Al di fic infinity aku, minta anjing tapi gk boleh soalnya di rumah nggak ada orang. Inget nggak? :)
Baiklah.. langsung saja ya!
Happy reading!
"Bicara, Hermione! Ada apa? Demi Merlin katakan!"
Draco pikir dengan cara ia menyembunyikan semua permasalahannya terdahulu dengan Astoria dari Hermione membuat hubungan rumah tangannya tenang. Nyatanya itu tidak. Hermione menuntut sebuah keterbukaan dari Draco. Tentang Astoria.. dan masa lalunya. "Apa salahnya kau untuk jujur pada istrimu sendiri, hah?" Hermione berteria-teriak kesetanan di dalam kamarnya dengan Draco. Malam ini seperti petaka ketika tak sengaja Hermione tahu tentang nama Bianca.
Keesokan harinya setelah Scorpius semakin nyaman dengan kelinci putih itu, Draco tiba-tiba saja bungkam saat Hermione menyebutkan nama Bianca tepat Scorpius mengusulkan nama pada mereka. Tidak ada satupun yang memiliki usulan tentang nama, sampai akhirnya Hermione memilih satu, yaitu Bianca. Sontak Draco terlonjak dari tempat duduknya dan menatap tajam Hermione. Aura kemarahan menguasai tubuh Draco mengingat Hermione sejak awal tampak menyimpan sesuatu darinya. Semua kemarahan.
Dengan gaya mencibir, Hermione menantang Draco bahwa nama itu hanya nama umum biasa yang bisa ia pilih sesuka hati. Tapi, Draco cukup peka jika Hermione sedang berusaha mengungkit masa lalunya. Semuanya terasa kaku di antara Draco dan Hermione hingga bulan perlahan meninggi di langit malam.
"Astoria mengatakan apa saja padamu?"
Mantera peredam suara telah terpasang sempurna karena inisiatif Draco. Scorpius belum tidur, sehingga ia perlu mengantisipasi jika si kecil Malfoy tiba-tiba saja mendatangi kamar orang tuanya hanya untuk sekadar menyampaikan selamat malam. Itu bisa berbahaya.
"Benar kau yang bertanya? Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu?"
Suara mereka memantul di antara dinding-dinding dan menyusup ke setiap pori-pori kulit mereka. Tubuh Draco meremang hebat. Kata-kata Hermione seolah menusuk segala persendiannya hingga tak mamu untuk bergerak.
"Lalu dengan apa lagi aku bisa buktikan bahwa aku dan Astoria—berakhir? Itu, kan, masalahmu?" bentak Draco tak lagi bisa menahan diri.
Mereka sengaja menjatuhkan tongkat masing-masing, apalagi Draco. Ia takut jika emosinya tak terkendali mampu melukai Hermione dan calon bayinya dengan satu kali ucap mantera. "Aku kira aku benar memilihmu, Draco—"
Hermione menurunkan sisirnya. Pandangannya lurus ke depan, menatap pantulan dirinya di depan cermin rias. Wajahnya pucat dan sembab. Jejak-jejak air mata di kedua pipinya belum hilang. Hermione malas menyentuh air untuk mencuci muka selain air matanya sendiri.
"AKU MENCINTAIMU, HERMIONE!"
Tidak cukup bagi Draco untuk berteriak pada Hermione, ia lantas menarik tangan Hermione agar berdiri dari tempat duduknya dan menyeretnya duduk kembali di atas ranjang. "Aku telah berusaha keras mendapatkanmu dari si Weasley itu, Hermione. Aku memperjuangkanmu untuk diriku. Karena aku mencintaimu. Aku mohon, Hermione. Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu—"
"Atau kau hanya mencoba mempermainkan hidupku? Oh mungkin kau hanya mau menutupi rasa kecewamu karena lepas dari Astoria? Draco, kau sadar tidak jika di luar sana.. Ron tersiksa karena semuanya! Ini semua salahmu!"
"Salahku?" Draco bangkit kembali, suaranya tak lagi sekeras sebelumnya, "Karena aku merebutmu darinya yang jelas tak bisa membahagiakanmu sepertiku?"
Draco berjalan pelan menuju meja sudut, foto dengan unsur sihir berbingkai indah ia ambil dan tunjukkan tepat ke hadapan Hermione. Mereka berdiri berdampingan dalam balutan busana pengantin yang serasi. Senyuman Hermione mengembang sembari mengapit lengan kiri Draco erat. Mereka sangat bahagia kala itu. tepat setelah janji mereka terucap di depan puluhan tamu saksi pernikahan mereka.
"Janji untuk saling membutuhkan satu sama lain, membantu satu sama lain. Itu adalah alasan pertama mengapa aku mau menerimamu daripada Ron. Karena apa? Ia tak bisa menepati janji itu padaku. Dan kau.. mengucapkan janji yang sama dan memberikan semua harapan indah untukku tanpa pernah kau sebut Astoria—" napas Hermione habis dalam sekali sebut. Nama itu membuat dadanya sesak, "bahwa wanita itu juga pernah kau berikan janji yang sama!"
Dalam diam, Draco terus menggeleng menolak semua pernyataan Hermione tentang dirinya dan Astoria. Semakin jauh mereka membicarakan semuanya, Draco akhirnya berpikir pada satu inti permasalahan, bahwa Hermione telah berhasil masuk dalam permainan Astoria.
"Posisiku saat itu hampir sama dengan Potter. Aku mencintai adik sahabatku sendiri. Bagaimana usaha seseorang yang sedang jatuh cinta, Hermione? Aku tanya padamu. Aku berusaha mendapatkannya. Mati-matian aku mengejarnya sampai akhirnya aku dapatkan hatinya. Astoria.. menerima.. cintaku."
Dada Hermione memanas namun ia tak mau untuk menangis. Ia tak mau lemah ketika kenyataannya memang dahulu suaminya adalah cinta yang dimiliki oleh orang lain. tak jauh beda dengan dirinya. "Kami bahagia dengan cara kami. Dengan Cosmo dan Bianca, dua buah kelinci yang melambangkan cintaku pada Astoria. Putih. Malfoy. Berharap tidak hanya kami yang akan bahagia, dengan cinta kami bisa membahagiakan makhluk lain. Kelinci-kelinci itu. Sampai akhirnya dengan mudahnya dia mengatakan bahwa.. aku tak bisa menjadi seorang istri yang kau harapkan.. aku harus mengejar mimpiku.. menjadi model.. pergi ke Paris—"
Suara Draco tiba-tiba berhenti. Badannya perlahan tenang tidak seperti ketika ia berbicara. Draco memutar tubuhnya menghadap Hermione lebih dekat. "Untuk apa melanjutkan hubungan dengan wanita yang rela melepaskan cintanya demi kepentingan pribadinya? Cosmo mati karena ia tak bisa mengurusnya. Aku tahu semuanya bahkan sebelum ia menceritakannya. Apa jadinya jika ia dan diriku memiliki Scorpius bukannya bersamamu, mungkin Scorpius akan mati di pangkuannya seperti nasib Cosmo atau di atas lantai karena kelaparan?"
"Kalaupun aku jadi Astoria, aku pun akan seperti dirinya—"
"No! Tidak mungkin."
Hermione menangis. "Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu dengan tulus," suara Draco bergetar hebat menghentikan luapan emosinya yang kini telah memuncak. Sebulir air mata lolos dari sudut mata kanannya.
"Itu tidak masuk akal, Draco."
"Why?" Draco memejamkan matanya berharap bumi menelannya hidup-hidup, "apa yang kita punya ini semuanya nyata, Hermione. Kau, aku, Scorpius, dan calon anak kita!"
"Tapi caramu salah! Apa buruknya Astoria jika kau pun mendapatkannya dengan cara yang sama sepertinya."
Bibir Draco dengan cepat menempel erat di bibir Hermione. Mengecupnya untuk memancing perlawanan dari Hermione. Tapi nyatanya, Draco seolah sedang mencium mayat hidup. Hermione sama sekali tak membalas ciumannya. "Kenapa hidup ini tidak pernah adil padaku?"
Draco menghentakkan tangannya berusaha melepas beban berat di tubuhnya yang kasat mata. Beban yang dirasakan Draco jauh lebih berat daripada ia harus mengangkat beban berupa benda. Memikirkan perasaan Hermione cukup membuatnya hampir kehilangan separuh nyawanya. "Aku selalu tak punya pilihan, Hermione. Denganmu, bahkan dengan Astoria." Ujar Draco.
"Aku dihancurkan oleh seseorang yang membawa kepercayaanku. Di saat ia pergi, aku menemukanmu, menemukan apa yang sebenarnya aku cari. Tapi lagi-lagi, aku diberikan pilihan yang tak bisa aku pilih. Kau milik orang lain. Salah? Ya, aku tahu aku salah karena dalam hidupku semuanya memang berawal dari sebuah kesalahan. Aku malu padamu, Hermione. Caraku kotor. Maafkan aku, Hermione!"
"Karena jika tidak, kau tak akan pernah belajar, Draco—"
Hermione bergerak mendekati pria yang berstatus suaminya. Menarik dagunya lantas memberikan yang harus ia berikan. Hermione mengecup bibir Draco, namun ini berbeda. Hermione tak melepas tubuh Draco menjauh dari dirinya. Ia menginginkan Draco.
"Tapi kini kau telah belajar, Draco. Aku kini milikmu—"
Tiba-tiba suara melengking terdengar cukup keras dari luar kediaman mereka. Seperti suara cekikan dan rintihan aneh. Beberepa detik kemudian, seperti ditelan hembusan angin malam, suara itu menghilang. Namun segera berganti dengan suara jejak kaki di sekitar semak-semak. Seseorang sedang menyusup di halaman belakang.
"Draco—" panggil Hermione ketakutan.
"Tenang, aku akan turun." Pesan Draco namun dicegah oleh Hermione. Ia ikut.
Tongkat Draco teracung dengan cahaya terpancar di ujungnya sebagai penerangan. Hermione memeluk erat pinggang Draco mulai waspada. Bersama-sama langkah kaki telanjang mereka menyusuri lantai menuju halaman. Suasana gelap menyapa keduanya ketika sampai di taman hijau area belakang bangunan rumah keluarga Malfoy.
Seperti yang dirasakan keduanya, Draco dan Hermione tidak mendapati siapapun di sana. Suara jejak langkah yang sempat terdengar tak lagi ada. "Mungkin ia sudah pergi, kau masuk saja—"
"Oh, God!"
Hermione berteriak pada sesuatu yang baru ia injak. Cairan kental menggenang di bahwahnya hingga bau anyir menyeruak ke indera penciumannya. Tak kalah terkejutnya, Draco segera mengarahkan cahaya tongkatnya menuju ceceran darah di atas rerumputan. Mereka terus menyusuri arah jejak darah itu hingga sampailah mereka pada sebuah bangku panjang tempat biasa Scorpius bermain. Ya, ceceran darah itu berhenti di atas bangku itu.
"Ini—Oh, kelinci—"
Kelinci putih.. yang baru saja Hermione rawat mati mengenaskan dengan kepala nyaris putus. Sontak, Hermione mengingat tentang terornya beberapa hari lalu. Bangkai kelinci putih dengan kepala nyaris putus.
"Siapa kau sebenarnya? Keluar!" Teriak Draco memberikan ancaman.
"Ini teror, Draco. Aku mendapatkan teror yang sama sebelumnya," bisik Hermione sambil terisak ketakutan. "Kelinci ini, dikirim dengan kotak yang sama seperti teror pertama aku temukan. Tapi ketika kemarin kau membukanya dan menemukan kelinci itu hidup, aku hampir berpikir jika teror itu telah berakhir namun—"
Draco terperanjat tak percaya. Hermione tak menceritakan apapun tentang teror itu padanya. "Kenapa kau tak bilang, Hermione."
"Karena dia tahu, jika teror itu aku buat untuk mengancam hubungannya denganmu, Malfoy!"
Sosok berjubah hitam keluar menunjukkan pisau lipat ditangannya penuh dengan lumuran darah segar. Bau anyir yang tercium bisa membuat siapa saja mual dibuatnya. Mendapat cahaya dari tongkat Draco, sosok berjubah itu perlahan menunjukkan wajahnya.
Ia tersenyum, lantas berkata, "seharusnya kemarin aku mengirimnya dalam keadaan seperti ini agar kau sama terkejutnya dengan Hermione, tapi.. aku rasa.. aku ingin memberikanmu hadiah tanpa darah tepat di hari ulang tahunmu. Benar kan? Atau.. kau lupa dengan ulang tahunmu sendiri? Hermione juga? Istri macam apa kau—"
Hermione tertegun baru sadar. Ia melupakan ulang tahun suaminya sendiri. "Lama kelamaan aku pikir jika itu tidak perlu. Jadi, ini dia. Kau butuh melihat yang sama seperti ini untuk mengingatkan tentang sesuatu—" ia beralih menatap Hermione untuk memperjelas raut wajahnya. Ia kembali tersenyum.
"Apa?" tantang Hermione.
"Kesakitan."
- TBC -
#
Tunggu endignya besok (kalau tidak ada halangan), ya! Hayo siapa yang datang?
Untuk fic PULANG, akan update (mungkin) setelah fic ini end, jadi yang penasaran tunggu saja, ya! Sabar! Maaf kalau masih ada typo.. Anne ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi kalian yang menjalankannya! :)
Ps: hbd Draco! *telat*
Thanks,
Anne xoxo
