TRUE LOVE SWEET LIES

CHAPTER 10


"Mungkin kau akan berkata bahwa ini bukan urusanku lagi, tapi... Aku mendengar pembicaraan kalian di bar. Kenapa kau bersikeras membawa masalah ini untuk dirimu sendiri?"

Sasuke diam beberapa saat, onyxnya meredup. "Aku hanya tidak ingin mereka terseret." ujarnya, setelah berhenti cukup lama ia melanjutkan, "Karena... Pelakunya... Mengincarku."

Sakura diam tak bergeming mendengar pernyataan Sasuke. Kakinya bahkan terasa sangat lemas untuk berdiri. Jadi selama ini pelaku tersebut mengincar nyawa Sasuke. Dan itulah mengapa selama ini ia berusaha melindungi rekan-rekannya?

"Tapi kenapa? Kenapa dia mengincarmu?" tak bisa dipungkiri lagi kini kecemasan tercetak jelas di wajah Sakura.

"Aku cukup yakin pelaku tersebut masih berhubungan dengan kasus yang pernah aku selesaikan beberapa tahun yang lalu." Sasuke menghela napas, "Yang ku lakukan saat itu hanya meng-hack situs mereka dan selesai begitu saja." Sasuke mendudukkan dirinya dan menyeruput pelan jusnya, "Tapi sepertinya mereka menganggap aku sebagai musuh yang berbahaya sampai mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa hanya untuk menemukanku."

"Sasuke-kun.." Sakura kembali mengingat saat dimana Sasuke kembali dengan luka-luka di sekujur tubuhnya dan peristiwa bom yang juga terjadi pada waktu yang sama, "Luka-luka yang kau dapat sebelumnya. Kau mencoba menghentikan bom itu seorang diri, benar begitu?"

"..."

"Bisakah kau menghentikannya sekarang juga!" Sakura mengatupkan kedua tangannya pada pipi Sasuke saat pra itu mencoba mengalihkan pandangannya, "Meskipun kau tahu dia hanya menginginkanmu bukan berarti kau harus menghadapinya seorang diri!"

"Aku menyelesaikan masalahku sendiri."

"Sasuke-kun.."

"Tak apa. Biarkan aku melakukan ini." Sasuke meraih kedua tangan Sakura dan menatap emerald disana, "Bukankah kau mempercayai aku?"

Sakura mempercayainya. Sangat percaya, tapi.. dia takut kalau ia mengatakannya Sasuke akan pergi ke tempat yang sangat jauh, dengan pelan Sakura memalingkan wajahnya.

"Sakura.. Lihat aku."

"..."

Sasuke dengan lembut menarik Sakura dan memeluknya. Sementara Sakura sudah benar-benar ingin menangis sekarang. "Kau akan terus mendukungku bukan?"

Ucapan Sasuke yang lembut dan terkesan memohon merembet ke telinga Sakura. Sepertinya tidak ada sesuatu yang bisa Sakura lakukan untuk mengubah pikiran Sasuke. Jadi dia mengangguk memberikan jawaban meski itu sangat berat baginya.

"Bagus.."

"Tapi aku merasa kesal. Hanya duduk tanpa melakukan apapun." Sakura menggigit bibirnya, mengundang dengusan dari Sasuke yang segera mengacak helaian pinknya.

"Tapi kau sudah menjadi penolong yang besar bagiku. Foto yang kau berikan padaku adalah petunjuk yang besar." Sasuke melepaskan pelukannya, terlihat raut bangga terpancar samar di wajahnya yang tampan.

"Benarkah?"

"Hn. Kau sudah melakukannya lebih dari cukup, Sakura." Sasuke tersenyum singkat lalu kembali memasang wajah seriusnya dan dia kembali berkutat dengan komputernya.

Tap tap tap tap

Ketikan pada keyboardnya menggema diseluruh ruangan kantor. Melihat bagaimana fokusnya Sasuke saat melihat ke arah layar, sekali lagi Sakura harus meneguhkan hatinya, bagaimana pun ia akan mendukungnya kalau hanya itu yang bisa ia perbuat.

Meski ia tidak benar-benar ingin Sasuke melakukan semua ini seorang diri.

.

.

.

Beberapa hari kemudian sepulangnya mengantarkan foto-foto pada redaksi Sakura berpapasan dengan Itachi dan Pain yang turun dari lantai atas.

"Kau terlihat sibuk, Sakura?" Itachi berdiri tegap bersama Pain yang masih memamerkan senyumannya.

"Ah, aku baru saja menyerahkan foto-foto pada redaksi tadi. Jadi kurasa aku tidak sibuk sekarang."

"Hm.." Pain mengangguk-angguk, "kami baru saja berencana untuk meminum kopi, kau mau bergabung?" lanjutnya.

"Terima kasih. Tapi aku sudah minum cukup banyak kopi saat menyerahkan fotonya." Sakura tahu, kedua pria ini menginginkan sesuatu darinya. Saat dia berusaha menghindar, Itachi meraih lengannya.

"Ikut saja." Titahnya.

Ding ding ding

Kiba yang sedang berbenah melongok dari meja bar, "Maaf tapi tempatnya belum buka. Oh rupanya kalian.."

"Bisakah kita memesan 3 cangkir kopi?" setelah mendapat anggukan dari Kiba Pain pergi ke meja menyusul Itachi yang sudah duduk disana.

"Sebenarnya aku.."

"Kau ingin sesuatu yang lain?" tanya Kiba.

"Ya, uh.. oh apa kau punya jus tomat?"

"Tentu."

"Kalau begitu aku ingin itu." Saat Sakura meninggalkan meja utama dan duduk bersama rekannya, Itachi dan Pain menyeringai satu sama lain.

"A-apa?!"

"Oh tidak, hanya saja menghabiskan waktu dengan seseorang membuat kalian mulai terlihat mirip." Itachi mengerling genit.

"Huh?"

"Jus tomat disini dibuat spesial untuk Sasuke. Sejak kapan kau menyukai minuman asam itu, Sakura?" kini giliran Pain yang menyerangnya.

Oh benar juga, Sakura sudah terbiasa meminumnya akhir-akhir ini jadi Ia tidak sadar kalau dirinya mulai tertarik dengan minuman asam itu.

Tak berapa lama kiba datang dan meletakkan pesanan mereka.

"Bukankah ini hanya berisi tomat?" Sakura mengaduk jus tomatnya, memandanginya dengan aneh. Baginya jus tomat itu lebih terlihat seperti bubur tomat. Hanya ampas.

"Oh, maaf. Aku membuat minuman yang sama dengan pesanan Sasuke. Apa kau mau yang lainnya?"

"Tak apa. Dia dan Sasuke mempunyai selera yang sama." Itachi melirik pada gadis yang masih terheran-heran dengan minumannya, mendengar hal itu Kiba tersenyum lega. Sementara Sakura menyeruput sedikit minumannya.

"A-asam..!"

"Ngomong-ngomong tentang Sasuke." Itachi dan ketua memandangi Sakura bersamaan dan dengan cepat Sakura menoleh ke arah lain, "Dia sedang melakukan sesuatu bukan?" lanjut Itachi, "Apa kau tahu sesuatu tentang ini?"

Sakura menggeleng. Sasuke ingin menyelesaikan ini sendiri dan memintanya untuk tidak membocorkannya. Jadi dia tidak akan menyalahgunakan kepercayaan yang telah Sasuke berikan padanya.

"Aku juga berpikir demikian. Aku yakin kau mengetahui sesuatu. Menjaga rahasia bisa menyebabkan banyak stres kau tau. Tidak baik untuk kesehatanmu." Kata Pain.

"Ah uhm, ngo-ngomong-ngomong tentang kesehatan.. Apakah memang benar kalau sangat baik untuk meminum vitamin C sebelum tidur?" Sakura tahu sikapnya yang mengalihkan pembicaraan seperti ini malah hanya akan membuat kedua pria tersebut tahu jika dirinya tengah berbohong.

Kedua pria itu nampak bingung dengan pertanyaan Sakura.

"Apa kau serius saat bertanya padaku tentang skincare?" Pain menunjuk mukanya.

"Dengar ini bukan waktunya untuk bermain-main." Tukas Itachi.

"Aku tidak main-main! Aku benar-benar tidak tahu apapun. Jadi tidak ada yang harus aku katakan pada kalian."

"Oh, jadi kau tidak keberatan kalau Sasuke sekali lagi hampir terbunuh?"

Deg

"Semua luka yang ia dapat, dia dapatkan dari bom bukan?" itachi memandang lekat emerald di hadapannya. Disisi lain Sakura terlihat terkejut.

"...Kau mengetahuinya?" Sakura berkata lirih

"Tentu saja kami tahu. Kami hanya tidak memberitahu kamu karena kami takut kau akan khawatir. Tapi tetap saja Sasuke tidak bersedia mengatakan apapun. Kami khawatir padanya." Pain dan Itachi saling melempar tatapan cemasnya.

"Lalu kenapa kalian bertanya padaku?"

"Apa kau tidak sadar bagaimana gelisahnya saat kau melihat Sasuke akhir-akhir ini? Saat salah satu terlihat begitu gelisah tentu itu membuat kami khawatir kau tahu!"

"Sakura, bisakah kau bergantung pada kami sekali saja? Kami akan melakukan apapun untuk melindungi Sasuke, dan untuk membuatmu bahagia." Pain dan itachi memandang Sakura sangat hangat, bahkan hal itu cukup mampu membuat mata Sakura berair.

"Kalian.. akan menolong Sasuke?"

"Tentu saja."

"...Baiklah..."

.

.

.

Saat ketiganya kembali ke kantor, dengan cepat Itachi dan Pain memojokkan Sasuke. Merasakan sesuatu yang janggal membuat Sasori dan Gaara ikut bergabung juga.

"Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami?" mendengar pertanyaan dari Itachi Sasuke spontan menoleh pada Sakura.

"Kenapa?" ujarnya, mata hitamnya menatap Sakura tidak percaya.

"Maaf." Saat Sakura mulai membungkukkan tubuhnya Pain menahannya.

"Kau tidak perlu meminta maaf, Sakura. Aku bosmu. Kau hanya mengikuti perintahku."

Sasuke mendengus kesal, "Baiklah. Apa kalian ingat kasus yang terjadi 3 tahun lalu?"

"Maksudmu kejahatan internet itu?" tanya Sasori.

"Maksudmu orang yang terlibat game itu?"

Sasuke mengangguk.

"Uh, apa itu?"

"Itu adalah game yang cukup populer dulu." Gaara angkat bicara atas pertanyaan Sakura, "Mereka memakai game untuk menutupi perdagangan gelapnya. Mereka menjual narkoba dan senjata, juga bom."

"Bom?"

"Tentu saja kami segera menutupnya sebelum mereka berhasil menjualnya dan sesuatu yang berbahaya terjadi." Lanjut Gaara. "Sasuke yang menghack game itu lebih tepatnya."

Jadi itulah mengapa ia mengincar Sasuke.

"Orang yang mencoba ikut campur saat itu mungkin pria ini." Sasuke menggertakkan giginya pelan.

"Aku mengerti. Jadi dia akhirnya mendapatkan bom yang Sasuke coba gagalkan.. dan dia membalaskan dendamnya dengan mengincar Sasuke." Pain menggumam lalu menyandarkan bokongnya pada meja.

"Tapi tidak ada alasan untuk menghadapinya seorang diri, Sasuke. Meskipun memang kau yang menyelesaikan akhirnya, kita semua juga terlibat. Tidak ada bedanya." Tidak peduli seberapa menyebalkannya Sasuke, sebagai seorang kakak, Itachi tidak mungkin membiarkan adiknya yang ceroboh ini bertarung seorang diri.

"Ini kasusku." Sasuke memotong ucapan Itachi dengan nada yang terdengar jelas bahwa dia tidak ingin perdebatan. "Aku adalah orang yang mampu mengalahkan dia, dia juga berpikir demikian. Itulah mengapa hanya aku lah yang ia kirimi tantangan. Ini tantangan untukku."

"Sasuke.."

"Biarkan aku mengatasinya."

Semua orang saling melempar pandangan khawatirnya. Mereka tahu perasaan Sasuke. Tapi setelah mengetahui semuanya mereka tidak bisa mundur begitu saja. Merasa jengah Sasuke akhirnya berdiri dan meninggalkan kantor.

"Sasuke-kun!" Sakura berlari menyusul Sasuke, setidaknya ia ingin meminta maaf, "Tunggu."

"Kenapa?" Sasuke hanya berdiri memunggunginya, namun jauh di dalam sana Sasuke merasa kecewa.

Huh?

"Kenapa kau memberitahu mereka? Bukankah kau mempercayaiku?"

"Tentu saja. Aku... hanya khawatir denganmu."

"Aku tidak ingin mendengar alasanmu." Hanya itu yang Sasuke katakan sebelum akhinya dia pergi. Sementara Sakura mematung, tidak mampu menyuruh tubuhnya untuk mengikuti Sasuke lebih jauh lagi.

.

.

.

Hari kembali berlalu dengan ketegangan yang masih terasa. Keduanya -Sasuke dan Sakura- saling tidak berbicara maupun menyapa hari ini. Meski masih tinggal dalam satu atap, tapi keduanya terlihat semakin menjauh waktu demi waktu, atau lebih tepatnya Sasuke menjauhinya.

"Oh, kau disini?" Itachi yang memasuki dapur menyadari Sakura sedang terbengong, tentu saja ia tahu mengapa gadis itu bertingkah demikian. "Ada apa?"

Sakura berjenggit, untuk beberapa saat yang lalu dia pikir itu adalah suara Sasuke, "Oh, bukan apa-apa."

"Kau tidak berbakat berbohong. Kau sedang ada masalah dengan Sasuke bukan."

"... Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kalian berdua mudah ditebak. Akhir-akhir ini kalian tidak banyak mengobrol. Apa ini karena kami?"

Sakura menggeleng, "Ini semua salahku." Meski mencoba untuk menahan emosinya tetap saja Sakura mulai menangis saat mengatakannya, "Ah. Haha sekarang kenapa aku menangis?" Sakura dengan cepat menyeka air matanya dan mencoba tersenyum.

"Kau sangat jelek." Gerakan Itachi yang sangat cepat membawanya kedalam pelukan membuat Sakura membelalak. "Kau tidak perlu menyembunyikannya. Lepaskan saja dan menangislah. Kenapa kalian berdua selalu mencoba menyelesaikan masalah sendiri?"

Bruk

Keduanya menoleh bersamaan saat sesuatu terjatuh dan mendapati Sasuke berdiri memandangi mereka

"Apa yang kalian lakukan?"

.

.

Setelah kejadian itu Sasuke segera pergi sebelum mereka sempat menjelaskannya. Dan karena kejadian saat itu Sakura semakin jarang bertemu dengan Sasuke meski mereka tinggal satu gedung. Kalau tidak ada urusan di kantor, Sasuke lebih memilih untuk pergi entah kemana. Apalagi sampai sekarang, Sakura bahkan masih bisa mengingat ekspresi Sasuke setiap kali ia memejamkan matanya. Ia sangat ingin menjelaskannya, namun.. Sakura menatap Sasuke dan pria itu sepertinya menyadarinya karena dia mendongak dari layar komputernya. Tapi...

Drrt

"Halo, ya, ini Sakura." Ujar Sakura sepelan mungkin.

"Oh, halo. Aku memiliki pekerjaan untukmu. Tapi pekerjaan ini bukan untuk surat kabar atau semacamnya. Apa kau bersedia?"

"Ya. Tidak apa-apa."

"Ada sebuah toko yang aku ingin kau ambil beberapa gambarnya"

"Sebuah toko?"

"Ya, aku minta maaf karena mengabarimu mendadak, tapi bisakah kau melakukannya sekarang?"

"Apa?! Sekarang?!" Saat Sakura menoleh ke arah ketua, Pain memberinya tanda ok dan mengatakan kalau dia boleh pergi selama dia mengajak orang lain bersamanya.

"Baiklah, aku bisa." Setelah menerima alamat tokonya Sakura mematikan telponnya.

"Pekerjaanmu kelihatannya berjalan lancar." Pain tersenyum.

"Tapi ini hanya karena mereka utuh pengganti." Sakura mengendikkan bahunya pasrah.

"Kau belum mengerti. Ini mungkin juga salah satu hal yang akan membawamu ke kesempatan yang lebih besar. Jangan menyia-nyiakannya."

"Tentu saja." Sakura tersenyum lebar lalu memasukkan kamera ke tasnya dan bersiap keluar.

"Sasuke, ikut dengannya." Perintah Pain.

Apa?!

Sakura segera menoleh pada Pain yang tersenyum seperti biasa lalu beralih pada Sasuke yang memandanginya dengan tatapan penuh keberatan.

"Huh? Kenapa?" Sasuke mencoba protes.

"Kau ingat pekerjaan terakhirnya hampir membunuhnya. Siapa tahu hal itu akan terjadi lagi." Itachi mengerutkan keningnya. Mencoba terlihat sangat serius.

"Kalau begitu berpikirlah juga, akan lebih berbahaya kalau dia bersamaku."

Itachi menghela napasnya, setelah merapihkan dokumen di mejanya ia berjalan mendekati Sakura, "Baiklah kalau begitu aku yang akan menemaninya."

"Apa?" onyx Sasuke terlihat melebar, ia bahkan berdiri dari kursinya.

"Kalau kau tidak bisa, aku yang akan menjaganya." Itachi menarik Sakura dan merangkul pinggangnya.

"?!"

"Ah, ada apa ini?" Pain yang sedari tadi diam ikut menyusul Itachi, "Kalau itu masalahnya, aku lah satu-satunya orang yang harus menjaganya." Kini Pain protes dan berdebat dengan Itachi.

"Ka-kalian tidak harus..."

Srak

Geseran kursi yang cukup kuat membuat kedua pria yang sedang berdebat menolehkan pandangannya pada Sasuke yang segera menarik Sakura keluar.

.

.

Pada akhirnya, sepanjang jalan mereka hanya mengatakan satu dua patah kata dalam perjalanannya.

"Aku akan segera selesai." Kata Sakura.

"Hn."

.

.

Waktu bergulir begitu cepat. Sakura yang terlalu menikmati pekerjaannya tidak menyadari hari sudah menggelap. "maaf, butuh waktu lama dari perkiraanku." Ujarnya merasa tak enak membiarkan Sasuke menunggunya begitu lama.

"Kau selesai?"

"Ya." Sakura mengangguk.

Tanpa membalas percakapan tersebut Sasuke mulai berjalan mendahului, dan hal selanjutnya yang Sakura ingat adalah tangannya yang menarik ujung kemeja Sasuke. Apa yang aku lakukan?

"...Apa?" Tepakan kaki Sasuke berhenti, pemuda pantat ayam itu menoleh.

"Oh, uhm... aku hanya berpikir kalau kita harus bicara."

"Hn, baiklah."

Drrrt

Sebuah getaran di saku Sasuke mengurunkan niat Sakura untuk berbicara karena sedetik setelah Sasuke melihat layar ponselnya, pria itu terlihat menegang. Mungkinkah?

"Halo."

"Aku ragu apakah kali ini kau bisa menghentikannya. Aku meletakkannya di tower."

"Apa?"

"Apa kau siap? Mulai."

"Tower lain? Maksudnya...?" Sasuke menggumam memandangi layar ponselnya.

"Bangunan yang baru saja selesai... Sky tower?" Sakura turut menggumam.

"Aku akan menuju kesana." Sasuke menghentakkan tangan Sakura lalu mulai berlari, namun di belakang sana Sakura bersusah payah mengejarnya.

"Tunggu!" pinta Sakura berusaha mengejar Sasuke yang sudah cukup jauh meninggalkannya.

"Kau tinggal disana!"

"Tidak! aku akan ikut denganmu! Kalau yang bisa aku lakukan hanya mencemaskanmu lebih baik aku ikut." Sakura berteriak sekeras yang ia bisa sambil terus mengejar Sasuke hingga pria itu memutuskan berhenti.

"Baiklah. Tapi tetap berada di dekatku!" belum sempat mendengar balasan darinya Sasuke mulai menarik tangan Sakura dan kembali berlari. Meski sangat sulit untuk menyamakan irama kakinya dengan Sasuke, Sakura terus menggenggam erat tangan Sasuke agar dirinya tidak tertinggal. Tak apa jika Sasuke menyeretnya kalau dia teratuh nanti.

Sakura memandangi punggung lear Sasuke di depannya, memandang penuh rindu, tangan Sasuke sangat besar dan hangat... entah sudah berapa lama ia tidak merasakannya. Perasaan hangat menguar memenuhi hatinya, tidak peduli mereka baru saja mendapat ancaman bom. Namun dia sadar kali ini dia tidak boleh menghalangi Sasuke, atau akan ada korban.

.

.

.

Saat sampai, pintu masuk di tower tengah dikerumuni banyak orang.

"Sialan.. dimana..?" Sasuke berguman.

"Kenapa kita tidak berpencar dan mencari jalan?" Saat Sakura bersiap berlari Sasuke meraih tangannya.

"Tetap berada di dekatku. Bukankah kau bilang kau ingin selalu berada di dekatku?" ujarnya.

"Tapi..."

"Huh?" tak lama, Sakura melihat orang-orang yang ia kenal berjalan mendekati mereka.

"Hn? Apa yang mereka...?" tak berbeda dengan Sakura, Sasuke juga terlihat bingung.

"Sakura, Sasuke!" Pain melambaikan tangannya.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Sakura.

"Menjinakkan bom." Jawab Pain.

"Itachi baru saja berhasil menjinakkannya." Susul Gaara

"Bagaimana kalian tahu ada bom disini?"

"Maaf, kami tapi kami menguping." Itachi memegang sesuatu seperti radio kecil, menunjukkannya pada Sasuke.

"...jangan bilang.." Sasuke mulai memeriksa tubuhnya.

"Sakura lah satu-satunya orang yang harus kau periksa." Sasori menunjuk Sakura.

Saat sakura memasukkan tangannya ke saku ia menemukan sebuah benda kecil disana, "Apa ini?"

"Kau bisa menyebutnya alat penyadap." Jelas Pain.

"Penyadap?" Sakura memandangi benda kecil itu tidak percaya. Dia tidak menyangka mereka menaruh penyadap padanya.

"Ck!" dengan cepat Sasuke merebut benda itu dan mematikannya.

"Sejak kapan itu berada disana?" tanya Sakura.

"Hmm, kau sangat ceroboh." Pain tersenyum lalu melingkarkan lengannya pada pinggang Itachi dan itu membuatnya mengingat saat Itachi melakukan itu padanya. Sakura melirik kearah sasuke, semoga ia tidak mengatakan hal memalukan saat itu, sementara Sasuke tengah memandang kesal pada penyadap itu.

"Sasuke, kau tidak marah bukan?" Pain menaikkan alisnya. Senyum lebar terpasang jelas di wajahnya.

"Tentu saja aku marah! Kalian melakukan hal kotor!"

"Yah, kami tidak bemaksud untuk mendengar obrolan kalian atau semacamnya." Pain memicingkan matanya sambil mengelus dagu. Tak terpancar rasa menyesal sedikit pun darinya.

"Tapi kalian melakukannya!"

"Tidak, kami tidak mendengar apapun."

"Ya, telpon yang kau terima merusak suasananya." Lanjut Itachi.

"Tapi terima kasih untuk itu karena kami berhasil mendengar kekerenanmu." Sasori kini ikut serta menggodanya.

"Ya, saat kau bilang pada Sakura untuk tetap berada disampingmu." Perkataan Gaara ditutup oleh kekehan rekannya yang lain.

"Ck! Kalian sepertinya sudah mendengar cukup banyak." Sasuke menggeram dengan semburat malunya.

"Huh.. siapa peduli. Kalau kami tidak melakukannya, kami tidak akan mungkin bisa menghentikannya." Pain berkacak pinggang.

"Ya tapi."

"Itu salahmu sendiri karena tidak memberitahu kami." protes Itachi, "cukup Sasuke. Ini bukan lagi tentangmu sendiri. Aku yakin dia sedang mengamati kita di suatu tempat." Itachi mengedarkan pandangannya

"Kau tidak akan bisa menghentikan ledakan ini seorang diri." Kali ini Pain mencoba meyakinkan.

"Aku tahu. Kalau kalian tidak tepat waktu..."

"Jadi?"

Sasuke memandang rekannya satu persatu lalu mengangguk, "maukah kalian menolongku?"

.

.

Saat mereka sampai di kantor mereka mulai berkumpul melingkari sebuah meja untuk memulai berdiskusi tentang semua yang sudah terjadi sejauh ini.

"Jadi tempat pertama adalah pemandian air panas..." tutur Pain.

"Tidak.." Sasuke menggeleng, "dia bilang setelah ledakan di tempat itu tempat selanjutnya adalah bom asli."

"Jadi itu hanya sebuah pembukaan dari semua ini?" ucap Itachi

"Itu yang aku pikirkan" Sasuke mengangguk.

"Baiklah, kita mulai dari bom event cosplay dimana Sakura bekerja." Tutur Pain.

"Sakura bisakah kau menandai tempat itu pada peta ini?" Gaara menggelar peta di meja. Sakura mengangguk dan mulai mengingat tempatnya lalu mulai melingkarinya dengan pena merah yang Gaara berikan.

"Ngomong-ngomong, event cosplay itu hanya khusus untuk karakter game yang diselenggarakan oleh game itu kan." Gumam Itachi.

"Baiklah sepertinya aku selanjutnya." Sasori turut melingkari tempat di peta.

"Tapi ini sedikit berbeda dari lainnya." Kata Sasuke. Ia mengingat tempat yang ia datangi bersama Sakura beberapa waktu yang lalu.

"Kau benar, itu satu-satunya tempat dimana tak ada bom." Lanjut Sakura.

"Dan tempat yang terbakar itu sudah ditutup cukup lama kan?" kata Sasori.

"Target tempat sebelum ini penuh dengan kerumunan orang.. lalu mengapa.." Itachi kembali bergumam.

"Mungkin ada semacam pesan juga di balik ini." Penuturan Gaara membuat semua orang terdiam sebentar memikirkan maksud dari semua ini. Namun sepertinya tak ada yang mampu mengetahuinya.

"Baiklah, kita berpindah ke selanjutnya." Pain menepuk tangannya.

"Dua terakhir tempatnya adalah gedung TV dan Sky Tower tadi." Kata Sasuke.

"Tunggu." Gaara menyela sambil memandangi tabletnya, "disini ada dua tower dalam game tersebut."

"Kau benar." Ucap Pain, "kalau begitu dia menggunakan tempat kita sebagai pengganti map dalam game."

"Kalau begitu seharusnya ini bisa menjadi petunjuk kalau kita bisa memecahkan maksud dari seluruh lokasi ini. Jadi kemungkinan besar kita akan bisa mengetahui dimana dia."

"Tapi bagaimana kita melakukannya?" Itachi menatap ke arah Sasuke.

Setelah diam beberapa saat Sasuke terlihat menyadari sesuatu, "Ah, Tower tersebut merupakan poin awal pada game tersebut." Sasuke mulai menggambar garis diantara menara TV, event cosplay, dan taman hiburan. Dan garis itu membentuk sebuah segitiga besar. "Dan satu lagi Sky Tower." Sasuke memandangi peta tersebut. "Itachi, apakah ada hal yang terjadi di..." Sasuke mulai menyebutkan dua tempat berbeda dan Itachi mencarinya.

Tap tap tap

Untuk beberapa saat suasana hening. Hanya ketukan pada keyboard Itachi yang terdengar. "Tak ada hal aneh yang terjadi. Tapi menurut berita, ketua penerbit cabang jepang dari game tersebut tinggal disana." Lanjutnya sambil menyebutkan salah satu tempat yang Sasuke sebutkan tadi.

"Itu dia! Jadi persembunyian pengebom itu ada di..."

"Tunggu Sasuke, bisakah kau menjelaskannya?" Pain terpaksa memotong ucapan Sasuke karena semua orang terlihat bingung.

"Apa kau ingat simbol dari game terseut?"

Sasori mengangguk, "Sebuah bintang daud. Bentuknya seperti dua buah segitiga yang ditumpuk."

Setelah mendengar penjelasan tersebut, semua orang mulai mengerti.

"Bukankah bintang daud ini semacam kata lain dari hexagram?" tutur Sasuke.

Sakura mengangkat alisnya, bukankah Hexagram itu...

"Bukankah dia pemain di game dunia kambing?" tanya Sakura. Dan Sasuke mengangguk.

"Apa yang kalian bicarakan?"

Menjawab pertanyaan Itachi, Sasuke mulai menjelaskan tentang pria yang berpura-pura menjadi wanita yang ia temui saat bermain game dunia kambing. "Namanya Hexagram." Lalu Sasuke membuka laptopnya dan menunjukkan obrolannya juga menunjukkan avatar Hexagram.

"Imut." Timpal Pain.

"Tidak. Sudah aku bilang dia pria." Kata Sasuke.

"Oh, aku hampir saja tertipi." Ujar Pain.

"Dan karena pria tua sepertimu kau akan mudah dibodohi." Gerutu Sasuke.

"Aku tidak akan heran kalau ketua bisa kehilangan seluruh uangnya untuk seseorang seperti itu." Timpal Sasori.

"Tidak sulit untuk membayangkannya." Ujar Itachi.

"Oh ayolah." Pain yang merasa terpojok menggerutu.

"Tak apa, ketua. Aku juga merasa tertipu." Sakura tersenyum miris saat mengingat kecemburuannya.

"Itu tidak ok sama sekali." Sasuke menyeringai, tentu saja mengetahui Sakura cemburu sangat menyenangkan. "Ngomong-ngomong, mulai sekarang kita harus lebih terfokus pada Hexagram."

"Ya." Semua orang menjawab serempak namun suara Sakura lah yang terdengar sangat kencang..

Jadi kalau mereka bisa memecahkan kasus ini, masalah antara Sasuke dan dirinya akan selesai bukan. Sakura mengepalkan tangannya, meskipun tidak bisa membantu banyak dia tetap akan melakukan apapun yang mereka butuhkan.

.

.

.

Beberapa hari kemudian. Di sebuah surat kabar tercetak jelas pencarian pengebom yang melakukan teror akhir-akhir ini menjadi buronan di seluruh jepang. Sementara itu polisi juga mencoba melacak jejaknya. Dalam koran tersebut juga terpampang tersangka yang selama ini menggunakan nama Hexagram. Jadi ini pria yang berpura-pura menadi wanita di game itu? Sakura menggumam. Saat ia kembali teringat keceburuannya dulu ia merasa sangat malu. Tapi, yah setidaknya sekarang mereka tahu sosok sebenarnya dan itu cukup melegakan meski keberadaannya belum diketahui. Semuanya berkat Sasuke dan teman-teman yang bekera keras melakuan investigasi sekarang.

Sebenarnya ia juga ingin ikut dengan Sasuke tapi. Rasanya hubungan mereka belum cukup pulih.

Aku tahu! Aku akan membuat makan malam untuk mereka. Kalau mereka makan malam bersama, Sasuke mungkin juga akan bergabung. Sakura lantas mengambil tasnya dan keluar dari agensi untuk berbelanja.

"Matahari terbenarmnya sangat cantik." Langit berwarna oranye semakin menambah perasaan tenang Sakura. Gadis itu tersenyum sangat lebar membayangkan makan malam nanti. Namun bersamaan dengan itu sebuah mobil berhenti di dekatnya. Kaca mobil tersebut perlahan turun menampakkan pria berkacamata hitam memamerkan senyum ramahnya.

"Anoo, nona bisakah kau membantuku? Aku mencari rumah temanku, tapi aku tidak mengerti bagaimana cara membaca peta." Pria itu mengeluarkan tangannya dan menunjukkan peta yang ia bawa. Sementara Sakura mulai mendekatinya dan mencoba membaca peta tersebut saat tiba-tiba peta itu dijatuhkan dan tangan pria tersebut segera membekap mulut Sakura.

"Mm...!"

Saat kesadarannya mulai menurun, Sakura mampu melihat ketika pria tersebut menyeringai kearahnya.

.

.

.

Tbc

Wkwkwk ada yang masih ingat ceritanya? Maaf beribu maaf karena author bin males bin sok sibuk ini terlalu lama menelantarkan fic ini. Terima kasih untuk seluruh review! Dan maaf untuk segala typos.

tentang bintang daud dan heksagram bisa dicari di gugel yes..