SOULMATES
Chapter 10
Disclaimer : J.K Rowling
Pair : Draco M. & Harry P.
Rate : T
Genre : Family / Romance
Warning :SLASH,MPREG,OOC,ModifiateCanon.
YANG GA SUKA MPREG DAN SEBAGAINYA DIMINTA DENGAN AMAT SANGAT UNTUK TIDAK MEMBACA FIC INI APALAGI MENINGGALKAN FLAME GA GUNA, TERIMA KASIH…
.
#
.
-Daddy…-
Harry menghentikan langkahnya dan bersandar pada jendela besar di koridor itu, -Yes, Darrel?- katanya menjawab panggilan anaknya yang terdengar di dalam kepalanya.
-Aku baru saja membantu Grandpa Sev membuat ramuan,- pamer bocah berusia lima tahun itu.
Harry tertawa pelan, -Apalagi yang kau kacaukan kali ini?- tanyanya.
-Ummh… aku… aku hanya melubangi lantai ruangan Grandpa, Dad,tapi hanya sedikit kok,- jawab bocah itu yang langsung diralat olehnya sendiri.
Harry menggeleng pasrah, -Dan hukuman apa yang diberikan Grandpa-mu?-
Darrel terdiam sebentar, -Grandpa menyuruhku membaca buku ramuan yang tebal sekali, Daddy,- jawabnya lesu.
Kali ini Harry setengah terbahak dan dia terkejut saat Draco menepuk punggungnya, "Kenapa?" tanya pria berambut pirang itu.
Harry mengusap ujung matanya yang berair dengan masih tertawa geli, "Anakmu melubangi lantai ruangan Sev dengan ramuannya," jawabnya dan semakin geli saat melihat Draco mengusap wajahnya dengan prihatin.
-Daddy…- panggil Darrel lebih keras dan membuat Harry menghentikan tawanya.
-Yes, Darrel?- jawabnya.
-Jangan katakan ini pada Daddy Draco ya?- pintanya memelas.
Harry mengernyit dan memandang Draco yang berdiri di depannya, -Kenapa?- tanyanya bingung.
-Aku takut Daddy akan marah dan malu padaku, sebab… sebab Daddy Draco kan pandai di Ramuan,- jawabnya lirih.
Harry terpaku, tapi tak lama dia tersenyum lalu meraih tangan Draco dan menggenggamnya erat, "Dia tak ingin kau tahu kejadian itu, dia takut kau marah dan dia malu karena dia tak sepandai kau," sampai Harry.
Draco tersenyum dan memejamkan matanya, dia berkonsentrasi penuh untuk bisa menyapa anaknya, -Darrel,- panggilnya.
-Daddy?- kata Darrel terkejut.
-Apa yang barusan kau lakukan pada lantai ruang kerja Grandpa Sev?- tanya Draco menggoda.
Darrel terdiam cukup lama, -Son, katakan saja pada Daddy Draco, kau harus menjadi anak yang jujur dan bertanggungjawab, oke?- kata Harry memberi semangat.
-Ummh… Daddy, maafkan aku, tadi aku merusak lantai ruangan Grandpa dengan ramuanku,- jawabnya lirih.
Draco menahan rasa gelinya, dia tahu kalau anak itu pasti sangat menyesal dan dia tak ingin menekannya dengan memberi hukuman lagi. Darrel masih kecil, masih banyak yang harus dia pelajari, -Belajarlah lebih rajin, Darrel, Daddy yakin kau akan bisa menjadi lebih hebat dari kami,- hibur Draco.
-Daddy tak marah padaku?- tanya Darrel dengan semangat.
Harry dan Draco tertawa, -Tidak,- jawab mereka bersamaan, -Kami bangga padamu, little prince,- tambah Draco.
Darrel bersorak senang, -Thank you, Daddy, aku mencintai kalian,- teriaknya, lalu suara itu terputus.
Harry menggelengkan kepalanya, Darrel adalah anak yang penuh dengan semangat, tapi dia bisa berubah menjadi diam kalau sedang merasa bersalah atau bersedih. Pria itu tercekat saat jemari Draco mengusap sisi wajahnya dan memaksanya mendongak menatap kilau kelabunya.
"Aku juga mencintai kalian," bisik Draco menjawab kata-kata terakhir Darrel tadi.
Harry tersenyum dan memejamkan matanya, membiarkan bibir Draco memanjanya dan memberikan kehangatan melalui ciumannya yang lembut.
.
#
.
Waktu telah mendekati tengah malam, tapi entah kenapa Harry tak juga mampu memejamkan matanya, perasaannya begitu gelisah tanpa sebab. Tiba-tiba dia jadi merindukan Draco dan ingin berada bersama pria itu.
Di Hogwarts walaupun semua orang tahu kalau mereka adalah pasangan yang telah resmi dengan menandatangani surat pernikahan di hadapan menteri sihir tiga tahun yang lalu, mereka tetap bersikap profesional sebagai seorang pengajar, sebagai rekan kerja. Mereka tidak tinggal dalam satu ruangan, tapi tetap menempati ruangan masing-masing, walau terkadang mereka juga menghabiskan waktu bersama, tapi itu pun tak setiap hari. Alasannya wajar, karena semua pengajar tak ada yang berpasangan di kastil ini, dan mereka tak ingin semena-mena.
Harry mengganti piyamanya dan memakai baju santai, dia ingin menghirup udara segar, pikirannya tarasa penat malam ini, "Aku akan mampir ke ruangan Draco, semoga dia belum tidur," katanya pada dirinya sendiri.
Koridor tampak gelap dan kosong, semua murid sudah masuk ke asrama mereka masing-masing. Suasana begini dirasa begitu tenang oleh Harry, begitu nyaman. Pelan langkah kakinya melangkah, sesekali matanya menatap keluar dari jendela besar di sana, gelap dan hitam, bumi telah tertidur.
"Kalau saja ini tujuh tahun yang lalu mungkin aku akan sangat senang sekali memberikan hukuman padamu karena melanggar jam malam, Potter," suara Flich membuyarkan ketenangan Harry.
"Sayangnya saat ini hukumanmu tak berlaku padaku, Flich," jawab Harry pada penjaga kastil yang tengah menggendong kucing kesayangannya.
Pria tua dengan wajah menyeramkan itu mendengus dan berlalu dari tempat Harry dengan melontarkan gerutuan tak jelas dari mulutnya.
Harry menghela napas panjang sambil menggeleng, dia heran kenapa pria itu masih saja begitu menyebalkan. "Merlin," desisnya saat dirasa kalau kepalanya mendadak menjadi begitu pusing, tangannya meraih dinding batu yang dingin dan menyandarkan tubuhnya di sana, "Apa ini? Kenapa kepalaku pusing sekali?" tanyanya bingung. Dia duduk di bibir jendela, berusaha menetralkan napasnya yang mendadak tersengal dan menjernihkan pandangannya yang kabur dengan memejamkan mata hijaunya sejenak.
-Daddy…-
Panggilan Darrel mengejutkannya, -Yes, Son, kau belum tidur?- tanyanya tanpa membuka mata.
-Daddy kenapa? Aku sudah tidur, tapi barusan aku terbangun, aku merasa kalau Daddy sakit, benarkah?- tanya Darrel.
Tak perlu bertanya bagaimana Darrel bisa tahu apa yang terjadi pada Harry, kepekaan perasaan anak itu terhadapnya memang kuat sekali,-Tak apa, Daddy hanya merasa sedikit pusing,-jawab Harry tak ingin membuat anaknya semakin cemas walau saat ini dia benar-benar merasa tak enak badan.
-Apa daddy ada di dalam kamar? Daddy tak tidur?- tanya anak itu lagi.
Harry tersenyum, Darrel terkadang memang cerewet sekali, -Daddy sedang mencari udara segar di koridor samping, Darrel,- jawabnya sambil menahan erangan karena pusingnya yang terus menjadi, -Tidurlah, Daddy tak apa-apa, setelah ini Daddy akan segera kembali ke kamar, oke?- katanya.
Beberapa saat tak ada jawaban, -Darrel?- panggil Harry bingung.
-Baiklah, Daddy jangan sakit ya?- kata anak itu lirih.
Harry memijat pelipisnya mencoba mengurangi rasa sakit yang menyerangnya, -Tentu, G'nite, Son.-
-G'nite, Daddy,- jawab Darrel, dan setelah itu suara kecil anaknya menghilang.
Harry mengatur napasnya, mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu perlahan dia kembali berdiri dan mencoba berjalan menuju ruangannya. Telinganya mendengar derap kaki tergesa yang mendekatinya.
"Harry…" panggil Draco cemas.
Harry berhenti sambil berpegangan pada tembok batu, "Draco?" sapanya bingung, "Kenapa kau belum…"
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Draco sambil memegang kedua bahu Harry, "Kata Darrel kau ada di sini dan sedang sakit, aku sempat bingung tak mengerti apa maksudnya. Apa yang terjadi?" tanya Draco lagi dengan nada cemas yang begitu kentara.
Harry tersenyum, dia langsung memeluk pria itu dan menyandarkan kepalanya yang terasa pusing di dadanya yang hangat, "Tak apa, hanya pusing biasa," jawabnya, "Anakmu terlalu membesar-besarkan masalah, mirip kau," godanya sambil tertawa pelan. Saat itu dia merasa kepalanya menjadi begitu ringan, memang tempat ternyaman baginya adalah berada dalam pelukan Draco.
Draco tertawa kecil, dia merengkuh tubuh Harry erat, mencium rambut hitamnya dengan lembut, "Aku antar kau ke ruanganmu," bisiknya di telinga kekasihnya.
.
.
"Tidurlah," kata Draco sambil membenahi selimut Harry dan melepaskan kacamatanya.
Harry meraih tangan pria berambut pirang itu, "Temani aku," pintanya sambil menatap lurus kilau kelabu Draco.
Malfoy junior itu mengernyit bingung, jarang sekali Harry bersikap begini. Dia duduk di samping tempat tidur sambil membelai rambut hitam Harry, mengusap luka di keningnya dengan lembut, "Baiklah," jawabnya sambil mencium dalam bibir merah itu, membelainya lembut dengan lidahnya yang hangat, memanjakan telinganya akan erangan yang keluar dari bibir kekasihnya.
Dan sekali lagi Draco tercekat saat jemari Harry mulai membuka kancing-kancing kemejanya, dia menatap emerald indah yang bersinar terang itu, melihat sorot mata yang memandangnya dengan penuh perasaan. Dada Draco berdebar saat tangan Harry membelai tubuhnya. Mereka sering bercinta, sangat sering, tapi jarang sekali Harry yang memintanya terlebih dahulu, dan malam ini Harry kembali membuatnya jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Tanpa berpikir dua kali dia memutuskan untuk memberikan apa yang diminta oleh kekasihnya, tubuhnya, hatinya, seluruhnya. Memanjakan pria itu dengan penuh cinta, membuainya dan menghapuskan dahaga akan gairahnya.
.
#
.
Pagi ini rasa sakit di kepala Harry mulai mereda, walau kadang masih terasa berat. Setelah bersiap dan menganakan pakaian untuk mengajar Harry pun berjalan menuju aula besar untuk makan pagi.
"Morning, Love," sapa Draco pelan dari belakangnya.
Harry menoleh dan tersenyum, "Morning," jawabnya dan membiarkan guru ramuan itu berjalan di sampingnya.
"Maaf, pagi buta tadi aku meninggalkanmu, aku lupa kalau belum menyiapkan bahan mengajar untuk hari ini," katanya, dia takut Harry marah karena dia meninggalkan pria itu sebelum dia bangun.
"Tak apa, tadi aku juga sempat mencarimu, tapi kalau alasannya begitu aku tak jadi marah," godanya dan tertawa saat Draco mengacak rambutnya.
Mereka terus berjalan sambil berbincang, beberapa kali harus menganggukkan kepala untuk menjawab sapa selamat pagi dari murid-murid mereka yang mulai ramai menuju aula besar, "Bagaimana keadaanmu?" tanya Draco.
"Sudah tak begitu pusing lagi seperti semalam," jawab Harry.
"Berarti masih pusing juga walau sedikit?" tanyanya lagi.
"Hanya sedikit, Draco, jangan menjadi Darrel kedua, oke? Aku sudah cukup pusing mendengar kecerewetan dia," gerutu Harry.
Draco tertawa, "Itu tandanya kami sangat menyayangimu, Daddy," goda Draco dan semakin terbahak melihat wajah Harry yang memerah.
Mereka sampai di aula besar, dan tetap memasang wajah tak peduli akan bisik-bisik para murid perempuan yang terpesona melihat mereka berdua, hal ini sudah biasa sejak mereka mulai mengajar di Hogwarts tiga tahun yang lalu. Setelah duduk di kursi masing-masing Draco pun mulai mengisi piringnya, tapi tidak dengan Harry, dia hanya memandangi makanan yang tersaji di depannya.
"Kenapa?" tanya Draco heran.
Harry menggeleng, "Mendadak perutku terasa kenyang," jawabnya.
"Makanlah barang sedikit, aku tak mau melihatmu sakit," kata Draco, "Atau kau ingin Darrel kembali berteriak padamu?" ancamnya sebelum Harry membuka mulut untuk protes.
Dengan malas Harry mengambil selembar roti dan mengolesnya dengan madu. Baru saja dia akan mulai menggigit roti yang tampak lezat itu, tapi baru mencium aroma manis madu saja perutnya langsung berontak. Rasa mual nyaris membuatnya muntah, tapi dia menahan dengan sekuat tenaga, dia tak ingin membuat suasana makan pagi ini menjadi kacau, terutama dia tak ingin mendengar ocehan Draco yang mencemaskannya.
Draco mengernyit saat melihat Harry meletakkan lagi rotinya, "Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.
Berusaha tak terlihat mual Harry pun bersikap wajar, "Sepertinya aku lebih tertarik pada roti dagingnya, Draco," jawab Harry sambil menunjuk roti isi daging di hadapan Draco.
"Oh, ini?" tanya Draco sambil mengambilkan roti itu untuk Harry dan meletakkannya di piring guru pertahanan terhadap ilmu hitam itu, "Makanlah."
Harry mengangguk, dia mulai mengiris roti itu dengan pisaunya dan dia lega sepertinya aroma roti ini tak membuatnya mual, perlahan dia mulai bisa menikmati sarapannya dan itu membuat Draco lega.
.
#
.
Harry beruntung hari ini dia tak mengajar sampai sore, setelah makan siang seluruh kelasnya telah selesai dan itu membuatnya bisa bernapas lega. Sejak sarapan tadi dia merasa tubuhnya begitu lemas dan lelah, dia ingin menghabiskan waktu dengan tidur di ruangannya, dan tak perlu waktu lama untuk membuatnya terlelap.
Dalam tidurnya Harry merasa tengah berada di suatu tempat yang gelap, tak ada rasa takut dan gelisah, justru terasa tenang dan nyaman. Dia seperti berdiri di tengah sebuah hutan, dimana pohon-pohon besar bersinar keperakan, "Tempat yang indah," desisnya pelan.
Dia tercekat saat dari rimbunan dedaunan yang juga tampak keperakan muncul sekumpulan sinar kecil yang terbang menghampirinya. Harry mengerjapkan mata beberapa kali mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya, mencoba mengenali sekumpulan sinar itu yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya.
"Harry Potter, sang penyelamat kami, selamat datang," sapa sebuah sinar yang ternyata adalah seorang peri kecil yang dijumpainya di pinggir danau enam tahun yang lalu. Peri dengan rambut dan sayap perak yang transparan, makhluk kecil yang begitu cantik juga tampan, peri hutan yang telah memberinya keajaiban berupa Darrel.
"Kau…" kata Harry terpaku.
"Inilah tempat kami, rumah kami. Kau telah mengembalikan kehidupan kami dan membebaskan kami dari cengkeraman ketakutan akan sihir hitam Voldemort, terima kasih," kata peri itu mewakili peri-peri yang lain yang mengelilinginya. Suara kecilnya begitu merdu, mirip hembusan angis dan gesekan dedaunan.
Harry tersenyum, "Seharusnya akulah yang berterima kasih pada kalian, kalian telah membuatku memiliki seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, anakku," jawab Harry.
Peri itu memiringkan kepalanya dan tersenyum, "Anak yang manis dan pintar, apakah kau bahagia memiliki dia, Harry Potter?" tanyanya lagi.
"Sangat bahagia, kalian telah menyempurnakan hidupku dengan kelahirannya, terima kasih," kata Harry sambil mengulurkan tangannya dan membiarkan peri itu berdiri di telapaknya yang hangat.
"Kami lah yang akan terus berterima kasih padamu sepanjang hidup dan keturunan kami, Harry Potter, membuatmu bahagia seperti kau membuat kami bahagia," jawab peri itu, lalu dia terbang dan merentangkan tangannya pada kelompoknya, dan mereka kembali mengelilingi Harry sambil bernyanyi ceria, kumpulan tubuh mereka menjadi seberkas sinar yang akhirnya menyusup ke dalam raga Harry, memberikan rasa hangat yang luar biasa. Harry memutar tubuhnya, mencari-cari sosok para peri itu, tapi kosong, tempat itu kembali sunyi.
Harry tergagap dan membuka matanya lebar-lebar, dia terbangun dan terduduk di tempat tidurnya, "Mimpi… Merlin ini hanya mimpi," desahnya sambil mengusap wajahnya.
"Harry, Love… kau tak apa-apa?" tanya Draco yang duduk di kursi di samping tempat tidurnya.
"Draco…"
Draco menghampiri pria itu dan mengusap rambutnya, "Tadi aku mencarimu saat makan malam, kau tak ada di aula besar. Aku langsung ke ruanganmu dan melihatmu tertidur pulas, kau baik-baik saja?" tanya Draco cemas.
Harry menganggukkan kepalanya, "Aku hanya lelah, rasanya capek sekali jadi aku memutuskan untuk tidur saja," jawabnya.
"Wajahmu sedikit pucat, kita ke tempat Poppy saja? Atau aku yang memintanya ke sini?" tawar Draco untuk menemui healer Hospital Wing.
Harry tertawa pelan, dia mencium bibir tipis Draco dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, "Kau kan guru ramuan, kenapa bukan kau saja yang membuatkan ramuan untukku?" rayunya, dia tak ingin membuat Draco semakin khawatir.
Draco tertawa, "Kau benar, aku kadang lupa kalau aku ini guru ramuan," katanya. Dia meraih tongkatnya dan mengarahkan ke meja Harry, "Accio ramuan," rapalnya, laci meja itu terbuka dan sebotol kecil ramuan melayang menuju Draco. "Aku menyiapkan ramuan tidur tanpa mimpi ini semalam, kupikir kau pasti membutuhkan tidur yang nyenyak. Tapi ternyata semalam kau tak membutuhkan ramuanku untuk bia terlelap," bisiknya mengingatkan Harry akan percintaan mereka semalam.
Harry tertawa dengan wajah sedikit bersemu merah, "Dan kali ini kau ingin aku tidur lagi?" tanyanya.
"Ya kau benar, ini sudah malam dan wajahmu masih pucat, jadi…"
"Kau harus tidur, Harry, jangan membuatku cemas," potong Harry menebak kata-kata Draco selanjutnya dan mendesah saat Draco mengangguk, "Tapi aku belum mendengar suara, Darrel," katanya, tapi dia tetap meneguk isi botol kaca yang disodorkan Draco.
"Tadi dia memanggilku, dan mencarimu, tapi aku bilang kau sedang tidur," jawab Draco, "Katanya dia merindukanmu."
"Ya, aku juga rindu," kata Harry sambil merebahkan tubuhnya.
Draco tersenyum, dia mencium lembut ujung hidung pria itu, "Dua bulan lagi sudah akhir tahun ajaran, jadi kita bisa pergi berlibur bersama, Darrel pasti akan senang."
Tiba-tiba Harry teringat sesuatu, "Kalau dua bulan lagi sudah bulan Juli, berarti awal bulan depan adalah ulang tahunmu," katanya.
Draco menautkan alisnya, "Ya, dan aku lupa itu," jawabnya.
Harry tertawa, "Kau seperti orang tua, Draco," canda Harry, "Kau ingin apa di ulang tahunmu nanti?"
Draco memandang emerald itu, kilau yang selalu mampu membuatnya luluh dalam pesonanya, "Apa lagi yang tak aku miliki? Ada kau, ada Darrel, ada tiga orang tua yang menyayangi kita, ada sahabat-sahabat yang baik," jawabnya, "Kecuali kau mau memberikan teman bermain untuk anak kita, aku yakin dia akan melompat senang," guraunya.
Dada Harry berdebar halus, entah kenapa saat ini dia pun ingin bisa memberikan itu pada Draco dan Darrel, "Kau jangan meminta sesuatu yang tak bisa aku janjikan," gerutunya.
Draco menggenggam tangan Harry, "Tak apa, permintaanku tadi jangan kau jadikan pikiran, oke?" hiburnya, "Sekarang tidurlah."
.
#
.
Dua minggu berlalu dan kondisi Harry semakin mengkhawatirkan, tubuhnya semakin lemah karena dia nyaris tak mau menyentuh makanannya. Tapi seorang Gryffindor tetap saja keras kepala, dia terus mengajar walau harus memaksakan diri.
Draco terus memberikan ramuan yang sekiranya bisa membuat Harry lebih kuat dan sehat, tapi sepertinya itu pun sia-sia. Pria berambut hitam itu pun menolak untuk diperiksa healer, dia hanya mengatakan kalau dia lelah dan Draco tak bisa memaksa.
"Nanti setelah makan malam kau pulang saja dulu, aku masih harus menyelesaikan beberapa esay lagi, aku akan menyusulmu besok siang," katanya pada Harry di ruang kerjanya setelah selesai kelas sore.
Harry hanya mengangguk, dia merasa letih walau hanya untuk membantah, "Darrel ada dimana?" tanyanya.
"Di Manor, Sev sepertinya mulai disibukkan hal-hal yang mengharuskannya banyak keluar kota," jawab Draco.
.
#
.
Perapian Malfot Manor menyala hijau terang, Darrel yang tengah membaca buku bersama Cissy langsung melompat dari sofa dan berlari menuju Harry yang baru saja keluar dari dalamnya, "Daddy…!" teriaknya senang.
Harry tersenyum, dia memeluk anaknya tapi tak kuat untuk menggendongnya.
"Merlin, Harry… kau kenapa? Wajahmu pucat sekali?" tanya Narcissa dan langsung menghampiri menantunya.
"Daddy sakit?" tanya Darrel sambil mengusap wajah ayahnya yang masih berlutut di depannya.
Harry menggeleng, "Tak apa, Daddy hanya lelah," jawabnya lirih, pandangannya mulai kabur dan kepalanya kembali terasa pusing, perutnya kembali bergejolak. Akhir-akhir ini dia sering merasa mual jika mencium aroma tertentu, apalagi aroma manis.
"Kau kenapa, Harry?" tanya Lucius yang baru keluar dari perpustakaan, dia melihat pria muda itu belum berdiri dari posisinya, dan dengan wajah sepucat itu Lucius langsung menebak kalau Harry terlalu lemah untuk berdiri. Dengan sigap dia meraih lengan pria berkacamata itu dan memapah pinggangnya, "Aku bantu kau ke kamar," katanya.
"Thanks, Dad," katanya pelan.
"Grandpa, kenapa daddy Harry? Kenapa Grandpa membantu Daddy berjalan? Daddy-ku sakit apa?" tanya Darrel ribut sambil mengikuti langkah dua orang dewasa di depannya itu.
"Daddy sedang sakit, sayang, jangan ribut ya?" jawab Narcissa sambil menggendong Darrel dan terus mengikuti suaminya.
.
.
Lucius membaringkan Harry di tempat tidur dan memeriksa denyut nadinya, "Lemah sekali," gumamnya, "Apa yang terjadi padamu?" tanya pria setengah baya itu.
"Tak apa, Dad, mungkin aku hanya membutuhkan tidur," jawabnya pelan.
Lucius menggeleng, "Akan aku buatkan ramuan penguat raga dan ramuan tidur tanpa mimpi," putusnya, "Cissy, suruh peri rumah menyiapkan makan untuk Harry, bawa saja ke sini," kata Lucius sebelum dia melesat ke ruang lab-nya.
.
.
"Bagaimana dia?" tanya lucius setelah istrinya turun bersama Darrel.
Narcissa duduk di samping suaminya dengan memangku bocah berusia lima tahun itu, "Baru saja tidur setelah aku memaksanya meminum ramuanmu," jawab wanita cantik berambut pirang itu, "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Lucius menggeleng, "Aku belum tahu."
"Dia menanyakan Severus, apa kau bisa menghubunginya?" tanya Cissy lagi.
Lucius terdiam sejenak sebelum berdiri, "Akan kucoba," jawabnya, lalu dia melangkah meninggalkan istri dan cucunya.
"Grandma… apakah Daddy tak apa-apa?" tanya Darrel yang sejak tadi diam.
Narcissa mengusap rambut bocah itu, "Semoga tak apa-apa, sayang," jawabnya.
"Boleh aku tidur bersama Daddy?" tanya Darrel lagi.
Narcissa tampak berpikir.
"Aku tak akan ribut, Grandma, aku janji, aku hanya ingin menemani Daddy Harry," paksa Darrel.
Narcissa tersenyum, "Baiklah, tapi pegang janjimu, oke?"
Bocah itu mengangguk dan langsung berlari menuju kamar Harry, menaiki tangga dengan hati-hati dan kembali berlari setelah sampai di lantai atas. Perlahan dia membuka pintu kamar ayahnya, langkahnya dibuat sehalus mungkin agar tak menimbulkan suara. Dia menaiki tempat tidur Harry juga dengan begitu pelan agar ayahnya tak terbangun. Ditatapnya wajah yang tampak pucat itu, lalu diciumnya lembut pipi Harry, "Selamat tidur, Daddy… cepat sembuh ya?" bisiknya sebelum dia merebahkan diri di samping pria yang melahirkannya itu.
.
#
.
Pagi ini Harry terbangun dengan kepala yang luar biasa pusing, perutnya kembali terasa mual. Kali ini rasa mual itu semakin hebat dibandingkan semalam. Tanpa bisa dicegah dia pun melompat dari tempat tidur dan setengah berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya. Hal itu membuatnya semakin lemas dan terduduk di lantai kamar mandi yang dingin.
"Daddy…" panggil Darrel di depan pintu kamar mandi yang terbuka.
Harry terkejut dan memandang anaknya, dia bingung melihat bocah itu ada di kamarnya "Darrel? Kapan kau masuk, nak?" tanyanya.
Darrel masuk mendekati ayahnya, dia memandang wajah ayahnya yang tampak kuyu, "Aku tadi malam tidur di samping Daddy," jawabnya sambil mengusap rambut ayahnya dengan lembut.
"Oh, maaf… Daddy tidak tahu," kata Harry menyesal. Dia tercekat saat anak itu tiba-tiba memeluknya erat, "Darrel?"
"Daddy jangan sakit, Daddy harus sembuh," isak bocah yang telah menangis itu.
Harry tersenyum, dia membalas pelukan putranya, "Daddy tak apa-apa, Darrel, sebentar lagi Daddy pasti sembuh," jawabnya mencoba menenangkan bocah itu.
"Harry, kau tak apa-apa?" tanya Severus yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu kamar mandi bersama Lucius dan Narcissa.
"Sev," panggil Harry lemah, dia membiarkan Lucius menggendong anaknya dan membawanya keluar.
Severus membantu Harry berdiri dan membawanya ke tempat tidur, "Apa yang terjadi?" tanyanya pada pria muda yang telah dianggap sebagai anaknya sendiri itu.
"Tak tahu, aku sendiri juga bingung," jawab Harry. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Mum, bukankah hari ini ulang tahun, Draco?" tanyanya pada Narcissa.
Narcissa tampak terkejut, "Merlin, aku lupa, son," jawabnya.
Harry tertawa kecil, sejak dia memuntahkan semua isi perutnya tadi tubuhnya mulai terasa labih baik, "Mum siapkan saja untuknya, nanti siang dia pulang, biar aku bersama Sev di sini."
Narcissa mengangguk, "Baiklah, kuharap dia baik-baik saja, Sev," kata wanita itu sebelum meninggalkan kamar Harry.
.
.
Harry turun disaat ruang makan telah rapi dan tertata macam hidangan, dia duduk di sofa tengah sembari menunggu Draco datang. Darrel sedang melihat gambar sebuah buku di sampingnya.
"Bagaimana kondisimu, Son?" tanya Narcissa.
"Lebih baik, Mum, aku hanya perlu istirahat saja," jawab Harry sambil memandang Severus dengan penuh arti.
"Benar, Sev?" tanya Narcissa lagi dengan tak percaya.
Severus memandang Harry sambil mengangguk.
"Daddy, lihat…!" seru Darrel sambil menyodorkan bukunya, "Kenapa peri ini kecil sekali?" tanyanya.
Harry melihat gambar yang ditunjukkan Darrel, "Oh… ini bayi peri yang baru saja lahir," jawab Harry.
"Kenapa dia duduk diatas bunga?" tanya anak itu lagi.
"Karena dia memang dilahirkan di dalam kuncup bunga," jawab Harry lagi.
"Kalau aku? Kata Grandpa Sev dan Grandma Cissy aku adalah anak yang terlahir karena keajaiban peri, apakah aku juga lahir di dalam kuncup bunga?"
Pertanyaan Darrel itu sontak membuat Harry tersedak oleh ludahnya sendiri, Narcissa tertawa geli, sementara severus dan Lucius hanya mengusap wajah mereka sambil menahan tawa.
"Kenapa?" tanya anak itu dengan polosnya.
Severus meraih Darrel dan memangkunya, "Kau terlahir dari perut Daddy-mu, Darrel, bukan dari kelopak bunga," jawabnya.
"Dari perut Daddy?" ulangnya bingung.
Severus mengangguk, "Kau tahu kan ada luka di perut Daddy Harry?" tanya Severus, "Itu adalah tempat dimana Grandpa mengeluarkanmu lima tahun yang lalu," lanjutnya setelah melihat Darrel mengangguk.
Darrel memandang ayahnya, "Saat itu apakah Daddy tak merasa sakit?" tanyanya.
Harry tersenyum, "Tidak, sama sekali tidak, Darrel, yang Daddy pikirkan saat itu hanyalah betapa bahagianya Daddy saat melihat wajahmu nanti."
Darrel mendekati ayahnya dan duduk dipangkuannya dengan manghadapkan wajahnya pada Harry, "Maafkan aku, Daddy," bisiknya sambil memeluk dada ayahnya.
Harry tertawa, "Kenapa minta maaf? Kau adalah anugerah terhebat yang telah diberikan Tuhan pada Daddy dan Daddy Draco," jawabnya sambil menciumi pipi bulat yang menggemaskan itu, dia suka mendengar tawa Darrel yang mampu membuat semua orang yang mendengarnya ikut tertawa.
Keceriaan dalam ruangan itu terhenti saat perapian di depan mereka menyala hijau, "Hai, senang melihat kalian semua berkumpul di sini," sapa Draco pada seluruh keluarganya. Dia langsung menuju Darrel dan menggendong anak itu, "Bagaimana kabarmu, Little Prince?" tanyanya.
"Baik, Daddy, hanya saja tadi malam Daddy Harry sakit," adunya.
Draco langsung memandang Harry dengan cemas, "Kau tak apa-apa?"
Harry berdiri dan mencium pipi Draco, "Happy Birthday, Draco, untuk saat ini lupakan sakitku," katanya.
Narcissa melakukan hal yang sama pada Draco, sedangkan Lucius dan Severus memeluknya singkat.
Draco tertawa renyah walau dia masih tampak cemas melihat wajah pucat Harry, "Mana ucapanmu, my boy?" tanyanya sambil menggelitik dada Darrel.
Darrel terkikik geli, bocah itu langsung memeluk leher Draco dan menciumi pipinya, "Happy Birthday, Daddy," katanya keras.
"Karena kau sudah dewasa dan sudah mandiri, kami tidak menyiapkan kado apapun untukmu," kata Narcissa.
Draco tertawa, "Tak apa, Mum, aku sudah memiliki segalanya saat ini," katanya sambil mencium pipi Darrel yang menggemaskan.
"Tapi aku punya," kata Harry sambil tersenyum lebar.
Semua mata memandangnya dengan heran, karena saat itu Harry tak membawa apapun, "Oh ya? Apa itu?" tanya Draco penasaran.
Harry tertawa pelan, "Aku akan memberikan apa yang kau minta malam itu, sesuatu yang tak bisa aku janjikan," jawabnya.
Draco mengernyitkan keningnya mencoba mengingat apa yang pernah dia minta pada Harry, sesuatu yang tak bisa dijanjikan. Tiba-tiba matanya terbuka lebar, dia menurunkan Darrel dan mendekati kekasihnya, "Benarkah? Jangan membuatku melambung lalu terjatuh kalau ternyata apa yang aku pikirkan salah," desisnya sambil memegang bahu Harry.
Harry kembali tertawa, "Tanya saja pada Severus, kami baru menyadarinya tadi pagi."
Draco memandang mantan guru ramuannya yang terkenal dingin itu, "Sev?" tanyanya.
"Ada apa?" tanya Narcissa yang juga penasaran.
Severus mengangguk, "Ya, Draco… Harry sedang mengandung kembali," jawabnya tegas.
Mulut Draco ternganga lebar, kilau kelabunya berbinar terang, dan tak lama tawa bahagia terdengar dari mulutnya. Dia menangkup wajah pucat Harry yang bersemu merah, "Merlin, thanks Love," bisiknya sebelum memerangkap bibir Harry dalam sebuah ciuman yang dalam. Dia tak peduli walaupun kedua orang tuanya tengah berada di sana. Draco memeluk Harry dengan begitu erat, menciumi bibirnya seakan tak akan pernah puas.
"Daddy…!"
Teriakan Darrel lah yang akhirnya mengakhiri keintiman itu. Draco melepaskan Harry masih dengan tertawa senang, "Yes, Little Prince?"
"Kenapa tadi aku hanya dicium sebentar?" katanya cemberut sambil berkacak pinggang.
Draco berlutut dan kembali mencium pipi Darrel, "Dengar ya," katanya, "Daddy bertanya padamu, apakah kau senang kalau memiliki adik?"
Darrel mengangguk cepat, "Aku mau, Daddy, lima…!" jawabnya keras yang langsung disambut tawa semua orang.
"Lima? Kau pikir Daddy-mu itu kucing, hmm?" jawabnya sambil menggelitik dan menciumi anaknya yang tertawa kencang.
Narcissa menghampiri Harry dan memeluknya dengan penuh kasih, "Selamat, Son, aku akan memiliki cucu lagi, ini hebat sekali," katanya sambil mencium pipi pria muda itu.
Lucius pun memeluknya erat, "Selamat, Harry, terima kasih untuk calon cucu baruku," katanya.
Harry hanya tersenyum, dia tak peduli walau tubuhnya masih terasa sakit, kebahagiaan orang-orang yang disayanginya adalah diatas segala-galanya.
"Baiklah, sekarang kita makan saja, aku sudah menyuruh peri rumah untuk menyiapkan makan siang yang istimewa," kata Narcissa sambil mengajak semua orang ke meja makan.
Benar kata sang tuan rumah, meja makan penuh dengan makanan lezat yang menggugah selera, ada ikan, daging, keju, Roti madu, kue tart, cokelat…
"uuuhk…" tiba-tiba Harry merasakan mual yang sangat luar biasa, dia langsung menutup hidung dan mulutnya lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Harry?" panggil Draco cemas, dia menyusul Harry dan semakin kalut saat melihat pria yang sangat dicintainya itu memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel. Draco membantu memijat tengkuk pria itu, "Merlin, Harry…" desisnya. Setelah selesai Harry langsung terduduk di lantai kamar mandi dengan lemas, "Harry… apa yang terjadi? Kau tak apa-apa? Ada yang sakit?" tanyanya panik.
Harry hanya menggelang sambil mengusap wajahnya, dia menyandarkan kepalanya di dada Draco yang tengah memeluknya, "Tak apa, aku hanya merasa mual jika melihat atau mencium sesuatu yang manis," jawabnya.
Draco mengerti, dia menciumi rambut pria itu dan membuainya dalam pelukannya. Berbagai rasa berkecamuk di dalam dadanya, ada rasa takut juga senang. Dengan lembut dia membantu Harry berdiri, "Kau mau langsung ke kamar saja atau tetap makan bersama yang lain?" tanya Draco sambil memapahnya keluar dari kamar mandi.
"Aku akan tetap makan bersama yang lain, Draco," jawabnya.
"Yakin kau tak apa-apa?" tanya Draco tak percaya.
"Aku tak apa-apa, hanya saja… bisa tolong singkirkan kue tart dan cokelatnya?"
Draco tersenyum, "Baiklah, apapun maumu, love," bisiknya di telinga Harry.
"Ada apa, Draco?" tanya Narcissa bingung melihat anaknya memapah Harry yang tampak lemas sambil menggenggam tongkat sihirnya. Dalam sekali ayunan, kue tart, cokelat dan beberapa roti hilang dari meja makan, "Mulai sekarang jangan ada madu di rumah ini, gula ataupun karamel. Dan kau, Darrel, jangan makan cokelat di depan Daddy Harry, mengerti?" perintahnya pada seisi rumah.
Harry mengeluh sambil menutupi wajahnya, "Tak usah sampai begitu juga, Draco," katanya jengah.
"What? Kenapa, Draco? Harry?" tanya Narcissa masih bingung.
"Maaf, Mum, aku… aku selalu merasa mual jika melihat atau mencium sesuatu yang manis," jawab Harry dengan merasa tak enak hati.
Lucius dan Severus hanya mengangguk mengerti, sedangkan Narcissa tertawa renyah. Wanita itu mendatangi Harry dan menyuruhnya duduk, "Tak apa-apa, Harry. Kau tahu? Dulu Mum juga benci bau manis saat mengandung Draco," katanya.
Wajah Harry memerah, rasanya aneh membicarakan hal ini, hal yang tak wajar bagi laki-laki yang mengandung.
"Daddy… mana cokelatku?" tanya Darrel pada Draco.
"Tak ada cokelat, Darrel," jawabnya singkat.
Bocah itu cemberut, "Aku mau cokelatku, Daddy!" protesnya.
"Tidak ada cokelat untuk saat ini, oke," jawab Draco lagi.
"Aku mau cokelatku…! Pokoknya aku mau cokelatku sekarang…!" rengek bocah itu.
Draco menghela napas panjang, "Kalau kau mau cokelat, pergilah ke dapur dan makan berama Kreacher."
Darrel mulai menangis dan terus merengek-rengek, kali ini sasarannya adalah Narcissa.
Lucius dan severus tak mempedulikan keributan di sekitar mereka, mereka tetap makan dengan santai. Narcissa hanya menggelengkan kepalanya melihat kekeraskepalaan cucunya yang mirip dengan Draco, sedangkan Harry memijat pangkal hidungnya, "Merlin, aku yakin keributan ini baru di awalnya saja. Apa yang akan terjadi setelah ini?" gumamnya pasrah pada Draco yang masih memeluknya.
TBC
a/n.
astagaaaaaaaaah… maafkan aku, kenapa ini Harry-nya jadi beneran hamil yak? Mudah2an ini Solmet ga bakalan jadi seperti "Tersanjung 6 dst" TT^TT
buat yang udah ripiu di chap sebelumnya dan di beberapa fic aku sebelumnya, makasih banyak-banyak banget dan tak terhingga. Rasanya seneng banget masih ada yang mau baca fic ini #pelukinatu2. Maap kalau ada peripiu yang belom sempat aku reply.
