Tittle : Bangtan Squad from Hell

Author : Jun_96

Genre : Crime/friendship/lil bit romance

Cast :

Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun

Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun

Yoongi Min (Suga ) 25 tahun

Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun

Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun

Taehyung Kim (V) 23 tahun

Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun

Pairing :

Namjin

Yoonmin

Jikook

Taejin

Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)

.

.

.

Dubai, Uni Emirat Arab

Setelah menjalani satu jam interview dan dua jam tes pertahanan diri akhirnya Rapmon, Jhope dan Jin pun di terima menjadi pengawal pribadi Zuhrada Murad. Tes tes yang menjadi syarat memang cukup sulit namun mereka bertiga bisa lolos dengan nilai sempurna. Rapmon dan Jin telah memprediksikan semua tes yang akan di berikan Zuhrada Murad kepada mereka, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk lolos.

Seperti hal nya Jimin dan Suga di Inggris, di sini mereka bertiga belum mulai bekerja. Mereka di persilahkan untuk istirahat di kamar yang sudah di sediakan untuk mereka. Kamar yang di maksud adalah ruang besar seperti pavilion dengan tiga kamar tidur, satu kamar mandi, dapur di sudut ruangan dan ruang tengah yang cukup luas.

"wah… tak ku sangka pengawal di beri kamar seluas ini!" Seru Jin sambil mendudukan diri di sofa.

"sssttt" Rapmon mengisaratkan Jin untuk diam sambil menunjuk sesuatu di koper yang di bawa Jhope, setelah itu dengan cepat ia meraih HP nya dan menuliskan sesuatu lalu menunjukannya pada Jin dan Jhope. 'di bawah koper itu di pasang alat penyadap, rusakan penyadapnya dan masukan dalam air yang ada di vas bunga itu' begitulah isi tulisan yang Rapmon tunjukan.

Jhope langsung melakukan istruksi yang di berikan Rapmon. Dengan sengaja Jhope membenturkan kopernya hingga penyadap itu remuk kemudian dia memasukan penyadap tersebut ke dalam Vas bunga saat Rapmon berada di depannya.

"Jinnie, ambilkan Laptop ku dan Jhope secara natural berjalanlah ke titik buta cctv yang ada di sebelah sana!" Rapmon mendudukan diri di samping Jin.

"kita di mata matai?" Tanya Jin sambil menyiapkan Laptop Rapmon di atas meja.

"begitulah, dari awal mereka sudah curiga dengan kita. Jhope masukan chip nya ke kamera itu!" Rapmon mulai focus dengan Laptopnya.

"apa yang akan kau lakukan?" Tanya Jin.

"aku akan memanipulasi cctv nya, nah sekarang pura pura masuk kedalam kamar satu menit setelah itu keluar dan menuju kamar mandi secara berurutan!" Rapmon beranjak dari tempat duduknya dan memasuki ruang tidurnya begitu pula dengan Jin dan Jhope.

Setelah menjalankan instruksi yang Rapmon berikan mereka bertiga kembali berkumpul di ruang tengah. Dan setelah itu Rapmon mulai sibuk mengutak-atik kembali Laptopnya.

"kau mau memanipulasi rekaman di sini? Lalu apa tidak mencurigakan kalau gerakannya sama dan baju yang di gunakan juga sama?" Tanya Jhope.

"itu mudah, video rekaman barusan itu bisa di manipulasi dan di edit sedemikian rupa agar terlihat natural. Aku juga sudah mengatur waktu kapan video kita berjalan masuk dan keluar kamar akan di tayangkan jadi aku bisa mengatur tampilan cctv nya lewat HP ku, dan aku juga menghapus rekaman kita beberapa menit yang lalu" jawab Rapmon dengan tenang sembari focus dengan laptopnya.

"wah… kau memang luar biasa!" Jhope memberi applause pada Rapmon yang menurutnya sangat keren.

"kenapa mereka menguntit kita?" Tanya Jin.

"pertayaan bagus! Seperti yang ku bilang tadi, dari awal mereka sudah curiga dengan kita bertiga. Zuhrada Murad itu satu tingkat di bawah God Father, musuhnya pasti sangat banyak dan maka dari itulah dia juga sangat berhati hati dalam menerima orang luar, dan kemungkinan buruknya dia sudah mengetahui identitas kita" jawab Rapmon.

"Tuhan…. Bodohnya aku…." Jhope menepuk keningnya.

"apa? Ada apa?" Tanya Jin.

"saat tes tadi aku di tanyai macam macam yang menjuru latar belakang ku, dan aku sedikit terbawa suasana dengan mengatakan aku ahli trap dan membuat peledak, setelah itu di tes skill yang ku buat juga pemicu ledakan yang bodohnya aku menggunakan pola ciri khas ku seperti yang kugunakan di Korea dulu!" Jhope menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan mata meruntuki kebodohannya.

"sial! sekarang aku benar benar yakin jika kita sudah ketahuan…" Rapmon menghela nafas berusa tetap tenang.

"lalu apa yang akan kita lakukan, kita tau kalau Zuhrada Murad itu orang yang sangat kejam, dia tak segan segan membunuh orang yang menyusup ke rumahnya seperti kita" Jin mulai menunjukan sikap panic.

"kita ubah rencana, kita harus membunuh Zuhrada Murad secepatnya!" ujar Rapmon sambil menghentikan aktifitas meng edit video cctv.

"itu beresiko kan? Dia orang terkenal jika dia mati banyak media yang akan menyoroti dan kita juga kehilangan akses untuk ke perlelangan itu" sahut Jin.

"kita akan membunuhnya tapi kita buat seolah dia masih hidup" jawab Rapmon tenang.

"maksudmu kita bunuh dia setelah itu kita jalankan semua binis dan kehidupan yang di jalaninya di sini, jadi orang luar tidak akan sadar jika mati?" Jin sudah mulai tenang setelah mendengar perkataan Rapmon.

"kau benar, kita bunuh Zuhrada berserta keluarganya secara diam diam, kita ambil komando dalam rumah ini, menghasut para pengawal dan pelayan di rumah ini agar tunduk pada kita, lalu kita jalan kan semua bisnis Zuhrada dari sini seolah tidak terjadi apa apa. Dan pada saat perlelangan kita bisa menggunakan undangan Zuhrada untuk masuk dalam perlelangan itu" ujar Rapmon.

"ide yang bagus, tapi kau tau sendiri kan jika Zuharada itu punya banyak pengawal. Dia selalu di jaga beberapa orang di sekitarnya, bagaimana bisa membunuhnya?" Tanya Jhope.

"membunuh beberapa orang tidaklah sulit. Jinnie! Kau bisa buat seluruh orang di rumah ini tertidur?" Rapmon menoleh kea rah Jin.

"itu hal mudah, dengan sedikit obat bius racikan ku aku bisa membuat seisi rumah ini tidur pulas selama dua hari penuh" Jin tersenyum meremehkan.

"itu yang ku harapkan, tugas mu kali ini membuat seisi rumah tidur pulas tepat saat jam 8 malam. Jhope kau antisipasi pengawal Murad yang tidak mempan dengan obat bius, habisi mereka semua. Dan aku yang akan mengeksekusi Zuhrada dan keluarganya. Kita lakukan persiapannya sekarang juga" Rapmon mulai berdiri dari tempat duduknya dan mengambil beberapa barang di koper yang ia bawa.

Begitupula dengan Jin dan Jhope yang mulai mempersiapkan barang yang akan mereka gunakan dalam rencana kali ini. Jujur saja mereka tidak membawa banyak benda yang bisa di gunakan untuk melancarkan aksi pembunuhan masal karena situasi seperti ini sedikit di luar dugaan mereka, tapi bagaimana pun mereka harus bisa memanfaatkan apa yang ada menjadi senjata.

Setelah sekitar dua jam berkutat dengan rincian rencana dan persiapan senjata, akhir nya semuanya siap. Mereka tinggal menunggu saat di mana mereka akan melancarkan aksinya.

"semoga kita berhasil" gumam Jin.

"kita harus berhasil" Rapmon menarik Jin dalam pelukannya. "apa pun yang terjadi aku akan melindungi mu"

"kau sudah mengatakan itu berkali kali Namjoon, kau sudah membuat ku lebih dari percaya padamu" Jin membalas pelukan Rapmon.

"aduh mata ku sakit! Kenapa juga aku harus di sini dengan mereka!" Jhope mengendus kesal melihat adengan Romance picisan sang Leader dan permaisurinya ini.

.

.

.

.

Tepat jam delapan malam seluruh penghuni kediaman Murad sudah tertidur pulas di bawah pengarus obat bius dokter cantik kesayangan kita. Walaupun obat bius itu tidak mempan pada dua pengawal pribadi Zuhrada yang bisa di bilang cukup tangguh, namun Jhope telah membereskan mereka dengan sangat rapi sehingga dua pengawal itu kini berakhir tak bernyawa. Rapmon juga telah menghabisi seluruh keluarga Murad dengan sangat cepat dan tepat, seperti biasa membunuh adalah hal termudah yang bagi leader Bangtan ini. Setelah mereka menyelesaikan tugasnya, mereka bertiga mengumpulkan mayat anggota keluarga Murad di ruang tengah agar ke esokan harinya para pelayan dan pengawal dapat melihat majikan mereka yang telah tewas.

"tak kusangka membunuh mereka mudah sekali!" Ujar Jin yang baru saja selesai mengangkat mayat terakhir dengan Jhope.

"iya aku juga tidak menyangka membunuh mereka mudah sekali" sahut Jhope setuju.

"ini juga berkat latihan dari Suga, dia melatih ku strategi dan pertahanan diri ala FBI. Aku yang awalnya lemah di beladiri sekarang bisa lolos kualifikasi pengawal orang terkenal" tambah Jin.

"belajar pertahanan diri memang penting untuk mu sayang, karena guna persiapan aksi kita di New York nanti kau harus bisa melindungi diri sendiri. Anggota kita tidak banyak jadi kita harus bisa bekerja mandiri mulai sekarang" Rapmon mendudukan diri di kursi ruang tengah di ikuti Jin dan Jhope.

"kalau itu aku juga sudah paham. Ehm…. Kita sudah berhasil mengambil alih kekuasaan Murad, kenapa kita tidak memanggil yang lainnya saja kesini, kan akan lebih mudah juga karena mereka tidak perlu repot repot menyamar" Jin menyandarkan dirinya pada bahu Rapmon.

"jangan panggil mereka" ujar Rapmon singkat.

"kenapa? Bukan kah dengan undangan dan kekuasaan kita saat ini kita bisa membawa mereka juga ke perlelangan itu" Tanya Jhope.

"jangan beritahu apapun tentang kita pada mereka, aku ingin menguji mereka, terutama Jungkook. Dia punya potensi yang sangat tinggi, tapi dia susah untuk di kendalikan. Aku juga punya misi rahasia untuk cinta segitiga Suga hyung, Jimin dan Jungkook" jawab Rapmon santai sambil menarik pinggang Jin agar semakin mendekat ke pelukannya.

"cinta segitiga? Bukannya Jungkook tidak suka dengan Jimin? Berarti itu hanya cinta sepihak dong!" sahut Jhope.

"sepihak apanya, jelas sekali jika Jungkook juga tertarik dengan Jimin, dia nya saja yang bergaya tsundere!" timpal Jin.

"iya juga sih, saat Jimin sudah sedikit cuek dengannya, malah jungkook yang kebingungan" Jhope mengangguk setuju.

"maka dari itu kita awasi saja mereka dulu, kita biarkan mereka melatih keprofesionalan mereka. Dalam dunia kita, urusan hati itu yang terakhir, jika terlalu larut justru akan berakhir sia sia" kata Rapmon.

"berkacalah pada dirimu tuan…" Jin membelai wajah Rapmon dengan tangannya.

"tidak bisa ku pungkiri aku juga terlalu larut, tapi aku tidak akan mati konyol karena cinta. Ketika aku harus mati, berarti sumber rasa cinta ku harus mengikuti jejak ku ke neraka" Rapmon melumat singkat bibir tebal Jin.

"aku akan mengikuti mu sampai neraka sekalipun…" Jin menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Rapmon.

"Ya Tuhan aku bisa gila…! Lebih baik aku mendekati adik Jungkook yang masih bau kencur saja dari pada terlihat seperti bujang lapuk mengenaskan seperti ini…" ujar jengah Jhope.

"kau akan di bunuh Jungkook jika mendekati adiknya, lebih baik kau pacari saja salah satu pelayan di rumah ini, mereka tidak buruk kok!" ledek Jin yang menyembunyikan diri dalam pelukan Leader Bangtan sambil memasang wajah mengejek kea rah Jhope.

"sori aku tidak se level dengan pelayan, jika aku mau aku bisa pacaran dengan bidadari Victoria Secret" jawab Jhope sinis.

"dasar Jomblo narsis, kau pikir kau setampan Adam Lavine sampai bisa memacari Victoria Secret Angel. Muka mirip kuda begitu mau pacaran dengan bidadari, mimpi basah sana di kamar, mimpikan kau sedang making love dengan salah satu bidadari Victoria Secret" Jin melempari Jhope dengan bantal.

"awas saja kalian! Jika aku benar benar pacaran dengan model VS aku akan making love di depan kalian!" Jhope balas melemparkan bantal kea rah Jin namun di tangkis oleh Rapmon.

"silahkan saja! Hitung hitung blue film live gratis!" Rapmon ikut meledek Jhope.

"Tuhan… sepertinya dosa ku sudah tertalu banyak sampai dapat Team mate seperti mereka…"

.

.

.

Satu bulan kemudian….

Bogota, Colombia

Malam ini Jungkook baru saja menyelesaikan tugasnya mengawal Nyonya Flair De Reist ke acara perjamuan relasi bisnis perusahaan The Reist. Untuk hari ini Jungkook sedang bertugas sendiri tanpa V. Sesampainya di kediaman Reist, Jungkook mengantar Nyonya Reist sampai ke ruangannya.

"cukup untuk hari ini Seagull, kau sudah bekerja dengan cukup baik, kau boleh kembali ke ruangan mu!" ujar nyonya Reist yang tengah di bantu Jungkook untuk melepas blazer dan sepatunya.

"baiklah nyonya, jika ada sesuatu anda bisa memanggil saya!" setelah meletakan blazer dan sepatu nyonya Reist Jungkook membungkuk member salam dan bersiap akan beranjak pergi.

"tunggu! Kemarilah sebentar!" nyonya Reist mengambil minuman dari meja yang ada di ruangan itu dan memberinya pada Jungkook yang kembali mendekat kearahnya. "minum lah!, ini minuman penambah energy, mungkin bisa mengurangi rasa lelah mu"

"terimakasih Nyonya, saya permisi dulu!" setelah menerima minuman itu Jungkook langsung bergegas keluar dan menuju ke kamar yang di tempati nya dengan V.

"oh kau sudah pulang kookie!" V melempar asal PSP nya dan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.

"seperti yang kau lihat sendiri hyung!" Jungkook melepas jas dan dasinya lalu mendudukan diri sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang. "sungguh melelahkan sekali, tadi di sana ada seorang pembunuh bayaran yang mengincar nyonya, dan untuk saja aku langsung bertindak cepat kalau tidak Flair de Reist Cuma tinggal nama" Junkook membuka botol minuman yang tadi di berikan majikannya.

"Jungkook-ah! minuman apa itu?" gerakan tangan Jungkook yang akan mendekatkan botol minuman itu ke mulutnya terhenti karena pertanyaan V.

"ini? Ini minuman dari Nyonya, dia member ku ini tadi!" ketika Jungkook akan mendekatkan botol ke mulutnya seketika itu juga dengan sigap V merebutnya.

"jangan di minum!" V menjauhkan minuman itu dari Jungkook.

"kenapa?"

"apa pun yang di berikan nyonya secara langsung jangan pernah kau masukan ke dalam mulut mu. Cukup terima saja lalu setelah itu kau buang diam diam"

"kau ini kenapa sih hyung sejak kita tinggal di sini kau jadi parno sekali dengan nyonya, tapi kau tidak pernah memberitahu ku apa apa. Kau selalu membuang semua makanan yang di antarkan pada kita dan memilih mengambil makanan sendiri dari dapur, kau juga menyimpan semua barang hadiah pemberian nyonya untuk kita. Sebenarnya kau ini kenapa hyung?" nada bicara Jungkook sedikit meninggi.

"aku sudah menceritakan ke hawatiran ku dari awal tapi kau menganggapku hanya terbawa suasana rumah ini yang aneh, jadilah aku tidak pernah cerita pada mu lagi. Begini ya Jungkook, seperti yang ku bilang sebelumnya aku punya firasat buruk tentang tempat ini dan nyonya Reist, jujur saja aku tadi sangat hawatir kau pergi sendirian mengawalnya…"

"itu hyung yang terlalu parno saja!" potong Jungkook.

"jangan potong perkataan ku! Kau tau pengawal yang datang seminggu setelah kita tinggal di sini?"

"Matt dan Dean? Ngomong-ngomong aku sudah beberapa hari tidak melihat mereka"

"itu dia masalahnya, saat mereka berdua menghilang aku mendatangi kamar mereka dan barang mereka masih lengkap di sana bahkan beberapa gadget juga masih berhamburan di penjuru ruangan, itu seperti mereka menghilang tanpa sebab, bukan karena mereka kabur dari sini. Setelah aku bertanya pada para pelayan mereka bilang terakhir melihat Matt dan Dean setelah mereka makan malam dengan Nyonya beberapa hari yang lalu…"

"dan kau menyimpulkan hilangnya mereka berkaitan dengan nyonya? Jangan konyol hyung!"

"Aish! Sudah ku bilang jangan potong perkataan ku! Sebelum mereka menghilang, aku sering menjadikan mereka bahan percobaan ku, aku memberi mereka barang dan makanan yang di berikan nyonya untuk kita, lalu aku mengamati gerak gerik mereka. Dan yang ku temukan adalah setiap kali mereka memakan makanan dari nyonya pasti mereka jadi memikirkan nyonya setiap saat dan mereka jadi patuh luar biasa pada nyonya, bahkan saat nyonya mengajak mereka berhubungan intim mereka pun mau, padahal di awal kita semua sebagai pengawal sudah membuat kesepakatan bersama untuk tidak mengabulkan permintaan nyonya yang satu itu berapapun dia membayarnya. Dan satu lagi fakta yang ku dapatkan, Nyonya itu sering melakukan ritual pemujaan setan di rumah ini, ritual itu dilakukan dua kali dalam satu bulan, dan setiap selesai ritual itu dua orang baik pelayan atau pengawal akan menghilang secara misterius. Aku juga sempat Tanya dengan penjaga yang ada di gerbang depan jika Nyonya selalu menerima banyak pengawal dan pelayan namun banyak dari mereka yang tiba-tiba menghilang atau di temukan mati secara tidak wajar" raut wajah V sangat terlihat resius sekarang.

"aku tidak tau kau sudah bertindak sejauh ini, maaf sempat meragukanmu tadi. Tapi jika memang ini tentang ritual pemujaan setan dan menghilangnya banyak orang ini masalah yang serius hyung, bisa bisa kita target salanjutnya"

"maka dari itu aku selalu berusaha agar kita tidak menjadi target selanjutnya. Karena kau sudah mengerti sekarang, jadi ingat kata kata ku jangan pernah memakan makanan dan minuman yang nyonya berikan, jangan pakai barang yang nyonya berikan, dan jangan pergi berdua saja dengan nyonya, setidak nya kau harus bersama supir dan asisten nyonya, mengerti?"

"iya iya aku mengerti… insting mu tajam sekali hyung tentang ini, aku saja tidak sadar sama sekali" Jungkook membaringkan tubuhnya di sofa.

"hidup di jalanan telah melatih ku selalu waspada dengan apa pun dan siapa pun Jungkook, manusia bisa saling menyakiti dengan cara apapun yang bahkan kau tidak bisa membayangkan sebelumnya, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat kita harus selalu waspada"

"mendengar kata kata bijak keluar dari mulut mu membuat ku merinding hyung, kau tidak seperti V hyung yang biasanya"

"kau saja yang terlalu meremehkan ku dan menganggap ku aneh!" V melempar bantal ke arah Jungkook namun di tangkis dengan sempurna oleh Jungkook.

"hyung kau sudah melaporkan ini ke Rapmon hyung?" Tanya jungkook.

"sudah… dan Rapmon hyung bilang apa pun yang terjadi kita harus bertahan di sini dan seperti rencana awal kita harus mendapat akses ke perlelangan itu. Jika nyawa kita terancam, kita bisa membunuh Flair de Reist"

"membunuh orang terkenal seperti nyonya Reist itu akan sangat merepotkan, jadi lebih baik kita berusaha bertahan saja" Jungkook memejamkan matanya. "kita bertahan… cepat selesaikan urusan di sini dan berkumpul lagi dengan yang lainnya…. Aku rindu Jimin…" gumam Jungkook sangat pelan di akhir kata.

"apa Kook? Kau apa?" V mendekat ke Jungkook dan menggoyang-ngoyangkan badan anak yang lebih muda darinya itu.

"aku apa memangnya? Sudah sana menyingkir aku lelah ingin tidur!" Jungkook malah menendang V menjauh darinya.

.

.

.

London, Inggris

Sebulan sudah Jimin dan Suga menjadi pengawal pribadi keluarga Nohsrat. Suga untuk sementara sebelum acara perlelangan itu di laksanakan, dia di tugaskan untuk mengawal tuan Alexander Nohsrat sementara Jimin menjadi pengawal nona Jill Nohsrat. Pekerjaan mereka memang beresiko dan dekat sekali dengan kematian, namun bukan berarti hal itu sulit bagi Suga dan Jimin. Menempuh latihan berat di bawah naungan FBI telah menjadikan Suga orang yang tak mudah tumbang di medan perang sekalipun, sedangkan Jimin dengan pengalamannya menjadi pencuri selama bertahun tahun dan latihan intens dari Suga, bisa di bilang dia berkemampuan setara dengan profiler terkenal FBI.

Hari ini Suga sedang bertugas mengawal tuan Nohsrat untuk menghadiri pameran kebudayaan yang di langsungkan di salah satu museum seni terkenal di London. Sebagai pengawal tugas Suga berdiri mengiringi setiap langkan tuan Nohsrat kemanapun dia menuju. Dalam pameran kebudayaan itu, banyak barang seni dan peninggalan kuno dari seluruh penjuru dunia. Sebenarnya, Suga tidak pernah tertarik dengan hal yang berhubungan dengan seni, kecuali tubuh Jimin yang menurut Suga adalah seni terindah yang di turun kan Tuhan padanya, akan tetapi setelah melihat kaligrafi dengan aksara Jepang kuno di hadapannya, Suga teringat dengan tattoo di tubuh Jimin. Suga memang tidak bisa membacanya, tapi Suga yakin tattoo itu pasti memiliki suatu arti yang berhubungan dengan masa lalu Jimin, dan itu pasti ada kaitannya dengan Jungkook yang ingin sekali Suga buang jauh jauh ke Antartika.

"Suga, apa kau tertarik dengan kaligrafi Jepang?" Tanya tuan Nohsrat yang melihat Suga terpaku pada kaligrafi jepang.

"sebenarnya tidak tuan, hanya saja saya mengingat teman saya memiliki tattoo dengan tulisan jepang kuno yang memanjang dari tengkuk hingga pinggang setelah itu di bawahnya dia memiliki tattoo lotus yang cukup besar di pinggang bagian belakangnya, bukankah itu cara yang sedikit unik untuk mentattoo tubuh?" jawab Suga.

"sepertinya teman mu itu bagian dari penerus klan yakuza"

"yakuza? Jaringan mafia jepang?"

"iya yakuza, biasanya penerus yakuza memiliki tattoo khas dan terkesan sangat classic tradisional Jepang dengan menambahkan unsur seperti hewan atau bunga untuk menggambarkan penerus klan itu sendiri" tuan Nohsrat menepuk pundak Suga, "kau bisa mencari tau di buku tentang yakuza yang ada di perpustakaan Jill di rumah. Kurasa di buku itu kau akan menemukan informasi yang ingin kau ketahui"

"terimakish tuan!"

.

.

.

Di sisi lain…

Di kediaman utama keluarga Nohsrat Jimin tengah menemani Jill Nohsrat yang tengah bermalas malasan di sofa panjang dengan novel percintaan di tangannya.

"Jimin….." Jill menarik narik lengan Jimin yang duduk di sofa sebelah sambil membaca sebuah buku sastra classic di tangannya.

"ada apa nona? Apa nona membutuhkan sesuatu?" Jimin meletakan bukunya dan menghadapkan tubuhnya kea rah Jill.

"tidak…. Tapi aku ingin Tanya…" Jill menarik Jimin agar duduk mendekat dengannya di sofa panjang.

"anda ingin Tanya apa nona?"

"tapi kau harus janji akan berkata jujur atau akan ku gali ingatan mu secara paksa dengan kemampuanku" Jill menatap Jimin dengan tatapan tajap.

"b-ba-baiklah nona, saya akan menjawab jujur apapun yang nona katakana" percuma saja bagi Jimin jika dia berbohong pada Jill, karena Jill bisa menarik ingatan masa lalunya dengan sangat detail jika dia mau.

"apa kau pernah mencintai seseorang dengan segenap jiwa mu hingga terasa kau akan mati jika melepasnya?" mata Jill tidak lepas memandang Jimin intens.

"katakan saja saya telah bangkit dari rasa kematian itu nona, lalu setelah beberapa tahun rasa sakit itu bangkit kembali… dari itu saya belajar sesuatu, akan lebih baik jika kita tidak mencintai seseorang dengan segenap jiwa, karena jiwa kita akan tersakiti karenanya…" tatapan Jimin berubah sendu.

"orang yang kau cintai bukan meninggalkan mu Jimin… kalian di pisahkan, dan setelah sekian lama akhirnya kalian bertemu lagi, tapi dia tidak mengenali sosok mu Jimin…" Jill menggenggam tangan Jimin, karena secara tidak sadar dia telah menarik ingatan masa lalu Jimin.

"saya mengerti akan hal itu nona… tapi dari caranya tidak mengenali saya membuat saya sadar seberapa dangkal rasa cintanya. Ketika saya hampir sekarat kehilangan sosoknya, dia tidak pernah berusaha mencari keberadaan saya…"

"dia memang egois…. Tapi bukan berarti dia tidak mencintai mu Jim, dia hanya tidak tahu harus berbuat apa, dan dia juga bimbang akan seberapa dalam rasa yang ia miliki pada mu" Jill menaiklan lengan baju yang di kenakan Jimin hingga pergelangan tangan Jimin terlihat jelas. "kau menyembunyikan sesuatu di tangan ini Jim" Jill menggosokan ibu jarinya dengan kuat di nadi pergelangan tangan Jimin hingga sebuah tattoo berupa symbol muncul. "kau pernah menjadi tunangan anak keluarga pembunuh bayaran Jeon… jika tunangan mu melihat ini dia pasti langsung sujud mecium kaki mu"

"apa kah ada yang salah dengan itu nona? Status itu sudah tidak berguna lagi sekarang, dan saya tidak yakin dia akan berlutut di depan saya" Jimin tersenyum pahit.

"aku bisa melihat pancaran luka masa lalu mu Jim, tapi anehnya aku tidak pernah bisa melihat masa depan mu dan apa yang kau pikirkan saat ini… begitupun dengan Suga… kalian adalah pengawal Nohsrat pertama yang tidak bisa ku ramal masa depannya dan memiliki sejarah sangat tragis di kehidupan kalian, mungkin karena kalian terlalu banyak melihat kematian sebelumnya. Orang yang sering melihat kematian di depan matanya, takdirnya tidak akan pernah terbaca orang seperti ku. Jimin… apa jika kau mati nanti aku boleh memiliki jantung mu?" tangan Jill meraba dada Jimin.

"nona… kita tidak akan pernah tau sapai kapan kita hidup dan kapan kita akan mati. Saya masih membutuhkan jantung ini untuk melindungi seseorang yang saya sayangi dan menyayangi saya, walapun jantung ini tidak akan lagi pernah berdetak karena cinta, tapi setidaknya biarkan jantung ini untuk berdetak karena kasih sayang" Jimin masih mempertahankan senyumnya.

"aku sungguh menginginkan jantung orang seperti mu Jimin…" Jill berdiri dari tempat duduknya. "akan ku pastikan aku mendapatkan jantung orang seperti mu Jim, bagaimana pun caranya. Di perlelangan di New York akan beredar banyak barang bagus yang aku inginkan, termasuk jantung dari sang Lotus putih Kiyota Nagisa yang sebenarnya… aku harus mendapatkannya Jimin, jika tidak kau harus mengganti dengan jantung mu…" Jill berucap dengan sangat tegas dan penuh ambisi.

"sudah cukup hidup saya menjadi pengganti Nagisa, saya adalah Park Jimin bukan Kiyota Nagisa. Jika yang anda ingin kan jantung Nagisa, maka itu yang akan anda dapatkan" Jimin menatap punggung Jill yang berdiri di hadapannya. 'Nagisa adalah bagian dari hidup ku juga, bagaimana pun aku akan melindungi mu Nagisa. Tak akan ku biarkan bagian tubuhmu menjadi koleksi orang gila sepertinya' ikrar Jimin dalam hati.

.

.

.

TBC

.

.

.

Keuttt…..

Akhirnya bisa upload juga….

Maaf untuk keterlambatan jadwal Jun upload, karena jujur Jun buntu ide buat FF ini untuk sesaat…

Review dari kalian pun menurun Jumlahnya, jadi Jun juga kehabisan inspirasi. Kebanyakan dari review cuman bilang lanjut, ya Jun seneng sih di semangatin buat lanjut, tapi Jun jadi bingung musti lanjut yang kayak gimana? Trus Jun musti gimana?

Untuk chapter selanjutnya Jun gak janji update cepet, karena minggu depan Jun UTS dan persiapan Sempro, jadi nanti liat sikon dulu lah update FF nya.

Terimakasih tak pernah Jun bosan ucapkan untuk kalian semua yang sudah baca FF Jun, Review, fav dan Follow. Tolong teruskan budidaya meninggalkan jejak seperti ini.

Jun masih belum bisa jawab Review kalian tapi Jun baca review kalian semua satu persatu gak ada yang lewat…..

Jika ada kritik, saran atau pertanyaan bisa review…..

Itu dulu yang mau Jun omongin…..

Sampai Jumpa di chapter berikutnya….

XOXO

Junra