Chapter 9: Flightless bird
.
.
Rakuzan adalah salah satu sekolah yang telah berpartisipasi dalam Winter Cup semenjak pertama kali turnamen tersebut dibuat. Mereka dikenal sebagai sekolah yang tertua dan terkuat, membuat mereka memperoleh title 'Emperor of Creation'
Para siswa yang memasuki sekolah tersebut diharapkan untuk dapat berhasil baik dalam bidang akademik maupun olahraga. Seperti Motto mereka 'Accomplishment in both letter and arms.'
Latihan yang mereka jalani tentu saja berat. Mereka dilatih hingga dapat memperlihatkan kelebihan mereka hingga batasnya. Klub basket adalah salah satu diantaranya.
Siang hari itu, tim basket Rakuzan tetap menjalani latihan seperti biasanya. Beberapa anggota first string mengambil istirahat singkat dan berdiri bersandar pada dinding sambil memperhatikan anggota yang lain meneruskan latihan.
"Latihan akhir-akhir ini rasanya lebih ringan dari pada sebelumnya." Salah satu dari mereka berkomentar.
"Yah, semenjak Akashi keluar dari klub." Sahut yang lain.
"Sebenarnya aku lumayan senang waktu dia memutuskan untuk berhenti, tidakkah kalian berpikir dia lumayan menyebalkan?"
"Aku mengerti maksudmu! Dia selalu memandang rendah pada kita!"
"Begitulah Akashi-sama." Salah seorang yang lain memutuskan untuk bergabung dalam percakapan tersebut. Ia menyebut panggilan tersebut dengan nada mengejek. "Dia berasal dari keluarga terpandang wajar saja dia memperlakukan orang-orang yang dianggapnya tidak setara dengannya seperti rakyat jelata."
"Pelatih menaruh kepercayaan besar padanya, yah, biar bagaimanapun dia adalah kapten Kiseki no Sedai."
"Walaupun setelah semua itu, akhirnya kita kalah di Winter Cup, kalau dipikir-pikir lagi rasanya lucu. Aku selalu menganggapnya tidak terkalahkan sebelumnya."
Setelah kekalahan mereka di Winter Cup, Akashi menyadari pandangan mencemooh, aura kemarahan yang terpancar jelas dari angota-anggota klub basket Rakuzan yang lain; terutama murid-murid kelas satu.
Alasan utama mereka kecewa akan anggota first string tim reguler adalah karena mereka terlalu menaruh harapan besar pada tim yang dipimpin oleh Akashi. Tim Rakuzan-lah yang terkuat, mereka tidak terkalahkan. Seperti itulah yang dianggap banyak orang, terutama setelah menyaksikan kemampuan kapten Kiseki no Sedai yang mengerikan itu.
kegagalan mereka dalam mempertahankan piala Winter Cup tahun itu menghancurkan, bukan hanya klub basket namun juga harga diri akademi Rakuzan sendiri. Mereka selalu berdiri dipuncak, kekalahan tentu bukan sesuatu yang dapat ditolerir dengan mudah.
"Oi! Kalian bertiga yang berdiri disana!" ketiga murid kelas satu itu tersentak saat mendengar suara Mibuchi menghardik mereka. Kemarahan terdengar jelas dalam suaranya.
"Geh! Itu suara Mibuchi-senpai!" Seru salah satu dari ketiga anak tersebut yang agak gemetaran melihat tatapan yang diarahkan pada mereka.
"Kalau kalian punya waktu untuk membicarakan hal tidak berguna begitu, cepat kembali latihan!" Perintah sang uncrowned general dengan julukan 'Yaksha' itu menunjuk kearah lapangan tempat anggota yang lain tengah berlatih.
"Ba-baik!" Ketiganya buru-buru menjalankan perintah yang diberikan.
Mereka bertiga tampaknya tidak menyadari kehadiran seseorang lain yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka.
Kurasa bahkan disinipun…aku tetap menerima cemoohan…
Sudah sewajarnya memang…ada beberapa anggota yang tidak setuju aku dinobatkan menjadi kapten, terutama murid-murid kelas satu.
Orang-orang seperti mereka ada dimana-mana. Orang-orang yang membecinya karena iri akan prestasi yang berhasil dicapainya. Dia sering menemukan mereka membicarakan dirinya dibelakangnya. Hal itu sudah merupakan pemandangan sehari-hari baginya.
Seiring berjalannya waktu, Akashi mulai menyadari tidak peduli ia gagal atau sukses dalam mencapai target, orang-orang tetap akan mencemooh dirinya di belakangnya. Dia paham tidak akan ada habisnya bila ia menaruh perhatian akan setiap hinaan dan ejekan dari orang-orang berpikiran sempit yang ditujukan padanya.
Akashi memutuskan untuk beranjak pergi dari Gym indoor Rakuzan setelah mendengar peluit tanda waktu istirahat telah berakhir dan latihan kembali dilanjutkan.
Dia berjalan kembali kearah gedung utama sekolah yang terletak tidak jauh dari sana.
Seirin, tim yang berasal dari sekolah tanpa nama berhasil mengalahkan Rakuzan.
tim yang dipilih oleh Kuroko Tetsuya.
Kuroko adalah ... orang pertama yang mempertanyakan arti sebuah kemenangan kepadanya ...
Sekarang, melihat kembali ke masa lalu pada hari-hari saat mereka masih berada di sekolah menengah Teiko. Semua kemenangan Kiseki no sedai yang telah berhasil dicapai olehnya, tampak sama sekali tidak berarti. Akashi teringat akan pertemuan pertamanya dengan Ogiwara Shigehiro. Ace yang lumayan lamban namun polos dan apa adanya dari Meiko, mengatakan hal yang cukup konyol menurut pendapatnya.
Namun, dia yang sekarang perlahan-lahan mulai memahami arti sebenarnya di balik kata-kata Ogiwara waktu itu.
Timnya memang yang terkuat pada saat itu. Tapi tidak ada seorangpun yang bahagia. Satu-satunya alasan mereka sedang bermain basket adalah untuk menang. Tidak ada yang menikmati permainan seperti itu. Metode yang sama persis diterapkannya pada tim Rakuzan. Dan hal tersebut yang menjadi kejatuhan mereka.
Mungkin keterlaluan baginya untuk berpikir seperti itu. Tapi ada bagian dalam diri Akashi yang sebenarnya merasa lega, tim yang dipilih oleh sang bayangan berambut biru itu bisa mengalahkan tim yang dipimpin oleh seseorang sepertinya.
Alasan Kuroko mampu mengalahkan Akashi adalah ikatan kepercayaan yang dalam yang dibentuknya dengan anggota Seirin. Mereka saling percaya akan satu sama lain, saling bergantung satu sama lain dan berjuang bersama untuk menang.
Itu adalah sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti Akashi Seijuro. Dia tidak pernah mengandalkan siapa pun, ia tidak mampu untuk memahami alasan untuk itu. Dia berjalan dalam kesendirian dan menggenggam kekuasaan seorang diri di puncak.
Ketakutan selalu membuatnya menahan diri. Rasa takut tertinggal, takut dikhianati. Memaksa dia untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Pada satu sisi Akashi ingin percaya bahwa dirinya mutlak. Kepribadian sombong dan tinggi diri yang terbentuk dari pendidikan yang keras dari rumah tangga Akashi . Dia tidak butuh untuk memberikan kepercayaan pada apa pun atau siapa pun dengan demikian ia menjauhkan diri dari semua orang.
Ada beberapa jenis orang yang tertarik untuk mendekatinya. Para gadis, kebanyakan karena penampilannya. Lainnya tergoda oleh latar belakang keluarganya, kekayaan dan kekuasaan.
Dan ada beberapa yang tertarik karena kepribadiannya. Mereka adalah orang-orang yang tertarik kepadanya oleh pesona unik yang dimilikinya.
Orang-orang itu adalah mantan rekan satu timnya di Teiko, senior yang amat dihormatinya Nijimura Shuuzou. Dan tiga uncrowned king dari Rakuzan. Dia tidak bisa berkata demikian tentang Mayuzumi Chihiro karena senior tersebut selalu memilih untuk sendirian, meskipun ia merasa yakin ada hal yang membuat Mayuzumi tertarik padanya hingga tahap tertentu.
Yang terakhir, adalah seseorang yang baru saja mengenalnya belakangan ini. Dia bahkan tak pernah menyangka hubungan mereka mampu berkembang ke tahap persahabatan. Dia tidak pernah menyadari keberadaan Furihata sebelum insiden malam itu terjadi.
Furihata Kōki, hanya seseorang normal dengan kehidupan yang biasa saja. Dia jelas tidak pernah bermain basket sebelum ia masuk ke sekolah menengah keatas. Ia mengakui tidak memiliki pengalaman yang cukup ataupun talenta tersembunyi. Tapi ada sesuatu dari dirinya yang biasa-biasa saja yang menarik menurut Akashi. Sebagian besar karena pertemuan-pertemuan mereka yang tak terduga.
Dia selalu muncul di saat aku berada dalam situasi yang buruk...
Pertama kali, ia bertemu denga Furihata adalah saat ia melarikan diri dari pemakaman ibunya.
Yang kedua adalah pertemuan di lorong setelah Wintercup dan ketiga, merupakan insiden yang mengakibatkan Furihata harus dirawat di rumah sakit.
Dan semua pertemuan itu, di inisiasi oleh Furihata sendiri. Dia memutuskan untuk melibatkan diri dalam insiden tersebut padahal dia memiliki pilihan untuk mengabaikannya.
Terdengar lucu memang, bagaimana takdir -seperti kata-kata Midorima mempertemukan dua orang yang tak terduga.
Mungkin itu sungguhan takdir atau hanya murni kebetulan belaka. Yang manapun luar biasa aneh. Ikatan yang terbentuk di antara mereka. Dapat dikatakan hampir seperti keajaiban menurut pendapat Akashi.
Furihata adalah ... orang yang baik. Saat Akashi menghabiskan waktu bersama dengannya, perlahan Akashi mulai memahami sifat Furihata Kōki. Dia mungkin seorang pengecut, tapi dia jelas bukan seseorang yang hanya bisa melarikan diri saat melihat seseorang dalam kesulitan.
Dia adalah orang yang benar-benar berbeda dari Akashi.
Apakah arti sebuah kemenangan ...?
Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan Kuroko pada waktu itu,
Dulu aku berpikir bahwa ... jika aku berusaha keras mungkin Otou-sama akan merasa puas ...
Mungkin dia akan mengakuiku...
Aku ingin dia bangga padaku ...
Tapi pada akhirnya, tidak ada yang berubah sejak saat itu ...
Meskipun semua usaha telah kukerahkan untuk meraih kemenangan
Hanya meninggalkan perasaan kosong dalam hati ...
Ketika sekelompok burung tiba-tiba terbang di luar mengalihkan perhatian Akashi kearah jendela. Ia menghentikan langkahnya untuk sementara untuk memperhatikan kawanan burung yang terbang ke angkasa.
Burung-burung tersebut membuatnya terkenang akan suatu momen yang dilaluinya bersama ibunya saat beliau masih hidup.
.
.
Suara kepakan sayap terdengar saat sosok seekor burung terbang dengan semangat keluar jendela untuk menjelajahi langit.
"Mengapa Anda melepaskan burung itu, Okaa-sama?" Akashi kecil memiringkan kepalanya ke samping dengan ekspresi bingung tertampang diwajahnya ketika ia melihat ibunya membuka sangkar dan membiarkan burung itu terbang keluar. Burung itu adalah hadiah dari ayahnya yang di berikan untuk menemani istrinya semenjak ia sering tinggal di tempat tidur semenjak penyakitnya memburuk.
Wanita itu, Akashi Shiori hanya menoleh kearah anaknya sambil tersenyum dan mengusap kepalanya. "Karena dia tidak bahagia." Wanita berambut cokelat itu menjelaskan. "Ibu lebih senang melihatnya menjelajahi langit tak terbatas daripada dikurung dalam sangkar." Mata merahnya mengikuti burung yang berkicau riang dan mengepakkan sayapnya dengan gembira.
Entah bagaimana dia bisa melihat sorot kesedihan di mata ibunya tapi pandangan tersebut menghilang ketika wanita itu berbalik kembali ke arahnya. "Jadi ... apa ada kejadian baru yang terjadi di sekolah hari ini?"
Dia selalu menyukai mata ibunya yang memancarkan sinar kehangatan dan lembut sekaligus cerah. Ibunya selalu mendengarkan ceritanya dengan seksama, seolah-olah takut melewatkan bagian yang penting.
Ibunya adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Akashi merasa nyaman untuk membuka dirinya. Dia bisa bertindak seperti anak-anak normal lainnya tanpa merasa terkekang dan khawatir; ia bisa berbagi segalanya dengan ibunya karena dia tahu ibunya akan selalu ada untuknya dan berada disisinya. Akashi menghabiskan seluruh waktu luangnya bersama ibunya terutama semenjak kondisi kesehatan wanita itu memburuk.
Akashi menyukai suara tawa ibunya, suara tersebut selalu terdengar seperti lantunan melodi yang indah ditelinganya
Ayahnya, Akashi Masaomi telah mengajarkan padanya sebagai calon kepala keluarga Akashi dimasa depan, meraih kesempurnaan adalah hal yang mutlak. Itu permintaan yang tak perlu dipertanyakan lagi harus dipenuhinya sepanjang sisa hidupnya.
Namun, selama ia memiliki ibunya, Akashi yakin semuanya akan baik-baik saja. Ia bisa menghadapi segalanya asalkan ibunya berada disisinya.
Dia selalu merasa bangga setiap kali ibunya memujinya. Rasanya semua kerja kerasnya untuk meraih keberhasilan itu setara dengan senyuman yang diberikan ibunya padanya.
"Apa aku bisa tidur bersamamu, malam ini?" tanya anak laki-laki itu dengan nada penuh harap. Ia membaringkan kepalanya di pangkuan Shiori sementara wanita berambut coklat itu mengusap punggungnya.
"Mou, Sei-kun sudah besar kan? kau selalu tidur sendiri semenjak kelas tiga." Ibunya berujar dengan nada menggoda.
"Tapi ... aku kesepian ..." Katanya dengan cemberut, merasa sedikit malu untuk mengakui perasaannya namun Akashi tidak pernah ragu untuk menunjukkan sisi manja dirinya pada ibunya.
"Aku mengerti." Wanita itu menjawab. "Tapi malam ini sepertinya bukan saat yang tepat." Raut wajah Akashi berubah kecewa mendengar kata-kata ibunya.
"Tapi, kita bisa tidur sama-sama besok." Dia menambahkan dengan senyuman geli saat melihat ekspresi kecewa di wajah anaknya langsung berubah cerah.
"Benarkah ?!" tanya anak penuh dengan penuh pengharapan.
"Iya." Ibunya mengangguk untuk meyakinkan. "ah, bukankah waktu untuk pelajaran pianomu hampir dimulai?"
"Ah! benar juga!" Akashi melihat jam tangannya dan menunjukkan pukul 14:30 les Piano-nya akan mulai dalam waktu kurang dari 15 menit dan ia harus mempersiapkan peralatannya sebelum tutornya tiba.
"Aku akan mengunjungimu sore nanti setelah semua pelajaran tambahan selesai, Okaa-sama!" Dia berdiri dari kursinya dan kemudian berjalan menuju pintu. Dia bertekad untuk menyelesaikan semua pelajaranna dengan cepat agar ia bisa menghabiskan sore hari yang tenang bersama ibunya.
Shiori balas melambai sebelum anaknya menutup pintu; mengantarnya pergi dengan senyuman.
Langkah kaki itu terdengar semakin pelan tanda ia semakin menjauh dari ruangan tersebut dan setelah wanita itu yakin anaknya telah bejalan pergi cukup jauh dari tempat itu. Ia-pun meremas bagian depan bajunya, pada bagian kanan atas; ekspresi kesakitan jelas terlihat di wajahnya sementara keringat mulai jatuh bercucuran.
Dia menutup mulutnya dengan tangannya dan terbatuk keras. Ia dapat merasakan cairan hangat yang membasahi bagian dalam telapak tangannya, perlahan ia menurunkan tangannya dan menatap darah di telapak tangannya dengan wajah tanpa ekspresi.
Dia selalu menahan rasa sakit karena penyakit yang dideritanya, ia berusaha menyembunyikannya dari semua orang terutama anaknya. Karena ia tidak ingin membuatnya lebih mengkhawatirkan kondisi kesehatannya lebih dari ini. Dirinya sendiri yang paling mengerti bahwa dia tidak memiliki banyak waktu yang tersisa untuk berada di sisi keluarganya.
.
.
Perpustakaan Seirin
"Minggu depan ya, field trip ke Kyoto." Fukuda mendesah dengan kecewa. Dia benar-benar tidak suka dengan tempat tujuan wisata sekolah yang diadakan tahun ini.
"Aku berharap kita akan pergi ke Okinawa atau tempat permainan ski, seperti sekolah temanku." Laki-laki berambut hitam itu mengeluh sambil menatap gambar kuil di Kyoto pada buku yang tengah dibacanya dengan wajah bosan.
"Tapi kita malah akan menghabiskannya di Kyoto selama tiga hari dan dua malam, seperti menyia-nyiakan kesempatan yang hanya datang setahun sekali." Fukuda bukan satu-satunya yang berpikiran begitu, sebagian besar murid tahun pertama juga berpikir sia-sia saja menghabiskan field trip sekolah di tempat seperti Kyoto atau Nara. Terlalu membosankan.
" Menyebalkan sekali! Iya-kan Furihata ...?" Ia menyenggol pemuda berambut cokelat yang duduk di sampingnya.
"Hmm ... hmmm ... eh?" Furihata yang sedari tadi membaca sambil menggumam kini mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.
"Kau tampaknya lumayan bersemangat, apakah kau benar-benar menantikan acara field trip sekolah?" Fukuda mengangkat salah satu alisnya dan menatapnya dengan pandangan penasaran.
"Yah sedikit ... biar bagaimanapun kota ini adalah salah satu kota yang masih mengawetkan tradisi leluhur di Jepang, jadi kurasa kota ini memiliki nilai sejarah yang tinggi." Furihata menjawab dengan jujur dan membalik halaman lagi.
"Apa benar begitu? Menurutku itu sangat membosankan, kita hanya berkeliaran sambil berziarah ke kuil." Fukuda mendesah. "Aaah ... aku ingin melihat gadis berbikini di Okinawa. Aku belum pernah pergi ke sana seumur hidupku, tahu?" Ujarnya, harapannya untuk menikmati hangat pantai d Okinawa pupus saat mendengar pemberitahuan tujuan destinasi field trip kelas mereka tahun itu.
"Tapi, kurasa kalau bisa bertemu dengan Maiko, itu cukup sebagai kompensasi yang adil." Kawahara tiba-tiba bergabung dalam percakapan.
"Ah? Maiko, ya? Yah ... kurasa mereka tidak buruk." Fukuda mengetukkan jarinya di atas meja, tampak memikirkan kembali ucapan Kawahara.
"Bukankah mereka hebat? Coba lihat gerakan dan penampilan mereka yang super anggun, menurutku Maiko amat luar biasa !"
"Aku bisa mengerti perasaan Kawahara. Benar-benar membuatmu berdebar-debar saat melihat Maiko yang mengenakan Furisode berjalan di jalanan." Kagami mengangguk menyetujui pendapat Kawahara.
"Ya! Ya! Dan kudengar lagu dan tarian yang luar biasa! Aku sangat berharap kita punya cukup waktu untuk menonton pertunjukan mereka ..."
"Apakah kalian ingin aku merekomendasikan beberapa buku panduan yang bagus untuk daerah Kyoto?"
"Uwaah! Kuroko! Jangan tiba-tiba muncul seperti itu!" Protes Kawahara dan Fukuda disaat bersamaan. Kagami sebenarnya juga terkejut, namun menyadari tidak ada gunanya marah-marah. Sudah menjadi rahasia kecil diantara mereka kalau Kuroko selalu menikmati reaksi orang-orang yang terkejut oleh kehadirannya yang tiba-tiba karena itu dia selalu memanfaatkan kemampuan misdirection miliknya sebaik-baiknya.
"Hai, Kuroko." Furihata dengan tenang menyapa pemuda berambut biru tersebut.
"Heh? Kau tidak terkejut lagi, Furihata?"
"Begitulah kurasa… karena akhir-akhir ini dia sudah terlalu sering muncul mendadak aku jadi lumayan terbiasa dengan hawa keberadaannya yang tipis." Furihata menjelaskan sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
"Oh, begitu, benar juga, kalian berdua sama-sama anggota komite perpustakaan, kalian pasti sering bertemu." Kawahara berujar.
"Apakah kalian pikir kita memiliki kesempatan untuk mengunjungi Rakuzan?" Kagami tiba-tiba bertanya.
"Itu sekolah swasta kan? Akademi yang dipenuhi anak-anak tajir. Aku ragu mereka akan membiarkan kita masuk hanya untuk sekedar melihat-lihat."
"Bagaimana menurutmu Kuroko? Apakah menurutmu kita mungkin bisa bertemu dengan anggota klub basket Rakuzan? Mungkin kita bisa melawan mereka sekali lagi dengan pertandingan kecil-kecilan atau semacamnya?"
"Kagami-kun, sekolah kita memiliki jadwal sendiri selama perjalanan,"
"Che, menyebalkan! Dan kupikir aku memiliki kesempatan untuk bertanding lagi dengan Akashi dan ketiga uncrowned general sekali lagi."
Furihata sedikit tersentak saat mendengar pernyataan Kagami. Sepertinya berita tentang pengunduran diri Akashi belum terdengar oleh Kuroko karena remaja berambut biru muda itu bertindak acuh tak acuh akan kata-kata Kagami. Dia pasti akan memberitahu Kagami bila ia mengetahui tentang hal itu.
Apa Akashi-san sengaja merahasiakannya?
"Kau dan Kuroko akan melawan mereka semua berdua saja?" Kawahara tampak tercegang akan pernyataan penuh rasa percaya diri dari Kagami. Bukannya dia tidak menaruh kepercayaan pada ace Seirin tersebut, tapi rasanya agak berlebihan mengatakan hal seperti itu mengingat mereka berjuang mati-matian dan mengerahkan segenap kekuatan mereka saat melawan Rakuzan di winter cup.
"Haah? Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kalian bertiga juga ikut bermain, sebagai perwakilan tim regular Seirin." Kagami langsung membalas.
"Kami menolak!" Fukuda, Kawahara dan Furihata serentak berseru pada saat yang sama, jelas menolak ide tersebut. Tidak diragukan lagi itu adalah ide paling gila bahkan untuk Kagami yang menyarankan sesuatu seperti itu.
Mereka tidak mungkin sanggup bertahan melawan anggota tim Rakuzan dengan kemampuan mereka sekarang. Ada atau tidaknya mereka di court tidak akan mempengaruhi pertandingan.
"Pikirkan tentang hal itu dengan baik-baik. bodoh! kita jelas jauh lebih lemah dari mereka dari segala sisi!" Baik dalam soal Fisik, stamina, skill dan kemampuan bertahan, perbedaan mereka dengan anggota regular tim Rakuzan bagaikan tanah dan langit.
"Fukuda benar! Kita tidak mungkin bisa mengimbangi permainan kumpulan monster seperti mereka! Iya-kan Furihata?!" Kawahara mengangguk cepat dan menoleh kearah Furihata disampingnya.
"Aku dengan yakin dapat mengatakan menilai dari kemampuankami saat ini kami takkan bisa membantu sama sekali!" Furihata melipat tangannya, setuju dengan pendapat Fukuda dan Kawahara.
"Pernyataan yang menyedihkan...terutama karena dikatakan oleh tiga orang bench-warmer ." Kagami meletakkan tangannya di belakang tengkuknya dengan ekspresi sedikit kesal. Dia tampaknya agak marah melihat reaksi penolakan mereka untuk bekerja sama.
"Kalian terdengar sama sekali tidak punya rasa percaya diri sebagai pemain reguler yang akan menggantikan para senior." Si rambut merah itu menambahkan sambil menghela napas.
"Maaf ya karena kami tidak berbakat sepertimu!" Seru ketiganya disaat bersamaan.
Setelah mereka menyelesaikan kelompok studi mereka yang mencari informasi tentang tempat tujuan field trip sekolah minggu depan, Kawahara, Fukuda dan Furihata memutuskan untuk berjalan pulang bersama sejak Kagami dan Kuroko sudah pulang duluan.
Furihata perlahan mulai bisa menerima perasaan janggal dalam hatinya akan Akashi Seijūrō. apakah itu hanya rasa penasaran semata atau sekedar naksir. Yang manapun, Furihata tak bisa menyangkal ia memandang pemuda berambut merah itu lebih dari sekadar teman.
Fukuda dan Kawahara adalah teman terdekatnya dan yang paling dipercaya olehnya. Mereka berdua adalah orang pertama yang akan diajaknya berdiskusi mengenai hal tersebut.
"Fukuda ... Kawahara ... ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian ..." Pernyataan tiba-tiba dari Furihata membuat Fukuda dan Kawahara menghentikan langkah mereka dan menoleh kearah pemuda berambut cokelat t tersebut.
"Maukah kalian mendengarkanku?" Ekspresi serius di wajah Furihata membuat keduanya menyadari, ia jelas inging mengatakan hal yang penting.
"Baiklah, apa kau ingin mampir di Majiba dalam perjalanan pulang?" Kawahara menyarankan dan setelah menerima anggukan dari yang lain, mereka segera berjalan menuju restoran fast food Maji Burger.
.
.
"Pertama-tama aku ingin memperjelas satu hal." Furihata mengangkat satu tangannya di depan mereka berdua. "Sebenarnya, aku tidak berpacaran dengan Tanimura-san. Aku hanya menerima pernyataan cinta darinya tapi aku belum memberinya jawaban." Dia tidak mau Fukuda dan Kawahara terus salah paham akan hubungannya dengan Tanimura.
"Eeeeeeeeeeeeeeeh ?!"Seruan Fukuda dan Kawahara memenuhi restoran fastfood tersebut. Membuat pelanggan lain menoleh kearah mereka sementara Furihata menutup telinganya karena suara keras mendadak tersebut.
"Ke-ke-ke-ke-KENAPA ?!"
Keduanya langsung maku ke arah pemuda berambut cokelat tersebut, menuntut penjelasan.
"Kalian berisik sekali! Lagipula kenapa kalian yang marah?" Furihata bingung dengan reaksi mereka. Dia memang sudah menduga mereka akan terkejut dengan berita ini, namun reaksi mereka bahkan lebih berlebihan dari yang disangkanya.
"Tentu saja! Biasanya ketika seorang pemuda menerima pernyataan cinta dari seorang gadis terutama seseorang secantik Tanimura-chan, sudah 100% pasti mereka akan berpacaran!" Fukuda membentak sambil menggebrak meja. "Bagaimana mungkin kamu tidak memahami hal itu ?! Apa kau benar-benar cowok SMA ?!" Fukuda berseru penuh kemarahan sambil mengancungkan jarinya kehadapan Furihata.
"Memang benar sih…hanya saja aku…"
"Haaah ?! Apa yang salah dengan Tanimura-chan ?! apa kau mengatakan dia tidak cukup bagus untukmu, kutu buku sialan ?! begitu rupanya, ya ?!" Fukuda menyodok dahi Furihata dengan jarinya, berharap jarinya akan mampu menembus tengkoraknya jika dia mendorong cukup keras.
"Bukan begitu! Dengarkan aku dulu! Aku akan menjelaskannya!" Furihata membalas seraya menepis jari Fukuda dan sedikit menjauh darinya.
Dia mengalihkan pandangannya ke bawah, menghindari kontak mata dengan kedua temannya itu. "Sebenarnya ... kurasa ... aku mungkin menyukai seseorang ..." wajah Furihata memerah ia bisa merasakan pipinya memanas saat ia mengakui perasaannya.
"Jika ini tentang gadis itu, lupakan saja, dia sudah berpacaran dengan laki-laki yang ditemuinya di Gokon kan? Kau sudah tidak memiliki kesempatan lagi!" keduanya memberikan Furihata ekspresi kesal namun juga kasihan disaat bersamaan seolah-olah berkata 'Menyerah sajalah!'.
"Ini bukan tentang Ogawa! Aku membicarakan tentang orang lain!" Furihata berseru, ia merasa sedikit kesal kedua temannya mengungkit kembali kenangan yang tidak ingin diingatnya.
"Siapa? Salah satu anggota komite perpustakaan juga?" Tanya Kawahara. Furihata senang membaca, mungkin ia tertarik pada cewek yang memiliki hobi yang sama?
"Bu-bukan ..." remaja berambut cokelat itu menggeleng.
"Lalu, siapa? Apa jangan-jangan ... pelatih ?!" Fukuda sendiri terkejut akan pemikirannya tersebut. "Ekstrim sekali! Apa kau masokis ?!"
"TIDAK! Sama sekali bukan, sama sekali tidak mendekati!" Furihata membalas dengan kesal. "Dengarkan aku dulu! Jangan langsung mengambil kesimpulan!" memang benar, Furihata sempat menganggap Riko imut saat pertama kalinya ia melihat pelatih mereka, tapi banyak hal berubah dan setelah satu tahun saling mengenal. Dia bukan penggemar cewek dengan sifat keras.
"Dan juga, dia bukan cewek,…dia itu cowok…." Dia menambahkan setengah berbisik.
Setelah mendengar kalimat Furihata yang terakhir. Wajah Kawahara dan Fukuda berubah menjadi kaku. Kemudian tanpa berkata apa-apa mereka bergerak menjauh hingga beberapa meter dari Furihata.
"Kalian tidak perlu berpindah tempat duduk! Asal tahu saja, Orang itu bukan salah satu dari kalian berdua!" Furihata menggeram kesal pada reaksi dua sahabatnya itu. Dia yakin pikiran pertama yang terlintas dibenak mereka adalah 'semoga bukan aku!'
Fukuda dan Kawahara mengembuskan napas lega dan kemudian segera bergerak kembali ke posisi semula, disebelah Furihata.
"Tidak apa-apa, kalaupun kau gay. Kita tidak mempermasalahkan hal-hal semacam itu kok." Fukuda memberinya acungan jempol.
"Kami hanya sedikit terkejut itu saja." Ujar Kawahara sedikit terkekeh dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang botak.
"Maksudku, Kagami dan Kuroko juga seperti itu dan sama sekali tidak masalah buat kami."
Furihata berkedip, butuh beberapa detik untuknya memproses kata-kata Fukuda dalam otaknya.
"Eh?! ... Tunggu ... kalian sudah tahu tentang hubungan mereka?!" Dia berseru tampak amat terkejut. Dia berjuang keras menjaga rahasia tu agar tidak terdengar selama beberapa bulan karena pernyataan Alex! Hanya untuk mendapati kedua temannya sudah mengetahui hal itu sejak awal?!
"Tentu saja, hanya orang buta atau benar-benar tolol bila tidak dapat melihat tanda-tanda yang jelas akan hubungan di antara mereka." Fukuda berujar seolah hal tersebut adalah pengetahuan umum."Tanda-tandanya jelas sekali tahu."
"... Y-ya ... kau benar ..." Furihata merasa tertohok oleh kata benar-benar tolol' karena ia adalah satu-satunya anggota di tim yang tidak menyadari hubungan antara Kagami dan Kuroko. Membuatnya bertanya selamban apakah dirinya sampai tak dapat menyadari hal tersebut ?!
"Sejujurnya, aku tidak berpikir kalau aku gay ... Orang ini adalah satu-satunya cowok yang membuatku tertarik sampai sejauh ini ..." Furihata mengatakan, dia tidak ingin teman-temannya dengan asumsi dia memiliki orientasi seksual yang menyimpang dan tertarik pada semua jenis cowok.
Dia tidak memiliki minat sedikit pun pada laki-laki lain selain dari Akashi. Dia adalah pengecualian.
"Jadi ... siapa itu?"
"Tidak ... aku lebih memilih untuk tidak mengatakannya ..."
Furihata menghindari tatapan Kawahara dan Fukuda yang jelas memancarkan rasa penasaran. Entah bagaimana reaksi mereka kalau sampai mereka tahu orang yang disukainya adalah Akashi.
"Kagami, Kuroko dan Tsuchida-san jelas tidak mungkin, jadi Izuki-san adalah calon kandidat yang terkuat bukan?" Dua lainnya berpacaran dengan satu sama lain dan Tsuchida sudah punya pacar, adiknya Mitobe.
"Kenapa tiba-tiba mengusulkan namanya? Kami tidak sedekat itu! Dan aku tidak dapat mengerti lelucon-nya!" protes remaja berambut cokelat itu. Dia memang menganggap Izuki adalah anggota tim Seirin yang paling tampan, karena itu tidak heran Fukuda dan Kawahara langsung mengusulkan namanya.
"Lalu, Hyuuga-san? Kau menghormatinya, kan?"
"Apakah aku benar-benar terlihat seperti memendam perasaan padanya? kalau berbicara soal kemungkinan, kurasa bakal lebih mungkin aku jatuh cinta pada Kasuga-san daripada kapten." Furihata mendesah mendengar nama kedua yang diusulkan oleh mereka. Bukannya ia menganggap Hyuuga tidak menarik, hanya saja... "Omong-omong, bukannya Hyuuga-san ... tertarik pelatih?"
"Yah, hubungan mereka memang tampak mencurigakan, sih ..." Tiga bench-warmer itu mengangguk serempak. Sudah cukup jelas dari perilaku sang kapten kalau dia menganggap pelatih lebih dari sekedar teman.
"Koganei-san? Mitobe-san?" Dari nada Fukuda, Furihata tahu ia mulai putus asa mencoba menebak identitas orang misterius ini. Tapi anehnya dia hanya mengusulkan nama dari tim basket? Apa ia tidak memikirkan kemungkinan orang itu salah satu murid yang sekelas dengan mereka?
"Mereka selalu bersama-sama, juga aku tidak pernah berbicara banyak di luar kegiatan klub dengan mereka."
"Ah! kalau begitu pasti Kiyoshi-san!" Kawahara berseru penuh rasa percaya diri, tampaknya ia amat yakin telah menemukan orang yang tepat.
"Sudah kubilang jangan langsung mengambil kesimpulan!" Furihata menggebrak meja dengan kesal seraya membalas. Kegigihan Fukuda dan Kawahara mulai membuat kesabarannya menipis. "Aku sangat menghormatinya! Jangan merusak citra dirinya dong!"
"Itu benar! Tidak mungkin Furihata jatuh cinta padaku!" Kiyoshi tiba-tiba bergabung dalam percakapan mereka.
"Bahkan Kiyoshi-san sendiri mengatakan demikian! Jadi kalian sebaiknya-…" Furihata berhenti sesaat dan terdiam sementara ia mencerna apa yang baru saja terjadi dan menyadari Kiyoshi sudah berdiri disebelah mereka.
"... Eh? Kiyoshi-san ...?" Furihata butuh beberapa detik untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kiyoshi yang dilihatnya bukanlah ilusi.
"Kiyoshi-san ?! A-apa ?! Sejak kapan ?!" mereka bertiga berseru sambil menatapnya heran saat remaja yang murah senyum itu bergabung dengan mereka di meja mereka.
"Hmm? Aku sudah duduk di meja di samping kalian dan aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian."
Orang ini bisa muncul kapan saja setiap kali kami terlibat dalam percakapan serius! Kawahara dan Fukuda berpikir pada saat yang sama saat memperhatikan Kiyoshi.
"Orang itu… Akashi, bukan?" Kiyoshi mengatakan, dengan santai melanjutkan percakapan mereka sebelumnya. Nadanya penuh keyakinan.
Suasana hening langsung menyelimuti mereka saat mendengar nama yang terlontar dari mulut Kiyoshi. Fukuda dan Kawahara menatap senior mereka seolah Kiyoshi alien dari planet lain atau semacamnya.
Nama yang diusulkannya sama sekali tak pernah diduga oleh Fukuda dan Kawahara.
"Pffft ..." Fukuda tidak bisa menahan tawanya akan nama yang diusulkan Kiyoshi.
"Akashi ?! Akashi Seijuro dari Rakuzan itu ?! kapten itu dari Kiseki no sedai ?! mana mungkin!" Ia berseru sebelum tertawa keras."Aku tidak menyangka kau punya selera humor yang luar biasa, Kiyoshi-san!"
"Apa yang kamu bicarakan Kiyoshi-san? mana mungkin Furihata menyukai ..." Kawahara tertawa geli dan berbalik kearah Furihata, berharap untuk melihat ekspresi kaget di wajah pemuda berambut cokelat itu seperti saat mereka mengusulkan nama –nama yang sebelumnya, namun ia malah menemukan Furihata dengan wajah memerah dan benar-benar gugup .
"Sepertinya perkiraanku tepat." Senyuman Kiyoshi pun melebar saat melihat wajah memerah Furihata.
"Eeeeeh ?! Serius ?!" Kedua Fukuda dan Kawahara berseru.
Setelah beberapa saat mereka berdua terdiam sambil menatap Furihata. Fukuda akhirnya berdehem untuk menenangkan dirinya kemudian menepuk bahu Furihata.
"Furihata, aku ingin memberikan nasihat sebagai teman baikmu." Dia mengatakan dengan nada berat dan serius, ia memberikan tatapan penuh determinasi dan kasihan disaat bersamaan.
"Apa itu Fukuda?"
"Menyerah saja! Akashi adalah orang yang jelas-jelas berada diluar jangkauanmu." Fukuda mendeklarasikan pernyataan yang langsung menghancur leburkan seluruh motivasi yang tersisa dalam diri Furihata.
"Kejamnya! Apa kau harus mengatakannya seperti itu ?! Meskipun aku tahu itu benar, sih! Sial, kenapa mendengar kebenaran selalu menyakitkan seperti ini?!" Furihata tahu dia orang yang payah, tidak menarik dan secara keseluruhan amat biasa-biasa saja, hanya murid SMA biasa yang tidak unik dari sisi manapun. Tidak mungkinlah dia dapat bersanding dengan Akashi yang sempurna.
"Kenapa tidak mencoba berpacaran dengan Tanimura-chan? Kau mungkin akan menyukainya dan akan berbahagia bersamanya."
"Tidak! Aku tidak ingin menggunakan alasan seperti itu untuk berpacaran dengannya!" Furihata menggelengkan kepalanya. "Dia gadis yang baik, dia pantas bersama dengan orang yang membalas perasaannya dan dapat membahagiakannya."
"Bukan orang bodoh yang menggunakannya untuk menyembunyikan keraguan akan orientasi seksual mereka." Itu perbuatan tercela dan sejujurnya kejam. "Aku tidak ingin menjadi orang seperti itu..." Furihata bergumam seraya melihat ke bawah.
Tanimura Kyoko adalah gadis yang baik, tidak diragukan lagi dia layak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Furihata.
"I-itu memang benar ..." Fukuda mengangguk, dengan cepat menyadari kesalahannya untuk menawarkan hal seperti itu. "Tapi, bagaimana kalau Akashi menolakmu-"
"Aku tidak akan mengatakan perasaanku kepadanya. Aku tidak pernah berencana untuk mengatakannya dari awal." Furihata langsung menyela dengan Nada tegas. "Aku akan merahasiakan hal ini sampai aku mati." Dia memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya.
"Aku tidak ingin ... merasakan perasaan seperti itu lagi ..." Furihata mungkin terlihat baik-baik saja, tapi kenangan saat ditolak oleh Ogawa masih membekas dalam ingatannya. Dia takut untuk menyatakan perasaannya sekali lagi.
Dia yakin, kali ini perasaannya pasti tak akan terbalas saat ini; tidak ada gunanya menyatakan perasaan bila yang kau harapkan hanyalah penolakan. Dan juga ia tidak ingin mengambil risiko merusak persahabatan yang baru terbentuk antara dia dan Akashi.
"Bagaimana kalau Seirin kalah tahun depan?" Pertanyaan Fukuda membuat remaja berambut cokelat itu membeku ditempat. Tentu saja dia masih mengingat ancaman pelatih jika mereka kalah, maka mereka harus menembak orang yang mereka sukai dalam keadaan telanjang.
"Lebih baik bunuh diri daripada harus melakukan itu!" Furihata membayangkan situasi dimana ia menyatakan perasaannya dengan cara seperti itu. Bukan hanya ditolak mentah-mentah(Siapa sih yang cukup tidak waras untuk menerima pengakuan seperti itu?) Ia mungkin akan selamanya dikenang sebagai orang cabul terparah oleh semua orang yang menyaksikan kejadian itu.
"Bagaimana kalau dia menyadarinya? Kau tahu, dia mungkin bisa ... intuisinya tajam untuk menyadari hal semacam itu."
Furihata hanya bisa tersenyum sedih mendengar pertanyaan Fukuda.
"Yah, aku tidak bisa mengatakan apa yang akan terjadi ..." Dia berhenti tiba-tiba untuk mengambil napas. "Aku selalu tidak beruntung dalam soal percintaan jadi kurasa aku akan senang, bila dia masih ingin tetap menjadi temanku setelah itu."
"Furihata ... ugh ..."
"Uuh ... uuuuh ..."
Setelah mendengar pengakuan Furihata, Fukuda mengertakkan giginya dan Kawahara menutup matanya. Ikut berduka akan penderitaan teman mereka.
"Eh? Mengapa kalian menangis? Ini kan masalahku?" Furihata bertanya sambil memberi mereka senyuman kecil dan menepuk-nepuk punggung mereka. Dia senang melihat kedua temannya amat mengkhawatirkan keadaanya dan juga sedikit lega, karena pandangan teman-temannya akan dirinya tidak berubah setelah mereka mengetahui hal ini.
"Kami mengkhawatirkanmu, bodoh!" Fukuda dan Kawahara berteriak serempak.
"Dengan nasib buruk seperti itu dalam soal cinta, bagaimana jika 20 tahun atau 30 tahun kemudian kau akan berakhir dikenal sebagai perjaka tua yang terkenal di internet ?! bagaimana kalau mereka sampai menganggapmu the ultimate god of virgin ?!"
"Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya beban yang akan kau tanggung kelak ..." tatapan dan komentar kasihan dari sana-sini.
"Kalian berdua tidak sopan! Seberapa jauh kau memperkirakan masa depanku?! Kenapa aku berakhir menjadi perjaka sampai setua itu ?!"
"Furihata ... apa kau benar-benar yakin kau sama sekali tidak punya kesempatan? kau bahkan belum mencoba tapi kau sudah menyerah duluan."
"Kiyoshi-san, aku tidak selamban itu untuk tidak menyadari realita." Furihata bermaksud untuk membuatnya terdengar seperti lelucon, tapi ia terdiam ketika ia melihat senyum ramah yang biasa tampak di wajah Kiyoshi menghilang. Digantikan oleh ekspresi serius dan tatapan keras dari remaja yang lebih tua itu.
Furihata menelan ludah sebelum mengalihkan wajahnya dari Kiyoshi dan menutup matanya. "Mustahil orang sepertiku memiliki kesempatan untuk bersama orang sepertinya. Status kami amat sangat berbeda dari awal." Dia menghela napas dan kemudian berkata dengan senyuman tulus. "Aku merasa puas selama aku bisa sedikit lebih dekat dengannya."
.
.
TBC…
A/N: Maaf chapter ini lama banget baru di translate~
Akhirnya berhasil sampai chapter 9. Rasanya lega banget/;w;/
Akhirnya minggu depan mereka pergi field trip ke Kyoto.
Oh iya soal Tachibana Kyoko jujur aja aku nggak nyadar dia punya nama belakang yang sama dengan Tachibana Yusuke, point guard dari Shinkyo. anggap aja mereka bersaudara jauh, gitu aja deh.
Sebenarnya pasangan Furihata x Tachibana sweet juga (sayangnya ini bukan fic Furihataxoc) karena itu aku pengen menulis sedikit kenangan manis tentang mereka sebelum Tachibana ditolak.
Pendapat personal aja nih, menurut aq cowok kyk Furihata lebih cocok disandingkan sma cewek tomboy yang tegas dan keras sih daripada cwe yang lemah lembut kayak Tachibana.^^
Terima kasih banyak untuk semuanya yang membaca fic ini sampai chapter 9 ^^
