Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Lima belas menit lagi semua karyawan yang bekerja di kantor akan pulang. Termasuk Kyungsoo. Walau waktu yang tersisa tak lagi banyak, namun pekerjaan Kyungsoo masih lumayan banyak untuk dikerjakan.
Sejak pagi, gadis itu sudah merasa ada yang tidak beres dengan perut dan pinggangnya. Perutnya mulas. Pinggangnya terasa pegal. Biasanya jika seperti ini, Kyungsoo akan datang bulan. Namun saat melihat kalender, ini masih satu minggu lagi untuk masa datang bulannya. Maka dari itu Kyungsoo mencoba mengabaikan.
Namun, saat dirinya beranjak dari kursi untuk berkemas, Luhan yang berada di belakang nya tiba-tiba berseru.
"Dek! Jangan berdiri!" Pekik Luhan. Kyungsoo yang kaget menoleh ke arah Luhan dengan tatapan bingung.
"Kenapa sih mbak?"
"Duduk lagi! Jangan berdiri!" Kata Luhan lagi masih heboh. Kyungsoo yang bingung memilih mengikuti apa kata Luhan. Ia duduk kembali di kursinya sambil melihat Luhan yang kini berjalan ke arahnya.
"Bawa jaket gak?"
Kyungsoo menggeleng.
"Enggak."
Luhan menggigit bibir bawahnya gusar. Kyungsoo makin heran, ia pun bertanya, "Ada apa sih mbak? Jangan buat adek penasaran dong!" Ujar Kyungsoo dengan wajah masih keheranan.
"Tembus dek." Luhan berbisik. Kyungsoo masih bingung.
"Tembus? Temb–HAH? BANYAK GAK?" Kyungsoo tiba-tiba berteriak panik saat mengerti ke mana arah pembicaraan Luhan.
"Banyak banget. Makanya tadi mbak bilang jangan berdiri."
"Aduh.. gimana dong? Kyungsoo gak bawa jaket, mbak…" Rengek Kyungsoo risih. Bisa-bisanya ia kecolongan hari ini. Periode datang bulannya maju satu minggu dari jadwal yang seharusnya.
"Mbak ada rok cadangan. Adek bawa pembalut gak?" Luhan berbisik saat bertanya tentang hal yang hanya diketahui para wanita.
Kyungsoo menggeleng.
"Habis kan adek fikir masih seminggu lagi.." Kata Kyungsoo. Wajahnya sudah pias. Bingung harus bagaimana.
Saat keduanya sibuk berfikir, Jongin sudah masuk ke ruang HRD dan menghampiri mereka berdua.
"Dek? Udah siap? Yuk pulang." Ajak Jongin. Pria itu sudah berdiri di sisi kiri kursi kerja Kyungsoo. Gadis itu menoleh terkejut melihat Jongin yang datang tiba-tiba. Jongin yang melihat wajah Kyungsoo terlihat tidak biasa lantas bertanya.
"Mukanya pucat, adek gak papa?" Tanya Jongin. Kyungsoo mengulum bibir. Luhan meliriknya memberi kode agar memberi tahu Jongin apa yang sebenarnya terjadi.
"Dek?" Jongin memanggil saat tak kunjung mendapat jawaban.
"I-itu.."
"Hm, kenapa? Adek sakit?"
"Adek gak bisa berdiri, mas.."
Dahi Jongin mengerut.
"Kenapa? Kaki adek sakit?" Tanya Jongin khawatir.
Kyungsoo menggeleng.
"Terus?"
Luhan yang melihat Kyungsoo terlihat malu-malu akhirnya menjawab dengan gemas.
"Kyungsoo datang bulan. Tapi dia gak tau, jadinya tembus."
Kyungsoo melotot. Bagaimana bisa Luhan blak-blakan seperti itu? Lihat, bahkan wajah Jongin sudah memerah mendengarnya. Datang bulan bukan hal yang lumrah bagi pria sepertinya.
"O-oh gitu. Trus, ada yang bisa mas bantuin gak dek?" Tanya Jongin lagi masih menahan rasa malu. Kyungsoo melirik Luhan lagi dan Luhan menganggukkan kepalanya.
"Mas bisa beliin adek pembalut gak di supermarket?"
"Pe-pembalut?"
"Iya pembalut. Bisa kan? Adek udah gak tau lagi mau gimana. Kalo gak ada itu nanti adek gak bisa pulang mas." Kata Kyungsoo. Jongin akhirnya mengiyakan. Pria itu langsung pergi meninggalkan Kyungsoo dan Luhan untuk membeli pembalut dengan langkah cepat. Setelah pria itu hilang di balik pintu, Kyungsoo memukul lengan Luhan pelan.
"Aduh!"
"Mbak ih! Kenapa blak-blakan banget sih? Kan kasian mas Jongin nya mbaaak~" Keluh Kyungsoo. Luhan hanya terkekeh.
"Habis kalo gak gitu, kita gak bakal nemu jalan keluar."
"Ya tapi gak ngomong blak-blakan juga kan mbak?" Dengus Kyungsoo dengan wajah cemberut. Antara malu dan kesal.
"Yaudah sih. Mas nya juga udah pergi. Gapapa, itung-itung latihan ntar kalo kalian udah nikah, dia gak perlu bingung lagi beliin adek pembalut kalo adek datang bulan." Kata Luhan menggoda Kyungsoo. Gadis itu semakin malu.
"Tau ah!"
.
.
.
Jongin memasuki salah satu supermarket terdekat dari kantornya dengan gugup. Tidak. Ini bukan kali pertama ia memasuki sebuah supermarket. Hanya saja, ini kali pertama ia masuk ke supermarket untuk membeli sebuah pembalut. Dengan ragu, Jongin berjalan ke arah lorong yang berisi popok bayi. Di lorong itu ada satu pegawai yang langsung menghampiri Jongin dengan senyum ramah.
"Selamat sore bapak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Anu mbak.. saya cari pembalut." Ujar Jongin dengan pipi merona. Si pegawai yang melihatnya hanya tersenyum maklum.
"Untuk istrinya ya?" Bukannya member petunjuk, pegawai itu malah bertanya pada Jongin.
"I-iya." Jawab Jongin.
Tua banget apa muka gue ampe dikira mau beliin pembalut buat istri?
"Pembalut ada di lorong sebelah. Perlu saya antar pak?"
"O-oh gak usah repot-repot mbak. Saya sendiri aja. Makasih ya."
Setelah membalas senyum ramah sang pegawai, Jongin melangkah menuju lorong sebelah. Di mana barang yang ia cari berada. Jongin fikir, pembalut itu hanya satu jenis dengan satu merk yang sama. Ternyata tidak.
Di lorong ini, ia menemukan setidaknya sepuluh merk pembalut dengan warna bungkus pembalut yang berbeda-beda.
"Banyak banget. Yang mana ya yang biasa adek beli?" Tanya Jongin entah pada siapa. Tak ingin semakin bingung, pria itu lantas memutuskan untuk menghubungi Kyungsoo.
"Halo?"
"Dek, ini merk pembalutnya banyak banget. Biasanya adek beli yang mana?"
"Mas ambil aja yang bungkusnya warna pink."
Jongin semakin bingung. Pasalnya, ada dua pembalut dengan bungkus berwarna pink.
"Di sini ada dua yang bungkusnya warna pink. Yang mana satu?"
"Cari yang ada sayap nya, mas."
"Hah? Sayap?" Tanya Jongin bingung.
Pembalut ada sayap? Ngapain banget? Bisa terbang apa? Tanya Jongin dalam hati.
"Iya yang ada sayap nya. Mas cek di pojok kanan bawah kemasan. Biasanya ada."
"Oke. Tunggu ya. Mas bentar lagi balik ke kantor."
"Iya. Buruan ya mas."
PIP
Jongin mengambil dua bungkus pembalut yang berwarna pink. Ia meneliti pojok kanan bawah kemasan seperti apa yang tadi Kyungsoo beri tahu padanya. Dan, walaa~ Ia mendapatkan nya. Pembalut dengan sayap.
Jongin melangkahkan kakinya ke arah kasir. Sampai di kasir ia harus menahan malunya kembali saat sang penjaga kasir memandangnya dengan tatapan penuh arti.
Hah… untung mas sayang dek!
.
.
.
.
.
TBC
Hehehe
-04-01-2018-
