The Love Story about Hinata

Disclamer © Masashi Kishimoto

Disclamer © Santhy Agatha

[Hinata H. x Sasuke U. ]

Romance, Hurt/Comfort

DON'T LIKE? JUST DON'T READ..

Sorry ... Sorry To Say... Saya tidak menerima FLAME dalam bentuk apapun.

(Mau mengucapkan bahwa chap ini gak ada bahasa italynya ya... soalnya aku ngetiknya di jam-jam yang sedikit jadi gomen kalau chap ini mungkin dapat mengecewakan readers sekalian dan sebelum memulai cerita aku mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014, semoga apa yang kita inginkan di tahun ini tercapai, AMIEN).

CHAPTER 10

Di Sebuah Hotel Venice.

Sasuke dan Hinata kini telah sampai di hotel yang telah di reservasi oleh Sasuke jauh-jauh hari. Mereka tengah berjalan berdampingan menuju meja resepsionis. Hinata menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri menimati setiap desain yang ada di hotel mewah tersebut.

"Selamat datang di Hotel kami."

"Hn, aku sudah memesan kamar hotel sejak 3hari yang lalu dan namaku Uchiha Sasuke." Sang wanita resepsionis terbengong memandangi wajah tampan Sasuke dan terlihat tak menyimak perkataan dari Sasuke.

Melihat keadaan ini Sasuke berdecih, ia menjentikan jarinya di depan wajah wanita itu, segera saja wanita itu tersadar dan tersenyum kikuk," Oke mohon ditunggu." Setelah menunggu 3 menit wanita tadi menyerahkan sebuah kunci pada Sasuke," Kamar VVIP dengan reservasi satu lantai seluruhnya, kamar 305 lantai 10 pak," Sasuke menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya pelan." Wanita resepsionis itu memanggil seseorang untuk membawakan tas Sasuke dan Hinata(aku lupa apa sebutannya untuk orang yang biasanya bawa tas di hotel, gomen).

Sasuke menggandeng tangan Hinata untuk mengikuti laki-laki yang membawakan tas mereka menuju kamar mereka. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di kamar 305, kamar yang akan mereka tempati selama mereka liburan. Sasuke menyerahkan beberapa lembar uang sebagai tips pada lelaki yang telah mengantarnya itu. Ia menutup pintu dan menoleh ke arah Hinata.

"Siapa yang akan mandi duluan? Kau atau aku?"

"Aku." Jawab Hinata, ia lalu menghampiri tasnya dan membongkarnya mencari baju ganti untuknya, dan beberapa peralatan mandi yang ia bawa dari rumah. Hinata langsung memasuki kamar mandi dan memulai acara mandinya.

Sasuke berjalan ke ranjang dan duduk di tepi ranjang, ia membuka hapenya dan memeriksa apakah ada email masuk, dan ia mendapatkan email dari sepupunya.

From : Sai

Subject : Liburan.

"Yo Sepupu apa kau sudah sampai di Venice? Jangan lupa oleh-oleh untukku yah dan jangan lupa aku minta bonus untuk menjaga laki-laki ini. Dan selamat menikmati liburanmu bersamanya."

Sasuke berdecak pelan membaca email dari Sai, yah mungkin menambahkan beberapa ratus ribu yen dan oleh-oleh untuk Sai dinilai cukup sebanding dengan apa yang kini Sai kerjakan. Menjaga tunangan Hinata selama ia dan Hinata berlibur serta membuat Sai membatalkan seluruh acara berliburnya bersama teman-temannya sebanding dengan sesuatu yang di minta Sai. Kehilangan beberapa ratus ribu yen dan membelikannya oleh-oleh tidak akan membuat Sasuke jatuh miskin kan?

CLEK.

Suara dari arah kamar mandi mengalihkan pandangan Sasuke dari ponselnya dan menatap Hinata disana, " Seharusnya aku tadi ikut mandi bersamamu." Hinata memutar kedua matanya bosan, "Kenapa kita harus menyewa satu kamar, aku tak mau sekamar denganmu."

"Begitukah? Tapi aku ingin kita sekamar agar aku bisa melakukan sesuatu padamu dengan leluasa."

"A-a-apa?" Sasuke tak menghiraukan kekagetan Hinata, ia berjalan menuju kopernya dan membukanya, ia mencari baju ganti untuknya, lalu ia berjalan menuju kamar mandi.

Ketika akan memasuki kamar mandi ia berhenti sejenak di samping Hinata yang masih berdiri di depan kamar mandi," Jika kau kesepian saat aku mandi kau boleh masuk dan bergabung denganku." Selesai mengatakan itu Sasuke memasuki kamar mandi dan menutup pintu, meninggalkan Hinata yang wajahnya memerah padam, bukan karena malu tapi marah," Dia... membuatku darah tinggi saja." Desis Hinata.

Hinata berjalan menuju tempat tidur, menyingkap selimut tebal di atas tempat tidur dan ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Karena kelelahan selama perjalan di pesawat tanpa ia sadari ia tertidur pulas, tak lama setelah Hinata tertidur Sasuke keluar dari kamar mandi. Ia melihat Hinata sudah tertidur pulas di ranjang ia pun tersenyum sedikit," Sudah tidur rupanya," ujarnya pelan, ia juga berjalan ke ranjang dan ikut tidur di samping Hinata.

Sasuke juga merasakan tubuhnya amat sangat lelah setelah perjalanan menggunakan pesawatnya, ia pun tidur menghadap Hinata yang membelakanginya. Sasuke mendekatkan tubuhnya ke Hinata dan memeluk Hinata dari belakang," Oyasumi." Dan kedua insan berbeda gender itu pun terlelap dalam tidur mereka.

.

.

.

Pagi hari pukul 06.00 Hinata terbangun dari tidurnya, ia mencoba menggerakan tubuhnya namun tak bisa ia lakukan. Ia merasa tubuhnya sangat sulit untuk digerakan seperti ada sesuatu yang menimpanya dan terasa berat di bagian pinggangnya. Hinata membuka matanya lebar-lebar dan melihat apa yang ada di pinggangnya, ia melihat sebuah tangan berada di pinggangnya dan memeluknya erat.

"Kami- Sama..." sontak saja Hinata menggunakan kekuatan penuhnya menyingkirkan tangan itu dari pinggangnya dan meloncat bangun dari ranjang. Ia melihat Sasuke masih tidur di ranjang dengan bertelanjang dada. Merasa "gulingnya" telah hilang dari pelukannya Sasuke menggeliat dalam tidurnya dan membuka matanya dan menemukan Hinata berdiri di sisi ranjang dengan wajah terkaget, mata Sasuke juga masih tampak mengantuk ia pun sedikit mengangkat tubuhnya dan menyenderkan tubuhnya dengan sebelah tangannya," Kau kenapa?"

Hinata menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tanpa mempedulikan pertanyaan Sasuke ia berjalan menuju jendela dan membuka gorden membiarkan cahaya matahari yang masih sedikit memasuki kamar mereka.

"Cepatlah bangun lalu kita sarapan...aku lapar." Hinata membalikkan tubuhnya dari jendela dan berjalan ke arah tasnya lagi, namun suara Sasuke menghentikannya," Hei.." Hinata menolehkan kepalanya ke arah Sasuke," kalau kau lapar kau bisa memakanku," Sasuke menurunkan selimutnya sampai ke pinggangnya, menampilkan tubuh sexynya, dada bidangnya dan perut kotak-kotaknya, ia menggerakan tangannya dari leher turun ke perut dengan gerakan erotis," Bagaimana? Aku lezatkan?"

Tubuh Hinata kaku, matanya terbelalak lebar setelah beberapa detik berlalu akhirnya dia berhasil menguasai dirinya ia berdehem pelan," Maaf Tuan Uchiha yang terhormat saya tidaklah tertarik memakan tubuh anda, karena saya bukan kanibal." Kata Hinata, tanpa mempedulikan Sasuke ia kembali berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu keras.

BLAM!

Sasuke merebahkan tubuhnya lagi ke ranjang dan tersenyum," dia benar-benar sexy kalau sedang marah."

.

.

.

Kini Sasuke dan Hinata sudah menyelesaikan sarapan pagi mereka, Sasuke menyuruh Hinata mengikutinya," Kita akan kemana?"

"Kita akan ke pusat kota Venice. " mereka berdua memulai petualangan pada pukul 7 pagi, dalam rencana Sasuke ia berniat membawa liburan mereka berdua ketempat-tempat yang sudah ia rancang sedemikian rupa dan mengunjunginya.

"Hei apa yang akan kita lakukan pertama kali," Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping memandang Hinata," Kita naik gondola."

"Oh..." meskipun Hinata menanggapinya singkat dalam pikiran ia memikirkan sesuatu,' menaiki gondola adalah mimpiku dan Gaara...tapi aku melakukannya bersama Sasuke.' Batin Hinata sedih, ia menatap sendu pada tangannya yang berada di genggaman tangan besar Sasuke.

Mereka pun berjalan menuju ke tempat Gondola yang di sewakan untuk mengantarkan wisatawan berkeliling selama 50 menit. Sasuke berjalan ke salah satu Gondolier, "Kami ingin naik Gondola berapa biayanya?" Sasuke berbicara menggunakan bahasa italy yang fasih, Hinata yang tak mengerti perkataan Sasuke dan Gondolier itu hanya memandangi kedua laki-laki itu secara bergantian. Selama 2 menit mereka bercakap-cakap akhirnya Sasuke mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada Gondolier tersebut.

Sang Gondolier mempersilahkan mereka berdua menaiki Gondolanya sembari berucap dalam logat Italy nya," Ah pasangan baru menikah... senangnya menikmati bulan madu." Sasuke menyeringai, Hinata menolehkan kepalanya ke Sasuke," Dia bilang apa?" Sasuke mengangkat kedua bahunya acuh, pura-pura cuek pada pertanyaan Hinata.

"Sudahlah ayo naik." Sasuke menarik tangan Hinata dan mereka kini duduk tenang di atas gondola, selama Gondolier itu mendayuh gondolanya mereka berdua duduk tenang dan Sasuke merengkuh pinggang Hinata dan memeluknya, entah karena terlalu asik memandangi view dan melewati kanal-kanal yang membelah kota Venice Hinata tak keberatan jika tangan Sasuke berada di pinggangnya dan menariknya mendekat ke tubuh Sasuke.

Hinata tak henti-hentinya menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, bagi Hinata ini adalah pengalaman pertamanya menaiki Gondola, menaiki salah satu alat transportasi paling terkenal dan paling di incar untuk di naiki oleh seluruh wisatawan di seluruh dunia adalah suatu kebahagiaan yang tak dapat di ungkapkan. Sayang ia tak datang kemari dengan seseorang yang ia harapkan untuk datang bersama-sama.

Perjalanan mereka semakin hikmat didampingi oleh pemandangan-pemandangan yang memukau mata serta nyanyian merdu yang di dendangkan oleh Gondolier menggunakan bahasa Italy, menambah kesan romantis diantara mereka dan pas. Rute pertama yang mereka lalui adalah Rialto Bridge, sebuah jembatan pertama yang akan mereka lalui dan jembatan ini telah menjadi salah satu ikon Venesia yang paling dikenal dan memiliki sejarah yang membentang lebih dari 800 tahun.. Saat mereka tiba di bawah jembatan itu, sang Gondolier meminta mereka berdua berciuman seperti pasangan-pasangan yang telah melewati jembatan itu.

Sebuah tradisi Venice mengatakan bahwa pasangan yang berada di atas Gondola harus berciuman di bawah jembatan, di sebutkan kalau itu di ibaratkan sebagai lambang cinta abadi.

"Silahkan cium pasanganmu." Hinata mengerutkan kedua alisnya tanda ia tak mengerti bahasa Italy yang di ucapkan sang Gondolier, sedangkan Sasuke... ia malah berseringai lebar karena hanya ia yang mengerti artinya.

Hinata berbisik ke Sasuke," dia bilang apa?" Sasuke hanya terdiam memandangi wajah Hinata dari dekat, mulai dari dahi, alis, mata lavendernya yang indah, hidung mungil nan mancungnya dan berakhir di bibir pink Hinata. Lama ia memandangi bibir Hinata, dengan sigap Sasuke memajukan kepalanya dan mencium bibir Hinata.

CUP.

Hinata menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya, ia tak menyangka jika Sasuke menciumnya. Dan di saksikan oleh orang lain," Bagus... semoga pernikahan kalian bertahan hingga maut memisahkan." Sasuke menganggukkan kepalanya pada Gondolier itu kemudian memandang ke depan, bagaimana dengan keadaan Hinata? Ia membuang mukanya ke kiri.

Lima puluh menit pun berlalu, mereka akhirnya mengakhiri perjalanan mereka naik gondola, mereka berdua berdiri dan memandang sekitar dalam diam. "Sekarang kita kemana?" Tanya Hinata yang masih menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri karena ia bingung apa yang akan mereka lakukan setelahnya.

"Kita keliling kota Venice."

"Kau yakin?"

"Hn."

"Tapi pasti akan seharian..."

"Itu lah gunanya kita berlibur."

Sasuke kembali menggenggam tangan Hinata dan mengajak Hinata menaiki vaporetto menuju ke Piazza San Marco, Perjalanan menggunakan vaporetto ke Piazza San Marco memang cukup lama karena banyak berhentinya dan vaporetto tidak mungkin ngebut di antara sekian banyak perahu dan gondola. Mereka sampai di Piazza San Marco, Piazza San Marco adalah alun-alun di Venesia, dan bagian tepi tempat ini awalnya pintu masuk yang paling populer untuk kota Venesia, sebelum rel dan jembatan mobil dari daratan bisa di akses di kota ini.

Hinata menatap kagum pada pemandangan yang di berada di Piazza San Marco, Sasuke tersenyum puas melihat wajah senang yang terpancar di wajah Hinata. Dan ternyata tak sia-sia kan mereka pergi berlibur di sini.

"Ayo kita beli Roti."

"Untuk apa? Kita kan sudah sarapan?"

"Hn, rotinya untuk merpati." Sasuke menunjuk kawanan merpati yang tersebar di jalan,"Ayo kita beli roti." Mereka membeli roti ke penjual roti yang membawa barang dagangannya di gerobak kecil.

Dan mereka memberi makan pada merpati-merpati itu,"merpatinya jinak." Hinata mengulas senyum melihat merpati yang memakan roti yang berada di tangannya. "Hn." Setelah puas memberi makan roti untuk merpati mereka memutuskan masuk ke Basilica San Marco yang indah. Mereka ikut mengantri demi masuk ke sana, setelah masuk mereka mengagumi semua interior indah dan berkelas berlapis emas.

Perjalanan mereka masih tetap di Piazza San Marco hingga malam hari menjelang. Lelah pun kini menyambangi mereka setelah mereka terus menjelajahi semua yang ada di sana. Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam dan mereka memutuskan kembali ke Hotel dan beristirahat, dan memulai perjalanan mereka ke tempat lain di esok paginya.

.

.

.

SKIP TIME

Hari demi hari mereka lalui untuk menjelajahi semua tempat yang ada di venice, mulai dari tempat-tempat yang paling sering wisatawan kunjungi, mereka telah mengunjungi berbagai tempat, Piazza San Marco, Basilica di San Marco, Canal Grande, Pallazo Ducale. Mereka juga mendatangi tempat-tempat makan yang menyediakan makanan khas Italy yang dalam hal ini Sasuke memaksa Hinata mencoba seluruh makanan khas Italy yang di sediakan oleh restaurant disana, hingga mereka tak sadar jika waktu terus berjalan selama 7hari dan besok adalah tahun baru dan itu juga berarti kalau liburannya telah usai.

Tak menyianyiakan waktu Sasuke menyeret Hinata menuju pusat kota Venice lagi dan menuju ke area pertokoan. Disana memiliki jalur khusus pejalan kaki, area ini terbentang dari ujung ke ujung dengan di tengah-tengah kotanya dialiri sungai besar. Berbagai macam variasi jualan kerajinan khas Kristal dan souvenir Venice. Topeng, busana karnaval, topi pelaut, Gondola. dll.

Sasuke mengajak Hinata berbelanja di sini dan membawa oleh-oleh, sebenarnya yang paling banyak berbenlanja adalah Sasuke, karena ingat ia membeli banyak oleh-oleh karena sang sepupu, Uchiha Sai yang meminta banyak oleh-oleh sebagai bayaran menjaga Tunangan Hinata.

Hinata hanya membeli sedikit oleh-oleh, ia berpikir memangnya untuk siapa banyak membeli oleh-oleh dari sini? Toh yang akan diberikan oleh-oleh hanya suster Ino tiada yang lain. Setelah seharian berbelanja, Sasuke memberikan instruksi kalau semua barang belanjaan di taruh saja di hotel, dan mereka kembali ke Piazza San Marco untuk merayakan tahun baru disana.

Sasuke dan Hinata berkumpul di tengah alun-alun bersama seluruh wisatawan yang juga berlibur disana, banyak kembang api yang sudah di nyalakan sedari tadi kini mereka semua menghitung mundur detik-detik menjelang tahun baru.

5

4

3

2

1

DUAR...DUAR...DUAR...

TREETTTT...TREEEETT...

Bunyi terompet dan nyala kembang api saling bersahutan menandakan kalau memang tahun sudah berganti. Hinata memandangi kembang api yang berada di atas dengan berbinar binar, ia mengatupkan kedua tangannya dan memejamkan matanya untuk berdoa,' Semoga Gaara cepat sadar, Kami-Sama.'

Sasuke melihat Hinata yang sedang berdoa hanya terdiam, memandanginya dengan wajah datarnya,' apa kau berdoa untuk tunanganmu, Hinata?' Batin Sasuke dalam diam. Hinata membuka kedua matanya dan kembali melihat ke atas," Kita kembali ke hotel." Perintah Sasuke pada Hinata, mau tak mau Hinata mengikuti Sasuke kembali ke hotel, karena besok pagi pukul 8 mereka harus melakukan perjalanan kembali ke jepang.

.

.

.

Di Hotel

(Cerita di bawah adalah lemon yah.. , maaf kalau lemonnya kurang hot).

Hinata berdiri di balkon dan memandangi kota Venice, kembang api masih menyala saling sahut menyahut begitu juga suara terompet. Gempita menyambut tahun baru masih di nyalakan oleh masyarakat di bawah sana. Hingga sebuah tangan memeluk tubuhnya dari belakang dan menariknya menempel ke dada seseorang itu.

"Aku ingin menyentuhmu malam ini, dan jangan menolaknya." Suara parau Sasuke terdengar jelas di telinga Hinata, Sasuke mulai menciumi leher Hinata. Hinata tau kalau ia tidak bisa menolak keinginan Sasuke, selama 7hari disini ia tidak menyentuh Hinata sama sekali dan itu membuat Hinata lega, yah walaupun ia masih senang menggodanya menggunakan kata-kata nakal dan vulgarnya. Lagipula juga kalau ia menolak, Gaara lah yang menjadi korbannya.

"Kita lanjutkan didalam," Sasuke menggendong Hinata ala Bridal Style (aku lupa tulisannya) dan membawanya ke tempat tidur. Penuh kehati-hatian Sasuke meletakkan Hinata ke tempat tidur seakan-akan Hinata adalah barang yang mudah pecah. Sasuke kemudian merangkak mendekati Hinata dan berada di atas Hinata. Sasuke mulai mencium bibir Hinata, pelan dan lambat, terlihat sekali Sasuke menikmati setiap detik berciuman dengan Hinata. Sasuke menggigit kecil bibir Hinata dan menyebabkan Hinata tersentak kaget dan tanpa sadar ia membuka mulutnya, tak menyianyiakan kesempatan Sasuke segera menjelajahi semua yang ada di mulut Hinata, mengabsen semua gigi Hinata dan mengajak lidah Hinata berdansa bersama lidahnya.

"Hmph.." erang Hinata tertahan.

Saat ini Sasuke mencium Hinata dengan sangat panas. Sasuke terus memagut bibir Hinata dan juga menjelajah setiap inci mulut Hinata.

Hinata merasa nafasnya mulai pendek, ia benar-benar tak bisa bernafas dengan baik ketika Sasuke menyerangnya seperti ini. Bagaimana kau dapat bernafas dengan benar ketika seorang "laki-laki panas" seperti Sasuke menyerangmu dengan sangat panas dan tak terkendali seperti ini?

"Sa-sa-sasuke... a-a-aku sesak...nafas..." mati-matian Hinata berusaha memberitahu Sasuke apa yang ia rasakan di tengah-tengah ciuman yang dilakukan oleh Sasuke. Namun sayang, sepertinya Sasuke tak mempedulikan omongan Hinata dan malah menambahkan kekuatannya untuk mencium Hinata lebih panas lagi dan dalam. Tangan kanan Sasuke mulai turun dari leher, terus turun membelai bahu Hinata, dan terus turun hingga tangannya membelai salah satu payudara milik Hinata.

"Sasukeh~~." Desah Hinata, saat ia merasakan Sasuke meremas payudaranya kuat, genggaman tangan Sasuke pada payudara Hinata sangat pas. Sasuke akhirnya melepaskan ciumannya membuat Hinata lega, ia pun langsung menghirup oksigen sebanyak mungkin, tapi rupanya Sasuke tak ingin membiarkan Hinata bernafas lega, ia mengarahkan bibirnya ke daerah leher Hinata, ia menggigit pelan lehernya dan menimbulkan tanda merah-merah yang tercetak di kulit leher Hinata, ia terus berpindah-pindah menggigit leher Hinata hingga mengakibatkan leher Hinata di penuhi tanda merah-merah hasil karya Sasuke.

Sasuke menyeringai senang melihat hasil karyanya terpampang jelas di leher Hinata, ini menandakan kalau Hinata adalah 'miliknya'.

"Hinata...Kau milikku.." Kata Sasuke dengan suara paraunya, mendengar dari suaranya menandakan kalau Sasuke kini tengah memendam hasratnya begitu kuat dan ingin segera melepaskannya pada Hinata. Sasuke menciumi dagu Hinata dan tangannya masih bertengger manis di payudara kiri Hinata dan masih saja meremasnya. Sasuke terlihat menikmati permainannya pada Hinata.

Mendengar setiap desahan yang di keluarkan Hinata membuat libido Sasuke naik, dan semakin bergairah saja. Meskipun sudah melakukannya dengan Hinata, tetap saja tubuh Hinata layaknya narkoba bagi Sasuke dan itu membuatnya kecanduan. Dan maka dari itu ia sering menggoda Hinata, karena ia tak tahan akan godaan untuk terus menikmati tubuh Hinata setiap incinya.

SRET.

Sasuke melepas baju Hinata dan begitu juga dengan bra Hinata, membuangnya entah kemana dan sungguh ia sudah tak kuat lagi jika berlama-lama seperti ini. Ia akan menolong dirinya untuk segera terlepas dari hasratnya dan menyalurkannya ke Hinata. Lagi-lagi Sasuke terbuai melihat tubuh Hinata, ' tubuh ini...membuatku selalu menginginkannya secara nafsu dan emosional.' Batin Sasuke, yang masih terus menatap tubuh Hinata dengan pandangan takjub.

Sasuke memasukkan puncak payudara kanan Hinata kemulutnya dan menghisapnya, sedangkan tangannya kembali meremas payudara kiri Hinata.

"Ngggghhhh..." Hinata mendongakkan kepalanya ke atas, saat ia merasakan Sasuke menghisap payudaranya kuat-kuat, dan sesekali gigi Sasuke menggigit kecil putting Hinata dan menariknya kuat.

"Akh!"

"Aku selalu senang pada bagian ini." Sasuke melakukan kegiatannya tadi pada payudara Hinata yang kiri. Merasa bosan bermain dengan payudara Hinata, Sasuke menarik dirinya dari Hinata dan melepaskan baju serta celananya, kini Sasuke 100% telah telanjang bulat di hadapan Hinata tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.

Sasuke membuka celana yang dikenakan Hinata beserta celana dalam warna hitam milik Hinata, " mari kita mulai." Sasuke sedikit melebarkan kedua paha Hinata agar terbuka dan ia memasukkan jarinya ke vagina Hinata, ia pun memposisikan tubuhnya untuk berada di antara kedua paha Hinata. Ia kembali mencium bibir Hinata dan jari-jarinya ikut bekerja di dalam lubang Hinata.

"Nggghhh...akhhhhhh..." Hinata terus mendesah, menerima permainan Sasuke apalagi bagian bawahnya yang saat ini tengah di obrak-abrik oleh jari-jari Sasuke. Jari-jari yang sudah terlatih untuk membuat banyak wanita-wanita yang pernah Sasuke kencani dulu sebelum Hinata, merasa puas hanya dengan jari-jari Sasuke.

"Ukkkhhhh...A-a-aku ingin ke-luar..." Hinata semakin menggeliatkan tubuhnya tak nyaman, Sasuke mencium pipi Hinata," Keluarlah."

"Arkkhhh..." Sasuke merasakan jari-jarinya kini basah terlumuri cairan milik Hinata, ia mencabut jari-jarinya dari lubang Hinata dan segera melebarkan kedua paha Hinata selebar mungkin agar ia dapat memasukkan penisnya ke vagina Hinata.

Sasuke mendekatkan kepala penisnya ke bibir vagina Hinata, Hinata menahan nafasnya melihat kepala penis Sasuke berada di depan vaginanya. Sasuke mulai memasukan penisnya kedalam Hinata," Ummmm..."

Sedikit demi sedikit penis Sasuke masuk ke vagina Hinata, kini ia menyatu dengan Hinatanya. Hinata merasakannya, merasakan penis Sasuke yang besar memasuki dirinya. Sasuke memilih gaya seks posisi terlentang. Hinata berada di bawahnya dan bersikap pasif menerima setiap sentuhan Sasuke, karena saat ini Sasuke sedang tak ingin melakukan seks dengan Hinata yang masih melawannya seperti sebelumnya. Sasuke menopang tubuhnya di atas menggunakan kedua lutut dan lengannya agar tak terlalu menindih tubuh Hinata.

Ia menganggkat kedua kaki Hinata dan melingkarkan di pinggangnya. Sasuke perlahan menggerakan tubuhnya awalnya masih pelan-pelan, "Mmmpphhhh..."

Sasuke merasakan vagina Hinata memijat penisnya kuat-kuat, dalam hati ia membatin," kenapa vaginanya masih saja sempit?"

Merasa tak tahan ia pun memandang Hinata," aku tambah kecepatannya." Selesai mengucapkannya Sasuke menggerakan tubuhnya maju mundur dengan irama cepat.

"Akhhhh...uhhhhhm..." desah Hinata, ia rupanya berusaha mengimbangi tempo yang diciptakan Sasuke. Sesekali erangan keluar dari bibir Hinata. Sasuke terus menggenjot Hinata semakin dalam, hingga kepala penisnya beberapa kali menyentuh serviks Hinata dan membuat wanita itu semakin kuat dan kencang dalam mendesah. Sensasinya benar-benar nikmat ketika penis Sasuke menyentuh hingga bagian terdalam Hinata.

Selang beberapa menit dalam aksinya terus menggenjot Hinata, Sasuke merasa kalau ini sudah waktunya ia keluar, begitu juga dengan Hinata.

"Hinata aku akan keluar~~"

"Nggghhhh...~~~"

"Hinata!"

"Akkkkkhhhhh..."

Akhirnya mereka pun sama-sama keluar, dan Sasuke menembakkan spermanya ke rahim Hinata. Hinata merasakan hangat di rahimnya, Sasuke mencabut penisnya dan berbaring di samping Hinata.

Hinata mencoba mengontrol nafasnya yang tersenggal-senggal, ia lelah luar biasa. Setelah jalan-jalan seharian kini ia "melayani" Sasuke? Masih bersyukur tubuhnya tak remuk karena kelelahan. Ia menutup matanya dan mengatur nafasnya pelan-pelan.

"Hei..." panggilan Sasuke membuatnya membuka mata dan melirik ke arah Sasuke," apa?"

"Aku tadi lupa tak menggunakan pengaman..."

Sasuke memandangi wajah Hinata," aku tak dalam masa subur saat ini." Sasuke menghela nafas lega mendekar jawaban Hinata.

"Bolehkah aku tidur? Aku sangat lelah..."

"Hn. Tidurlah.. Oyasumi."

Hinata membalikkan tubuhnya membelakangi Sasuke dan menarik selimut menutupi tubuhnya hingga bahu dan mulai terlelap. Merasa Hinata sudah terlelap dalam tidurnya, Sasuke meraih hapenya dan menelepon Sai.

"Moshi-moshi sepupu.."

"Hn. Besok aku kembali."

"Oh bagus... lalu bagaimana malam terakhirmu disana bersamanya?"

"Hn."

"Hei sepupu aku ingin tanya... apa kau hanya ingin memuaskan rasa penasaranmu padanya ataukah kau memang benar-benar menyukainya."

Sasuke terdiam mendengar pertanyaan Sai, ia tahu siapa yang dimaksud Sai.

"Hei Sasuke jawab aku."

"Hn. Aku tak tahu. Tapi pikirkanlah saat kau menginginkan seorang wanita lalu tubuhmu ikut menginginkan wanita itu apa yang akan kau lakukan?"

"Oh." Hanya tangggapan itu yang keluar dari bibir Sai. Menurutnya Sasuke mulai aneh semenjak bertemu Hinata.

"Baiklah, sampai ketemu besok... aku tutup teleponnya ya, karena aku mau kencan dengan suster Ino."

KLIK.

Sasuke menatap hapenya datar," dasar pucat." Ia meletakkan hapenya di meja sebelahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Hinata.

"Aku tak tahu sebenarnya apa yang aku rasakan padamu, tapi yang pasti aku merasa puas dan tak penasaran dengan dirimu lagi Hinata, dan kau milikku sekarang." Ucap Sasuke pelan, ia kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Hinata dan memeluknya dari belakang seperti yang ia lakukan di hari pertama mereka tertidur di hotel itu.

"Oyasumi." Sasuke menutup kedua matanya dan mengikuti jejak Hinata memasuki alam mimpi.

TBC.

A/N : Yosh akhirnya fic chap 10 rampung juga #teriakgirang. Fuyuh *ngelap keringat. Bikin lemon lagi, hahaha gomen readers kalau lemonnya kurang hot, dan gomen juga kalau chap ini mungkin sedikit panjang dan mungkin membosankan untuk di baca, karena aku ingin menampilkan perjalanan Sasu Hina selama liburan,. Dan mungkin ada beberapa bagian yang aku skip n menurutku terlalu panjang krn ini udah 4k+ juga, panjang yah? Moga readers gak bosen bacanya.

Gomen sekali lagi aku gak bisa balas review dari readers beribu-ribu gomen aku ucapkan, karena aku ngetiknya di lappy gak bisa lama-lama karena gantian ma adikku pengen makek lappy juga... tapi review dari readers tetep aku baca... :D Nah jangan lupa habis baca review ya... sampai jumpa di fic-ficku yang lainnya... Jaa Nee...