Uchiha Sasuke belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.., menjalani hari dalam dilema dan penuh ketidak pastian. Tidak lagi seperti hari-harinya yang biasa sempurna yang ia lewati begitu saja.
Tidak.., Jika kau berkata seorang Uchiha Sasuke adalah pria plin-plan dan tak berpendirian, kau salah besar bung!
Karena Sasuke sangat berpendirian lah ia harus merasakan dilema seperti ini.
Entah sudah berapa kali Sasuke menghela nafas berat sepanjang hari ini. Nara Shikamaru, sekretaris sekaligus sahabat sang raven sejak kuliah itu hanya bisa mengerutkan dahi heran.
Hei, apakah matahari terbit dari tenggara sekarang, ia bergumam pelan.
Tak biasanya bos besarnya yang bermuka datar itu terlihat suntuk dan kacau. Matanya terus menatap kearah Sasuke saat menyerahkan beberapa map . Dan tak seperti biasanya Sasuke hanya diam memandang kosong lembaran-lembaran yang harus ditandatangani nya itu.
"Eerr~ apa kau butuh air minum, Sasuke? Sepertinya kau sedang dehidrasi sampai-sampai berkas penting itu hanya kau plototi sedari tadi...", Shikamaru berkata santai.
"Gomen, akan segera ku tanda tangani",
Iris Shikamaru membulat. Gomen? Apa dia tak salah dengar? Seorang Uchiha meminta maaf? Oh ya Tuhan apa ini sungguhan.
Tangan pemuda berambut nanas itu dengan cepat merampas seluruh berkas yang tadi ia serahkan di meja.
"Stop! Kau yakin baik-baik saja? Hei bung, kau tak bisa membohongi ku!", tukas Shikamaru kesal. Ia tak mengerti apa gerangan yg sedang terjadi pada teman(?) Nya itu yang Shikamaru yakini hanya satu= Sasuke benar-benar sedang tak sehat!
Onix sehitam malam itu menatap sosok sekretarisnya dengan tatapan hampa. Sasuke hanya menghela nafas panjang kemudian mencoba menyandarkan tubuhnya sendiri ke kursi.
"Kau benar! Aku memang sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja", desahnya pelan. Kelopak mata Sasuke terpejam. Sepertinya galau(?) Berkepanjangan itu sdh membuat air mukanya berubah. Sasuke tak ingin orang lain mengetahui jika dia sedang ada masalah. Tapi sepertinya pemuda Uchiha kita ini tak akan bisa menyembunyikan sesuatu dari sekretarisnya yang berotak jenius itu.
Sasuke mengetukkan jarinya ke meja.. Dan Memasang wajah seakan sedang berpikir sebelum akhirnya ia berkata.
"Apa kau pernah mengalami kesulitan karena wanita, Shika?",
"Apa?", mata Shikamaru membulat. "Tentu saja, jika kau tahu Temari itu sangat merepotkan! Dia suka sekali marah karena semua hal, membuatku tak bisa tidur saja", jelasnya meletup-letup.
"Lalu apa yang kau lakukan jika ia marah?",
"Tentu saja aku akan kembali tidur"
"Lalu Temari?"
"Ya pasti dia marah-marah. Merepotkan sekali bukan"
"Hn",
Suasana terasa aneh di ruangan berpendingin udara itu. Shikamaru merasa jika Sasuke mulai tak waras menanyakan hal-hal yang diluar kebiasaanya.
Wanita? Tak biasanya bukan si workaholic itu menanyakan soal wanita seperti sekarang.
"Apa terjadi sesuatu dengan Naruto? Apa kalian bertengkar?", tanya Shikamaru mencoba mengambil kesimpulan sendiri.
Kening Sasuke berkerut. "Aku tak tahu, Shika", ia menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan. "Naruto tak pernah berkata apapun, tapi menurut dokter kebalikannya. Dia.. Sedikit tertekan", onix sekelam malam itu meredup. Tangan pucatnya memainkan pena hitam miliknya diatas meja.
"Jadi", ujar shikamaru, merapikan berkas-berkas yang dibawanya kedalam map-map yang sudah dipersiapkan sebelumnya. "Apa yang akan kau lakukan?",
Sasuke meletakkan penanya, termenung. Ia menarik napas. "Aku tak tau", jawabnya pelan.
"Yang ku tahu wanita itu makhluk yang sensitif dan berharga diri tinggi", ujar Shikamaru santai. "Apa yang ada dimulut dan dihatinya sangat berbeda,bung",
Alis Sasuke terangkat. "Serumit itu?",
"Ya, begitulah",
Sasuke meneguk air digelasnya dengan cepat. Ia benar-benar tak tahu jika makhluk berjenis wanita itu begitu merumitkan. Oh ayolah, dia tak pernah dibuat pusing seperti ini oleh yang namanya wanita sebelumnya.
"Aku sangat bingung shika. Apa menurut mu ini salah?", tukasnya kaku. "Ini sedikit rumit",
Shikamaru memutar bola matanya malas. "Tergantung", ujarnya
"Mereka berdua sangat penting buatku", tukas Sasuke pelan. "Naruto adalah istriku sementara Hinata..., dia sudah seperti adik ku sendiri", menerawang jauh keluar jendela dikantornya, Sasuke hanya bisa bertopang dagu. "Naruto, tak pernah berkata apapun saat aku pergi menemui Hinata. Jadi kukira semua baik-baik saja..", sambungnya setelah terdiam beberapa saat.
Shikamaru menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia mendudukkan dirinya di kursi tepat didepan meja mahoni bername tag CEO itu.
"Kau itu pintar atau idiot sih", Shikamaru berucap santai. "Mana ada wanita yang rela suaminya pergi ketempat wanita lain! Jangan naif,bung",
Sasuke mantapnya datar. Ia sedikit tersinggung atas ucapan kurang ajar sekretarisnya itu, hanya saja yang diucapkan Shikamaru jelas benar adanya.
"Lalu apa yang harus ku lakukan", ia meremas surai kehitamannya kesal. "Aku tak tau,Shika. Ini terlalu rumit! Hinata membutuhkan ku sebagai kakak, sementara Naruto... Dia...", bibir tipisnya mengatup rapat. Ia menggeram kesal sambil mengepalkan kedua tangannya diatas meja. "Naruto.., Dia adalah istri ku",
Kepala bersurai menantang gravitasi itu menunduk dalam. Saat ini ia sangat membutuhkan jawaban dari Shikamaru untuk menyelesaikan segala masalahnya. "Aku harus bagaimana...", desahnya pelan.
"Kau hanya perlu memilih mana yang lebih penting, Teme! Tegaslah! Naruto lebih membutuhkanmu dari pada adik manis-manja mu itu, Baka!",
.
.
.
.
Tak banyak yang bisa dilakukan sang blonde selain berbaring dan memakan hidangannya. Itachi-nii memaksanya untuk tinggal sedikit lebih lama lagi setelah mendengarkan ucapan dokter yang mengatakan lambung Naruto sedikit rewel.
Infus ditangannya bahkan sudah dicabut sejak kemarin, ia merasa sudah sangat sehat. Tidur seharian seperti ini justru membuat otot-ototnya kaku.
Naruto menerawang jauh ke luar jendela, menatap kumpulan awan yang berarak dilangit yang biru. Tangan tannya meraba penuh sayang ke atas perutnya yang masih rata.
"Satu setengah bulan, unn", ia bergumam pelan. "Ku harap kau tumbuh sehat ya, sayang",
Ya.., Naruto saat ini memang sedang hamil. Tapi kehamilannya itu sengaja ia tutupi dari siapapun. Ia meminta Itachi memalsukan semua laporan kesehatannya selama di rumah sakit. Meminta sang sulung Uchiha untuk merahasiakan semuanya. Ia hanya merasa kabar kehamilannya itu tidak tepat.
Iris sewarna lautan itu meredup. Hatinya sangat sakit jika harus mengingat bagaimana nasibnya saat ini. Suaminya pergi ketempat wanita lain yang jelas mengincar Sasuke terang-terangan dan Naruto, dirinya tak sengaja hampir membunuh jabang bayinya sendiri.
Sejujurnya saja , Naruto merasa kalah bersaing dengan sang gadis hyuuga, bahkan sebelum bertarung. Meskipun ia berteriak, suaminya itu tetap akan memihak Hinata. Ia hanya ingin meyakinkan hatinya dulu, memantapkan tekatnya sekuat yang ia mampu baru ia akan bercerita kepada semuanya
Tadi pagi saja ia bermimpi tengah terbangun di kamar mereka yang kosong tanpa adanya Sasuke disana. Itu sangat menyiksa terlebih kau melihat wajah anggun peri palsu itu dimimpimu! Demi Tuhan, Naruto tak akan mau mengulangi mimpi buruk tersebut. Karena itu semua sangat menyesakkan.
"Mungkin lebih baik berpisah", Naruto mengucapkannya pelan.
Lagipula tak ada yang menahan mereka untuk tetap bersama bukan. Jika Sasuke lebih memilih Hinata tentu Naruto akan pergi. Itu sudah siklusnya. Tapi tegakah ia memisahkan seorang anak dari ayahnya sendiri. Tidak itu tidak benar, kata Naruto kepada dirinya sendiri.
"Apa kau mau ice cream,Naruto", suara baritone yang sangat dikenali Naruto itu berasal dari arah pintu depan. Secepat kilat ia menolehkan kepalanya untuk memastikan siapa yang datang. Dan irisnya membulat kaget, karen benar itu adalah Sasuke, suaminya.
"Bagaimana keadaan mu? Apa tidurmu nyenyak, baby?", tanya Sasuke lembut.
"Ya, aku sudah lebih sehat sekarang",
Perasaan Naruto bercampur aduk. Ia tak menyangka Sasuke akan datang pada waktu seperti ini. jam dinding bahkan masih menunjuk pukul 3sore waktu setempat. Dan tentu itu bukan jam pulang sang raven, lalu apa yang membuat CEO Uchiha Corps itu datang kesinipun Naruto tak tau.
"Tak biasanya kau kesini.., apa tak ada rapat dikantor?", Naruto berbicara dengan lebih lembut. Ia mengambil sebuah apel di meja disamping mejanya. Mengupasnya lalu memotongnya kecil-kecil. "Kau mau, Sasuke?",
Onix Sasuke menatap lembut kearah gadis berkulit kecoklatan bermarga Uchiha itu.
Ia berjalan mendekat mendudukkan dirinya sendiri ke samping tubuh sang blonde. Meniadakan jarak yang tadi menghalanginya berada dekat dengan gadis beraroma citrus itu.
"aku hanya terpikir tentang mu, jadi aku kesini. Lagipula sekretarisku bisa mengurus segalanya untuk ku",
Naruto memundurkan tubuhnya secara perlahan. Tiba-tiba berada sedekat itu dengan sang raven membuat jantungnya berdetak cepat dan nafasnya seperti tercekat.
Tentunya Sasuke dapat melihat ketegangan sang blonde yang semakin meningkat .
"Kapan kau akan pulang? Aku akan mengajak mu berlibur ke pulau pribadi Uchiha nanti", Sasuke mengangkat tangan sang blonde, menggenggamnya kemudian mengecupnya lembut. "Bukankah kita belum pergi bulan madu, sayang? Kau akan suka villa kita di sana",
Naruto menelan ludah gugup, wajah tampan suaminya itu bisa ia lihat dengan jelas dalam jarak sedekat itu. Entahlah, rasanya sudah lama sekali.
Perasaan rindu itu pun mulai bergelayut di hatinya.
Sasuke menatap intens wanita cantik yang saat ini tengah merona malu dihadapannya itu. Ia menangkupkan telak tangannya pada kedua pipi chubby Naruto. Mendekatkan bibir tipisnya untuk mengecup bibir plum yang sangat ia sukai itu.
Sasuke menarik Naruto lebih dekat, ciumannya semakin dalam saat lidahnya mulai menelusuri lidah Naruto, mendorong lebih menuntut kedalam desakan yang lebih sensual.
Naruto terkejut dengan responnya sendiri yang seketika melingkarkan tangannya dileher pemuda raven itu. Meremas surai melawan gravitasinya lalu menelusuri setiap jengkal lekuk tubuh sang raven. Kerinduan nya akan sosok Sasuke mendominasi otaknya.
Dan setelah ciuman panas itu harus berakhir karena tuntutan oksigen, Naruto hanya bisa menenggelamkan kepalanya ke dada suaminya itu. Mengais sisa kehangatan yang tadi dibuat sang raven. Tak terasa setetes air mata lolos dari kelopak kecoklatanya
"Hontou ni aishiteru, Sasuke. Daisukii.. ",
Sasuke tersenyum tipis mendengar ungkapan cinta istri blondenya itu. Ia menguatkan pelukannya, melingkupi tubuh mungil Naruto dikedua lengannya.
Sasuke sudah memutuskan. Ia akan menjauhi Hinata.
Setelah sedikit bercerita kepada sekretaris pemalasnya itu, Sasuke sedikit bisa berpikir jernih. Setidaknya sekarang ia selangkah lebih maju dalam urusan percintaan.
Saat ini, Naruto jelas lebih membutuhkan kehadirannya dari pada siapapun. Sasuke adalah suaminya, Naruto berhak mendapatkan seluruh perhatian darinya.
Tentu saja. Sasuke akan memberikan semuanya kepada wanita yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Sejak ia merasakan kenyamanan dan kehangatan itu ada dalam diri sang blonde. Sasuke telah memutuskan untuk menjaga gadis musim panasnya itu. Ia tak mau jika sampai bidadarinya itu tak bahagia apalagi sampai jatuh kepelukan lelaki lain.
Tidak! Uchiha tak suka berbagi! Itu bukan sifat Sasuke. Naruto adalah miliknya dan wanitanya jelas mutlak memiliki seluruh kehidupannya.
Sebagai seorang laki-laki, Sasuke sudah memutuskannya. Membahagiakan istrinya lalu menjauhi gadis lavender sahabat kecilnya itu
Ditempat lain, tepatnya dibalik dinding ruang rawat itu berdiri sesosok pemuda berkuncir yang tengah membawa sekeranjang buah ditangannya.
Pemuda tersebut sudah berdiri disitu beberapa saat sebelum pasangan suami istri itu berciuman. Iris hitam sewarna onixnya itu berkilat menahan amarah. Ia mengatupkan rahangnya kuat sebelum akhirnya pergi dari sana detik itu juga.
Naruto tak menyadari kehadiran pemuda berkuncir itu. Yang ia rasakan saat ini adalah kebahagiaan yang tiada duanya. Lagi-lagi suaminya itu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Membuatnya mabuk akan pesona sang Uchiha. Melupakan semua luka yang ia derita dihatinya.
Biarlah untuk saat ini Naruto hanya ingin berada didekat suaminya...
Kalian tau.., kebahagian terbesar menjadi seorang istri adalah dicintai sang suami sepenuh hati lalu.. Bisa memperoleh keturunan darinya tentu saja.
Itulah kebahagiaan yang tengah Naruto alami saat ini..
Kandungannya sudah menginjak 2bulan.., perutnya pun tak serata yg dulu lagi.., Tak jarang sang gadis blonde itu berdiri didepan cermin wastafel berlama-lama hanya untuk mengamati perubahan pada salah satu bagian tubuhnya tersebut.
Meskipun hingga saat ini suaminya tak mengetahui berita kehamilannya bukan berarti Naruto akan bungkam selamanya. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberikan kabar bahagia ini kepada suaminya, Uchiha Sasuke. Dan tepat di hari ulang tahun sang suamilah Naruto akan menceritakan kebahagian kecilnya itu. Membayangkannya saja Naruto sudah tak sabar, Bukankah itu akan menjadi kado yang sangat menggembirakan?
Sejujurnya, Naruto sudah ingin sekali bisa pergi ke RS bersama suaminya itu. Hanya saja karena ini masih rahasia, ia harus pergi check up ditemani Itachi-nii. Ya setidaknya itu tak akan lama karena setelah Sasuke tahu, pemuda raven itu pastilah yang akan selalu ribet menyuruh Naruto untuk sering-sering periksa.
Saat ini, Naruto tengah berbaring diranjangnya sambil membaca buku tak lupa ditemani segelas susu hangat khusus ibu hamil rasa vanilla. Karena kehamilannya mulai mempengaruhi mood dan siklus makannya, Dokter sangat menyarankan agar Naruto mengkonsumsi susu ibu hamil setiap harinya. Setidaknya susu itu akan mencukupi kebutuhan gizinya dan sang bayi selama Naruto masih sulit mengkonsumsi makanan tertentu karena mual dan muntah.
Sasuke baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat istri mungilnya itu tengah asik meminum susunya. Sebetulnya, ia sedikit heran dengan kebiasaan baru istrinya itu. Naruto mengkonsumsi susu setiap hari dan gadis tan itu jadi lebih sering muntah terutama di pagi hari. Sasuke tak tahu apa sebabnya, karena Naruto hanya menjawabnya asal dan sering kali mengelak saat ditanya.
Perlahan Sasuke berjalan menuju ranjangnya kemudian merebahkan tubuh atletisnya itu di samping sang blonde. Ia mencubit gemas pipi Naruto yang dirasanya semakin menchuby(?)
"Kau semakin menggemaskan,baby. Susu mu itu membuatmu menggendut", ucap Sasuke usil.
Naruto menekukkan bibir plumnya kesal. "Aku tidak menggendut Sasuke", kemudian membuang muka tak ingin melihat sang raven yang semakin terkikik geli. "Kau menyebalkan,unn",
Kalau saja Sasuke tahu pastilah tak akan bicara seperti itu, pikir Naruto dalam hati. Iris shapirenya melirik kearah pemuda tampan itu, matanya berkilat penuh kebahagiaan. Ya, rasanya sudah sangat tak sabar ...
"Ngg.., Suke Rabu besok bisakah kau pulang cepat?", Naruto bertanya ragu-ragu.
"Memangnya kenapa?",
"Ngg.., begini aku...",
\Trururururu... / *ane gk tw bunyinya kek gmna, gomen*
Belum selesai Naruto bicara, ponsel Sasuke berdering nyaring mengagetkan mereka berdua.
Sasuke segera mengambil smartphone berwarna putih yang ia letakkan di atas bantal sebelumnya.
Irisnya membulat (meski untuk melihatnya kau membutuhkan mikroskop, karena perubahannya benar2 gak ketara) , Sasuke hanya diam memandangi ponselnya yang masih semangat bergetar. Dan lalu jemarinya itu segera mereject panggilan tersebut sebelum ia simpan ponselnya kedalam saku celana.
Alis Naruto terangkat heran, "kenapa tak diangkat Suke? Tidak biasanya kau tolak", tanya Naruto. "Memangnya dari siapa?".
Sasuke tersenyum simpul "Tidak penting, baby", Sasuke berucap dengan pelan. "Aku hanya ingin bersama mu saja hari ini",
.
.
.
.
PRANG!
Suara pecahan kaca terdengar keseluruh penjuru ruangan bernuansa ungu itu. Sebuah vas yang terbuat dari kaca biru teronggok berserakkan dilantai marmer ruangan tersebut. Kemudian menyusul beberapa barang pecah belah lainnya yang siap untuk hancur berantakan.
Seorang gadis bersurai hitam panjang nampak terlihat begitu emosi disudut ruangan. Iris sewarna lavendernya berkilat penuh amarah. Ia menggenggam sebuah benda berwarna ungu erat sebelum akhirnya benda malang itu terlempar ke lantai.
"Jahat! Kau Jahat, Suke!", teriaknya nyalang.
Tangan putih mulus itu menghancurkan semua yang dilihatnya. Hatinya tengah meradang marah. Amarahnya meluap-luap, semua yang ada didepan matanya harus hancur! Yaa harus hancur sehancur hatinya saat ini.
Sudah 3 hari..., pemuda idamannya itu mengacuhkannya.
Hinata sudah mencoba menelpon maupun mengirim e-mail ratusan kali namun pangeran impiannya itu tak sekali pun menggubrisnya. Hinata sampai rela pergi ke kediaman sang Uchiha, sayang para penjaga tak mengizinkannya masuk lebih dari pintu gerbang saja.
Hinata menggeram frustasi.., ia menatap nyalang pantulan wajahnya dicermin. Ia sangat cantik, putih mulus dan Innocence. Semua orang mengakui itu.., setiap pemuda tampan dan kaya raya berlomba mendapatkan hati dan perhatiannya. Sebagai seorang wanita ia sangat sempurna dan mempesona.
Tapi kenapa suke, kenapa? Ia menjerit dalam hati.
Secantik apapun parasnya, ia tak pernah bisa mendapatkan perhatian dari sang Uchiha tercinta! Entah kenapa pangerannya itu sama sekali tak pernah melihatnya!
Sekeras apapun ia berusaha sejauh apapun ia melangkah, Sasuke tetap tak tergapai.
hatinya sangat sakit..,
Hinata sudah melakukan segalanya untuk sang Uchiha,
Ia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri diatas meja operasi menghabiskan ratusan juta bahkan milyaran hanya agar ia bisa pantas bersanding dengan sang raven.
Tapi semua usahanya SIA-SIA
Seluruh impiannya HANCUR
Segalanya telah direnggut paksa saat kenyataan bahwa pangerannya telah menikah membuat seluruhnya MUSNAH
Pangerannya telah dirampas oleh seorang gadis buruk rupa!
Tidak! Itu Tidak bisa dibirakan !
Padahal Hinata lah yang lebih dahulu mengenal sang raven..
Padahal Hinata lah satu-satunya orang yang paling banyak berkorban untuk sang Uchiha.
Tidak! Ia tak bisa diam saja melihat impiannya hancur!
Tidak! Sasuke adalah miliknya.
Perlahan ia turun dari ranjangnya berjalan mendekat diantara puing-puing pecahan vas yang bergeletakkan dilantai. Hinata mengambil sepotong pecahannya kemudian tanpa gentar menggoresnya dalam ke nadi pucatnya. Seketika darah seger merembes deras dari sobekan di pergelangan tangan tersebut.
Ia tertawa pelan menatap setiap tetesan darahnya yang perlahan mulai menggenang dilantai. Sebuah ide briliant terlintas diotaknya..
"Ya ! Kau pasti hanya milikku! Akan kupastikan kau akan kembali padaku, Sasuke",
.
.
.
.
Hari ini adalah hari paling spesial bagi Naruto. Jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk hari ini. Gaun terbaiknya sudah dipersiapkan dengan sempurna. Dan juga... Sebuah cake strawberry yang tak terlalu manis sudah terbungkus indah di lemari es. Butuh seharian penuh untuk Naruto menyelesaikan cake tersebut. Ini demi Sasuke. Semuanya Demi kado spesial di hari ulang tahun suaminya.
Naruto menatap jam tangannya dengan cemas.., ia sangat gugup dan berdebar menanti jam yang sudah dijanjikan. Ya, kemarin ia sudah meminta suaminya itu agar pulang cepat hari ini. Naruto mengundang suaminya itu untuk makan malam disebuah restoran di tengah perkotaan Konoha. Ia sudah mempersiapkan pesta kejutan ini. karena itu saat Sasuke menawari untuk menjemputnya ia menolak dengan senang hati.
Tangan berwarna tan itu terus menggenggam sebuah kotak kado berwarna biru tua. Didalamnya sebuah arloji perak tertata dengan apiknya. Hadiah kecil untuk sang suami tercinta. Naruto tidak tahu barang apa yang Sasuke inginkan sebagai hadiah. Bukankah suaminya itu sudah memiliki segalanya. Tidak ada yang Sasuke tak punya.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang beberapa benda.. Naruto memilih arloji sebagai hadiahnya. Sebuah pengingat waktu agar suaminya yang gila kerja itu bisa mengingat waktu bebasnya. Mengingatkan Sasuke agar pulang tepat waktu untuk menemui Naruto dirumah. Kado yang manis bukan.
Oh.., dan tak lupa Naruto juga menyelipkan sebuah tespek bergaris dua disana. Jika Sasuke mengerti, itu pasti akan menjadi hadiah kejutan yang hebat.
Ini akan jadi malam yang sempurna.
Sasuke berjalan menuju restoran dimana istrinya membuat janji. Ini masih pukul 7malam, bukan jam pulang yang biasa ia ambil setiap harinya. Hanya saja, janji dengan istrinya itu tak mungkin diingkarinya.
Beberapa orang pelayan membungkuk memberi hormat saat ia melintas. Onixnya menatap berkeliling mencari sang istri berada lalu tak lama ia pun menemukannya.
Tepat di sebuah meja dibawah naungan atap daun rumbia diluar restoran. Candlelight dinner ehh? Apalagi suasananya sangat mendukung. Sasuke hanya tersenyum tipis ketika melihat istrinya merona merah saat menyadari kehadirannya.
"Kau sudah datang, Sasuke", tukas Naruto kikuk. Wajah tannya merona menatap sang suami diam-diam.
Ia begitu malu terlebih saat suaminya itu menatapnya intens setiap jengkal tubuhnya penuh penilaian.
Sasuke menaikkan satu alisnya. "Kau terlihat sempurna, Hime-sama", ia memuji tulus kemudian mengecup punggung tangan kecoklatan itu.
Ini sangat memalukan, pikir Naruto
. Ia begitu merasa tersanjung ketika suaminya itu memuji setinggi itu terlebih kecupan lembut di tangannya membuat hatinya melambung.
Beberapa orang pelayan mulai datang menghidangkan berbagai makanan lezat. Semua hidangan itu ditata rapi tak lupa dengan sebuah cake bertuliskan "happy birthday" dari selai strawberry dan lilin2 kecil ditengahnya.
Sasuke sedikit terkejut saat cake itu dihidangkan.., bibirnya melengkung menandakan ia sedang merasa bahagia. Sejujurnya ia sendiri pun tak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Karena itu ia sama sekali tak berpikir apapun saat istrinya itu tiba-tiba mengundangnya makan malam.
Diluar dugaan, Naruto termasuk istri yang perhatian juga.
"Kudengar dari Asuma-san, kau suka sekali dengan cheese ham, suke", ucap Naruto sambil menghidangkan sepiring daging ham yang terlihat menggiurkan dihadapan sang raven. "Karena itu aku memesan ini", imbuhnya.
Sasuke tersenyum tipis. "Ya, aku memang suka. Terima kasih", mengiris dagingnya menjadi lebih kecil kemudian melahapnya, Sasuke nampak begitu menikmati.
"Selamat ulang tahun ya Sasuke",
Naruto berucap dengan canggung, kedua tangannya menjulurkan sekotak hadiah kepada sang raven. "Gomen, aku hanya bisa memberi ini. Kuharap kau menyukainya",
Jantung Naruto seakan berlomba, berdebar sangat kencang saat sang raven menerima kadonya dengan senyum.
Hampir saja Sasuke membuka kotak itu kalau saja seorang pemuda bersurai coklat panjang tak meneriakinya.
"Sasuke! Ohh syukurlah aku berhasil menemukanmu,"
Pemuda beriris unik itu nampak terengah karena berlari.
"Neji! Sedang apa kau?", Sasuke bertanya heran saat melihat pemuda yang sama sekali tak dipikirkannya bisa bertemu disini.
Pemuda bernama Neji itu menyeka rambut coklatnya yang terjuntai menutupi wajahnya itu sebelum akhirnya berucap. "Kumohon! Kau harus ikut dengan ku Suke! Ini sangat gawat!", pinta Neji memaksa. Raut wajahnya nampak kalut dan ketakutan.
"Hei, tunggu! Ada apa ini sebenarnya?", Sasuke bersikeras menolak saat pemuda brunette itu mulai menarik lengannya seenaknya. "Kau tak bisa membawa ku pergi Neji! Aku sedang ada janji dengan istri ku!",
Neji terdiam, kemudian matanya melirik kearah gadis blonde yang sedari tadi hanya diam tak mengerti. Ia menunduk memberi salam pada Naruto. "Gomenne, Naruto-san! Aku belum memberi salam padamu", ucapnya menyesal.
Naruto buru-buru melambaikan tangannya cepat . "Ano.. Tidak apa-apa kok! Sudahlah jangan sungkan",
Setelah menegakkan tubuhnya. Iris unik Neji beralih menatap Sasuke dengan penuh harap. Jika saja Neji perempuan pastilah ia berekspresi seperti mau menangis saja. Tanpa basabasi lagi pemuda bersurai panjang itu menunduk dalam dihadapan sang raven. Tangannya terkepal erat. Seakan permohonan yang akan ia buat itu menyangkut hidup dan mati.
"Kumohon,Suke! Ikutlah dengan ku sekarang juga! Ini demi Hinata! Aku mohon", tukas Neji penuh harap.
Sasuke membelalakan matanya kaget terlebih pula Naruto yang juga terkejut dengan permintaan sang brunette.
"Kau apa?! Ada apa dengan Hinata-chan?", Dahi Sasuke berkerut. Tiba-tiba saja diminta ikut ke RS demi seseorang yg entah kenapa ditengah janji dengan sang istri, tentu membuatnya heran. "Ceritakan padaku! Lagipula bagaimana bisa kau tahu aku disini?",
Neji menundukkan wajahnya, raut wajahnya berubah mendung seketika.
"Aku mecari mu kekantor, resepsionismu bilang kau ada janji disini.", jelasnya parau. "Hinata.., dia mencoba bunuh diri beberapa kali...,",
"Apa?!",
"Dia berusaha bunuh diri,Sasuke. Kami berhasil membawanya ke RS tapi ia menolak untuk ditangani.."
Kecemasan jelas terlihat diwajah pemuda berambut bak iklan shampoo itu, tangannya terkepal erat ia sudah hampir merasa putus asa.
"Hanya kau yang bisa membujuknya, karena itu aku mohon Sasuke! Demi Hidup adik ku!",
Hati Naruto berdenyut nyeri. Tapi sebisa mungkin ia mencoba menahan kesakitannya . Iris shapirenya menatap gelisah dua orang pemuda yg tengah berdebat didepannya itu. Tangannya tergegam erat diatas gaun birunya.
Tidak! Ia tidak boleh terlalu terlarut! Ini tak akan baik untuk kandungannya.
"Baby..", Sasuke memanggilnya pelan
"Ah ya, Suke. Ada apa?",
Wajah pemuda bersurai unik itu nampak kalut, ia memutar bola matanya lemah sebelum akhirnya berkata. "Gomenne, baby! Tapi sepertinya kita harus segera ke RS sekarang"
TBC...
Hy minna-san! Bagaimana kabar kalian hari ini, semoga semua sehat saja ya ^^
Uhn, aku ada pertanyaan nih..
Adakah dari minna-san yang berdomisili di Surabaya?
Kalo aku sih domisili di kota "P" :D #ngaco
...
See you next chap minna-san 3
