Author: Yap, chapter 10 Update setelah sekian lama tidak berjumpa *?*
Len: Dan dikarenakan author ini besok Sabtu dan Minggu ada persami di sekolahnya, ini fict bakal di delay beberapa hari *Udah kayak pesawat aja ya ==*
Author: Eh, itu bagian gw -.-b
Len: Peduli amet xP
Author: Yo wes lah, Kaito Disclaimer!
Kaito: Tumben gw disuruh muncul, perasaan dari chapter 1 gw cuma pajang nama doang deh =='
Author: Udah deh, gak usah banyak bacod. Cepet!
Kaito: Iya deh
Disclaimer: Vocaloid punya Yamaha bukan punya Author ini.
Nb: Don't Like Don't Read!
Beautiful Sound
Chapter 10: Rin's Decision
-Rin POV-
Sebulan sudah berlalu sejak pesta perayaan tahun baru itu. Tapi tetap saja, perasaanku masih sakit. Mikuo telah merebut First Kiss-ku. Aku…Ok, aku jujur. Aku suka, ralat. Aku cinta KAGAMINE LEN! Ya, hanya dia. Sejak pertama kali bertemu saat bernyanyi bersama di sekolah.
Hari ini aku bersekolah lagi, seperti biasa aku pergi dengan Miku. Aku menceritakan kejadian 'itu' pada Miku.
"He! Beneran?" Tanya Miku tidak percaya, aku hanya mengangguk pelan lalu menundukkan kepala.
"Mikuo itu tambah kurang ajar." Kata Miku dengan nada serius.
-Len POV-
Sekarang aku sudah ada di kelas bersama dengan Dell. Ya, aku menceritakan kalau aku melihat Mikuo mencium Rin pada malam tahun baru itu.
"Mikuo beneran ngelakuin itu?" Tanya Dell tidak percaya.
"Iya, coba aja waktu itu aku tidak pegang gitar. Mikuo udah aku tendang sumpah!"
"Sabar Len.." Kata Dell menenangkanku.
KRINGG!
Bell tanda jam pertama dimulai..
"Oh iya, pelajaran pertama itu pelajarannya—" Kata-kata Dell terputus karena guru itu sudah datang dan dia juga membuka pintu dengan keras.
"Hik. Pagi anak-anak. Hik..Hik." Guru itu adalah Sakine-sensei. Sesuai dugaanku, dia mabuk.
Sakine-sensei langsung duduk dimeja guru. Lalu mengangkat kedua kakinya keatas meja, dan meminum sakenya.
"Ahik..Hari ini kita akan belajar tentang…ahik. Em..Tentang apa ya anak-anak?" Tanya Sakine-sensei dengan muka yang amat sangat tidak berdosa yang membuat aku ingin menonjoknya.
"Dasar pemabok tua tukang marah-marah." Kataku dalam hati yang tak sengaja aku ucapkan. Kebetulan saat aku mengucapkan itu Dell sedang bermain main dengan 'Toa' barunya jadi ucapanku terdengar oleh orang-orang satu kelas. (Author: Sejak kapan dia bawa toa?)
"Apa katamu Kagamine Len?" Tanya Sakine-sensei yang entah mengapa sudah sadar dari mabuknya.
"Eh, ng…Nggak ngomong apa-apa kok sensei." Kataku membantah.
Tiba-tiba Dell yang sedang nari-nari gaje disebelahku tanpa sengaja memencet tombol play di headset ku.
"Dasar pemabok tua tukang marah-marah."
Aku sweatdrop ditempat. Sedangkan Dell dan teman-teman sekelasku cekikikan sendiri. Jadi, selama jam pelajaran Sakine-sensei hari ini aku harus berdiri di depan kelas sambil jampi-jampi..Ralat..Sambil nari-nari gak jelas. Wajahku pun memerah saat yang lain tertawa melihatku.
"Len, kamu makin ganteng loh pas mukamu memerah." Goda Neru.
"Diem!" Bisikku pada Neru.
"Hihiihihi." Tawa Neru dengan Miki.
Sesaat aku melirik kearah Dell. SEMPAT-SEMPATNYA DIA NGEREKAM AKU YANG LAGI JOGET GAK JELAS KAYAK GINI!
Akupun menatap Dell dan memberinya Deathglare, Dell pun langsung diam dan ketawa-ketawa kecil. Dan kalau diperhatikan sepertinya akhir-akhir ini Dell jadi aneh. Apa karena kesambet setan pas uji nyali waktu itu? Sudahlah, mending aku lupakan.
"Cih, harus berdiri begini terus sampe istirahat. Lihat aja kau Dell!" Kataku dalam hati.
-Rin POV-
"Em, anak-anak. Hari ini kalian boleh keluar kelas untuk mengamati lingkungan. Syukur-syukur kalian mendapat inspirasi." Jelas Kaito-sensei. Kaito-sensei itu guru seni budaya. (Author: Kok bisa O.O")
Aku dan Miku pergi keluar kelas, tepatnya menuju atap sekolah. Ya, bisa kalian bayangkan bagaimana pemandangan atap sekolah itu. Disana kami melihat-lihat pemandangan kota untuk kami gambar. Karena aku dan Miku jago gambar jadi kami bisa menggambar gedung-gedung sekolah dengan detail. (Author: Pede gila ==)
"Rin.." Panggil Miku.
"Kenapa Miku?" Tanyaku dan tetap melihat pemandangan kota.
"Maafkan perbuatan Mikuo ya. Biar kuberi pelajaran dia nanti sepulang sekolah."
Aku yang mendengar perkataan Miku meneguk ludahku. Akupun menoleh kearah Miku.
"Ah, tidak apa Miku." Kataku berbohong. Sebenarnya aku masih sangat kesal atas perbuatan Mikuo. Tapi mau bagaimanapun Mikuo adalah adik sahabatku.
"Adikku satu itu memang suka memaksakan kehendakknya sendiri. Dia juga sering berbuat nekat." Jelas Miku.
"Kalau Mikuo berbuat macam-macam lagi beritahu aku, akan kuhajar dia." Sambung Miku.
"Iya.." Gumamku pelan.
Jam pelajaran Kaito-sensei selesai, sekarang kita semua istirahat. Aku, Miku, dan Gumi pergi ke kantin. Disana seperti biasa, kita makan sambil ngobrol dan bercanda.
Saat sedang tertawa, aku melihat Len dan Dell sedang berjalan menuju kantin. Len tidak sadar akan keberadaanku, jadi setelah membeli makanan. Em, tepatnya pisang. Dia dan Dell langsung pergi. Aku hanya melihatnya dari jauh. Gumi yang memperhatikan gerak-gerikku dari tadi langsung melemparkan sebuah pertanyaan padaku.
"Rin, kamu ngeliatin apaan sih?" Tanya Gumi.
"Ah, tidak." Jawabku singkat lalu meminum jus jeruk yang ada didepanku. Sedangkan Miku memperhatikanku dengan wajah sedih.
Bel tanda pelajaran dimulai (lagi) berbunyi. Aku, Miku, dan Gumi memasuki kelas. Sebelum masuk ke kelas, aku melihat Len yang sedang bercanda dengan Neru dan Miki. Tentunya bersama Dell. Wajahku memerah melihat Len yang sedang tertawa, langsung saja aku masuk ke kelas.
-Len POV-
Bel pulang sekolah sudah dibunyikan, dengan semangat aku membereskan barang-barangku dan memasukannya kedalam tas. Sebelum itu wali kelasku, Sakine-sensei bilang kalau satu minggu lagi ada Festival Musik di sekolah ini. (Author: Kok jadi kayak Inbox ya? -.-)
Dan kita semua sepakat untuk membuat band yang terdiri dari 6 orang, 3 orang cewe dan 3 orang cowo. Jadi kita akan mengadakan test. Tapi, karena waktu MOS aku sudah disuruh nyanyi dan anak-anak satu kelas sudah mendengar suaraku, jadi aku harus menyanyi dan bermain gitar. TIDAK! DX
Dirumah aku dengan cepat membuka laptopku dan memasang modem. Lalu aku mendownload sebuah lagu. Karena lama menunggu aku turun kebawah dan mengambil sebuah pisang dari kulkas lalu memakannya. Tiba-tiba Handphone-ku berbunyi.
From: Neru_Cute
To: Len_YellowBanana
Len, kau besok pulang sekolah ada waktu kan?
.
"Hng, kenapa nih?" Tanyaku. Lalu dengan cepat aku membalas sms-nya.
.
To: Neru_Cute
From: Len_YellowBanana
Mau ngapain?
.
Tak lama kemudian sms-ku dibalas.
.
From: Neru_Cute
To: Len_YellowBanana
Test buat anak-anak yang mau masuk ke band. Bisa yaa….
.
.
.
To: Neru_Cute
From: Len_YellowBanana
Oh, oke. Besok dimana testnya?
.
.
.
From: Neru_Cute
To: Len_YellowBanan
Di kelas aja. Udah ya, bye :)
Aku tutup Handphoneku lalu kembali memakan pisang yang ada didepanku. Setelah selesai aku kembali kekamarku dan mengecek apakah lagu yang aku download sudah selesai atau belum. Dan hasilnya…
"WHAT! LAMA BANGET DOWNLOADNYA!" Teriakku. Hampir saja aku membanting laptop itu, tapi tidak jadi karena Dell memanggilku dari luar rumahku. Segera aku pergi keluar rumahku.
"Kenapa Dell?" Tanyaku.
"Neru nanya, besok kau bisa nggak ikutan jadi juri pas test pulang sekolah?" Kata Dell.
Oke, sekarang Dell yang mau aku banting =w=".
"Iya iya, udah tau!" Bentakku.
"Oh, ya udah. Aku pulang dulu, bye." Dell menghilang setelah berbelok dibelokan, bukan dilurusan *?*
"Ngeganggu aja!" Gumamku.
Aku masuk kedalam kamarku lagi lalu melanjutkan acara banting-bantingan laptop dan modem yang tidak berdosa. Alhasil laptop dan modem itu hancur. Karena bosan aku mengambil laptop dan modem cadangannya di lemari kamarnya, kira-kira ada 300 lebih laptop disana. (Author: Kok bisa OAO?)
Dan aku kembali mendownload lagu yang sempat tadi tertunda. Akhirnya dengan waktu setengah detik lagu itu berhasil didownload *?*. Lalu aku mendengarkan lagu itu sambil bersenandung, sampai aku ketiduran.
.
.
.
Keesokan harinya…
Sekolah berjalan seperti biasa. Tapi ada satu hal yang aneh, dari tadi pagi sampai jam istirahat sekarang Mikuo sering mondar-mandir di depan kelas Rin. Aku mulai merasakan perasaan yang tidak enak.
"Kenapa Len?" Tanya Dell.
"Ah, nggak apa apa kok." Jawabku bohong.
-Rin POV-
Senang rasanya sekarang sudah waktunya pulang sekolah, tapi tetap saja. Kiyoteru-sensei member kami Pr secara gila-gilaan. Walau waktunya sampai minggu depan, tapi tetap saja susah kalau harus ngerjaiin 150 nomor. (Author: Oke, guru apaan tuh?)
Sekarang aku dengan Miku sedang berjalan kearah gerbang sekolah, tentu saja untuk pulang. Saat sedang asyik ngobrol dengan Miku tiba-tiba aku dicegat sama Mikuo didepan gerbang.
"Mi-Mikuo?"
"Hai, Rin. Pulang bareng yuk." Ajak Mikuo yang tanpa basa basi langsung menarik lenganku.
"Hei, mau kau apakan Rin, Mikuo?" Tanya Miku dingin.
Mikuo tidak mempedulikan kata-kata Miku, dia tetap menarik keras tanganku. Dia menyeretku ke suatu tempat yang sepi, tepatnya sebuah bangunan tua. Miku masih mengejar Mikuo.
"Mikuo, aku nggak mau!" Rontaku.
"Hei, aku kan pacarmu. Jangan begitu dong Rin." Kata Mikuo dengan suaranya yang menjijikan itu.
"Sejak kapan aku jadi pacarmu? Lepaskan aku!"
"Diam kau Rin! Kalau tidak kuhanyutkan kau ke sungai!" Ancam Mikuo
Aku yang takut hanya menuruti kata-kata Mikuo. Tiba-tiba…
"Hei! Rin sudah bilang nggak mau ya lepaskan dia!" Teriak seseorang, dan bisa kupastikan dia adalah Len. Disamping Len ada Dell yang mengikutinya.
"Heh, Len. Kau tidak ada hubungannya, jangan ikut campur!" Sahut Mikuo.
"Tentu ada! Siapa saja yang menyakiti Rin akan berurusan denganku!" Teriak Len. Spontan wajahku memerah setelah mendengar kata-kata Len.
-Len POV-
"Tentu ada! Siapa saja yang menyakiti Rin akan berurusan denganku!" Teriakku setengah tidak sadar. Ya, kalimat itu secara tidak sengaja terucap dari mulutku. Mukaku sejenak memerah.
"Kau siapanya Rin, Hah?" Tanya Mikuo.
"Kau nggak perlu tau! Yang penting lepaskan Rin!"
Mikuo mendekatiku sambil menyeret Rin. "Baik." Mikuo melepaskan Rin. "Tapi karena kau mencampuri urusanku rasakan ini."
BUAGH!
Sebuah tonjokan tepat mengenai muka Len sehingga membuat hidung dan mulut Len berdarah.
"LEN!" Teriak Rin, Miku, dan Dell.
Rin yang berada paling dekat denganku dengan sigap langsung memberikan aku tissue. Sesaat aku melihat seseorang dari dalam bangunan tua itu. Aku bisa tau kalau itu tempat gengnya Mikuo berada.
"Kau tidak apa-apa Len?" Tanya Rin.
"I-Iya. Daripada itu, Dell!"
"Ah iya…"
"Kau harus bersiap-siap." Perintahku.
"As your command.." Balas Dell.
"Len?" Panggil Rin. Aku mengabaikannya.
-Normal POV-
"Hey Len, kau tau kesalahanmu? Kalau kau masih sayang nyawa, cepat berikan Rin!" Perintah Mikuo.
"Heh. Enak aja, langkahi mayatku dulu baru kau akan mendapatkannya! Itupun kalau kau bisa." Balas Len.
"Tenang saja, sedikit lagi kau juga akan menjadi mayat!" Kata Mikuo lagi. Dia mengangkat tangannya keatas. Lalu muncullah puluhan orang, kira-kira 25 orang muncul disana. Dan bisa kupastikan, Mikuo-lah ketua geng itu.
"Mikuo, ke-kenapa kau bisa jadi kayak gini?" Tanya Miku cemas.
"Kau tidak perlu tau, Kak!" Balas Mikuo dengan menekan kata kak.
"Apa maumu?" Tanya Len.
"Mauku….Ini."
JDUK!
Sebuah batu kerikil tepat mengenai kepala Len sehingga mengalirlah keluar darah Len dari kepalanya.
"LEN!" Teriak Rin kaget.
"Hanya begini? Kalau begini aku takkan mati!" Kata Len. Dengan cepat Len memukul kepala dua anak buah Mikuo dengan tangan kanan dan tangan kiriny, sehingga membuat kepalanya bocor.
"Bunuh dia!" Teriak Mikuo. Dengan cepat anak buahnya berlari kearah Len dan kearah Dell.
Len yang badannya kecil dengan cepat menghindari pukulan satu orang anak buah Mikuo, lalu mendang kakinya sehingga dia jatuh. Dan dengan tanpa perasaan Len menendang kepala orang itu. Kalau sudah begini, tidak ada yang namanya Len yang baik hati.
Dell juga melakukan hal yang sama, tapi dia masih berperasaan sehingga tidak membuat bocor kepala lawan. Rin dan Miku yang ketakutan hanya bersembunyi.
Akaito dan Nero yang kebetulan lewat jalan disana melihat pertarungan Len dan Dell dengan gengnya Mikuo. Mereka berdua pergi kearah Miku dan Rin yang sedang bersembunyi di dalam bangunan itu.
"Hey, kalian kenapa?" Tanya Akaito.
"Nanti akan kujelaskan, tapi sebelum itu tolong Len dan Dell!" Suruh Miku.
"Ah, baik." Kata Nero.
Dengan cepat Nero dan Akaito bergabung dalam perkelahian itu.
"Akaito, Nero." Gumam Len. Akaito dan Nero hanya mengangguk. Lalu memukul K.O musuh-musuhnya.
Dalam beberapa menit anak buah Mikuo berhasil dikalahkan, sekarang hanya tinggal Mikuo.
"Menyerahlah Mikuo! Dan jangan sentuh Rin lagi!" Sahut Len.
"Siapa kau mengaturku? HAH?" Tanya Mikuo dengan suara yang keras.
Len mendekati Mikuo dan hendak memukulnya, Mikuo-pun mundur terus sampai dekat jalan raya. Disana banyak mobil yang berlalu lalang. Tiba-tiba Mikuo tersenyum sinis.
"Heh. Rasakan ini!" Teriak Mikuo lalu menarik tangan Len kearah jalan raya. Dan..
"LENNNN!" Teriak Miku, Rin, Dell, Akaito, dan Nero.
Len tertabrak mobil. Kepalanya bocor, banyak darah yang mengalir dari hidung dan mulut. Keadaan Len sekarang sedang tidak sadarkan diri.
"HAHAHAHAHA!" Tawa kemenangan Mikuo.
"MIKUO!" Teriak Miku lalu menamparnya. Miku langsung menelpon ambulance sedangkan Mikuo pergi entah kemana.
"Le-Len..Hiks.." Isak Rin. Len, dia yang menyelamatkan Rin jadi sepertinya Rin merasa bersalah pada Len.
"Maafkan aku Len.." Kata Rin.
"Rin, ini bukan salahmu." Kata Dell menenangkan Rin.
"Ta-tapi…"
"Sudahlah Rin, lebih baik kita rawat dulu Len. Lihat, ambulance-nya sudah datang." Kata Miku.
"Oh iya, apa maksudnya semua ini?" Tanya Akaito.
"Jadi begini, Rin tiba-tiba dipaksa pergi oleh Mikuo lalu diseret kesini. Len menghadang Mikuo lalu Len ditonjok, tiba-tiba muncul anak buahnya Mikuo. Yah, akhirnya begini." Jelas Dell.
"Ohh. Oke, sudah diputuskan. Mikuo dikeluarkan dari tim basket!" Kata Akaito.
"Hei kalian bertiga, bantu angkat Len!" Teriak Miku.
"Ah, iya."
-To Be Continued-
Mikuo: Gw OOC banget =='
Author: Biarin xP
Len: Menjauh kau dari Rin! *usir pake kipas*
Author+Mikuo: *Sweatdrop*
Miku: Review ya ^^
