Terima kasih untuk Matsura Akimoto, DarkAngelYouichi, Ayuzawa00Phantomhive, levina-rukaruka, Uyung-chan, Nasaka X Mizumachi, ShiroNeko, CieCieYeaDinoHibari4EVER, just reader 'Monta, dan Iin cka you-nii yang telah menyumbangkan review di chap sebelumnya.. Makasih banyak yah... XD
.
.
Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
.
Ghost Island
Plot by mozzarella cheese
Story by Mitama134666
Main Chara(s) : Mizumachi Kengo, Kakei Shun
Genre : Horror, mystery, slight romance
Rated : T (to be safe)
Warning : Chara death, OOC (semoga tidak terlalu), typo (jaga-jaga), horror kurang terasa.
A/N : Saia lupa bilang kalau anggota tim Kyoshin yang ada di pulau berjumlah 12 orang, termasuk Otohime (?)
.
Part 2
.
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar Maki. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih berat lalu menggeliat kecil. Ia melirik ruang kosong disebelahnya. Sepertinya Otohime yang semalam tidur dengannya sudah bangun duluan.
Manajer Kyoshin itu menguap sambil bangkit duduk lalu beranjak ke kamar mandi. Setelah selesai dengan rutinitas alaminya, ia pun keluar kamar menuju ruang makan. Disana sudah berkumpul semua anggota tim Kyoshin yang sedang sarapan, kecuali Mizumachi dan Otohime.
"Ohayou!" sapa Maki ceria.
Semua yang mendengar sapaan itu pun membalas sopan. Tersenyum lebar, Maki duduk di samping Kakei lalu mulai mengisi piringnya.
"Ng—Kakei, kau lihat Otohime?" tanya Maki yang sudah mulai memakan sarapannya.
"Tadi aku melihatnya berjalan ke pantai bersama Mizumachi," kata Kakei.
"Haha… Sepertinya hubungan mereka mencurigakan," kata Maki.
"Hn, kurasa—" Belum sempat Kakei meneruskan kata-katanya, handphone Maki berdering keras. Refleks, gadis itu pun mengangkat benda mungil tersebut lalu mendekatkannya ke telinga.
"Halo?" kata Maki.
"Maki, ini aku, Otohime!" jawab suara dari ujung lain telepon.
"Ya, Otohime, ada apa? Bagaimana kencanmu dengan Mizumachi?" tanya Maki sambil tersenyum jahil.
"Apa maksudmu? Jangan bicara yang tidak-tidak, Maki. Mizumachi 'kan bersama kalian," jawab suara itu.
"Ah, jangan malu-malu begitu. Aku tahu, saat ini kalian sedang ke pantai berdua kan… Hayo, mengaku saja!" kata Maki gemas.
"Kau ini mengada-ngada, Maki! Bagaimana aku bisa bersama Mizumachi, dia 'kan ikut kalian ke pulau. Justru aku menelepon untuk memberitahukan kalau aku mau menyusul kalian ke pulau. Tapi mungkin dua hari lagi aku baru sampai," jelas Otohime.
"Eh? Apa maksudmu? Bukankah kau sudah di pulau ini sejak tadi malam?" tanya Maki heran.
"Haha… Kau bercanda, Maki! Sejak dua hari yang lalu 'kan aku masih berlatih bersama teman-teman cheers lainnya. Kami juga baru selesai tadi pagi. Sudahlah, yang penting tunggu aku dua hari lagi ya! Dah!"
"E—Eh? Otohime, tunggu!" Maki mencoba menahan pembicaraan teleponnya dengan Otohime tapi sambungannya sudah terputus. Dengan resah, gadis itu mencoba menghubungi kembali orang yang tadi meneleponnya. Tetapi selalu gagal.
Melihat Maki yang gelisah seperti itu, Kakei pun bertanya, "Ada apa Maki? Tadi kau bilang Otohime?"
"Itulah… Kakei, yang tadi meneleponku itu Otohime! Dia bilang akan menyusul kesini dua hari lagi…," jawab Maki.
"Otohime? Menyusul? Bukannya dia sudah disini, dan sekarang sedang bersama Mizumachi?" tanya Onishi yang mendengar pembicaraan itu. Anggota yang lain pun menghentikan sejenak kegiatan makan mereka untuk selanjutnya fokus pada Maki.
Maki yang tiba-tiba jadi pusat perhatian itu hanya terdiam dengan ekspresi bingung.
"Kalau Otohime masih disana, jadi—Mizumachi pergi dengan siapa?" tanya Onishi lagi.
Maki pun menjawab pelan, "Entahlah, aku juga tidak ta—" Tapi Maki tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba saja John datang tergopoh-gopoh. Wajahnya tertekuk, ia terlihat sangat marah.
John pun berteriak kesal, "Anak-anak!"
"I—Iya, Jhon. Ada apa?" tanya Ohira yang agak takut melihat John marah seperti itu.
"Apa ada yang hilang?" tanya John.
Mendengar pertanyaan tersebut, mereka semua pun langsung berpandang-pandangan. Mencari-cari siapa teman mereka yang tidak ada.
"Mizumachi—dan Otohime—tidak ada. Tapi mereka tidak hilang kok. Tadi Kakei melihat mereka berjalan menuju pantai," kata Maki ragu-ragu.
"Pantai mana?" tanya John.
"Eh? Ng… Pantai mana, Kakei?" tanya Maki. Sedangkan yang ditanya tiba-tiba membeku. Ia benar-benar melupakan sesuatu yang penting.
Setelah menghela nafas dalam-dalam, Kakei pun berkata, "Pantai kiri."
"E—Eh?" Semua anggota tim Kyoshin pun kaget. Mereka semua tahu kalau seharusnya Mizumachi tidak boleh pergi ke pantai kiri. Pantas saja John sampai marah seperti itu.
"J—Jhon, jangan marah ya… Mizumachi itu orangnya polos, jadi dia belum begitu mengerti tentang konsekuensi jika dia mengunjungi pantai itu. Jadi, tolong jangan tendang Mizumachi keluar dari pulau ini…," bujuk Maki yang mencoba melindungi Mizumachi.
"Dasar bodoh! Kalau sudah seperti ini, aku malah ingin menendang diriku sendiri keluar pulau!" teriak John.
Kakei yang merasa ada sesuatu yang mencurigakan pun mulai menginterogasi John, "Memangnya kenapa kau ingin pergi dari sini?"
"Gara-gara teman bodohmu itu, sekarang pulau ini jadi—"
"Jadi… Apa?"
"Errr—Itu… Sudahlah, yang penting sekarang aku mau pergi keluar dari pulau ini!" kata John sambil mengangkat kaki kanannya untuk melangkah pergi. Tapi ia ditahan oleh teriakan Maki.
"Kau mau pergi begitu saja? Heh, jangan seenaknya begitu dong! Pelatih kami belum muncul juga, saat ini kami tanggung jawabmu!" Maki merasa sangat kesal pada pengurus penginapan itu.
"Eh? Kalian belum bertemu dengan pelatih kalian?" tanya John yang nada suaranya sudah turun.
Semua anggota tim Kyoshin pun menggeleng-gelengkan kepala mereka. Tak ada yang sudah bertemu dengan sang pelatih sejak mereka menginjakkan kaki di pulau tersebut.
"Pokoknya aku mau pergi!" kata John. Tapi ia kembali ditahan, kali ini oleh teriakan Onishi yang kesal karena bahkan ia tak mengerti akan permasalahan yang membuat mereka ribut.
"Orang tua bodoh! Ini penginapanmu! Kalau kau pergi, bagaimana dengan kami?"
"Keh, terserah. Mau pergi atau tidak, bukan urusanku. Pokoknya, aku harus segera keluar dari pulau ini, aku tidak mau mati disi—" John menghentikan kalimatnya tiba-tiba seolah telah mengatakan suatu rahasia yang seharusnya ia jaga.
"Mati? Apa maksudmu?" tanya Maki curiga.
"Kau berhutang penjelasan pada kami semua, Tuan," kata Kakei dingin sambil mencengkeram lengan John dan menariknya ke kursi. John sendiri hanya bisa pasrah dan menyesali mulut besarnya.
.
-xXx-
.
Gelap.
Mizumachi merasa aneh. Tubuhnya terasa ringan sekali. Lelaki itu seperti melayang. Rasanya seakan ia sedang membuka matanya lebar-lebar, tapi tak ada warna lain yang bisa dilihatnya. Hanya hitam. Perlahan, ia merasa semakin kecil. Kekuatannya semakin lemah. Matanya tidak sanggup lagi untuk terus membuka.
Mata yang dulu penuh keceriaan dan semangat itu pun pelan-pelan kehilangan cahayanya. Kegelapan pekat seolah mendorong kelopak matanya untuk menutup. Sampai akhirnya sepasang bola mata itu 'tak terlihat lagi. Tidak akan pernah.
.
-xXx-
.
"Kau pasti bercanda… Tidak, aku tidak percaya!" bentak Maki pada pria tua yang duduk di kursi, dikelilingi oleh seluruh anggota tim Kyoshin.
"Terserah kalian percaya atau tidak, aku mengatakan hal yang sebenarnya," kata John sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi maksudmu kau mengatakan kalau penyihir itu benar-benar ada?" tanya Kakei.
"Sudah kubilang, ia nyata! Sungguh-sungguh nyata! Kau tidak lihat cuaca yang memburuk itu? Di pulau ini, pagi hari cuacanya selalu cerah. Tak pernah gelap seperti ini kecuali… Kecuali dia terbangun," kata John.
"Cih, yang benar saja. Cuaca sekarang 'kan sudah tidak bisa ditebak. Bagaimana aku bisa percaya cerita seperti itu? Penyihir yang akan membawa setiap orang yang masih suci ke dunianya lalu memakan jiwa mereka agar ia bertambah kuat? Seperti film horror murahan saja," kata Onishi sinis.
"Sebentar, kau belum bercerita tentang asal muasal cerita tentang penyihir itu," kata Kakei.
"Hhhh… Dulu, pulau ini sempat ramai sebagai tempat wisata. Banyak sekali turis yang datang. Pada akhirnya banyak pula turis pria yang menikahi wanita lokal dan membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Padahal, wanita-wanita itu sama sekali tidak cantik."
Hening sesaat. Para anggota tim Kyoshin merasa seperti orang bodoh mendengarkan cerita itu. Tapi toh tidak ada salahnya. Mereka tidak akan rugi apa-apa jika hanya mendengarkan cerita John. Maki pun berkata singkat, "Lanjutkan."
"Wanita-wanita itu dapat membuat para turis jatuh cinta karena mereka menggunakan ilmu sihir. Mereka meminta pada seorang penyihir wanita yang memiliki perjanjian dengan setan. Maka si penyihir itu pun meminta syarat kepada para wanita yang meminta bantuannya—berdasarkan perjanjiannya dengan sang iblis," kata John perlahan.
"Syarat apa?" tanya Kakei.
"Laki-laki yang masih suci. Para wanita itu mengorbankan laki-laki yang merupakan penduduk lokal pulau ini. Sampai akhirnya, orang tua dari para pemuda yang hilang pun mengetahui perihal anak-anak mereka yang dijadikan persembahan setan. Beramai-ramai, mereka membantai sang penyihir. Wanita itu diseret dari gubuknya, dirajam dan ditenggelamkan di laut saat ia sedang sekarat," jelas John.
John mengedarkan pandangannya pada para penghuni penginapannya yang semakin serius mendengarkan ceritanya. Ia pun menghela nafas panjang sebelum melanjutkan.
"Penyihir itu disegel di pantai kiri pulau ini. Pantai kiri itu hanya aman untuk mereka yang sudah tidak suci lagi. Dulu, yang jadi persembahan memang hanya laki-laki. Tapi setelah penyegelan itu, roh sang penyihir yang bersemayam di pantai kiri tak peduli lagi siapa korbannya. Asalkan ia masih suci, jiwa itu akan membuatnya bertambah kuat …"
Hening sesaat.
"… Sampai akhirnya kekuatan penyihir itu sanggup untuk menghancurkan segel," kata John mengakhiri certitanya.
"Kau tahu segelnya berupa apa?" tanya Onishi.
"Entahlah. Tapi yang pastinya, roh jahat itu hanya bisa berkuasa di pantai kiri. Ia tidak memiliki kekuatan selain di tempat itu," jawab John.
"Lalu kalau pantai itu memang berbahaya, kenapa masih juga dibuka untuk umum?" tanya Maki.
"Karena masih ada yang mencari nafkah dari pantai itu. Seperti aku, pengurus penginapan ini. Satu-satunya daya tarik pulau ini hanyalah pantai itu. Lagipula aku sudah melarang setiap orang yang masih suci untuk pergi ke sana," jelas John.
"Tapi—aku yakin—kau tahu kalau pasti ada orang yang nekat untuk pergi kan?" bentak Maki.
"Dulu memang begitu. Aku juga sudah hampir menutup penginapan ini jika saja tidak mendapatkan info tentang Hiruma."
"Apa maksudmu? Jadi kau menggunakan nama Hiruma untuk menakut-nakuti para turis yang berlibur ke sini? Begitu?" tanya Kakei tajam.
John mengangguk pelan. "Selama ini selalu berhasil," katanya.
"Sudahlah, aku muak dengan pembicaraan bodoh ini! Aku juga masih bingun soal Otohime!" teriak Maki frustasi.
"Kita cari Mizumachi saja. Sekarang," kata Kakei dingin.
"Apa aku sudah boleh pergi?" tanya John takut-takut.
"Tidak. Onishi, kunci dia di kamar. Kau dan Ohira jaga di sini. Aku dan yang lainnya akan ke pantai kiri untuk mencari Mizumachi—dan Otohime," kata Kakei tegas.
Onishi pun bergegas mendorong John ke dalam kamarnya yang terletak di lantai satu. Setelah itu, ia dan Ohira cepat-cepat menyusul Kakei dan teman-teman mereka yang lain.
"Kalian tunggu di sini," kata Kakei.
"Tidak. Kami ikut," kata Onishi mantap.
"Kalian masih suci 'kan? Mungkin saja berbahaya bagi kalian," kata Maki.
"Cerita itu belum tentu benar. Kami yakin, kami akan baik-baik saja! Pokoknya kami ikut Kakei-sensei!" balas Onishi.
"Uhm!" Ohira mengangguk-anggukkan kepalanya. Padahal ia terlihat ketakutan, matanya pun sudah berkaca-kaca. Tapi sepertinya ia tidak mau kalah dengan Onishi.
"Hhhh… Baiklah. Tapi, hati-hati," kata Kakei.
"Baikkk!" jawab Onishi dan Ohira kompak.
Tanpa buang waktu lagi, rombongan itu pun pergi menuju pantai kiri.
.
-xXx-
.
"Mizumachi! Hei! Di mana kau?" teriak Onishi.
"Mizumachi! Di mana kauuu?" teriak Ohira tak mau kalah.
Anggota yang lain pun terus memanggil-manggil nama Mizumachi, tapi tak ada jawaban sama sekali. Kakei lalu memutuskan untuk melakukan pencarian dengan cara berpencar. Ia, Maki, dan seorang lainnya meyusuri garis pantai ke arah kanan. Onishi, Ohira, dan satu orang lagi ke arah kiri. Sedangkan sisanya menyebar di sekitar hutan di dekat pantai.
Seiring dengan langit yang menghitam, mereka pun mencari dan terus mencari. Beberapa orang mulai merasa panik karena ketidakjelasan nasib teman mereka. Dan di saat keputusasaan mulai menyerang, tiba-tiba terdengar teriakan seorang gadis dari arah kanan pantai.
"Gyaaa! Tidaaakkk!"
Mendengar jeritan itu, mereka yang sedang berpencar di hutan pun langsung berlari menuju sumber suara. Begitu sampai, terlihatlah pemandangan Kakei yang sedang memeluk Maki. Gadis itu gemetar hebat. Kakei sendiri terlihat terguncang. Sedangkan satu orang lagi sudah terduduk di pasir pantai.
Empat orang anggota tim yang mulai panik itu mengalihkan pandangan mereka pada apa yang membuat ketiga teman mereka menjadi seperti itu. Selanjutnya, ketenangan yang berusaha mereka jaga pun luntur seketika.
Di antara batu karang, tersangkut segumpal tulang yang terbungkus daging. Dari bentuknya, dapat dipastikan kalau benda itu dulunya manusia. Hanya saja saat ini tubuh itu seolah menyusut. Layu.
Kulit yang keriput melekat erat pada tulang-tulangnya. Bibir yang kering dan mengelupas, menyunggingkan segaris senyuman miris. Jari-jari kurus yang menegang seakan membeku dalam keadaan yang menyakitkan, dan mata yang begitu cekung, seolah tak ada apa-apa dibaliknya.
Tapi yang paling membuat mereka semua tercengang adalah rambut pirang yang menempel di kepala tubuh itu. Mereka kenal sekali dengan rambut pirang yang jabrik itu. Rambut itu milik teman mereka. Orang yang mereka cari sejak tadi.
"Mizu …" kata seorang lelaki yang merupakan anggota termuda tim Kyoshin. Ia begitu terguncang akan pemandangan yang tersaji dihadapannya sampai-sampai menyebutkan nama temannya saja ia tidak sanggup.
"Kita harus pergi dari sini—secepatnya," kata Kakei menyimpulkan.
Tanpa berkata-kata lagi mereka semua pun berlari menuju jalan setapak yang mengarah ke penginapan. Tapi sebelum sampai ke jalan itu, Kakei berhenti tiba-tiba. "Di mana kelompok yang satu lagi?" tanyanya.
Mereka pun saling berpandangan lalu berlari ke arah pantai tempat Onishi, Ohira dan satu orang lainnya pergi. Tapi yang mereka temukan sama sekali tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Ketiga orang itu—yang disimpulkan masih suci—keadaannya sudah seperti Mizumachi.
Melihat tiga jasad teman-temannya, Kakei pun menelan ludah. Sekarang, jumlah mereka tinggal berenam—tujuh dengan John. Ah, Kakei jadi ingat; John masih terkunci di penginapan. Berusaha tenang, Kakei pun berkata sambil menyeret Maki yang seolah terpaku di tempatnya, "Kembali ke penginapan. Kita jemput John lalu segera keluar dari pulau."
Sepeninggal kelompok itu, seorang gadis berambut panjang keluar dari tempat persembunyiannya di balik bebatuan. Tangan kurusnya kini telah terselimuti kulit putih pucat yang tipis. Tubuhnya juga sudah memiliki daging. Walaupun beberapa bagian dari wajahnya masih memperlihatkan tulang putihnya.
Gadis itu memandangi kepergian Kakei dan teman-temannya dengan bola mata yang dicurinya dari Mizumachi. Bibir tipisnya pun menyunggingkan segaris senyuman puas. Ia sudah hampir sempurna. Ia hanya membutuhkan satu jiwa suci lagi untuk melepaskan diri dari penjara yang selama ini membelenggunya. Sedikit lagi. Ya, hanya tinggal sedikit lagi.
.
-xXx-
.
Lima pasang kaki kekar dan sepasang kaki jenjang berlari cepat untuk memasuki penginapan. Raut wajah para pemilik kaki sudah diliputi oleh kecemasan, kecuali satu orang. Walalupun sebenarnya ia juga cukup resah, tapi ia berusaha keras untuk menjaga ketenangannya agar bisa menyelamatkan rekan-rekannya yang tersisa.
Otak cerdasnya masih berpikir kalau apa yang mereka hadapi ini tidak masuk akal. Ia berusaha mencari pembenaran akan apa yang mereka semua alami. Tapi sayang, bukti-bukti yang didapatnya hanya merujuk kepada satu kesimpulan; cerita John benar adanya.
Lelaki itu pun setengah berlari menghampiri kamar yang sebelumnya ditempati Onishi dan Ohira. "Kuncinya?" tanyanya pada teman-temannya.
"Dibawa Ohira," jawab Maki serak. Gadis itu masih terus menangis sejak melihat jasad Mizumachi.
Tanpa pikir panjang, Kakei dan seorang lainnya pun mendobrak pintu kamar tersebut. Tapi mereka tidak dapat menemukan John di dalam. Hanya jendela dengan kaca yang sudah pecah dan sepucuk surat di atas meja.
Menyadari kalau satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan mereka telah melarikan diri, mereka pun melemas. Maki semakin terisak-isak sambil menggumam kalau dia ingin pulang. Kakei sendiri berjalan kaku untuk meraih surat yang ditinggalkan di atas meja. Sedangkan empat orang lainnya terduduk di lantai sambil memegangi kepala mereka.
Agak gemetar, Kakei pun membuka lipatan surat yang kini ada di tangannya lalu membaca, "Maafkan saya, anak-anak. Perahu saya hanya muat untuk dua orang, jadi saya pergi sendiri. Tapi saya akan mencari bantuan begitu saya sampai di desa terdekat. Sebelum itu—"
CTARRR!
Tiba-tiba petir menggelegar diantara langit yang sudah sehitam malam. Maki, satu-satunya perempuan disana menggigit bibirnya sendiri. Ia berusaha untuk tidak berteriak dan menambah panik teman-temannya.
Kakei pun menggenggam tangan gadis itu, ia berusaha menenangkannya. Berusaha untuk menyatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Walaupun ia sendiri tidak yakin. Dengan tangan bergetar, lelaki itu pun melipat kembali surat John lalu berkata, "Handphone-ku tidak dapat digunakan. Bagaimana dengan kalian?"
Lima orang itu pun memeriksa handphone mereka. Tapi benda persegi panjang tersebut malah berakhir dengan dibanting ke tembok, diinjak-injak, dan diremukkan. Sejak tadi, handphone mereka sama sekali tidak bisa dinyalakan sama sekali.
Melihat reaksi teman-temannya, Kakei pun mencoba mengambil keputusan, "Kita coba ke pantai depan. Siapa tahu masih ada perahu atau kapal."
Teman-temannya yang lain hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka sudah menyerahkan semuanya pada Kakei. Enam pasang kaki itu pun kembali berlari. Kali ini keluar penginapan, menembus hujan yang sudah mulai turun sejak beberapa saat yang lalu.
.
-xXx-
.
Pantai itu kosong. Tak ada satu pun kapal yang berlabuh di sana. "Sial! Padahal tadinya kan ada lima kapal di sini! Kapal kita sendiri baru akan menjemput kita satu minggu lagi …," kata seorang diantara mereka.
"Semua penghuni pulau ini sudah pergi. Mereka meninggalkan kita. Kita akan mati. Kita akan mati di sini …," bisik Maki lirih.
"Tidak akan," kata Kakei. Ia pun menghapus air mata Maki lalu memaksakan sebuah senyum," kita tidak akan mati di sini, Maki. Ehm, bukankah pelatih bilang kalau ada lima keluarga yang tinggal di pulau ini?"
"Ya, lalu?" tanya seorang diantara mereka.
"Kalau tadinya ada lima kapal dan salah satunya adalah perahu milik John, maka…" kata Kakei.
"Ada satu keluarga lagi yang belum pergi," lanjut Maki.
Secercah harapan pun mulai merasuki batin mereka semua sampai kemudian, "Bagaimana kita tahu? Mungkin saja ada dua keluarga yang menaiki satu kapal yang sama 'kan?"
Ucapan yang dikeluarkan oleh seorang anggota tim itu membuat cahaya harapan mereka meredup. Tapi seorang Kakei tak akan berputus asa. Ia pun mengatakan, "Jangan buru-buru menyimpulkan. Siapa tahu saja ada satu kapal milik satu keluarga lagi yang belum meninggalkan pulau ini."
"Benar kata Kakei. Kita belum memeriksa keseluruhan pulau ini. Ng—Bagaimana dengan bagian belakang pulau?" kata Maki. Rupanya gadis itu telah mendapatkan kekuatannya kembali. Air mata sudah berhenti mengalir dari bola matanya yang indah.
Kakei jadi sedikit lega melihat Maki sudah mulai bangkit. Ia pun menghadiahi senyuman dan anggukan pada gadis itu. Melihat hal tersebut, teman-temannya yang lain pun mencoba berpikiran positif. Dan dengan satu anggukan mantap, mereka berempat berlari mengikuti Maki yang sudah jalan duluan.
Kakei menghela nafas berat lalu melirik papan nama di sebelahnya sebelum akhirnya ia pun berlari menyusul. Tersembunyi diantara pepohonan, sebuah papan kayu yang berisi nama pulau tersebut terabaikan begitu saja. Tulisan di papan itu berbunyi 'S. Shi'. Ternyata Mizumachi salah membaca tulisan tersebut.
'Shi' disana bukan 'Shi = Empat', tetapi 'Shi = Kematian'. Nama pulau tersebut bukanlah 'Pulau Empat', melainkan 'Pulau Kematian'.
.
-xXx-
.
Matahari sama sekali tidak menunjukkan wajahnya. Padahal menurut jam tangan yang dipakai Maki, saat ini masih siang. Tapi awan hitam masih saja memenuhi langit walaupun hujan deras tadi sudah berganti menjadi gerimis kecil.
Kakei, Maki, dan empat orang lainnya saat ini sedang berdiri ragu. Maki menatap tanda 'Dilarang Masuk' di depannya.
Rawa.
Untuk mencapai bagian belakang pulau, mereka harus melewati rawa-rawa. Kelompok kecil itu sudah basah kuyup diguyur hujan yang turun semakin deras. Mereka sudah lelah. Apalagi dengan bayang-bayang kematian yang menghantui mereka.
Mereka muak. Mereka tidak mau membuang-buang waktu dengan memutari rawa tersebut. Akhirnya—dengan terpaksa—lima pasang kaki kekar pun turun; tenggelam dalam air rawa yang dangkal dan asam, menyisakan sepasang kaki jenjang milik Maki yang enggan mengikuti jejak teman-temannya.
"Ayo, Maki," ajak Kakei lembut.
Tapi gadis itu bergeming. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda ia tidak mau. Kakei pun menghela nafas lagi. Selanjutnya ia menghampiri gadis itu dan memunggunginya. "Naiklah," katanya.
Awalnya, Maki ragu. Tetapi setelah melihat teman-temannya yang terlihat mulai tidak sabar, ia pun menaiki punggung Kakei. Gadis itu memeluk erat leher lelaki yang sebenarnya telah mencuri hatinya sejak lama. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun ia bersyukur dapat memiliki Kakei di sisinya.
Keenam—ah, kelima orang itu berjalan dan terus berjalan. Mereka dapat merasakan berbagai macam makhluk—entah apa itu—sekali-kali menyenggol kaki mereka. Tapi mereka semua berusaha menguatkan hati untuk tetap maju dan tidak mempedulikan apa pun yang bergerak diantara kaki mereka itu.
Beberapa menit kemudian, Maki merasa tidak enak pada Kakei. Lelaki itu terlihat lelah. Ia pun mengendorkan pelukannya, menguatkan hatinya, dan berkata pelan, "Turunkan aku."
Kakei pun menghentikan jalannya lalu bertanya, "Kau yakin?"
Maki menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sebenarnya Kakei takut terjadi apa-apa pada Maki, tetapi gadis itu sudah mulai menggerak-gerakkan kakinya tidak sabar. Jadi, tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun menurunkan Maki dari punggungnya.
Maki mengerenyitkan dahi begitu kakinya menyentuh air. Tapi kerutan di dahinya itu hilang saat Kakei mengulurkan tangan padanya. Begitu tangan mereka bertautan, teman-teman mereka yang jalan duluan pun berteriak keras sambil berlari, "Ada cahaya! Yeah! Kita selamat!"
Mendengar kabar tersebut, Kakei dan Maki pun tersenyum lebar. Mereka mulai melangkahkan kaki mereka untuk menyusul teman-temannya yang lain. Saling menggenggam tangan masing-masing, pasangan itu berlari keluar dari rawa.
Mereka berlari menuju cahaya pertama yang mereka lihat sejak pagi tadi. Mereka berusaha berlari cepat walaupun merasa berat karena pakaian mereka basah oleh hujan. Mereka berlari menyusul teman-teman mereka, menyongsong harapan hidup mereka—
.
.
.
—setidaknya itu yang mereka pikirkan.
.
-xXx-
.
Kakei dan Maki berlari keluar dari rawa. Tapi begitu kaki mereka menginjak tanah, tiba-tiba saja keadaan menjadi sunyi senyap. Suara teman-teman mereka yang tadi berlari senang tiba-tiba hilang. Maki pun mendekatkan tubuhnya pada Kakei.
Di saat Maki akan bertanya mengenai kesunyian yang tiba-tiba datang, kakinya menginjak sesuatu yang basah. Bukan air. Sesuatu itu kental. Refleks, ia pun berhenti melangkah. Lelaki disampinya spontan mengikuti tingkah gadis itu.
Kakei melihat Maki dengan pandangan bertanya. Gemetaran, Maki pun menundukkan kepalanya perlahan untuk melihat sesuatu yang menyentuh kakinya. Cairan kental yang terlihat berwarna hitam tergenang diantara kaki jenjang itu.
Bersama-sama, Kakei dan Maki mengarahkan pandangan mereka pada sumber dari cairan tersebut; di bawah pohon, tubuh seorang pria tengah baya terbujur kaku. Manusia yang sudah tak bernyawa itu terlihat tercabik-cabik.
Kakei dan Maki mengenali pria itu. Dia adalah orang yang selama ini hanya mereka temui di lapangan amefuto. Juga orang yang mengajak mereka semua pergi ke pulau tersebut; kuburan mereka sendiri. Orang itu adalah pelatih mereka.
Air mata kembali mengaliri pipi Maki. Dengan bibir yang bergetar, gadis itu berkata, "Surat itu. Surat dari John. Kau belum selesai membacanya …"
Setelah menelan ludah, Kakei pun mengambil surat John dari kantong jaketnya. Dengan suara pelan, ia mulai membaca.
.
.
" Maafkan saya, anak-anak. Perahu saya hanya muat untuk dua orang, jadi saya pergi sendiri. Tapi saya akan mencari bantuan begitu saya sampai di desa terdekat. Sebelum itu jangan pergi kemana-mana. Terutama, jangan pergi ke bagian belakang pulau. Disanalah tempat iblis yang memiliki perjanjian dengan sang penyihir tinggal. Iblis itu akan memangsa siapa saja yang memasuki sarangnya. Tetaplah di penginapan. Saya janji, saya akan menjemput kalian beberapa hari lagi …"
.
.
.
.
.
.
Epilog
Bau asin garam menggantung di udara. Menggelitik hidung seorang gadis yang baru saja menapakkan kakinya di pasir pantai. Angin membelai rambut panjangnya yang diikat rapi. Sedangkan mata besarnya melihat-lihat pemandangan pantai yang sepi. Gadis cantik itu melambai singkat pada kapal kecil yang berbalik arah setelah mengantarkannya ke pulau tersebut.
Setelah kapal itu menjauh, ia mendekatkan handphone ke telinganya lalu berguman, "Tidak aktif. Teman-teman kemana sih? Kenapa tidak menjemputku? Aku 'kan sudah bilang kalau aku akan menyusul ke sini. Huuh …"
Di sisi lain pulau, segaris senyum muncul dalam kegelapan. Merasakan apa yang ditunggunya sudah datang, senyum tersebut berubah menjadi seringai. Gigi-gigi curian itu menjadi satu-satunya warna lain dalam kegelapan diantara bebatuan.
Sedangkan Otohime—gadis yang baru sampai itu—tak mengira sama sekali akan sesuatu yang menantinya. Sambil menggerutu, ia pun beranjak memasuki pulau. Memunggungi kapal yang baru akan menjemputnya lima hari lagi. Mengabaikan papan kayu tua yang tersembunyi diantara pepohonan, bertuliskan 'Pulau Kematian'.
.
.
|tHE eND|
.
.
.
Fiuh… Lebih dari tiga ribu kata (hampir empat ribu malah)… O_O
Tadinya mau saia pecah lagi, tapi saia kan udah janji ini bakalan jadi two shot. Ternyata eh ternyata Part duanya malah jadi sepanjang ini.. Maap yah.. ==a
Oia, soal Onishi sama Ohira, mereka baru muncul disini karena saia lupa buat munculin mereka di Part satu. Hehe.. *ditendang 'O' kuadrat*
Yosh, maap buat Moza-chan karena ceritanya jadi aneh gini. Maap buat readers karena saia telah gagal membuat cerita yang menegangkan. Dan maap juga kalo malah ngebosenin gara-gara kepanjangan.
Okeh, cukup minta maapnya. Thanks for reading..^^
Mind to review?
