Naruto milik Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre : Drama, Family
Warning : My first FF, judul mungkin tidak nyambung, kata-kata masih amburadul, Typo(s), DLDR.
...
All About Harmony
Chapter 10 : Calm Before Storm
...
Happy Reading
...
Sudah hari keempat sejak Boruto berangkat melaksanakan misinya. Seharusnya Boruto sudah pulang kemarin, tapi karena urusan Daimyo yang tidak sesuai rencana, maka kepulangan Boruto dan timnya jadi tertunda.
Anehnya, setelah hari pertama Boruto berangkat misi, selama beberapa hari ini tidak ada lagi penyerangan terhadap shinobi diluar desa. Sasuke bahkan memberi kabar bahwa jejak para penyerang tersebut tiba-tiba menghilang. Sasuke tidak menemukan apapun ditempat yang diduga sebagai markas mereka. Mereka lenyap seperti ditelan bumi.
Hal itu justru semakin membingungkan Naruto. Naruto jadi semakin meningkatkan kewaspadaannya, ia bahkan memperketat penjagaan desa. Yang mana artinya itu menambah panjang daftar pekerjaan yang harus dilakukan Naruto.
Meskipun Naruto sudah menjelaskan keadaan yang sekarang sudah menjadi tenang pada Hinata, tetap saja ia mencemaskan keadaan Boruto.
Keadaan Hinata sekarangpun jauh dari kata baik. Ia merasa kepalanya berdenyut terus menerus. Apalagi setelah Boruto pergi menjalankan misinya, Hinata jadi sering berpikiran buruk dan itu mengacaukan emosinya, bahkan tidak jarang dirinya menangis karenanya. Akibatnya Hinata menjadi kurang tidur dan tidak berselera makan beberapa hari ini.
Disaat seperti ini, rasanya Hinata benar-benar ingin mengandalkan Naruto. Tapi lagi-lagi sisi lembutnya melarang dirinya untuk menambah beban Naruto. Hinata benar-benar benci jika dirinya merasa lemah dan ingin bergantung pada Naruto seperti ini. Ia benci menjadi cengeng. Ia wanita dewasa yang bahkan punya dua orang anak, maka yang harus dilakukannya adalah menjadi kuat untuk keluarganya.
Meski mencemaskan Boruto setengah mati, Hinata mencoba terlihat tegar dihadapan Naruto dan Himawari, terutama Himawari. Hinata tidak ingin membuat anak perempuan tersayangnya itu murung. Senyum Himawari adalah kekuatannya. Jadi Hinata selalu mencoba tersenyum didepan Himawari.
Sayangnya hari ini sepertinya tubuh Hinata mulai memberontak dan tidak mau diajak kompromi. Kepalanya berdenyut terus menerus, Hinata pikir ini karena dirinya yang kurang tidur.
Hinata berniat membeli obat di apotik untuk mengurangi sakit kepalanya. Jika ia masih merasa tidak membaik baru ia akan memeriksakan diri ke Sakura.
Hinata pergi sendirian ke apotik yang tidak jauh dari rumahnya. Dalam perjalanan pulang Hinata bertemu Shikamaru.
"Hai Hinata, mau pergi kemana?" sapa Shikamaru.
Hinata tidak berniat mengatakan bahwa dirinya pergi membeli obat, jika Shikamaru mengatakan hal tersebut mungkin Naruto akan bertanya-tanya.
"Ini mau pulang kerumah Shikamaru-kun, ada sesuatu yang perlu kubeli tadi." Hinata menyembunyikan obat yang dibelinya dibelakang tubuhnya.
"Begitukah.. oh kudengar Boruto akan pulang hari ini, dia juga baik-baik saja jadi kau tidak perlu khawatir lagi Hinata." Shikamaru memberitahukan kabar yang juga baru didapatkanya dari penjaga gerbang desa.
Hinata langsung tersenyum senang mendengar hal tersebut, "Benarkah Shikamaru-kun? Syukurlah... aku benar-benar cemas beberapa hari ini."
"Ya, sekarang kau tidak perlu khawatir lagi. Naruto juga pasti sudah lebih tenang sekarang. Sejak dia yang melupakan peringatan hari pernikahan kalian, semakin banyak masalah yang terjadi yang membuat Naruto sering heboh sendiri dan jadi sepuluh kali lipat lebih menyebalkan dari biasanya." Shikamaru terkekeh mengingat dua minggunya yang sangat menyiksa karena tingkah tidak lazim Naruto.
"Eh? Bagaimana Shikamaru-kun tau kalau Naruto-kun melupakan peringatan hari pernikahan kami? Naruto-kun sampai menceritakan hal itu juga padamu?" Hinata jadi benar-benar malu Shikamaru harus mengetahi hal tersebut. Apa saja sebenarnya hal yang diceritakan Naruto pada asistennya ini.
"Eh? apa Naruto tidak menceritakannya padamu?" Shikamaru kaget Hinata tidak tau insiden retaknya hati Naruto karena kedatangan Himawari kekantor Hokage.
"Maksudmu? Naruto-kun tidak menceritakan tentang apa?" Hinata tidak mengerti dengan maksud Shikamaru.
Shikamaru menghela nafas, Naruto benar-benar merepotkan, kenapa dia tidak menceritakan hal penting seperti itu pada istrinya. Sekarang justru Shikamaru yang harus menjelaskannya.
"Jadi begini Hinata, dua minggu lalu Himawari..."
.
Hinata berjalan menuju rumahnya dengan tatapan kosong. Dirinya syok mendengar Himawari yang berlaku seperti itu pada ayahnya. Dan yang paling Hinata tidak mengerti kenapa Naruto tidak menceritakan hal sepenting itu padanya? apa Naruto sudah tidak menganggap Hinata sebagai ibu Himawari?!
Dan.. Apa yang harus Hinata lakukan pada Himawari sekarang...?
Kepala Hinata kembali berdenyut hebat. Memikirkan Himawari yang berani bertindak seperti itu karena dirinya kembali membut Hinata tertekan. Hinata merasa gagal menjadi seorang ibu.
Usia Himawari masih terlalu muda untuk mengerti hal-hal seperti itu. Hinata tidak ingin mebebankan Himawari dengan masalah-masalah yang terjadi dirumahnya. Sudah cukup Boruto yang pernah membenci ayahnya. Himawari tidak boleh merasakan hal yang sama seperti Boruto jika tidak maka Naruto akan merasa asing dirumahnya sendiri.
Hinata tersentak dengan pemikirannya. Otaknya mengingat kembali kejadian malam itu. Pantas saja Hinata merasa aneh dengan sikap Naruto pada kedua anaknya. Meski Himawari bersikap seperti biasanya, sekarang Hinata mengeti kenapa Naruto merasa tertekan berada didekat keluarga nya.
Dan itu semua salah Hinata.
Anak-anaknya terlalu banyak melihat kelemahannya hingga anak-anaknya menganggap bahwa Hinata haruslah dibela.
Bukan ini yang Hinata inginkan ketika membangun keluarga dengan Naruto.
Hinata ingin membagi kasih sayang dengan Naruto yang selalu sendirian sepanjang hidupnya. Hinata ingin memberikan sebuah keluarga yang tidak pernah dirasakan oleh Naruto. Dan Hinata ingin Naruto bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga ketika bersama dirinya dan anak-anak mereka, bukannya justru merasa asing dan tertekan.
Tanpa Hinata sadari setetes air mata lolos dari pelupuk matanya. Hinata segera menyapu air matanya. Hinata tidak boleh lagi terlihat lemah dihadapan anak-anaknya.
Hinata membuka pintu rumahnya dengan setengah hati. Himawari menyambut Hinata dengan senyum riangnya seperti biasa.
"Selamat datang mama" sapa Himawari yang duduk disofa ruang tengah. Hinata tersenyum kecil membalas sapaan Himawari.
"Mama, apa Onii-chan akan kembali hari ini?" tanya Himawari.
"Ya, tadi mama bertemu paman Shikamaru dan dia bilang Boruto sedang dalam perjalanan pulang, jadi kita akan memasak makan siang sambil menunggu kakakmu."
Himawari langsung bersorak senang. Jujur saja Himawari mulai merindukan sosok kakaknya.
Hinata tersenyum kecil melihat tingkah Himawari. Namun teringat cerita Shikamaru tadi, Hinata menjadi bimbang. Apa ia harus membahas hal itu dengan Himawari? Apa Himawari akan mengerti?
Hinata mendekati Himawari dan duduk disamping Himawari.
"Hima"
"Ya, mama?" Himawari menatap ibunya dengan penuh perhatian.
"Tadi ketika mama bertemu paman Shikamaru, paman Shikamaru bercerita tentang Hima yang mengunjungi kantor papa dua minggu lalu, apa benar begitu Hima?"
Hal yang pertama Himawari rasakan setelah mendengar kata-kata ibunya bukanlah takut, melainkan heran. Ibunya tau dari paman Shikamaru? Kenapa? Apa ayahnya tidak menceritakannya pada ibunya?
Jujur saja, sekembali dirinya dari kantor ayahnya dua minggu lalu, Himawari sudah menyiapkan diri untuk menerima teguran dari ayah ataupun ibunya, terutama ibunya. Himawari mengira ayahnya akan menceritakan perihal Himawari yang mendatangi kantor Hokage pada ibunya.
Tapi setelah hari-hari itupun Himawari tidak mendapat respon apapun terkait kejadian itu dari ayah ibunya. Himawari pikir ibunya tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, tapi ternyata ayahnya yang tidak bercerita.
"Ya mama, apa Hima akan dimarahi karena hal itu?" Jawab Himawari jujur.
"Kenapa Himawari melakukannya?" tanpa menjawab pertanyaan Himawari, Hinata bertanya lagi.
"Karena Hima marah pada papa."
"Alasannya?"
"Papa membuat mama menangis."
Benar dugaan Hinata, dirinya terlalu kelihatan lemah untuk anak-anaknya.
"Lalu apa Hima membenci papa sekarang?" Hinata paling takut mendengar jawaban Himawari untuk pertanyaannya yang satu ini.
Himawati menggeleng dengan cepat, "Tentu saja tidak mama, Hima cuma marah, bukan benci. Hima tidak mungkin membenci papa, papa adalah papa yang sangat Hima sayangi."
Hinata lega setengah mati mendengar jawaban Himawari.
"Tapi Hima tidak bisa marah setiap kali papa membuat mama menangis, lagipula papa tidak berniat sama sekali membuat mama menangis." Hinata mencoba memberikan penjelasan pada Himawari.
"Justru karena itu mama, jika Hima tidak datang ke kantor papa, apa papa akan tau mama sedang sedih? Hima juga tau papa itu orangnya tidak peka, karena itu Hima membantu papa menyadari kesalahan papa."
Hinata membisu mendengar penjelasan Himawari. Ada setitik rasa sedih melihat putrinya telah tumbuh menjadi dewasa seperti ini tanpa disadarinya.
"Lagipula mama, jika papa tidak diingatkann tentang peringatan hari pernikahan mama dan papa dengan cara yang Hima lakukan, papa mungkin akan terus mengulanginya hingga menjadi terbiasa dan akhirnya terlupakan sama sekali, padahal itu kan hari yang sangat istimewa untuk mama dan papa."
Ah, Hinata benar-benar merasa terharu mendengar ucapan putrinya. Hinata menarik Himawari dalam pelukannya. Dan lagi-lagi air mata Hinata tidak sanggup ditahannya.
"Kapan putri mama menjadi dewasa seperti ini hem? Mama jadi sedih kalau Hima tumbuh dewasa tanpa sepengetahuan mama seperti ini."
"Kenapa mama jadi menangis? Nanti kalau Boruto nii-chan pulang dan melihat Hima membuat mama menangis Hima bisa dimarahi Boruto nii-chan."
Hinata tertawa kecil mendengar hal itu, dan ia jadi teringat Boruto. Hinata harus menyiapkan makan siang sebelum Boruto pulang.
"Baiklah, mama akan membuat makan siang dulu untuk Hima dan Boruto-nii."
Hinata beranjak dari sofa dan menuju dapur. Hinata jadi ingin membuat Hamburger untuk Hima dan Boruto karena mereka berdua sangat menyukai itu.
Hinata menyiapkan bahan-bahan yang diperlukannya. Ia memulai dengan memotong-motong daging untuk membuat patty. Namun baru beberapa saat memotong daging, Hinata merasa mual yanh membuat kepalanya kembali berdenyut-denyut.
Hinata melewatkan obat yang seharusnya ia minum. Dimana tadi Hinata meletakkannya?
Hinata mencoba mengingat dimana terakhir ia meletakkan obat yang dibelinya. Tapi denyutan dikepalanya justru semakin parah. Hinata bahkan merasakan lantai disekitarnya bergetar, hingga akhirnya Hinata tidak bisa merasakan apapun lagi.
.
Himawari yang duduk disofa dan menonton televisi tiba-tiba mendengar suara gedebuk yang cukup keras.
Himawari langsung memeriksa sumber suara tersebut, dan betapa kaget Himawari mendapati ibunya tergeletak tak sadarkan diri dilantai.
.
.
.
TBC
