© angstgoddess003

.


.

Chanyeol POV

Aku meninggalkan Baekhyun sambil menghela napas berat dan berjalan menuju kelas Bahasa Inggris. Aku sudah melanggar semua aturanku. Tapi, aku juga tidak menyesalinya. Aku melihat semua kejadian yang berlangsung dari mejaku. Gadisku yang pemberani dengan dagu terangkat dan punggung yang tegak lurus, terlihat dewasa dan bersiap untuk melawan monsternya. Dia menggunakan Kris yang malang sebagai kelinci percobaannya. Aku merasa bangga. Kemudian aku berharap. Lalu aku ketakutan. Kemudian aku marah.

Kuakui, aku tidak tahu apa benar Guncangan Mental Aneh yang dialami Baekhyun memang separah yang diceritakan orang-orang atau tidak. Aku tidak pernah menyaksikannya secara langsung. Dia tidak hanya mengizinkanku untuk menyentuhnya, tapi juga memelukku. Lagi pula, aku tidak terlihat jauh berbeda dari orang lain.

Tapi, saat aku melihat semuanya terjadi, aku merasa seperti sampah karena sempat berpikir seperti itu. Karena jelas, Guncangan Mental Anehnya memang separah yang diceritakan orang lain. Perasaan bersalah inilah yang memaksaku untuk meninggalkan kantin. Untungnya, Sehun tidak melihat Guncangan Mental Aneh yang berlangsung di belakangnya. Jadi, aku mengarang cerita omong kosong tentang ingin merokok, dan aku berlari mengejar gadisku.

Saat aku menemukannya di belakang sekolah, dia sedang meringkuk dan gemetaran, sangat berbeda dari Baekhyun yang kulihat di kantin, yang siap menghadapi monster. Dia terlihat seperti seorang gadis kecil yang tersesat, menangis dan terengah-engah, dan membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya. Jadi, aku melanggar aturanku. Karena monsternya menang, dan tidak ada lagi yang bisa kulakukan.

Tapi, setelahnya, aku tetap harus berpegang pada aturanku. Karena kalau ada yang sampai tahu Baekhyun tidur bersamaku setiap malam, mereka akan salah paham. Mereka akan mengasumsikan hal yang tidak benar. Baekhyun akan dianggap sebagai korban, dan aku akan dianggap sebagai manipulator bajingan. Dan Luhan pasti akan memenjarakanku. Dan aku tidak akan menyalahkannya sedikit pun.

.


.

Di minggu berikutnya, aku dan Baekhyun sudah mulai menyempurnakan rutinitas baru kami. Dia datang lebih awal, pada jam sepuluh tepat, bukan tengah malam lagi, dan dia masih membawakanku makan malam seperti biasa, dan aku masih mencintai setiap gigitan dari hidangannya.

Dia mendengarkan musik di sofa dan menontonku makan. Kalau kami tidak benar-benar lelah, dia akan membaca salah satu bukuku selagi aku membuat sketsa di tempat tidur dan kami akan bicara tentang semua omong kosong yang terjadi hari itu. Saat salah seorang dari kami sudah merasa terlalu lelah, yang lain akan menghentikan aktivitasnya dan bersiap-siap untuk tidur.

Situasi kami saling ketergantungan.

Selalu seperti gayung bersambut.

Gadisku mulai merasa semakin nyaman berada di kamarku. Dia bilang padaku saat malam pertama dia bersembunyi di sini, dia merasa kamarku seperti kuil baginya. Aku juga dengan senang hati memberinya akses tanpa batas menuju kamar mandiku. Dia selalu membawa sebuah kantong kecil dan menghabiskan setidaknya sepuluh menit di kamar mandiku sebelum tidur.

Saat kami berdua sudah siap untuk tidur, kami akan berbaring dengan pakaian lengkap di atas selimut. Baekhyun tidak pernah melepas jaket hoodie-nya, dan aku tidak pernah mengganti bajuku setelah mandi sore. Aku rasa kami berdua memang merasa lebih nyaman dengan adanya batasan beberapa lapis material di antara kami.

Untuk beberapa hari pertama, masih ada kecanggungan yang meresap, memenuhi suasana saat kami naik ke tempat tidur. Tapi, perasaan itu tidak pernah berlangsung lama setelah aku berbalik untuk mematikan lampu. Ini sudah seperti insting. Kami saling berhadap-hadapan dan tanpa ragu-ragu saling memeluk satu sama lain.

Saat Baekhyun membelai jarinya di rambutku, aku selalu mendesah puas. Rasanya terlalu menyenangkan. Kemudian beberapa saat kemudian, dia mulai bersenandung untukku, dan aku akan memeluknya lebih erat—dia sepertinya menyukai gesturku ini. Aku rasa inilah yang memicu Baekhyun untuk tidur. Dia senang dipeluk, pelukan membuatnya merasa aman.

Dan entah apa alasannya, aku membuatnya merasa seperti itu. Jadi, aku tidak pernah ragu-ragu lagi saat menariknya semakin dekat. Dan aku tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak meneguk wangi rambutnya yang lembut. Bunga, stroberi dan kue. Dan wanginya juga sudah seperti lagu pengantar tidur bagiku.

Aku selalu tertidur lebih dulu, tapi aku yakin gadisku juga tertidur tidak lama setelahku. Pada saat kami tertidur, kaki kami akan saling berpilin. Dan kami tidur benar-benar nyenyak. Bahkan badai terparah yang melanda Bucheon pun tidak dapat mengganggu tidur kami. Kami tidak pernah bermimpi, dan aku tidak pernah ingat apa-apa lagi setelah mendengarnya bersenandung.

Di pagi hari, jam alarm akan berbunyi tepat pada pukul lima tiga puluh, bahkan di saat akhir pekan. Baekhyun membenci jam sialan itu. Dia selalu memelukku lebih erat, berusaha memblokir suara lengkingan alarm, tapi aku akan selalu menarik diri dengan erangan jengkel. Karena aku juga benci dengan suara alarm itu, dan aku sudah tidak sabar untuk menghentikan lengkingannya.

Dia juga menghabiskan waktu sepuluh menit di kamar mandi setiap pagi. Melakukan apa pun yang biasa dilakukan perempuan di pagi hari. Mungkin menyikat gigi atau rambut, atau menyusun rencana untuk menyelamatkan bayi anjing laut. Entahlah. Dia tidak pernah meninggalkan jejak apapun di kamar mandiku, dan dia selalu langsung mengemas barang-barangnya di dalam tas dan menaruhnya di punggung. Dia akan selalu berjalan keluar setelah tersenyum padaku dan meletakkan sekantong plastik kue di meja, di samping tempat tidur. Dan aku selalu tersenyum balik karena kuenya bisa membuat hariku lebih baik.

Setelah dia turun dengan aman dari jenjang tanaman—terkadang, saat cuaca masih benar-benar gelap, aku akan mengintip keluar tirai untuk memastikannya baik-baik saja—aku akan memulai rutinitas pagiku sendiri dengan mandi dan melakukan hal umum lainnya yang dilakukan manusia normal.

.


.

Sehun sudah menungguku di pinggir jalan, tapi beberapa hari belakangan ini, aku sampai di rumahnya lebih awal. Sekarang, karena tidurku sudah cukup, aku merasa aman saat ngebut.

Rutinitas sekolah sama seperti biasa. Aku masih menghindari semua orang, termasuk Baekhyun. Aku masih bertemu dengannya di lorong, tapi aku tidak pernah membiarkan diriku untuk meliriknya, karena kalau aku melihatnya sedikit saja, aku akan tersenyum padanya. Dan semua orang akan bertanya kenapa Park Chanyeol tersenyum pada gadis baru.

Persetan dengan itu semua.

Dia sepertinya juga tidak keberatan melihat tingkahku. Dan dia seharusnya tidak perlu merasa aku lebih dekat dengannya daripada orang lain, termasuk Sehun.

Aku tahu dia masih merasa tegang di sekolah. Dia melakukan segala upaya untuk menjauhkan diri dari semua orang. Selalu menaikan hoodie-nya, dan tidak pernah benar-benar bicara dengan siapa pun, kecuali dengan Luhan. Dan untung saja, dia tidak lagi mengalami Gangguan Mental Aneh.

Aku selalu menghabiskan waktu istirahat siang dengan makan kue lezat buatannya. Sehun selalu menatap kantongnya dengan penasaran, bertanya-tanya dari mana aku mendapatkannya, tapi dia tetap diam, karena tahu dia tidak akan mendapat jawaban apa-apa dariku. Dia akan kembali makan dan melamun, mungkin membayangkan sedang meniduri Luhan. Aku tidak peduli. Aku akan melirik ke arah meja gadisku sesekali, dia sedang membaca.

Dia bilang padaku Kris tidak pernah menyinggung tentang insiden beberapa hari yang lalu. Aku senang mendengarnya, karena aku tidak mau benar-benar harus menghajarnya. Aku cukup yakin kalau aku berkelahi dengan Kris, aku juga akan cedera. Tubuhnya lebih besar dan tinggi daripada aku. Dan Paman Bogum juga akan marah. Belum lagi, itu memang bukan salahnya.

Kami menghabiskan waktu di kelas Biologi sambil mengabaikan satu sama lain. Saat tugas kelompok—dan ini jarang sekali terjadi—kami akan bicara sesedikit mungkin. Daehyun selalu menatap ke depan, menghindari kami.

Setelah sekolah berakhir, aku akan mengantar Sehun ke rumahnya dan pulang. Aku akan menunggu di kamar sampai Papi B pulang, dan kemudian aku turun lalu sedikit mengobrol dengannya. Dia senang melakukan omong kosong seperti itu. Dia selalu mengoceh tentang penemuan baru dari seni tradisional atau buku baru yang dibacanya. Tapi, aku selalu menghindar dari Kris. Dia masih membuatku kesal setengah mati.

Kemudian pada pukul sepuluh malam, gadisku akan datang, dan kami akan memulai rutinitas seperti biasa. Rutinitas yang sempurna.

Setelah menjalaninya selama seminggu, aku tidak bisa membayangkan harus berhenti melakukannya. Ini semua hanya membuatku lebih bertekad untuk tetap berpegang teguh pada aturanku sendiri. Baekhyun terlihat lebih gembira daripada yang pernah kulihat sebelumnya. Dan itu juga membuatku gembira. Dia bahkan terlihat sehat. Lingkaran hitam benar-benar hilang dari matanya setelah tujuh hari, dan aku rasa lingkaran hitam di mataku juga sudah hilang. Rasanya seperti menjadi manusia normal untuk yang pertama kalinya.

Di suatu tempat, di dalam pikiranku, aku tahu kami berdua terlalu saling ketergantungan pada rutinitas ini. Dan aku tahu ini tidak bisa berjalan selamanya. Tapi, aku memutuskan untuk menikmatinya selagi aku bisa.

.


.

Baekhyun POV

Satu minggu penuh. Tujuh malam penuh kebahagiaan bersama Chanyeol. Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Aku menunggu dengan cemas—sepanjang hari—sampai pukul sepuluh malam tepat tiba. Aku mulai datang lebih awal dengan alasan aku ingin tidur lebih lama, tapi, alasan sebenarnya adalah, aku sudah tidak sabar untuk melihatnya. Menyentuhnya.

Tanpa sadar, aku membuatkan Luhan, Bibi Irene, dan aku hidangan favorit Chanyeol, dan kemudian mengepak makanan ke dalam tasku. Aku selalu mulai membuat adonan kue tepat pukul sembilan malam, dan menyiapkan empat kantong plastik bening. Satu untukku, satu untuk Chanyeol, satu untuk Luhan, dan satu untuk Bibi Irene.

Aku harus menahan diri untuk tidak berjalan keluar pintu lebih awal dari pukul sepuluh. Dan aku tidak pernah melihat jam di microwave menunjukan pukul sepuluh lewat satu menit. Dan kalau aku berpikir aku ini seorang profesional dalam hal memanjat jenjang tanaman rambat sebelumnya, sekarang aku yakin, aku sudah bisa menulis sebuah instruksi manual penggunaannya (Selalu mulai dari anak tangga kelima, hindari anak tangga kedua belas dari sebelah kiri—itu akan menggores dinding, saat mencapai balkon, panjat enam anak tangga lagi sebelum melompat ke pagar balkon, hindari anak tangga kedua dari kanan—karena anak tangga itu sedikit rapuh dan akan mengeluarkan suara derak saat diinjak).

Chanyeol selalu menungguku saat aku mengetuk pintu, dan dia selalu menarik lepas hoodie-ku dari kepala setelah aku berada di dalam kamar. Entah apa alasannya dia melakukan itu.

Dia akan makan di tengah-tengah tempat tidur, seperti sebelumnya, dan aku akan melihatnya makan, dan menikmati suara erangan dan gumamannya. Aku berpura-pura mendengarkan musik, hanya satu earphone yang terpasang di telingaku agar aku bisa mendengar suaranya lebih jelas.

Dalam beberapa hari, kami tidak benar-benar cukup lelah untuk langsung tidur. Ya... dia yang tidak cukup lelah, aku selalu tidak sabar untuk naik ke tempat tidur bersamanya, tidak peduli aku lelah atau tidak. Tapi, terlepas dari ketidaksabaranku, aku masih merasa senang saat mengobrol dengannya. Jadi, aku akan mengambil salah satu bukunya dan mencoba membaca selagi dia membuat sketsa. Aku tidak pernah membaca terlalu jauh sebelum kami masuk ke dalam percakapan yang menarik.

Aku akan mencoba untuk menunggu sampai dia merasa cukup lelah untuk tidur, tapi pada beberapa kesempatan, aku tidak bisa menunggu lagi, dan aku akan menutup bukuku untuk menunjukkan aku sudah siap untuk tidur. Dia sepertinya tidak keberatan saat aku memotong sesi sketsanya.

Dia membiarkanku menggunakan kamar mandinya untuk menyikat gigi dan rambutku, dan mencuci muka. Aku tidak bisa membayangkan kengerian tidur di samping Chanyeol dengan napas bau.

Dia tidak pernah mandi selagi aku di sini, jadi aku rasa dia sudah mandi sore hari, sama sepertiku. Tapi, dia menghabiskan beberapa menit di kamar mandi selagi aku menunggu di tempat tidurnya.

Kami selalu tidur dengan berpakaian lengkap dan menggunakan celana jeans. Ini sedikit tidak nyaman, tapi aku merasa canggung untuk membicarakan masalah ini. Dan karena kami berpakaian lengkap, dan tidak pernah kedinginan, kami tidak pernah tidur di bawah selimut. Itu semua akan terasa terlalu intim. Tapi, aku tidak peduli. Aku akan menikmati apapun yang bisa kunikmati saat ini.

Setelah lampu dimatikan, Chanyeol tidak pernah ragu-ragu berbaring menghadapku dan memelukku. Aku menyukainya. Aku hidup untuk ini. Kepalaku secara otomatis akan bersandar di dadanya. Setiap malam dia akan terus memelukku semakin erat, dan ini membuatku rileks.

Tidurku selalu tanpa mimpi, dan aku selalu terbangun karena suara jam alarm bodohnya. Aku akan menahannya dalam pelukanku, dan dia selalu berhasil menarik diri. Tapi, aku tidak keberatan, karena aku selalu mengatakan pada diriku sendiri kami bisa melakukan ini lagi dalam waktu tujuh belas jam. Bukan berarti aku menghitungnya.

Aku akan berlari ke kamar mandi secepat mungkin. Rambutku selalu berantakan. Aku rasa Chanyeol benar-benar senang membenamkan wajahnya ke rambutku. Dan, tentu saja, aku tidak keberatan sama sekali.

Aku memastikan untuk mengepak semua barang-barangku, sebelum meninggalkan sekantong plastik kue, di meja samping tempat tidur. Aku selalu menatap jahat jam alarm itu sebelum berjalan keluar.

Aku selalu pulang dan mandi sebelum Bibi Irene terbangun, dan biasanya sarapan buatanku sudah siap saat Bibi Irene dan Luhan masuk ke dapur.

Sekolah biasanya berhasil membuat suasana hatiku berubah menjadi masam. Aku sadar orang lain selalu menatapku was-was. Aku berusaha lebih keras daripada sebelumnya untuk menjaga wajahku tetap datar.

Chanyeol masih mengabaikanku, tapi aku tidak pernah mengharapkannya bersikap berbeda. Dia menghiburku hari itu, setelah emosiku terguncang, dan melanggar aturannya sendiri. Tindakannya sangat berarti bagiku. Dan aku tidak mengharapkan lebih daripada itu.

Dan jam makan siang selalu terasa menegangkan. Kris yang malang tidak pernah mencoba lagi untuk bicara padaku setelah aku meminta maaf hari Jumat lalu, sehari setelah insiden memalukan itu terjadi. Dan kemudian, aku mencurahkan seluruh perhatianku pada buku dan kue. Walaupun, sesekali aku tetap memandang Chanyeol yang duduk di seberang ruangan, dan dia selalu makan kue buatanku yang kutinggalkan paginya. Ini membuatku tersenyum. Dan aku sama sekali tidak keberatan dia mengabaikanku di kelas Biologi. Aku bisa mencium wanginya dari kursiku, dan wanginya selalu bisa menenangkan sarafku.

Aku dan Luhan akan nongkrong sepulang sekolah. Dia akan memohon-mohon padaku untuk membiarkannya mendandaniku, dan aku akan menolak dengan keras. Saat dia cemberut, yang perlu kulakukan hanyalah mengomentari pakaian yang dikenakan Sehun hari itu. Lalu aku akan menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan kicauannya di tempat tidurnya. Ini membuatku merasa seperti gadis normal. Satu-satunya kendala yang tidak bisa kulakukan adalah mengoceh tentang Chanyeol padanya.

Aku tidak bisa mengabaikan perasaanku pada Chanyeol. Aku tahu aku menyukainya lebih dari sekedar teman, dan aku akan senang kalau dia juga merasakan hal yang sama padaku. Tapi, sudah jelas bagiku dia tidak pernah menganggapku seperti itu. Dan aku belum siap untuk menempatkan batasan dengan mengungkapkan perasaanku ini padanya.

Sebagian dari diriku berharap, sekalipun dia menganggapku lebih dari sekedar teman, hubungan kami tidak akan berlangsung lama. Dan sebagian yang lain, bagian yang egois dari diriku, tetap mengharapkan sesuatu yang lebih darinya.

.


.

Sekarang hari Jumat, dan aku berada di aula mengikuti pelajaran olah raga. Aku senang ini kelas terakhir sebelum berakhir pekan.

Kami harus mengenakan pakaian seragam olah raga jelek ini, tapi guru membiarkanku memasang hoodie. Kami sedang bermain basket, dan untungnya laki-laki dan perempuan berada pada tim terpisah, jadi aku tidak punya risiko untuk terkena sentuhan laki-laki. Sayangnya, suasana hatiku yang cerah tidak dapat berlangsung lama karena Choi Sulli satu tim denganku.

Dia duduk di dua kursi di bawahku, di bangku-bangku aula, rambut panjangnya yang dicat merah menjijikkan sengaja dibuat keriting, dan dia bersandar ke arah Jiyoung yang duduk di sampingnya. Mereka berdua mengunyah permen karet dengan ribut.

Sulli dan Jiyoung sedang mendiskusikan petualangan liar mereka saat tim perempuan duduk di bangku-bangku menunggu tim laki-laki menyelesaikan permainan mereka. Dan aku bergumul dan berjuang keras untuk tidak mendengarkan perkacapan mereka. Aku mencoba untuk berfokus pada hal lain; seperti tekstur bola basket yang sedang kupegang, keabsurditasanku mengenakan jaket hoodie dengan celana pendek, dan suara derit lantai kayu yang mengkilap saat tim laki-laki berjuang mengontrol bola, aku bahkan diam-diam meletakkan tangan di atas telingaku.

Seandainya aku punya iPod.

Tapi begitu nama Chanyeol disebut, pikiranku secara otomatis bereaksi di luar kehendak dan memutuskan segala kontak dengan hal lain yang terjadi di sekitar, lalu terfokus pada suara melengking Sulli.

"Park Chanyeol," ucap Sulli sambil mengangguk. Aku tidak tahu apa yang diucapkannya sebelum ini, dan aku tidak punya kesempatan lagi untuk memblokir suaranya sekarang. "Pasangan tidur terbaikku. Aku menyerah. Tidak ada kompetisi sama sekali."

Penglihatanku berubah merah dan darahku mendidih. Aku sudah mengira mereka memang berhubungan seks, tapi ini baru pertama kalinya aku mendapat konfirmasi langsung. Rambut jeleknya hanya berjarak beberapa inci dari kakiku. Aku membayangkan untuk mengangkat kakiku, dan menendang kepalanya.

Jiyoung langsung cekikikan. "Ya, aku tahu kau akan bilang Park. Sekalipun kalian hanya melakukan itu di kursi belakang mobilnya." Dia menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir. Sulli hanya mengangkat bahunya.

Sekarang aku merasakan dua emosi yang saling bertentangan. Aku senang mereka tidak melakukan itu di tempat tidurnya. Tempat tidur yang kami tempati bersama. Karena kalau itu sampai terjadi, aku rasa aku tidak akan bisa lagi menganggap kamar Chanyeol seperti kuil. Tapi, sekarang aku punya rincian yang jauh lebih banyak dan aku tidak ingin mengetahuinya. Sekarang aku bisa membayangkan apa yang sudah mereka lakukan di kepalaku, dan aku tidak menginginkan ini.

Mereka berdua bersandar ke bangku dan menempatkan kaki di kursi depan.

"Jadi, Sulli..." Jiyoung bicara dengan nada penuh skandal, "Beri tahu aku tentang keahlian Park." Dia menyeringai.

Aku menahan napas dan berjuang keras untuk memblokir suara mereka. Celana hijau pendek... Maskot sekolah yang menggelikan... Lantai yang mengkilap...

"Ciumannya begitu fantastis..." Sulli memutar-mutar sejumput rambutnya.

Aku menggeleng dan mencoba untuk lebih berkonsentrasi melindungi diri dan mengepalkan tanganku di sekitar bola basket yang kupegang. Peralatan olah raga yang rusak... Kekurangan asupan dana pendidikan dalam sistem pemerintahan... Ayam panggang dengan sayuran rebus...

"Dan, oh, Tuhan, tangannya..." desahnya sambil melamun.

Aku mengertakkan gigiku, memegang bola semakin keras, dan berusaha semakin keras untuk mengalihkan pikiranku. Teorema Pythagoras... Teori Relativitas... Aksi sama dengan reaksi...

"Belum lagi, dia tipe orang yang pendiam, jadi tentu saja, dia suka bicara jorok di telingaku." Dia mencibir dan kemudian meniup gelembung permen karet.

Aku memejamkan mataku erat-erat dan menggeleng panik, menekan ujung jariku ke dalam bola dengan keras sampai-sampai ujung-ujung jariku terluka. Bloody Jungs... Karpet emas... Mata indah...

Sulli menjilati bibirnya. "Dan suara erangannya saat aku menghisap—"

Aku melemparkan bola dengan keras ke kepala Sulli, membuatnya tersentak maju dan memotong ucapannya.

Dia meraih bagian belakang kepalanya dan berbalik ke arahku. "Hei! Apa masalahmu, Orang Aneh!" pekiknya.

Semua aktivitas di aula langsung terhenti saat mendengar suaranya yang sangat keras dan melengking, dan semua orang berbalik ke arahku. Rahangku masih terkatup rapat, sampai-sampai gigiku sakit dibuatnya. Aku melihat sekeliling aula dan semua mata menatapku bingung. Tapi, aku sudah terbiasa dengan cara orang-orang melihatku seperti aku ini orang aneh, dan tidak akan kubiarkan diriku meminta maaf pada Sulli untuk apa yang sudah kulakukan.

Tepat saat aku hendak berdiri dan berjalan menjauh dari situasi ini, pelatih meniup peluitnya, memberi sinyal pada kami untuk kembali ke ruang ganti. Semua orang menaruh bola basket ke tempat semula dan mulai berjalan keluar dari aula, sambil sesekali melirik ke arah kami. Sulli masih berdiri di sana, memelototiku dengan ekspresi marah. Aku tidak meminta maaf. Aku berdiri, lebih tinggi darinya, dan berjalan ke arah ruang ganti dengan hoodie menutupi kepalaku yang tertunduk.

.


.

Pukul sepuluh malam tidak bisa datang lebih cepat. Suasana hatiku sudah jelek semenjak keluar dari kelas olah raga, dan aku tahu hanya ada satu orang yang bisa membuatnya lebih baik. Setiap kali aku memejamkan mata, aku bisa melihat bayangan dari ucapan Sulli. Aku ingin menuangkan pemutih ke dalam otakku agar bayangan ini hilang. Aku ingin menemukan cara untuk menghapus memori dari semua ucapannya. Tapi, tidak peduli apapun yang sedang kulakukan, bayangan itu selalu ada, berdiri di garis terdepan, membuatku gila.

Merasa sangat cemburu pada Sulli adalah tindakan yang benar-benar tidak rasional. Ya, dia bisa memiliki Chanyeol dengan cara yang tidak mungkin bisa kulakukan. Tapi, aku memiliki Chanyeol dengan cara yang tidak mungkin bisa dia lakukan. Memikirkan ini sedikit membuatku merasa nyaman.

Jadi, pada saat waktunya tiba, aku langsung mengemasi kue Wrathful Walnut Fudge yang baru saja kubuat, dan menambahkannya ke dalam kantong makanan untuk Chanyeol, lalu melesat keluar pintu.

Aku mengetuk pintu kacanya dengan tidak sabaran dan menggoyang-goyangkan kakiku. Akhirnya dia datang, berdiri di depanku dalam balutan baju kaos hitam dan celana jins gelap, beberapa helai rambutnya jatuh ke mata, dan ekspresinya terlihat tenang. Dia beranjak agar aku bisa masuk, dan segera setelah pintunya ditutup, dia mengulurkan tangannya, seperti biasa, dan menurunkan hoodie dari kepalaku. Dan tangannya... Aku sedikit meringis, dan beranjak pergi untuk membongkar makanan.

Dia makan dengan gembira. Terlalu gembira. Semua erangan dan gumamannya hanya membuat bayangan visualku terlihat lebih jelas. Dan suara erangannya... suara Sulli memenuhi pikiranku. Aku kembali meringis.

Aku duduk dengan tegang di sofa, menggoyang-goyangkan sebelah kakiku naik-turun dengan cepat, dan mengetuk-ngetuk jari-jariku di lutut. Aku harus menghapusnya. Aku harus melakukan sesuatu untuk mengeluarkan bayangan ini dari kepalaku.

"Ada apa denganmu?" tanya Chanyeol setelah dia selesai makan.

Aku hanya menggeleng dan berusaha tersenyum. "Tidak ada apa-apa," jawabku dengan manis.

"Omong kosong," ucap Chanyeol singkat, menaikan sebelah alisnya.

Aku menghela napas dalam-dalam. Dia selalu tahu saat ada yang tidak beres. Aku seharusnya sadar.

Aku menaikan lututku dan memeluknya. Dia masih menatapku, menunggu jawabanku. Tidak mungkin aku memberitahu Chanyeol. Itu akan membuat perasaanku padanya terlihat begitu jelas. Jadi, aku memutuskan untuk melakukan hal yang sama padanya seperti yang sering dia lakukan padaku.

"Hariku benar-benar menyebalkan." Aku tidak berbohong. Dia masih menungguku menjawab lebih lanjut, tapi aku tetap diam.

"Oke," ucapnya perlahan, menatapku dengan hati-hati. "Kau mau membicarakannya?" tanyanya khawatir.

Aku menggeleng pelan dan memejamkan mata, berdoa agar dia tidak mendorongku untuk membicarakan ini. Suasana kamar ini hening untuk waktu yang lama, dan aku terus memejamkan mataku.

"Hei," bisik Chanyeol lembut.

Aku membuka mataku perlahan, memohon dengan tatapanku agar dia tidak memaksaku.

Dia menatapku seperti ini selama beberapa menit. Lalu perlahan-lahan dia mengangkat tangan di depan tubuhnya, seperti menawariku sebuah pelukkan. Aku tidak ragu-ragu. Aku berdiri dari sofa dan mencoba untuk berjalan selambat mungkin menuju tempat tidurnya.

Tapi caraku berjalan ini masih bisa dikategorikan sebagai berlari. Aku naik dan terjun ke dalam pelukannya, hampir membuatnya terjatuh ke belakang karena kekuatan doronganku. Aku membenamkan kepalaku ke lekuk lehernya, menghirup wangi tubuhnya dan membiarkannya membuatku rileks saat dia memelukku erat-erat.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menjangkau ke belakang dan mematikan lampu sebelum membaringkan tubuh kami ke posisi biasa. Setelah beberapa lama kemudian, dia masih membelai rambutku dan menggosok punggungku. Aku tiba-tiba merasa lelah. Jadi, aku mulai membelai rambutnya dan menyenandungkan lagunya, membuatnya tertidur.

Aku bisa merasakan tangannya di punggungku, di rambutku yang kusut, dan aku membiarkan nuansa ini menghapus bayangan tangannya di tubuh Sulli. Lagi pula, aku satu-satunya orang yang berada di tempat tidurnya di malam hari.

Maybe if my heart stops beating

It won't hurt this much

-Never Let This Go, Paramore

.


.

tbc