TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Jongin masih terduduk di bangku putih. Menatap pintu ruangan UGD dengan hati yang berkecamuk. Sampai kakinya sendiri tidak bisa diam, melangkah sendiri di lantai yang sepi demi pikiran beragamnya. Pria berkulit tan itu baru saja menggenggam kepalanya yang berputar. Membaca tiap pesan di ponselnya lalu mengabaikan berbagai panggilan yang masuk.
Nyatanya pesan dari Baekhyun baru saja meruntuhkan pikirannya yang ingin tenang menikmati waktu liburnya. Ia mendengar Sehun kecelakaan dan itu membuatnya mengabaikan tim medis yang baru saja keluar dengan gotongan pasiennya. Melewatinya tanpa perduli dengan keheningannya sendiri.
Jongin ingin mengikuti para medis itu tapi lebih dulu kakinya lemas tanpa sebab. Ia pun hanya bisa melihat mereka yang sudah berhasil menjauh, beserta Kyungsoo yang berusaha menggapainya.
"Kami sudah menanganinya. Dia terkena stress berat," tutur Kyungsoo dengan seragam putihnya. Jongin kembali menjatuhkan dirinya ke kursi. Menarik nafasnya dalam-dalam sebelum Kyungsoo melanjutkan bicaranya. "Dia sangat membutuhkanmu."
Jongin terdiam menggenggam tangannya sendiri. Ia masih menatap kedua sandal rumahnya. Nyaris saja ia tidak memakainya dengan benar saat ia berlari ke dalam mobilnya beberapa jam yang lalu. "Terima kasih, Kyungsoo."
"Kau terlihat tidak baik-baik saja," ujar Kyungsoo menyelidiki tundukan wajahnya.
Jongin mencoba beranjak. Menatap Kyungsoo di depannya dengan tatapan memohon yang ia punya. "Soo, apa kau bisa menjaganya lagi? Ada sesuatu yang harus kulakukan."
Kyungsoo menyernyit tak mengerti. Tapi ia begitu kenal bagaimana kalutnya Jongin dengan suatu masalah rumit yang ia hadapi. Walaupun ia sendiri tidak paham betul masalah jenis apa yang sebenarnya dihadapi pria tinggi di depannya ini. "Kau terlalu sering meninggalkannya. Kau harusnya mendampinginya melalui masa-masa sulit seperti ini."
"Aku─" sorot Jongin meragu. Ia sepenuhnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pria tan itu bahkan tidak tahu harus mulai mengatakan apa pada temannya ini. "Apa yang harus aku lakukan?"
Kyungsoo menyentuh bahu Jongin iba. Mencoba menenangkan kekalutan asing yang menyusup diam-diam pada keheningan pria itu. "Hei, kau punya masalah?"
"Aku selalu punya banyak masalah," jawab Jongin mengusap wajahnya.
Tapi Kyungsoo menawarkannya sesuatu. "Mau kubantu?"
Jongin menggeleng lemah. Ia tentu tidak bisa melibatkan banyak orang untuk masalahnya sendiri. Termasuk melibatkan Kyungsoo yang sebenarnya mungkin sudah terlibat banyak hal dengannya. "Sepertinya tidak."
Kyungsoo bernafas dengan berat. Ia memejamkan matanya sejenak lalu melepaskan masker yang masih menggantung di lehernya. "Janinnya lemah. Dia butuh banyak dukungan dan juga penanganan. Jadilah ayah yang baik untuknya."
"Soo─"
"Aku hanya mengingatkanmu sebagai orang yang menanganinya. Dia baru saja mengalami pendarahan dan kau akan meninggalkannya?" Kyungsoo mulai menekan tiap kalimatnya. Nalurinya sebagai dokter sudah lebih dulu menggertak jauh sebelum emosinya datang. Namun setidaknya dia masih terlihat normal ketika ia menuruti emosi profesinya ketimbang emosi yang sudah ada di dalam dirinya. "Ingatlah, aku juga bekerja disini. Aku mungkin tidak bisa hanya mengurusinya. Ada banyak pasien yang harus kuurus di luar sana."
Jongin meraih kedua bahu Kyungsoo yang begitu kecil di depannya. Sorotnya kembali penuh permohonan saat Kyungsoo mencari setitik kesadaran pria tan itu. "Kau tahu aku hanya percaya padamu, Kyungsoo. Hanya kau yang aku percaya. Jika aku harus membayar untuk menjadikanmu dokter pribadinya selama satu bulan penuh, aku akan melakukannya."
Kyungsoo terdiam menatap kedua manik Jongin yang begitu teguh meyakinkannya. Otaknya masih bekerja, memilih mencari dimana sudut yang ia cari dari bicara Jongin barusan. Tapi nihil, tidak ada satupun alasan yang berhasil ia temukan.
"Kenapa kau percaya padaku?" tanya Kyungsoo akhirnya. Pria bermata bulat itu pun tidak mengerti mengapa ia bisa menanyakan hal yang tidak penting seperti ini.
"A-aku tidak tahu," geleng Jongin.
e)(o
Luhan menggapai sebuah ganggang pintu geser yang ia temukan. Membukanya perlahan lalu mendapati tuan Oh berdiri disana dengan wajah tersedih yang tak pernah ia lihat. Baekhyun pun berdiri sedikit lebih jauh di belakang pria itu. Tertunduk lesu, tak mampu menahan air matanya sendiri. Luhan diam-diam memasuki ruangan itu, mengecilkan suara langkahnya sendiri agar keduanya tidak terganggu.
Tiga porsi makanan yang dibawanya, ia letakkan di atas meja. Ia sama sekali tidak perduli jika sesuatu yang dibawanya adalah hal termustahil untuk tuan Oh makan. Tapi melihat pria paruh baya itu menolak untuk makan hingga larut malam adalah sesuatu yang harus ia perbaiki. Bukan sebagai anak palsunya, melainkan sebagai seseorang yang mengerti─betapa terlukanya─mendapati orang yang disayangi terbaring dengan bantuan selang infuse.
Luhan sebelumnya tidak menyangka seseorang seperti Oh Sehun bisa terbaring lemah seperti ini. Terbaring tak berdaya dalam kondisi tulang tungkai yang retak dan juga luka disekitar punggungnya, belum lagi dengan jahitan di lengan kirinya. Luhan bahkan gemetar takut ketika melihat Sehun digotong oleh medis dengan pakaian basah bercampur simbah darah. Bagaimana seorang ayah tidak terluka ketika melihat putranya sendiri ditemukan dalam kondisi seperti itu?
"Ayah," panggil Luhan menyentuh lengan pria paruh baya itu. "Ayah harus makan." Tuan Oh mencoba tersenyum padanya. Mengusap jemarinya lembut dan juga hangat di sisi yang lain. Entah mengapa rasanya Luhan berubah tak tega karena membohongi pria sebaik tuan Oh ini.
"Sehunie belum bangun," lirihnya penuh luka.
Luhan menggeleng. "Tapi ayah tidak boleh sakit."
Tuan Oh terdiam. Menatap sebentar putranya yang masih belum terbangun, lalu akhirnya mengangguk pelan. Baekhyun pun ikut lega akan itu. Lantas pria brunette itu memilih keluar dari sana, membiarkan Luhan bekerja dengan caranya sendiri. Anggap saja ia tidak ingin mengganggu sebuah momen keluarga.
"Untukmu," cegat Luhan saat Baekhyun sudah menggapai pintu. Ia menyerahkan sekotak makanan yang dibelinya pada Baekhyun lalu menyentuh lengannya. "Ini bukan salahmu." Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. Ia kemudian benar-benar meninggalkan Luhan dengan sepi yang dibangunnya.
Luhan segera mengambil duduk di dekat tuan Oh. Membuka makanan sederhana itu dalam suasana yang masih hening. "Hanya ada ini di rumah sakit." Tawa kecil Luhan mengundang senyum tuan Oh. Membuat pria itu sedikit lega karena ayah Sena tidak menolak makanan yang dibelinya sendiri.
"Ayah bisa makan apa saja," jawabnya meraih sumpit kayu lalu menjuput potongan telur gulung. "asal ayah bisa makan dengan kalian."
Luhan tergugu, ia sejenak gagal menyumpit makanannya. Hatinya yang ribut tanpa sebab pun mendadak ikut terluka. Tak butuh banyak waktu sampai Luhan menyadari kesepian yang diderita tuan Oh. Pria paruh baya itu pasti sudah lama merindukan anak-anaknya. Namun sampai sekarang Luhan masih tidak mengerti, mengapa Sehun bisa memutuskan untuk tidak tinggal dengan ayahnya sebegini tega.
"Ayah lega karena kau pulang. Sehun menemukanmu dengan keadaan yang baik-baik saja. Tidak sampai harus terbaring sepertinya sekarang," mulai tuan Oh. Pria paruh baya itu bahkan tidak kunjung memakan makanannya. Sama seperti Luhan yang hanya terfokus pada cerita sedih pria itu. "Ayah takut kau tidak kembali."
"Maaf," sesal Luhan mengingat kesalahan yang ia buat sendiri. Dadanya mulai sesak ketika menyadari pria paruh baya itu harus terus ditipu. Ia mungkin bisa tega menipu Kris dan semua orang, tapi entah kenapa tidak dengan pria satu ini.
"Dulu ayah sangat benci kata-kata itu," respon tuan Oh yang kemudian mendapati kegugupan Luhan. Dan itu membuat Luhan sedikit berpikir, apakah ia salah karena meminta maaf? "Tapi setelah Sehun mengatakannya terakhir kali, ayah sadar bahwa kata itu ada untuk menerima banyak hal," sambungnya.
Luhan bernafas dengan lega. Ia kemudian memilih meletakkan sumpitnya lalu mengurusi matanya yang mulai berlinang.
"Selama ini ayah tidak pernah mendengar kata maafnya. Ayah terlalu membanggakan Chanyeol sampai tidak sempat melihat dirinya. Ayah menyesal karena tidak pernah memuji hasil kerja kerasnya," kekeh pria itu masih menatapnya. Pria itu kemudian meraih tangan Luhan. Menggenggamnya seakan memohon pada orang asing yang bukan putrinya. "Sena, tolong maafkan dia."
Mendengar itu, entah mengapa membuat air mata Luhan terjatuh tanpa sebab. Ia terdiam, mengingat dengan benar bagaimana sikap buruk Sehun padanya. Ia harusnya juga mengerti mengapa Sehun terlalu banyak menekan dirinya. Dan semua yang Sehun lakukan tentu punya alasan. Karena setiap orang tetap punya banyak alasan untuk segala hal yang dilakukan.
Lidah Luhan tentu tetap bisu untuk mengatakan hal yang sebenarnya ia simpan, meski ia semakin tak tega untuk sekali lagi mengatakan hal yang mewakili Sena. Sekali lagi, ia membohongi pria ini, dan mungkin akan selalu seperti ini. Entah apakah Sena akan mengatakan hal yang sama, tapi sekarang Luhan hanya bisa mengangguk. Apapun ia akan lakukan untuk membuat pria ini tersenyum akan kehadirannya sebagai Sena. Dan ia tahu betul, itu sungguh keputusan di luar pekerjaannya. "Sena sudah memaafkannya. Kami akan baik-baik saja mulai sekarang."
Tuan Oh kemudian tersenyum bangga padanya dengan mata yang berkaca-kaca. "Ayah harus meminta Chanyeol untuk pulang. Kita harus melakukan sesuatu setelah dia pulih."
"Ya. Kita harus melakukan banyak hal─bersama," lirih Luhan kemudian mengusap genggaman tangan hangat itu.
e)(o
Malam semakin larut. Lantai-lantai rumah sakit berubah sunyi dan meremang. Berbeda dengan kondisi lobi depan yang masih dipenuhi dengan pasien gawat darurat. Suara ambulan masih menggema di luar sana, menurunkan berbagai pasien dengan kasus trauma. Digotong oleh para medis sampai Luhan bergidik mengeratkan jaketnya. Luhan buru-buru menyisir lobi depan lalu menekan tombol pintu lift di ujung koridor. Ingin cepat-cepat pergi dari sana atau ia tidak akan sanggup dengan bau anyir yang begitu pekat melewatinya.
Sepulangnya mengantar tuan Oh sampai di halaman rumah sakit, Luhan kini mendapati Kris berjalan di koridor dengan selang infusenya. Malam semakin menyentuh pagi, membuat suasana semakin sunyi dan juga dingin di kakinya. Ditambah dengan keadaan Kris dengan gendongan lengannya dan juga lilitan perban di kepalanya. Tapi lucunya pakaian pasien yang dikenakan pria itu tetap membuatnya tidak kehilangan karisma. Dia tetap tampan walaupun penuh luka seperti itu.
Jauh dari itu Luhan telah mendengar dengan jelas bagaimana cerita Sehun dan Kris hari ini. Baekhyun menceritakannya dengan emosi yang tumpah. Sahabatnya itu marah, ingin membunuh Kris walaupun Kris sendiri pula yang membuat Sehun bernafas di ruangannya hari ini. Tapi ini bukanlah lelucon emosi dimana ia harus menyalahkan salah satunya karena mendukung si korban. Luhan bukanlah siapa-siapa dalam kisah mereka yang rumit, maka biarkan Luhan berbicara sebagai orang paling asing di antara mereka malam ini. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Luhan memecahkan dinding canggung di antara ia dan Kris.
Kris berkedip lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak menjawab pertanyaan yang Luhan berikan padanya. Tidak meresponnya sama sekali seolah Luhan tidak ada di hadapannya.
"Kemana kau akan pergi? Apa kamarmu di sekitar sini?" Luhan merampas tiang infuse yang dibawa Kris. Mendorongnya dengan suka rela di samping pria itu. Sedangkan Kris masih terdiam dengan ekspresi datarnya. Tidak berceloteh sebagaimana seseorang tidak ingin diganggu malamnya.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Kris sangat pelan menyusuri langkahnya. Entah kemana pria itu akan melangkahkan kakinya malam ini.
"Karena kakakku ada disini," jawab Luhan sangat enteng. Sungguh ia juga tidak tahu mengapa ia jadi banyak bicara begini dengan Kris. Ia bisa saja diburu oleh pria pirang itu seperti peringatan Baekhyun yang menyuruhnya menjauhi Kris. Tapi entah mengapa Luhan tidak pernah takut sama sekali.
Kris terdiam lagi menatap pintu lift yang tak kunjung terbuka. Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkinkah karena kepalanya banyak terluka, sehingga Kris berubah menjadi banyak diam?
"Kau mau ke atap?" tebak Luhan mendongak menatap matanya yang kosong.
Kris berkedip menyetuh puncak kepala Luhan. "Kau mau ikut?"
Luhan tersenyum dengan wajah lelahnya. Ia harusnya sudah tidur malam ini, membersihkan wajah lusuhnya atau melepas wignya. Tapi semua itu tidak bisa dikabulkannya sekarang. Karena ia harus terus memakai penampilan Sena selama ia menjaga Sehun di rumah sakit. "Karena kau sakit, mungkin─ya."
Kris tersenyum kaku menatapnya. Mereka kemudian memutuskan untuk memasuki pintu lift bersama. Membiarkan Kris menekan nomer lantai teratas gedung serba putih itu tanpa Luhan sempat berpikir dua kali. Padahal kalau Luhan mau berpikir, ia sudah melanggar perintah Sehun karena tidak meminta izin pria itu untuk pergi.
"Kemana orang-orang yang selalu mengikutimu?" tanya Luhan tetap ingin mencairkan suasana. Ia sebenarnya sedikit mengantuk untuk meladeni siapapun. Maka ia butuh sebuah obrolan kecil yang bisa menghapus kantuknya malam ini.
"Aku menyuruh mereka untuk tidak mengikutiku. Tapi mungkin mereka akan mengikuti ku diam-diam," jawab Kris tidak menoleh sama sekali.
Luhan menunduk. Menyerah membangun obrolan dengan Kris yang begitu berbeda malam ini. "Terima kasih karena sudah menyelamatkannya─"
Kris terdiam sebentar. "Percayakah kau jika aku menyuruh orang-orangku untuk merusak mobilnya?" tanya Kris enteng. Tidak perduli apakah Luhan bisa nekat melaporkannya pada polisi sekarang juga.
Luhan malah melongo mendengarnya. Lagipula siapa yang menyangka Kris bisa sejujur ini mengatakan catatan kriminalnya sendiri. Seperti orang dungu, Luhan hanya terpaku pada manik coklat Kris yang membayangi wajahnya. "Lalu kenapa kau menyelamatkannya?"
Kris tertawa kecil mendengar pertanyaan polos Luhan. Pria itu lalu bergerak mendekatinya. Semakin memojokkannya pada sudut ruangan kecil yang terus bergerak naik ke atas. "Aku sama sekali tidak menyelamatkannya."
Luhan menggenggam tangannya sendiri. Membenamkan rasa takutnya yang tiba-tiba berkobar bersama gemetar di sudut hatinya. "K-kau membenciku?"
"Kau tahu aku tidak bisa membencimu." Kris meraih jemarinya. Menggenggam jemarinya dalam lautan dingin di telapak tangannya. "Sebanyak apapun kau membuatku marah, aku tidak akan bisa membencimu."
Kris semakin menggenggam tangan kecil Luhan. Membiarkan Luhan semakin tenggelam dalam lautan kelam yang diciptakannya. "Tapi aku ingin kau berlari padaku suatu hari, memohon padaku lalu menyesal karena kau tidak menerima tawaranku." Sorot Luhan kian memudar. Matanya terus gentar menatap senyum Kris yang seakan menusuknya.
"Kau takut padaku?"
Pintu lift kemudian terbuka. Menampilkan ruangan kosong dengan remang bercampur angin malam. Tentu terlalu dingin untuk keduanya keluar dari sana. Kris yang tidak perduli hanya menunggu jawaban dari Luhan. Ia menunggu seperti pria kehilangan harapan dan menyedihkan. Tapi karena Luhan terus diam, ia kemudian menemukan jawabannya sendiri. "Pergilah kalau kau takut." Pria itu pun bergerak, memilih keluar meninggalkannya.
Entah mendapat pikiran darimana, Luhan ikut keluar dari pintu lift itu. Ia tanpa berpikir mengikuti kemana langkah Kris menyeret tiang infusenya. "Aku tidak takut padamu."
Kris berbalik. Menatap Luhan sekali lagi. Pria berambut pirang itu kemudian sibuk membatin. Mencari celah yang ia curi diam-diam dari sosok kecil di depannya ini.
Siapa kau sebenarnya?
e)(o
Pagi sebelum matahari muncul di peradaban, Sehun membuka kedua matanya. Ruangan serba putih itu baru saja menyapa visualisasinya yang buram. Membuatnya berpikir sejenak dengan kepala berat, sekedar menebak dimana ia terbaring sekarang. Di seberang ranjangnya ia menemukan satu set sofa kosong lengkap dengan meja kaca di tengah. Di atas nakasnya masih tertata flora berdaun kecil yang entah apa namanya. Mata Sehun tanpa henti menatap sekeliling, hanya ingin memastikan bahwa ia masih hidup di atas dunia yang penuh sandiwara ini.
Tidak mendapati siapapun di ruangan itu membuat Sehun bangkit dari posisinya. Meraba tiap luka di tubuhnya sampai ia sendiri ngilu menggerakkan salah satu kakinya. Ia beralih membuka selimutnya, menemukan kakinya yang kaku dibalut oleh perban dan juga gips di dalam sana. Sehun pun secara otomatis membayangi kejadian mengerikan macam apa yang dilaluinya kemarin.
Sehun mencabut selang infusenya tanpa berpikir, menurunkan kaki jenjangnya perlahan, lalu ingin menggapai sebuah jaket di dekat sofa. Ia pikir, ia harus pulang. Ia tidak boleh berdiam diri disini sedangkan perusahaannya kacau dimakan ulahnya sendiri. Bagaimana jika Kris sudah melakukan sesuatu yang lebih buruk pada perusahaan dan juga karyawannya?
"Hei, apa yang kau lakukan?!" pekik seseorang yang tiba-tiba saja keluar dari pintu kamar mandinya. Menarik lengannya agar tetap seimbang, sedangkan Sehun masih melongo bagai orang kehilangan pikiran.
Sehun yakin kepalanya terbentur dengan karang di lautan atau memang ia belum bangun dari tidurnya karena menemukan Luhan kalang kabut di pagi buta. Pria itu masih ingin berpura-pura menjadi adiknya meski penampilannya tidak begitu bagus dengan celana training yang dikenakannya. "Apa yang kau lakukan disini? Lepaskan aku!"
"Kau harus kembali ke tempat tidur. Aku akan memanggil dokter," tutur Luhan masih sibuk menyeretnya kembali ke tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan?!" omel Sehun masih mendorong-dorong tubuh kecil Luhan yang memapahnya. Menolak ditolong seperti orang lemah yang tidak berdaya. "Cepat pakai rambutmu!"
"Tapi tidak ada siapa-siapa disini." Luhan berhasil mendorong tubuh Sehun, hingga pria itu sukses terduduk di tempat tidurnya.
"Minggir." Sehun menggeser tubuh itu untuk menyingkir. Pria pucat itu kembali menurunkan kakinya. Kembali melanjutkan acara kaburnya sebelum Luhan kembali menariknya untuk kembali.
"Kau harus diam disini," tandas Luhan kesal.
Sehun mengusap surainya yang kusut. Kepalanya kembali berputar, heran mengapa Luhan tidak pernah tidak menyebalkan dalam hidupnya. "Aku harus kembali ke Hotel. Dimana Baekhyun?"
"Baekhyun akan datang, tentu saja nanti," jawab Luhan sepolos dinding putih di belakangnya. Sangat jujur dan tanpa ada bumbu-bumbu kebohongan di bibirnya.
"Kita harus kembali."
Luhan membulatkan kedua matanya. Pria pucat itu baru saja sadar dari tidur panjangnya, dan sekarang dia minta pulang? Setidaknya Luhan bersyukur, ia tidak segila Sehun dalam memperhatikan dirinya sendiri. "Kau gila? Kakimu hampir saja patah."
"Aku bilang minggir!" gertak Sehun pada Luhan yang sudah memblokir jalannya.
"Tidak!" Luhan masih merentangkan tangannya seperti orang-orangan sawah. Sangat lucu sebenarnya bagi Sehun, tapi entah mengapa ia tidak bisa tertawa akan hal itu. "Kondisimu sangat serius, okay."
Sehun mencari jalan lain. Ia terus mencari letak ponselnya yang menghilang. Entah disembunyikan dimana sampai ia repot memberantaki nakas dan juga membuka setiap laci. "Aku tidak punya waktu untuk hal semacam ini. Kau tidak mengerti bagaimana Kris bekerja."
"Kau tidak tahu seberapa khawatirnya ayahmu semalam. Harusnya kau juga memikirkan orang sepertinya." Luhan masih menghalangi jalannya. Memblokir jalannya untuk segera menemukan jalan kecil menuju pintu. "Dia sangat khwatir padamu."
"Minggir!" perintah Sehun sekali lagi. Tapi Luhan masih saja menempeli jalannya. Menatapnya dengan keteguhan yang luar biasa sampai Sehun kesal sendiri. Pria itu pun kemudian meraihnya. Menggeledah setiap saku di pakaian pria itu.
"Ya! Oh Sehun!" Luhan memekik. Ia sungguh ingin mendorong pria itu untuk menjauh darinya. Tapi sekali lagi otaknya yang begitu bijak tidak memperbolehkan syarafnya untuk mengirim perintah menendang pria ini. Bisa-bisa ia benar-benar mematahkan kakinya lalu masuk penjara.
Sehun akhirnya berhasil menemukan sebuah ponsel di saku Luhan. Ponsel itu segera ia nyalakan. Mendial sebuah nomer yang ada di luar kepalanya dengan begitu santai. Tidak perduli bagaimana Luhan berusaha menggapai ponselnya. "Rumah sakit, sekarang juga!"
"Kau harus dirawat lebih lama," komentar Luhan yang terdengar aneh di telinga Sehun.
Sehun menyernyit. Namun sayangnya, ia sama sekali tidak tersentuh dengan Luhan yang begitu memperhatikan kondisinya. "Berhentilah mengurusiku. Urus saja penyamaranmu yang tidak elit ini."
Luhan merampas kembali ponselnya. Mata rusanya menajam, mencoba menusuk Sehun dengan sorot matanya.
"Kemari," titah Sehun kemudian.
Luhan masih terdiam di posisinya. Menyamaratakan kedua alisnya yang ternyata masih tetap diam di posisi. "Untuk apa?"
"Kemari, bodoh!" Sehun yang tidak sabaran tahu-tahu sudah menarik tangan kecilnya. Menjuput sebuah jaket yang ia temukan di sofa lalu memasangkannya pada Luhan.
Luhan yang masih tak mengerti dengan apa yang Sehun lakukan padanya hanya bisa membeku. Memperhatikan gerak-gerik pria itu saat memasukkan lengannya ke dalam tiap lengan jaketnya. Atau menatap wajah serius Sehun saat menarik reseleting jaketnya.
Sehun terus menarik resleting jaket itu hingga ke ujung dagu Luhan. Membuat Luhan mendongak menatap kedua matanya yang setenang telaga. Menyelaminya dalam kesunyian yang tidak beralasan. Membuatnya mendadak merasakan aliran baru dalam rongga dadanya. Merubah aliran darahnya yang berdesir halus ketika tangannya tidak sengaja menyentuh kulit dagu itu.
Luhan berkedip beberapa kali merasakan dadanya bergemuruh. Entah apakah di dalam dirinya ada sebuah hujan, pelangi dan awan, tapi di matanya kini semua itu tidaklah lagi sebuah imajinasi. Sehun benar-benar tengah berdiri di depannya. Mengusik getaran di dadanya sampai ia tercenung tidak berdaya.
Sehun yang menelan kegugupannya, masih berusaha memasangkan Luhan topi jaket yang menganggur di tengkuk pria itu. Segera membungkus kepala Luhan sampai harus menyembunyikan tiap helaian rambutnya yang mulai memanjang. "Ini belum berakhir," gumamnya sendiri.
"Semuanya belum berakhir."
e)(o
Jongin menggeser sebuah pintu yang ada di depannya. Memasuki ruangan serba putih itu lalu meletakkan sebuah kantung besar apel yang dibelinya. Ia disambut dengan senyuman kecil dari si pemilik ruangan. Pria berkulit tan itu pun merasakan sesuatu yang lain di hatinya ketika gadis itu tersenyum untuknya. Membawa dirinya ikut mengembangkan senyum hingga ia tiba mengambil posisi di kursi yang kosong.
"Bagaimana kabarmu sore ini?" tanya Jongin mengecek semua hal. Sampai harus mendongak memastikan cairan infuse itu menetes dengan benar.
"Kyungsoo sangat baik padaku," jawab gadis itu tertawa kecil. Tangannya yang lemah menjuput sebuah buku tebal di atas nakas. Memberikannya pada Jongin dengan sangat antusias. "Ia memberiku sebuah buku favoritnya."
"Novel?" gumam Jongin ikut terkikik geli. Ia membuka sampul buku itu. Berusaha menemukan inti cerita tapi lembarannya terlalu tebal baginya. "Kau harus percaya dia bukanlah orang yang sedrama ini. Ia tidak pernah suka membaca kisah fiksi."
Gadis itu kembali tersenyum lembut. "Kalian terlihat sangat dekat." Ia berusaha beranjak untuk mendudukkan dirinya. Mengundang Jongin untuk segera bangkit dari kursi untuk membantunya bersandar.
"Kami sangat dekat karena kami tetangga. Dan─" Jongin kembali ke tempat duduknya. "dia orang yang lebih sering memberiku makanan ketika ia tak sempat menghabiskan makanannya. Maksudku, dia suka memasak dalam porsi yang besar, padahal dia tinggal sendirian dan─sibuk."
"Dia pandai memasak?" Jongin mengangguk dengan begitu bersemangat. Selalu ada rona bahagia ketika ia menceritakan banyak hal soal teman mungilnya itu.
"Dia sangat pandai memasak. Pernah suatu hari dia membawakanku sebuah sup yang rasanya seenak restoran di sebelah rumahku. Kau tahu kan? Restoran yang menjual ayam pedas itu."
"Jongin," panggil gadis itu menghentikan ceritanya. Sedikit tak tega sebenarnya. Tapi entah mengapa ia ingin sekali tahu mengapa pria ini terlihat begitu berbeda saat membicarakan temannya. "kau menyukainya?"
Jongin tertawa keras mendengar itu. Ia sampai-sampai kehilangan matanya karena menganggap ini terlalu lucu. "Tidak begitu. Aku menceritakan soal ini karena dia benar-benar pandai memasak."
"Itu terlihat jelas di wajahmu." Senyum gadis itu segera membuyarkan tawa Jongin. "Kau selalu menatapnya dengan begitu berbeda."
"Oh, ayolah," keluh Jongin menyentuh lengan gadis itu dengan telunjuknya.
Gadis itu terkikik menemukan kepolosan Jongin di matanya. "Berhentilah memanggilku kekasihmu dan ajaklah dia berkencan."
Jongin tiba-tiba tertunduk dalam diamnya. Ia memegangi jemarinya ketika mengatakan, "Dia terlalu sibuk untuk memikirkan─soal cinta."
"Ayolah, pasti ada celah," pukul gadis itu tepat di pundaknya.
Jongin berdehem sebentar. Sebenarnya ia ingin mengalihkan pembicaraan ini sedari tadi, tapi hatinya masih ragu untuk mengucapkannya secepat keinginannya berlabuh. "Sena, boleh aku menanyakan sesuatu? Ini tentang─kau."
Gadis itu terdiam sebentar. Matanya berkedip beberapa kali sebelum berubah menjadi sedikit sedih. "Apa aku membebanimu?"
"Tidak, tidak! Kau sama sekali tidak membebaniku. Aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu." Jongin kembali meragu. Ia mengetuk ujung ranjang gadis itu sebelum benar-benar berbicara. "Apa kau tidak ingin kembali pada keluargamu?"
Gadis itu merunduk. Terdiam sebentar dalam tundukannya. "Maafkan aku Jongin, aku pasti sangat membebanimu."
Jongin mendekat padanya. Meraih kedua tangannya, tanpa ragu menggenggamnya. "Kau tidak membebaniku. Aku justru lega karena kau ada disini. Tidak di luar sana dan membuatku khawatir seperti Sehun yang kewalahan mencarimu─" Jongin kemudian mengutuki dirinya sendiri. Ia hampir saja memukul kepalanya karena terlalu jujur soal topik pembicaraan yang dibangunnya. "M-maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung soal ini."
Sorot gadis itu berubah sedih. Ia sebenarnya merindukan keluarganya. Ia pikir ia butuh waktu, tapi entah mengapa sampai saat ini pun ia masih belum juga ingin kembali. "Aku belum siap. Maafkan aku."
"Tolong jangan dipikirkan, itu tidak baik untuk bayi di dalam perutmu." Jongin melepaskan lengan gadis itu. Ia sungguh menyesal karena mencoba membicarakan hal ini sekarang. Dan sudah seharusnya ia tidak semakin menambah beban pikirannya. "Aku akan selalu membantumu. Katakan jika kau sudah siap. Aku bisa mengantarmu pulang─kapan pun kau mau."
Jongin lalu mengambil sebuah apel dalam kantung yang dibawanya. "Apa kau mau makan apelmu sekarang?"
Gadis itu tersenyum dalam genangan air matanya. "Terima kasih, Jongin."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
