"The Lady of KIHS"

by: Lavenderviolletta

Naruto by : Masashi Kishimoto

[Hinata H. x Sasuke U. ]

Romance,Hurt,comfor,

.

.

.

WARNING

(OOC, Miss TYPO)

.

.

Happy Reading

.

.

"Drama harus tetap berjalan, kau terlalu lama mengundur waktu Gaara."

Ruangan berisikan ketua osis selaku pemeran utama drama cassanova Romeo&Juliet yang akan dimainkan minggu depan itu tampak menekuk wajahnya, tak mengeluarkan sepatah kata pun.

"Kau tau, kita telah bekerja sama dengan para sponsor sekolah, jangan membuat nama KIHS tercoret Gaara, kau harus profesional."

Suara kursi bergeser, Deidara berdiri bermaksud meninggalkan ruangan.

"Bagaimana dengan Hinata?"

Deidara berbalik, ia menatap Gaara seraya menghembuskan nafasnya.

"Gaara, kita semua tau atas insiden yang menimpa Hinata dan Sasuke, tapi drama harus tetap berjalan, dan kau harus profesional."

Gaara mengusap rambutnya gusar, tangannya mengepal, bingung atas tindakan apa yang harus dilakukannya sekarang.

"Tidak ada cara lain, Shion yang akan menggantikan peran utama, jadi bekerjasama lah dengannya."

...

Sore menjelang, kediaman Hiashi kini terlihat dingin, tak sehangat ketika Hinata masih ada, Shion merasa dirinya menjadi ratu di Manshion Hyuuga, Hiashi sangat menyayanginya, Neji terkadang merasa malas ketika harus mengikuti keinginan Shion atas perintah Hiashi.

"Neji-nii, kau sudah pulang." Shion meletakan jus orange dan segera berlari menemui Neji yang terlihat lelah, ia membuka jas kerja Neji dan membawakan koper kecil milik Neji yang selalu dibawanya ketika pergi ke kantor.

"Dimana Hanabi?"

"Dia hari ini menginap di rumah temannya lagi."

"Lagi?" tanya Neji sedikit kesal.

"Hm.. dan Tousaan juga ada tugas luar kota, dia harus mengurusi cabang perusahaan di Sunagakure."

Neji menghela nafas, menyandarkan tubuhnya pada sofa untuk mendapat rasa relax.

"Dan, hm.. dan hanya kita berdua disini Neji-nii." Ucap Shion seraya mendekatkan tubuhnya pada Neji,

"Shion, jaga sikapmu."

"Kenapa? Apa aku kurang cantik bagimu?"

Neji menggeser posisi duduknya, menjauhi Shion, dia memandang Shion seraya tersenyum.

"Kau cantik dan juga baik, tapi kau lupa aku ini saudaramu eh? Jadi tidak mungkin aku denganmu karena,-"

"Karena apa? Karena kau menyukai Hinata? Kau mencintainya? Begitu eh?"

Neji tercekat, terkejut dengan ucapan Shion yang mengetahui rahasia yang selalu ia simpan

"Apa maksudmu, Shion?"

"Tch, kau tak usah bersandiwara lagi, kau bisa berakting sesukamu tapi aku adalah sutradaramu Neji-Niisan."

Neji semakin manautkan alisnya tak mengerti

"Apa yang akan terjadi padamu jika Hiashi tau bahwa kau mencintai Hinata? Kau bisa ditendang dari manshion ini."

"Cukup ! Hentikan omong kosongmu Shion, kau-"

Shion terkekeh, "Aku menyukaimu, Aku ingin kau, dan kau harus menjadi miliku."

Neji mengusap wajahnya, ia berdiri, menghampiri Shion, mencoba menenangkan dengan memegang kedua bahunya.

"Kau dengar, aku adalah saudaramu, aku sangat menyayangimu, sama halnya aku menyayangi Hinata."

"Kau pikir aku bodoh eh? Aku tau segalanya, kau mencintai Hinata itu semua tertulis rapih di dalam notebook rahasiamu bukan?"

"Eh? Jadii kau-"

"Yah, aku yang telah mengambilnya, dan aku mem-"

Plaakk !

"Eh? Neji-ni kau,-"

"Lancang sekali ! Beraninya kau mengambil barang pribadiku, tidak beretika sama sekali."

Shion kembali terkekeh, "Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Hanya bisa menampar seorang perempuan? Pecundang !"

"..."

"Aku bisa saja memberikannya pada Tousaan dan kau siap-siap untuk hidup dijalanan."

"Kau,-"

"Menjadi kekasihku, atau keluar dari istana ini."

"..."

"Tidak bisa menjawab bukan? Jika kau memilih menjadi kekasihku, datanglah ke kamarku, aku menunggumu disana, Neji-nii."

..

.

Sebuah sungai dengan air terjun indah mengalir deras itu membuat Hinata menghentikan langkahnya, ia berjalan mendekat, matanya berbinar kagum, dimasukannya dedua kakinya yang lelah setelah berjalan ke dalam sungai, menikmati kesejukan alam yang tak pernah dirasakannya di kota.

"Sasuke, sini."

Sasuke mendekat, ia berdiri disamping Hinata yang telah memasukan kakinya ke dalam sungai, "Rasanya aku ingin sekali mandi, tapi tidak mungkin." Ucapnya lagi,

"Kenapa?"

"Baka ! Tentu saja karena kau, tak mungkin aku mandi di depanmu kan."

Sasuke menyeringai, "memangnya kenapa? Kau kekasihku sekarang bukan? Atau bagaimana jika kita mandi bersama? Tidak ada siapa-siapa disini."

"Sasuke kau mesum !" Teriaknya seraya mendorong tubuh Sasuke yang menghimpitnya, Sasuke terkekeh, ia puas melihat Hinata kini merona merah karenanya.

"Kau mau kemana?"

"Bukankah kau bilang ingin mandi? Aku tak akan mengintipmu."

Hinata tersenyum, "promise?"

"Hn." Balasnya seraya terus melangkah menjauhi Hinata.

..

Merasa dirinya cukup membersihkan diri, ia memakai kembali pakaiannya, dan meninggalkan sungai untuk mencari Sasuke, tak jauh dari tempat sungai itu Sasuke menunggunya dengan bersandar dibawah pohon jambu seraya memakan buah itu satu persatu,

"Sasuke, kau makan apa?"

Sasuke menjulurkan buah jambu lilinnya, warnanya merah dan menggiurkan, Hinata mengambil dan memakannya satu

"Tidak manis." Kata Hinata sambil melempar buah jambunya sembarang

"Dimakan orang manis sepertimu tentu saja tidak akan berasa."

"Eh? Hinata merona, "Sasuke." Ucapnya malu-malu. "Kau bilang apa tadi?"

"Kau manis."

Hinata semakin merona,

"Tapi aku tak suka sesuatu yang manis."

Senyuman itu pudar seketika, berganti dengan lengkungan sedih

"Kau tau, tadi ada pelangi disini."

"Benarkah? Lalu mana sekrang?"

"Tidak ada."

"Kau membohongiku Sasuke."

"Bidadarinya telah selesai mandi, dan pelanginya pun hilang."

"Sasuke." Hinata kembali tersipu

"Apa?"

"Kau pandai bergombal juga." Ucapnya seraya mencubit pipi Sasuke gemas.

"Siapa yang menggombalimu?"

"Kau bilang aku bidadari kan?"

"Tidak."

Dan lagi, Hinata kembali mengerucutkan bibirnya kesal,

"Kau menyebalkan !"

Hinata berdiri, ia berjalan meninggalkan Sasuke kesal, Sasuke tersenyum melihat tingkah Hinata yang menurutnya lucu, segera ia langkahkan kakinya untuk menyusul Hinata.

"Lepaskan, menjauh dariku !"

"Kau yakin? Ingin jauh-jauh dariku dan berjalan sendiri di hutan sepeti ini?"

"Whatever !"

Sasuke terkekeh, ia merangkul Hinata, dan kembali Hinata menepisnya kasar,

"Baiklah, aku memang tak suka makanan manis, karena aku punya kau, jadi aku tak perlu lagi hal yang manis, karena kau sudah sangat manis untuku, kau memang bukan bidadari, but u're my queen in here." Ucapnya seraya menunjuk hatinya dengan telunjuk tangannya, satu lagi, tangan ini, tak akan membiarkanmu berjalan sendiri, meski kau memaksanya pergi."

Hinata tertegun, matanya berkaca, "Sasuke." Ucapnya seraya memeluk Sasuke erat, "Aishiteru Sasuke," Sasuke tersenyum dalam pelukannya, dan mengecup tengkuk leher Hinata dalam, memeluknya semakin erat, lavender dan obsuidan itu saling menatap, keduanya terhanyut dalam perasaan cinta yang tumbuh dengan sendirinya dan menyatukan kedua bibir itu menjadi sebuah ciuman mesra.

..

Dor !

Suara tembakan peluru itu membuat Sasuke dan Hinata menghentikan ciumannya, Sasuke mendecih kesal, kemarin-kemarin petir mengghentikan mereka, sekarang peluru bodoh, hei? Tunggu peluru?tembakan? berarti di hutan ini ada orang?

"Sasuke, kau dengar?"

"Hn."

"Mungkin kah ada seorang pemburu disini? Kita selamat Sasuke."

Sasuke terdiam, ia mengamati sekeliling, "Arah suaranya dari sana Hime."

..

Keduanya mencari arah suara peluru itu ditembakan, suara peluru itu terdengar berulang-ulang, memang sepertinya ada seorang pemburu, semoga saja, seseorang yang ditemui mereka kali ini adalah orang yang akan membawa keduanya kembali pada Konoha, semoga.

"Orang itu,-"

"Naruto-kun." Ucap Hinata kaget ketika melihat seseorang yang tengah mengintip rusa itu berdiri seraya membuka topinya,

"Naruto-kun." Teriak Hinata lagi seraya berlari menghampiri Naruto, merasa namanya ada yang memanggil Naruto berbalik, shappirnya melebar saat Hinata berlari ke arahnya dan memeluknya saking senangnya.

"Hi- Hinata-chan?" Naruto terkejut, "Kenapa kau ada di tengah hutan begini?"

"Naruto-kun, syukurlah aku bertemu denganmu, sudah satu minggu lebih aku terjebak di dalam hutan ini bersama Sasuke."

"Sasuke?" ulang Naruto memiringkan kelpalanya

"Hm, aku mengalami kecelakaan pesawat seminggu yang lalu, pesawatnya jatuh di tengah hutan ini."

"Apa? Jadi kau salah satu penumpang Sabaku Airlines itu?"

Hinata mengangguk, "untunglah aku bertemu denganmu."

Naruto tersenyum, "tenang saja Hinata-chan, aku akan mengantarkanmu sampai selamat, percaya padaku Hime." Ujarnya seraya merangkul Hinata kembali.

"Can youkeepyour hands of her" Sasuke menepis tangan Naruto kasar, Hinata terkikik melihatnya, "Tch, Hinata-chan, sepertinya nanti kau harus berendam seharian karena telah bersamanya seminggu ini.", Sasuke menatap Naruto kesal, "Kau,-" Hinata menghalangi Sasuke, "Sasuke, sudahlah, "

"Kau bicara dengan siapa Naruto?"

Suara Minato menghentikan keributan keduanya,

"Uchiha-sama." Ujar Minato kaget

"Hn." Balas Sasuke datar,

"Uchiha? Sama?" Otousaan mengenalnya?"

"Naruto, dia adalah anak presdir Uchiha, salah satu rekan kerja Tousaan, Uchiha-sama, kau mengenal putraku."

"Tidak."

"Kau,-" geram Naruto.

"Jaga sikapmu Naruto, Gomene, apa yang anda lakukan disisni?"

"Aku bersama kekasihku terjebak di hutan ini karena kecelakaan pesawat Sabaku Airlines satu minggu yang lalu."

"Tidak kah anda keberatan untuk membantu kami keluar dari hutan ini?" Hinata memelas, ia sangat berharap Naruto dan Minato dapat menolongnya saat ini.

"Tentu saja, dengan senang hati."

Shion POV:

Kenapa dia harus kembali? Dia datang bagai putri yang telah menghilang bersama pangerannya, semakin di puja banyak orang, tch, ini membuatku semakin muak, keadaanku semakin tak berarti, entah itu di rumah atau di sekolah, Tousaan semakin menyayanginya setelah insiden itu, Hanabi dan juga Neji, tapi mungkin tidak untuk kakak sepupu tersayangku, dia akan menjadi tameng yang selalu membelaku, kini aku semakin yakin, dia akan selalu membelaku, setelah kejadian malam itu.

"Moshi-moshi, Neji-ni, aku ingin bertemu denganmu pulang sekolah nanti."

Pip.

Sama halnya seperti saat ini,

End of Shion Pov

Ada yang berbeda dengan pagi ini di kelas Hinata, mereka seolah sangat senang dengan hadirnya kembali Lady KIHS yang seminggu menghilang, Sasuke tak kalah hebohnya, bangku Sasuke bahkan lebih banyak di gandrungi fansnya, Hinata sesekali mencuri pandang pada manusia berwajah stoic yang telah dua hari menjadi kekasihnya itu, backstreet, mungkin hal itu lebih baik untuk mereka, menyembunyikan status hubungan keduanya, selain itu, Sasuke juga masih menjaga perasaan Itachi, walau bagaimanapun ia harus mencari waktu yang pas untuk mengatakan pada Itachi bahwa Hinata adalah miliknya, dari sudut jendela sana terlihat tiga orang pria tampan yang mereka tahu adalah akatsuki datang mendatangi kelas Hinata, Pain, Sasori, dan juga Itachi, mereka sangat merindukan sosok Lady yang telah menghilang di KIHS dan kini hadir lagi.

Berbeda dengan Akatsuki yang juga telah sibuk berada di kelas untuk bertemu Hinata, Gaara lebih memilih mengamati kelas 2B itu di dalam kelasnya yang memang kebetulan bisa melihat kelas Hinata yang berada di bawah, Gaara tersenyum melihat Hinata kembali dengan selamat dan bahkan wajahnya telah kembali cantik, namun, dia terlalu malu untuk bertemu Hinata, dia terlalu malu untuk memunculkan dirinya di depan Hinata, rasa bersalah berkecambuk menyelimutinya, ia merasa tak pantas, ia merasa dirinya tak bisa menjaga Hinata, dan dia lebih memilih menjauh, menghindar, takut jika akan terjadi sesuatu hal buruk lagi pada Hinata jika dia bersamanya.

"Hei, kau tak menemuinya?" tanya salah satu temannya Kankuro.

"Tidak."

"Kenapa?"

Gaara hanya tersenyum menanggapi pertanyaan temannya, ia beranjak meninggalkan kelas, berjalan di koridor sekolah yang sepi, menyandarkan tubuhnya pada dinding, tangannya mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, jari tangannya menari lincah diatas ponsel itu, menuliskan pesan untuk seseorang.

"Aku mengundurkan diri menjadi Romeo.."

Sending...

..

.

Bell istirahat tiba, Shion mengajak Hinata pergi ke kantin namun ia menolaknya seperti biasa, ia melirik kursi Sasuke yang telah kosong, "Cepat sekali perginya." Pikirnya, sepuluh menit yang lalu Sasuke masih ada, tapi bangkunya kini kosong, Hinata mengeluarkan bentonya, satu suapan sushi harus terhenti ketika ponselnya bergetar.

"Aku menunggumu di atas."

Hinata tersenyum mendapati pesan singkat dari kekasihnya, ia masukan kembali ponselnya, membungkus kembali makanannya dan membawanya ke atap untuk makan siang bersama Sasuke.

..

"Gaara-kun." Teriak Hinata saat melihat Gaara duduk di depan kelasnya sendiri, Gaara menatap Hinata datar, Hinata tersenyum namun ia tak membalas senyumannya, belum sempat Hinata sampai menghampirinya Gaara telah berlari menjauh, seolah tak ingin menemui Hinata, Hinata menghentikan langkahnya ketika Gaara pergi begitu saja, ia hanya bisa diam saat Gaara menuruni tangga dan berjalan semakin jauh, "Kenapa dia menghindariku."

...

"Lama sekali."

Hinata tersenyum saat melihat Sasuke menampakan wajah masamnya, ia melihat tiga kaleng soda bertebaran dibawah kaki Sasuke, "Minuman seperti ini tak baik untukmu, kau boleh meminumnya tapi jangan mengkonsumsi terlalu banyak."

"Hn."

"Sasuke, aku tadi bertemu Gaara."

Sasuke mengalihkan pandangannya pada Hinata, ia mendekati kekasihnya dengan memasukan kedua tangannya pada saku celana seragamnya, tatapannya mengintimidasi, terlihat garis kecemburuan disana.

"Lalu?"

"Dia menghindariku."

"Bukankah itu bagus." Balasnya datar.

"Ayolah Sasuke ini serius, kau tau sebelumnya dia seperti apa padaku kan? Dan sekarang kenapa dia tiba-tiba seperti ini."

Hinata merasakan tatapan Sasuke tak enak saat ini, dan dia memilih untuk tak meneruskan perkataannya.

"Gomene, apa ada yang salah dengan ucapanku?"

"Kau menyukainya?"

"Eh?"

"Dia menghindarimu dan buatmu itu adalah masalah besar, apa namanya jika bukan suka."

"Sasuke, berhenti berpikir konyol."

"Tch, tak bisa menjawab bukan."

Hinata memalingkan wajahnya kesal, ia melangkahkan kakinya, bermaksud meninggalkan Sasuke.

"Menghindari pertanyaanku, bagus, pergilah, temui Romeomu."

Hinata semakin kesal dengan sikap Sasuke yang menurutnya sangat kekanak-kanakan, ia meletakan bentonya di meja,

"Aku hanya menghindari pertengkaran bodoh yang akan kau timbulkan Sasuke."

"..."

"Aku tau kau belum makan, jadi makanlah, aku tak ingin kau sakit, gomene tak bisa menemani makan siangmu, sebenarnya aku ingin lebih lama disini, tapi sesuatu membuatku harus pergi karena aku tak ingin terjadi pertengkaran diantara kita, aku ingin semuanya selalu baik-baik saja."

Sasuke menatap Hinata yang semakin menghilang menjauhinya, ia melirik kotak bento yang diberikan Hinata, namun tak menyentuhnya sama sekali.

"Apa salah, jika aku takut kehilanganmu, tch !"

..

.

Hari ini adalah jadwal dimana latihan dimulai, Deidara merasa gusar ketika Gaara tak hadir di aula drama, apa mungkinn pesan yang di terimannya dari Gaara pagi tadi adalah keseriusann Gaara untuk mengundurkan diri,

"Gaara ! Gaara ! dimana dia ..."
ucapnya kesal,, seluruh crew hanya bisa diam ketika melihat Sensei mereka ini tampak kesal.

"Gomene, Deidara-kun, sepertinya Gaara mengundurkan diri karena kehadiranku."

Deidara menautkan alisnya heran, "Apa maksudmu Hinata?"

"Aku bertemu dengannya di koridor sekolah tadi pagi, tapi dia menghindariku, bisa jadi, sekarang dia tak datang juga karena ada aku disini."

"Tapi kenapa? Apa alasannya? Kemarin-kemarin selagi kau hilang dia tak mau latihan jika bukan kau julietnya, dan sekarang kau sudah ada dia masih begini juga, ada apa dengan anak itu."

"Aku bisa menggantikan Gaara menjadi Romeo."

Suara maskulin yang berasal dari ambang pintu itu membuat semua menoleh ke sumber suara.

"Itachi-kun."

Itachi berjalan perlahan memasuki aula, "Itu pun jika Deidara sensei tidak keberatan."

"Baiklah, wajahmu tampan, tinggi, kekar, Fisikmu bagus, tapi apa kau bisa bermain drama."

Itachi terkekeh, "lakukan saja latihannya sekarang dan kau bisa menilai sendiri tanpa aku harus mengatakannya."

Deidara tertawa senang, "Bagus.. bagus,, Konan berikan dia berkas skenarionya."

"Hai- wakarimas."

..

.

#Manshion Uchiha

Dont Distrub !

Sasuke terkekeh saat melihat tulisan itu menempel di pintu kamar Itachi, apa yang sedang kakaknya ini lakukan sehingga memasang memo bodoh seperti itu, bukannya menjauh, Sasuke semakin penasaran, ia membuka pintu kamar Itachi, onyxnya menangkap kondisi kamar Itachi yang berantakan dengan berkas-berkas dan kertas HVS yang bertebaran dilantai, Sasuke memungut satu kertas yang di injaknya, keningnya berkerut saat ia mendapati bahwa itu adalah sebuah naskah untuk skenario drama,

"Romeo." Ucapnya.

Cklek.

"Baka Otouto, apa yang kau lakukan di kamarku." Itachi menaruh tiga kaleng minuman cola itu di meja kamarnya.

"Kau mengikuti drama sekolah?"

Itachi terkekeh, "Ada yang salah?" tanyanya

"Kau memerankan Romeo?"

Itachi membuka minuman colanya dan meneguknya, membasahi kerongkongannya yang haus.

"Keren bukan?"

"Tch." Sasuke mendecih seraya melemparkan skenario yang menurutnya bodoh.

"Kau harus tau aku mengajukan diri karena mempunyai sebuah misi."

"..."

"Kau tau? Si Sabaku itu mengundurkan diri sebagai Romeo, dan ketika Deidara kelabakan mencari penggantinya aku muncul dan menawarkan diri."

"Tch, sikapmu memalukan Uchiha baka !"

"Yes, I know, tapi aku melakukan ini karena mempunyai sebuah rencana, dan kau harus membantuku baka Otouto."

"Rencana?"

"Hm, aku akan mengutarakan perasaanku pada Hinata ketika pementasan itu selesai, bukankah itu romantis."

Deg..

Sasuke terdiam, cola yang di genggamnya jatuh, tumpah membasahi skenario naskah Itachi.

"Hei baka ! kau mengotori naskahku."

"Kau masih mengharapkannya?"

"Aku tak pernah bilang menyerah padamu untuk mendapatkannya bukan?"

"Jika dia telah mempunyai kekasih, apa kau masih ingin mengejarnya?"

Itachi terkekeh, "hei ayolah Sasuke, itu tidak mugkin, dia sendiri yang mengatakannya padaku bahwa dia masih sendiri."

"Jika dia berbohong? Dan menyembunyikan statusnya dengan kekasihnya karena suatu hal?"

"Tch, berhentilah mengatakan itu Sasuke, kau tau aku sangat mencintainya, mendengar kau menyebutkan jika dia telah memiliki kekasih membuat hatiku sakit, jadi berhentilah mengatakan itu."

..

"Temui aku di taman Konohacitylink sore ini."

..

Hinata melempar ponselnya malas, Sasuke selalu bertindak sesukannya, ia bahkan tak meminta maaf telah meragukan Hinata siang tadi, tapi mungkin sore ini Sasuke akan meminta maaf dan mengajaknya kencan, ia tersenyum sipu, berpikir positif akan membuat moodmu kembali bagus, percayalah.

..

Tak ingin Sasuke menunggunya, Hinata datang lebih awal, ia duduk manis dengan menggunakan mantel tebal, meningat musim salju telah tiba, sekelibat bayangan manis terbenak dipikirannya saat mungkin nanti Sasuke akan datang memberinya bunga, coklat, atau bahkan boneka beruang yang lucu, namun sepertinya itu hanya akan menjadi bayangan indah saja, karena kini kekasihnya itu berdiri dihadapannya dengan melipat kedua tangannya di dada, menatapnya datar, tanpa ekspresi, tanpa tersenyum, jangankan untuk memberikan hadiah kecil, untuk sekedar tersenyum atau kecupan di dahi saja Hinata tak mendapatkannya,

Hanya sebuah tatapan menusuk.

"Kami sama, apalagi sekarang." Ujarnya dalam hati.

...

..

.

TBC

Gomene Minaaaa lama updatenyaaa #Bungkukbungkuk.. i'm so busy tapi terimakasih sekali untuk kalian semua yang masih tetap review dan ikuti kelanjutannya, review teruss yaaaa.. Arigatou Gozaimasu minaaa ...