"Ini!" Si anak lelaki berambut keriting menyodorkan sebuah surat kepada Ryoma yang tak bereaksi sama sekali.

"Tidak aku sangka kamu punya hobi seperti itu," ucap Ryoma sembari membalikkan badan dan memainkan raketnya.

"Hei, ini surat undangan!"

"Oh..." Ryoma akhirnya menerima surat yang diberikan Akaya.

"Hari minggu ini aku akan mengadakan pesta ulang tahun di rumah. Berterimakasihlah karena nenekku menyuruhku mengundang teman-teman klub tenis," jelasnya dengan bangga.

"Wah, Akaya kun akan mengadakan pesta ulang tahun!" Kai yang tidak sengaja mendengar bergegas mendekat ke arah Akaya. Berkat teriakannya, anak-anak yang lain pun turut mengerubunginya.

"Kapan acaranya?" tanya Aoi.

"Apa aku boleh datang?" Kinta melompat ke hadapan Akaya.

"Hari Minggu ini. Tentu saja kalian semua aku undang!" Akaya membagikan surat yang serupa kepada teman-temannya yang lain.

"Yahoo! Lucky!"

"Yay! Pesta ulang tahun! Pesta ulang tahun!" Kinta masih lanjut melompat-lompat sembari mengacungkan surat yang baru saja didapatnya.

"Jangan sampai tidak datang, ya! Akan ada banyak kue di sana!"

Mendengar perkataan Akaya, Si kecil Jiro yang tengah tertidur pun mendadak terbangun. "Apa? Ada kue?"

"Iya. Jiro kun harus datang ya ke pesta ulang tahunku!"

"Iya! Aku pasti datang!" Jiro menggenggam surat undangan dari Akaya dengan sangat senang. Dan beberapa saat kemudian kembali tertidur pulas.

"Ada ribut-ribut apa ini?" Maruko yang baru saja masuk sedikit kebingungan.

"Maruko, kamu mau surat undangan pesta ulang tahunku juga?"

"Akaya... kita kan tinggal satu rumah..."

"Tapi kan bukan berarti kamu boleh datang tanpa undangan."

"..." Maruko terdiam sesaat. "Ya, tidak apa sih. Paling nanti kamu merengek memintaku datang," ucapnya sambil berlalu.

"Apa? Tidak akan!"

"Akaya kun, apa aku boleh bernyanyi di pestamu?" tanya Aki.

"Boleh, boleh. Kakekku punya satu set peralatan karaoke!"

"Yay! Aku jadi tidak sabar!"

"Pokoknya kalian jangan sampai terlambat yaa!"

Hari minggu pun tiba. Ryoma dan Momo sudah bangun dan bersiap sejak pagi-pagi sekali. Mereka meminta Syuko untuk menyiapkan baju yang paling bagus untuk dipakai ke pesta ulang tahun.

"Lho, Ryoma dan Momochan mau pergi kemana?" Fuji sedikit aneh melihat cucu-cucunya bagun pagi di hari Minggu.

"Ke acara ulang tahun teman mereka."

"Siapa?"

"Akaya, dari keluarga Rikkai."

"Rikkai ya... Duh, aku jadi ingin ke sana juga. Bagaimana kabar Yuki ya..." ucapnya kepada diri sendiri.

"Ibu, kami pergi sekarang!"

"Kadonya tidak ketinggalan kan?"

"Iya, sudah bu."

"Hati-hati dijalan, ya!"

Sementara itu, di tengah kediaman Rikkai yang selalu penuh dengan ketenangan pun sudah mulai terlihat sibuk. Semua anggota keluarga berkumpul di dapur untuk menyiapkan makanan. Kecuali sang kakek yang sedang sibuk merawat pedangnya di ruang tengah.

"Pesta! Pesta! Pesta!" Akaya yang sudah tidak sabar menanti kedatangan teman-temannya mulai berlari-lari di dalam rumah.

"Akaya, jangan lari-lari!" perintah sang ibu. "Renji, coba suruh dia diam sebelum ayah marah!" bisiknya kepada sang suami.

Renji memandang ke arah Akaya yang masih melakukan hal yang sama dan tersenyum. "Maklum, ini pertama kalinya kita mengadakan pesta ulang tahun untuknya."

"Dia kelihatannya senang sekali ya, dasar anak yang transparan," celetuk sang nenek.

"Ini semua berkat ibu. Padahal ayah selalu melarang kita mengadakan pesta di rumah."

"Sekali-kali kan tidak apa-apa. Iya kan, Sanada?"

"Hmm... Selama anak-anak itu tetap tenang," jawab Sanada sembari tetap mengelap pedangnya dengan tenang.

Renji sedikit terdiam dibuatnya. Dia akhirnya berbisik ke arah sang ibu. "Bagaimana ini bu. Kemungkinan rumah ini akan menjadi sangat berisik, hampir sembilan puluh sembilan... Tidak! seratus persen!"

"Sudah, masalah ayahmu biar ibu yang tangani."

"Bu!" Yagyuu si anak bungsu memanggil. "Ada telepon untukmu."

"Ibu sedang sibuk. Dari siapa?"

"Fuji san. Apa aku suruh untuk menelepon lain waktu saja?"

"Oh, tidak usah. Ibu akan kesana."

"Halo, Fuji. Sudah kuduga kamu akan menelepon hari ini."

"Iya, sudah kuduga juga kamu akan berkata seperti itu, Yuki."

Kedua sahabat itu pun tertawa bersamaan.

Jauh sebelum Fuji dan Tezuka pindah ke kota lain, Fuji dan Yuki merupakan sahabat dekat. Sejak sekolah dulu mereka selalu bersama, hingga akhirnya pernikahan memisahkan mereka. Hanya saja, setelah itu mereka masih menyempatkan waktu untuk saling memberikan kabar. Meski beberapa tahun kebelakang, kesibukkan membuat mereka menjadi semakin jarang mengontak satu sama lain.

"Kamu masih menyimpan kaktus yang kuberikan sebelum pindah waktu itu kan?"

"Ya, aku menanamnya di pekarangan rumah. Mungkin tingginya sudah hampir dua meter."

"Wah, aku jadi ingin melihatnya."

"Bahkan bunganya pun selalu mekar dengan indah."

"Sepertinya kamu merawatnya dengan baik ya."

"Ya. Lagipula durinya berguna sekali untuk akupuntur."

"Tapi kamu tahu kan kalau getahnya beracun."

"Tentu saja. Justru itu yang membuatnya semakin indah."

"Haha kamu benar."

"Ngomong-ngomong cucumu datang ke sini kan?"

"Ya, mereka semangat sekali waktu pergi ke sana."

"Syukurlah. Aku tidak sabar ingin bertemu."

"Yuki... Jangan-jangan kamu sengaja mengadakan pesta karena tahu aku dan keluargaku kembali ya?"

"Wah, bagaimana ya..."

Tiba-tiba suara bel terdengar.

"Ah, sepertinya sudah ada yang datang. Mungkin itu mereka."

"Ya sudah kalau begitu. Aku akan menghubungimu lain waktu."

Setelah menutup telepon, Yuki bergegas berjalan ke pintu depan. Setelah membukakan pintu, terlihat anak bertopi dan anak perempuan berkepang sedang berdiri di depan pintu.

"Halo, kalian teman-temannya Akaya kan? Silahkan masuk!"

Yuki pun mengajak kedua anak tersebut menuju ke sebuah ruangan yang akan digunakan untuk pesta. Terlihat Akaya sudah menunggu di sana dengan sangat tidak sabar. "Ryoma! Momo!" sambutnya.

"Yo!" balas Ryoma.

"Waah! Niichan lihat semua hiasan ini!" Mata Momo berbinar-binar saat mendapati ruangan yang sudah dihias dengan meriah.

"Hebat bukan?"

"Iya! Keren! Keren!"

"Bagaimana, Ryoma?"

Akaya berharap pujian yang sama dari temannya itu. Namun Ryoma berusaha terlihat dingin meski sebenarnya dia menyukai hiasan yang ada. "Mada mada dane," ucapnya pelan.

"Ah, bilang saja sebenarnya kamu suka kan?" Akaya yang biasanya langsung marah mendadak menjadi lebih tenang di hari ini.

Sembari menunggu yang lain, Ryoma dan Momo memperhatikan rumah Akaya dengan seksama. Meski bergaya tradisional namun terlihat sangat mewah. Ukurannya pun sangat luas, ditambah lagi ada taman di tengahnya. 'Seperti rumah samurai' pikir Ryoma.

"Oiya, ini kado dari kami!" Momo memberikan dua buah kotak kepada Akaya. "Aku dan Niichan membuangkusnya sendiri, lho!"

"Wah, terima kasih!"

"Ryoma dan Momochan sudah datang ya?" Maruko masuk ke dalam ruangan sembari membawa sepiring kue. Setelah menaruhnya di atas meja, dia pun turut duduk bersama teman-temannya. Mereka berempat mengobrol sembari menunggu teman-temannya yang tak lama kemudian mulai berdatangan.

"Akaya! Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun!" Aki masuk ke dalam ruangan sembari mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

"Terimalah kado dari kami!"

"Terima kasih, Aki! Sakurai!"

Selanjutnya disusul oleh Kinta yang masuk sembari berlari. "Yay! Akaya! Selamat ulang tahun! Terima hadiah dariku!" Dia melemparkan kadonya, dan Akaya menangkapnya dengan gesit.

Di belakangnya Zaizen menyusul, berjalan dengan malas. "Yo, selamat," ucapnya pelan sembari menyodorkan kadonya.

"Terima kasih, Kinta! Zaizen!"

Lalu Kiyoko, Shinya, Aoi dan si kembar Ryoko dan Ryo datang bersamaan. "Happy birthday, dane!" Shinya memberikan dua bungkus kado kepada Akaya.

"Senangnya jadi Akaya. Kamu sangat lucky!" Kiyoko pun memberikan sebuah kado yang dibungkus dengan pembungkus berlabelkan Burning Sushi. "Oiya, ayahku juga memberikan kupon makan gratis di Burning Sushi untuk keluargamu!"

"Uwaah, terima kasih Shinya, Kiyoko!"

"Akaya! Akaya! Kado dari kami bertiga kami jadikan satu. Ini, terima ya!" Aoi menyerahkan bungkusan kado yang cukup besar. Bahkan jika diangkat akan menghalangi badannya.

"Oiya, ada ucapan dari ayahku," tambah Aoi. "Happy birthday, happy best day! Tapi aku tidak mengerti, hehe." Aoi tertawa lebar.

"Terima kasih Aoi, Ryo dan Ryoko!" Akaya sedikit kesulitan memindahkan kadonya yang besar itu. Namun akhirnya di berhasil juga meski sempat terhuyung.

Orang selanjutnya yang datang adalah Kai dan Kei. "Hei, kalian belum mulai pestanya kan?" tanya Kai yang baru saja datang. "Hai Akaya! Selamat ulang tahun! Karena bingung ingin memberi apa, jadi kami membawakanmu ini!" Kai memberikan sebuah keranjang yang dipenuhi dengan goya. "Kakekku bilang ini sangat sehat, meski aku sebenarnya tidak suka. Jadi sebaiknya berikan saja pada kakekmu!"

"Terima kasih, Kai! Akan kuberikan apda kakek."

"Lalu, kami juga membawakan kue yang enak lho!" Kai membalikkan badannya. Di sana terlihat Kei yang sedang terdiam menyantap isi dari kardus yang dibawanya. "Ah! Kei kun kenapa kuenya dimakan?!" Kei hanya tertegun memandang ke arah kakaknya yang langsung memukul kepalanya. Hal itu membuat Kei terliaht ingin menangis. "Kue itu kan untuk Akaya!"

"Sudahlah Kai, tidak apa-apa," lerai Maruko. Dia bergegas menarik tangan Kei yang menangis ke dekat meja. "Nah Kei kun jangan menangis lagi. Ini, aku beri permen!" Dengan sekejap dia berhasil membuat si anak gemuk kembali tersenyum.

"Siapa lagi yang akan datang ya!" Akaya terlihat semakin semangat menanti tamu undangannya yang belum datang. "Aku jadi tidak sabar memulai acara!"

"Eh, Akaya."

"Ada apa, Sakurai?"

"Itu, sepertinya ada seseorang di balik pintu." Sakurai menunjuk ke arah bayangan yang terlihat di pintu geser.

Akaya segera mengecek ke balik pintu dan menemukan Jackal yang bersembunyi di sana. "Jackal kenapa diam di sini? Ayo cepat masuk saja, jangan malu!" ajak Akaya. Dia bergegas menarik tangan Jackal untuk mengajaknya masuk. Si anak botak itu berjalan mengikuti Akaya dengan malu-malu.

"A-akaya, ini..." Jackal memberikan sebuah bungkusan kecil.

"Terima kasih!"

"Lalu yang ini..." tambahnya lagi. Dia memberikan sebuah bungkusan kecil lainnya. "Untuk Maruko..."

"Eh! Kenapa Maruko dapat juga?!"

Jackal hanya tersipu malu sebelum akhirnya berlari dan bersembunyi di belakang Zaizen.

Selanjutnya, tamu terakhir pun akhirnya tiba. Jiro dan Wakashi muncul dari balik pintu. "Selamat ulang tahun, Akaya!" ucap Jiro dengan penuh semangat. "Waahh! Banyak kue!"

Sementara itu Wakashi terlihat kembali ke balik pintu dan berbicara dengan seseorang. "Disimpan di sini!" perintahnya entah kepada siapa.

Tak lama kemudian, tiga orang lelaki berpakaian hitam masuk mengantarkan bungkusan kado yang jumlahnya entah ada berapa.

"Uwaa! Itu semua untukku?" tanya Akaya yang merasa tidak percaya.

"Itu hadiah dari kakekku untuk kakek nenekmu dan ayah ibumu. Untuk ayah ibu Maruko juga ada. Dan sisanya untukmu," jelas Wakashi.

"Oiya, dan yang ini ayahku berikan khusus untuk ibumu!" tambah Jiro. Ayah Jiro, Yushi adalah kakak dari Kenya. Jadi, sebenarnya Jiro dan Akaya masih memiliki hubungan keluarga.

"Terima kasih banyak!" Akaya semakin senang dibuatnya.

"Wah, semua sudah berkumpul ya?" tanya Renji sembari mengintip ke dalam.

"Ayah!" Akaya berlari dan memeluk ayahnya dengan sangat bahagia.

"Selamat bersenang-senang," ucap Renji sembari mengusap-usap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.

"Hai adik-adik manis. Apa kalian mau melihat sulap om?" Niou yang ada di samping Renji mengeluarkan sebuah sapu tangan.

"Uwaa! Ayah Maruko bisa sulap?" tanya Aoi dengan semangat. Sedangkan Maruko hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum.

"Sudah, kita biarkan mereka bermain, Niou kun!" Akhirnya Renji pergi sembari menarik lengan saudaranya itu.

"Piyo~"

Akaya memulai pestanya dengan tiup lilin dan makan kue bersama. Meski tanpa bantuan orang tuanya, namun Maruko selalu ada di sana untuk mengawasi keadaan. Meski berumur sama dengan Akaya, namun Maruko tampak jauh lebih dewasa. Oleh karena itu Renji selalu meminta bantuannya untuk mengawasi Akaya.

Dua jam telah berlalu, carapun berjalan dengan lancar. Semua anak yang ada kini asik dengan kegiatannya masing-masing. Aki dan Sakurai menanyanyi. Ryoko, Ryo, Wakashi dan Zaizen duduk di pojok ruangan entah membicarakan apa. Maruko terlihat sedikit kewalahan karena Kei, Jiro dan Jackal terus menempel padanya. Sementara itu, Akaya asik mengobrol bersama Ryoma, Momo, Kiyoko, Shinya, Kai, Aoi dan Kinta.

"Akaya, aku mulai bosan," ucap Ryoma.

"Aku juga. Sebaiknya kita melakukan apa ya?"

"Ayo main setan-setanan!" ajak Kinta.

"Permainan apa itu?"

"Seperti petak umpet. Tapi orang yang ketemu harus jadi setan juga dan membantu cari yang lainnya!"

"Sepertinya seru, ayo kita main!" Momo turut bersemangat.

"Rumah Akaya kan luas, jadi pasti asik!" tabah Kai.

"Baiklah kalau begitu, biar aku yang jadi setan yang pertama!" Akaya mengajukan diri.

"Oke. Akaya diam di sini dan hitung sampai dua puluh. Setelah itu cari kami ya!" jelas Kinta singkat sebelum mulai berlari ke luar ruangan. Setelahnya, Ryoma, Momo, Kiyoko, Shinya, Aoi dan Kai pun turut berhamburan ke luar.

Mereka semua berpisah ke arah yang berbeda. Namun Momo dan Ryoma masih tetap bersama. "Jangan mengikutiku, Momo!" perintah Ryoma.

"Niichan sendiri yang mengikutiku!"

Akhirnya kedua saudara itu memutuskan untuk mencari persembunyian bersama. Dan di tengah pencarian, perhatian mereka tertuju kepada sebuah ruangan. Ryoma dan Momo tidak berhenti terkagum-kagum saat masuk ke sebuah kamar yang dipenuhi dengan barang-barang antik itu. Rasanya mereka sedang kembali ke zaman peperangan dulu.

"Momo, lihat semua ini!"

"Keren sekali, Niichan!"

Tanpa sadar mereka akhirnya lupa sedang bermain setan-setanan dan memilih untuk diam di kamar tersebut.

Setelah menyelesaikan hitungan kedua puluhnya, Akaya bergegas mencari teman-temannya yang lain. Dia berlari ke arah semak di samping kolam dan menemukan Shinya bersembunyi di sana. "Shinya, ketemu!"

"He, cepat sekali, da ne!"

Lalu mereka berdua pun berpisah untuk mencari yang lainnya. Dengan cukup cepat, Akaya berhasil menemukan Kiyoko di balik tangga, dan Kai di atas lemari. Sementara Shinya sendiri berhasil menemukan Aoi di balik pintu, dan Kinta di bawah meja makan.

"Aah, kenapa cepat sekali! Curang!" protes Kinta dengan mulut penuh makanan.

Semua anak yang sudah ditemukan pun akhirnya berkumpul. Namun mereka masih kebingungan karena belum berhasil menemukan Ryoma dan Momo. Alhasil, mereka semua memutuskan untuk mencari kedua anak itu bersama-sama. Mereka menyusuri lorong dan mencari dengan lebih teliti. Hingga akhirnya Shinya menyadari keberadaan orang di dalam ruangan yang baru saja dia lewati. Karena penasaran, Shinya akhirnya membuka pintunya dan merasa senang karena berhasil menemukan orang yang dicari. "Ryoma dan Momo ketemu!" teriaknya.

Semua anak yang mencari bergegas berkumpul di depan ruangan. Namun perhatian mereka pun turut teralihkan saat melihat Ryoma juga Momo sedang bermain di dalam ruangan sambil memakai baju perang.

"Huwaa, ruangan apa ini, keren sekali!"

"Rumahku memang hebat bukan?" Akaya memasang wajah penuh kebanggaan.

"Ayo kita main di sini saja. lebih seru!" ajak Momo.

"Ayo, ayo!" Kinta yang terlihat paling bersemangat langsung melompat dan bergabung dengan Momo.

Semua anak yang ada, termasuk Akaya pun tidak bisa menolak ajakan temannya. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. Semua perabotan yang ada mereka ambil dan digunakan untuk bermain.

"Akaya, terima ini. Samurai attack!" Ryoma melempar sebuah bantal.

Akaya bergegas menangkis bantal tersebut dengan bantal lainnya hingga isinya bertebaran kemana-mana. "Rasakan ini, serangan balasan!"

Di sampingnya, Shinya yang sedang memeriksa isi lemari menemukan sebuah kuas dan cat. Ini baru pertama kalinya dia melihat benda tersebut. "Apa ini?" tanyanya spontan.

"Ah! Aku pernah melihat paman Gin menggambar menggunakan itu!" jawab Kinta. Dia pun mengambil botol yang bersi tinta dan membuka tutupnya dengan sekuat tenaga. Alhasil tinta bermuncratan kemana-mana saat tutupnya terbuka. Shinya tertawa melihat wajah Kinta yang berlumuran tinta hitam.

"Shinya sedang apa?" Kiyoko langsung merasa penasaran saat melihat Shinya sedang menggambar di atas meja.

"Ah, aku ingin menggambar juga!" ucap Momo. Dia segera merebut kuas dari tangan Shinya.

"Aah! Aku duluan, Momo!"

"Tidak, aku yang duluan, dasar Kinoko!"

Akhirnya Kiyoko dan Momo memperebutkan kuas hingga naik ke atas meja, menginjak gambar yang dibuat Shinya.

"Aah, apa yang kalian lakukan, da ne! Gambarku jadi rusak!"

"Aoi kun! Aoi kun!" Kinta yang baru saja menemukan mainan baru memanggil Aoi. Dia langsung melemparkan beberapa kacang saat temannya itu menoleh.

"Aduh, kamu lempar apa, Kinta?"

"Kacang kedelai."

"Eh.. ini kan belum festival. Kok ada kacang?"

"Entah lah. Mungkin untuk makanan burung. Tapi kita pakai main saja!"

Kinta dan Aoi pun mulai saling melempar kacang.

"Ryoma, terima ini! Kamaitachi!" Akaya melempar sebuah gulungan.

Ryoma pun langsung menghindar dengan gesitnya. "Mada mada dane."

Di saat yang bersamaan, Sanada yang baru saja selesai berendam memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Kebetulan saat itu Renji pun hendak pergi ke ruangan tempat pesta anaknya. "Bagaimana kabar anak-anak itu ya? Apa mereka bersenang-senang?" ucapnya.

"Semoga mereka tidak membuat keributan," timpal Sanada. Namun, baru saja bicara seperti demikian, dia menyadari ada seseorang di dalam ruangan pribadinya. Dengan segera dia geser pintu di hadapannya dan terkejut saat melihat beberapa anak tengah mengobrak-ngabrik ruangannya hingga tampak seperti kapal pecah.

"TARUNDORU!" teriaknya menggemparkan seisi rumah.

Yuki, Kenya, Niou, dan Yagyuu yang terkejut mendengar teriakan tadi bergegas berlari ke arah sumber suara. "Ada apa?" tanya mereka dengan panik.

"Ibu! Ini gawat!" Renji yang juga panik langsung berlari ke arah Yuki. "Ayah mengamuk!"

Yuki bergegas melihat ke dalam ruangan. Dia mendapati Sanada yang tengah berusaha menangkap anak-anak yang mencoba kabur. "Apa yang kalian lakukan, dasar anak-anak nakal! Mau kemana kalian!"

"Ibu, lakukan sesuatu!" pinta Kenya.

Tanpa bicara apapun lagi, Yuki tampak mengeluarkan beberapa jarum dari dalam sakunya dan melemparkannya ke arah Sanada yang langsung tak sadarkan diri. "Akaya, kamu ajak teman-temanmu kembali ke ruangan tadi ya!" perintahnya sembari tetap tersenyum. Lalu dengann tenangnya dia menyeret Sanada ke tempat lain. Dan keributan pun selesai dengan sekejap mata.

Sekitar pukul satu siang acara akhirnya selesai. Semua anak berpamitan untuk pulang. Mereka terlihat sangat senang sekali karena begitu menikmati pesta. Begitu pula dengan Akaya, dia mendadahi teman-temannya di luar rumah tanpa kehilangan senyum di wajahnya sedetikpun.

"Dadah Akaya. Sampai jumpa di sekolah!" ujar Jiro dari dalam mobil jemputannya.

"Terima kasih sudah datang ya!"

Renji yang berdiri di samping Akaya mengacak-acak rambut ikal anaknya itu. "Kamu senang?" tanyanya sembari tersenyum.

"Un!" jawab Akaya singkat sembari tetap tersenyum lebar.

"Kami pulang!"

"Selamat datang, Ryoma, Momochan. Bagaimana pestanya?" Fuji menyambut kedatangan cucunya di depan pintu.

"Menyenangkan sekali! Banyak makanan enak. Dan kami main bersama!"

"Rumah Akaya besar sekali lho, nek!"

"Iya, kakek Akaya juga punya barang-barang yang keren seperti samurai!"

Ryoma dan Momo saling bersahutan menjelaskan pengalamannya seharian. Sementara Fuji tidak diberikan waktu sedikitpun untuk menyela mereka. Jadi dia hanya mendengarkan sembari tetap tersenyum.

"Eh," tiba-tiba Ryoma terdiam.

"Ada apa?" Fuji peasaran kenapa cucunya itu tiba-tiba seperti sedang menyadari sesuatu. Dia melihat Ryoma merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat.

"Tadi aku menemukan sesuatu di rumah Akaya." Ryoma memberikan kertas tersebut ke tangan neneknya. Fuji membuka benda tersebut dan mendapati sebuah foto usang di dalamnya. "Aku penasaran karena salah satu orang di sana mirip sekali dengan kakek!"

Melihat hal tersebut, Fuji pun tersenyum. "Iya, ini memang kakekmu dan teman-temannya saat di klub tenis dulu."

"Uwaa! Keren! Aku ingin lihat juga!" pinta Momo.

Sebelum menyerahkan foto tersebut ke tangan cucunya, Fuji membalikkan foto di tangannya dan tersenyum saat mendapati tulisan di balik sana.

'Aku, Tezuka, Atobe, Kite, Akazawa, Higashi, Ishiki, Chitose, dan Tachibana. Di pertandingan Nasional Tenis ke 35.'