Rating: T
Genre: Action/Romance/Tragedy
Disclaimer: Pandora Hearts—Jun Mochizuki
Contains OOC, death charas. I've warned you!
Day 8 – My Unanswered Feelings
[Cloudy, Thursday – Autumn]
TING TONG TENG TONG
Hari mid-test bulan Oktober usai. Hari ini juga semua berjanji untuk menjenguk Sharon. Setelah selesai merapikan tasnya, Echo pun keluar kelas. Diluar kelas sudah ada Alice dan Oz.
"Eliot akan datang belakangan setelah ke makam Reo dengan Vincent-san, Alice dan Ada akan ke panti rehabilitasi dulu di tengah jalan," jelas Oz pada Echo.
"Jadi Echo-san, ingat kalau aku sama sekali tidak suka dengan Raven, oke?" jelas Alice dengan senyum innocentnya.
"I-Iya, iya…"
"Nah, ayo ke rumah sakit!" ajak Oz.
…
Break belum sampai ketika Oz dan Echo sampai disana, hanya ada Liam.
"Liam-senpai, Break-senpai mana?" tanya Oz pada Liam.
"Xerxes? Dia ke Rainsworth Market…entahlah ia mau ngapain,"
"Hmm, apa mungkin ia bilang pada nyonya Cheryl?" jelas Echo.
"Aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan," jawab Liam. "Oh ya, jam besuk masih sedikit lama, gimana kalo kita ke Gift Shop milik kepala sekolah? Beli hadiah untuk Sharon,"
"G-Gift Shop kepsek? Maksud senpai—"
"Tenang saja Oz, aku kan part-timer disana, pasti dia berbaik hati…"
"Ah, aku juga kerja di restoran sushinya," jelas Echo.
"Yasudah, ayo cepat kesana!"
Gift Shop yang disebutkan Liam adalah sebuah toko milik Kepala Sekolah SMU Abyss yang juga memiliki toko Sushi tempat Echo bekerja. Jaraknya hanya beberapa menit jalan dari rumah sakit.
Sekedar info, nama toko itu adalah Dodo Gift Shop, dan Barma Sushi. Yep, kepsek SMU Abyss adalah Rufus Barma!
TING TONG
"Selamat datang—Ah, hanya kau toh Liam…"
"Pak Barma, setidaknya aku mau beli!" sergah Liam agak kesal.
"Hmmm? Hadiah untuk siapa? Jangan-jangan cewek asing disebelah itu pacarmu?" Rufus menunjuk Echo.
"Sejak kapan! Dia kan juga kerja di toko Sushi anda pak! Apa bapak sudah pikun?" sambung Oz—tampak cemburu.
"Aku cuma bercanda kok, kalian mau beli apa? Pilih saja, nanti kubungkuskan," Rufus menyuruh mereka melihat-lihat seraya ia mengipas-ngipas seperti biasa.
Echo melihat pernak-pernik di ujung etalase sementara Oz dan Liam melihat ke arah boneka-boneka.
"Liam-senpai jangan beri Sharon boneka lagi, ia sudah dapat banyak dari Break-senpai,"
"Yah itu juga semua pilihanku kok," ujar Liam pada Oz.
"Bagaimana kalau kita memberinya frame foto?" tanya Echo.
"Itu juga bagus sih," komentar Oz. "Kurasa lebih bagus lagi warna pink—"
"Bukannya lebih bagus warna-warna netral?" potong Liam.
"Biru aja, gimana?" Echo ikutan.
Mereka bertiga pun terus-terusan ngobrol soal warna bahkan sampai Rufus bosan mendengarnya. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membeli frame yang warnanya sama dengan warna rambut Sharon—dipaksa Rufus yang sedang mikirin Cheryl.
PIP PIP PIP PIP
"Oz-kun, hape-mu bunyi tuh," sahut Liam.
"Oh iya…telepon?" Oz membuka hapenya. "Eliot?"
TREK
"HOI PENDEK! SAMPAI KAPAN KAU TIDAK MENJAWAB TELEPONKU?"
"HWAH—Eliot kenapa kau teriak di kupingku!"
"Jam besuk sudah mulai dan kukira kalian sudah sampai, TAPI TERNYATA KALIAN GA ADA DISINI!"
"M-Maaf kami cuma beli sedikit oleh-oleh kok,"
"BUKAN ITU MASALAHNYA PENDEK! XERXES-SAN BERSAMAMU TIDAK?"
"Break-senpai? Memang kenapa? Aku tidak punya nomor hapenya,"
"Aku juga gak punya, makanya aku nanya!"
"Memang kenapa dulu, Eliot?"
"Sharon—"
"Sharon-san kenapa?"
"Kondisinya mendadak kritis, tolong bilang pada Xerxes-san,"
"Eh tapi—"
TREK
Teleponnya diputus Eliot.
"Ada apa Oz-kun?" tanya Liam. "Soal Sharon…apa benar?"
"Liam-senpai, kau tahu nomor Break-senpai?"
"…Kurasa Xerx tidak akan mau mendengar berita ini…"
PIP PIP PIP
"Telepon dari Liam…?"
Break saat itu sedang di dalam kereta menuju rumah sakit. Ia dari Rainsworth Market, menceritakan pada keluarga Rainsworth tentang bagaimana kalau Sharon tinggal bersamanya setelah ini, tapi belum ada kepastian dari nenek Cheryl.
"Halo, kenapa Liam? Aku sedang menuju rumah sakit…, sabar,"
"Xerxes,"
"…Ya kenapa?"
"Aku baru sampai rumah sakit dan sekarang…"
Liam menjelaskan tentang keadaan Sharon.
"…A—"
"Cepatlah kesini Xerx, semua menunggumu,"
"I-Iya aku…akan kesana,"
Dokter di rumah sakit mengatakan kalau banyak sekali luka dalam yang tak terdeteksi, karena luka itulah Sharon dalam keadaan kritis sekarang—dan bahkan, tidak ada satupun orang diizinkan masuk ke dalam ruang perawatan untuk menjenguk.
"Alice akan kemari dengan Gil," kata Vincent.
"…"
Suasana makin menyepi dan berat.
"Sharon-san…" gumam Echo.
"Tenang saja, kurasa ia akan baik-baik saja," Oz menenangkan Echo.
Liam sudah gigit jari saking tegangnya, Break tak kunjung datang. Silih-berganti orang-orang datang menunggu.
"…Liam-senpai, tenanglah," ujar Eliot yang daritadi berdiri mondar-mandir koridor.
GRAKK
"Hmm? Ada apa suster?" tanya Vincent, melihat salah satu suster keluar dari kamar Sharon.
Suster itu tampak serius.
"Apa ada anggota keluarga nona Rainsworth disini?"
"Aku,"
Break ternyata sudah datang dengan tergesa-gesa.
"Kenapa soal Sharon, suster?" lanjut Liam.
GRAKKKK
Break dengan kasar menggeser ruang pintu kamar Sharon dan menutupnya dengan sama kencangnya. Gilbert, Oz dan Echo yang ingin mengejar Break ditahan oleh Liam.
"Biarkan saja Xerx…, bisa kan?"
"Liam-senpai…"
…
…
Break kini sudah berada di sisi tempat tidur Sharon—yang tak kunjung membuka matanya saat ia datang.
"Sharon, kau bisa dengar suaraku?"
"Kak Xarks…?"
Sharon membuka matanya dan memperhatikan Break yang tengah berdiri putus asa.
"Syukurlah, kau masih bisa mendengarku,"
"Kenapa raut wajahmu sedih begitu…?"
"Aku tidak ingin kau—"
"Kak Xarks kenapa sih? Kan kak Xarks yang mengajariku kalau…kematian itu bukan apa-apa,"
"Maksudmu apa? Aku tidak pernah mengajarimu begitu,"
"Saat mata kirimu terluka akibat melindungiku…aku bahkan tak sempat mendapat donor untukmu,"
"Kan sudah kubilang tak apa-apa soal itu,"
"Andai waktu itu kubilang kudonor mataku saja ya…"
"Hentikan bercandamu! Tidak lucu, tahu,"
"Hmhmhm…sudah lama aku tidak lihat kau marah padaku…Kak Xarks,"
"Pokoknya kau tidak boleh meninggalkanku ya, adikku yang bodoh,"
Pemuda bermata satu itu melepas kacamata yang ia kenakan, dan merangkul sang gadis ke dalam pelukannya yang hangat.
"Kata siapa aku adikmu? Sampai sekarang sebenarnya hubungan kita masih sebagai orang asing kan? …Bodoh,"
"Heh, iya ya… aku memang bodoh,"
"Kalau aku bisa sembuh, bagaimana kalau kita ulangi semua dari awal…?"
"Awal apa yang kau minta, nona?"
"Licik…kau pasti sudah tahu kan?"
"Oh ya, nona? Aku kan tidak peka…"
"Aku menyukaimu, Kak Xarks…"
"…"
"Ah, bukan—aku menyukaimu, Break…"
"Terima kasih, milady,"
...
Setelah itu, aku tidak mengerti aku bicara apa-apa lagi
Semua orang diluar sudah memasuki ruangan itu
Semuanya menanyaiku
Semuanya bertanya kenapa
Kenapa orang yang ada di pelukanku
Sekarang sudah menutup matanya, untuk selamanya?
To be continued, and dont forget the review!
