I'M SORRY TO LOVE YOU

CAST :
JUNG YUNHO
KIM JAEJOONG
SHIM CHANGMIN

Other Cast :
CHO KYUHYUN

RATED : T

GENRE : Hurt/Comfort, Angst , Romance

CHAPTER 9

bold words = flashback

.

.

.

Aku ingin mengatakan sesuatu padamu

Apa kau pernah merasakan?

Merasakan yang namanya CINTA

Kurasa semua orang pasti pernah merasakannya

Tapi

Apa kau tahu arti cinta yang sesungguhnya?

Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak seorang pun bisa mengetahuinya

Kapan cinta itu datang

Bahkan, sang pemilik perasaan sekalipun

CINTA mampu mengubah duri menjadi mawar

mengubah cuka menjadi anggur

mengubah sedih menjadi riang

mengubah tangisan menjadi tawaan

Tapi jika cinta tidak memihak padamu

Hanya rasa sakit yang akan kau terima

.

YUNJAE

.

"Pasien terlalu lelah dan stress, hingga menyebabkan mimisan seperti tadi"

Dokter yang selalu menggunakan jas putih kebanggaannya, mulai mengambil stetoskop dan memeriksa keadaan pasiennya yang berwajah cantik, meskipun pasien itu berkelamin laki-laki. Orang yang diberitahukan tentang keadaan Jaejoong hanya menggangguk mengerti mendengar perkataan Dokter dihadapannya, ia memperhatikan bagaimana dokter itu menempelkan sebuah alat pada telinganya untuk mendengar detak jantung Jaejoong

"Tapi Tuan tenang saja, saya sudah memberikan obat penambah darah agar zat besi dan asam folat dalam tubuhnya kembali normal"

"Terima kasih dok"

"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Saya rasa sebentar lagi pasien akan sadar, dia tidak perlu rawat inap karena keadaannya sudah membaik"

"Sekali lagi, terima kasih "

Yunho, namja itu membungkukan sedikit tubuhnya pada dokter yang sudah menangani Jaejoong saat hendak meninggalkan kamar rawat Jaejoong. Sedetik setelah kepergian Dokter itu, Yunho kembali menatap wajah pucat Jaejoong meskipun tidak sepucat saat dalam gendongannya. Tapi itu membuat rasa khawatir pada dirinya, entah mengapa hatinya tidak ingin Jaejoong seperti ini lagi.

Dengan perlahan Yunho mulai mengarahkan tangannya pada kepala Jaejoong. Ia ingin mengusapnya, ingin memberikan kehangatan,ketenangan pada Jaejoong, mata musangnya yang menatap dalam-dalam wajah Jaejoong seakan bekata –jangan-takut-kau-tidak-sendiri. Tapi saat tangan itu sudah hampir menyentuh kening Jaejoong, diurungkan niatnya untuk menyentuh kening itu. Tangannya terdiam di udara, Yunho menggepalkan tangannya dengan kasar ditariknya kembali tangan itu.

"Aku sudah menyakitimu, tidak seharusnya aku melakukan apa yang sesuai dengan fikiranku"

Senyum paksaan terlihat jelas pada bibir Yunho. Nasi sudah menjadi bubur. Rasa sakit yang telah diberikannya, sudah menjadi luka untuk hati Jaejoong. Bukan, bukan luka lagi tapi sebuah penyakit, penyakit yang sangat sakit. Mungkin jika Jaejoong melihat Yunho penyakit itu akan kambuh.

"Eeungh"

Lenguhan yang sangat pelan, seakan jika tidak teliti dalam mendengarnya lenguhan itu akan terbawa angin dan tidak terdengar. Mata yang sudah lama terpejam, mulai digerakan keatas oleh Jaejoong. Lampu penerangan kamar yang menjadi pandangan awalnya membuat sedikit kerutan pada kening Jaejoong. Bau obat-obatan yang menusuk indera penciumannya dan ruangan putih membuat Jaejoong tahu dimana dirinya sekarang.

"Apa kau sudah sadar? Apa ada yang sakit?"

Jaejoong baru menyadari jika ia tidak sendiri dikamar ini. Yunho masih menungguinya. Jaejoong hanya memperhatikan Yunho yang memberikan dua pertanyaan langsung kepada dirinya

"A-aku..ingin p-pulang" Ucap lemah Jaejoong

"Dokter sudah mengizinkanmu untuk pulang. Aku juga sudah membayar administrasi dan obat-obatmu. Jika kau ingin pulang, baiklah sekarang kita pulang"

"Ehmm. Terima kasih" Jaejoong bergumam sebagai respon untuk Yunho. Sejujurnya badannya masih terlalu lelah dan lemah tapi ia tetap memaksa untuk pulang. Ia ingin sendiri. Ia butuh waktu sendiri untuk menerima duka yang mendadak datang dalam hidupnya

Kedua kakinya sudah menginjak lantai putih sebagai alasnya untuk berjalan, saat akan turun dari tempat tidur rawatnya, Jaejoong sedikit terhuyung kedepan. Melihat itu, Yunho yang hanya satu-satunya orang yang berada ditempat itu segera menangkap tubuh Jaejoong

"Kau yakin ingin pulang?"

Jaejoong mengangguk dan mendorong lemah tubuh Yunho "Aku baik-baik saja"

Jaejoong kembali berjalan dengan tangannya yang bertumpu pada tembok rumah sakit itu. Takut saat tiba-tiba terhuyung seperti tadi, ia bisa menahan tubuhnya pada benda yang sangat padat ini. Yunho hanya menghela nafas dan mengikuti Jaejoong dari belakang.

Jaejoong hanya menatap hampa pemandangan jalan yang dilihatnya. Kepala yang masih sedikit terasa pusing itu hanya disandarkan pada jendela kaca mobil milik Yunho. Jika orang melihatnya, pikiran mereka pasti jika orang itu tidak memikirkan apa-apa termasuk orang yang tengah menyetir yang berada disebelah Jaejoong. Tapi salah, Jaejoong terus berfikir. Berfikir bagaimana caranya bangkit sebagai orang yang kuat dan—

"Apa kau ingin makan sesuatu?"

—dan pergi dari kehidupan orang yang tengah berbicara padanya sekarang, Jung Yunho. Memenuhi keinginan tersebut yang diucapkan dari bibir Yunho sendiri.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. Seakan jika terlalu kuat menggeleng rasa pusingnya semakin kalut menyerang kepalanya. Suasana dalam mobil itu kembali hening seperti tadi. Mereka berdua terhanyut dalam pikiran masing-masing. Walaupun sang pemilik mobil terus focus memperhatikan jalanan di depannya, tapi ia tetap mencuri pandang ke arah Jaejoong yang terus menatap kosong kearah jalan.

"Aku ingin mengatakan sesu—"

"Aku tahu apa yang ingin kau katakan" Jaejoong dengan cepat memutuskan pembicaraan tadi

"Kau ingin mengatakan, jika aku tidak usah menganggu hidupmu lagi kan?" Yunho dengan reflek mengalihkan arah pandangnya kearah samping, mata hitamnya bertemu dengan mata Jaejoong yang juga sejak kapan menatap Yunho. Mata musang itu hanya menatap Jaejoong beberapa detik dan kembali menatap jalan di depannya

"Mian ne, sikapku tadi itu salah. Harusnya aku tidak menangis dalam pelukanmu yang jelas-jelas kau ingin aku pergi dari hidupmu kan?"

"Aku janji, aku akan jarang muncul dalam kehidupanmu. Mungkin kau akan melihatku dua kali, sekali atau bahkan tidak sama sekali?"

Mendengar itu, emosi Yunho mendadak naik. Entah ucapannya Jaejoong barusan membuat dirinya takut. Takut entah Karena apa. Ia tidak mengerti sekarang, yang ditaunya ia takut ….. takut Jaejoong untuk tidak muncul lagi dalam kehidupannya?

"Diamlah. Kau tidak usah berbicara" Sikap dingin Yunho kembali lagi merasuki dirinya

"Tapi itu kan yang ingin kau katakan?"

CKIITTTT

Yunho membelokan mobilnya ditengah jalan dengan mendadak dan me-remnya dengan tiba-tiba juga. Tubuh Jaejoong sedikit tersentak kedepan kalau tidak selt bet itu mengunci tubuhnya, mungkin kepalanya kini sudah mengalirkan darah. Namja bermarga JUNG itu menatap Jaejoong dengan marah. Kini ia tidak hanya dapat menatap beberapa detik tapi ia bisa melakukannya dengan puas.

"sudah kukatakan untuk diam jadi DIAMLAH ! APA KAU MENGERTI ARTI DIAM HUH?"

Tangan jaejoong meremas selt bet yang melingkat dibadannya . Jaejoong sedikit kaget mendengar teriakan seperti tadi dari Yunho. Nafasnya sedikit tertahan saat mendadak Yunho memukul kemudi mobilnya dengan keras. Yunho marah padanya. Ah, tapi bukankah jika setiap ia bersama Yunho, namja itu tidak pernah untuk tidak marah pada dirinya?

"Aku selalu salah dimatamu yun, kau benar aku harus pergi dari hidupmu" Dengan sangat pelan Jaejoong mengucapkan kata-katanya hingga terbentuk sebuah kalimat yang membuat Yunho keluar dari mobilnya dan menyandarkan tubuhnya pada mobilnya. Tak ada jawaban saat jaejoong merasa dirinya selalu salah dimata Yunho, jadi bisa diambil kesimpulan jika jawaban itu adalah YA Untuk Jaejoong?

Yunho mengusap wajahnya kasar. Meraup oksigen sebanyak-banyakanya untuk menenangkan diri juga pikirkannya. Ia mendengar apa yang Jaejoong katakan sebelum keluar dari mobil dan menutup pintu mobilnya meninggalkan Jaejoong yang seorang diri di dalam.

Kenapa egonya masih muncul dalam dirinya saat ini. EGO yang sangt tinggi membuat semua apa yang ingin dilakukannya harus terhenti ditengah jalan. Jalan yang harusnya tanpa hambatan tapi harus berbelok-belok karena egonya sendiri.

"Bukan itu yang ingin ku katakan padamu" Yunho berbicara pada benda mati yang menerpa keseluruhan tubuhnya. Seakan benda mati itu –angin- dapat menyampaikan kalimatnya pada Jaejoong yang masih berada di dalam

"Aku hanya ingin mengatakan, untuk melupakan keinginan bodohku itu—"

Namja yang tengah berada didalam mobil itu hanya memandang punggung Yunho yang membelakanginya. Ia tidak tahu dan tidak mendengar jika Yunho kini tengah berbicara padanya melalui perantara angin. Tidak mendengar kalimat apa yang diucapkan Yunho diluar sana

"—dan kau tidak salah dimataku tapi aku yang salah memperlakukanmu"

Changmin tersenyum saat melihat Jaejoong keluar dari mobil Yunho dan membawa Jaejoong dalam pelukannya. Ini sudah malam, tapi Jaejoong tidak menelponnya. Rasa khawatir dan cemas membuat keinginannya untuk mengunjungi rumah Jaejoong. Keningnya berkerut melihat raut wajah Yunho yang baru keluar dari mobil kurang bersahabat. Dialihkannya untuk melihat Jaejoong. Jaejoong tersenyum kecil pada changmin seakan ia mengerti apa yang akan dipertanyakan oleh Changmin

"Hyung kau tidak apa-apa?"

Dugaannya benar. Changmin khawatir dengan dirinya

"Hyung, baik-baik saja" Bohongnya. Jangan lupakan kondisi Jaejoong yang tadi sempat pingsan

"Syukurlah. Kalau begitu ayo kita masuk kedalam hyung. Aku sudah membawakanmu makan malam yang lezat. Kau pasti suka"

Changmin menggenggam tangan Jaejoong dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah Jaejoong. Sebelum benar-benar masuk kedalam rumah, Jaejoong ingin melihat Yunho tapi ternyata orang yang dicarinya itu tidak ada.

.

.

.

21 hari , 3 minggu sudah Jaejoong hanya hidup seorang diri. Meskipun kejadian duka itu sudah berlalu sejak 3 minggu tapi rasa sedih dukanya tetap masih terasa, meskipun tidak sesakit saat pertama kali.

2 hari yang lalu akhirnya Jaejoong memutuskan untuk berhenti menjadi seorang guru biola. Ini keputusan yang sudah dipikirkannya berkali-kali. Dan jawabannya ia memang harus berhenti. Ia tidak ingin membuat sang mama bersedih diatas sana.

Kamar yang gelap, hanya sebuah lampu kecil yang memberikan sedikit penerangan dalam kamar itu. Tubuhnya berbaring diatas kasur yang selama ini menjadi tempatnya untuk menstabilkan rasa capeknya. Memejamkan matanya tetapi tidak masuk kedalam mimpi. Hanya memejamkannya saja.

Diluar sana, langit hitam sedang ditemani oleh rerintikan hujan , bukan bintang lagit yang terang bersama sang bulan. Tapi hari ini hanya air yang bening ditemani dengan kerasnya suara petir yang tiba-tiba datang dengan suara kerasnya. Suara petir yang keras tak mengindahkan dirinya untuk membuka matanya, kedua mata indah itu tetap masih terpejam.

Tapi

Saat didengarnya sebuah bantingan pintu yang keras, matanya terbuka sedikit. Bantingan pintu itu seakan-akan mengalahkan suara petir yang sangat menusuk telinga. Diangkatnya tubuh rapuhnya, dan berjalan kearah jendela kamarnya. Disingkirkan pelan gorden yang menjadi penghalang penglihatannya.

Mata sayunya kini dapat melihat siapa orang yang sebelumnya membanting pintu rumah itu, namja itu duduk meringkuk disudut balkon rumahnya. Jaejoong, hanya memperhatikan Yunho yang sepertinya sedang menangis?

"Yunho hyung sangat jarang menangis. Terakhir ia menangis karena berpisah dengan karam dan juga orang tuanya. Tapi jika hatinya sudah lelah melihat pertengkaran orang tuanya ia akan menangis. Waktu dulu aku pernah menemukannya menangis, meringkuk disudut balkon rumahnya karena tidak kuat melihat orang tuanya yang selalu seperti itu"

Jaejoong hanya menatap Yunho tanpa ekspressi. 504 jam 30240 menit 1814400 detik. Itulah waktu dimana ia tidak melihat namja yang sedang menangis itu, Jung Yunho. Waktu tidak terlalu lama, tapi Jaejoong merasa jika ia seperti sudah setahun lebih tidak melihat Yunho.

Yunho mengusap pelan air mata yang terjatuh dari matanya. Tanpa sengaja, matanya melihat Jaejoong yang tengah menatap dirinya. Wajah Jaejoong yang biasanya terlihat ceria kini tanpa ekspressi, bibirnya yang selalu tersenyum kini hanya datar, mata yang selalu hidup untuk dilihat kini menjadi redup.
Melihat Jaejoong perasaan Yunho sedikit lega. Sudah lama ia tidak melihat namja berbibir cherry itu. Bohong jika dirinya tidak merindukan sosok Jaejoong.

Yunho terus menatap Jaejoong. Merasa terus ditatap, Jaejoong membuka sedikit bibir merahnya dan membuat sebuah embun yang ia gunakan melalu nafas mulutnya. Tangannya menuliskan sebuah tulisan Hangeul pada embun itu.

Namja itu mengeja setiap tulisan yang dibuat oleh Jaejoong. Hatinya mendadak perih melihat tulisan yang semakin lama semakin hilang saat embun yang sebagai tempatnya untuk menulis menghilang dari kaca jendela itu.

Yunho mengangguk pada Jaejoong mengerti maksud tulisan Jaejoong. Setelah mendapat jawaban dari Yunho, Jaejoong mengembalikan gorden yang sebagai penutup jendela kamarnya. Disusul dengan dirinya yang menghilang dari pengelihatan Yunho

"Uljimma yun"

Yunho menggumamkan kata yang ditulis oleh Jaejoong. Ya, embun yang bertuliskan "Uljimma Yun" itulah yang dapat dilakukan Jaejoong untuk membuat kesedihan Yunho berkurang.

Jaejoong merosotkan tubuhnya pada tembok disamping jendela kamarnya "Uljimma yu, Uljimma" Lirihnya pelan. Ingin sekali rasanya ia memeluk tubuh itu dan terus membisikannya pada Yunho. Tapi itu tidak mungkin dilakukannya, tidak. Ia akan terus menepati keinginan Yunho

"Uljimma..hikss… Uljimma Yun..hikss"

Satu per satu air mata mengalir dari kedua matanya. Terjatuh mengenai tangannya yang memegang dadanya nyeri. Hanya dapat menangis untuk membuat nyeri itu hilang dari tubuhnya

.

.

.

"Changmin-ah boleh aku minta tolong padamu?"

"Tentu saja hyung. Kau ingin aku membantu apa?"

"Aku ingin bertemu Yunho. Katakan padanya aku menunggunya ditaman malam ini jam 7"

"Baik, aku akan mengatakan padanya"

"Hyung?"

"Ya?"

"kapan kau akan pergi?"

"Besok, aku akan pergi besok"

"Maafkan aku hyung"

"Untuk apa? Kau tidak pernah salah pada hyung"

"A-aku me-mengatakan pada Yunho hyung bahwa kau mencintainya"

"Maafkan aku hyung"

"Tidak apa, cepat atau lambat ia akan mengetahuinya changmin-ah"
"Maafkan aku , aku tau ini sa—"

"Tidak apa. Jangan merasa bersalah seperti itu"

"Terima kasih hyung. Aku akan membantumu untuk bertemu dengannya malam ini"

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain mengucapkan terima kasih padamu changmin-ah"

"Kalau begitu sampai jumpa hyung"

"Ne, sampai jumpa nanti"

Jaejoong mematikan handphonenya dan menaruhnya disamping lukisan yang tengah ia perbaiki. Lukisan? Apa kalian ingat lukisan yabg telah dibuat hancur oleh Yunho? Ya, lukisan ini sudah setengahnya kembali seperti semula meskipun tidak se-sempurna sebelumnya. Kuas putih yang dilapisi warna hitam mulai mewarnai bola mata hitam Yunho. Dicucinya lagi kuas itu, kini warna merah untuk mewarnai bibir Yunho yang tersenyum. Jaejoong menghentikan tangannya yang sedaritadi bergerak. Jaejoong tersenyum.

"Apakah bisa suatu saat, bibir ini mengucapkan kalimat yang ingin kudengar? Tersenyum bahagia seperti lukisan ini"

.

.

Baju tebal yang melapisi kuliat putihnya membuat badannya tidak merasakan dinginnya udara malam. Menyatukan kedua tangannya dan saling mengusap untuk memberikan sebuah gesekan dan menghasilkan kehangatan untuk melindungi pipinya yang sudah merah karena udara dingin.

Hal itu terus dilakukan, sampai ia mendengar sebuah langkahan orang yang berjalan kearahnya. Jaejoong berdiri dari tempat duduknya, dan melihat Yunho yang sudah berdiam dihadapannya sekarang.
Jaejoong tersenyum. Senyuman yang selalu diberikan Yunho kini kembali diperlihatkannya lagi. Yunho hanya memandang Jaejoong, tidak membalas senyuman itu. Karena jarak mereka yang sedikit jauh, Jaejoong berjalan mendekati Yunho hingga sampai berjarak berapa langkah dari Yunho

"Terima kasih kau telah datang" Kalimat pembukaan awal yang menjadi percakapan mereka berdua diawali dengan ucapan Jaejoong

"Aku kira kau tidak akan datang" Jaejoong masih tersenyum

"Aku datang. Ada apa menyuruhku kemari?"

"Untuk kali ini, biarkan aku yang berbicara. Dengarkan setiap kalimatku dan kuharap kau tidak akan emosi dengan kalimat yang menurutmu tidak suka untuk kau dengar"

"Katakan apa yang ingin kau bilang padaku"

Jaejoong menatap dalam mata Yunho. Seakan perkataannya ini adalah hal yang dari dulu ingin disampaikan oleh Jaejoong. Yunho merasa jantungnya berdetak lebih cepat setiap tatapan dalam itu memandang mata musangnya

"Yun, sejak pertama kali aku melihatmu aku sudah menyukaimu. Aku tidak tahu kenapa rasa itu datang dengan cepat pada hatiku. Apa ini sebuah takdir atau apa, aku juga bingung pada diriku sendiri. Tapi setiap aku melihatmu aku merasa senang dan bahagia"

Jaejoong tersenyum, mengingat bagaimana saat pertama kali ia melihat Yunho yang keluar dari mobil yang di susul oleh orang tuanya

"Aku tidak tahu, jika rasa suka ku lama-lama menjadi CINTA tapi cintaku ini tidak semulus yang kubayangkan. Aku lebih banyak merasakan sakit daripada rasa cinta itu sendiri. Karena orang yang kucintai tidak membalas perasaanku. Memang, tidak ada hukum yang mengatur jika mencintai orang dan orang yang dicintai itu harus membalas perasaan orang yang mencintainya"

"Yun?" Jaejoong semakin medekatkan tubuhnya pada Yunho. Yunho tidak memundurkan tubuhnya, ia tetap berdiri tegak pada titik tumpuannya "Terima kasih, terima kasih untuk mengizinkanku yang mencintaimu"

Menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia tidak boleh menangis. Ia pasti kuat mengatakan apa yang selama ini ingin diungkapkannya. Jaejoong memberanikan diri untuk memeluk Yunho. Tangannya memeluk leher jenjang itu, menenggelamkan wajahnya pada pundak itu. Jaejoong dapat merasakan bau mint yang sangat harum dari tubuh Yunho. Yunho hanya terdiam menerima perlakuan dari Jaejoong yang memeluknya. Tapi, lihat apa yang terjadi, Yunho menyatukan kedua tangannya untuk membalas pelukan Jaejoong yang berada di dalam dekapannya. Jaejoong tersenyum, menerima perlakuan lembut dari Yunho. Tapi ini sudah terlambat, ia akan pergi jauh dari Yunho mulai besok. Jaejoong mengahadapkan wajahnya pada wajah Yunho tanpa melepaskan pelukan mereka. Tangan yang sebelumnya melingkar pada leher Yunho, kini meraba kedua pipi Yunho

"Maafkan aku yang mencintaimu, tapi mulai detik ini aku akan berusaha untuk bisa menghapusmu dari hatiku. Aku akan mencoba semampu yang ku bisa"

DEG

DEG

Yunho membeku mendengar perkataan Jaejoong. Apa ini sebuah mimpi buruk atau apa? Yunho menelan salivanya dengan cepat dan menyatukan keningnya, bingung. Apa ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa ini sakit yang selalu Jaejoong rasakan?

"Boleh aku menciummu?"

Yunho masih terdiam. Masih mencerna dengan baik kalimat yang masih menusuk hatinya. Tiba-tiba ia merasa bibir merah itu menerpa pipinya. Jaejoong mencium pipi Yunho. Yunho memejamkan matanya, merasakan bagaimana orang yang PERNAH MENCINTAINYA ini menciumnya dengan penuh kasih sayang.

Lelehan air mata terjatuh saat Jaejoong menutup kedua matanya. Yunho merasakan air mata Jaejoong yang membasahi pipinya. Bibir Jaejoong yang mencium Yunho mulai bergetar menahan isakan yang ditahannya. Rasa asin mengecap bibirnya saat air mata itu semakin deras mengalir. Air mata itu menyatu diantara dua orang yang mulai merasa sakit atas dasar cinta.

Jaejoong menjauhkan bibirnya dari pipi Yunho, membisikan sesuatu pada Yunho. Setelah selesai dengan bisikan dengan nada yang sangat pelan Jaejoong Melepaskan tangan Yunho yang melingkar ditubuhnya. Jaejoong melangkah mundur yang mulai menjauh dari Yunho. Yunho hanya menatap Jaejoong yang semakin lama semakin terlihat sangat jauh dari arah pandangnya

Jaejoong telah hilang dari pandangannya

Dan juga

Telah hilang dari kehidupannya

"ARGHHHHHHHH" Yunho berteriak keras. Melaporkan pada Tuhan betapa sakitnya hatinya sekarang. Memukul dadanya keras, menimalisirkan rasa sakit hatinya, sangat sakit.

Air matanya mengalir mengingat kalimat bisikan Jaejoong sebelum pergi tadi. Air mata ini menjadi air mata pertamanya untuk menangisi Jaejoong. Jaejoong yang selalu dibuatnya sakit, sakit merasakan cintanya yang tidak terbalas hanya karena dirinya

"Kini tidak ada lagi Kim Jaejoong yang mencintai Jung Yunho. Semua telah berakhir"

Kalimat bisikan itu sukses membuat hati Yunho mati rasa menahan sakitnya rasa hati yang terluka

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

PRIVIEW FOR NEXT NEXT CHAPTER :

"Dia telah pergi hyung kau terlambat"

"Yunho, bisakah kau memanggil namaku satu kali saja? Aku ingin mendengarnya. Aku ingin mendengarkan suaramu yang memanggil namaku. Bisakah?"

"hiks…hikss… aku belum minta maaf padanya… AKU BELUM MENGATAKAN PERASAANKU PADANYA hikss"

"Bangunlah Jae, bukankah kau ingin mendengarkan suaraku yang memanggilmu? Bangunlah Jae"

"LEPASKAN AKU JUNG YUNHO ! Aku telah memiliki kekasih. Pergi dari hadapanku, kumohon"

Jaejoong menangis pada tubuh namja yang sudah berstatus menjadi kekasihnya "Dia kembali, dia kembali wu yifan hiksss.. dia kembali hikss..hikss.."

"Jae, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kembalilah padaku"

.

.

.

CHAPTER 9 DONE ^^
Itu ada priview buat chapter selanjut, selanjut, dan selajutnya.
Mungkin 2 atau 3 chapter lagi Fanfic ini akan END
Itu ada Kris muncul di chap-chap akhir LOL

Saya membuat panjang fanfic ini karena saya tidak bisa update kilat lagi :'( Mianhae.
2 minggu kedepan saya hanya focus pada laporan yang akan saya seminarkan.
Doakan saya ya readers, semoga kalau dikasih pertanyaan saya bisa jawab hikss hikss #nangis bareng Yunjae#

I'm so glad karena readers yang baca bisa rasain feel fanfic ini.
Bagaimana dengan chapter yang sekarang? Apa ada yang nangis?
Readers : Gak adaaaaaa ckckckck

OKE.
SORRY IF THERE ANY TYPOSSSSSSS, I'm not a perfect person /?
THANKS FOR READS AND REVIEWS
SEE YOU IN NEXT CHAPTERRRR
love you readerssss :*

#BOWWWWW